
Maaf yah, harusnya di Up semalam, tapi author ketiduran waktu ngedit bab.- 🙏
.
.
.
Ada yang berbeda dipagi ini.
Sejak pagi sekali suasana dapur begitu sibuk, sangat terlihat dari Madam Lori yang bahkan nyaris tidak pernah berhenti sedikitpun meneriaki nama Lin dan Lana berganti-ganti.
Untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama Tuan Arshlan menginginkan sarapan di villa ini, dan sepertinya itu ada hubungannya dengan rencana Tuan Arshlan yang akan mengunjungi area peternakan yang sudah sekian lama juga tidak pernah lagi ia kunjungi.
"Lana, ambilkan lagi bahan-bahan omelet dikulkas, Tuan Arshlan meminta untuk menambah porsinya.." lagi-lagi Madam Lori memerintah Lana yang berdiri siaga tak seberapa jauh, seolah memang telah siap
menerima apapun titah wanita gemuk itu, sedangkan disebelahnya Lin terlihat begitu terampil membolak balik pancake diatas teflon.
"Baik, Madam.." Lana bergerak cekatan mengambil sebuah wadah terlebih dahulu sebelum menuju kearah kulkas besar yang ada disudut ruangan.
"Untuk berapa banyak bahannya, Madam?"
"Untuk sepuluh butir telur saja." jawab Madam Lori tanpa menatap Lana, sibuk mengambil talenan yang telah disimpannya, bersiap untuk kembali mencincang bahan.
Dengan cekatan Lana mengambil bahan-bahan yang diinginkankan Madam Lori. Beberapa lembar daging asap, jamur kancing, jagung pipil, paprika merah, dan paprika hijau, telur, dan tak lupa pula krim kental.
"Ini Madam," ujar Lana sambil menaruh bahan-bahan tersebut diatas meja dapur.
"Kocok lepas telurnya selagi aku mengiris semua bahan."
"Baik, Madam," mengangguk patuh.
Setelah beberapa saat berkutat didapur, Lana terlihat menghirup aroma dapur dalam-dalam.
Yah.. pagi ini aroma dapur terasa begitu semerbak dihidung Lana.
Aroma manis pancake serta gurihnya omelet yang khas dengan aroma paprika serta harumnya mentega terasa menggelitik hidung Lana.
Bukan apa-apa.. karena kedua menu tersebut sesungguhnya adalah dua menu breakfast favorite Lana.
Terakhir Lana bisa menikmatinya saat sarapan diatas yacht mewah milik Tuan Arshlan, dan Lana dengan kalap melahap kedua menu tersebut sampai kekenyangan.
"Bawa semuanya kemeja makan, karena tak lama lagi Tuan Arshlan akan turun." perintah Madam Lori begitu semuanya telah siap.
"Baik Madam," jawab Lin dan Lana patuh, nyaris bersamaan.
XXXXX
Kedua alis Nyonya Alexandra ikut bertaut begitu ia melihat meja makan yang dipenuhi hidangan dengan jumlah extra. "Apakah Arshlan ada?" tanyanya sambil menyandarkan kruk dikursi yang biasa ia duduki.
"Iya, Nyonya Alexandra. Tapi Tuan Arshlan masih berada diatas." Madam Lori menjawab sambil sedikit membungkukkan tubuhnya kearah Nyonya Alexandra yang baru saja tiba di meja makan.
'Jadi dia masih diatas ya? semalaman bersama kekasihnya..?'
Lana membathin kesal, namun tangannya terus bergerak mengisi setiap gelas panjang dengan air mineral.
"Kapan Arshlan tiba?" tanya Nyonya Alexandra lagi begitu tubuh kurusnya terduduk sempurna diatas kursi.
"Kemarin sore, Nyonya,"
"Kemarin sore?" Nyonya Alexandra nampak mengerinyit sesaat mendengar jawaban itu. "Tumben.. biasanya Arshlan akan selalu menengokku terlebih dahulu saat ia tiba.."
Mendengar kalimat itu Lana cepat-cepat menundukkan wajahnya, menghindari tatapan tajam Madam Lori yang langsung terhujam padanya begitu saja seolah Lana adalah seorang terdakwa tunggal yang mengakibatkan Tuan Arshlan melupakan kebiasaannya setiap kali menginjakkan kaki di villa ini, yang selama ini selalu ia awali dengan menengok Nyonya Alexandra meskipun hanya sebentar.
Yah, Arshlan memang akan selalu melakukannya meskipun ia datang bersama wanita-wanita cantik silih berganti. Hal itu seolah telah menjadi bagian dari rutinitasnya untuk menyenangkan hati wanita tua buruk rupa tersebut.
Namun kemarin sore Arshlan mendadak melupakannya dengan mudah karena telah begitu tergesa saat membopong tubuh Lana kedalam kamar dengan penuh hasrat yang menggebu.
Luar biasa.. bocah ingusan itu telah merampok waktu seorang Tuan Arshlan yang hebat, dengan begitu mudahnya.
"Pasti ada hubungannya dengan bocah ini.." geram Nyonya Alexandra kearah Lana yang malah cengengesan mendapati tudingan itu, membuat Nyonya Alexandra semakin merasa kesal saja.
Saat hidangan breakfast telah siap semuanya dan terhidang diatas meja, bertepatan dengan itu pula Tuan Arshlan terlihat telah menuruni anak tangga satu persatu.
Lana dan Lin pun berdiri bersisian dengan Madam Lori, tak seberapa jauh dari meja makan.
