
Lana membathin geli bercampur haru, menyadari besarnya kebanggaan Arshlan acap kali membanggakan si kembar yang berperilaku unik.
Arshlan menghempaskan tubuhnya ketepian ranjang dengan senyumnya yang khas saat menatap sosok Lana yang sedang senyam-senyum sendiri sambil berdiri mengawasinya.
"Ada apa? kenapa tersenyum aneh begitu?"
"Tidak, tidak apa-apa.."
"Bohong.. kalau tidak apa-apa kenapa sejak tadi kau tersenyum sendiri..?"
Lana tertawa kecil sambil menggeleng. "Tidak ada.. oh ya, bagaimana pekerjaanmu hari ini? apakah semuanya lancar?" tanya Lana mengalihkan fokus pembicaraan mereka, sambil mengayunkan langkah mendekati Arshlan.
"Hhmm.. semuanya berjalan dengan lancar.. hanya saja seperti biasa aku.."
Mengambang.
Alis Lana bertaut saat mengawasi wajah Arshlan yang mendadak berubah kuyu .
"Ada apa? Apa yang terjadi? Apa ada masalah serius yang terjadi dengan pekerjaanmu..?"
"Tidak, sayang. Semua pekerjaanku lancar.."
"Lalu..?"
"Hanya saja seperti biasa aku selalu merindukan kalian setiap saat. Itu sangat menyiksaku.."
Wajah Lana merona mendengarnya. "Kau ini.." berucap malu-malu membuat tawa kecil Arshlan pecah berderai menyaksikan Lana yang salah tingkah akibat gombalan recehnya.
'Sungguh menggemaskan. Setelah menjadi menjadi istriku sekian tahun lamanya, gadis ini masih saja salah tingkah setiap kali mendengar kalimat manis..'
Arshlan membatin, hatinya ikut menghangat sedikit demi sedikit.
"Kau sendiri.. apa yang kau lakukan seharian ini..? apa kau masih terobsesi membuat resep butter cake yang kau inginkan..?" tanya Arshlan kemudian sambil menarik posesif pinggang ramping milik Lana serta-merta, membuat Lana tak bisa lagi mengelak saat tubuh mungilnya telah diletakkan Arshlan diatas pangkuannya.
Arshlan memang benar, akhir-akhir ini Lana sangat terobsesi membuat kue terlebih yang berjenis butter cake, yang merupakan sejenis cake dengan tekstur yang lembut dan lebih padat dibandingkan dengan teksturΒ sponge cake atau chiffon cake pada umumnya.
"Aku baru saja mendapatkan sebuah resep butter cake varian terbaru dari internet.." ucap Lana, sedikit menggeliat ketika merasakan lehernya sedang ditelusuri oleh lembutnya sentuhan bibir Arshlan, lengkap dengan bulu halus yang ikut tumbuh disekitarnya, seolah ikut menggesek sempurna setiap permukaan kulit lehernya yang sensitif. "Sayang, apa kau tidak ingin mencoba memakannya..?"
"Aku ingin memakan dirimu saja.." bisik Arshlan dengan nada intim.
"Sayang.. ish.." Lana menggerutu menerima jawaban Arshlan yang out of topic. "Maksudku tentang butter cake yang aku buat, apa kau tidak tertarik untuk mencicipinya sedikit..?"
"Aku lebih tertarik mencicipi dirimu. Tapi tidak sedikit.. aku maunya banyak.." lagi-lagi berbisik mesum, sambil menggigit kecil leher Lana yang seputih susu.
"Sayang..!" kali ini Lana telah benar-benar melotot mendengar kalimat nakal Arshlan untuknya.
Lana ingin menghindar.. namun tubuhnya terlanjur dikuasai oleh Arshlan sepenuhnya, membuatnya menyerah dengan begitu mudah, seperti yang sudah-sudah.
Arshlan membawa tubuh mungil Lana keatas peraduan, kemudian mencumbunya.
Keseluruhan jemari pria itu mulai bekerja dengan lihai..
