
"Handuk ...? Mana handuk ...?"
Tubuh Victoria yang sedang berada dalam keadaan nak ed usai melakukan ritual mandinya mendadak merasa panik.
Victoria baru menyadari, bahwa ternyata ia telah masuk ke kamar mandi tanpa membawa benda penting tersebut.
"Astaga ... kenapa aku bisa ceroboh begini sih?" gerutu Victoria sambil mengendap-endap kearah pintu kamar mandi.
Tak ada lagi yang bisa Victoria lakukan selain dengan meminta bantuan Ruth yang ada diluar sana.
Ceklek.
Victoria telah membuka pintu tersebut dengan sangat hati-hati, menyisakan sebuah celah kecil yang dirasa cukup untuk membuat suaranya terdengar oleh Ruth.
"Ruth, aku telah meninggalkan handukku yang tergantung di dekat lemari. Bisakah kau menolongku untuk mengambilnya?"
Tak ada jawaban, namun Victoria bisa mendengar jelas sebuah langkah kaki yang terayun.
'Ruth pasti sedang mengambilnya ...'
Begitu kira-kira pemikiran Victoria saat mendengar langkah kaki itu kini terdengar mendekat.
Dengan tubuh nak ed-nya yang kini nyaris menempel dibalik pintu, refleks Victoria mengulurkan tangannya keluar melewati celah kecil pintu yang sengaja dibuka sedikit.
"Kemarikan, Ruth ..."
Bukan handuk, melainkan Victoria malah merasakan sebuah tangan kokoh yang sedang mencengkeram pergelangan tangannya, seolah ingin menarik paksa tubuhnya yang sedang bersembunyi.
Victoria yang panik dalam sekejap saking kagetnya, sontak saja berteriak histeris.
"Aaaaa ... le-lepaskan ...! Siapa kau ...?!"
"Sssstt, ini aku."
"AP-PA ..."
Bugh.
Hanya dengan sekali gerakan yang sudah pasti bertenaga, daun pintu yang menjadi penghalang terakhir sekaligus satu-satunya dari tubuh Victoria kini telah terpentang lebar, menyuguhkan pemandangan ero tis tubuh molek yang tanpa sehelai benang.
Victoria nyaris berteriak kembali saking malunya, namun Leo buru-buru menarik tubuh Victoria, membenamkan seluruh aksi protes Victoria kedalam dadanya.
"Gila! Kau sudah gila ya?!" Victoria mengumpat tak tertahan sambil memukul dada Leo berkali-kali.
Sungguh, aksi usil Leo nyaris membuat jantungnya melompat keluar dari dalam bilik dadanya.
Leo tertawa kecil mendengar umpatan tersebut.
"Cepat lepaskan aku!" Victoria mencoba berontak, namun Leo malah bersikukuh mengunci pergerakan tubuhnya, tak peduli jika wanita itu telah memasang ekspresi wajah super kesal namun merona.
Bagaimana mungkin ia bisa menerima begitu saja dipeluk dalam keadaan tanpa sehelai benang oleh Leo?
Meskipun lebih dari lima tahun mereka menjadi sepasang suami istri, dan sudah tak terhitung lagi sudah seberapa banyak Leo melihat tubuh telan jang Victoria seperti saat ini diatas ranjang pria itu, namun tetap saja bagi Victoria, dirinya selalu merasa malu, dan belum memiliki sedikit pun keberanian untuk terlihat polos dihadapan Leo, apalagi jika sengaja memamerkan tubuhnya.
'Big no ...!'
Berbeda dengan pikiran kalut victoria yang hanya memikirkan rasa malu, Leo malah sebaliknya.
Pria itu malah begitu tak tahu malu saat terang-terangan menampakkan ekspresi wajah mesum, begitu merasakan dua buah bongkahan padat yang menempel ketat didadanya yang bidang.
"Kau sedang memikirkan apa?" sentak Victoria galak, saat menyaksikan wajah Leo yang senyum-senyum sendiri.
