
Makan malam kali ini, telah berjalan dengan lancar, kendati pun masih saja ada rasa sedikit kaku yang tertinggal.
Namun demikian setiap orang yang berada disana pastilah bisa merasakan jika hati mereka telah terasa lebih hangat dari sebelumnya.
"Sepertinya kita harus lebih sering makan malam bersama seperti ini. Itu sangat baik untuk menjalin komunikasi serta keharmonisan keluarga ..." Arshlan telah berucap begitu mereka semua berkumpul diruang keluarga sambil menikmati hidangan ringan.
Mendengar itu Lana sontak mengangguk mengiyakan. "Lebih sering malah lebih baik. Karena setelah kedua putra kembarku beranjak dewasa, aku selalu merasa kesepian. Iya kan Luiz ... Leo ..."
"Momm, maafkan aku jika akhir-akhir ini aku selalu disibukkan oleh pekerjaan ..." ucap Luiz dengan nada menyesal.
"Aku juga. Setiap hari jadwalku sangat padat, semua itu membuatku kesulitan ..." Leo ikut menimpali perkataan Luiz.
"Iya, Mommy tahu bahwa kalian selalu sibuk setiap hari, tapi paling tidak sempatkanlah waktu untuk duduk berbincang dengan Mommy dan Daddy sesekali."
Kemudian tatapan Lana telah berpindah kearah Victoria yang duduk diam disisi Leo.
"Vic, ini juga berlaku untukmu. Kau bisa datang kerumah ini kapan pun kau mau. Sering-seringlah menginap karena terus terang saja, Mommy dan Daddy sangat senang jika kalian datang."
"Iya, Momm, aku akan mengingatnya. Aku janji aku akan lebih sering kesini."
"Kau bisa datang tanpa harus menunggu Leo."
"Iya, Momm," lagi-lagi Victoria mengangguk.
Sejak tadi hatinya telah dipenuhi kebahagiaan atas sikap sang ibu mertua yang seolah telah mencair, hingga berubah sangat ramah.
Tidak hanya Mommy Lana, bahkan bocah bernama Dasha itupun malam ini telah berhenti bertindak menyebalkan.
Namun meskipun demikian, menerima semua kejutan itu sekaligus tetap saja membuat bathin Victoria merasa belum begitu siap menerima kebaikan beruntun seperti ini sehingga meskipun merasa bahagia, kalau boleh jujur dirinya bahkan ragu menerimanya.
Takut terbuai ...
Takut semuanya hanya sesaat ...
"Luiz, setelah ini ada yang ingin daddy bicarakan. Daddy akan menunggumu di ruang kerja ..." ucap Arshlan yang telah disambut anggukan oleh Luiz.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Usai mengetuk pintu ruang kerja Arshlan, Luiz pun masuk ke dalam.
Sedikit terkejut begitu mendapati bahwa disana sosok Arshlan tidak sendiri.
Bukan cuma Arshlan, melainkan Lana sang Mommy bahkan sudah lebih dulu berada disana.
"Mommy?" alis Luiz berkerut.
"Duduklah disini, Luiz." Lana menepuk kursi yang berada tepat disisinya.
Luiz pun menurut tanpa protes, meski dalam hati bertanya-tanya.
Sejauh ini Lana memang tidak pernah ikut campur terlalu dalam jika menyangkut pekerjaan, dan Luiz telah mengira bahwa daddy akan membicarakan persoalan bisnis.
Namun mendapati kehadiran Lana disana, membuat Luiz meragu jika yang ingin dibicarakan Arshlan adalah hal yang menyangkut perusahaan, yang kini sedang dijalankan Luiz.
"Dadd, sebenarnya ada apa? Apa yng hendak daddy bicarakan?" tanya Luiz begitu ia duduk tepat disebelah Lana, sementara Arshlan duduk dikursi kebesarannya yang berada dihadapan mereka, dengan berantarakan sebuah meja biro.
"Mungkin mommymu yang lebih tepat untuk menguraikannya."
Alis Luiz kembali bertaut samar namun tetap saja ia memilih menoleh kearah Lana, yang juga sedang menatapnya penuh senyuman.
"Momm, ada apa?"
"Jangan tegang seperti itu, mommy hanya ingin berbicara santai denganmu ..." pungkas Lana masih dengan senyum yang sama.
Keduanya bertatapan dibawah pengawasan Arshlan yang duduk bersandar dengan kedua jemari yang saling bertaut diatas meja.
"Luiz ..."
"Iya, Momm?"
"Luiz, katakanlah sejujurnya kepada mommy, apakah saat ini kau punya seseorang yang special dalam hidupmu?"
Luiz terhenyak mendengar pertanyaan yang terucap dengan mudah dari bibir Lana.
"Aaa ... apa maksud Mommy?"
"Jawab saja, Luiz. Karena yang ingin mommy sampaikan adalah berkaitan dengan jawabanmu sekarang. Kalau saat ini kau sedang punya kekasih, bawalah wanita itu kehadapan mommy dan daddy secepatnya."
Glek.
Luiz menelan ludahnya gamang.
Tentu saja Luiz telah mempunyai kekasih yang merupakan tambatan hatinya.
Dasha.
Tapi sayangnya Luiz tidak bisa mengungkap semuanya sekarang.
"Luiz ..."
"I-iya, Momm ...?"
Lana telah mengambil sebelah tangan Luiz yang berada diatas tangan kursi, menggenggamnya dengan penuh kelembutan.
Tatapan Lana terarah penuh pada Luiz, dan diatas bibirnya sebuah senyum lembut tak pernah lekang.
"Sudah mommy sampaikan tadi, bahwa yang ingin Mommy sampaikan, berkaitan dengan jawabanmu sekarang."
"Tapi ..."
