TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
20. INGIN SEPERTI DADDY


"Daddy, kenapa daddy tidak ikut kami kepulau?" Luiz berucap sambil menarik-narik ujung jas milik Arshlan.


"Daddy pasti akan menyusul kalian. Tapi nanti, setelah pekerjaan daddy selesai."


"Daddy tidak bohong kan?" Leo ikut-ikutan menarik ujung jas Arshlan yang necis.


"Tidak sayang, kapan daddy pernah membohongi kalian?"


Kedua wajah mungil milik Luiz dan Leo yang sedang menengadah menatap Arshlan kompak menggeleng.


"Tidak. Tidak pernah ..."


"Iya, tidak pernah. Daddy tidak pernah berbohong ..."


Arshlan berjongkok dihadapan kedua putra kembarnya yang begitu pintar dan menggemaskan, hanya agar bisa menangkup kedua tubuh bocah itu dengan pelukan yang hangat, yang disambut dengan dekapan yang tak kalah hangat dari Luiz dan Leo.


Meihat pemandangan yang begitu manis itu tak urung membuat Lana merasa haru karena kebahagiaan yang membuncah didalam dada.


Semuanya terasa lengkap, dan teramat sempurna. Kalau saja perbedaan persepsi akan sebuah keraguan diantara mereka bisa sejalan, mungkin setelah semua yang telah mereka berdua lalui, dirinya dan Arshlan bisa terus menatap masa depan tanpa menengok kembali masa lalu.


Kalau boleh berucap jujur, sesungguhnya Lana pun merasa sangat takut menemui kebenaran.


Apapun hasilnya, entah dirinya bisa mempercayai Arshlan atau tidak, hasil dari semua itu tetaplah sama.


Lana bahkan tau bahwa dirinya tetaplah akan menjadi pihak yang kecewa, seperti apapun nanti hasil dari kebenaran akan menunjukkan wajahnya.


"Apakah mereka berdua sudah sarapan?" pertanyaan Arshlan telah mengusik lamunan singkat Lana.


Lana menggeleng. "Belum." kemudian tatapannya telah beralih kepada kedua orang suster yang berdiri tak jauh darinya, yang kelihatannya langsung paham dengan keinginan Lana sehingga keduanya terlihat beringsut mendekat.


"Sudah waktunya Luiz dan Leo sarapan. Sayang, kau yakin tidak akan sarapan bersama ...?"


Arshlan menggeleng, namun tatapannya masih lekat kerah Luiz dan Leo. "Jagoan daddy harus makan yang banyak agar cepat besar dan kuat seperti popeye ..."


"Aku tidak mau seperti popeye. Aku mau seperti daddy." pungkas Luiz, yang setelah beberapa saat yang lalu tertawa kegirangan, kini seolah kembali ke pengaturan awal. Dingin dan datar.


"Kalau begitu, aku juga tidak mau seperti popeye. Aku mau seperti daddy saja." timpal Leo dengan wajahnya yang kocak namun penuh keyakinan.


"Hhhm ... tentu saja, kelak kalian berdua pasti akan menjadi seperti daddy."


"Benarkah ...?" wajah Luiz berbinar, dan Arshlan pun mengangguk mengiyakannya.


"Horeeee ...! aku dan Luiz akan menjadi seperti dadddyy ...!" Leo bersorak gembira, membuat semua wajah yang berada diruangan itu ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan si kembar yang teramat sangat mengidolakan Arshlan.


"Kalau begitu pergilah bersama suster. Mommy akan menyusul setelah mengantar daddy kedepan pintu ..."


Luiz dan Leo pun tidak membantah saat kedua suster masing-masing mengamit kedua pergelangan tangan mungil mereka, setelah masing-masing mendapat kecupan dari Arshlan dan Lana.


Usai kepergian si kembar, Arshlan terlihat menengok jam tangan mahal yang melingkar dipergelangan tangannya, tepat setelah itu Her dan Asisten Jo pun muncul nyaris bersamaan. Her dari arah depan, sementara Asisten Jo dari ruang tengah.


"Lana, waktuku tidak banyak. Aku harus segera pergi."


"Pergilah, sayang. Jaga dirimu baik-baik." Lana memeluk sejenak tubuh wangi Arshlan.


"Kau juga, sayangku. Jagalah dirimu dengan baik, begitupun dengan si kembar." pesan Arshlan penuh perhatian.


"Her, apakah semua dokumen yang aku perlukan hari ini sudah siap?" tanya Arshlan kearah Her yang kini telah berdiri bersisian dengan Asisten Jo tak jauh dari mereka.


"Sudah, Tuan."


"Bagaimana dengan jetnya?


"Semuanya sudah siap, tinggal menunggu kedatangan Tuan."


"Bagus, kalau begitu kita berangkat sekarang ..."


"Baik, Tuan."


Her langsung berbalik, dengan langkah sigap mendahului langkah sang majikan.


"Asisten Jo, aku mempercayakan istriku dan si kembar selama dua hari ini kepadamu." ujar Arshlan sambil menatap tajam kearah Asisten Jo.


"Baik Tuan. Aku pasti akan menjaga nyonya dan si kembar dengan sebaik-baiknya." pungkas Asisten Jo dengan mantap.


Arshlan mengangguk, namun seperti teringat akan sesuatu tiba-tiba ia telah menatap Marina kembali.


"Nyonya Marina, selama dua hari kedepan sebaiknya tinggalah dirumah ini. Agar saat aku kembali, kita bisa langsung menuju pulau bersama-sama."


"Arshlan benar, bu. Sebaiknya ibu memang tinggal disini sambil menunggu Arshlan kembali." pungkas Lana seolah mendukung penuh ide suaminya.


"Oh ... b-baiklah kalau kalian telah memutuskan demikian, sepertinya semua itu memang lebih baik." ujar Marina lagi sambil mengangguk kalem, namun sesungguhnya didalam hati ia telah melompat-lompat kegirangan.


'Akhirnya ... setelah menunggu sekian lama, kesempatan emas itu datang dengan sendirinya.'


'Lana pergi ...'


'Si kembar pergi ...'


'Si tua Asisten Jo pergi ...'


'Bahkan sebagian besar maid dan pengawal pun ikut pergi ...!'


'Bagus sekali ...! luar biasa ...!'


'Aku harus menyusun rencana selanjutnya dengan sebaik-baiknya, agar saat Tuan Arshlan kembali, permainan yang sesungguhnya akan langsung dimulai ...'


Marina melepas kepergian Arshlan yang terus mengamit pinggang Lana dengan tersenyum lebar.


Ia hanya berdiri tegak sambil terus mengamati punggung Lana dan Arshlan yang bergerak semakin menjauh menuju pintu depan.


Namun begitu Arshlan terlihat menundukkan kepala guna mengu lum mesra bibir Lana tepat dibingkai pintu keluar, Marina malah tersenyum licik sambil kembali membathin dengan hati yang dipenuhi kebusukan dan kecemburuan.


'Bersabarlah Marina, karena dua hari lagi, justru kaulah yang akan menikmati bibir menggai rahkan milik Tuan besar itu ...'


...


*Halo reader, j**angan lupa support terus novel ini yah ... 🤗*