TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
12. SELAMAT TINGGAL, ARSH...


Maura masih tertegun tak percaya usai menerima kemarahan Arshlan kepadanya yang seolah tak berdasar.


Bagaimana mungkin pria itu dengan enteng menyalahkan dirinya atas ketidakberadaan Lana yang entah menghilang kemana...? sedangkan Maura sendiri bahkan tidak tau jika ia akan bertemu Arshlan dihari terakhir keberadaannya di Venezia dalam rangka menemui seorang fashion designer yang karyanya sedang Maura incar untuk bisa ia dapatkan, dan Maura juga tidak menyadari jika saat ini Arshlan sedang bersama Lana...!


Hati Maura sangat sakit, terlebih saat menyadari kenyataan bahwa Arshlan berada di Venezia bersama Lana.


Apa yang mereka lakukan? apakah mereka sedang melakukan perjalanan romantis dan ber-honeymoon ria dikota super romantis ini...?


Maura memilih diam tak membalas kalimat kejam milik Arshlan, sementara Arshlan telah berbalik badan.


Pria itu telah bergerak cepat, mengayunkan langkahnya yang panjang dan tergesa dengan kepala yang masih saja celingak-celinguk kesana-kemari.


Jelas terlihat wajah Arshlan yang semakin memucat dan luar biasa panik.


Melihat pemandangan itu lagi-lagi hati Maura seolah tercubit, namun anehnya ia malah memilih melangkahkan kakinya kemanapun Arshlan melangkah, terus mengikuti laju pergerakan Arshlan yang seperti orang gila karena meneriaki nama Lana terus-menerus sambil melintasi bangunan-bangunan kuno bersejarah yang berjejer rapi di Piazza San Marco.


Hati Maura enggan meninggalkan Arshlan dalam keadaan seperti ini, meskipun dalam waktu yang bersamaan, pria itu justru telah menyakiti hatinya berkali-kali, dan membuatnya semakin patah hati.


Langkah Arshlan mendadak terhenti, tepat didekat Menara Lonceng Santo Markus yang terlihat bak berdiri sendirian di sudut lapangan yang berdekatan dengan bagian dari Basilika Santo Markus.


Basilika Santo Markus sendiri merupakan salah satu contoh paling terkenal dari arsitektur Bizantium sebagai simbol status kekayaan dan kekuasaan Venezia dari abad kesebelas.


Sesungguhnya yang membuat Arshlan tertegun itu sama sekali bukanlah pemandangan megahnya Menara yang sering disebut dengan Campanile di San Marco itu, melainkan sosok wanita yang berdiri tegak membelakangi dirinya, menghadap penuh kearah Menara Lonceng Santo Markus yang bisa dibilang ikut menjadi salah satu icon kota yang paling terkenal.


Kepala wanita itu terlihat sedikit menengadah keatas, dan Arshlan bisa melihat bagaimana tepian flowly dress motif kembang milik Lana yang panjang hingga mencapai setengah betisnya yang seputih susu itu bergoyang karena hembusan angin musim semi.


Arshlan menarik nafasnya lega. Akhirnya... ia telah menemukan sosok yang sesaat lalu nyaris membuatnya gila.


"Lana...!"


Arshlan berteriak sambil berlari kecil kearah Lana.


Tepat disaat Lana berbalik mendengar namanya disebut oleh suara yang begitu familiar, tubuh mungilnya telah direngkuh sempurna kedalam sebuah pelukan.


Lana mematung ditempatnya.


Awalnya Lana ingin melepaskan diri dan mengambil jarak, ingin menunjukkan bahwa dirinya sedang marah, kesal dan cemburu, mengetahui keberadaan Nona Maura ditempat yang sama, namun urung manakala menyadari sekujur tubuh Arshlan yang memeluknya sedang bergetar halus meskipun tanpa suara.


'Tuan Arshlan sedang menangis...?'


Lana membeku menyadari kenyataan tersebut.


Pada akhirnya mereka terus berpelukan, tepat dibawah Menara Lonceng Santo Markus yang memiliki arsitektur sederhana dengan sebagian besar berbentuk poros persegi bergalur bata.


Menara dengan tinggi 98,6 meter atau setara 323 kaki tersebut seolah menjadi saksi bisu bagaimana kedua bahu Arshlan yang kekar terlihat berguncang, seolah memperlihatkan dengan jelas bagaimana rapuh serta besarnya kekhawatiran Arshlan, yang begitu takut akan kehilangan sosok Lana.


