
Ucapan Arshlan pada saat itu tidaklah main-main, karena setelahnya, hanya dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, Arshlan benar-benar membuktikan semua kelicikan Marina satu per satu.
Mulai dari bukti hubungannya dengan Beno yang belum berakhir sama sekali, keduanya bahkan bertemu setiap hari hanya demi membahas rencana licik untuk menjebak Arshlan, agar bisa memerasnya dikemudian hari.
Tapi yang membuat amarah dihati Lana mendidih, manakala ia dihadapkan akan kenyataan bahwa diam-diam Marina menaruh hati kepada suaminya sendiri.
Semuanya tersaji dihadapan mata Lana, manakala keseluruhan isi ponsel Marina berhasil di copy paste oleh Arshlan, sehingga semua obsesi gila Marina tertuang dalam satu file.
Marina bahkan memiliki koleksi foto Arshlan dalam berbagai gerak dan kesempatan, yang ternyata selama ini telah diambilnya secara diam-diam, tanpa sepengetahuan siapapun termasuk si empunya diri yakni Arshlan sendiri.
Benar-benar tindakan orang yang sudah sakit jiwa!
"Ini adalah bukti terakhir." Arshlan menyerahkan sekantong bubuk putih ketangan Lana, yang ia dapatkan dari tangan seorang anak buahnya.
Lana menatap Arshlan keheranan, kedua alisnya ikut bertaut nyata. "Apa ini?" tanyanya sambil membolak-balikkan bubuk putih yang terkemas rapi dalam sebuah kantong plastik bening berukuran kecil.
"Itu adalah salah satu jenis dari obat perangsang dosis tinggi, yang ditemukan anak buahku dari dalam tas Marina."
Lana terhenyak. "Ini ... ini ..."
"Untuk apa ibumu menyimpannya, dan kepada siapa peruntukannya, tentu saja hanya Marina yang mengetahuinya, bukan?"
Lana membisu, dengan jantung yang berdebar tak menentu. Berbagai firasat buruk berkecamuk dalam benaknya, membuat ia tak kuasa menatap wajah Arshlan yang berada tepat dihadapannya.
Tidak ... tidak ...
Jika pemikiran gila yang melintas diotaknya adalah benar, maka semua kenyataan itu rasanya terlalu menakutkan. Mana mungkin ibu berniat serendah itu?
"Aku telah menggantinya dengan serbuk yang serupa, sehingga Marina tidak tau bahwa sesungguhnya aku telah menukarnya."
Lana membisu.
"Lana, sama seperti dirimu, aku pun menolak mempercayainya. Tapi untuk mencegah aku terlebih dirimu berprasangka buruk, maka kita berdua yang harus membuktikannya sendiri."
Lana mengangkat wajahnya, menatap Arshlan yang juga sedang menatapnya lurus.
"Kita akan mengajak Marina sedikit bermain-main."
"Bermain-main?"
"Hmmm ..."
"Maksudmu ...?"
"Kau ingat saat aku menjebak sahabatmu Siska empat tahun yang lalu ...?"
Ingatan Lana menerawang pada kejadian pengkhianatan Siska yang merupakan sahabat yang sangat ia percayai.
Saat itu Lana sungguh tidak menyangka jika dibalik kebaikan Siska, ternyata ketulusan Siska untuknya hanyalah sebuah omong kosong belaka, karena pada akhirnya Siska bahkan nekad mengkhianati hubungan persahabatan yang terjalin cukup lama, hanya demi mendapatkan perhatian Arshlan semata.
"Kita akan merubah sedikit skenarionya agar bisa melakukan 'permainan' seperti empat tahun yang lalu, saat aku harus menjebak Siska untuk membuat kedua matamu terbuka."
Lana terhenyak mendengar apa yang diungkapkan Arshlan untuknya, namun kali ini dirinya seolah tidak memiliki lagi pilihan untuk menolak rencana tersebut.
Menyadari sepak terjang Marina yang sungguh diluar nalarnya, membuat hati Lana dipenuhi luapan emosi, amarah yang menggelora, sekaligus kesedihan yang mendalam.
"Arsh, tolong katakan sesuatu yang bisa menghiburku, agar aku merasa sedikit lega. Aku tidak habis pikir, apa salahku sehingga aku menerima kebencian sebesar ini, oleh orangtuaku sendiri? sampai menutup mata, ayah tidak pernah menganggapku sebagai seorang putri yang seharusnya ia jaga, dan hingga detik ini, ibu telah begitu keji menjadi satu-satunya orang yang berniat menghancurkan rumah tanggaku begitu rupa ..."
Arshlan terdiam lama. Merasa berat untuk mengatakan sebuah rahasia besar yang selama ini telah ia simpan dengan hati-hati, tapi dilain pihak ia pun tidak ingin menyaksikan kesedihan Lana, yang menganggap dirinya sebagai sosok yang dibenci dan tidak disayangi oleh orangtuanya sendiri.
"Lana, kau tidak pernah dibenci oleh kedua orang tuamu, sebaliknya... kau adalah anak yang dicintai, dan disayangi hingga diakhir hayat mereka ..."
