
Mobil yang membawa Lana telah bergerak perlahan meninggalkan Arshlan dan Her yang masih berdiri tegak di sebelah mobil Arshlan.
"Tuan, apakah Tuan yakin akan melakukan semua ini..?" suara Her terdengar dari samping kiri Arshlan.
Arshlan membuang nafasnya kasar. "Her.." panggilnya dengan suara dingin.
"Iya, Tuan?"
"Sejak kapan kau menjadi begitu lancang hingga berani meragukan keputusan yang telah aku buat?"
Mendengar itu Her terhenyak. "M-maaf, Tuan.. aku tidak bermaksud.."
Her terdiam. Ia sadar bahwa ini memang kali pertama dirinya berlaku tidak sopan dengan mempertanyakan apa yang telah diputuskan oleh Tuan Arshlan. Tapi hati nurani Her tidak bisa menahan untuk tidak mempertanyakannya.
Sejujurnya Her memang sedang meragukan, bahkan bisa dibilang sama sekali tidak setuju dengan keputusan Tuan Arshlan.
Her tidak bisa membayangkan apa yang akan Nyonya Lana hadapi setelah ini, apakah gadis ingusan itu bisa melewati ujian awal dengan tanpa cela.. atau malah kalah karena dilema.
Sementara dari sisi Tuan Arshlan, Her lebih tidak mengerti lagi.
Mengapa Tuan Arshlan menolak bahagia dan memilih menyerah pada apa yang akan terjadi, tanpa berniat menggunakan semua kekuasaan yang ia punya.. yang bisa diibaratkan jika Tuan Arshlan menginginkannya.. maka sudah pasti pria itu bisa menyingkirkan apa saja yang mencoba menghalangi jalannya..
XXXXX
"Lana..!!"
"Ibu..?"
Tubuh Lana sontak terpaku begitu menyadari kehadiran sosok wanita paruh baya namun masih terlihat cantik itu telah menyongsong dirinya yang baru saja turun dari pintu mobil yang dibukakan oleh Asisten Jo.
"Lana, anakku.."
Tubuh Lana membeku, oleh pelukan yang tiba-tiba menyelimuti tubuhnya.
Rasanya sudah lama sekali, Lana bahkan lupa kapan terakhir kali Ibu memeluknya seperti ini.
"I-Ibu.. kenapa Ibu bisa berada disini..?" suara Lana sedikit tergeragap, begitu pelukan wanita itu terurai.
"Sudah tiga hari berturut-turut Ibu datang kesini setiap hari, berharap bisa menemuimu.."
Lana sedikit terhenyak mendengarnya.
"Ibu, mari.. sebaiknya kita bicara didalam saja.." pungkas Lana sambil menatap Asisten Jo yang masih berdiri dibelakang tubuhnya. "Asisten Jo, aku akan bicara dengan Ibu di ruang tamu.."
Asisten Jo terlihat mengangguk. "Silahkan Nyonya.." ucap pria itu sambil menunduk takjim.
Wanita itu.. dia adalah Marina, umurnya sebaya dengan Tuan Arshlan. Tapi tidak seperti Lana yang bersahaja.. penampilannya terlihat seperti seorang wanita sosialita.
Lana telah merangkul wanita bernama Marina itu dengan lembut, mengajaknya kedalam istana megah milik suaminya.
Dalam sekejap, semua pemandangan yang menyuguhkan segala kemegahan itu telah membuat sepasang mata Marina nyaris keluar dari cangkangnya..
Mulutnya pun ikut terbuka karena terkesima..
XXXXX
Lana masih menatap Marina tak percaya.
Sejujurnya jika yang dikatakan Marina benar, maka Lana sungguh senang mendengarnya. Tapi Lana tidak bisa percaya begitu saja pada apa yang telah ia dengar, setelah sekian lama ia tidak pernah bertemu dengan Ibu juga Ayahnya.
"Lana, Ibu tau kau pasti tidak percaya, tapi ibu bersungguh-sungguh, Ibu sudah tidak bersama Beno lagi."
Lana menghembuskan nafasnya sejenak.
"Lana, tolonglah Ibu. Saat ini Ibu benar-benar tidak punya uang sepeserpun.." Marina terlihat sangat murung dan terpekur.
"Bagaimana bisa, Bu..? bukankah karir Ibu sangat bagus di kantor pengacara yang terkenal itu..? Ibu masih bekerja disana kan..?"
"Ibu memang masih bekerja, tapi dua bulan terakhir ini bos Ibu menolak membayar gaji dengan alasan cicilan pinjaman Ibu yang begitu banyak. Lana percayalah, kali ini Ibu tidak berbohong.." tatapan Marina terlihat sangat memelas, membuat Lana semakin merasa iba.
Lana kembali menghempaskan nafasnya berat. Lana bahkan ikut bingung bagaimana caranya agar dirinya bisa membantu Ibu.
Memang secara kasat mata Lana adalah istri seorang Tuan Arshlan yang kaya raya. Rumahnya saja tak ubahnya seperti istana, dengan halaman yang luas serta garasi super besar yang didalamnya berjejer rapi puluhan mobil mentereng.
