
The Last Chapter.
...
Indah.
Saking indahnya Dasha tak tega menaruh tubuhnya disana, dan mengacaukan hamparan kelopak mawar yang terhampar di atas permukaan ranjang.
"Dasha, apakah kau tahu ...?" ucap Luiz sambil menyentuh sebelah pipi Dasha.
Saat ini mereka telah duduk ditepian ranjang king size dengan tatapan yang saling bertaut satu sama lain.
"Setelah semua ini, yang ada dipikiranku hanyalah bagaimana caranya membuatmu selalu bahagia ..."
Ucapan Luiz barusan, bukanlah kalimat indah pertama yang pernah didengar oleh Dasha.
Namun menyadari dimalam pertama ini, disaat mereka resmi menjadi sepasang suami istri, Luiz justru masih sibuk memikirkan cara untuk membuatnya semakin bahagia ... semua itu telah membuat Dasha merasa sangat terharu.
"Sayang, kenapa kau berkata seperti itu? Kau tidak perlu memikirkan apa-apa, karena asalkan bersama denganmu maka aku pasti bahagia ..."
"Bersama denganku? Tapi setelah ini kita justru akan berpisah ..." imbuh Luiz, raut kesedihan terpancar jelas diwajah yang biasanya minim ekspresi itu.
Luiz memang benar, setelah semua ini, tak berapa lama lagi mereka harus berpisah, dan semua itu dikarenakan keputusan Dasha yang tetap memilih meneruskan kuliahnya setelah dirinya dan Luiz resmi menikah.
Sejujurnya Luiz merasa keberatan dengan keputusan gadis itu, tapi Luiz tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya terlanjur berjanji untuk memberikan Dasha pilihan, dalam menentukan masa depannya, dan Dasha telah membuat keputusan yang sejujurnya maha berat untuk Luiz.
Keputusan Dasha adalah tetap meneruskan pendidikan pada sebuah universitas ternama di luar negeri, dan itu berarti Luiz harus rela menjalani hubungan LDR, sekaligus menunda memiliki keturunan.
Demi Dasha ... demi rasa cintanya yang besar ... mau tak mau Luiz harus menyanggupi semuanya, dan kembali menaruh dirinya di jalur penantian!
"Sayang, kau mau menungguku kan?" Dasha menatap wajah sendu Luiz yang terdiam sekian lama, dan hatinya lega saat mendapati anggukan pria itu.
"Tentu saja. Aku akan tetap menunggumu."
"Berjanjilah kau akan menemuiku sesering mungkin ..."
Kali ini senyum Luiz merekah sempurna menyaksikan permintaan manja itu
"Aku pasti akan menemuimu sesering mungkin. Aku berjanji."
Mendengar itu, Dasha langsung menghambur ke pelukan Luiz serta-merta, seolah ingin mencurahkan kerinduan yang pastinya akan sering menyapa disaat jarak membentang.
"Bagaimana? Sudah bisa dimulai, belum?" bisik Luiz setelah beberapa saat mereka berdua hanya saling memeluk satu sama lain.
Dasha mengurai pelukan itu serta-merta, demi mendapati tatapan penuh has rat yang telah bergelayut sempurna di kedua pelupuk mata Luiz.
"Sayang ... kau ini ..."
Pipi Dasha bersemu, namun ia tak lagi menolak saat Luiz mulai menarik tali bathrobe yang melingkari pinggang mungil miliknya.
Tanpa membuang waktu Luiz mengangkat tubuh mungil Dasha dan menaruhnya keatas ranjang besar, yang dipenuhi hamparan kelopak mawar merah yang harum semerbak.
Selanjutnya, semua yang ada hanya terasa indah ...
Seindah cinta mereka ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara itu ...
Disaat yang sama, dua insan berusia senja duduk bersisian sambil menikmati pemandangan malam sebuah kota metropolitan, dari lantai tertinggi sebuah kamar presidential suite lainnya.
Dua jemari keduanya terlihat bertaut erat, seolah tak bisa terlepas satu sama lain.
"Akhirnya aku bisa bernapas lega, karena Luiz dan Leo telah mendapatkan kebahagiaan mereka masing-masing ..."
Suara berat Arshlan terdengar memecah keheningan.
Tepat disebelah pria itu, Lana ikut tersenyum sambil menoleh.
Arshlan mengangguk mengiyakan, sembali mengeratkan remasan tangannya pada jemari Lana.
"Lana, terimakasih ..."
Alis Lana bertaut mendengarnya. "Untuk apa?"
"Untuk semua kebahagiaan dalam hidupku begitu kau hadir di dalamnya. Kalau tidak ada dirimu ... mana mungkin semua kebahagiaan ini akan datang padaku bertubi-tubi ...?"
Lana menatap Arshlan penuh haru, terenyuh dengan ungkapan hati suaminya yang terucap dengan penuh kesungguhan.
"Arti dirimu untukku juga sama, sayang. Kau membuat semua yang ada didiriku terasa lengkap. Kalau aku tidak bertemu denganmu ... aku tidak akan mungkin mendapatkan semua kebahagiaan ..." suara Lana bergetar.
"Sssttt ... jangan menangis. Kemarilah ..."
Arshlan bangkit dari duduknya, kemudian menarik lembut jemari Lana yang kini telah terisak, mengajaknya ikut berdiri agar bisa memeluknya dengan utuh.
"Sayang, terima kasih atas semuanya ..." Lana memeluk erat tubuh Arshlan yang juga sedang merengkuhnya erat.
"Terima kasih juga atas seluruh cintamu untukku ... dan untuk cintamu pada kedua putra kembarku ..." bisik Arshlan lembut.
"Mereka berdua putra kembarku juga ..." kilah Lana, meralat ucapan Arshlan.
Arshlan terkekeh pelan.
"Baiklah ... baiklah ... mereka berdua adalah putra kembar kita yang tampan ..." ucap Arshlan sambil mengecup dalam dahi Lana.
Malam pun semakin bergulir dan larut ...
Sementara keduanya belum juga berniat beranjak dari sana, dari permukaan kaca yang besar, dimana semua pemandangan indah dari kerlap-kerlip lampu kota yang ada dibawah sana bak sebuah pertunjukan yang menenteramkan jiwa.
Senyum kebahagiaan terus menghias dikedua bibir yang menua, dengan kedua jemari yang tetap bertaut erat.
Arshlan dan Lana ...
Adalah simbol cinta yang membara, dengan nyalanya yang tak kunjung padam hingga termakan usia.
Terus bersama melewati dashyatnya gelombang ...
Tajamnya kerikil kehidupan ...
Serta godaan dunia yang kejam ...
Cukup bertahan atas nama cinta, maka semuanya pasti akan berakhir sepadan.
Kebahagiaan ...
Kebahagiaan ...
Kebahagiaan ...
...
TAMAT.
Segenap rasa terima kasih author untuk seluruh reader setia TERJERAT CINTA PRIA DEWASA.
Atas dukungan, perhatian, doa, kesabaran, dan semua hal baik yang telah author terima ... semoga ALLAH SWT membalasnya dengan limpahan kasih sayang yang berkali-kali lipat banyaknya.
Terima kasih atas Like, Komentar, Favorite, Hadiah, dan Vote.
Semoga karya ini akan terus mendapatkan cinta dan dukungan baik dari reader maupun platform Noveltoon/Mangatoon.
Sampai jumpa pada karya author selanjutnya, dan yang belum baca karya lain author yang sudah tamat, yuk kepoin langsung, dijamin tak mengecewakan.
Sun sayang author untuk kalian semua ... πππππ