
"Kau tenang saja, Luiz, besok pagi aku pasti akan menyusul. Sampaikan salamku kepada mommy dan daddy ..."
Luiz tersenyum kecut menatap wajah Leo yang masih betah dengan senyumnya yang lebar.
"Leo, kau jangan main-main. Besok kalau kau tidak muncul lagi, aku bersumpah akan membuat perhitungan denganmu." kecam Luiz yang dihadiahi Leo dengan mengangkat dua jempolnya sekaligus. Terlihat begitu yakin, namun dimata Luiz justru sebaliknya ... tidak bisa dipercaya!
"Dasha, kau jangan nakal yah. Ingat baik-baik, jika terjadi sesuatu denganmu disepanjang perjalanan, tidak ada diriku yang bisa menolongmu ..." ucap Leo sambil mengacak poni milik Dasha yang terlihat menggemaskan. Tentu saja gadis itu langsung mengelak menerima perlakuan Leo yang sangat suka mengacak rambutnya itu.
"Tuan Leo, jangan mengacaukan rambutku ..."
"Suruh siapa kau menggemaskan seperti ini ..." Leo sontak nekad menarik ujung rambut Dasha yang dikuncir dua, membuat gadis cilik itu berteriak karena sedikit kesakitan.
"Aaaa ...!"
Plak ...!
Sebuah tamparan di punggung tangan Leo membuat Leo tekejut, refleks melepaskan rambut Dasha yang semula berada didalam genggaman tangannya.
"Berhenti bermain-main. Dan kau ..." tunjuk Luiz kearah Dasha yang langsung memasukkan lidahnya yang terciduk, sedang mengejek Leo terang-terangan karena mendapat omelan dari Luiz.
Luiz menggelengkan kepalanya berkali-kali memergoki adegan dua makhluk absurd didepan hidungnya yang setiap kali berjumpa pasti ada saja kelakuan mereka yang membuat kepala Luiz semakin pusing.
"Dasha, cepat masuk ke mobil."
Tanpa menunggu lebih lama gadis itu langsung melompat lebih dahulu kedalam mobil Luiz.
"Leo ..." ucap Luiz sambil menatap Leo yang langsung terdiam. "Jika sampai jam sepuluh besok pagi, aku tidak melihat batang hidungmu di ranch, maka ..."
"Tidak perlu mengancamku seperti itu. Aku kan sudah berjanji akan datang. Pergilah ... mommy dan daddy sudah menunggu kalian. Pergi sana ... sana ... he ... he ... he ..." Leo terkekeh saat berusaha keras mendorong punggung kekar Luiz untuk masuk kedalam mobilnya sendiri, menghindari ancaman saudara kembarnya yang sejauh ini tidak pernah main-main.
Leo memang harus memikirkan seribu satu cara untuk menghindari Luiz malam ini. Karena terhitung sejak tadi, sejak pembicaraan dirinya dengan Victoria telah menemukan titik kesepakatan untuk menjalin hubungan FWB alias Friend With Benefit, Leo merasa dirinya sungguh tidak sabar lagi kembali mengulang percintaan yang menggelora dengan Victoria.
Malam ini Leo terlanjur berjanji untuk menghabiskan sepanjang malam bersama wanita itu, sehingga ia harus mati-matian mencari cara dan alasan agar bisa menghindar sekaligus meyakini Luiz yang menginginkan dirinya menghabiskan malam di ranch.
Leo harus mengakui bahwa Victoria memang sangatlah cantik. Kepribadian Victoria yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi pun membuat wanita itu terasa semakin menarik dimata pria manapun tak terkecuali Leo.
Tapi sayangnya, sejak awal Leo memang tidak pernah berniat untuk menjalin hubungan serius dengan wanita manapun, dan semua itu sudah menjadi sesuatu yang ibaratnya sebuah ketetapan hati.
"Dagh, selamat bersenang-senang, bye Dasha yang cantik ..." Leo melambaikan tangannya dengan penuh semangat kearah Dasha yang telah berada didalam mobil Luiz.
"Bye Tuan Leo idolaku ..."
"Cihh ...!"
Luiz membuang muka mendapati adegan manis antara Leo dan Dasha setelah sesaat yang lalu mereka nyaris bergelut.
"Jalankan mobilnya, Pak ..." titah Luiz dingin kearah sopir yang berada didepan, berusaha menutup mata dan telinga melihat keakraban Leo dan Dasha yang saling melambaikan tangan dengan akrab satu sama lain.
'Dasar sepasang manusia aneh ...'
Rutuk Luiz sambil menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi, mencoba memejamkan matanya.
"Tuan, pasti rasanya sangat menyenangkan yah mempunyai saudara kembar seperti Tuan Leo. Tuan Leo sangat suka bercanda, pintar bergaul, tampan, populer ... saking baiknya, Tuan Leo sering sekali memberikan aku hadiah. Kemarin Tuan Leo bahkan memberikan aku hadiah spesial ..."
