
Lima tahun yang lalu, Victoria adalah wanita karir yang cukup sukses.
Kedekatannya dengan Luiz, yang notabene merupakan salah seorang putra kembar Tuan Arshlan yang menduduki jabatan tinggi sekaligus pewaris perusahaan raksasa itu, telah membuat karir Victoria melesat dengan mudah.
Namun hari ini nama Victoria telah tenggelam seiring waktu, sejak ia memutuskan resign dari pekerjaannya sebagai sekretaris utama di kantor pusat perusahaan milik Tuan Arshlan.
Tak ada seorang pun yang mengetahui alasan apa yang telah membuat Victoria mengundurkan diri begitu saja, dari jabatan strategis yang diimpikan semua karyawan itu.
Karena pada akhirnya ... segala kisah tentang Victoria, dengan segala kepercayaan diri dan pesonanya, lambat laun menguap seiring waktu, dan terlupakan.
Semuanya berawal, tepat di malam kepergian Luiz.
Malam itu bisa dibilang malam yang adalah awal dari babak baru perjalanan hidup mereka semua.
Luiz,
Leo,
Victoria,
Dan ... Dasha.
Malam itu ...
Suasana di ranch yang begitu syahdu, efek champagne yang halus nan memikat, disertai pemandangan tubuh Victoria yang terbalut piyama silky berpotongan leher rendah ... semuanya adalah satu kesatuan yang sempurna, yang telah membuat Leo sangat gelap mata dipenuhi has rat.
Pria itu bahkan tidak peduli saat dengan nekad memutuskan menyelinap kedalam kamar tamu yang ditempati Victoria, bercinta dengan hebat, dan terus mengulangnya hingga nyaris keduluan sang fajar ...!
Tak seperti biasanya saat Leo selalu melakukannya dengan pengaman, karena malam itu adalah pengecualiannya.
Berada satu atap dengan kedua orang tuanya membuat Leo tidak pernah sedikit pun berpikir bisa melakukan hal yang diluar kendali bersama Victoria.
Berdasarkan pengalamannya, Leo tentu saja tidak berpikir untuk ceroboh. Leo sudah cukup melakukan usaha pencegahan akan kemungkinan terburuk sekalipun, namun jiwa bad boy serta rasa tertantang telah membuatnya nekad mengadu nyali hingga mencoba sesuatu yang menantang adrenalin.
Hanya sekali, dan Leo telah menanggung akibatnya dengan begitu telak, manakala tiga bulan kemudian, Victoria telah memberitahukan sesuatu, yang membuat Leo nyaris pingsan ditempat.
"Aku hamil."
Hanya lewat sebuah chat singkat, karena setelah kebersamaan di ranch, Victoria telah kesulitan untuk menemui Leo kembali.
Kesibukan, dan tentu saja keengganan.
Jangan bilang bahwa Victoria tidak menyadarinya, namun wanita manapun pastilah akan bereaksi sama, saat menyadari tamu bulanannya yang tidak lagi rutin berkunjung seperti biasanya.
Mencurigai sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi ditubuhnya, Victoria masih mencoba bersikap tenang. Ia datang ke sebuah apotik seorang diri, guna membeli beberapa buah pregnant test dengan beberapa merk yang berbeda sekaligus.
Yang pada akhirnya, semua pregnant test tersebut, membuat Victoria mau tak mau harus menerima kenyataan, jika dirinya telah berbadan dua.
Menjadi tidak bisa berpikir dan merasa panik, Victoria berusaha bertemu Leo, namun seperti biasa, pria itu selalu saja terlalu sibuk untuk bisa meladeni Victoria. Victoria bahkan kesulitan hanya untuk menelpon Leo.
"Aku hamil."
Hanya dua kata itu yang kemudian diketikkan Victoria lewat message, sebelum kemudian, dengan keyakinan penuh ia mengetuk pintu ruang kerja Tuan Arshlan, sebagai usaha terakhir demi mendapatkan keadilan, sekaligus pertanggungjawaban.
Sore itu, jam official kantor telah usai, namun sebagai sekretaris utama, Victoria tahu bahwa Tuan Arshlan masih berada didalam ruangannya, sehingga ia bisa berlutut memohon pengampunan ... begitu pun juga dengan pembelaan.
Dan begitulah awal mula kisah hidup Victoria berubah seratus delapan puluh derajat.
Sesuai perkiraan Victoria, meskipun Tuan Arshlan terkesan dingin dan arogan, tapi pria tua yang disegani oleh semua orang itu selalu bisa melihat segala persoalan dengan baik, dan mengambil keputusan yang bijaksana.
Pada awalnya, tentu saja Leo mengelak dan menolak bertanggung jawab.
