
"Astaga ... kenapa hujannya deras sekali sih? Aku harus bagaimana sekarang ...?"
El bergumam frustasi sambil mengusap wajahnya dengan tangan kiri.
Sementara didadanya Florensia masih diam tak bergeming, semakin menambah kepanikan El.
El sungguh tidak mengerti mengapa Florensia bisa kehilangan kesadaran tepat disaat ia mencium wanita itu.
"Kenapa dia bisa pingsan seperti ini?Memangnya ciumanku mengandung racun?"
El bergumam lagi, sambil menatap lekat-lekat wajah Florensia diantara temaram.
Mendadak sebuah pemikiran aneh mencuat dibenak El begitu saja.
"Apa tidak terlalu berlebihan kalau aku merasa, bahwa jangan-jangan ... Florensia belum pernah berciuman sebelum ini, dan itu berarti aku telah mengambil ciuman pertamanya ...?"
Memikirkan hal itu membuat El semakin dilanda rasa bersalah bercampur risih.
"Flo ... Florensia ..." bisik El lagi, kali ini ia berusaha kembali menepuk lembut pipi Florensia.
"Mmmhh ..."
Sepasang mata El membola begitu menyadari, jika kali ini Florensia telah memberikan respon menandakan kesadaran wanita itu yang perlahan mulai kembali.
"Flo ..."
"El ...??"
Tubuh Florensia yang awalnya bersandar sepenuhnya didada El sontak menegak.
Dibawah temaram El bisa menyaksikan jika ekspresi wajah Florensia terlihat salah tingkah, sementara diluar sana, curah hujan yang tadinya begitu deras lambat laun mulai mereda.
"Akhirnya kau siuman juga ..."
Florensia tertunduk jengah, menjauhi tatapan El yang lekat padanya. "Maaf ... maafkan aku El ..." lirih suaranya terdengar penuh penyesalan.
El menautkan alis mendengar permintaan maaf tersebut. Itu merupakan sebuah kalimat yang tidak pernah terlintas dibenak El sebagai kalimat pembuka Florensia begitu ia siuman.
"Aku pasti merepotkanmu. Maaf ..."
"Kau ini bicara apa ...?" ujar El bingung, namun Florensia malah sibuk menengok kesana kemari, pada keadaan sekeliling yang temaram, sebelum akhirnya bangkit dari duduknya begitu saja.
"Aku harus pergi ..."
"Apa ...?"
"Aku akan pulang, kira-kira sejam lagi ayahku akan tiba di bandara, dan aku harus segera menjemputnya."
Florensia menatap El yang juga berdiri dari duduknya.
"Kau akan pergi dengan siapa?"
"Aku membawa mobil sendiri."
"Kalau begitu aku ikut denganmu."
"T-tapi ..."
"Dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin aku membiarkanmu menyetir seorang diri, apalagi cuacanya sedang tidak bersahabat."
"Tapi, El ..."
"Tunggulah di lobby terlebih dahulu, dan berikan aku waktu sepuluh menit untuk berkemas dan mengambil barang-barangku yang masih tertinggal didalam kamar. Kau setuju atau tidak ... aku telah memutuskan untuk ikut denganmu."
Florensia mematung saat mendapati El yang dengan nekad merogoh satu-satunya saku yang ia punya, yang ada di sisi kiri baju terusan yang ia pakai.
Dalam sekejap, kunci mobil Florensia telah berpindah ketangan El.
Rupanya El sengaja menyita kunci mobil, agar Florensia tidak mencoba kabur dari dirinya.
Florensia terdiam ditempat saat menyaksikan El melangkah keluar gazebo dengan acuh, namun menjadi semakin terhenyak saat menyadari baru beberapa langkah berjalan, pria itu telah berbalik lagi seolah melupakan sesuatu.
"Ayo,"
Jemari besar itu telah menggenggam pergelangan tangan Florensia dengan utuh, kemudian menariknya lembut ...
Memaksa langkah Florensia, untuk mengikuti langkahnya yang terayun ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
Nyaris sepuluh menit berkendara, namun tak ada satu pun diantara mereka yang bicara.