Suaminya bahkan punya banyak perusahaan, sebuah pulau.. yacht mewah, helikopter pribadi.. entah apa yang ada didunia ini yang tidak dimiliki seorang Tuan Arshlan, tapi tetap saja Lana hanyalah sebuah dermaga dimata pria itu.. yang jangan kan memiliki segalanya, Lana bahkan tidak diperkenankan memegang ponsel, atau hanya sekedar menonton film kartun di televisi.
"Lana, hanya kau yang bisa menolong Ibu. Beno telah menipu Ibu dengan mengambil alih semua aset yang Ibu miliki dan ayahmu tidak bisa membantu karena sama seperti kemalangan yang Ibu alami, sepertinya Mona juga telah membuat ayahmu bangkrut. Ayahmu pun terlilit hutang yang cukup banyak.. tapi dia malu mengadu padamu dan meminta pertolongan.."
Mendengar semua itu tanpa sadar air mata Lana menetes disudut telaga miliknya.
Betapa pun seumur hidupnya Lana bahkan lupa kapan dirinya diperlakukan dengan layak oleh Ayah dan Ibu, namun semua itu tidak bisa membutakan mata hatinya bahwa yang sedang menangis berurai air mata dihadapannya adalah ibunya, dan pria yang katanya sedang dilanda kebangkrutan hebat karena tipu daya wanita ular bernama Mona adalah ayahnya.
"Ibu, aku ingin sekali bisa berguna untuk kalian tapi aku tidak tau bagaimana caranya agar aku dapat meringankan semua persoalan..?"
"Kau punya suami yang kaya raya, Nak. Hal seperti ini tidak ada apa-apanya untuk Tuan Arshlan, suamimu itu." bisik Marina dengan intonasi membujuk.
"Tapi, Bu.."
"Mintalah kemurahan hati suamimu agar bisa membantu ayah dan ibumu ini, Nak.." Marina telah mengucapkan keinginannya tanpa malu-malu. "Ibu membutuhkan uang juga tempat tinggal untuk sementara, sedangkan Ayahmu membutuhkan modal untuk mengembalikan usahanya yang gulung tikar.."
"Ibu dengarkan aku dulu." pungkas Lana sambil balas meremas resah tangan Marina yang ada didalam genggamannya. "Ibu, terus terang aku malu jika harus meminta uang kepada Tuan Arshlan. Apalagi Ibu dan Ayah sebelum ini pun pernah meminta uang sebagai persetujuan saat menandatangani segala persuratan menikah tempo hari. Aku malu, Bu, aku juga tidak mau meminta-minta seperti itu.." Lana menggeleng berkali-kali.
Sungguh, Lana tak sanggup jika harus menengadahkan tangan demi uang. Apa nanti penilaian Tuan Arshlan kelak pada dirinya..?
Marina terpekur menerima penolakan Lana.
Lana benar. Robi dan dirinya memang pada waktu itu telah meminta uang lima puluh juta rupiah sebagai syarat agar mereka menandatangani surat persetujuan sebagai orang tua.
Sialnya mereka berdua tidak pernah menyangka jika Lana akan dinikahi oleh seorang Tuan Arshlan yang hebat, bukan pria muda yang datang dengan penampilan biasa-biasa saja tempo hari, yang dianggap mereka sebagai pria yang hendak menikahi Lana.
Kalau tau Lana akan dinikahi oleh seorang Tuan Arshlan sudah pasti bukan hanya uang lima puluh juta rupiah yang mereka minta, melainkan lima puluh milyar rupiah..!
"Maafkan Ibu dan Ayah, Lana. Saat itu kami menandatangani surat persetujuan karena hati kami sedang marah. Kami kecewa karena kau memilih memberontak, pergi dari rumah, memutuskan komunikasi, dan setelah itu seorang pria muda yang tak kami kenal tiba-tiba datang membawa lamaran.." imbuh Marina dengan tampang sendu.
Marina menatap Lana lagi dengan tatapan dalam.
"Lana apa kau tahu..? memang benar Tuan Arshlan menikahimu dengan persetujuan tertulis Ibu dan Ayah. Tapi kami berdua tidak menyangka kau akan dinikahi pria tua.."
"Ibu.."
"Lana, kau masih sangat muda, Nak.. tidak heran jika kau terlena dengan begitu mudah.."
"Tidak Ibu. Jangan bilang begitu." pungkas Lana serta-merta.
Marina ingin menyela namun urung, begitu menyaksikan kepala Lana yang telah menggeleng berkali-kali dengan tegas.
"Tuan Arshlan tidak pernah memaksaku untuk menikah dengannya, melainkan aku. Aku yang terus-menerus mengejar cinta Tuan Arshlan.."
...
Bersambung..
Vote dong.. votenya gak nambah-nambah, semangad mulai mengenduuurrr.. 🤪
Maafkan author remahan yang banyak maunya ini.. 😅 sori slow up, tapi author sedang berusaha memberikan yang terbaik. Terimakasih kalian semua.. 🤗