TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
WANITA YANG MEMILIKI SEGALANYA


Masih terlalu pagi, tapi Lana telah terbangun dengan rasa sakit yang melilit diperutnya.


Saat pertama kali membuka matanya dengan sempurna Lana merasa sedikit ling-lung.


'Aku sedang berada dimana ini..?'


Dan Lana nyaris menjerit saat mendapati sebuah lengan berbulu nampak melingkari pinggul dan perutnya. Untung saja ia cepat tersadar dan membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangannya, namun demikian Lana tetap saja merasa kaget saat menyadari pantas saja ia telah tertidur dengan sangat lelap, karena ternyata semalaman ia tidur diatas ranjang empuk dan mahal milik Tuan Arshlan.


Bukan hanya itu saja, Lana bahkan telah tidur dalam dekapan pria itu semalaman penuh..!


'Oh em ji.. mimpi apa aku semalaman sehingga disuguhi pemandangan yang semanis ini dipagi hari..?'


Lana meraba dada bidang Tuan Arshlan yang masih terlelap, menyentuh rahang yang tegas.. dan baru saja ingin menggerayangi lebih banyak lagi manakala perutnya yang terasa melilit perih telah membuat Lana menarik tangan nakalnya yang diam-diam mengambil keuntungan menjelajahi tubuh sempurna Tuan Arshlan yang sangat mengagumkan.


Menyadari rasa sakit yang semakin lama semakin mendera, membuat Lana menggigit bibirnya kuat-kuat.


Dengan terpaksa Lana beringsut bangkit dan turun dari ranjang Tuan Arshlan dengan gaya mengendap-endap, takut jika sedikit saja kegaduhannya akan membangunkan pria pemarah itu.


Dengan langkah perlahan akhirnya Lana bisa juga keluar dari kamar tersebut, berjalan sambil menekan perutnya yang kini telah terasa keram sempurna.


"Nyonya, anda mau kemana..?"


Lana yang sekarang telah melangkah dengan susah payah menoleh kearah suara yang menyapanya.


Asisten Jo nampak berdiri tak jauh dari sana, sambil mengawasi gerak-gerik Lana yang terlihat aneh.


'Pria ini.. sepagi ini sudah terlihat sangat rapi. Apa dia tidak pernah tidur dan beristirahat?'


Lana membathin begitu melihat Asisten Jo yang sudah terlihat necis dengan setelan jasnya disaat hari masih sangat pagi, bahkan mentari pun belum menampakkan diri.


Penampilan pria itu memang selalu serapi ini, makanya Lana penasaran juga apakah Asisten Jo tidur atau tidak dimalam hari, karena pria itu sudah seperti zombie, selalu terlihat siaga sepanjang hari.


"Aku.. aku akan kembali kekamarku.."


"Kenapa Nyonya ingin kembali kekamar sebelumnya? apakah Tuan Arshlan yang.."


Lana menggeleng cepat, menghalau opini Asisten Jo tentang niatnya yang ingin kembali kekamar sebelumnya. "Tidak Asisten Jo. Saat ini Tuan Arshlan bahkan masih tertidur lelap. Dia saja tidak tau kalau aku telah keluar dari kamarnya ."


"Kalau memang demikian, Nyonya tidak boleh pergi begitu saja tanpa ijin Tuan Arshlan terlebih dahulu Nyonya.."


"Maaf Asisten Jo, tapi perutku sedang sakit. Aku hanya tidak mau suara era nganku yang menahan sakit, nantinya akan mengganggu tidur Tuan Arshlan.." ujar Lana dengan mimik jujur.


"Jadi Nyonya sedang sakit? kalau begitu aku harus memanggil dokter."


"Perutku memang sakit, Asisten Jo. Tapi jangan khawatir, hal ini memang sering terjadi setiap aku kedatangan tamu bulanan." ujar Lana mencoba tersenyum dihadapan wajah Asisten Jo yang rata dan minim ekspresi, sama seperti majikannya.


"Apa Nyonya memerlukan sesuatu?" tanya Asisten Jo lagi.


"Tidak. Tidak perlu, Asisten Jo, aku hanya perlu tiduran saja, dan sakitnya akan pulih dengan sendirinya.." tolak Lana tetap bersikeras menolak bantuan apapun, sehingga Asisten Jo pun tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mengawasi tubuh Lana yang menaiki tangga manual satu persatu dengan langkah tertatih.


XXXXX


Begitu Arshlan bangun dia pun terheran karena tidak lagi menemukan jejak Lana diatas tempat tidurnya.


