
Jangan Lupa di LIKE dulu bab sebelumnya yah ... π€
...
"El ...?"
Wajah Victoria terlihat berbinar saat benar-benar bisa memastikan, siapa gerangan sosok pria yang sedang menikmati desert disudut ruangan.
"Wah, Vic?" pria yang disapa oleh Victoria itu nampak menoleh, kemudian membalas tatapan Victoria dengan semringah.
"Aku pikir kau tidak datang ..."
"Mana mungkin tidak datang? Aku tidak mungkin melewatkan moment bahagia Luiz dan Dasha ..." pungkas El dengan senyumnya yang khas.
Moment bahagia Luiz dan Dasha ...?
Yup, tentu saja.
Dekorasi serba putih nan elegan di aula sebuah hotel mewah bintang lima ini telah menggambarkan semuanya dengan begitu jelas.
Pada hari ini,Wedding party dari serangkaian prosesi pernikahan Luiz dan Dasha terkesan begitu mewah namun sangat private.
Deretan orang ternama, selebriti pilihan, serta para petinggi negeri nampak telah menjadi bagian dari tamu-tamu penting yang hadir disana, sementara kedua mempelai tak henti melempar senyum dari atas pelaminan, seolah sedang menunjukkan kebahagiaan yang tak terkira.
"Kau ... datang sendirian ...?" Victoria tidak bisa menahan rasa penasarannya, begitu tidak mendapati kehadiran Florensia bersama El.
"Hhmm."
"Kenapa Florensia tidak datang, El? Padahal sebelumnya dia telah berjanji kepadaku dan Dasha untuk berusaha hadir ..."
Victoria bukannya tidak tahu bahwa pada beberapa hari yang lalu Florensia memang telah kembali ke negaranya, dikarenakan rencana El dan Florensia yang juga akan menikah dalam waktu dekat.
Tapi meskipun demikian baik Dasha maupun Victoria masih berharap jika wanita itu bisa menyempatkan diri untuk hadir pada resepsi malam ini, meskipun terasa sangat mustahil.
"Vic, kau pasti mengetahuinya bahwa sebenarnya Florensia ingin sekali hadir di resepsi ini, tapi karena semua persiapan pernikahan kami juga sangat mendadak dan terburu-buru, pada akhirnya dia hanya bisa menitipkan bingkisan dan ucapan selamat untuk Luiz dan Dasha ..."
Victoria pun mengangguk paham.
Mempersiapkan pernikahan yang mendadak memanglah bukan hal yang sepele, dan semua itu bahkan terjadi juga pada persiapan pernikahan megah Luiz dan Dasha.
Beruntung semuanya bisa terlaksana dengan baik, serta berjalan dengan lancar.
"Oh, ya, dimana Leo?" tanya El, mengalihkan pembicaraan.
"Itu ... disana ..." telunjuk Victoria mengarah pada sosok tampan yang sedang bicara dengan seseorang.
Merasa dirinya sedang diperhatikan Leo terlihat menoleh kearah El dan Victoria yang tengah mengawasinya dari kejauhan.
Pria itu pun terlihat buru-buru menyudahi pembicaraan dan berpamitan dengan lawan bicaranya, memilih mendekati El dan Victoria secepatnya.
"El, kapan kau tiba?" sapa Leo, begitu dirinya berada diantara keduanya.
"Belum lama." jawab El, menyambut uluran tangan Leo dengan akrab, setelah terlebih dahulu menaruh piring kecil bekas dessert yang sejak tadi berada di tangannya.
"Aku mencarimu sejak tadi."
"Benarkah?" El terkekeh kecil mendengarnya. "Oh, yah, apakah kau sudah membicarakan dengan Luiz mengenai kerja sama yang aku tawarkan?" tanya El tanpa membuang kesempatan.
Dalam beberapa minggu terakhir, hubungan El dan Leo memang sangat intens, dikarenakan sebuah kerjasama bisnis yang telah ditawarkan El telah membuat Leo sangat tertarik.
Namun meskipun demikian tentu saja Leo membutuhkan persetujuan Luiz sebelum memutuskan segala sesuatu, karena bagaimana pun Luiz merupakan pemegang tampuk tertinggi pada perusahaan.
"Aku telah bicara dengan Luiz meskipun kami belum membahasnya dengan lebih detail. Tapi yang kulihat Luiz memiliki respon yang baik ..."
"Syukurlah, sejak awal aku juga sudah yakin kalau Luiz pasti tertarik ..."
"Hhmm. Kau benar, El. Luiz pasti setuju, hanya saja dia belum sempat membahasnya karena belakangan ini dia terlalu sibuk dengan persiapan resepsi pernikahan. Mungkin setelah ini, kita bertiga bisa membicarakannya dengan lebih serius."
"It's okay, aku mengerti. Tapi kau jangan lupa secepatnya mengabariku tentang perkembangannya."
"Of course."
Leo mengacungkan jempolnya kearah El dengan bersemangat.
"Oh ya, by the way, kau jadi kan menikahi Florensia ...?" ucap Leo lagi dengan nada yang ringan.
"Leo, pertanyaan macam apa itu?" protes Victoria yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan kedua pria itu, namun pada akhirnya memilih menyanggah kalimat pertanyaan Leo.
