
Jangan lupa LIKE dulu bab sebelumnya yah 🤗
"Ending yang indah untuk keluarga Arshlan. Bagaimana menurutmu?"
El berucap seraya menatap Florensia sambil senyam-senyum.
Pria itu baru saja mengalihkan tatapannya dari layar televisi.
Disana sebuah acara infotainment, sedang menayangkan pembahasan dan serba-serbi yang terjadi pada konfrensi pers keluarga Arshlan, yang dihadiri langsung oleh Tuan Arshlan sendiri bersama dua putra kembarnya, Luiz dan Leo.
El boleh bernapas lega atas semuanya, karena dalam konfrensi pers tersebut bukan hanya status hubungan Leo dan Victoria yang terkuak, namun Tuan Arshlan juga telah mengungkapkan kabar bahagia yang tak kalah mencengangkan, tentang status Luiz yang juga akan menikah dalam waktu dekat, dengan Dasha ... dan bukan Florensia!
El merasa semakin lega, karena semua itu dengan sendirinya telah menutup kemungkinan bagi Florensia, untuk terus bersandiwara akan hubungannya dengan Luiz.
El memang sudah menduganya sejak awal, bahwa hubungan Luiz dan Florensia hanyalah sebuah setingan, alias fiktif belaka. Hanya saja Florensia terlalu keras kepala sehingga terus saja menolak berucap jujur.
"Hhmm." Florensia hanya berdehem singkat, sementara matanya masih mengawasi layar datar dari televisi miliknya.
Sebenarnya Florensia tidak terlalu tertarik dengan tayangan infotainment tersebut, karena ia sendiri telah mengetahui dengan jelas seluk-beluk keluarga Arshlan sebelum publik mengetahuinya.
Namun demi menghindari kegugupan yang selalu melanda setiap kali berada begitu dekat dengan El, Florensia tetap memilih menatap layar televisi daripada harus menoleh ke wajah tampan pria itu.
"By the way ... sepertinya lukamu semakin membaik." ucap El mengalihkan pembicaraan dengan luwes, seolah tak pernah menyadari keengganan Florensia setiap kali mereka berada pada jarak yang sedemikian dekat ... seperti saat ini.
El terlihat mengawasi kedua lutut Florensia dengan seksama.
Florensia hanya mengangguk perlahan. Ia pun mengakui bahwa El berkata benar.
Luka lecet yang menghiasi kedua lututnya memang telah sembuh dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, dan semua itu diam-diam membuat Florensia alih-alih bahagia, melainkan justru merasa sedih.
Bukan apa-apa, karena kesembuhan Florensia bak sebuah signal, bahwa jika dirinya sembuh maka itu artinya sudah waktunya El pergi, setelah nyaris seminggu Florensia telah terbiasa dengan kehadiran pria itu disekitarnya, yang kerap membantunya untuk melakukan semua hal.
"Malah melamun ..."
Tegur El sambil tersenyum kearah Florensia, seraya mengacak gemas rambut wanita itu.
"Siapa yang melamun ..." desis Florensia sembari membuang wajahnya, terlebih saat menyadari El yang duduk begitu dekat dengannya ditepian ranjang, terus mengawasinya lekat.
"Raut wajahmu terlihat sedih ..."
"Kata siapa?"
"Kataku, barusan ..."
Florensia melotot mendapati jawaban nyeleneh itu, namun El malah terkekeh menanggapi pelototan Florensia.
"Kau pasti sedih karena aku akan segera pergi kalau kau sembuh. Iya kan?"
Lagi-lagi Florensia melotot menanggapi ucapan yang penuh percaya diri dari mulut pria itu.
"Ge-er ..." desis Florensia dengan bibir mencebik.
"Tapi aku benar kan?"
"Idiihh ... over confidence ..."
El tidak merasa perlu untuk menanggapi, melainkan terus tersenyum penuh makna, membuat Florensia merasa sekujur wajahnya terasa panas karena salah tingkah.
"Jangan khawatir, kalau kau sembuh aku justru akan mengajakmu bertemu seorang wanita istimewa."
"Wanita istimewa ...? Siapa yang kau maksud ...? Kekasihmu ya ...?"
El terkekeh lagi. "Bukankah kekasihku itu dirimu ...?" ujarnya tanpa dosa, kembali dihadiahi pelototan kesal Florensia, namun dengan pipi yang semakin merona, membuat El senang melihatnya. "Mommyku ..."
"M-mommymu ...?" Florensia tergeragap.
El mengangguk. "Iya, mommyku. Tapi tak lama lagi akan jadi mommymu juga ..."
"El ...!"
Pekik Florensia sungguh tak kuasa menerima setiap ucapan konyol, yang si alnya terdengar sangat manis di telinganya di saat yang bersamaan.
Tawa El bergema hingga ke sudut kamar Florensia, yang hanya bisa merenggut meskipun jengah.