Namun Arshlan memilih menahan rasa penasarannya dengan beringsut kekamar mandi, karena mengingat ia harus menghadiri sebuah undangan penting dari seorang menteri, yang telah mengundang beberapa pengusaha yang menjadi pesohor negeri disebuah pertemuan siang ini.


'Lagipula apa yang bisa dilakukan bocah itu selagi dia berada didalam rumahnya yang dipenuhi pengawal dimana-mana ini..?'


"Asisten Jo, apakah Her sudah datang?" tanya Arshlan begitu ia keluar dari kamar dan mendapati Asisten Jo telah berdiri tegak didekat pintu kamarnya.


"Sudah sejak tadi Tuan, saat ini Her sedang menunggu Tuan didepan."


Arshlan mengangguk, dengan tergesa langsung melangkahkan kakinya kearah ruang tamu.


"Tuan, apakah Tuan tidak ingin sarapan lebih dahulu?"


"Tidak. Aku sedang terburu-buru," ujar Arshlan sambil melirik arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya tanpa menyurutkan langkah panjangnya sedikitpun. "Oh yah.. Asisten Jo, apakah kau melihat Lana?"


"Tadi shubuh Nyonya Lana keluar dari kamar Tuan dan kembali kekamar sebelumnya dilantai empat. Nyonya Lana.."


"Her, sebaiknya kita berangkat sekarang."


Kalimat Asisten Jo belum selesai saat Arshlan telah mengajak Her untuk segera berangkat.


"Tuan Arshlan, Nyonya Lana.."


"Biarkan saja jika dia telah kembali kekamarnya. Itu malah lebih baik, karena artinya dia juga tau diri, dan menyadari dimana tempatnya yang sesungguhnya..!"


Sungguh pongah kalimat Arshlan.


"Terus awasi bocah itu, jangan sampai ia kembali membuat ulah..!!" ujar Arshlan lagi sebelum naik kemobilnya.


"Baik, Tuan.." mau tak mau Asisten Jo akhirnya mengangguk juga, karena Tuan Arshlan yang terlihat sangat terburu-buru seolah tidak punya waktu untuk mendengarkan apa yang ingin disampaikan Asisten Jo, perihal istri kecilnya yang terlihat sedang tidak enak badan.


XXXXX


Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Pak Menteri yang melibatkan beberapa pengusaha nomor satu di negeri ini tak lebih dari upaya pemerintah yang hendak meminta sokongan penuh pihak swasta, agar bisa lebih mengedepankan usaha pemerintah, dalam rangka menggen jot laju perekonomian negara.


Kehadiran para pengusaha-pengusaha besar tentu berpengaruh positif dalam membangun sebuah mata rantai dari roda perekonomian itu sendiri, maka dari itulah pemerintah bertujuan merangkul para milyuner-milyuner itu untuk lebih mengedepankan pemanfaatan sumber daya baik alam maupun manusia yang berasal dari dalam negeri.


Dan pertemuan tersebut lebih tepat seperti sebuah diskusi ringan, yang berjalan dengan lancar hingga akhir.


Arshlan telah mengucapkan pamitnya kepada Pak Menteri karena ia telah memiliki jadwal meeting selanjutnya dengan beberapa investor baru, manakala seseorang telah menghalangi langkahnya yang hendak berlalu dari gedung itu, menuju kearah basement.


"Hai, Arsh.. lama tak bertemu.."


Marco.


Marco adalah musuh bebuyutan Arshlan sejak beberapa tahun terakhir ini setelah memiliki catatan terburuk dimasa lalu Arshlan.


Marco juga merupakan saingan berat bisnis Arshlan, dari beberapa kali perebutan tender besar.


"Minggirlah, aku tidak punya waktu untuk meladenimu!" ujar Arshlan dengan wajah datar.


Arshlan pun berusaha berlalu dan menghindari pria itu secepatnya, sebelum emosinya meluap tak terkendali seperti yang sudah-sudah.


"Semalam aku menemukan Rosalin yang sedang mabuk dan menggila di sebuah bar.."


Mendengar kalimat itu membuat Arshlan urung melangkahkan kaki. Hal itu membuat Marco tersenyum karena merasa berhasil menahan langkah pria arogan itu.


"Karena kasihan.. aku sampai harus membawanya pulang ke mansionku.."


Arshlan berbalik dan tersenyum sinis kearah Marco. "Aku tidak heran mendengarnya, karena kau memang gemar mengumpulkan barang-barang sisa yang tidak lagi aku butuhkan. Itu memang sudah menjadi hobbimu sejak awal..!" sindir Arshlan, yang membuat tawa Marco pecah begitu saja.


