TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 4. Romeo Love Story


Saat Luiz memasuki ruang kerjanya ia telah melihat panggilan suara Lana di ponselnya.


Tanpa berpikir dua kali, Luiz langsung mengangkat panggilan tersebut sambil mendudukkan tubuhnya dikursi yang ada dibelakang meja besarnya.


"Luiz ..."


"Iya, Momm ...?" jawab Luiz. Sudut hatinya langsung dihinggapi rasa rindu saat menyadari ia bahkan belum bicara dengan kedua orang tuanya sejak dua hari yang lalu.


"Bagaimana kabarmu? kenapa kau tidak menghubungi mommy meski hanya sekedar memberi kabar?"


"Maaf, momm, beberapa hari terakhir ini pekerjaanku sangat banyak ..."


"Mommy sudah menduga, kau pasti sangat sibuk ..."


Disudut hati Luiz ada sedikit penyesalan mendengar nada lirih Lana.


Selalu seperti ini. Setiap kali dirinya sibuk, maka tanpa sadar ia akan melupakan segalanya, begitupun dengan memberi kabar.


Sesungguhnya Luiz tidak pernah berniat menjadi sosok yang tidak peduli, terlebih jika hal itu menyangkut daddy dan mommy.


Tapi apa boleh buat, kepribadiannya yang cuek dan kurang peka telah sekian lama terbentuk seperti ini, dan Luiz merasa tak kuasa jika harus mengubahnya lagi.


"Ada apa, Momm?" tanya Luiz pada akhirnya.


"Hanya ingin mengingatkanmu, agar kau tak melupakan weekend kali ini ..."


"Tidak akan, Momm. Kalau masalah jadwal weekend, aku akan selalu mengingatnya. Setelah hari ini selesai aku akan langsung menuju peternakan ..."


"Luiz, jangan lupakan Dasha."


Luiz belum sempat menjawab karena kemudian suara Mommy Lana kembali terdengar.


"Mommy telah memerintahkan seseorang untuk menjemput Dasha di asramanya, agar dia bisa menunggumu usai kau bekerja. Jadi kau tidak perlu repot-repot lagi menjemput terlebih melupakannya seperti weekend kemarin ..." pungkas Lana sekaligus mengingatkan keteledoran Luiz yang weekend kemarin telah lupa membawa Dasha ikut serta sehingga dengan terpaksa membuat gadis itu harus menghabiskan weekend sendirian diasrama.


"Baiklah, Momm, aku pasti akan datang. Kebetulan hari ini aku akan bertemu Leo, semoga aku juga bisa membawa serta Leo agar bisa datang bersamaku dan Dasha."


"Ide yang baik, Luiz. Daddy pasti akan senang bisa bertemu Leo. Anak itu telah melewatkan dua weekend berturut-turut dengan tidak datang menemui kami di peternakan ..."


"Mommy tenang saja, kali ini aku sendiri yang akan menyeretnya jika dia masih berkelit kesana kemari."


"Baiklah Luiz, mommy percaya padamu ..."


Tepat ketika pembicaraan itu berakhir, pintu ruangan Luiz telah terpentang lebar tanpa diketuk.


"Tuaaaann ...!"


Luiz melotot kecil menyaksikan sosok mungil yang melesak masuk keruangannya tanpa aba-aba, dengan wajah super ceria, lengkap dengan seragam sekolahnya yang masih melekat ditubuhnya.


Melihat semua pemandangan itu membuat Luiz memijat kecil pelipisnya.


"Tuan, aku akan duduk disini." Dasha langsung mengambil tempat duduk disalah satu sofa yang ada diruangan Luiz. "Kata nyonya Lana, aku harus duduk dengan tenang dan tidak boleh menggangu Tuan."


"Ya ... ya ... semua itu memang benar. Ingatlah baik-baik ... jangan mengganggu." ujar Luiz mengiyakan begitu saja kalimat yang terucap dengan nada riang itu.


Dasha terlihat menatap Luiz lekat dari kejauhan sana.


"Ada apa lagi? kenapa melihatku seperti itu?"


"Tuan, kalau aku tidak bicara denganmu, kau tidak akan kenapa-napa, kan?"


