TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 55. Kurir Misterius


Special THX to Agustina Nasution πŸ₯°


...


Leo sedang sendirian di ruangan itu, saat Victoria dan Feni mengetuk pintu yang sejak awal tidak tertutup.


Pria itu sedang menatap lekat ponselnya dan langsung mengangkat wajahnya begitu mendengar suara ketukan pada daun pintu yang memang terpentang lebar.


"Selamat siang, Tuan Leo." Feni memberi salam dengan penuh kesopanan.


"Selamat siang, taruh saja disitu." ujar Leo tak kalah ramah.


Tanpa kata Victoria menaruh buket bunga tersebut keatas meja. Tangannya terasa bergetar samar, begitupun dengan sekujur tubuhnya, namun semaksimal mungkin Victoria berusaha mengendalikan rasa gugup yang menyerangnya, manakala ia telah menarik diri dan langkahnya kebelakang tubuh Feni.


"Maaf Tuan, boleh aku meminta tanda tangannya disini?" ujar Feni sambil mendekat kearah Leo, menyodorkan tanda terima pesanan yang langsung diterima pria itu, setelah menyimpan ponselnya ke saku celana.


Saat Leo menunduk sambil menandatangani bukti terima dari pesanan bunga, Feni yang berada tepat dihadapan Leo seolah tidak bisa lagi memalingkan wajahnya dari wajah tampan yang sangat rupawan itu.


"Ini, terima kasih." Leo menyerahkan kembali bukti terima yang telah ia tanda tangani sekaligus bolpen milik Feni yang baru saja ia pakai.


"T-terima kasih, Tuan Leo."


Tergagap dan masih setia mematung dihadapan Leo, terpukau begitu rupa.


Feni bahkan sampai lupa menutup mulutnya kembali, saking tak bisa mempercayai bahwa akhirnya ia bisa menguliti sosok Leo hingga sedekat itu, sementara Victoria yang telah meletakkan bunga pesanan Leo keatas meja sejak tadi, perlahan semakin menarik diri, dan berdiri disisi daun pintu, rasanya ingin berlari kabur secepatnya dari tempat itu, sebelum Leo bisa menyadari siapa dirinya.


"Halo ...? Apakah kau baik-baik saja?" Leo terlihat mengerinyit sambil melambaikan tangannya didepan wajah Feni yang bengong.


"Oh ... egh ... m-maaf, Tuan ..."


"Kau sakit?" wajah Leo terlihat prihatin saat menatap penuh wajah Feni, yang sesungguhnya tidak sakit, namun hanya sedang bertingkah norak.


"Aaaa ... t-tidak, Tuan." Feni menggelengkan kepalanya secepat kilat. "T-Tuan Leo, sesungguhnya aku adalah penggemar beratmu ..." akhirnya dengan susah payah, Feni berhasil memproklamirkan dirinya.


"Wah, benarkah?" sepasang mata Leo melebar mendengar kejujuran Feni. Senyum pria itu semakin merekah hangat saat mendengar pengakuan Feni yang merupakan penggemar beratnya.


"Iya, Tuan, bolehkah aku meminta tanda tangan Tuan dan mengambil sebuah foto?"


"Tentu saja boleh." sambut Leo ramah, namun sanggup membuat Feni terpekik girang saking senangnya, sampai-sampai Leo sedikit terkejut, namun kemudian derai tawa lucu pria itu terdengar sungguh renyah, seolah terhibur saat menyaksikan aksi norak Feni yang sangat akut.


Feni membuka tas kecil yang tersampir di bahunya dan mengeluarkan sebuah agenda miliknya untuk meminta tanda tangan Leo, sementara Victoria hanya menyaksikannya dari dekat pintu, manakala Leo telah mempersilahkan Feni untuk duduk terlebih dahulu sementara pria itu membubuhkan tanda tangannya di agenda pribadi milik Feni.


Detik berikutnya keduanya pun ber-selfie ria. Tidak hanya satu kali sesuai permintaan awal Feni, melainkan berkali-kali.


Mungkin karena sedang berada dalam waktu senggang, Leo juga tidak keberatan saat Feni mengarahkan kameranya berkali-kali.


'Pria itu ... benar-benar terlihat sangat ramah ...'


'Senyum di bibirnya juga terlihat sangat tulus ...'


Victoria baru saja hendak mengucap syukur karena keberadaannya telah terabaikan, manakala suara berat Leo tiba-tiba menyapa gendang telinganya.


"Kau tidak mengajak serta temanmu?" tanya Leo kepada Feni, namun tatapannya jelas mengawasi Victoria yang langsung gelagapan mendapati tatapan Leo yang kini lekat padanya.


Tanpa sadar Victoria telah menggelengkan kepalanya berkali-kali kearah Leo, yang masih saja menatapnya dengan sedikit keheranan.


"Astaga, saking senangnya bertemu dengan Tuan, aku telah melupakan temanku sendiri."


Feni menepuk jidatnya pelan, sepasang matanya ganti menatap Victoria yang wajahnya telah memucat dibalik masker yang ia kenakan.