"Tidak ... aku ... aku hanya sedang berpikir kenapa kau bisa sekaget itu." jawab Leo, tentu saja berbohong, karena sejujurnya ia sedang berpikir bagaimana caranya ia bisa mengajak Victoria bercinta, dengan kondisi Victoria yang sudah pasti belum sembuh benar.
"Aku ... aku pikir ... ada pria jahat yang menerobos kekamar dan ingin berbuat jahat ..." jawab Victoria polos, karena memang seperti itulah yang ada dibenaknya sejak awal, yang benar-benar tidak menyangka jika ternyata yang mencengkeram pergelangan tangannya tiba-tiba adalah Leo, yang tak lain merupakan suaminya sendiri.
"Memangnya pria siapa lagi yang bisa masuk kekamarmu selain aku?"
Sekalipun nada kesal terdengar jelas pada suara Leo, namun Victoria yang terlihat tidak begitu tertarik berdebat, malah lebih sibuk berusaha menyelamatkan dirinya dari kungkungan pria itu.
"Bisa tidak kau melepaskan aku dulu?" tanya Victoria dengan nafas memburu, karena usaha kerasnya yang ingin bebas tak membuahkan hasil sedikitpun.
"Ada apa? Padahal aku suka posisi seperti ini ..." usai bicara demikian tangan Leo semakin turun kebawah, keatas bongkahan bo kong yang tak kalah padat. Meremasnya lembut.
Victoria melotot mendengar jawaban disertai tindakan super mesum, yang dilakukan Leo dengan ekspresi wajah cengengesan tanpa dosa.
"Leo, jangan bercanda. Aku bisa masuk angin kalau terus-menerus seperti ini ...!" kecam Victoria lagi dengan nada ketus.
Syukurlah, kali ini usaha negosiasi Victoria berhasil.
Begitu mendengar alasan Victoria yang bisa masuk angin jika terus-menerus berada dalam keadaan 'polos', telah membuat rengkuhan Leo terurai dengan sendirinya.
'Cih, ternyata pria menyebalkan itu masih punya hati nurani juga!'
Dumel Victoria dalam hati, sambil mempergunakan kesempatan emas tersebut untuk meloloskan diri secepat kilat.
Victoria bergegas menuju lemari pakaian, sambil terlebih dulu menyambar handuk yang berada disandaran kursi, melingkarkan ketubuhnya juga dengan gerakan yang tergesa-gesa.
Diam-diam Leo tersenyum mendapati tingkah istrinya yang terlihat menggemaskan itu. Langkah lebarnya terayun dan kini Leo mendudukkan dirinya ditepian ranjang, tak henti mengawasi Victoria yang sedang berpakaian.
"Oh ya, aku hampir lupa kalau mommy ingin meminta bantuanmu memesankan sebuah buket bunga yang cantik."
Victoria telah menatap Leo penuh, berdiri tegak dengan tubuh terbalut terusan panjang sedikit dibawah lutut, berwarna hijau lumut.
'Wanita ini ...'
Leo tidak bisa menyembunyikannya, bagaimana ia telah terpukau begitu rupa oleh pesona Victoria.
"Baiklah, aku akan memesannya di florist."
Leo masih tak bergeming, masih menatap kearah Victoria yang kini telah kembali berbalik badan, duduk didepan meja rias sambil melepaskan soket charger yang terhubung dengan ponselnya.
Kemudian wanita itu terlihat mengaktifkan ponsel miliknya yang sejak kemarin sore sengaja di non aktif-kan oleh Leo
Untuk beberapa saat hening terus bertahta di kamar itu, manakala Victoria terlihat sibuk mengetikkan pesanan buket bunga sang mertua, yang ia pesan langsung dengan jalan menghubungi seorang rekan yang merupakan dekorator bunga seperti dirinya di Mega Florist.
Tak lama kemudian, wanita itu telah menaruh ponselnya diatas meja dan mulai menyisir rambutnya dengan gerak perlahan.
Semua gerak gemulai Victoria pada akhirnya lagi-lagi menyisakan sorot kekaguman dari sepasang mata Leo, yang terus menatap pantulan indah seorang Victoria, dari permukan cermin yang memantulkan kejujuran.
