
"*Baiklah, a**ku akan memberi Marina kesempatan terakhir. Tapi sebelum itu*, aku ingin kita menyepakati sesuatu terlebih dahulu..."
...
"Ibu memahami bahwa niat Tuan Arshlan sungguh baik. Tapi Lana, tolong mengertilah... saat ini ibu benar-benar merasa tidak bisa menerima pemberian Tuan Arshlan jika dengan syarat seperti itu..."
Kalimat Marina mampu membuat lamunan Lana tentang sepenggal kalimat Arshlan telah menguar.
Sebelum Arshlan membiarkan Lana melangkah keluar dari mobil sementara Arshlan memilih pergi lagi dengan mobil yang sama, suaminya itu memang telah mengatakan sesuatu yang membuat bathin Lana resah bergejolak.
Pada awalnya Lana merasa sangat senang menyadari Arshlan akhirnya setuju memberikan Lana kesempatan untuk menunjukkan sebesar apa Marina ingin berubah. Namun pada akhirnya semua yang diungkapkan pria itu kemudian malah membuat Lana gelisah. Lana takut jika pada akhirnya justru dirinyalah yang terlalu naif karena terus berusaha mempercayai Marina tanpa pamrih.
Lana tidak tau apa yang diinginkan Arshlan, Lana juga tidak tau apa yang sedang ingin dibuktikan pria itu. Yang Lana ketahui hanyalah satu hal, bahwa Arshlan sama sekali tidak menyukai kehadiran Marina, namun pria itu memilih mengalah demi dirinya.
"Seharusnya ibu tidak perlu sesungkan itu. Arshlan sudah mengatakannya bahwa dia kembali memberikan uang, karena semata-mata aku yang memintanya."
"Iya, Lana, tapi memberi syarat bahwa setelah itu ibu tidak bisa bertemu dan menghubungimu lagi..."
Mengambang. Marina terlihat terpekur dihadapan Lana, kemudian bahunya berguncang.
"Ibu maafkan sikap suamiku. Tapi Arshlan melakukan semua itu karena dia tidak ingin aku dikecewakan..."
"Ibu memang telah mengecewakanmu. Tapi bukankah kita telah membicarakan hal ini? empat tahun yang lalu ibu terpaksa melakukan semua itu karena desakan ayahmu Robi juga ancaman Beno..."
"Ayah telah tiada, apakah kita harus kembali membahas hal yang sama...?" pungkas Lana dengan nada enggan.
"Ibu tau. Tapi kenyataannya memang ayahmu yang telah memaksa ibu untuk memilih uang ketimbang dirimu. Saat itu ayahmu iri karena ibu bahkan bisa hidup bersama denganmu dirumah ini, dan dalam waktu singkat hubungan kita juga membaik. Ayahmu mencurigai bahwa ibu akan memonopoli dirimu selagi ia tidak punya alasan untuk mendekatimu..."
"Hentikan, bu. Sudah cukup." Lana telah menutup telinganya rapat-rapat.
Marina yang melihat kesedihan Lana itu memilih beringsut dan memeluk tubuh Lana dengan erat.
"Maaf.. maafkan ibu, Lana... ibu tidak bermaksud menyakiti hatimu. Tolong percayalah pada ibu, untuk yang terakhir kalinya..."
Marina menyentuh kedua tangan Lana hingga akhirnya terkulai dipangkuannya. Sepasang matanya menatap Lana penuh permohonan.
"Lana, baiklah... tidak mengapa jika suamimu tidak bisa membantu ibu untuk mengambil alih toko mendiang ayahmu..."
"Arshlan bukan tidak ingin membantu ibu, tapi kata Arshlan, ibu tidak punya hak lagi atas toko itu. Suka atau tidak suka, pada kenyataannya ayah dan Mona telah menikah, Mona berhak atas apa yang menjadi hak ayah dimasa hidupnya..."
"Baik, ibu mengerti. Tak mengapa jika ibu memang tidak berhak, tapi bukan berarti suamimu bisa melemparkan uang dan menyuruh ibu menjauh. Tidak Lana, tidak... ibu tidak ingin lagi hidup menjauh darimu..."
