
"Akhirnya semua persiapannya sudah selesai ..."
Arshlan tersenyum mendengar keceriaan Lana yang berada tepat disisinya.
Seperti biasa, wanita itu sangat suka bercerita tentang apa saja, dan sebaliknya ... Arshlan justru sangat suka mendengar apapun yang menjadi topik pembicaraan Lana.
Sore ini, mereka berdua telah sepakat untuk menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di halaman depan, sengaja memberikan Leo dan Victoria keleluasaan untuk membicarakan masa depan mereka berdua kedepannya.
Alasan lain yang membuat Lana bersikeras mengajak Arshlan berjalan-jalan adalah, dikarenakan tanaman hias miliknya yang memiliki nama latin mirabilis jalapa atau sering disebut dengan bunga pukul empat yang berjejer rapi di seputaran pintu masuk ranch mereka, saat ini sedang mekar-mekarnya.
Bunga yang konon berasal dari Amerika Selatan itu bentuk dan tampilannya memiliki keindahan yang sederhana.
Keunikan bunga pukul empat sendiri adalah karena sesuai namanya, bunga tersebut akan mekar pada senja hari, yakni sekitar pukul empat sore sampai pukul enam sore seperti sekarang, dan saat mekar bunganya akan menghasilkan aroma harum yang semerbak sepanjang malam hingga kembali menutup kelopaknya di pagi hari.
"Tinggal menunggu buket bunganya datang, dan semuanya sempurna ..." Lana kembali berucap dengan wajah semringah.
"Bukankah Victoria sudah membantu memesankannya di florist tempat ia bekerja?"
Lana mengangguk mengiyakan, tepat disaat yang sama sebuah mobil SUV berwarna hitam nampak berhenti tepat didepan gerbang depan ranch, yang sedang dijaga oleh beberapa penjaga keamanan.
"Siapa yang datang? Apakah itu Tuan Jody Frederick?" tanya Lana manakala perhatiannya dan Arshlan telah tercuri dalam sekejap oleh kehadiran mobil mewah tersebut.
"Sepertinya bukan. Luiz telah mengatakan bahwa ia akan datang bersamaan dengan Tuan Jody Frederick dan putrinya Florensia, tepat jam tujuh malam, tidak sekarang."
"Kalau bukan mereka lalu siapa? Sayang, apakah kau mengundang orang lain ...?" tanya Lana lagi semakin penasaran.
Arshlan menggeleng, namun langkahnya telah terayun mendekati gerbang, diikuti Lana yang menyusul dibelakangnya.
"Siapa itu?" tanya Arshlan kepada seorang penjaga yang mendekati mereka terlebih dahulu, sementara mobil yang berniat memasuki ranch milik keluarga Arshlan tersebut masih tertahan oleh para penjaga keamanan di pintu gerbang depan.
"Maaf Tuan, pengemudi kendaraannya mengaku bahwa ia hendak mengantar buket bunga yang dipesan oleh Nona Victoria. Tapi kami merasa aneh dan curiga, karena dengan penampilan keren seperti itu, kenapa pria itu harus menjadi kurir pengantar bunga, apalagi sambil mengendarai mobil mewah. Untuk itulah kami telah memutuskan menahannya terlebih dahulu, agar kami bisa memeriksa identitas serta menginterogasinya." jawab sang penjaga dengan begitu lengkap, namun tetap takjim.
Di dalam hati Arshlan pun menyetujui pemikiran para penjaga keamanan. Wajar saja jika para penjaga curiga, mengingat baru kali ini ada seorang kurir pengantar bunga, yang mengantarkan pesanan bunga dengan mengendarai mobil sport limited edition!
Seorang pria tampan berpakaian necis, dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung terlihat turun dari sisi mobil, sambil merogoh saku celananya.
Sepertinya para penjaga yang berada di gerbang depan telah meminta pria itu turun dari kendaraannya, serta berniat memeriksa identitas pria yang menurut mereka mencurigakan tersebut.
"Aku akan kesana." ujar Arshlan sambil mengayunkan langkahnya mendekati gerbang depan.
"Sayang, aku ikut." Lana pun menyusul dibelakang Arshlan.
"Ada apa ini?" tanya Arshlan begitu ia telah berada di antara para penjaga kemanan dan seorang pria muda yang telah mengaku sebagai kurir pengantar bunga.
El sedikit terkesima mendapati kehadiran seorang pria tua dan wanita paruh baya yang menyusul dibelakangnya.
'Tuan Arshlan dan Nyonya Lana?'
'Astaga, itu artinya kecurigaanku benar. Ranch ini ... memang merupakan ranch milik keluarga Arshlan yang fenomenal ...!'
'Lalu apa hubungannya semua kebetulan yang hebat ini dengan Victoria ...?'
'Apa yang Victoria lakukan di tempat ini ...?'
El membathin takjub, sekaligus bingung saat memikirkan hubungan antara keluarga Arshlan dengan Victoria.
Mengenai Tuan Arshlan, tentu saja El mengenalnya.