"Memangnya aku akan kenapa?" tanya Luiz balik bertanya.


"Aku hanya tidak ingin kau kesepian dan ..."


"Tidak. Aku tidak akan kesepian. Dengarkan saja apa yang dikatakan Nyonya Lana, bahwa kau tidak akan bicara padaku. Kau mengerti?"


Tak ada jawaban, namun Luiz bisa melihatnya ... bahwa Dasha menganggukkan kepalanya dari ujung sana, meski terlihat ragu-ragu.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Akhirnya ... selalu aku yang harus menemuimu ..."


"Kau menyesal?"


"Tidak. Aku justru terharu. Berpikir bahwa mungkin kau sedang merindukan aku dan ..."


"Terlalu banyak mengkhayal."


"Buktinya kau telah menelponku lebih dahulu."


Luiz hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali menyadari Leo yang bersikeras membuatnya tersudut.


"Itu karena aku ingin membicarakan pekerjaan. Lagipula untuk apa aku merindukan seseorang yang lebih memilih apartemen daripada pulang kerumah sendiri?"


"Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, mana bisa terus pulang kerumah setiap hari? belum lagi jadwal syutingku yang terkadang menjadi tak menentu ..."


"Alasan saja."


"Aku berkata benar. Aku juga menjadi malas pulang semenjak daddy dan mommy memutuskan tinggal di peternakan, dan menetap disana ..."


Luiz terdiam. Dalam hati ia memahami perasaan Leo. Wajar jika Leo merasa tidak betah lagi dirumah, semenjak daddy dan mommy tak lagi berada disana.


Luiz bahkan merasakan hal yang sama, bedanya ia tidak bisa menutup mata seperti Leo, yang memilih menjalankan hidup seperti yang dia inginkan, karena Luiz tidak punya pilihan. Luiz harus menjalani semuanya, bertanggung jawab atas hal kecil dan hal besar, karena Leo bahkan tidak pernah mau terlibat didalamnya.


"Weekend kali ini, luangkan waktumu untuk pergi ke peternakan. Kau sudah dua pekan tidak datang kesana ..."


"Tapi aku selalu menelpon mereka setiap hari. Kata mommy, justru kau yang jarang memberi kabar ..." Leo telah melirik Luiz dengan senyum penuh kemenangan.


"Tapi kau tidak memberi kabar setiap hari ..."


"Kau ..."


"Kita impas."


Luiz membisu, hanya menatap tajam Leo yang duduk pongah dihadapannya dengan tawa kemenangan yang memenuhi setiap sudut bibirnya.


Detik berikutnya tatapan Leo berpindah pada gadis mungil yang duduk mematung diatas sofa yang berada diujung.


"Hey, Dasha ...! kenapa sejak tadi kau diam saja?" tanya Leo dengan alis mengerinyit, saat menyadari gadis cilik yang biasanya tidak bisa diam itu, kini berdiam diri layaknya patung.


"Aku menyuruhnya diam." pungkas Luiz dengan acuh.


"Astaga, Luiz ... kau kejam sekali." pungkas Leo terkejut bercampur iba, namun pada akhirnya tawa renyahnya telah pecah berderai.


Leo mengalihkan lagi tatapannya kearah Dasha yang masih terduduk diam, namun mata bulat gadis cilik itu jelas terlihat bergerak-gerak sambil menatap kearah Leo, seolah meminta pertolongan.


"Dasha ... kemari ...!" titah Leo kemudian.


Dasha masih diam tak bergerak, ingin sekali mengikuti titah Leo, tapi disisi lain takut melanggar titah awal Luiz.


"Jangan takut, kemarilah, duduk disini. Jangan duduk sendirian disana nanti kau akan dicolek hantu ..."


"Aaappa ...? ha ... hantu ...?!"


Mendengar kata 'hantu" refleks Dasha melompat dan mendekat dengan langkah tergesa.


"Maaf Tuan Luiz, tapi aku takut dicolek hantu ..." ujar Dasha sambil cengengesan mendapati wajah datar Luiz yang juga menatapnya.


