
Follow my ig. @khalidiakayum
...
Luiz tersenyum saat melihat mommy Lana yang awalnya berdiri menyambut mereka didepan pintu, seolah tak bisa lagi menahan diri sehingga langsung menghambur dan memeluk Dasha, begitu mereka turun dari mobil.
"Dashaaa ... apa kabarmu sayang? Sehat kan? So, bagaimana dengan ujiannya? Lancar? Kau bisa mengerjakan semuanya kan? Nilaimu pasti maksimal, kan?"
Mendapati pertanyaan beruntun tersebut Dasha pun mengangguk dengan sangat bersemangat. Tawa kecilnya yang renyah ikut menyeruak.
"Nyonya Lana, tenang saja ... aku telah melewati ujian nasional itu dengan sangat baik ..." ujar gadis itu dengan begitu percaya diri, saat keduanya masih saling merangkul akrab sepeti biasa.
Begitulah ... bahkan saking akrabnya Lana selalu saja merasa ada yang kurang jika tidak menyertakan Dasha dalam kondisi apapun, disetiap moment keluarga Arshlan.
Dasha adalah satu-satunya teman terbaik yang bisa diajak Lana untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan, kendati pun saat itu usia Dasha tergolong masih sangat kecil, tapi Dasha selalu bisa mengimbangi, serta membuat Lana merasa cocok dan nyaman.
Entah itu memasak, mencoba sebuah resep baru, berkebun, berbelanja, membahas gosip artis yang ada di infotainment, dan masih banyak lagi keceriaan yang begitu kompak dilakukan bersama, yang mana semua itu tidak mungkin seseru itu jika Lana melakukannya dengan Arshlan, Leo, apalagi si kaku Luiz.
Mungkin itulah yang dimaksud dengan dunia wanita, jadi wajar saja jika rasanya akan menyenangkan jika dilakukan oleh sesama wanita, dan sebaliknya sangat tidak menyenangkan jika dilakukan dengan para pria.
Lagipula bagaimana mungkin Lana tidak merasa sangat cocok dengan kepribadian Dasha?
Keseharian gadis itu begitu ceria, super enerjik, dan sedikit bar-bar, teramat sangat mirip dengan sosok Lana diwaktu muda dulu.
"Benarkah yang kau katakan?" usut Lana berpura-pura memasang mimik yang dipenuhi keraguan.
"Aku mengatakannya dengan bersungguh-sungguh, Nyonya. Aku benar-benar belajar dengan baik agar bisa mendapatkan hasil yang memuaskan ..."
"Uuhhh, kau gadis kecilku yang pintar, baiklah, sayangku, kalau memang kau seyakin ini dengan hasil ujiannya, maka mulai sekarang kau harus lebih fokus lagi menata masa depanmu. Tetapkan hatimu untuk mengambil tawaran terbaik Tuan Arshlan demi masa depanmu. Oke?!"
"Tawaran? Apa maksud semua itu, Momm? Tawaran terbaik dari daddy? Tawaran apa?" potong Luiz begitu ia menyadari sebuah pembicaraan yang agak asing di telinganya.
"Aihh, Luiz, apakah daddy belum pernah mengatakannya kepadamu?" Lana menatap Luiz dengan tatapan bingung.
Luiz yang terlihat lebih bingung lagi sontak mengarahkan pandangannya kearah Lana dan Dasha berganti-ganti, sebelum akhirnya ia melabuhkan tatapan yang seutuhnya kepada Dasha yang malah membuang wajahnya kesisi yang lain.
Sepertinya gadis itu masih saja kesal dengan kejadian pada awal perjalanan mereka menuju ranch, dimana semua penolakan Luiz kepada dirinya serta sikap dingin pria itu yang tak pernah berubah, telah menorehkan luka yang mendalam dihati Dasha, selalu ... dan selalu.
"Tidak, momm. Selama ini daddy tidak pernah mengatakan apa-apa tentang rencana masa depan Dasha, dan kau ... kenapa kau juga tidak mengatakannya kepadaku?"
"Memangnya apa yang harus aku katakan ...?" jawab Dasha sambil lalu.
"Apa kau bilang?!"
"Hei ... hei ... ada apa ini? Kenapa kalian seperti sedang bermusuhan?" lerai Lana seraya mengerinyitkan alisnya, begitu menyadari hawa panas permusuhan yang sedang terjadi antara Luiz dan Dasha, namun sayangnya tak ada satu pun dari keduanya yang berniat menjawab rasa keingintahuan Lana yang besar.
Lana menatap wajah keduanya berganti-ganti, namun sekali lagi tidak ada satu pun dari mereka yang berusaha membuka mulut, sampai pada akhirnya Luiz memilih menghindar dengan cara masuk kedalam villa dengan ekspresi wajah yang masam.
Melihat pemandangan itu Lana tidak berusaha mencegahnya.
Lana tahu persis bahwa Luiz adalah tipe pria kaku dan sulit untuk diajak bicara. Maka dari itulah Lana diam saja saat Luiz memilih menghindar, dan pada akhirnya lebih memilih menatap Dasha lekat-lekat untuk menginterogasi gadis itu.
"Dasha, apa yang sebenarnya telah terjadi diantara kalian? Kau melakukan apa sehingga Luiz bisa semarah itu kepadamu?" usut Lana dengan ekspresi wajah serius.