Namun yang lebih pedih dari semuanya, bahwa Leo tidak sendirian. Nyonya Lana berada dibelakang putranya, mendukung penuh dan meragukan dirinya. Victoria telah dituduh menjebak Leo, demi bisa menikah dengan pria tampan dengan karir keartisannya yang begitu cemerlang.
Victoria patut lega, karena pada akhirnya keputusan Tuan Arshlan adalah mutlak.
Leo bersedia menikah dan bertanggung jawab, namun dengan berbagai syarat yang diajukan untuk dipenuhi Victoria.
Setelah mereka menikah, Victoria otomatis pindah ke apartemen Leo. Sayangnya, sejak saat itu juga Leo seolah menjadi tidak betah lagi berada disana.
Leo bahkan lebih sering memilih kembali kerumah, bersama kedua orang tuanya. Hanya sesekali pria itu kembali, itupun jika ada sesuatu yang ia perlukan, seperti halnya pagi ini.
Victoria baru saja selesai membersihkan apartemen seperti kebiasaan dirinya setelah bangun pagi, manakala Leo datang dengan penampilannya yang telah necis.
"Leo?" sapa Victoria, tidak bisa lagi menyembunyikan rasa kagetnya.
"Aku hanya datang mengambil sesuatu." ucap Leo acuh sambil masuk kedalam kamar.
Pagi itu, Leo memang sengaja datang untuk mengambil dokumen passport miliknya yang tersimpan dilaci lemari yang ada didalam kamar.
Sejenak Victoria mematung tanpa kata, hanya sibuk menatap punggung Leo yang cukup membuat dadanya berdesir lembut dipenuhi rasa sakit, juga rindu.
Terakhir Victoria melihat Leo tiga hari yang lalu.
Pria itu datang hanya untuk menaruh satu tas penuh pakaian kotor miliknya disisi mesin cuci, sebelum kembali pergi dengan satu tas penuh pakaian bersih dari dalam lemari.
Langkah Victoria terayun ringan, mengikuti jejak Leo. Ingin tau apa yang membuat Leo datang, yang kali ini tanpa membawa pakaian kotor seperti yang sudah-sudah.
"Leo, kau sedang mencari apa?" tanya Victoria begitu melihat pemandangan Leo yang sedang mengacak laci lemari pakaian miliknya.
"Passport."
"Ada di laci yang satunya ..."
Gerak tangan Leo mendadak terhenti mendengar kalimat Victoria.
Tanpa bicara Leo telah menutup kembali laci yang sedang diacak-acak olehnya sejak tadi, mengganti target pencarian ke laci disebelahnya yang dimaksudkan oleh Victoria.
Benar saja. Karena begitu laci itu terbuka, mata Leo langsung tertumbuk pada passport miliknya yang berada ditumpukan paling atas, didalam laci yang dimaksud.
"Bagaimana? Kau sudah menemukannya?"
"Hhhmm ..."
Victoria terdiam ditempatnya, hanya mengawasi Leo yang sedang memasukkan beberapa dokumen selain passport kedalam tas miliknya, yang diambil Leo dari laci yang sama.
Saat Leo mengangkat wajahnya ia malah mendapati sosok Victoria yang mematung disisi ranjang. Tubuhnya yang tinggi dan ramping terbalut dress berwarna salem dengan panjang selutut, rambut wanita itu tergelung tinggi keatas, dengan wajah natural tanpa polesan.
"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?" tanya Leo saat menangkap ekspresi wajah Victoria, yang terlihat menyimpan sesuatu yang seolah ragu untuk diungkapkan.
Victoria sedikit tergeragap. "Akhh ... anu ... aku ..."
"Tidak perlu berbelit-belit seperti itu. Katakan saja ada apa ...?" ucap Leo lagi sambil menatap penuh Victoria.
"Aku ... aku ... Leo, bisakah aku mencari pekerjaan?"
Mendengar itu Leo malah tertawa keras mendengarnya.
"Kenapa, Vic? Apakah saat ini kau mulai lelah menungguku?" ucap Leo dengan intonasi suara mengejek.
Wajah Victoria merah padam mendapati kalimat ejekan disertai raut wajah yang mencemooh dihadapannya.
"Bukankah kau pernah bilang, bahwa kau tidak akan menyerah? Dulu, kau juga bilang, bahwa kau rela menungguku pulang setiap hari tanpa mengeluh. Lalu ... apa yang aku dengar ini ...?"
"Leo, aku hanya ..."
Leo menggeleng cepat, memupus sepenggal kalimat Victoria, yang belum sempat terucap sempurna.
"Baru lima tahun ... tapi kau sudah mau menyerah ..." ujar Leo sambil tak lupa menambahkan decak sinis, di akhir kalimatnya yang tak kalah sinis ...
... NEXT