TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 105. Dua Kardus, Bukan Dua Batang


Follow my ig. @khalidiakayum


...


"Kenapa kalian baru mengatakannya sekarang? Kalau kalian mengatakannya sejak kemarin pasti daddy tidak akan terlanjur membuat janji pagi ini ..."


Arshlan terlihat sangat menyayangkan kealpaannya, dalam menyaksikan El dan kedua putra kembarnya yang hendak unjuk kebolehan dalam menunggang kuda.


Mau bagaimana lagi, Arshlan sudah terlanjur membuat janji, dan pagi ini juga usai sarapan dirinya dan Lana akan menuju ke kota, guna melakukan general medical check up selama dua hari penuh, yang memang merupakan hal rutin yang kerap dilakukan Lana dan Arshlan secara kontinyu, seiring dengan usia mereka yang juga semakin bertambah.


"Sebelumnya tidak ada rencana seperti itu, dadd. Aku saja hanya menyambut tantangan dari dua orang pria yang telah begitu percaya diri, yang belum apa-apa sudah mengklaim diri mereka sebagai pemenang ..." imbuh Luiz sambil meneguk air mineral dari dalam gelas panjang, guna mengakhiri sarapannya di pagi ini.


"Benarkah itu El ...? Leo ...?" tanya Arshlan sambil menatap wajah El dan Leo berganti-ganti.


Kedua pria itu terlihat kompak mengangguk dengan senyum percaya diri yang menghias di bibir masing-masing.


"Wah, kalau belum apa-apa kalian sudah seperti ini, wajar saja jika Luiz menganggap kalian terlalu percaya diri ..." imbuh Arshlan lagi dengan ekspresi jenaka, menanggapi anggukan kepala El dan Leo sambil diiringi tawa kecil.


Leo dan El pun ikut tertawa mendengar selorohan Arshlan, begitupun dengan semua penghuni meja makan tersebut, yang sebagian besar ikut tertawa, atau sekurang-kurangnya menyumbangkan senyum.


"Dadd, it's okay jika daddy tidak bisa menyaksikannya secara langsung, tapi biar lebih adil, daddy harus bisa memilih siapa kira-kira yang akan daddy jagokan kali ini ..." tantang Leo, seperti biasa ia selalu terlihat sangat bersemangat jika bicara tentang kompetisi.


Arshlan terlihat menggeleng. "Justru biar lebih adil, maka daddy memutuskan untuk tidak memilih siapapun diantara kalian ..."


Arshlan telah menatap Luiz, Leo, dan El berganti-ganti dengan senyum.


"Tidak penting siapa yang menang, yang terpenting kalian enjoy menjalaninya ..." nasihat Arshlan lagi kepada ketiga pria itu dengan kalimat yang bijak.


Baik Luiz, Leo maupun El pun terlihat menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Baik, dadd, kami akan mengingatnya," pungkas Leo lagi-lagi menjadi sosok yang paling aktif berceloteh di meja makan.


Seorang pengawal datang mendekati Arshlan, hanya untuk memberi tahu jika sopir yang akan mengantarkan Arshlan dan Lana sudah siap.


"Baiklah, sepertinya kami harus pergi sekarang, dan untuk El dan Florensia, maafkan aunty dan uncle karena tidak bisa bersama-sama kalian disini ..."


"Tidak apa-apa aunty, lagipula disini kami kan tidak sendiri, ada Luiz, Leo, Florensia dan Dasha yang akan menemani kami hingga akhir weekend nanti ..." ucap Florensia kearah Lana, yang disambut anggukan setuju dari El.


"Oh ya, nanti malam kalian jadi menonton penayangan perdana film Leo, kan?"


"Iya, Momm," kali ini Victoria yang menjawab dengan penuh semangat, seolah tak sabar lagi menanti saat itu tiba.


"Vic, berhati-hatilah, ingat baik-baik bahwa kau bahkan belum memeriksakan dirimu dan kandunganmu dengan lebih intensive."


"Aku dan Leo akan melakukan pemeriksaan ke dokter obygyn, nanti setelah agenda penayangan perdana film Leo, Momm. Leo bahkan sudah membuat janji dengan dokter pada besok sore ..."


"Baiklah kalau begitu, mommy harap kau bisa menjaga dirimu dengan baik ..."


"Iya, Momm. Pasti aku akan menjaga kesehatanku dengan sebaik-baiknya. Aku juga sudah menelepon Luna untuk resign dari Mega Florist ..."


"Baguslah kalau memang demikian, Mommy percaya padamu, Vic ..." Lana terlihat mengusap perut Victoria yang masih terlihat begitu ramping.


Pemandangan sejuk itu pastinya bisa membuat hati siapapun yang melihatnya menjadi meleleh.


Kasih sayang dan perhatian tulus dari seorang ibu mertua untuk menantunya, serta calon penerus keluarga yang ada di perut Victoria.


'Kenapa aku malah berharap bisa mendapatkan perhatian yang serupa dari Nyonya Lana ...?'


'Apakah itu pertanda bahwa aku masih sangat mengharapkan Tuan Luiz ...?'


Diam-diam Dasha membathin gundah.


Dasha harus mengakuinya, betapa saat ini ia merasa sangat iri dengan Victoria yang telah memenangkan hati Leo dan Lana sekaligus, buah dari kesabaran wanita itu yang rela menderita selama bertahun-tahun lamanya.


