
Triple up.
...
Besok adalah hari yang sangat penting untuk keluarga Arshlan.
Hari yang telah dinanti sekian lama, hari yang merupakan akhir dari penantian dan kerinduan yang panjang.
Pada akhirnya, besok Luiz akan datang, setelah lima tahun lamanya pria itu tidak pernah sekalipun kembali.
Hari yang sepenting ini, Victoria tidak mungkin melupakannya begitu saja.
Victoria bahkan telah membuat pengingat khusus pada kalender ponselnya bahkan untuk satu hari sebelumnya.
Victoria tau ia tidak mungkin tidak berada disana, dan karena itu pula, untuk yang pertama kalinya, Victoria telah mengambil ijin sehari kepada Luna sang bos ditempatnya bekerja nyaris sebulan, agar ia diijinkan tidak masuk kerja, pada hari tersebut.
Pagi-pagi sekali, Victoria telah sangat siap.
Sebuah handbag miliknya telah terisi penuh dengan semua keperluannya dalam sehari, termasuk pakaian ganti dan beberapa peralatan mandi serta make up yang seadanya.
Rencananya, seusai pulang dari florist, sorenya Victoria akan langsung menuju kediaman megah sang mertua, berniat menginap semalam disana, sesuai keinginan Daddy Arshlan yang disampaikan oleh Leo tempo hari, dan agar dia juga bisa sedikit membantu berbagai persiapan, yang hendak dilakukan dirumah itu.
Sebuah buket bunga cantik yang di rangkai oleh tangan Victoria sendiri telah siap, tinggal menunggu kedatangan taksi online yang juga telah ia pesan pada beberapa saat yang lalu, lewat aplikasi familiar yang ada di ponselnya, untuk mengantarkan dirinya ke depan istana megah sang mertua.
"Selamat sore, Momm ..." Victoria telah menyapa ibu mertua, yang telah ia temui terlebih dahulu diruang tengah.
Wanita paruh baya yang masih saja terlihat cantik diusianya yang menginjak empat puluh lima tahun, nampaknya sedang sibuk mengarahkan sejumlah maid untuk melakukan ini dan itu, sebagai bentuk dari kesibukannya dalam menyambut seorang putra kebanggaan, yang kelak akan mengemban seluruh tanggung jawab sepenuhnya, pada kerajaan bisnis keluarga.
Victoria tidak peduli dengan keengganan yang ia terima, karena dirinya tetap nekad berdiri disisi wanita, yang tadi hanya menoleh kearahnya sekilas.
"Mommy, aku membawakan bunga ini khusus untukmu,"
"Oh, ya? Baiklah, terima kasih, Vic." menjawab, tapi tidak berniat menoleh.
"Aku akan menaruhnya di ruang tamu ..."
"Sebentar."
Ucapan pendek itu telah menahan langkah Victoria yang hendak berlalu, masih sambil memeluk buket bunga yang ia bawa sebagai buah tangan, namun telah diacuhkan.
"Berikan padaku. Aku akan menaruhnya diteras belakang."
Dalam sekejap buket yang super cantik itu telah berpindah tangan.
Victoria hanya bisa menatap punggung sang ibu mertua yang menjauh, sambil membawa buket bunga cantik miliknya untuk 'disingkirkan' ke teras belakang.
Setelah sejenak termanggu berjenak-jenak, kesadaran Victoria yang menyapa telah membuat tatapannya terarah kejejeran para maid, yang sebagian besar sedang benar-benar fokus menatap Victoria, yang kemudian hanya bisa mengurai senyum.
Tak ada yang tidak mengenal Victoria. Wanita beruntung yang bisa menjadi istri Tuan Leo, menantu di keluarga Arshlan, namun sayang tidak pernah diterima kehadirannya oleh Ibu mertua bahkan suaminya sendiri!
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Indah sekali. Darimana buket bunga itu berasal? Kenapa buket secantik ini tidak kau letakkan diruang tamu saja?"
Suara teguran Arshlan telah membuat gerak tangan Lana yang menaruh sebuah buket bunga kedalam pot besar yang ada diteras belakang itu sontak terhenti.
"Disini saja. Diruang tamu sudah ada rangkaian bunga yang baru aku ganti kemarin."
Memang bukan merupakan hal yang penting, namun manakala Arshlan telah menangkap gestur wajah Lana yang berubah hanya karena membicarakan sebuah buket bunga, hal tersebut telah membuat Arshlan menjadi sedikit penasaran.