Dasha merasa tidak sia-sia dirinya bercerocos sesuka hati, karena pada akhirnya, mau tak mau Luiz terpancing juga untuk melirik Dasha meskipun sekilas.
"Hadiah spesial?" tanya Luiz dengan sebelah alis terangkat.
"Hhhmm ..."
"Hadiah spesial apa?" usut pria itu lagi, masih dengan posisi tubuhnya yang bersandar malas disandaran kursi.
"Oyen." jawab Dasha polos, namun senyumnya dipenuhi kebahagiaan.
"Cihh ..." Luiz kembali memejamkan matanya acuh, saat menyadari maksud dari hadiah spesial yang diberikan Leo untuk Dasha, tak lain adalah seekor kucing gemuk berwarna oranges, yang setiap kali melihat kehadiran Luiz pasti akan bertingkah manja dengan menyelusup diantara kedua kaki Luiz, seolah sengaja mencari perhatian.
"Lalu aku? kau anggap aku apa?" mata Luiz terbuka lagi, kali ini dengan lirikan yang lebih tajam. "Aku yang mengurus semua kebutuhanmu, mengawasi pendidikanmu, juga pergaulanmu. Kalau hanya dengan memberikan seeokor kucing gemuk dan kau menganggap Leo lebih baik dari diriku, maka besok aku akan memberikanmu hadiah seekor anak harimau, spesial untukmu...!"
"A-appa?" sepasang mata Dasha membeliak.
"Ada apa? kenapa terkejut? kau sangat suka diberikan hadiah, kan?"
"T-tapi ... seekor anak harimau ..."
"Iya. Seekor anak harimau, hadiah spesialku khusus untuk dirimu." kalimat Luiz semakin dingin.
"T-Tuan Luiz, kau ... kau hanya bercanda, kan? kau... tidak sungguh-sungguh mengatakannya kan?"
"Apa kau pernah melihatku bercanda?"
"Tapi aku tidak mau seekor anak harimau. Aku takut digigit. Tidak ... tidak ... dia bukan hanya akan menggigit. Suatu saat, semakin hari dia akan semakin besar, dia juga bisa memakanku ...!"
Dalam hati Luiz tertawa memdengar kepanikan Dasha. "Jadi kau tidak mau aku beri hadiah yang lebih spesial?"
"Tidak. aku hanya mau Oyen, karena dia tidak akan pernah menjadi besar dan balik memakanku, meskipun dia makan banyak setiap hari."
"Baiklah, kau memang pantas memelihara Oyen karena kalian berdua sama saja. Sama-sama hyperaktif dan suka mencari perhatian. Kau juga mirip Oyen, yang selalu makan banyak setiap hari. Bedanya tubuh Oyen yang gemuk terlihat jauh lebih baik dari tubuhmu yang kecil dan kurus."
Luiz berucap demikian sambil menahan tawanya agar tidak pecah berderai. Terlebih saat menyaksikan wajah ketakutan milik Dasha yang masih terekam dengan jelas diwajahnya, saat membayangkan akan dihadiahi seekor anak harimau.
"Ya sudah, kalau tidak mau. Tapi kau jangan bilang bahwa aku tidak pernah mau memberikanmu apa-apa. Aku ingin memberikanmu sesuatu yang spesial, tapi justru kau yang menolaknya."
Luiz berucap cuek sambil kembali membawa tubuhnya bersandar nyaman, memejamkan matanya dengan senyum penuh kemenangan.
Kali ini Luiz merasa yakin, bahwa Dasha pasti akan berpikir dua kali untuk kembali mengusik istirahatnya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Baru beberapa jenak lamanya Luiz memejamkan mata, Luiz merasakan pipinya seperti ditusuk dengan sengaja beberapa kali.
"Tuan ... Tuan ..."
"Hhmm ..."
"Tuaaaannn ... aaaahh ...!"
Dasha terpekik manakala jari telunjuknya yang kembali mencoba menusuk pipi Luiz telah ditangkap dengan sigap oleh tangan besar Luiz.
"Apa yang kau lakukan ...?!"
"Tuan, aku ingin buang air kecil." bisik Dasha dengan wajah meringis.
"Apa? astaga Dasha, kenapa saat masih dikantorku kau tidak pergi ke toilet sebelumnya?"
"Karena, waktu itu aku belum merasakan apa-apa, Tuan." kilah Dasha dengan wajahnya yang tanpa dosa.
"Haihh ...!"
"Tuan, jangan marah, ini kan panggilan alam ..."
"Bisa-bisanya sekarang kau menyalahkan alam!!" semprot Luiz semakin dongkol.
Namun meskipun dongkol, pada akhirnya Luiz tetap menyingkirkan kekesalannya dan berucap kepada sang sopir yang berada dibelakang kemudi...
"Didepan ada pom bensin. Tolong singgah sebentar, karena biasanya ada toilet disana ..."
...
Bersambung ...