Menanggalkan semua yang melekat diatas kulit tubuh Lana..
Satu persatu..
πππππ
Lana memeluk tubuh Arshlan dengan erat begitu Arshlan menghempaskan tubuhnya tepat disisinya.
"Sayang.." Lana berbisik sambil menusuk-nusuk pelipis kiri Arshlan yang sedang terpejam.
"Hmmm.."
"Ada yang ingin aku bicarakan sejak kemarin tapi.."
"Katakan saja." pungkas Arshlan, sepasang matanya tetap terpejam.
Sepertinya Arshlan sudah bisa menebak apa yang sedang berusaha disampaikan oleh Lana sejak kemarin, tapi ia sengaja berpura-pura tidak tau, menyabarkan hati menunggu sampai wanita itu sendiri yang akan mengatakannya dengan jujur.
"Kau harus berjanji dulu bahwa kau tidak akan marah.."
"Kapan aku pernah marah padamu? hhh... rasanya sudah lama sekali.." Arshlan membuka matanya sejenak hanya untuk mengawasi wajah Lana sesaat sebelum kembali memejamkan matanya acuh. "Saking lamanya aku bahkan lupa bagaimana caranya agar aku bisa marah kepadamu.."
"Meskipun begitu aku tetap mau kau berjanji dulu." ucap Lana ngotot. Lana benar-benar khawatir jika kali ini Arshlan pasti akan marah kepadanya.
Yah.. jika menyangkut orang-orang dari masa lalu Lana, kesabaran Arshlan memang seolah sedang diuji dengan keras. Arshlan sangat tidak suka Lana kembali terhubung dengan masa lalu, karena semua itu ibarat mimpi buruk bagi Arshlan.
"Kau tidak perlu menyuruhku berjanji untuk hal yang sepele. Katakan saja."
Lana membisu.
"Lana.. aku bilang katakan."
"Egh.. i-ini.. ini menyangkut.."
"Menyangkut siapa..?"
"M-menyangkut.. i-ibu.."
"Sudah kuduga." desis Arshlan sambil menyeringai sinis. "Akhirnya wanita itu keluar juga dari tempat persembunyiannya selama ini. Ada apa gerangan? apakah setelah empat tahun sekoper uang yang aku berikan tempo hari telah habis..?"
Lana terpekur sesaat mendapati penerimaan Arshlan yang jauh dari kesan ramah, seperti apa yang ia harapkan, saat mengetahui kenyataan bahwa ibu telah kembali, dan seperti biasa ibu tidak pernah berubah.
Meskipun demikian Lana juga harus mengakui, bahwa wajar saja jika Arshlan marah, mengingat bagaimana kelakuan Marina dimasa lalu yang begitu tak berperasaan sekaligus sangat mendewakan uang.
Tapi bukan Lana namanya kalau dia akan menyerah semudah itu sebelum bisa merayu Arshlan seperti biasanya.
"Aaaaa.. sayaaang..." Lana merajuk manja, sambil beringsut keatas tubuh Arshlan yang terlentang, masih bertelan jang dada.
"Lana, jangan mulai." ujar Arshlan memperingatkan begitu menyadari Lana yang hendak melancarkan aksi bujuk rayunya yang khas, yang sejauh ini selalu saja berhasil membuat Arshlan bertekuk lutut.
"Sayang.. kali ini ibu tidak minta uang.."
"Aku tidak percaya."
"Saayaang.." pungkas Lana gemas, sambil mengecup beberapa bagian wajah Arshlan dengan lembut, namun pria itu tetap saja keukeuh menggelengkan kepalanya.
"Bersusah payah menghubungimu dan mengajakmu bertemu usai berfoya-foya selama bertahun-tahun menghabiskan uang puluhan milyar rupiah, mustahil jika saat ini tiba-tiba datang dan tidak menginginkan uang.."
Sindir Arshlan acuh membuat wajah Lana cemberut mendengarnya.
...
Bersambung..
Mana nih buat author..? tiga bab loh ini.. π