
Sesungguhnya Marina tidak berbohong, saat mengatakan bahwa semua rencana yang terjadi pada empat tahun yang lalu perihal dua koper uang tersebut.
Pada kenyataannya rencana Marina sudah jelas-jelas bukanlah seperti itu karena Marina dan Beno bahkan telah menyusun rencana lain yang jauh lebih spektakuler.
Marina ingin menggoda Arshlan dan mendapatkan perhatian pria mata keranjang yang terkenal sebagai pemain cinta yang ulung itu. Menjebaknya dalam sebuah skandal, dan dengan cara itu dirinya dan Beno berharap bisa mendapatkan kenyamanan hidup sepanjang hayat.
Namun sialnya pemikiran Robi malah tidak sejalan. Robi meragukan rencana Marina juga kemampuan mantan istrinya yang sejujurnya memang masih cukup cantik untuk bisa menggoda pria sekelas Tuan Arshlan.
Cihh... apa Robi tidak bisa melihat? Tuan Arshlan bahkan bisa bersama wanita tanpa terkecuali. Dan jika wanita bodoh tanpa kelebihan berarti seperti putri mereka Lana saja bisa membuat Tuan Arshlan terpesona, Marina menjadi yakin seribu persen bahwa hal yang sama juga akan berlaku pada dirinya.
Saat ini Robi telah tiada, dan Marina kembali datang dengan tekad yang sama, serta rencana keji yang tersusun rapi dan lebih matang.
"Ibu..."
Marina yang sejak tadi duduk menunggu diteras depan langsung mengangkat wajahnya begitu melihat Lana telah muncul kembali dari dalam rumah.
Senyum Marina terkembang sempurna saat menyadari Lana datang kembali dengan seulas senyum, dan lebih terkesima lagi saat menyadari kehadiran Lana yang kini tidak sendirian.
Ditangan kanan dan kiri Lana, masing-masing menggenggam jemari mungil dari kedua bocah tampan dengan garis wajah yang bak duplikat seorang Tuan Arshlan. Wajah keduanya terlihat serupa, hanya kulit mereka yang menjadi pembeda yang teramat kentara.
Leo, bocah berkulit eksotis yang tangan mungilnya berada didalam genggaman tangan kanan Lana nampak memperhatikan Marina dengan seksama tanpa berkedip, namun gestur tubuhnya terus bergerak kesana-kemari seolah ingin mencari celah meloloskan diri dari genggaman erat Lana.
Berbeda dengan Luiz, bocah berkulit putih pucat yang tangan mungilnya berada didalam genggaman tangan kiri Lana hanya menatap Marina sesaat dengan wajahnya yang terlihat dingin, serta pandangannya yang menusuk setajam pisau.
Tubuh Luiz berdiri tegak nyaris tanpa gerakan berarti, namun kemudian Marina nyaris tersedak saat mendapati kenyataan... bahwa didetik berikutnya, bocah berkulit putih pucat itu telah berani melengos acuh, tepat disaat mendapati senyum Marina yang tersungging untuknya... mencoba bersikap ramah...
🍄🍄🍄🍄🍄
"Ibu, ini Luiz dan ini Leo..."
Wajah Marina bersinar mendapati dua bocah tampan yang salah satunya telah membuat jantungnya nyaris meloncat dari tempatnya, saking tidak menyangka jika bocah sekecil itu mampu melengos acuh dihadapannya.
"Luiz... Leo... ayo sapalah grandma dengan ramah..." ucap Lana sambil berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan tinggi kedua bocah itu.
"Halo, grandma, aku Leo..." ujar Leo dengan ekspresi yang terlihat lucu dan ramah.
Meskipun terkesan sedikit hyperaktif dan tidak bisa diam, namun sikap Leo terlihat sangat berkarakter diusianya yang baru berumur empat tahun.
Semuanya terpancar jelas saat Leo menyapa dan menyambut uluran tangan Marina yang kemudian membawa jemari mungil Leo untuk dikecup.
"Halo juga, Leo, senang bertemu denganmu, sayang..." balas Marina dengan ramah.
Kemudian pandangan Marina kembali beralih kearah bocah yang satunya lagi, yang seolah tak peduli sama sekali dengan kehadirannya.
Lana menatap Luiz yang diam saja, hanya menatap lekat wajah Marina tanpa ekspresi dan tanpa kata.
"Luiz..." tegur Lana perlahan. "Sapalah grandma, sayang..."
"Halo... grandma..." terlihat berucap enggan, begitu Lana menyentuh pucuk kepalanya.
"Halo juga Luiz sayang... kemarilah dengan grandma." Marina meraup kedua tubuh mungil milik Luiz dan Leo secara bersamaan. "Grandma sangat senang bisa memeluk kalian seperti ini. Lalu bagaimana dengan kalian...? apa kalian juga senang bisa bertemu grandma...?"