Bahwa istrinya Victoria ...
Selalu menjadi wanita paling cantik, dipelupuk mata Leo ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
Hari mulai beranjak sore saat El keluar dari dalam mobilnya, menuju kearah pintu masuk.
Seperti biasa, tempat pelarian El dari masalah adalah Luna. El selalu suka mengunjungi Luna, terlebih ia juga penasaran dengan keberadaan Victoria yang begitu susah ia hubungi sejak kemarin.
"Aku akan menelepon montir, dan kau hubungi Victoria. Katakan bahwa buket bunganya akan sedikit terlambat ..."
Pembicaraan yang tak sengaja singgah di telinga El telah membuat kepala El menoleh ke sumber suara, yang ternyata berasal dari seorang kurir pengantar bunga dengan seorang karyawan wanita.
'Victoria ...? Aku tidak salah dengarkan ...? Pria itu baru saja menyebut nama Victoria kan?'
Refleks El mendekati keduanya.
"Ada apa ini?" tanya El, namun suara lembutnya telah mengagetkan dua orang tersebut.
"Tuan El ...?" keduanya menjawab dengan kompak.
"Hhhm, kalian kenapa? Apakah ada kendala yang terjadi?"
"Iya, Tuan, ban mobilnya kempes ..." jawab si kurir pria, sambil menunjuk kearah ban belakang sebelah kanan yang terlihat meleyot karena kekurangan angin.
"Aku akan menelepon montir ..."
"Sebentar." pungkas El, menghalangi pergerakan karyawan wanita yang hendak berlalu kedalam guna menelepon montir seperti perkataannya barusan.
"Ada apa, Tuan?"
"Siapa pemilik orderan buket bunganya?" tanya El lagi.
"Orderan ini milik Victoria, Tuan."
"Victoria ...?"
"Iya Tuan, Victoria."
"Victoria yang menjadi dekorator bunga Mega Florist?" tanya El lagi semakin meyakinkan.
"Iya, Tuan,"
"Kalau begitu biar aku saja yang akan mengantarkannya." putus Leo begitu saja, membuat keduanya terbelalak.
"T-tapi, Tuan ..."
"Kita tidak boleh mengecewakan pelanggan meskipun orderan itu berasal dari karyawan sendiri." pungkas Leo lagi, membuat keduanya terdiam.
"Iya, Tuan, kau benar. Kalau menunggu montir datang, pengirimannya pasti akan terlambat." ujar sang kurir mengiyakan.
"Kalau begitu, kau ... pergi telepon montir secepatnya, dan kau ... pindahkan buket itu kedalam mobilku sekarang." titah El sambil mengarahkan tatapannya kearah karyawan wanita terlebih dahulu, kemudian mengalihkannya kearah sang kurir.
"Baik, Tuan." keduanya kembali menjawab dengan kompak.
Karyawan wanita itu telah beranjak kedalam untuk menelepon montir, sedangkan pria kurir telah memindahkan buket bunganya dengan hati-hati, ke mobil El yang terparkir bersisian.
"Tuan, aku baru ingat bahwa alamatnya cukup jauh, karena sudah masuk wilayah luar kota. Jika melewati tol, akan tiba dalam waktu kurang lebih dua jam."
"Tidak masalah." pungkas El begitu yakin, asalkan dia bisa memastikan sendiri bahwa keadaan Victoria baik-baik saja, maka El telah memutuskan untuk tetap mengantarkan buket bunga itu langsung.
"Alamat pengirimannya adalah ranch milik keluarga Arshlan."
Leo terkejut saat mendengar informasi alamat pengiriman yang dibaca sang kurir.
"Kau yakin itu alamatnya?"
"Iya, Tuan, informasi alamatnya tertulis jelas disini, dan nona Victoria sendiri yang membuat pesanannya langsung atas dirinya, juga sebagai penerima pesanan nanti ..."
Leo tercenung sejenak, dengan benak yang diliputi sejuta pertanyaan.
'Ranch milik keluarga Arshlan?'
'Untuk apa Victoria berada disana?'
...
Bersambung ...