
Double up.
Sesuai janjiku untuk kalian π₯°
...
"Aaaarghh ... Florensiaaaa ..."
El melenguh panjang, sebelum akhirnya seluruh persendian tubuhnya seolah ingin terlepas satu-persatu, seiring dengan penglepasannya yang dashyat.
Tangan kanan El memutar full mata keran, agar kucuran air dari shower yang berada diatas kepalanya semakin kencang.
"Huhhfh ... huhhfh ..."
Nafas El terdengar ngos-ngosan, seolah habis lari marathon mengelilingi stadion raksasa sebanyak dua belas kali putaran sekaligus.
Meskipun pencapaiannya terasa kurang karena hanya sebatas pelampiasan solo yang didapat El lewat membayangkan tubuh Florensia yang meliuk ero tis, namun di sisi lain El bisa bernafas lega, karena pada akhirnya ia tidak sampai melakukan hal bejad yang telah mencegah dirinya menjadi seorang pria breng sek.
El menopang tubuhnya sejenak ke dinding kamar mandi. Lambat laun nafasnya yang semula memacu bak dikejar orang gila perlahan mulai mengendur, sampai akhirnya El memutuskan untuk memutar kembali mata keran guna menghentikan laju kucuran air dari shower.
Dengan tubuh terbalut bathrobe, El keluar dari kamar mandi.
El memutuskan untuk berpakaian terlebih dahulu sebelum kemudian mendekati ranjang. Ia tersenyum saat sepasang matanya mendapati tubuh Florensia, yang sedang bergelung nikmat dibawah selimut tebal.
Raut wajah menggemaskan milik Florensia yang berada diatas ranjangnya terlihat begitu polos ... sungguh pemandangan masa depan yang indah di pelupuk mata El.
Yah ... karena El sangat berharap, di masa depan saat Florensia benar-benar menjadi miliknya selamanya, El akan terus mendapati pemandangan dimana Florensia tergolek diatas ranjangnya seperti ini ... setiap malam ...
"Florensia, kau memang sangat polos seperti anak kucing. Usai membuatku nyaris gila menahan hasrat ... bisa-bisanya kau tertidur pulas seperti ini ..."
El bergumam perlahan, dan dengan langkah pasti ia telah membawa tubuhnya kedalam selimut yang sama.
Diraihnya tubuh Florensia yang terlelap agar masuk kedalam pelukannya yang nyaman.
El tersenyum saat mendapati lengan Florensia yang melingkari tubuhnya dengan serta merta.
Masih berada dibawah alam bawah sadar, kepala gadis itu pun kemudian ikut masuk kedalam dadanya ... semakin dalam ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
Florensia mengerjapkan sepasang matanya berkali-kali.
Suhu udara yang begitu dingin, ditambah dengan hembusan air conditioner yang juga sangat dingin membuat Florensia terjaga pada dini hari, mendahului sang mentari yang belum juga menampakkan diri.
"Jam berapa ini ...?"
Dengan perasaaan malas yang masih menyelimuti sekujur raga, ditambah dengan kepala yang terasa berat membuat Florensia ingin kembali memeluk guling, kalau saja hajatnya untuk buang air kecil tidak mendesak, seolah sudah berada diujung.
Mau tak mau, akhirnya Florensia pun beringsut turun dari ranjang dengan perlahan, namun entah kenapa lambat laun ia mulai menyadari perasaan janggal akan kamar yang ia tempati, seolah menjadi sebuah ruangan yang asing.
Tepat disaat kedua telapak kakinya menginjak permukaan lantai yang dingin, kali ini Florensia nyaris tidak bisa menguasai dirinya.
Untung saja dengan segera ia bisa membekap mulutnya sendiri guna menghambat laju teriakan terkejut yang hendak terlontar keluar dari mulut mungilnya, manakala lewat pantulan cermin besar ia melihat sosok pria bertubuh kekar yang tertidur pulas di atas sofa panjang.
'El ...?'
'Jadi aku berada dalam kamar EL ...?'
'Florensia ... Florensia ... bagaimana bisa kau berada di dalam kamar pria menyebalkan itu ...?'
'Seberapa nekad dan menyebalkan sikap El, El tidak mungkin sanggup menculik manusia sebesar dirimu, kalau tidak dirimu yang meyerahkan diri ...'