"Aku senang, ternyata aku juga punya grandma seperti Clara," Leo berucap spontan, sambil menyebut nama Clara yang merupakan teman sekelas dirinya dan Luiz di taman bermain.
Namun berbeda dengan Leo, diluar dugaan Luiz malah menggelengkan kepalanya, bocah berkulit pucat itu bahkan dengan sengaja berusaha mengurai tubuh mungilnya dari pelukan Marina, seolah tak ingin disentuh.
Tak peduli dengan penolakan Luiz yang telah membuatnya terhenyak, Marina tetap memantapkan tekadnya untuk menaklukan hati kedua bocah yang sudah pasti merupakan harta berharga seorang Tuan Arshlan.
"Kemarilah, sayang, berikan ciuman untuk grandma..."
"No...!"
Bukan hanya Marina, sepasang mata Lana bahkan ikut terbelalak mendengar penolakan keras Luiz.
"Luiz..."
"Luiz...?"
"Sudahlah Lana, tidak apa-apa. Luiz benar, aku adalah orang baru untuk mereka berdua..." lerai Marina.
"M-maaf bu, Luiz memang seperti ini, tolong ibu memakluminya karena mereka juga masih kecil..." Lana menyeringai salah tingkah kearah Marina, yang meskipun berkata 'tidak apa-apa' namun terlihat jelas raut kagetnya atas sikap dingin Luiz.
"Sudahlah... tidak apa-apa, Lana, tidak perlu sungkan. Aku memahami mereka masih kecil, dan aku pun sudah cukup senang karena pada akhirnya aku bisa melihat bahkan menyentuh Luiz dan Leo sampai sedekat ini."
Lana mengangguk sambil bangkit perlahan. "Sesuai janjiku kepada ibu, aku telah menelpon Arshlan. Awalnya Arshlan memang keberatan, namun pada akhirnya dia mau mengerti dan mau memberikan ibu kesempatan..."
"Sudah kuduga, menantuku adalah yang terbaik." pungkas Marina dengan wajah berbinar.
Akhirnya Marina bisa bernafas lega, saat menyadari Lana kembali bisa membujuk Tuan Arshlan perihal keberadaannya yang kali ini sedang membawa sebuah misi yang menurutnya anti gagal.
"Bu, aku berharap ibu bisa mempergunakan kesempatan yang diberikan suamiku dengan sebaik-baiknya. Dan aku... aku juga tidak ingin kembali kecewa..."
"Lana percayalah, kali ini ibu bersumpah tidak akan pernah lagi mengecewakanmu..."
Lana menatap lekat wajah Marina yang bersuka cita, dalam hati ia pun sedang berusaha keras untuk memberikan kesempatan.
Lana sangat ingin mempercayai Marina. Namun jika Marina kembali mencederai kepercayaannya, sepertinya pintu hatinya pun bisa tertutup sempurna meskipun hanya untuk sebuah kata 'maaf'.
"Mommy, bolehkah aku pergi bermain...?"
Suara datar Luiz memecah keheningan diantara sepasang mata Lana dan Marina yang saling menatap seolah sedang menguji sejauh mana batas kejujuran dan sandiwara diantaranya.
Saat Lana menunduk guna mendapati Luiz yang sedang menengadah menunggu persetujuan Lana, senyum Lana pun terkembang sempurna.
"Pergilah bermain dengan suster..." ujar Lana lembut, sambil memberi kode kedua suster yang bertugas menjaga keseharian Luiz dan Leo, yang berdiri tak jauh darisana.
Luiz pun melenggang acuh saat Lana melepaskan genggaman ditangannya. Jangankan berpamitan dengan sopan, sedikitpun bocah itu tidak menoleh kearah Marina yang masih saja tercengang mendapati sifat datar Luiz.
"Mommy, aku juga ingin bermain bersama Luiz..." rengek Leo meminta ijin Lana.
"Pergilah sayang..."
"Leo, apakah kau tidak ingin memberikan grandma sebuah ciuman...?" rayu Marina sambil membungkuk kearah Leo, saat mengingat kembali keinginannya untuk mendapatkan sedikit cinta dari kedua putra Tuan Arshlan yang tadinya sempat teralihkan akibat penolakan Luiz.
"Not again."
"A-appa...?" Marina terbelalak mendengar jawaban spontan Leo, yang kini ikut-ikutan menolaknya.
"Karena Luiz telah menolakmu, maka aku juga." ucapan Leo meluncur tegas lewat mimik wajahnya yang super polos.
"Ta... tapi..."
"Sorry grandma..."
Usai berucap demikian Leo telah berlari menjauh, menyusul saudara kembarnya yang telah berlalu terlebih dahulu...
Meninggalkan Marina yang kembali terhenyak...
Dan Lana yang hanya bisa menepuk jidatnya yang pening mendadak...
....
Bersambung...
Vote dong akaaaak... sambil kasih jempol, bunga sama kopi... ahahhaha... 😅😅😅