
"Luiz, sebelum kau kesini, jangan lupa untuk menjemput Dasha terlebih dahulu ..."
Tubuh Luiz langsung menegak begitu saja, begitu mendengar suara Lana di seberang sana.
"A-apa, Momm ...? D-Dasha ...?" Luiz tergeragap.
"Luiz, kenapa kau malah bicara dengan terbata-bata? Hanya menyuruhmu menjemput Dasha di asrama, dan kau bersikap seolah Mommy menyuruhmu menjemput hantu saja ...!"
Dumelan Lana tak di indahkan Luiz.
Lagipula ...
'Hantu ...?'
'Apakah mommy tidak tahu bahwa dalam kondisi seperti ini, sudah lebih baik jika mommy menyuruhnya menjemput hantu sekalian dari pada menjemput Dasha ...!'
Luiz tidak sedang melebih-lebihkan, tapi Demi Tuhan, Luiz bahkan bisa bersumpah jika saat ini dirinya benar-benar merasa sangat galau!
"Bukan begitu, Momm ... tapi, bukankah sesuai jadwal dari pihak sekolah, semua murid akan keluar dari asrama besok sore?"
"Seharusnya memang begitu. Tapi karena ujiannya sudah selesai hari ini, maka Mommy sengaja meminta dispensasi pihak sekolah, agar Dasha bisa diperbolehkan pulang sore ini juga ..."
Haihhh ...!
Saking gemasnya dengan kenyataan yang telah terpampang nyata didepan matanya, rasanya Luiz ingin menghantam dinding tembok yang keras, dengan menggunakan kepalanya sendiri.
"Luiz, kau kan tahu sendiri Mommy sudah terbiasa dengan kehadiran Dasha, apalagi di moment penting seperti ini. Kalau tidak Dasha, rasanya seperti ada yang kurang ..."
Luiz menggaruk kepalanya, yang mendadak semuanya menjadi gatal.
Benar. Semua yang dikatakan mommy Lana, semuanya benar.
Keluarga Arshlan telah terbiasa dengan kehadiran Dasha, lengkap dengan keceriaan gadis itu, apalagi mommy Lana yang sudah sejak awal sangat menginginkan sosok gadis kecil yang bisa menghangatkan seisi rumah.
Jadi wajar saja jika kehadiran Dasha terasa sangat pas, dan karena sosok Dasha yang ceria telah membawa sebuah warna yang baru dalam keluarga Arshlan.
"Luiz, kau masih mendengar Mommy, kan?" suara Lana kembali menyeruak, seolah menghalau senyap.
"Iya, Momm ... iya ... aku mendengar semuanya, tapi seharusnya Mommy harus bisa menahan diri. Kelak, Mommy tidak boleh semena-mena melanggar jadwal dari pihak sekolah seperti itu lagi ..." pungkas Luiz mencoba pasrah dengan kenyataan yang terlanjur terjadi, akibat ketidak sabaran mommy Lana untuk bertemu Dasha.
"Kau tenang saja, Luiz, Lagi pula ... sebentar lagi Dasha juga akan lulus dari bangku sekolah, jadi Mommy benar-benar tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan pelanggaran seperti ini lagi. Bukan begitu? Hi ... hi ... hi ..."
Lana malah terkikik tanpa dosa, sama sekali tidak menyadari jika ulahnya telah membuat Luiz berpikir keras.
"Hhhh ... baiklah, Momm. Setelah ini, aku akan menjemput Dasha." putus Luiz, mau tak mau Luiz memang tak lagi memiliki alasan untuk mengelak dari situasi yang telah terjadi diluar kendalinya.
"Syukurlah kalau begitu. Mommy lega mendengarnya ..." tarikan nafas lega milik Lana diujung sana, sampai juga di telinga Luiz, membuat Luiz semakin tidak bisa mengelak.
"Baiklah kalau begitu, Mommy tutup teleponnya dulu yah, sayang ..."
"Baiklah, Momm ..."
Setelah bunyi kecupan singkat mommy Lana diujung sana, pada akhirnya Luiz pun menaruh ponselnya keatas meja, seiring dengan ekspresi wajahnya yang berubah keruh, serta tangan kanannya yang sontak memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Aku harus menelepon Florensia ..." ujar Luiz, sambil meraih kembali ponselnya yang tergeletak bisu diatas meja, menscroll daftar kontak yang ada disana, demi menemukan nama Florensia.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Lalu kau mau aku bagaimana?" sepatah kata dengan nada tanya milik Florensia telah membuat sepasang mata Luiz melebar maksimal.
"Florensia, aku meneleponmu agar kau membantuku memikirkan langkah apa yang harus aku lakukan. Tapi kenapa kau malah balik bertanya ...?"
Diseberang sana, Luiz malah mendengar suara Florensia yang seolah sedang mengunyah sesuatu.
'Dasar wanita menyebalkan, bisa-bisanya dia makan dalam situasi seperti ini ...!'
Luiz mengumpat dalam hati, namun ia memilih menekan kekesalannya, menghadapi sikap santai Florensia yang kerap menggampangkan persoalan.
"Florensia, kau mendengarku tidak sih?!" ujar Luiz lagi, nyaris kehilangan kesabarannya saat belum juga menerima tanggapan berarti dari Florensia, selain bunyi mulutnya yang terdengar jelas sedang mengunyah sesuatu.
"Iya ... iya ... aku mendengarnya."
"Florensia, aku tidak suka menunggu."