"Siapa yang mengirimnya?" tanya Arshlan lagi, sambil menoleh kearah Lana yang kini telah duduk tepat disampingnya, sambil meraih keranjang rajut yang berada diatas meja.
"Menantu kesayanganmu yang telah membawanya." jawab Lana acuh.
"Victoria? Apakah dia sudah datang?" alis Arshlan terangkat.
"Tumben dia tidak datang menyapaku terlebih dahulu?"
"Mungkin sebentar lagi." Lana melirik Arshlan sedetik. "Sepertinya dia sedang menaruh tasnya terlebih dahulu kedalam kamar Leo."
Kepala Arshlan manggut-manggut mendengar kalimat yang selalu saja terdengar datar dan tak bersahabat itu.
Lana memang selalu seperti itu, setiap kali dirinya membicarakan tentang Victoria.
Meskipun Arshlan sering menasehati dengan berbagai cara, namun tetap saja tidak bisa membuat pandangan Lana berubah.
Lana terlalu membenci kehadiran sang menantu, siapa lagi kalau bukan Victoria.
"Selamat sore, Daddy."
Arshlan mengangkat wajahnya. Ia telah mendapati seraut wajah Victoria berdiri dihadapannya, menyapa takjim dengan senyuman.
"Selamat sore, Victoria. Kapan kau tiba?"
"Baru saja, Dadd."
"Kemarilah, dan duduklah disini." ujar Arshlan sambil menunjuk kursi kosong yang ada dihadapannya. "Bagaimana keadaanmu, Vic?" tanya Arshlan lagi begitu Victoria telah duduk tepat dihadapannya.
"Baik, Dadd. Bagaimana keadaan Daddy?"
"Seperti yang kau lihat. Faktor usia telah membuat Daddy harus banyak beristirahat, kalau tidak mau membuat repot seseorang yang senantiasa mengurus semuanya ..." Arshlan berucap demikian sambil tertawa kecil, namun mampu membuat wanita disampingnya yang awalnya berlaku acuh akhirnya menoleh.
"Sayang, kapan aku pernah bilang bahwa aku merasa repot mengurusmu dan mengurus semuanya?" protesnya.
Wajah Lana telah merenggut sempurna, padahal Arshlan sengaja mengatakan hal itu untuk menggoda dan memancing reaksinya yang sempat bertingkah tak peduli.
"Kau lihat, Vic, belum apa-apa tapi Mommy kalian sudah marah ..."
Victoria tersenyum menanggapi candaan Arshlan.
"Sayang, aku tidak marah ... sungguh ..." Lana telah menaruh kembali keranjang rajut miliknya keatas meja, sambil menatap Arshlan penuh.
"Iya, sayang, iya ... lagi pula tadi aku hanya sedang menggodamu saja. Aku hanya bercanda ... maafkan aku ..." Arshlan tersenyum, jemarinya terangkat guna mengusap lengan Lana dengan penuh kasih sayang.
Semua interaksi yang manis diantara kedua mertuanya itu tak ada sedikitpun yang luput dari pengawasan Victoria yang seolah tak berhenti tersenyum.
Sejak dulu, hatinya selalu bahagia setiap kali menyaksikan kehangatan cinta dari kedua sosok yang kini telah menjadi mertuanya.
Arshlan terlihat sangat penyayang, dan begitu sabar dalam menghadapi Lana yang usianya terpaut jauh dibawah, sementara Lana ...?
Wanita itu bisa saja sangat membenci keberadaan Victoria ... namun Victoria justru sangat mengagumi sosok Lana.
Hanya dimata Lana, Victoria bisa menemukan pendar cinta yang begitu besar dan sangat istimewa, dari seorang wanita yang sangat mencintai pasangan hidupnya.
"Vic, kenapa kau tidak datang bersama Leo?" Arshlan telah mengalihkan lagi pandangannya kearah Victoria.
"Leo akan datang, setelah jadwal syutingnya selesai."
Bukan Victoria, melainkan Lana yang menjawabnya.
Victoria pun akhirnya menganggukkan kepala kearah Arshlan, guna membenarkan pernyataan tersebut.
Pada kenyataannya, Victoria bahkan tidak mengetahui keberadaan Leo, begitupun dengan kabar pria itu. Karena sejak malam terakhir yang begitu panas diantara mereka pada tiga hari yang lalu ... Victoria bahkan tidak lagi menemukan sosok Leo pada keesokan paginya.
Leo telah pergi pagi-pagi sekali, dan tidak lagi kembali ...
...
Bersambung ...