
Special thx to "Iis Herawati" 🤗.
Gak sengaja nemu postingan ini, dan aq pun gak tau apa yang dimaksud adalah novel aq..? 😅
Anehnya aq dah baper ajah, alhasil aq langsung share postingan dan langsung ngebut ngetik, berasa dapet energy extra.. 😀
Akh.. dasar aq-nya yang lebay.. 😅
...
"Hal ini seperti sebuah mukjizat. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan sekaligus moment yang sangat langka terjadi dalam dunia kedokteran. Bagaimana mungkin seseorang yang telah koma selama kurang lebih lima bulan, tubuhnya dapat merespon dengan baik disaat proses sc sedang berlangsung.."
Arshlan menatap wajah dokter Gunawan penuh pengharapan. "Dokter, apakah semua itu merupakan kabar yang positif..?"
"Tentu saja, Tuan. Aku bahkan bisa mengatakan, asalkan Nyonya Lana bisa menemukan kesadarannya, kemungkinan besar tubuhnya bisa pulih lebih cepat daripada pasien setelah koma lainnya.."
"Tapi mengapa Lana masih belum sadar juga, dokter? apa yang salah dengan semua ini..?"
Dokter Gunawan terdiam sejenak. Jauh didalam lubuk hatinya, meskipun dirinya bisa dikategorikan seorang dokter yang handal dengan pengalaman yang segudang, namun sama seperti Tuan Arshlan, ia pun dibingungkan oleh hal yang sama.
Awalnya dokter Gunawan bahkan sangat optimis bahwa setelah tindakan operasi lima bulan yang lalu Nyonya Lana akan segera sadar, namun anehnya sampai detik ini perkiraan awalnya malah meleset jauh. Meskipun kondisi tubuhnya sangat prima, namun sepertinya secara emosional, jiwa Nyonya Lana menolak keras untuk kembali.
Prediksi dokter Gunawan hanya satu, kemungkinan besar Nyonya Lana telah melewati sebuah perasaan yang pahit yang mengarah kearah trauma psikis, sebelum terjadi insiden kecelakaan pada lima bulan yang lalu, namun dokter Gunawan merasa enggan menuturkan pendapatnya itu dihadapan Tuan Arshlan secara terang-terangan.
"Aku selalu mengajaknya bicara dan bercerita apa saja, seperti yang telah dokter sarankan selama ini. Sangat sering aku melihat Lana seolah merespon apa yang aku ucapkan. Jemarinya sering bergerak, tak jarang dia pun menitikkan air mata, tapi entah kenapa.." Arshlan terpekur lagi, tak sanggup meneruskan kalimatnya.
Tatapan Arshlan beralih kearah Lana, yang tergolek diatas ranjang pasien, masih setia dengan beberapa parameter dan selang nasogastric.
Operasi sc telah berjalan lancar pada satu kali dua puluh empat jam yang lalu, dengan hadirnya dua bayi mungil mereka yang kini telah berada diruangan khusus dengan pengawasan intensif.
Kondisi keduanya sangat sehat, kuat dan tampan, meskipun terlahir prematur.
"Tuan Arshlan, aku tau semua ini pasti berat. Tapi sebagai dokter aku tetap meyakini dan menyarankan, untuk tetap telaten merangsang ingatan Nyonya Lana. Kenangan menyenangkan terkait kejadian di masa lalu bisa melatih otak pasien yang sedang koma sehingga lebih mudah sadar dari kondisi vegetatif, apalagi dengan kasus seperti Nyonya Lana yang sehat secara fisik. Jika Tuan terus menceritakan kembali kisah menyenangkan yang pernah terjadi dimasa lalu antara Tuan dan Nyonya Lana, mungkin hal seperti itu bisa ikut berpartisipasi dalam melatih sirkuit memori otak. Rangsangan seperti itu sejauh ini diyakini secara perlahan bisa membantu memicu bangkitnya kesadaran pasien yang koma," terang dokter Gunawan lagi panjang lebar.
"Baiklah, dokter, aku mengerti.." Arshlan mengangguk perlahan meski sisi hatinya sedikit terusik dengan pejelasan dokter Gunawan barusan.
"Aku pamit dulu untuk memeriksa pasien lainnya, Tuan Arshlan. Seperti biasa, jika memerlukan bantuan ada perawat yang bertugas didepan ruangan ini. Mereka selalu bersiaga sepanjang waktu."
"Iya dokter, terima kasih.."
Arshlan pun melepas kepergian dokter Gunawan hingga hilang dibalik pintu, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali menghempaskan tubuhnya yang penat keatas kursi yang ada disisi ranjang pasien.
Tatapannya kembali tertuju pada Lana, yang masih tergolek membisu diatasnya, sementara ingatannya kembali mengarah pada serangkaian penjelasan dokter Gunawan pada sesaat yang lalu.
'Menceritakan kenangan menyenangkan terkait kejadian di masa lalu bisa melatih otak pasien yang sedang koma sehingga lebih mudah sadar dari kondisi vegetatif..'
Sepenggal kalimat itu terus berputar dibenak Arshlan.
'Menceritakan kenangan yang menyenangkan..?'
'Tapi kenangan menyenangkan yang seperti apa..?'
'Sementara yang ada dirinya selalu menorehkan luka dihati gadis itu setiap saat..'