"Kau harus menjawabnya dengan jujur terlebih dahulu, barulah kemudian mommy akan mengungkapkan maksud mommy ..."
Luiz membisu, tapi seolah tetap pada pendirian awal, bahwa dirinya tidak mungkin mengatakan hal yang jujur mengenai hubungannya dengan Dasha.
Lagipula untuk apa mommy menanyakan hal seperti ini?
Usia Luiz saat ini sudah dua puluh enam tahun. Dengan usia yang seperti sekarang, bukankah dirinya terlalu tua jika persoalan asmaranya diatur oleh kedua orang tuanya?
Atau jangan-jangan ... mommy dan daddy telah mencurigai sesuatu?
Memikirkan hal itu membuat bathin Luiz panik mendadak.
Oh, tidak ... tidak ...
Jangan sampai ...!
"Luiz ...?"
Luiz tersentak, dan meskipun sempat terdiam kembali untuk beberapa saat, pada akhirnya, dengan berat hati Luiz pun menggeleng perlahan.
Diluar dugaan sepasang mata Lana sontak berbinar mendapati hal tersebut.
Lana pun langsung menatap Arshlan dengan penuh semangat.
"Benar kan, sayang? Aku sudah menduganya. Kau saja yang tidak mempercayaiku ..."
Arshlan tersenyum tipis menyaksikan keceriaan istrinya, sementara Luiz menatap Arshlan dan Lana berganti-ganti dengan ekspresi wajah yang bingung.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Whaaatt ...?"
Luiz tercengang, ditempat duduknya, begitu mendengar apa yang barusan ia dengar dari mulut Lana, kepalanya sontak menggeleng berkali-kali.
"Momm, tidak ... aku tidak ..."
"Luiz, kau jangan terburu-buru menolaknya. Kau kan belum mengenal Florensia ..."
Luiz memijat pelipisnya dengan ekspresi kalut. Melihat pemandangan itu Arshlan pun menegakkan punggungnya.
"Lana, kau kan sudah berjanji tidak akan memaksa Luiz." Arshlan yang sejak tadi hanya mengawasi pembicaraan alot antara istri dan anaknya itu akhirnya angkat suara.
"Iya, sayang aku mengingatnya. Tapi Luiz seharusnya tidak menolak begitu saja." rajuk Lana dihadapan Arshlan.
Seperti biasa Lana memang harus berupaya ekstra keras untuk mendapatkan pembelaan Arshlan, jika sudah menyangkut kedua putra kembarnya.
Sejak kecil Arshlan bahkan tidak pernah sekalipun memarahi Luiz dan Leo tentang hal apapun yang mereka lakukan, meskipun terkadang semua itu sudah jelas-jelas merupakan sebuah bentuk kenakalan.
"Momm, bagaimana mungkin aku harus mengalami perjodohan disaat jaman sudah se-modern ini ...?"
"Luiz, dengarlah baik-baik. Ini bukanlah sekedar perjodohan biasa, namun kelak akan melibatkan dua aliansi raksasa, yang memiliki begitu banyak kepentingan didalamnya ..."
"Tapi kenapa harus aku, Momm ...?" wajah Luiz terlihat memelas, namun sepasang mata Lana malah melotot begitu mendengarnya.
"Kenapa kau masih bertanya? Tentu saja harus kau, Luiz, apakah kau lupa jika Leo sudah beristri?"
"Hhuufh,"
"Lana ..." suara Arshlan kembali terdengar mengingatkan.
"Tunggu. Tunggu sebentar, sayang. Biarkan aku bicara dulu agar Luiz mengerti ..." cegah Lana yang tidak ingin menyerah dengan mudah.
Arshlan menghempaskan tubuhnya keatas kursi, seolah mengisyaratkan bahwa dirinya telah mengabulkan permintaan Lana yang seolah meminta perpanjangan waktu di injury time.
"Luiz, dengarkan mommy. Kau ... boleh saja tidak menyetujui keinginan mommy, tapi mommy tidak ingin ditolak dengan kejam seperti ini."
"Momm, maafkan aku, sesungguhnya aku tidak bermaksud seperti itu." Luiz tertunduk, menyesal telah begitu gigih membantah sang mommy tanpa ampun.
"Mommy mengerti. Seperti yang kau katakan bahwa mengalami perjodohan disaat jaman sudah se-modern ini memang terasa aneh. Fine. Mommy tidak akan memaksamu karena pada dasarnya cinta itu sendiri bukanlah sebuah perasaan yang bisa dipaksakan. Tapi disisi lain, mommy tidak mau kau menolak begitu saja tanpa mencoba."
"M-maksud mommy ...?"
"Florencia adalah putri tunggal dari seorang pengusaha sukses, mitra kerja daddymu sejak lama. Dia gadis yang cantik, cerdas, mandiri, dan terpelajar. Dia juga tidak serta-merta menerima perjodohan orang tuanya untuk dirimu, namun ia pun tidak keberatan jika harus mengenal dekat dirimu terlebih dahulu."
Luiz terpekur mendengar uraian Lana yang cukup panjang.
Namun meskipun demikian, sepertinya Luiz harus pasrah menjalani semuanya.
"Luiz, turutilah keinginan mommymu dulu. Cobalah dalam kurun waktu satu sampai tiga bulan kedepan. Persoalan kedepannya kalian akan berjodoh atau tidak ... itu urusan kedua ..."
Suara Arshlan telah menjadi kunci akhir dari pembicaraan tersebut.
Luiz pun tidak lagi bisa mengelak, sehingga pada akhirnya hanya bisa berucap lirih ...
"Baiklah, momm ... dadd ... aku akan tetap mencobanya, meskipun tidak yakin jika semua itu akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan ..."
...
Bersambung ...