TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
22. TERJEBAK


Follow my Ig. @khalidiakayum


...


Marina yang awalnya nekad menaruh tubuhnya diatas pangkuan Arshlan sambil bergerak-gerak ero tis ibarat seorang penari ular itu, tak menyangka sama sekali jika ditengah aksinya yang begitu menggoda, sebuah tangan telah menjambak kasar rambutnya yang tergerai.


Tidak hanya kepalanya yang tertarik kebelakang dengan keras, melainkan tubuh Marina pun ikut terjungkal dari pangkuan Arshlan.


Dalam tempo kurang dari satu detik, seluruh tubuhnya telah terjerembab menyentuh lantai kamar yang dingin.


Kaget, tentu saja.


Tapi lebih dari semua keterkejutan Marina atas semua hal mengejutkan yang menimpa dirinya, masih lebih terkejut lagi saat menyadari siapa pelaku yang telah menjambak rambutnya dengan kekuatan super, terlebih lagi saat menyaksikan sosok Tuan Arshlan yang kini berdiri tegak dengan senyum mengejek yang begitu jelas.


Kemana perginya tatapan liar Tuan Arshlan yang seolah ingin menerkamnya?


Bukankah tadi sudah jelas-jelas pria itu telah berada dalam pengaruh serta belenggu hasrat yang menggebu?


Atau jangan-jangan ...


"Padahal sudah kuperingatkan sejak awal bahwa kau akan menyesal. Salah sendiri kenapa kau keras kepala ...!"


Sepasang mata Marina membeliak lebar. "B-Ba jingan ... jadi kalian sengaja merencanakan dan menipuku seperti ini?!"


Marina meradang begitu sadar bahwa niatnya yang ingin menjebak Tuan Arshlan ibarat senjata makan tuan, karena pada akhirnya justru dirinyalah yang terjebak.


"Aku tidak ingin mempercayai semua ini. Sungguh ... aku benar-benar kecewa!!"


Marina menatap Lana yang berdiri dihadapanya dengan tatapan yang dipenuhi amarah. "Lana ...? teganya kau melakukan semua ini pada ibumu ..."


"Kau bukan ibuku ...! bukan ...!" Lana berjalan kesisi Arshlan, kepalanya menggeleng berkali-kali seolah ingin menepis ucapan Marina yang berusaha mengintimidasi dirinya.


"Sayang, kau tidak apa-apakan?" Arshlan menyentuh lengan Lana, wajahnya tetap saja dipenuhi kekhawatiran, meskipun Lana terlihat tegar dalam pandangannya.


"Jangan mengkhawatirkan aku, karena aku telah menyiapkan diriku untuk menghadapi hari ini. Tidak ada lagi yang aku sesali, aku justru bersyukur, dan merasa puas ..."


Tatapan Lana terarah pada Marina yang terlihat telah meraih piyama tidurnya yang teronggok dilantai, memakainya sambil bangkit perlahan dengan wajah memerah dipenuhi rasa malu bercampur amarah.


"Baiklah Lana, aku memang bukan ibumu, tapi aku adalah wanita yang telah kau panggil 'ibu' selama lebih dari dua puluh tahun. Ingatlah baik-baik, bahwa aku yang membesarkanmu."


Lana melengos acuh. "Aku mengucapkan terima kasih atas semua yang pernah kau lakukan. Kau telah sudi membesarkan aku meski tanpa sedikitpun kasih sayangmu. Sungguh, aku tidak bisa membalasnya, karena itulah aku telah memberimu kesempatan berkali-kali. Tapi kenapa? kenapa kau melakukan hal kotor seperti ini?!"


Meskipun demikian, tetap saja suara Lana terdengar bergetar lirih. Helaan nafasnya mulai tak beraturan, menandakan emosinya yang membuncah didada.


"Kau ... kau boleh meminta apa saja dari diriku, dan sesungguhnya aku telah bersumpah untuk berusaha mengabulkan semuanya. Tapi suamiku bukanlah sesuatu yang bisa kau minta apalagi kau curi. Marina ... aku tidak tau hatimu terbuat dari apa. Tapi kau adalah ibu terjahat yang pernah ada diatas muka bumi ini..!!"