Benak Arshlan dipenuhi penyesalan, namun dengan penuh keyakinan ia tetap meraih sebelah jemari Lana dan menggenggamnya erat, sementara sebelah tangannya mengusap lembut pipi Lana yang hari ini terlihat memerah, menambah kecantikan alami diwajahnya yang teduh.
"Lana.."
Panggil Arshlan perlahan, kembali berusaha memulai aktifitasnya yang kerap mengajak Lana bicara nyaris setiap saat.
"Lana, kau sangat hebat. Kau.. adalah wanita paling hebat yang ada diatas muka bumi ini.. dan karena itulah aku semakin mencintaimu.."
Arshlan meremas lembut jemari yang ada didalam genggamannya.
"Sayangku.. apa kau masih tidak ingin membuka matamu segera..? ada hal istimewa yang harus kau lihat. Apakah kau tidak ingin tau? saat ini kau dan aku telah mempunyai dua buah hati sekaligus, dan mereka berdua lahir dari rahimmu.."
Arshlan tersentak.
Sepasang mata letihnya berbinar begitu merasakan jemari Lana berkedut pelan dalam genggamannya, membuat semangat yang ada didalam dadanya terasa bergejolak.
"Sayang kau mendengarnya kan..? Dua malaikat kecil, keduanya adalah pangeran yang sangat tampan.. ah ya.. kau ingat pangeran..? saat pertama kali kita bertemu dimalam itu, kau juga menyebutku 'Pangeran'. apa kau ingat..??" ujar Arshlan saat tiba-tiba ingatannya terbentur pada sepenggal peristiwa di club malam, yang menjadi pertemuan pertamanya dengan Lana yang sedang mabuk hanya karena meneguk beer.
Saat itu, usai menabraknya refleks Arshlan menangkap tubuh Lana yang nyaris limbung, sehingga jatuh begitu saja kedalam dekapannya.
'Pangeran..'
Kali ini jemari Lana tidak hanya berkedut kecil, melainkan mulai bergerak pelan. Sangat perlahan.
Arshlan tak menyangka bisa mendapatkan respon Lana tanpa henti setelah Lana mendengar rentetan penuturannya tentang dua pangeran mungil mereka, serta kenangan tentang awal mula perjumpaan mereka untuk yang pertama kalinya.
Sepasang kelopak mata Lana terlihat bergerak samar..
Kemudian bibirnya ikut bergetar halus..
"Lana.. sayangku.. bangunlah. Kami bertiga membutuhkanmu. Kami adalah tiga pangeranmu. Dan kau.. kau adalah satu-satunya ratu dihati kami bertiga.."
Arshlan menyentuh lembut sepasang kelopak mata yang bergerak-gerak, kemudian menyusuri sebelah pipi yang memerah, terus kesudut bibir yang semakin bergetar.
"Lana.."
"Lana.."
"Lana sayangku.. bangunlah.. bangunlah sayang.. pulanglah kehatiku.. rumahmu yang sebenarnya.. ada didalam hatiku.."
...
...
...
"T.. Tu.. Tu.. ann.."
Arshlan terlonjak ditempatnya, nyaris tak percaya mendengar suara lirih yang keluar dari mulut Lana.
Tanpa membuang waktu Arshlan langsung menghambur, memeluk tubuh Lana.
"Oh Tuhan, terimakasih.. Lana sayangku.. akhirnya.."
Arshlan mengecup wajah Lana, rasa haru semakin menyesak didadanya begitu menyadari wajah Lana pun telah basah bersimbah air mata.. meskipun tanpa berkata-kata..
XXXXX
Pov Lana..
Ringan, terang, dan menyilaukan..!
Itulah yang aku rasakan saat ini.
"Lana.."
"Lana.."
"Lana sayangku.. bangunlah.. bangunlah sayang.. pulanglah kehatiku.. rumahmu yang sebenarnya.. ada didalam hatiku.."
Panggilan demi panggilan itu seolah terus menuntun dan mengajak tubuhku yang melayang perlahan, semakin mendekat kearah suara Tuan Arshlan yang terus-menerus bergema, menuturkan sebuah ajakan yang mengajakku untuk pulang kerumah.
Tak lama setelahnya sinar yang menyilaukan itu mulai tersibak sedikit demi sedikit, berganti dengan seraut wajah kokoh nan tampan yang hanya berada beberapa centi diatas wajahku. Begitu dekat.
'Pangeran..?'
Aku terhenyak menatap wajah itu.
Ingin rasanya tanganku meraba rahang keras, bak sebuah pahatan mahakarya yang sempurna, ingin rasanya aku menguji keasliannya.. tapi tanganku terasa berat.
"Oh Tuhan, terimakasih.. Lana sayangku.. akhirnya.."
Pria itu telah menghujani seluruh wajahku dengan kecupan, wajahnya terasa basah bersimbah air mata.. membuatku yakin meski belum mampu menyentuhnya..
'Yah.. tidak salah lagi..'
'Dia.. adalah pangeranku..'
'Dan dia sedang mengajakku pulang kerumahnya.. yang ada dikedalaman hatinya..'
...
Bersambung..
*Horeeee.. bab ke-10**0 nih.. 🥰*
Supportnya manaahhh kakaaa..?? 😍