"Tapi pertanyaanmu terdengar aneh. Kenapa kau bertanya demikian? Tentu saja mereka akan menikah."
"Apanya yang aneh? Vic, Kau saja yang tidak tahu pria macam apa yang sedang berdiri di sampingmu saat ini?" ejek Leo kearah Victoria, dengan nada berkelakar, tak peduli dengan El yang hanya bisa pasrah menerima argumen Leo yang mulai kumat keusilannya.
"Leo, kau ..."
"Dia adalah tipe pria yang gemar mematahkan hati wanita ..."
El menggaruk belakang telinganya saat kembali mendengar tudingan Leo yang terang-terangan mengejek, namun telah ditanggapi Victoria dengan mempelototi suaminya itu dengan galak.
"Kau sendiri ... memangnya kau pikir kau pria macam apa?" sembur Victoria.
"Aku? Tentu saja saat ini aku adalah pria setia dan penyayang ..."
Mendengar pernyataan lebay itu Victoria sontak mencibir, sementara El bahkan terbatuk saking kerasnya ia tertawa, tawa mengejek yang bertujuan membalas Leo.
Tapi bukan Leo namanya kalau dia tidak bisa menghadapi ejekan El dan Victoria tersebut dengan luwes, karena dengan penuh percaya diri Leo tanpa ragu membungkuk, guna mencium perut Victoria yang sedang mengandung bayi kembar miliknya dengan penuh kebanggaan.
"Kalian berdua mau mengejekku silahkan saja, tapi didalam hati kalian, aku yakin kalian mau tak mau akan mengakuinya, bahwa aku telah menjadi pria yang beruntung ... dikarenakan aku adalah pria yang setia dan penyayang ..."
"Iya, iya, baiklah, saat ini kau memang pria seperti itu ..." pungkas El tak mau berdebat panjang, karena sudah pasti Leo akan selalu siap meladeninya jika dirinya tidak mengalah sekarang juga.
Leo pun berdiri tegak sambil menepuk dadanya dihadapan El dan istrinya Victoria, yang hanya bisa menggelengkan kepala berkali-kali, menyadari kenarsisan seorang Leo yang tak pernah berkurang takarannya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Malam telah sangat larut, menyisakan rasa lelah yang tak terkira.
Resepsi yang hebat telah usai, para tamu dan segenap undangan pun telah pulang.
Disebuah kamar presidential suite yang view-nya mengarah penuh pada pemandangan kota metropolitan dihiasi lampu-lampu yang menawan, Dasha terus berdiri dibalik kaca sambil memeluk dada yang hanya berbalut bathrobe.
Sejak tadi, ia belum juga bosan menyaksikan semua keindahan dibawah sana, dengan rasa takjub yang tak kunjung usai.
Hup!
Dasha nyaris memekik, namun urung saat menyadari siapa gerangan yang telah memeluk serta-merta dari balik punggungnya.
Aroma menyegarkan dari sabun mandi yang bercampur dengan aroma cologne, sangat mencerminkan jati diri seseorang yang tak asing lagi ... terlebih saat tubuh Dasha ikut merasakan hangatnya sebuah pelukan.
"Sayang, kenapa kau sangat suka mengagetkan aku ...?" bisik lirih Dasha, namun tak urung ia menyandarkan juga tubuhnya yang lelah ke dada bidang dibelakangnya.
"Karena aku mencintaimu." ucap Luiz sambil mengecup pipi kanan Dasha.
Tawa Dasha sontak pecah begitu mendengar jawaban ringan yang terdengar sangat tidak memiliki korelasi dengan pertanyaannya itu.
"Malam ini sangat indah ya."
Dasha mengangguk mengiyakan.
Malam ini memang sangatlah indah, dan Dasha merasakan bahwa kebahagiaannya lengkap sudah.
Buah dari penantiannya telah dijawab Luiz dengan keseriusan pria itu saat mengucapkan janji setia seumur hidup hanya untuk Dasha seorang.
"Ini adalah malam pertama kita, kenapa kau malah kelihatan lesu?" goda Luiz sambil membenamkan wajahnya keceruk leher Dasha yang juga menguar wangi aroma sabun.
"Memangnya setelah seharian ini, kau tidak lelah?" pungkas Dasha saat menyadari has rat menggebu dari pria yang ada dibelakangnya.
"Tidak ..."
"Tidak?!"
Sedikit terpekik, namun Luiz malah terkekeh.
"Baiklah, sedikit ..." pungkas Luiz lagi sambil membalikkan tubuh Dasha agar menghadap penuh kearahnya. "Tapi jangan memintaku untuk melewatkan malam pertama hanya dengan tidur begitu saja. Aku tidak mau."
Dasha melotot mendapati tatapan hangat penuh makna milik Luiz.
Detik berikutnya Dasha benar-benar tidak bisa menolaknya saat pria itu menarik lembut pergelangan tangannya, menggiringnya mendekati ranjang yang dipenuhi kelopak bunga mawar dengan segala keharumannya yang khas ...
...
NEXT ...
Sebelum NEXT, Jangan Lupa di LIKE and SUPPORT dulu yah ... π€