Beberapa saat yang lalu El telah meninggalkan kunci mobilnya kepada Luna, meminta bantuan adiknya itu agar besok bisa memerintahkan salah seorang karyawannya untuk membawa pulang mobilnya ke Florist milik Luna.
"Ada apa, El? Kenapa kau mau menitipkan mobil? Lalu dengan apa kau akan pulang?" Luna tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memberondong El dengan pertanyaan.
"Aku akan ikut dengan mobil temanku."
"Tapi ..."
"Sudah, jangan terlalu banyak bertanya karena aku harus buru-buru. Kau bisa menyuruh salah satu karyawanmu untuk membawa mobilku besok pagi, siangnya aku akan mengambilnya di parkiran Florist."
Kala itu Luna hanya bisa melongo menyaksikan punggung El yang menjauh, sebelum akhirnya hilang dibalik dinding.
El memang tidak punya banyak waktu untuk meladeni semua pertanyaan Luna, karena tidak ingin membuat Florensia menunggu lama.
Sejauh ini El bahkan sedikit bingung dengan dirinya sendiri. Mengapa sekarang ia harus repot-repot mengurusi segala sesuatu tentang Florensia.
El hanya bisa meyakinkan dirinya bahwa ia memang tidak tega membiarkan Florensia menyetir, disaat El tahu persis bahwa pada beberapa saat yang lalu wanita itu sempat terkulai pingsan tanpa sebab, dalam pelukannya begitu saja.
El yang saat ini berada dibelakang kemudi mobil milik Florensia telah beberapa kali melirik kearah wanita itu, yang membisu dengan posisi duduk nyaris tidak berubah dalam sepuluh menit terakhir.
Wajah Florensia terus saja menatap kearah luar, dari balik kaca mobil yang dipenuhi titik-titik air dari sisa percikan gerimis diluar sana.
Sewaktu Florensia masih begitu gemar mencuri perhatian El, wanita itu seolah tidak pernah bisa berdiam diri walau sejenak.
Florensia selalu berkicau seperti burung perkutut, dan El selalu merasa tidak nyaman dengan keceriaan yang terkesan berlebihan. Membuatnya ilfeel.
Tapi anehnya begitu El dihadapkan pada kediaman Florensia seperti saat ini, ternyata rasanya malah jauh lebih menyebalkan ketimbang saat Florensia berceloteh, seolah tidak pernah kehabisan bahan.
Sementara itu, jauh didalam lubuk hati Florensia, peperangan sedang terjadi didalam sana.
Entahlah ...
Mendapati sedikit perhatian El seharusnya Florensia merasa bersyukur, namun anehnya yang ada malah sebaliknya.
Pada awalnya datang ketempat ini memang merupakan ide Florensia.
Luiz pun tak kuasa menolak ajakannya sejak mengetahui Florensia telah memegang kartu As pria itu tentang hubungan terlarangnya dengan seorang gadis yang bahkan bisa dibilang belum sepenuhnya dewasa.
Menggandeng Luiz guna memanas-manasi El adalah tujuan utama Florensia.
Namun pada kenyataannya justru dirinyalah yang kepanasan!
Saat pertandingan volley pantai berlangsung tadi sore, Florensia telah mengetahui sebuah kenyataan pahit, bahwa El menyukai salah satu karyawan adiknya yang bekerja di Mega Florist.
Sakit?
Tentu saja rasanya sangat sakit.
Sejak dulu Florensia tidak terlalu mempedulikan penolakan El, selagi dirinya meyakini bahwa pria itu tidak memiliki kekasih meskipun selalu begitu tegas acap kali menolak kehadiran Florensia dengan segala atensinya.
Namun hari ini, pada akhirnya Florensia harus menerima kenyataan bahwa pria itu telah menyukai seorang wanita, yang tentu saja bukan dirinya.
"Lalu apa rencanamu? Apa semudah ini kau menyerah?" itu adalah pertanyaan Luiz, sebelum pria itu berlalu dari hotel xx usai makan malam.