Lagipula di negeri ini ... siapa yang tak kenal Tuan Arshlan?
Sejujurnya, El juga baru kali ini bertemu langsung dan bertatap muka sedekat ini, meskipun kedua orang tuanya sering mengatakan bahwa mereka mengenal dekat keluarga Arshlan.
'Kalau tidak salah, daddy pernah bilang bahwa daddy pernah memiliki beberapa mega proyek bersama Tuan Arshlan di masa lalu, sementara Nyonya Lana merupakan pelanggan setia, dari butik mommy sampai sekarang ...'
Lagi-lagi El membathin.
"Selamat sore, Tuan Arshlan, namaku El, dan tujuanku datang ke ranch ini, untuk mengantarkan pesanan buket bunga dari Mega Florist." El berucap sopan sambil menunduk penuh hormat kearah pasangan suami istri tersebut.
"Selamat sore, El. Jadi kau benar-benar datang untuk mengantarkan buket bunga?" tanya Arshlan seolah ingin kembali memastikan, walaupun dirinya sendiri sangsi, karena penampilan El memang terlalu elite untuk seorang kurir pengantar bunga.
"Iya, Tuan. Aku memang datang untuk mengantarkan buket bunga."
Seorang penjaga keamanan nampak mendekati Arshlan dan menyerahkan kartu identitas El yang semula berada di tangannya.
Arshlan menyambutnya dan tak berapa lama alisnya sedikit bertaut.
"Lionel Winata?" eja Arshlan pada sederet nama yang tertera jelas disana.
Detik berikutnya sepasang mata Arshlan telah menyapu penuh sosok El, memperhatikan dengan seksama wajah pria muda yang buru-buru melepaskan kaca mata hitam yang sejak tadi bertengger diwajahnya.
Arshlan termanggu, seolah sedang berusaha mengingat sesuatu.
"Kau ... apakah ada hubungannya antara kau dan Rudi Winata ...?"
El tersenyum saat menyadari, bahwa hanya dalam kurun waktu sekejap, ternyata Tuan Ashlan sangat mengingat sosok daddynya.
"Aku adalah putra sulung Rudi Winata, Tuan." jawab El kalem, namun tentu saja tetap sopan.
"Astaga ... jadi kau benar-benar putra Rudi Winata ...?!" Arshlan telah mendekat dan memeluk bahu El penuh keakraban.
"Terima kasih, karena Tuan bisa mengenaliku ..." ucap El dengan senyum terkembang.
"Tentu saja aku bisa mengenalimu, karena kau sangat mirip daddymu ...!" Arshlan mengacungkan kartu identitas El. "Ini ambillah, maafkan para penjagaku karena mereka telah membuatmu sedikit kerepotan ..."
"Tidak apa-apa, Tu ..."
"Panggil uncle saja. Aku dan daddymu, bukan hanya sekedar sahabat biasa, kami sudah seperti saudara ..."
"Baiklah, uncle ..." pungkas El dengan bersuka cita, mendapati penerimaan Tuan Arshlan yang teramat sangat ramah.
"Jadi ... kau adalah putra sulung Larasati Djenar?"
Suara Lana yang menyeruak tiba-tiba, membuat konsentrasi El dan Arshlan sama-sama tertuju pada sosok Lana, yang masih setia terpaku sambil menatap adegan akrab yang berlangsung didepan matanya.
"Lalu kenapa kau bisa menjadi kurir yang mengantarkan pesanan bunga?"
"Ceritanya panjang, aunty ..."
"Begini saja, mari kita masuk dulu, dan meneruskan pembicaraan ini didalam sambil minum kopi. Kau mau kan, El ...?" ajak Arshlan seraya mengamit bahu El tanpa canggung.
El pun sontak mengangguk. "Ide yang bagus, uncle."
Tatapan Arshlan berpindah kearah beberapa penjaga keamanan yang masih setia berdiri disana. "Mobilmu biar mereka yang mengurusnya ..." ujar Arshlan, seraya memberi isyarat kepada salah seorang dari mereka.
"Jangan lupa bunganya juga," Lana menambahkan, dengan cara mengingatkan orang yang dipercayakan suaminya, yang kemudian menyambut titah Lana dengan mengangguk takjim.
Kemudian dengan beriringan, ketiganya pun melangkah ke arah villa milik keluarga Arshlan, yang berdiri tegak dan kokoh.
🌸🌸🌸🌸🌸
"Jadi, Mega Florist adalah milik adikmu Luna?" Lana menatap wajah El dengan takjub, terlebih saat menerima anggukan kepala El yang mengiyakan pertanyaannya itu.
"Iya, aunty. Saat aku ingin menemui Luna, aku melihat kurir pengantar bunga yang sedang kebingungan di parkiran. Aku mendekat dan menanyakan apa permasalahannya, ternyata mobil yang biasanya digunakan untuk pengantaran bunga mengalami pecah ban belakang. Karena itulah aku menawarkan diri untuk mengantarkan pesanan bunga tersebut, agar tidak membuat pelanggan Mega Florist kecewa."