Tanpa banyak bicara Arshlan langsung mendekati meja makan dan menghempaskan tubuhnya disana.
"Selamat pagi, Nyonya Alexandra.." sapa Arshlan berbasa-basi sambil tersenyum datar seperti biasa.
"Selamat pagi, Arshlan.." sambut Nyonya Alexandra dengan senyum sempurna. "Lama nian aku tidak melihatmu. Bagaimana kabarmu..?"
"Baik, Nyonya. Seperti yang kau lihat.." jawab Arshlan, menyadari bahwa beberapa minggu terakhir dirinya tidak pernah datang lagi ketempat ini.
Nyonya Alexandra mengangguk. Senyumnya tak pernah lekang dan selalu seperti itu. Terlihat sangat bahagia hanya dengan melihat Arshlan. Hatinya yang keras dan kasar hanya bisa dilembutkan oleh Arshlan seorang, meskipun pria itu selalu terlihat memberi batasan yang tepat dengannya sejak awal.
Sikap lembut itu memang hanya ditujukan Nyonya Alexandra untuk Arshlan. Selain berhadapan dengan Arshlan, rasanya tidak ada satupun hal yang bisa membuat hati Nyonya Alexandra senang.
Arshlan sedang memotong omelet menjadi potongan-potongan kecil sebelum terlihat berpikir sejenak. Gerak tangannya ikut terhenti seolah teringat sesuatu.
"Lana.." panggil Arshlan tanpa mengangkat wajahnya, cukup membuat Lana yang berdiri diantara Lin dan Madam Lori tersentak ditempatnya.
"I-iya, Tuan.." jawabnya terbata saking kagetnya.
"Kemari.."
Lana mematung mendapati ultimatum itu.
Madam Lori bahkan harus menyikut lengan Lana terlebih dahulu karena Lana yang masih saja berdiri bingung ditempatnya, seolah tidak bisa mempercayai pendengarannya sendiri.
"I-iya Tuan.."
Lagi-lagi tergeragap, sambil buru-buru mendekati Tuan Arshlan yang terus bicara tanpa menatapnya, malah kini sudah memasukkan potongan omelet kedalam mulutnya.
"Duduklah disampingku."
Tidak hanya Lana yang terlihat terhenyak, karena Nyonya Alexandra, Madam Lori dan Lin yang berada diruang makan itu pun tak kalah terkejut dengan kalimat Arshlan.
"T-tapi Tuan.."
"Temani aku sarapan."
Lana masih mematung ditempatnya, masih menganggap mungkinkah telinganya salah mendengar?
"Apa kau tuli..?"
"Egh.. b-baik, Tuan.." Lana tergeragap, sebelum akhirnya dengan gerak sigap menarik kursi yang dimaksud Arshlan.
Hatinya sedikit meragu, namun seperti biasa Lana selalu mampu memberanikan diri.
Sesaat kemudian tubuh Lana telah terhempas sempurna diatas kursi, tepat disisi Arshlan.
Lana mengalihkan pandangannya saat tatapan tajam Nyonya Alexandra mengarah padanya dengan wajah cemberut.
Untuk beberapa saat suasana hening menguasai ruang makan tersebut, sebelum akhirnya Arshlan kembali meletakkan garpu keatas piringnya, padahal omelet yang ada diatas piring masih tersisa banyak.
"Kenapa berhenti, Tuan?"
Arshlan menatap Lana yang awalnya duduk bengong sambil menikmati setiap inchi wajah gagah Arshlan yang segar dan menawan dipagi hari.
"Kenapa kau tidak makan?"
"Egh.. a-anu Tuan.."
"Kau suka omelet dan pancake kan..?"
"Iya, aku suka, Tuan..!"
Sepasang mata Lana langsung berbinar indah begitu mengetahui Arshlan bahkan mengetahui persis bahwa dirinya sangat menyukai kedua makanan yang saat ini menjadi menu breakfast.
"Kalau kau suka kenapa tidak kau makan? aku menyuruhmu duduk disitu untuk menemaniku sarapan, bukan menatapku dengan wajah laparmu itu.."
"Oh.. eh.. t-tapi Tuan.."
"Apa kau tidak lihat semua makanan ini bahkan makanan kesukaanmu?"
Mendengar itu Lana terhenyak. Kalimat Arshlan terdengar sangat manis.. meskipun diucapkan dengan nada kasar dan datar.
"Egh.. aku.. aku.." mendadak wajah Lana yang semula merona sekaligus berbinar itu, kembali tersadar dan menunduk, saat melihat wajah Nyonya Alexandra dan Madam Lori yang menatapnya kesal.
"Makanlah." pungkas Arshlan dingin.
"T-tapi.."
"Aku menyuruhmu makan. Apa kau berani menentang perintahku?"
"Egh.. t-tidak Tuan.. b-baiklah.. aku akan makan sekarang.." dengan bergegas Lana pun menaruh sebuah pancake diatasnya, kemudian langsung memasukkan potongan kecil pancake tersebut kedalam mulut, tidak ingin membuat Arshlan semakin kesal.
Tidak seperti di yacht beberapa hari yang lalu dimana Lana terlihat seperti orang kelaparan saat menghabiskan semua hidangan yang ada dimeja, kali ini Lana bahkan mengunyahnya dengan hati-hati.
Terlebih saat menyadari tatapan tajam Madam Lori dan Nyonya Alexandra yang seakan-akan ingin mengunyah dirinya hidup-hidup.
.
.
.
NEXT..