"Oh, jadi sekarang kau lebih mempercayaI suamimu daripada aku?! apakah kau lupa bahwa suamimu bahkan suka berganti wanita setiap malam hanya demi memuaskan nafsu ..."


"Itu adalah masa lalu. Kau juga mempunyai masa lalu yang buruk, bedanya jika Arshlan mau berubah ... sedangkan kau sebaliknya. Kau adalah wanita yang berhati busuk ..."


"Dasar anak kurang a jar, tidak tau diuntung!! kalau aku tau aku akan membesarkan anak tidak tau diri seperti dirimu, sejak dulu sudah kubiarkan kau terlantar, dan mati kelaparan!" bukannya menyadari kesalahannya, Marina malah mengumpat sembari menuding Lana.


Plak ...!


"Jauhkan tangan kotormu dari istriku." ujar Arshlan dingin, sambil menepis kasar tangan Marina yang tadinya terangkat menuding wajah Lana. "Marina, sebaiknya kau mempersiapkan dirimu, karena kali ini aku tidak mau lagi membiarkanmu berkeliaran diuar sana. Kau harus mempertanggungjawabkan semua kejahatanmu ...!"


Brakk ...!


Bertepatan dengan usainya kalimat Arshlan, pintu kamar tersebut telah terpentang lebar.


Beberapa orang berseragam masuk kedalam sana, langsung mendekati Marina yang terkesima, seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dialaminya saat ini.


"Apa-apaan ini? kenapa kalian menangkapku? apa salahku ...?!"


"Kesalahanmu sangat banyak, Marina. Sebaiknya kau jangan membantah, karena polisi itu akan membawamu kedalam penjara, menemui kekasihmu yang sudah lebih dahulu berada didalam sana ...!"


"A-apa kau bilang??" Marina semakin terhenyak mendengar ucapan Arshlan yang dibarengi senyum yang sinis.


"Kenapa kau kaget? kau sangat mencintai beno, bukan? berterima kasihlah kepada suamiku, karena kelak, dimasa yang akan datang, kau dan Beno akan selamanya berada dibalik jeruji besi, sampai kalian membusuk didalam sana!"


🍄🍄🍄🍄🍄


Pov...


"Bahkan seekor singa yang lapar sekalipun tidak akan pernah tega memangsa anaknya ..."


Arshlan menghembuskan nafasnya mendengar penuturan Lana yang begitu naif.


Sungguh, Arshlan tak habis pikir kalimat apalagi yang harus ia ucapkan agar bisa mematahkan semua keteguhan hati Lana.


Sesungguhnya Arshlan tau bahwa jauh didasar hatinya, Lana pun tidak seyakin itu. Lana juga tidak sebodoh dan senaif ucapannya. Hanya saja dibalik semua sifat Lana yang genit, lincah, bar-bar, dan apapun itu, Arshlan tau persis bahwa istri kecilnya memiliki hati yang sangat lembut, cinta yang tanpa syarat, serta kasih sayang yang tanpa batas.


Bisa jadi Lana pun tidak mempercayai Marina seratus persen, namun keteguhan hatinya tidak serta merta bisa diluruhkan begitu saja oleh sebuah prasangka tanpa bukti.


"Baiklah, sepertinya jika bicara tentang Marina, apapun itu, kita tidak akan pernah bisa menyatukan persepsi ..."


"Lana, apa maksudmu?" alis Arshlan terangkat.


"Bisa jadi ibu memang lebih muda darimu, tapi kau kan menantunya ..."


"Jadi sekarang kau bahkan ingin aku memanggilnya 'ibu mertua' ...?" sepasang mata Arshlan membeliak lebar, kepalanya telah menggeleng berkali-kali sambil tertawa remeh. "Astaga, Lana, kau jangan memintaku melakukan hal yang gila."


Lana merenggut mendapati ekspresi wajah Arshlan yang menertawakan dirinya terang-terangan.