"Jadi begitu ceritanya. El. kau benar-benar pria yang bertanggung jawab, kau sangat mirip daddymu ..." puji Arshlan lagi, yang tahu persis bagaimana sifat asli seorang Rudi Winata, sehingga membuat Arshlan sangat menyukai kepribadian pria itu.
"Terima kasih, uncle. Daddy dan mommy juga sering membicarakan begitu banyak hal baik mengenai kalian. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan kesempatan bertemu langsung, meskipun secara tak sengaja ..."
Arshlan dan Lana tersenyum mendengarnya. Cara bertutur kata El sangatlah santun, membuat mereka berdua begitu cepat akrab sekaligus menyukai El dalam waktu singkat.
"El, sebentar malam kita akan mengadakan barbeque party, kalau kau tak keberatan uncle ingin mengundangmu ..." ujar Arshlan lagi seraya menatap El, yang duduk tepat dihadapannya.
"Iya, El, hanya acara keluarga, dan kami sangat senang kalau kau bisa ikut serta ..."
El tersenyum mendengar ucapan Arshlan dan Lana. Hatinya berat menolak permintaan keduanya, terlebih saat melihat sorot mata yang penuh pengharapan dari dua pasang mata sekaligus.
"Baiklah uncle, aunty, kebetulan sekali aku juga tidak punya acara malam ini, dan ... pesta barbeque keluarga, kedengarannya sangat menarik ..." ujar El, membuatnya bisa mendengar tarikan nafas lega Arshlan dan Lana sekaligus.
"Sayang, sepertinya El seumuran dengan si kembar ..." celetuk Lana kemudian sambil menatap Arshlan dengan mata yang berbinar.
Arshlan mengangguk kecil. "Iya, kau benar, sayang, dan mereka pasti senang jika berkenalan dengan El ..." imbuh Arshlan.
'Mereka ? Si kembar ...?'
'Jadi rumor yang beredar selama ini, bahwa Luiz memiliki saudara adalah benar adanya.'
'Bukan hanya saudara biasa, melainkan saudara kembar ...?'
Lagi-lagi El membathin takjub. Belum ada dua puluh menit dia berada diantara Tuan Arshlan dan istrinya, dan ia telah menemui fakta yang begitu banyak.
Tuan Arshlan dan Nyonya Lana berbicara tanpa sungkan, pasti karena keduanya mengetahui bahwa dirinya adalah putra sulung dari Rudi Winata dan Larasati Djenar, yang telah dianggap sebagai kerabat dekat, sehingga mereka merasa tidak perlu menyembunyikan perihal silsilah keluarga.
"Sebenarnya ... mengenai Luiz, aku sudah bertemu dan mengenalnya. Tapi aku baru mengetahui bahwa Luiz memiliki saudara kembar ..." El berucap jujur. Senyumnya yang menawan tak pernah lekang dari bibirnya.
Arshlan dan Lana pun ikut tersenyum mendengar kalimat El.
"Hal itu selalu di rahasiakan, tapi untukmu tak mengapa. Kau juga harus mengenal Leo, saudara kembar Luiz ..."
El sedikit tersentak saat mendengar Lana menyebut nama Leo.
"Leo ...?"
"Iya, El, saudara kembar Luiz adalah Leo. Egh, itu Leo ..."
Kalimat awal Lana telah teralih, seiring dengan jari telunjuknya yang mengarah ke satu arah, yang membuat kepala El berpaling mengikutinya.
Untuk sejenak, El merasa tenggorokannya telah tercekat begitu saja.
Leo.
Yah, saudara kembar Luiz yang dimaksudkan, ternyata adalah pria yang sama, yang telah menaklukan dirinya dan adik iparnya Dimitri di lapangan volley pantai, yang ada di area hotel xx.
Namun keterkejutan El tidak hanya sampai disitu, karena pada kenyataannya hal yang paling mengejutkan El adalah, manakala ia dengan cepat bisa mengenali, siapa wanita yang sedang dituntun Leo dengan sangat berhati-hati dari dalam sebuah kamar.
'Victoria ...?'
"Itu Leo, dan menantu kami Victoria." Lana berseru bangga, membuat El benar-benar terhenyak.
'Menantu kami ...?'
'Victoria ...?'
'Istri Leo ...?'
El menelan ludahnya getir. Dalam sekejap, lenyap sudah segala rasa yang hendak bersemi dihatinya untuk Victoria.
'Victoria adalah istri Leo ...'
'Oh, tidak ...'
El benar-benar tidak menyangka, jika selama beberapa minggu terakhir, dirinya telah begitu terpesona dengan istri orang.
Pantas saja selama ini Victoria kerap menjaga jarak, juga terkesan sangat berhati-hati.
Pada kenyataannya karena wanita itu,
Victoria ...
Sangat menjaga kehormatan dirinya ...
Sebagai istri dari seseorang ...
...
Bersambung ...