🍄🍄🍄🍄🍄


Marah dan cemburu.


Dua kata yang bertalu-talu dengan hebatnya dihati Lana.


Pemandangan Arshlan dan Nona Maura yang berhadap-hadapan ditengah lapangan Piazza San Marco telah menjadi sesuatu yang paling mengesalkan dan seolah telah berhasil merusak kebahagiaan Lana dalam sekejap.


Kedua tangan Lana telah terkepal, dan rasanya Lana ingin sekali menjambak rambut wanita yang telah berkeinginan menubruk tubuh suaminya begitu saja, kemudian mencakar wajah cantik Maura yang terlihat sekali sedang berusaha menggoda Arshlan.


Dan meskipun Arshlan telah menolak Maura dengan tegas sejak awal, namun entah kenapa Lana tetap saja geram.


Seharusnya Lana mendekat dan menjambak Maura, tapi yang ada kakinya malah mundur, memilih berbalik dan melangkah dengan hati yang gundah serta pikiran yang kosong.


"Maaf..."


"Lana, jangan tinggalkan aku. Jangan menjauh. Sayang, aku lebih baik mati daripada..."


"Ssssttt..." Lana menaruh jemarinya diatas bibir Arshlan, mencegah mulut pria itu mengucapkan keputusasaannya. "Jangan bicara yang tidak-tidak..." larang Lana, dengan tatapan yang melembut.


Kini sepasang mata mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat, membuat Lana tercekat saat menyadari jika wajah Arshlan telah dipenuhi jejak air mata.


"Sayang... kenapa kau menangis seperti ini...?" jemari Lana terangkat guna menyusuri setiap inchi wajah Arshlan, berusaha menghapus lembab yang tersisa disana.


"Karena aku pikir kau akan meninggalkan aku."


"Astaga... kau ini bicara apa? aku tidak mungkin meninggalkanmu. Lagipula bukankah kau selalu mengatakannya, bahwa kemana pun aku berlari, kau pasti akan menemukan aku..."


"Aku takut..."


Lana terhenyak, terlebih saat melihat dengan mata kepalanya sendiri begitu mengerjap, dua buah bening ikut meluncur bersamaan dari sudut mata Arshlan.


Lana menggeleng berkali-kali, tidak ingin mempercayai pemandangan dihadapannya yang terlihat begitu nyata, dimana pria hebat bertubuh kekar itu kini telah berdiri tanpa daya dihadapannya.


"Lana, tolong berjanjilah. Berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah meninggalkan aku lagi..."


Lana mengangguk untuk bisa secepatnya mengembalikan ketegaran Arshlan yang terlihat begitu rapuh. "Tidak akan. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah berniat meninggalkanmu. Aku bersumpah..."


Dan Lana tertegun dalam diam begitu tubuh mungilnya kembali direngkuh dengan begitu dalam.


Arshlan mencium ubun-ubun kepala Lana berkali-kali sebelum kembali menenggelamkan kepalanya diantara helai rambut Lana yang nampak meriap tertiup semilir angin.


Sementara itu, dalam diam... sudut mata Lana menangkap sosok wanita yang mematung tak seberapa jauh.


Tatapan wanita itu terlihat kosong dan setelah beberapa saat terpaku kakinya telah mundur selangkah demi selangkah sebelum kemudian benar-benar berbalik dan melangkah gontai.


Lana tidak mungkin melupakan sosok nya.


Wanita itu...


Adalah Nona Maura...


🍄🍄🍄🍄🍄


"Maura, pergilah. Pergilah.. dan menjauhlah dari kehidupan Arshlan untuk selamanya, karena bagaimanapun kerasnya kau berusaha, pada kenyataannya episode hidupmu dan Arshlan benar-benar telah berakhir..."


Maura menyusut ujung matanya dengan punggung tangannya.


Lagi-lagi, Maura mendapati dirinya menangis karena pria yang sama.


Arshlan.


Mau tidak mau, toh pada akhirnya Maura harus merelakannya.


Karena cinta Arshlan benar-benar sudah bukan lagi miliknya.


"Selamat tinggal, Arsh..."


Ucap Maura dengan wajah sendu, sambil menengadahkan kepala menatap langit Venezia yang cerah, berwarna biru muda...


...


Bersambung...


Jangan lupa berikan author support yah... 😀 Loophyuuu all... 😘