'Apakah aku harus menderita seperti Nona Victoria terlebih dahulu agar bisa memetik hasilnya ...?'


'Tidak ... tidak ... karena aku dan Nona Victoria berbeda. Kedudukan Nona Victoria jelas-jelas adalah menantu di keluarga Arshlan ... sementara aku ...?'


Dasha menggigit bibirnya kuat-kuat, begitu kesadaran demi kesadaran akan siapa dirinya terasa menamparnya dengan keras.


Sehingga pada akhirnya Dasha menyadari, bahwa betapa selama ini dirinya terlalu tinggi menggantungkan asa.


'Baiklah Tuan Luiz ... kau berniat pergi, kan?'


'Kalau memang demikian maka pergilah ... pergilah dariku sejauh yang kau bisa ...'


'Karena aku telah menyerah ... dan kelak, aku juga yang akan mengantarkanmu, pada takdirmu yang sepadan ...!'


🌸🌸🌸🌸🌸


Arshlan dan Lana sudah berlalu dari meja makan.


Keduanya telah menolak dengan keras, manakala para anak-anak hendak mengantarkan keduanya hingga kedepan pintu.


"Tidak perlu. Nikmati saja sarapan kalian ..." titah Arshlan, sanggup menyurutkan semua langkah yang hendak terayun bersama mereka.


Kini tinggallah enam sosok yang diliputi keheningan sepeninggal Arshlan dan Lana, sebelum suara celetukan Leo telah memecah kesunyian tersebut begitu saja.


"Tak mengapa jika daddy menolak memilih menjagokan siapa diantara kami bertiga, karena aku sudah punya supporter terbaik di dunia. Iya kan Nyonya Leo ...?" ujar Leo dengan lagaknya yang khas, terlihat sekali jika dirinya sedang menyombongkan diri sambil menatap mesra Victoria yang duduk tenang disampingnya sejak tadi.


Victoria tersenyum, terlebih saat mendapati genggaman hangat Leo di jemarinya. "Kalau tidak mendukungmu, memangnya aku harus mendukung siapa lagi?" imbuh Victoria.


"Ehemm ... Leo, kau jangan lupa, waktu pertandingan volley pantai kemarin tim siapa yang telah didukung oleh Victoria ..." sindir Luiz dengan kalimat datar, namun sanggup membuat Leo dan Victoria sama-sama melotot kesal kearah pria berkulit pucat, serta gemar berucap menohok itu.


Sementara disisi yang lain wajah El dan Florensia terlihat berubah, hanya Dasha yang terlihat agak tenang, karena memang tidak mengerti dengan arah pembicaraan yang sedang terjadi di meja makan saat itu.


El sedikit salah tingkah, saat menyadari kemana arah sindiran Luiz, yang tentu saja mengarah kearah dirinya, yang waktu itu belum mengetahui sama sekali jika Victoria adalah istri Leo, sehingga ia begitu keukeuh meminta Victoria mendukungnya.


Sementara Florensia terlihat cemberut, mengingat moment dimana El terlihat sangat senang, begitu mengetahui Victoria justru menyemangati El saat pertandingan volley pantai.


"Aku yakin Florensia pasti akan mendukung Luiz. Sekarang giliranmu Dasha ... kau mau mendukung siapa? Kalau kau mau, kau boleh mendukung diriku, karena aku adalah idolamu. Bukan begitu?" Leo telah menawarkan dirinya tanpa canggung.


Dasha mengangkat wajahnya yang sejak tadi hanya fokus menatap roti tawar miliknya. Sekilas ia melihat pancaran mata Luiz yang sedang menguliti dirinya terang-terangan.


'Ada apa? masih berharap aku akan mendukungmu? Cihh ... jangan mimpi ...!'


Bathin Dasha mendadak kesal tak ketulungan.


"Jangan bilang kau akan mendukung Luiz yah ..." ancam Leo serentak saat menyadari betapa patuhnya Dasha kepada Luiz selama ini.


"Tidak. Tentu saja tidak."


Luiz nyaris tersedak mendengar penolakan yang tanpa ampun itu. Tak menyangka jika Dasha bisa memiliki keberanian sebesar itu sehingga menolaknya mentah-mentah.


"Ha ... ha ... ha ... kau dengar itukan, Luiz, Dasha tidak mau mendukungmu karena dia pasti akan mendukung aku ..."


"Demi keadilan sosial bagi seluruh peserta, aku memutuskan untuk mendukung Tuan El saja ..." pungkas Dasha dengan begitu yakin, tak peduli dengan nyaris semua pasang mata yang melotot kearahnya.


Mendengar itu senyum El langsung merebak, namun tidak demikian halnya dengan yang lainnya. Semua wajah-wajah disana terlihat masam, meskipun Dasha tak mempedulikannya.


Dasha telah memutuskan untuk mendukung Tuan El sepenuhnya, terlebih lagi saat sebelum sarapan, dua kardus cokelat Silverking telah ia terima sebagai kompensasi atas persetujuan dukungannya kepada pria itu.


Dua kardus, bukan dua batang seperti yang diminta Dasha pada awalnya.


Itu artinya suara dukungan Dasha telah diapresiasikan sangat baik oleh El, dengan cara memberikan dua lusin, atau dua puluh empat batang cokelat Silverking sekaligus, hanya untuk Dasha ...!


...


Bersambung ...


Support jangan lupa yah πŸ™πŸΌ