Florensia paham betul, bahwa Luiz bertanya demikian, memanglah sengaja bertujuan untuk mengejek dirinya semata.
Florensia terlihat begitu patah arang, saat menyadari ia harus bersaing dengan seorang wanita cantik berwajah pucat, yang sibuk memberikan suportnya untuk El dilapangan volley pantai.
"Awalnya aku pikir kau adalah wanita bermental baja, tapi apa yang aku lihat sekarang membuatku berubah pikiran ..." lagi-lagi Luiz kembali mengejek Florensia tanpa iba.
Florensia tersenyum kecut mendengarnya. "Aku hanya akan mengejar seorang pria, manakala ia belum dimiliki oleh seseorang. Saat ini, sudah ada seorang wanita yang telah mengisi relung hatinya, dan aku tidak ingin lagi menempatkan diriku sebagai seorang penggangu hubungan wanita lain ..."
"Kau terlalu cepat menyimpulkan." tepis Luiz acuh.
"Aku tidak asal menyimpulkan, tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa El menyukai wanita itu. Wanita bernama Victoria itu bahkan begitu dekat dengan Luna ..."
"Aku justru tidak yakin jika Victoria menyukai El." imbuh Luiz dengan keyakinan sepenuh jiwa.
"Darimana kau bisa dengan mudah menyimpulkannya?"
Luiz tertawa kecil, sambil berpura-pura mengangkat bahunya.
Bagaimana mungkin Luiz tidak bisa menyimpulkan hal semudah itu?
Tentu saja Victoria tidak mungkin menyukai El, disaat hati Victoria telah dimenangkan sepenuhnya oleh Leo.
Sayangnya Luiz tidak bisa mengatakan semua itu kepada Florensia, karena itu merupakan privacy Leo, yang entah kenapa selalu disembunyikan oleh saudara kembarnya yang tengil itu.
Seandainya Leo siap memberikan kejujuran, dengan membuka rahasia kehidupan pribadinya kepada publik, mungkin semua hubungan rumit dan semrawut antara Leo, Victoria, El, juga Florensia bisa dengan mudah terurai, dan itu berarti Luiz tidak perlu terseret lebih jauh kedalam persoalan yang sama sekali tidak ada sangkut paut dengan dirinya!
"Apakah kita akan langsung menuju bandara?" suara berat El, menyentak lamunan Florensia begitu saja.
"Kita ...?" alis Florensia bertaut, detik berikutnya ia telah menggeleng tegas. "Bukan kita, tapi aku. Bagaimana mungkin aku akan pergi menjemput ayahku dengan membawamu ikut serta?"
"Apa aku sememalukan itu untuk kau perkenalkan kepada ayahmu, meskipun hanya sebagai seorang teman?"
Florensia membisu menerima kekesalan El padanya.
"Maksudku ... ini sudah malam, aku tidak mau ayahku berpikir macam-macam saat melihatku bersama dengan seorang pria ..."
"Jadi hanya Luiz saja yang mendapatkan ijin ayahmu untuk mengajakmu berpergian?" tanya El lagi semakin sewot.
"Bukan begitu, tapi aku ..."
"Aku akan tetap bersama denganmu, tidak peduli ayahmu akan menanggapi kehadiranku seperti apa nantinya." ucap El tegas, semakin menunjukkan sikapnya yang keras kepala.
Florensia membuang kembali pandangannya kearah jendela, seolah tak lagi memiliki kekuatan untuk membantah pria kepala batu yang sedang menyetir disampingnya.
Florensia bahkan tidak mengerti, entah apa mau El sebenarnya?
Usai menciumnya tanpa permisi sehingga membuatnya jatuh pingsan saking shock-nya, El bahkan tidak membahas tindakan semena-menanya itu sama sekali, bahkan bertindak seolah tak terjadi apa-apa.
Mengingat semua hal menyebalkan itu membuat Florensia merenggut dalam diam.
Sementara diluar sana, hujan kembali tercurah dengan begitu derasnya ...
...
Bersambung ...