"Tapi bukankah ibu berniat tinggal diluar negeri?"
"Ibu berubah pikiran..."
Marina menatap Lana dengan tatapannya yang lekat.
"Tapi Arshlan akan marah kalau ibu memaksakan keinginan ibu mengenai si kembar..." ucap Lana dengan wajahnya yang panik saat mendengar Marina yang juga menyebutkan keinginannya untuk mendekati Luiz dan Leo.
"Lana, bagaimana bisa kau begitu tega? ibu hanya menginginkan hal yang sederhana, yakni bisa bertemu dirimu juga Luiz dan Leo. Sebulan sekali tidak mengapa... tapi jangan suruh ibu menjauh! kalau suamimu marah karena hal itu... maka suruh saja dia mengambil nyawa ibu sekalian..!"
"Ibu..!!"
"Kau juga seorang ibu. Bagaimana rasanya jika hari ini kau dijauhkan dengan anakmu sendiri...? apakah kau bisa?"
Bibir Lana kelu mendapati kalimat Marina yang begitu telak.
Tidak. Tentu saja tidak bisa.
Melakukan perjalanan honeymoon selama tiga hari dengan Arshlan saja telah membuat kerinduannya pada Luiz dan Leo tak terbendung.
Lana tidak sanggup membayangkan jika dirinya akan dijauhkan dengan Luiz dan Leo. Itu bagi Lana sudah seperti kehilangan nyawanya sendiri!
Lana mengusap wajahnya frustasi, sementara tangis Marina telah pecah begitu saja tepat dihadapannya.
"Hu... hu... hu... Lana, bagaimana mungkin kau sekejam itu kepada ibu? ibu hanya ingin bisa bertemu dirimu juga cucu ibu, tolong berikan ibu kesempatan..." tangis Marina terdengar begitu pilu.
Lana membeku, mulutnya tak bisa berkata apa-apa, namun ia tak bisa memungkiri jika disudut hatinya ia telah merasa iba.
Untuk sesaat Lana hanya mematung, sambil menatap lekat sosok Marina yang terlihat sangat kacau.
Empat tahun yang lalu, sesaat sebelum ia menemukan kesadarannya setelah dirinya koma berbulan-bulan lamanya, Lana pernah mengalami sebuah kejadian spiritual yang aneh, seperti mimpi namun terasa begitu nyata.
Saat itu Lana telah bertemu sepasang suami-istri disebuah padang ilalang yang maha luas, yang dalam keadaan bawah sadarnya telah ia yakini sebagai ayah dan ibunya. Mereka berdualah yang kemudian menuntun Lana untuk kembali pulang.
Kembali pulang kedalam pelukan Arshlan, serta kedua bayi lelaki kembar yang telah ia kandung dan ia lahirkan disaat dirinya sedang tertidur panjang.
Hingga detik ini ingatan tentang sepasang suami-istri itu terus melekat dalam pikiran Lana, membuat dirinya diam-diam telah meragukan Robi dan Marina sebagai orang tua kandungnya.
Namun meskipun demikian Lana tetap tidak bisa mengacuhkan Robi dan Marina begitu saja. Sekalipun mereka bukanlah kedua orang tuanya, namun seumur hidup Lana telah menganggap keduanya sebagai ayah dan ibunya.
Tak peduli seberapa sering fisik dan hatinya disakiti oleh Robi dan Marina, namun tetap saja hati Lana menolak untuk membenci.
"Ibu, tolong kendalikan dirimu." Lana menarik nafasnya berat. "Begini saja, ibu, beri aku waktu untuk membicarakannya dengan Arshlan..."
"Rasanya percuma..."
"Aku akan mencobanya. Aku berjanji akan berusaha membujuknya, jadi aku mohon ibu bisa bekerja sama, dengan cara mengendalikan diri ibu, begitupun emosi dan sikap, ibu. Jika ibu bisa melakukannya dengan baik, kelak hal itu juga yang akan memudahkan aku untuk melembutkan hati Arshlan..."
...
Next... tapi jangan lupa jempol dan supportnya... 🤗