Mendadak kepala Florensia semakin pening, saat menyadari bahwa semalam ia telah mabuk akibat wine yang telah ia teguk berkali-kali.
'Bodoh ... Florensia bodoh ...!'
Tak henti-hentinya Florensia mengumpat dalam hati, saat mendapati kenyataan jika ia bahkan tidak mengingat sama sekali, apa yang telah terjadi sehingga ia bisa berada didalam kamar El, dan tidur dengan pulas diatas ranjang pria itu.
Perlahan namun pasti Florensia berjalan dengan cara berjinjit, masuk kedalam kamar mandi yang pintunya terletak di salah satu sudut kamar.
Rasanya sesegera mungkin, Florensia ingin membangunkan tubuh yang tertidur pulas itu, namun hajat kecilnya benar-benar tak tertahankan.
Florensia nekad masuk dan menggunakan kamar mandi El sekalian, sebelum meminta penjelasan El atas semua hal yang tak ia ingat sama sekali.
Tepat setelah urusan buang hajatnya usai, Florensia telah mendapati kenyataan lain, yang tak kalah mencengangkan.
Mendapati bahwa kini dirinya berdiri tepat didepan wastafel dengan cermin besar yang memenuhi sebagian besar dinding kamar mandi, dan Florensia baru menyadari jika tubuhnya saat ini telah terbalut piyama tidur miliknya yang berbahan cukup tipis dan ...
"Aaaaaahhh ...!"
Florensia terpekik tertahan, saat sepasang matanya menangkap pemandangan horor yang terpantul sempurna dari cermin yang ada didepannya.
"T-tidak ... aa ... apa ini ... tanda ini ... di sekujur tubuhku ... bahkan tanda serupa berada di area yang ..."
Sepasang mata Florensia bergerak nanar, dan amarahnya tersulut dengan begitu cepat, bak sebuah api yang telah disirami bensin dengan sengaja.
Florensia menerjang pintu kamar mandi dengan raut wajah yang dipenuhi gelegar amarah, hendak melabrak pria mesum diluar sana.
'Baji ngan tengil, kalau bukan dia yang melakukan semua ini ... lalu siapa lagi ...?!'
Amarah Florensia nyaris tak terbendung lagi.
Bunyi daun pintu yang terhempas kasar, sanggup membuat El yang tertidur diatas sofa sontak terjingkat.
"Florensia ...??"
El berusaha bangun sambil mengucek kedua matanya, pria itu bahkan masih sempat menguap.
"K-kau ... apa yang kau lakukan?! Katakan apa yang telah kau lakukan?!" telunjuk Florensia terlihat menuding lurus ke batang hidung El yang berusaha bangkit sempurna, giginya bahkan bergemeretak menahan geram.
"Flo, aku tidak melakukan apa-apa ..."
"Bohong!!"
Kecam Florensia yang berdiri tepat dihadapan El dengan tatapan dingin, menusuk, namun lambat laun kedua bola matanya mulai berkaca-kaca saat pikirannya semakin melanglang buana dengan liar, sibuk berprasangka buruk tentang apa yang telah dilakukan El disaat dirinya bahkan tidak bisa mengingat tentang apapun.
"Katakan El, s-siapa yang mengganti bajuku ... dengan piyama ini ...?" tanya Florensia dengan suara tersendat.
El menggelengkan kepalanya. "Mana aku tahu, Flo? Bukankah itu kau sendiri yang melakukannya? Aku tidak tahu, karena saat kau datang ke kamarku, kau sudah mengenakan piyama ini ..."
El berucap sungguh-sungguh, namun tentu saja ia berbohong.
Pada kenyataannya, semalam El telah mengendap-endap kedalam kamar Florensia, hanya demi mengambil sebuah baju tidur wanita itu, sekaligus menaruh blouse dan celana denim yang awalnya dikenakan oleh Florensia ke sudut kamar.
Semua itu sengaja dilakukan El untuk menghilangkan jejak, dikarenakan El telah kesulitan memakaikan kembali pakaian berukuran ketat tersebut ke tubuh Florensia.