"Percayalah, aku tidak melakukan apa-apa, Nyonya, sungguh ..."
"Kalau tidak melakukan apa-apa, lalu kenapa Luiz bisa marah seperti itu?" imbuh Lana lagi, tentu saja ia tidak bersedia mempercayai keterangan Dasha dengan begitu mudahnya.
"Itu ... mmmh ... anu ... Nyonya, s-sebenarnya aku telah membuat Tuan Luiz menunggu lama di parkiran asrama, dan oleh karena itulah Tuan Luiz menjadi sangat kesal ..."
"Tuh kan, aku bilang juga apa, kalau tanpa sebab, Luiz tidak mungkin marah ..."
Dasha tertunduk dalam diam, namun matanya telah berkaca-kaca, membuat Lana mau tak mau merasa kasihan juga.
Sejak kecil, tepatnya saat Arshlan telah memutuskan untuk mengasingkan diri dan tinggal di ranch ini, Lana telah mempercayakan Luiz untuk mengambil alih semua hal yang menyangkut Dasha dan pendidikannya.
Itulah sebabnya kenapa Luiz selalu sensitive jika menyangkut hal-hal yang mengenai Dasha.
Begitupun sebaliknya Dasha, yang secara tak langsung akhirnya telah terbiasa bergantung kepada Luiz tentang persoalan apapun.
"Sudahlah, lupakan ... tapi lain kali kau harus berjanji bahwa kau tidak boleh mengulanginya lagi. Jangan membuat Luiz menunggu, karena pada dasarnya semua orang tahu bahwa Luiz adalah pribadi yang tepat waktu, dan karena itu lah dia sangat benci menunggu ..."
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Kapan kau datang?"
Leo yang muncul dari balik pintu terlihat langsung menghampiri Luiz begitu melihat pintu kamar saudara kembarnya itu terbuka, menandakan sang pemilik kamar telah berada didalam sana.
"Baru saja." jawab Luiz tanpa menoleh, fokusnya terus berada pada ponselnya dimana sebuah notifikasi pesan dari Florensia terlihat sangat mengganggu pemandangan, berbaur dengan beberapa email penting tentang pekerjaannya yang bertumpuk disana.
Namun yang paling menyebalkan dari semua itu adalah, karena Luiz malah memilih membuka notifikasi pesan Florensia terlebih dahulu, daripada notifikasi-notifikasi yang lain, dan karena itu pulalah mood Luiz terasa semakin memburuk.
'Maaf Luiz, tapi aku telah memutuskan, untuk mencoba menjalani hubungan ini denganmu.'
'Sh it ...!!'
'Dasar pengkhianat ...'
Luiz memaki dalam hati, usai membaca isi pesan Florensia yang menurutnya tak masuk diakal!
"Mana Dasha?" Leo kembali bertanya, menyadari Luiz yang tak bergeming, hanya wajahnya yang terlihat semakin lama semakin keruh.
"Bersama mommy." jawab Luiz pendek, sambil melempar ponselnya keatas meja, dengan raut wajah kesalnya yang sangat jelas.
"Luiz, ada apa dengan wajahmu?" tanya Leo tak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama.
"Memangnya wajahku kenapa?"
Leo tertawa kecil mendengar jawaban yang acuh tak acuh tersebut.
"Kau terlihat seperti seorang pria a be ge yang sedang patah hati." ledek Leo membuat Luiz menghentakkan nafasnya kasar.
"Kalau kau tidak lagi memiliki apapun untuk dibicarakan, maka sebaiknya kau pergi saja." ucap Luiz dengan nada dingin.
"Kau mengusirku?" Leo terbelalak.
"Menurutmu?"
"Astaga, Luiz ... kau tidak lelah selalu bersikap kaku seperti ini?" sepasang mata Leo membeliak lebar, saat menyadari bahwa sikap harfiah Luiz yang dingin memang tidak pernah berubah atau minimal berkurang sedikitpun, terlebih saat saudara kembarnya itu merasa kesal seperti sekarang.
"Keluarlah ...!"
Leo menggeleng, keras kepala. "Aku akan keluar tapi setelah aku mengatakan sebuah kabar baik ..."
"Cepat katakan, karena aku tidak punya waktu untuk ..."
"Aku akan menjadi seorang ayah."
Singkat, padat, dan jelas. Namun Luiz sangat terhenyak mendengar penuturan singkat Leo.
Mendadak semua kekesalan yang menyelimuti hati Luiz seolah langsung terjeda begitu saja.
Luiz telah menatap Leo dengan tatapan nanar, dan detik berikutnya pandangannya melembut.
Tanpa aba-aba Luiz memeluk bahu saudara kembarnya itu.
"Finally ... congratulation my bro ..."
Leo menyambut pelukan Luiz dengan suka cita, karena ia bisa merasakan, betapa tulusnya hati Luiz saat mengucapkan selamat untuknya.
"Thank's." suara Leo bergetar.
Luiz pun mengeratkan pelukannya.
Luiz dan Leo, kedua pria gagah itu sungguh terharu atas moment kebahagiaan tersebut, meskipun tidak sampai menitikkan air mata ...
...
Bersambung ...
Supportnya pliiss ... π