Arshlan menarik nafasnya dalam-dalam. Merasa yakin bahwa saat inilah waktu yang tepat untuk membuka semuanya.
"Kau ingat mimpimu waktu kau koma tempo hari?"
"Entah kenapa sejak mendengar kisahmu itu, aku selalu merasa ... bahwa sepasang suami istri yang telah kau temui dan menuntunmu kembali padaku saat kau berada dialam bawah sadarmu, merekalah ayah dan ibumu yang sesungguhnya."
"T-tapi ..."
"Robi dan Marina bukanlah kedua orangtuamu. Orangtuamu yang sebenarnya telah meninggal sejak kau masih sangat kecil, dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Kedua orang tuamu adalah kerabat jauh Robi, untuk itulah Robi menjemputmu di panti asuhan, semata-mata hanya karena mengincar kepemilikan rumah, beserta beberapa aset peninggalan kedua orangtuamu, yang ditinggalkan atas namamu ..."
Kedua mata Lana yang sedang menatap Arshlan nampak bertelaga, namun lagi-lagi bibirnya tetap kelu menerima kenyataan mengenai latar belakang dirinya, yang dibeberkan Arshlan tanpa ada yang tersisa.
"Jadi itukah alasannya? itukah alasannya mengapa aku dibenci? karena aku bukan anak kandung mereka?"
"Jangan bersedih, karena seharusnya kau bahagia. Robi dan Marina bukanlah siapa-siapa, dan kedua orang tuamu adalah orang yang baik ..."
Arshlan memeluk tubuh Lana dengan penuh kelembutan.
"Sayang, kau tidak bersalah. Karena orang seperti Robi dan Marina, tidak pantas mendapatkan cinta dan kasih sayangmu."
Lana membalas pelukan Arshlan dengan sekuat tenaga, menangis tersedu didalamnya.
Arshlan benar, seharusnya dirinya bahagia, karena Robi dan Marina bukanlah kedua orangtuanya. Tapi mendapati kenyataan tersebut, tetap saja hati Lana diliputi kesedihan yang entah darimana datangnya.
"Kuatkanlah hatimu, dan mari kita beri Marina pelajaran yang setimpal. Setelah semua ini selesai, aku berjanji akan membawamu menemui pusara kedua orang tuamu ..."
Bisikan Arshlan bak semilir angin yang telah menerbangkan kesedihan Lana dari hatinya.
"Sayang, bagaimana mungkin kau mengetahui begitu banyak hal, tapi kau tidak mengatakannya?"
Arshlan tersenyum. "Aku telah mencari tau keberadaan kedua orangtuamu cukup lama, sebelum aku benar-benar menemukan titik terangnya. Tapi disaat aku ingin mengatakannya, Marina telah hadir lebih dahulu dan terus mencoba menggiringmu kedasar jurang. Sesungguhnya aku pun berharap Marina bisa berubah menjadi sosok yang lebih baik, tapi seperti yang kau lihat, semuanya percuma..."
"Sayang, kau adalah dewa penolongku." pungkas Lana tak bisa menyembunyikan rasa haru atas semua pengorbanan yang telah dilakukan Arshlan untuknya.
Arshlan tersenyum mendapati pelukan erat yang entah untuk kesekian kalinya.
"Cintailah aku tanpa henti, karena kau tidak akan bisa menemukan lagi pria tua lain yang lebih hebat dari suamimu ini ..."
Mendapati kalimat konyol yang sengaja dilontarkan Arshlan untuk mengembalikan senyum Lana, maka Arshlan harus rela menerima bertubi-tubi cubitan kecil Lana, yang telah menghujani kulit perutnya yang keras.
"Kau adalah pria tua yang sangat me sum!" umpat Lana, kearah Arshlan yang malah tertawa usai mengaduh kesakitan menerima beberapa cubitan kecilnya sekaligus.
"Untuk menjerat cinta gadis belia sepertimu, aku memang harus memiliki kelebihan ekstra, agar kau selalu tergila-gila kepadaku ..."
"Dasar ...!" Lana mendesis sambil berpura-pura cemberut, namun saat Arshlan menangkup kedua wajahnya untuk mendaratkan ciuman yang begitu hangat diatas bibirnya, Lana bahkan tidak berusaha menolaknya sama sekali.
"Sayangku, untukmu, tak ada sesuatu diatas muka bumi ini yang tidak bisa aku berikan ..." bisik Arshlan disela-sela sentuhan lembutnya.
Lana menyentuh bibir Arshlan yang telah mengucapkan kalimat yang terdengar begitu indah untuknya.
"Untukmu, aku telah menyerahkan seluruh cintaku, dan memasrahkan seluruh hidupku."
"Benarkah ...?"
Lana mengangguk dengan penuh senyuman, seraya mengusap wajah pria yang telah memberikan dirinya segalanya.
"Semuanya benar. Tuan Arshlanku tersayang ... aku sungguh mencintaimu ... dan akan terus mencintaimu ..."
...
Bersambung ...
Pilih bunga, kopi atau vote? 😅
Like wajib, comment ditunggu 🤗
Lophyuuuu all 😘