"Kemarilah, aku akan mengambil fotomu dengan Tuan Leo." Feni melambaikan tangannya penuh semangat kearah Victoria.


'Matilah aku ...'


Victoria membathin lunglai, sambil memperbaiki letak topinya agar semakin tertunduk.


Disisi lain, entah kenapa, tiba-tiba saja jantung Leo ikut berdesir.


Sejak tadi Leo tidak terlalu memperhatikan sosok yang telah menaruh bunga pesanannya diatas meja tersebut, sebelum akhirnya ia terusik dengan sosok misterius yang mengenakan topi, kacamata photocromic, dan masker sekaligus diwajahnya.


Feni nekad mendekat, hanya untuk menarik pergelangan tangan mungil milik Victoria yang terlihat enggan.


"Ayo cepat kemari dan berfoto dengan Tuan Leo."


"T-tapi ... aku ..."


"Tidak usah malu, karena kesempatan tidak akan datang dua kali ..." bisik Feni dengan semangat juang empat lima.


Akhirnya, mau tak mau Victoria yang awalnya sedikit berkeras diri telah tunduk menuruti keinginan Feni yang terus memaksa dirinya untuk berdiri didekat Leo.


Sementara itu, Feni pun dengan lincahnya telah kembali mengambil ponselnya, yang hendak ia gunakan untuk mengabadikan moment tersebut.


"Ayo mendekat sedikit, agar aku bisa mengambil angle yang bagus ..." titah Feni bak fotografer handal.


Leo merapatkan tubuhnya tanpa ragu kepada Victoria yang semakin mematung ditempatnya, sedangkan Victoria merasa semakin gelisah saat menyadari, entah kenapa, ia merasa pria yang ada dibelakangnya itu, seperti telah mencurigai sesuatu ...


🌸🌸🌸🌸🌸


'Aroma ini ...'


Luiz menghirup nafasnya dalam-dalam, aroma salah seorang kurir pengantar bunga ini terasa begitu manis dan familiar, mengingatkan Leo pada ...


Untuk sejenak Leo seperti telah di sadarkan oleh sesuatu, yang nyaris luput dari ingatannya.


"Siapa kau?" entah kenekadan apa yang telah membuat Leo menaruh dagunya begitu dekat, nyaris menyentuh bahu sang kurir misterius dengan wajah yang seolah sengaja ingin disamarkan agar tidak terlihat.


Victoria membisu.


"Kenapa tidak membuka masker saat mengambil foto?" usut Leo lagi, masih sambil berbisik.


Victoria tetap menulikan telinganya.


"Siap yah, satu, dua, ti ... ga ..." aba-aba dari Feni terdengar, dan Leo semakin merasa yakin dengan firasatnya, manakala ia bisa melihat dengan jelas bahu wanita dihadapannya ini terlihat bergetar halus, meskipun tanpa kata.


Belum sempat Leo berucap sesuatu untuk menangkap basah seseorang yang telah ia yakini seratus persen siapa gerangan, manakala pekikan dari sebuah suara merdu tiba-tiba terdengar dari daun pintu yang terpentang, mengurai ketegangan dari dua bathin secara bersamaan.


"Oh my God ... Leo, ini cantik sekali ...!!"


Bukan hanya Leo dan Victoria, Feni yang baru saja mengabadikan foto kedua insan itu pun ikut menoleh ke asal suara.


Seorang gadis cantik masuk kedalam ruangan tersebut dengan dua jemari yang membekap mulutnya, menandakan bagaimana ia begitu terkejut mendapati sebuah buket bunga yang cukup besar yang berada diatas meja.


"Lisa?" Leo terhenyak kaget menyadari kehadiran gadis itu, diikuti beberapa orang crew dibelakangnya.


"Ini untukku, kan? Oh my ... Leo kau sungguh pintar menyenangkan hatiku ..."


Lisa telah meraup buket bunga diatas meja itu tanpa permisi. Menghirup aroma wanginya dalam-dalam, dan terlihat merona saat membaca dalam hati, untaian kata yang tertera di kartu ucapan, yang terselip disana.


"Lisa, sebenarnya ini bukan ..."


"Semua orang telah mengatakan padaku, bahwa kau memesan sebuah buket bunga yang cantik." pungkas Lisa dengan bibir yang dipenuhi senyum kebahagiaan.


Dengan sepasang matanya yang berbinar, ia terus mengawasi Leo yang mendadak kelu, berdiri kikuk sambil menyentuh tengkuknya dengan tangan kanan.


"I'm so sorry ... aku sungguh tidak sabar menunggumu datang untuk memberikannya, makanya aku kesini untuk mengambil sendiri hadiahku ..."


Lisa berucap demikian sambil menaruh buket bunga yang cantik itu ketempat semula, dan tanpa tercegah lagi, gadis itu telah meringsek maju seraya mengalungkan kedua lengannya di leher Leo ...


Mendaratkan ciuman yang telah memukau setiap pasang mata yang berada disana ...


...


Bersambung ...


Support terus yah πŸ€—