
Double up.
...
Dasha terlihat murung sepanjang malam. Ia tak banyak berceloteh seperti biasa, namun untungnya tidak ada yang terlalu memperhatikannya.
Lana sempat memperhatikan sedikit perubahan gadis mungil itu yang terlihat tak se-ceria seperti biasanya, tapi sama seperti yang lain, Lana juga beranggapan mungkin saja Dasha sedang kelelahan, karena baru saja melewati ujian akhir nasional.
Selain itu, sekuat tenaga Dasha juga berusaha untuk tidak menampakkan keterpurukan hatinya, atas semua kenyataan yang tersaji didepan matanya sepanjang malam.
Usai pengumuman resmi Tuan Arshlan tentang kehadiran cucu pertama di keluarga Arshlan, yang disambung dengan keputusan mencengangkan Tuan Leo yang memutuskan akan segera mengakhiri karir keartisannya, pesta babeque itu terus berjalan dengan lancar.
Dasha bisa melihatnya sendiri, jika keakraban yang terlihat jelas dalam pembicaraan antara Tuan Arshlan, Nyonya Lana, dan Tuan Jody Frederick yang sangat mendominasi, menandakan betapa dekatnya hubungan baik kedua keluarga yang telah terjalin cukup lama.
Namun lebih dari semua hal menyakitkan yang terjadi tepat didepan pelupuk matanya, adalah manakala dengan mata kepalanya sendiri Dasha juga harus rela menyaksikan interaksi Luiz dan Florensia sejak awal, yang terus lengket satu sama lain seolah tak terpisah.
Memang belum terlihat ada kemesraan disana, tapi hanya dengan melihat mereka berdua berbicara satu sama lain dengan sangat intens, telah membuat luka di hati Dasha menganga sejengkal demi sejengkal.
Dasha tidak pernah tahu, bahwa pembicaraan serius antara Luiz dan Florensia, adalah seputar pembahasan tentang sebuah perusahaan yang baru saja dipindah alihkan oleh ayah Florensia, yang di kemudian hari akan dijalankan oleh Florensia.
Sementara itu Florensia yang minim pengalaman dalam dunia bisnis, membutuhkan banyak saran dari Luiz yang tentu saja jauh lebih berpengalaman dalam menjalankan perusahaan.
"Apakah kau memang menyukai daging yang hangus?"
Dasha terlonjak kaget mendengar suara berat yang seolah muncul begitu saja dari balik bahu kanannya, dan semakin terkejut manakala menyadari beberapa potongan daging yang sedang ia panggang saat ini, warnanya mulai berubah menjadi coklat tua.
"Oh ... astaga ..." secepat kilat Dasha mengambil penjepit guna mengangkat potongan daging tersebut dari permukaan grill pan (wajan pemanggang), kemudian memindahkannya dengan gesit keatas permukaan baki kayu berbentuk persegi panjang.
Dengan gayanya yang cool, pria tampan berkulit putih itu terlihat mengambil sebuah piring yang tersusun diatas meja, dan mencomot salah satu potongan daging, yang barusan di panggang oleh Dasha, langsung memindahkannya keatas piring yang berada ditangannya.
"Hei ... kenapa Tuan mengambilnya ...?!" protes Dasha dengan raut wajahnya yang tak rela.
"Kau punya banyak, dan aku hanya mengambil sebuah potongan kecil. Masa iya kau se-pelit itu ...?" ujar El, dengan cueknya ia menusuk potongan daging yang masih terlihat mengepul itu dengan garpu, kemudian langsung memasukkannya kedalam mulut, membuat mulutnya sontak megap-megap kepanasan.
"Syukurin ...!!" imbuh Dasha tanpa perasaan iba sedikit pun, begitu menyaksikan ekspresi wajah El yang terlihat agak tersiksa, akibat mengalami rasa panas di lidah dan seluruh rongga mulutnya, karena pria itu tetap nekad mengunyah potongan daging yang masih terasa panas tersebut.
Yah, pria itu ...
Tuan El.
Dasha bahkan belum begitu mengenalnya. Hanya sebatas mengetahui bahwa El adalah anak seorang kolega bisnis sekaligus sahabat dekat Tuan Arshlan dan Nyonya Lana.
Dasha juga belum sempat bertegur sapa secara khusus dengan El, namun melihat tindak-tanduk El, sepertinya El juga merupakan sosok yang sedikit tidak tahu malu ... mirip dirinya!