"Berhenti mengatakan hal yang konyol ..." lirih Florensia.
Sesungguhnya saat mengucapkan kalimat itu, Florensia benar-benar serius.
Diam-diam Florensia merasa kesal kepada dirinya sendiri, saat menyadari setiap ucapan konyol El dengan mudahnya membuat dirinya baper tingkat dewa.
Detik berikutnya tawa El telah menghilang.
Seharusnya Florensia merasa lega, tapi manakala merasakan dua jemarinya yang semula tergolek diatas pangkuan terasa hangat oleh genggaman dua jemari yang lebih besar milik El, mendadak kegugupan kembali melanda sekujur tubuh Florensia, dua kali lebih hebat dari sebelumnya.
"Flo, mungkin kau menganggapku sedang bercanda, tapi sesungguhnya aku berkata jujur."
El menarik napas sejenak, sebelum kembali berucap.
"Tapi itu bukan ak ..."
"Tentu saja kau. Memangnya siapa lagi ...?"
"El ... hentikan ..." lirih Florensia tak kuasa. Jantungnya berdebar hebat seperti tambur yang dipukul orang gila, namun El malah semakin mengeratkan remasan tangannya, di kedua jemari Florensia.
"Kau benar-benar akan menjadi istriku." bisik El dengan keyakinan mencapai seribu persen.
"Tapi El ..."
"Masih tidak percaya ...?"
"Aku ..."
"Mau bertaruh ...?"
Lagi-lagi tenggorokan Florensia seolah tercekat.
'Oh tidak ... kenapa pria ini begitu pandai mengobrak-abrik perasaanku sedemikian rupa ...?'
Florensia membathin gundah.
Menyadari secara tidak langsung El telah memberi isyarat bahwa Florensia telah diterima dengan tangan terbuka oleh kedua orang tuanya, mampu menorehkan kebanggaan tersendiri di hati Florensia.
Namun hati Florensia berubah nelangsa begitu seraut wajah tua milik ayahnya melintasi benak, dan kesedihan ikut memeluknya menyadari betapa ayah sangat tidak menyukai El.
"Apa lagi yang kau pikirkan, Flo ...?"
"Aku ... aku ..."
El tersenyum. "Aku sudah mengantongi ijin resmi dari seorang Jody Frederick meskipun dengan susah payah ... dan kau masih keberatan menjadi istriku ...?"
Florensia terbelalak sempurna, mulut mungilnya bahkan ikut terbuka.
"A-apa m-maksudmu dengan menyebut nama ayah ..."
"Ayah sudah memberikan lampu hijau."
"Tidak. Aku tidak percaya." Florensia menggeleng tegas.
"Kalau tidak percaya kau boleh menanyakan langsung kepada beliau ..."
"T-tapi ... kenapa ayah tidak mengatakan apa-apa kepadaku ...?"
"Kau kan tidak bertanya."
"T-tapi ..."
"Ya ampun Florensia ... kenapa susah sekali meyakinkanmu bahwa saat ini kau tidak lagi punya kesempatan sedikit pun untuk menolakku? Orang tuaku sudah setuju ... begitu pun dengan ayahmu ..."
Lagi-lagi Florensia mematung, jelas sekali terlihat jika ia masih sulit mempercayai semua yang sedang diuraikan El kepadanya, terlebih perihal restu ayah.
"Sepertinya kau terlalu meremehkanku. Apakah kau tidak tahu, bagaimana keras kepalanya aku jika sedang berusaha atas sesuatu yang sangat aku inginkan ...?"
Florensia masih bungkam.
"Baiklah, rupanya kau memang butuh pembuktian."
Dengan sigap El meraih ponsel miliknya yang berada diatas nakas, melepas soket charger terlebih dahulu sebelum sebuah nomor di daftar kontak dan men-dial-nya, kemudian menyalakan speaker ponsel, berbagi nada dering yang selama ini begitu khas di telinga Florensia, yang menanti respon dari seberang sana dengan raut wajah cemas.
"Halo, El ...?"
Sapaan tersebut terucap santai, hangat, renyah, bak menghadapi kenalan lama, sama sekali tak tertangkap nada penolakan disana.
' Tidak salah lagi ... itu suara ayah ...!'
Florensia terpana menatap ponsel yang berada ditangan El.
"Halo Ayah ..." jawab El tak kalah hangat, begitu akrab.
"Hmm, ada apa kau menelepon ayah? Putriku Florensia baik-baik saja kan ...?"
Florensia semakin terpaku ditempatnya.
Melihat pemandangan yang menggemaskan itu sebelah tangan El refleks terangkat mengusap pipi Florensia yang putih, dengan rona semerah cherry.
"Florensia baik-baik saja, Yah ... dia ... hanya sangat merindukan ayah ..."
...
Bersambung ...
LIKE and SUPPORT-nya selalu ditunggu ... 🤗