"Astaga, Luiz, kau bisa tidak bersabar sedikit? Saat ini aku juga sedang berpikir ...!"
"Kata siapa kau sedang berpikir? Sejak tadi aku hanya mendengar kau mengunyah saja!" geram Luiz, gagal menyembunyikan kedongkolannya atas sikap Florensia yang seolah tak ambil pusing dengan persoalannya.
"Aku memang sedang makan. Lalu apa masalahnya? Seharian ini aku sangat sibuk menemani ayah kesana kemari untuk menemui beberapa orang rekan bisnisnya, dan aku belum makan sejak siang tadi ..."
"Aku tidak peduli."
"Nah ... nah ... kau saja tidak peduli padaku, lalu untuk apa kau meminta aku peduli?"
"Florensia, kau ..."
"Sudahlah, Forget it, kalau begitu kau jemput saja kekasih kecilmu itu, biarkan aku datang berdua dengan ayah saja." jawab Florensia cuek.
"Baiklah, Flo, karena semuanya telah menjadi pelik seperti ini maka aku tidak ingin lagi meneruskan sandiwara ini."
"Egh, kenapa?"
Kali ini bukan lagi suara mengunyah, melainkan bunyi air yang sedang diteguk, menandakan Florensia yang sedang minum.
"Bisa-bisanya kau bertanya kenapa ..." desis Luiz mulai tidak bisa lagi menahan kejengkelannya.
"Kau takut pacar kecilmu marah?" tanya Florensia tanpa dosa.
"Lagipula disana tidak ada El. Jadi kau tidak perlu menempel padaku seperti kutu!"
"Hi ... hi ... hi ..."
Gigi Luiz bergemeretak begitu mendengar suara terkikik diujung sana.
"Kenapa kau tertawa? Kau pikir aku sedang melawak?!"
"Luiz ... Luiz ... kau sadar tidak, bahwa kau terlalu tua untuk takluk pada gadis kecil seperti Dasha ...?"
"Terserah kau mau bilang apa, dasar sok tahu, mulai detik ini aku tidak mau lagi diatur olehmu!"
"Benarkah ...?" lagi-lagi bertanya dengan nada santuy.
"Flo, aku bersungguh-sungguh."
"Yakin ...?"
"Tentu saja."
"Baiklah, kalau begitu persiapkan saja dirimu ..."
"Tidak Florensia ... tidak lagi." kepala Luiz ikut menggeleng berkali-kali. "Bukannya aku tidak bersedia membantumu, tapi kau saja tidak tahu apa yang kau inginkan dari semua ini ..."
Luiz tak tahu jika di seberang sana, Florensia telah tercenung mendapati kalimat sederhana milik Luiz, yang justru telah menohok seluruh sanubarinya dengan sangat tepat.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Bukankah El sudah memperlihatkan perhatiannya yang tulus ...? Lalu kenapa kau terus bermain-main tanpa henti ...?"
"Luiz kau tidak mengerti ..."
"Apanya yang tidak aku mengerti ...?" tanya Luiz gemas.
"El menyukai Victoria ..."
"Sudah aku katakan berkali-kali bahwa hal itu tidak mungkin."
"Kau tidak mengatakan alasannya ..."
"Astaga ... Florensia ... tidak bisakah kau percaya kepadaku sekali ini saja?" pungkas Luiz nyaris putus asa menghadapi sikap Florensia yang keras kepala.
Tentu saja Luiz punya alasan kuat yang membuat semua kecurigaan Florensia atas hubungan El dan Victoria adalah hal mustahil, tapi si alnya Luiz tidak bisa mengumbar privacy rumah tangga Leo dan Victoria begitu saja.
"Benar, bukan? Kau hanya bisa mengatakan seperti itu, tapi kau tidak bisa memberikan alasannya ..."
"Florensia, demi Tuhan, tolong percayalah kepadaku sekali ini saja. Sungguh aku tidak bisa mengatakan alasannya bukan karena aku sedang mengada-ngada, melainkan karena aku benar-benar tidak bisa membagi alasan tersebut denganmu."
Tidak ada sahutan dari seberang sana, seolah menandakan bagaimana keras kepalanya seorang Florensia.
Wanita itu bahkan menolak mempercayai Luiz, hanya karena Luiz tidak bisa memberikan jawaban untuk memuaskan rasa ingin tahunya.
"Baiklah, Luiz, sampai bertemu nanti malam. Byeee ..."
"Floooo, t-tunggu ..."
Tuuuuutttt ...
"Damned ...!"
Luiz mengumpat saat menyadari Florensia telah memutuskan pembicaraan mereka secara sepihak.
"Dasar wanita aneh!!" lagi-lagi Luiz menggerutu oleh karena sikap Florensia yang selalu seenaknya.
Namun, meskipun demikian Luiz tetap berusaha menekan kekesalannya yang membuncah di dada, kendati pun tekadnya sudah teramat sangat bulat.
Luiz tahu persis bahwa sudah saatnya ia bertindak tegas.
Luiz juga menyadari bahwa ia tidak bisa lagi berpura-pura hendak menerima rencana perjodohan antara dirinya dan Florensia, karena semua itu bisa menyakiti hati Dasha.
Dasha ...?
Akhh .... mengingat nama itu membuat raut wajah Luiz yang semula keruh sontak memudar, berganti dengan keceriaan, manakala Luiz telah berdiri dari duduknya dan beranjak dengan kunci mobil di tangan ... tak lupa bersiul kecil.
...
Bersambung ...