El bangkit dari atas sofa panjang, berdiri tepat dihadapan Florensia dengan wajah yang terlihat kusut masai.
Dibalik amarahnya yang meluap-luap Florensia tak bisa menahan diri untuk menelan ludahnya sendiri, manakala menyadari pria dihadapannya berdiri tegap tepat didepan hidungnya dengan bertelan jang dada, seolah sengaja memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang liat, yang terpampang nyata dan begitu indah.
'Otak ... kemana perginya otakku? Ya ampun mataku ... mataku oh my God ... mataku kenapa tidak bisa beralih dari semua ini?'
'Terlalu indah ... aku tidak mau berpaling ...'
'Astaga Florensia ... kau ini sedang memikirkan apa ...??'
Bathin Florensia bertengkar hebat didalam sana, namun sepasang matanya tetap tak mampu beralih, sibuk menjelajahi seluruh ruas tubuh dengan perut yang bergelombang ... sampai ketika ia telah menyadari sesuatu yang aneh juga terlihat menghiasi beberapa permukaan kulit El yang putih.
"I-itu ... i-itu ..." Florensia tergeragap. Telunjuknya yang tadinya terarah bertenaga ke ujung hidung mancung milik El, kini terlihat gemetar.
El menundukkan wajahnya, seolah ingin mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud oleh Florensia, yang ternyata merupakan jejak kepemilikan yang El dapatkan semalam, dari wanita yang sedang mengarahkan jari telunjuk kearahnya.
"K-katakan, El ... k-kenapa itu ... itu ..."
"Digigit serangga."
"Appa ...?!"
Florensia terpekik sambil membekap mulutnya sendiri. Ia menggeleng berkali-kali mendengar jawaban El yang terdengar santai, saat menanggapi rasa ingin tahunya akan tanda merah keunguan yang menghiasi beberapa bagian tubuh El, yang kelihatannya sama persis dengan yang ada di beberapa bagian tubuhnya.
"Kenapa? Apa tubuhmu juga digigit serangga ...?" tanya El kalem, sambil mengusap-usap permukaan kulitnya, dengan kedua jemarinya yang lebar.
Florensia membuang wajahnya yang bersemu merah.
"Wah, yang melakukannya pastilah serangga jantan ..."
Florensia melotot kearah El yang malah terkekeh.
"Ranch ini terletak diluar kota, dan dikelilingi oleh bukit-bukit kecil dan hutan yang terus dilestarikan oleh keluarga Arshlan. Wajar jika masih banyak serangga yang berkeliaran di malam hari, sehingga mereka bisa mengigitmu dan ..."
"Iya, aku mengerti." pungkas Florensia dengan wajahnya yang semakin bersemu.
Sungguh mati Florensia benar-benar tak menyangka, jika ternyata tubuh El juga mengalami hal yang serupa seperti dirinya, padahal sejak awal Florensia telah mencurigai El sedemikian rupa.
Jejak-jejak yang aneh ... yang ternyata hasil perbuatan serangga yang nakal!
Sementara El nyaris tidak bisa menahan tawanya, saat menyadari betapa mudahnya ia mengelabui Florensia.
"Dasar wanita yang polos ...!"
El malah menjadi semakin gemas.
Bagaimana bisa Florensia percaya begitu saja, jika jejak kenakalan El dipermukaan tubuhnya adalah hasil maha karya serangga jantan yang nakal?
Mendadak serpihan adegan semalam kembali menari-nari dibenak El.
Sungguh panas.
Saking panasnya El bahkan nyaris melanggar batasannya, kalau saja rasa sayang yang tulus dan hasrat yang tak ingin merusak wanita yang ia sayangi tidak serta merta menguasai jiwanya, mungkin pagi ini ... sudah pasti Florensia akan membencinya seumur hidup wanita itu!
'Beruntungnya aku memiliki tanda yang sama diatas tubuhku ini, karena kalau tidak ... entah bagaimana nasibku ...'
Dalam diam El tersenyum penuh kemenangan, sambil terus mengusap beberapa jejak berwarna merah keunguan yang tertera diatas permukaan kulitnya ... yang merupakan hasil mahakarya serangga betina, yang tak kalah nakal ...!
...
Bersambung ...
Jangan lupa di support yah ... π₯°