"Setidaknya kau harus punya alasan untuk mencurigai ibu begitu rupa. Bukan hanya sekedar karena kau tidak menyukainya saja."


"Lana, percayalah. Aku bahkan sudah mengatakannya padamu berulang kali, bahwa aku memiliki banyak alasan serta bukti, yang membuatku bersikap seperti itu."


"Lalu apa gunanya memiliki seribu alasan dan bukti, tapi tak ada satupun yang kau ungkapkan ...?"


"Karena aku tidak mau menyakiti hatimu." pungkas Arshlan sambil membuang wajahnya jauh keluar jendela, dimana semilir angin ikut menerpa lembut dari daun jendela yang sengaja dibuka.


"Kalau begitu, abaikan saja hatiku."


"Mana bisa?" Arshlan menggeleng, kali ini dengan suara yang lemah, seraya menatap wajah Lana yang sedang bersandar dibahu kirinya.


Bagaimana mungkin Arshlan mampu mengabaikan hati wanita yang ia cintai melebihi semua cinta yang ada diatas muka bumi ini ...?


Tidak.


Arshlan tidak bisa melakukannya.


"Kalau kau benar-benar mencintaiku sebesar itu, maka aku wajib mengetahui segala sesuatu yang menyangkut keresahanmu."


"Sayang, mengertilah aku tidak mampu mengatakannya sekarang, berikan aku waktu."


"Katakanlah sekarang." pinta Lana, memaksa.


Arshlan membisu, lidahnya terasa sangat kelu.


"Kau tidak pernah sekalipun mencoba mengatakannya. Lalu bagaimana mungkin kau akan meyakinkan diriku jika berdekatan dengan ibu bisa menyakiti hatiku, bahkan membahayakan diriku, seperti yang sering kau ucapkan?"


"Tapi aku berkata hal yang benar, Lana ..."


"Kalau kau terus seperti ini, artinya kau sengaja membuka peluang untuk hal yang membahayakan diriku, begitupun dengan si kembar ..."


"Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau dan si kembar disakiti oleh siapa pun, terlebih Marina ...!"


"Tapi yang selalu kau sebut dengan 'Marina' itu pada kenyataan sangatlah baik dan perhatian kepada ..."


"Dia menipumu."


"Tidak mungkin ..."


"Dia pintar memanipuasi hatimu yang penyayang, tapi dia tidak bisa menipu seorang Tuan Arshlan!"


"Dia ibuku!"


"Lana ..."


"Aku adalah putrinya!"


"Lana ..." Arshlan merengkuh tubuh mungil Lana yang mulai bergetar samar kedalam pelukannya.


Untuk beberapa saat hanya keheningan yang memenuhi udara.


Arshlan terlihat menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Apakah aku harus membeberkan semua bukti agar kau tidak lagi menolak mempercayai semua perkataanku?"


Lana menatap Arshlan dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


Sesungguhnya Lana merasa sedih menyadari Arshlan menganggap dirinya tidak bisa mempercayai pria itu, padahal sebaliknya, yang ada Lana hanya takut dirinya akan semakin meragukan niat Marina, seperti yang terus diperingatkan oleh Arshlan.


Terkadang Lana sering berpikir, tidak apa-apa jika Marina menggilai uang suaminya. Tapi benarkah hanya itu saja yang diinginkan Marina? benarkah tidak ada lagi hal lain yang diinginkan Marina selain uang, sehingga membuat Arshlan terus-menerus menganggap wanita itu sebagai ancaman?


Entahlah ...


Arshlan terlihat menarik nafasnya dengan berat sebelum berucap perlahan.


"Lana, sesungguhnya ini adalah keputusan yang sulit. Aku tidak ingin membuatmu sedih, tapi di sisi lain aku lebih tidak ingin melihat semua ikatan kepercayaan yang terjalin diantara kau dan aku, dihancurkan oleh orang lain ... oleh siapapun itu ..."


...


Next ➡️ double up 🥰


Jangang lupa di LIKE and Support yah 🤗