"Aku merasa direndahkan. Tapi mau bagaimana lagi.. aku memang sangat menyukai semua yang menjadi milikmu.."


Arshlan geram bukan main mendengar celetukan santai itu. Namun sepertinya Marco belum juga merasa puas.


"Aku terkejut saat Rosalin mengatakan bahwa kau sudah menikah. Aku tidak ingin mempercayainya, tapi.. apakah semua itu benar, Arsh? apakah kau benar-benar menikah..?"


Arshlan diam saja sambil menatap wajah Marco dengan wajah yang semakin geram.


"Kalau kau menikah.. lalu bagaimana dengan nasib Maura..?"


"Kalau kau kasihan padanya, kau boleh mengambilnya..!"


"Apa..?!"


"Kenapa kau terkejut? bukankah memang sudah seharusnya kau bertanggung jawab atas diri wanita murahan itu? apa kau tidak malu melenggang bebas selama ini, dan membiarkan aku yang bertanggung jawab atas semua perbuatan kalian..?"


Marco tersenyum, bahkan terkekeh. "Hehe.. mau bagaimana lagi, Arsh..? sejak dulu dia hanya menginginkan dirimu, bukan aku.." seloroh Marco.


"Kau..?!"


Marco mundur beberapa langkah menyadari Arshlan yang seperti telah berancang-ancang untuk meninjunya.


"Wait.. wait a minute. Tenangkan dirimu, Arsh.." ujar Marco sedikit panik.


"Kalau begitu cepatlah minggir. Jangan menghalangiku."


"Baiklah.. baiklah.. tapi aku hanya ingin menyampaikan sebuah undangan untukmu.." kilah Marco.


"Aku tidak tertarik."


"Oh come on, Arsh. Datanglah dengan membawa istrimu."


Arshlan menatap Marco dalam-dalam. Seolah ingin mengetahui maksud apa yang sedang direncanakan otak licik Marco yang terlihat begitu ingin mengetahui keberadaan dan kebenaran cerita tentang istrinya saja.


"Baiklah.. aku mengakuinya. Aku memang penasaran dengan cerita Rosalin. Apakah iya seleramu telah menjadi serendah itu..?" ucap Marco dengan wajah menahan tawa.


"Apa maksdumu?!" hardik Arshlan.


"Seorang gadis culun yang memaksakan diri berpenampilan se xy seperti seorang pela cur, sehingga kamu menjadi gelap mata dalam sekejap, dan kemudian menyeretnya ke ranjang seperti orang gila.."


"Tutup mulutmu..!!"


Dengan gerakan kurang dari sepersekian detik, Arshlan telah mencekal kerah kemeja Marco dan membenturkan tubuh pria itu kedinding dengan keras. Mencekiknya.


"Sekali lagi menyebut istriku dengan kalimat buruk, aku bersumpah akan melenyapkan nyawamu..!!"


"Le-lepaskan aku Arssshh.."


"Katakan kepada Rosalin, dan semua wanita diluar sana, bahwa memang benar seleraku sudah berubah. Aku tidak lagi berminat pada wanita-wanita tua murahan, karena istriku masih belia, muda, cantik, menggairahkan, dan dia memiliki segalanya yang tidak dimiliki wanita manapun..!"


Kemudian Arshlan menghempaskan tubuh Marco begitu saja, hingga nyaris terjerembab kelantai. Namun meskipun demikian, dengan leher yang terasa sakit karena habis tercekik, Marco bahkan masih bisa tertawa sinis.


"Istrimu memiliki segalanya? apakah kau tidak salah, Arsh..? yang kudengar wanita itu bahkan hanya seorang pelayan yang telah menjadi budak naf sumu, sebelum kau menyeretnya ke balai pernikahan dengan bajunya yang lusuh.."


Gigi Arshlan bergemeretak mendengar semua yang diungkapkan Marco mengenai kebenaran tentang Lana.


"Siapapun dia.. pelayan sekalipun.. saat dia berdiri disamping seorang Arshlan, maka dengan sendirinya wanita itu telah memiliki segalanya. Tidak ada lagi wanita diluar sana yang sepadan dengannya. Apakah sampai disini.. kau sudah mengerti perbedaannya..?!"


Marco menatap Arshlan seolah menantang. "Kalau begitu tunggu apalagi, Arsh..? cepat tunjukkan wanita kebangganmu itu keseluruh dunia, dan mari kita lihat, bagaimana dunia akan menilainya..!"


.


.


.


Bersambung..


Gemes aku.. pop novel ini kok susah banget naiknya.. 😭


Ayo, yang suka Lana, kencengin supportnya dong ahhh.. 😅


Thx and Lophyuu all.. 😘