
"Ini untuk Leo ..."
"Terimakasih grandma ..." wajah Leo nampak semringah mendapati sebuah kotak bergambar mobil remote control yang diberikan Marina, yang sudah pasti menandakan isi hadiahnya yang juga serupa.
Ketika Marina mengecup pipi mungil Leo, Leo bahkan tidak segan-segan membalasnya dengan mengecup balik pipi Marina dengan wajah berbinar kegirangan.
Tatapan Marina kemudian berpindah. "Dan ini untuk Luiz ..."
Sebuah kotak yang sama persis dengan kepunyaan Leo diserahkan Marina dengan senyum manis kehadapan bocah berkulit pucat itu.
"Terimaksih grandma ..." wajah Luiz terlihat datar ketika berucap seadanya dan menerima hadiah Marina.
Usai Marina mengecup lembut pipi Luiz, bocah mungil itu langsung berbalik arah menatap Arshlan dan Lana, tanpa merasa ingin balik mencium Marina seperti apa yang telah dilakukan oleh Leo.
"Mommy, daddy, bolehkah aku bermain lagi ...?"
"Aku juga!" Leo telah menimpali ucapan Luiz.
"Pergilah bermain, sayang ..." Arshlan yang menjawabnya, sementara Lana hanya mengangguk kearah si kembar.
Pada waktu sebelumnya jika mendapati sikap Luiz yang selalu tak peduli dengan Marina, biasanya Lana akan langsung menegur Luiz. Namun menyadari saat ini Arshlan sedang berada tepat disampingnya, Lana memilih mengurungkan niatnya, dan membiarkan Luiz berlalu begitu saja sambil memeluk kotak hadiah miliknya, yang kemudian diikuti Leo yang berjalan sambil sibuk memperhatikan kotak hadiahnya sendiri dengan ekspresi tak sabar ingin membuka.
Keduanya berjalan masuk beriringan kedalam rumah diiringi kedua suster masing-masing.
Sudah bukan rahasia lagi jika Arshlan selalu membiarkan Luiz dan Leo bertindak sesuka hati, sesuai dengan apa yang kedua bocah itu inginkan.
Jangankan bersikap yang kurang tepat, sekalipun si kembar melakukan kenakalan yang terang-terangan, Arshlan tidak pernah sekalipun menyalahkan Luiz dan Leo.
Arshlan selalu merasa bahwa Luiz dan Leo adalah anak yang baik. Tentu saja. Lana pun memiliki penilaian yang serupa. Si kembar saling menyayangi satu sama lain, sangat mendengarkan dan menurut perkataan Lana dan Arshlan, bersikap baik kepada Maid dan semua pengawal, namun pada moment tertentu mereka akan menunjukkan sikap idealis dalam menilai sesuatu, dan disitulah Arshlan selalu berdiri sebagai pembela tanpa syarat.
Untuk itulah saat ini Lana tidak bersikeras menegur sikap Luiz seperti biasa agar bersikap baik, apalagi demi Marina, karena jika Lana nekad melakukannya maka pria disampingnya ini sudah pasti akan meradang.
"Tuan Arshlan, kebetulan sekali, aku juga punya sesuatu untukmu ..." Marina yang baru saja berdiri dari posisi jongkok saat menyerahkan oleh-oleh untuk Luiz dan Leo terlihat bergerak mendekati paper bag yang berada diatas meja.
Jelas sekali bahwa wanita itu sama sekali tidak mengambil hati menerima sikap Luiz.
"Benarkah, bu? apa itu ...?" justru Lana yang terlihat kepo dan memilih mendekati Marina kesisi meja bersama Marina, sementara Arshlan masih berdiri tegak tanpa ekspresi berarti.
"Sebentar Lana ..."
Marina nampak mengubek isi paper bag tersebut sebelum kemudian menarik sesuatu dari dalam sana.
"Apa itu, bu?" tanya Lana semakin keliatan tidak sabar.
"Tuan Arshlan ... aku membelikan ini khusus untuk anda..."
Mengabaikan Lana dan memilih mendekati Arshlan yang masih berdiri dengan wajah kaku.
Mau tak mau Arshlan akhirnya ikut menatap oleh-oleh Marina yang terbungkus apik dengan kemasan berwarna hitam serta terdapat logo berwarna keemasan ditengahnya.