Begitu kira-kira bentuk penilaian awal Dasha, akan kesimpulan sesaatnya tentang sosok El yang terkesan humble, namun ... sedikit seenaknya.
Tapi, terlepas dari semua perkara penilaiannya tentang sosok El, Dasha masih sangat kesal saat mengingat betapa El dengan cueknya telah berhasil mencomot potongan daging, yang dengan susah payah ia panggang sendiri, tanpa meminta ijin terlebih dahulu.
Mendengar pertanyaan itu, Dasha hanya melirik sekilas dengan wajah kesal.
"Hhhmm ..." hanya menjawab cuek dengan sebuah deheman, detik berikutnya Dasha lebih memilih beranjak mendekati kursi kosong yang tak seberapa jauh, memilih duduk disana tanpa mempedulikan kehadiran El.
Namun si alnya, bukannya menyerah karena telah diacuhkan, El malah menguntit pergerakan langkah Dasha, bahkan dengan acuh pria itu juga ikut menghempaskan tubuhnya tepat di sisi Dasha.
Sementara itu ... tepat beberapa meter didepan mereka, terlihat Luiz dan Florensia yang sedang tertawa kecil, entah apa yang sedang mereka bicarakan, sehingga mereka bisa tertawa bersama seperti itu.
Dalam diam, El dan Dasha sama sekali tidak menyadari, jika mereka berdua sedang dihadapkan oleh tontonan yang sama-sama menyakitkan mata terlebih hati keduanya.
Sungguh, semua itu merupakan tontonan yang menyesakkan dada, tontonan yang seolah sengaja mengundang api kecemburuan ...!
Namun meskipun demikian, keduanya justru memilih untuk meng-handle semua perasaan yang tak menyenangkan itu dengan berusaha bersikap tenang, menghela nafas sepenuh rongga, dan ...
"Tuan mau lagi ...?"
"Boleh aku minta lagi ...?"
Berucap bersamaan, dengan kepala yang menoleh satu sama lain.
Entah malaikat apa yang sedang bersuka cita diantara El dan Dasha saat ini, karena setelah berucap bersamaan dan kemudian sama-sama terpukau karena ketidak-sengajaan tersebut .... dengan tiba-tiba, El refleks membuka mulutnya disertai jari telunjuk yang mengarah lurus keatas baki persegi panjang yang ada diatas pangkuan Dasha. Menunjuk salah satu potongan kecil daging panggang berwarna coklat tua yang ia inginkan.
Dasha sedikit terhenyak mendapati reaksi El, namun seolah mendapat kekuatan yang entah darimana datangnya juga, pada akhirnya Dasha pun menusukkan garpu ke potongan daging panggang yang ditunjuk El, dan mengarahkan garpunya kemulut pria itu. Memberikan sebuah suapan langsung.
El dan Dasha sama-sama tidak menyadari bahwa diujung sana, dua pasang mata milik Luiz dan Florensia sama-sama terbelalak mendapati pemandangan yang so sweet tersebut.
"Si alan, El, apa yang dia lakukan ...?!" tinju Luiz telah terkepal, untunglah disaat yang tepat Florensia dengan sigap menahan lengan pria yang sedang dipenuhi gelegar amarah.
"Hentikan, Luiz, apa kau sudah gila?!" bisik Florensia panik.
Langkah Luiz terhenti begitu saja seolah tersadar, sementara Florensia menghembuskan nafasnya yang lega bercampur kesal, terlebih saat mengingat moment manis dari kejadian suap-suapan antara El dan Dasha barusan.
'Dasar pria genit, setelah gagal menggoda istri orang lain ... kali ini dia mulai tebar pesona lagi dengan gadis remaja ...!'
Florensia mengumpat dalam hati, sambil berusaha mengatur laju nafasnya agar tidak memburu, karena perasaan cemburu yang telak memukul.
Sementara tinju milik Luiz yang berada disampingnya belum juga mengendur, masih terkepal erat dikedua sisi tubuh atletis Luiz, yang bergetar lirih ... juga dikarenakan rasa cemburu ...!
... NEXT
Jangan lupa tinggalkan support dulu sebelum NEXT yah ... 🙏
LIKE dulu pliss biar POP novel ini makin melejit ... 🙏