"Sudahlah, jangan pedulikan dia. Kalau ada aku, kau jangan khawatir. Duduklah disitu." ucap Leo lagi mencoba menengahi sambil tersenyum, merasa lucu.


Dengan sukacita Dasha menghempaskan tubuhnya dikursi kosong yang bersebelahan dengan Luiz. Wajahnya kini dipenuhi senyum semringah.


Tok ... tok ... tok ...


Bunyi tiga kali ketukan dipintu membuat perhatian ketiganya teralih, terlebih saat menyadari kehadiran seorang wanita cantik yang muncul disana dengan sebuah nampan berisi secangkir kopi yang mengepul dan dua gelas oranges juice dingin.


"Silahkan diminum ..."


Tatapannya mengarah penuh kearah Leo, begitu selesai menaruh secangkir kopi dihadapan Luiz, dan dua gelas oranges juice dingin dihadapan Leo dan Dasha. Bibir gadis itu dipenuhi senyuman yang memikat.


"Terima kasih..." jawab Leo sambil tersenyum ramah tanpa beban. "Bagaimana kabarmu, Vic?" tanyanya kemudian, sekedar berbasa-basi.


"Baik, Tuan. Oh ya, Tuan Leo, aku hanya ingin bilang bahwa aktingmu dalam 'Romeo Love Story' sangat bagus ..."


"Benarkah?" ujar Leo sambil menyeruput orang juice milknya lewat pipet yang tersedia disana.


"Aku telah menontonnya hingga dua kali." ucap Victoria lagi dengan bangga.


Dan Leo belum sempat menanggapinya, manakala suara mungil Dasha terdengar mengusik pembicaraan tersebut.


"Apa hebatnya? aku telah menonton 'Romeo Love Story' hingga enam kali. Aku bahkan nyaris menghafal semua dialog yang ada disetiap scenenya ..."


Mendengar celetukan itu sepasang mata milik Leo dan Victoria seolah mengarah pada satu titik, sementara Luiz terlihat sedikit bingung.


"Aku lebih hebat, kan?" binar mata Dasha malah menatap Leo dan Victoria berganti-ganti, dengan dada membusung bangga, terlebih saat membalas tatapan mata Victoria.


"I-iya ... kau lebih hebat, tapi ... tapi ... jangan menontonnya lagi ..." larang Leo sedikit gelagapan.


Mendapati sikap yang semakin mencurigakan dari Leo, membuat Luiz yang awalnya sedikit tidak peduli dengan pembicaraan itu refleks bertanya.


"Memangnya ada apa, Leo? kenapa kau malah melarangnya menonton?"


"Itu ... itu karena ..."


Leo menggaruk tengkuknya yang sesungguhnya tidak gatal.


"Karena apa?" tatap Luiz semakin menyelidik.


"Karena ..."


Mengambang.


"Kenapa? memangnya ada apa? aku sangat suka filmnya, aku suka melihat Tuan Leo disana, kisahnya sangat romantis dan ..."


"Dan sayangnya film itu bergenre dewasa, yang tentu saja tidak diperuntukkan oleh bocah manis seperti dirimu, Dasha sayang. Itulah sebabnya."


Mendengar itu wajah Dasha menjadi merah padam, warna merahnya serupa dengan warna merah yang menghiasi wajah Luiz, sementara Leo memilih meringis ibarat seekor kuda, mendapati pelototan galak Luiz yang mengarah tepat padanya.


"Sepertinya aku harus lebih ketat mengawasimu. Dasar bocah nakal!"


Dasha mengkerut dikursinya mendengar ancaman Luiz yang terdengar tidak main-main.


Melihat semua itu membuat Victoria tersenyum puas penuh kemenangan.


Sejujurnya Victoria memang kesal dengan bocah nakal bernama Dasha, yang entah darimana asal usulnya ini, terlebih karena Victoria juga tau bahwa Dasha telah beberapa kali mengusili dirinya setiap kali ia bersama Luiz.


Meskipun terlihat dingin dan kejam, pada kenyataannya Luiz terus saja melindungi kenakalan Dasha, sementara Leo pun terlihat sangat menyukai setiap kelicikannya ...!


...


Bersambung ...