Arshlan memutuskan untuk menerimanya karena sejak beberapa saat yang lalu Marina telah mengacungkan tangannya tepat dihadapan Arshlan tanpa disambut.
"Terima kasih." ujar Arshlan basa-basi, langsung menyerahkan pemberian Marina tersebut kearah Lana yang ikut mendekat karena penasaran.
"Ini ... kopi??" ucap Lana sambil mengendus kemasan apik berwarna hitam pekat tersebut, sebelum akhirnya memperhatikannya dengan lebih teliti. Alis Lana nampak bertaut saat mendapati gambar gajah yang berada ditengah logo keemasan.
"Itu adalah black ivory coffee." ujar Arshlan yang mengetahui jika Lana sedang memendam rasa ingin tahu.
"Black ivory coffee ...?"
"Hhmm ..."
"Karena ibu tau bahwa Tuan Arshlan adalah pencinta kopi, ibu sengaja membelinya..." kali ini Marina yang berucap, terlihat sedikit bangga dengan pemberiannya yang seolah sangat tepat sasaran, karena sudah pasti Arshlan akan menyukainya meskipun sikapnya terlihat biasa saja.
"Ibu, ini pasti bukanlah kopi biasa ..."
"Tentu saja, Lana, kau harus tau bahwa saat ini, status kopi termahal di dunia jatuh pada black ivory coffee. Kopi ini berasal dari Thailand Utara dengan harga satu pound biji kopi bisa mencapai 7,4 juta jika dirupiahkan."
"Whaatt ...?!"
Lana melongo mendapati informasi tersebut.
"Harga semahal itu ... hanya untuk satu pound biji kopi ...? apa istimewanya ...?" Lana kembali menatap takjub kemasan kopi yang berwarna hitam itu, membolak-balik, dan kemudian lagi-lagi mengendus aromanya.
"Begitulah ... kita bahkan tidak akan menyangka jika sebuah 'kotoran' bisa menjadi sesuatu yang bernilai ..." celetuk Arshlan masih dengan nada suaranya yang datar.
Mendengar kalimat itu baik Lana maupun Marina sama-sama menatap Arshlan dengan pandangan aneh, namun seiring waktu berlalu tatapan keduanya mengendur saat Arshlan kembali berucap perlahan ...
"Nyonya Marina, seharusnya anda tidak perlu repot-repot. Aku juga tidak terlalu menyukai varian kopi tersebut. Tapi meskipun demikian, terima kasih karena telah menghadiahkannya ..." pungkas Arshlan lagi mencoba berucap sewajarnya, usai mengucapkan kalimat yang terkesan kontroversial.
Marina tersenyum sambil mengangguk kecil, memang bukanlah kalimat yang cukup ramah, namun menyadari seorang Tuan Arshlan akhirnya mau menerima pemberiannya, bahkan mengucapkan terima kasih, membuat Marina merasa ia mulai melangkah maju setahap demi setahap demi menemui tujuan utamanya.
"Ibu, lalu bagaimana denganku? ibu tidak lupa membelikan aku hadiah juga, kan?" bisik Lana, mengurai keheningan dimana Marina terlihat masih saja menatap Arshlan dengan penuh senyuman meskipun tanpa kata.
"Ah ... egh ... kau? bagaimana mungkin ibu melupakanmu ... kemarilah, ibu bahkan punya beberapa hadiah sekaligus, khusus untukmu!" ujar Marina sedikit tergeragap.
Sepasang mata Lana berbinar mendengarnya. "Benarkah ...?"
"Kalian bersenang-senanglah ... aku akan kembali kekamar."
"Baiklah sayang, nanti aku akan menyusulmu."
Arshlan hanya mengangguk kecil kearah Lana, kemudian tanpa menatap Marina lagi ia telah memilih berbalik dan melangkah kearah lift, menjauh dari kedua wanita, yang kembali sibuk mengubek-ubek isi paper bag yang dibawa Marina di sore itu.
...
NEXT...
Hola, Reader, jangan mau kalah sama Marina yang bela-belain kasih hadiah KOPI sama Tuan Jamur ... 😀
Author juga mau kali, dikasih KOPI ... 🤤
Ahahaha ... ngarep lu, maemunaahh ... 😅