
Ig. @khalidiakayum
...
Setiap kali Dasha melangkah mundur, pria buruk rupa itu akan meringsek maju, masih dengan sebuah pisau lipat yang tertodong tepat di tenggorokan Dasha yang bergetar lirih.
Ada darah yang sedikit merembes diujung pisau, tepat diatas permukaan kulit leher Dasha yang putih dan lembut, akibat goresan ujung pisau lipat yang terus terhunus.
"T-Tuan ... k-kau mau apa ... k-kalau yang kau inginkan adalah uang, maka ak ... aku ... t-tidak punya uang ..." suara terbata milik Dasha yang dipenuhi kegugupan, seolah mengiringi gerak tubuhnya yang terus mundur perlahan.
"Cepat tanggalkan antingmu!" titah pria itu dengan nada suara yang berat dan kasar.
Dasha terkesiap mendengar permintaan tersebut. Kepalanya serentak menggeleng. "T-tapi ... i-ini pemberian Nyonya Lana, aku ... aku tidak bisa memberikannya kepadamu ..."
"Kau ingin melawanku, hah?!"
"T-tidak ... T-Tuan aku ..."
"Aku bilang tanggalkan antingmu, atau aku tanggalkan nyawamu!"
"Aaaa ... b-baik, Tuan, ini ... ini ... akan aku tanggalkan ..." Dasha meraup daun telinga kirinya dengan gerakan panik.
Setelah berhasil menanggalkan anting tersebut, tangannya pun berpindah untuk meraup daun telinga kanannya dan melakukan hal yang sama.
"Cepat kemarikan!"
"I-ini Tuan ..."
Dengan gerakan tergesa serta senyum penuh kepuasan yang menakutkan, pria itu telah berhasil merampas sepasang anting berbentuk bunga sakura, pemberian Nyonya Lana yang merupakan salah satu benda kesayangan Dasha selama ini.
Dalam sekejap sepasang anting cantik milik Dasha itupun telah berpindah kedalam saku jaket kumal milik sang pria buruk rupa.
"Lepaskan juga jam tanganmu!"
Lagi-lagi Dasha terhenyak menerima permintaan pria tak dikenal itu. Kepala Dasha kembali menggeleng. "T-tidak, jam ini ... adalah pemberian Tuan Leo, aku t-tidak bisa ..."
"Aku bilang tanggalkan!!" berucap kasar sambil menekan ujung mata pisaunya semakin kuat.
"Aaaahhh ... b-baik ... baiklah ..."
Sepasang mata Dasha bersinar sendu penuh rasa ketidak-relaan, manakala dengan terpaksa dirinya harus membuka jam tangannya sendiri yang berwarna putih, bermerek G-Shock, yang awalnya melingkar indah dipergelangan tangan kirinya.
Wajar saja jika Dasha merasa sangat sedih saat harus melepaskan jam tangan berjenis sporty itu.
Bukan hanya karena harga jamnya yang mahal, melainkan karena jam tersebut merupakan hadiah istimewa idolanya sendiri, siapa lagi kalau bukan Tuan Leo.
Tangan Dasha gemetar saat menyerahkan jam tangan kesayangannya tersebut, kehadapan pria jahat yang lagi-lagi dengan gerakan gesit kembali membuat benda kesayangan Dasha berpindah kesaku jaket kumal miliknya.
"T-Tuan ... kau ... kau telah mengambil semua barang-barang kesayanganku tanpa tersisa..."
Pria itu menyeringai licik. "Hebat sekali, tidak kusangka bocah kecil sepertimu bisa memiliki barang-barang yang bernilai tinggi. Kau pasti bukan bocah biasa ..."
"T-Tuan, b-biarkan aku pergi." ucap Dasha penuh harap. Hatinya sungguh sedih menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan anting dan jam tangan miliknya yang masing-masing memiliki nilai histori tersendiri kepada pria jahat dihadapannya.
Dasha tidak punya kesempatan untuk menolak, karena dengan keji pria itu telah membuat nyawa Dasha sendiri menjadi taruhan.
"Kata siapa kau boleh pergi, manis?"
Dasha terhenyak mendengar kalimat yang terucap dengan nada menggoda yang dibuat-buat. Mendengarnya saja telah membuat perut Dasha ikutan menjadi mual.
"Tuan, kau sungguh sangat licik. Aku bahkan sudah menyerahkan anting begitupun dengan jam tanganku. Sekarang apa lagi yang kau inginkan ...?"
"Dirimu." berucap sambil tertawa menyeringai.
"A-apa ...?!"
"Ayolah manisku, mari kita bersenang-senang ..."
"Tidak ...!! Apa kau sudah gila?! jangan mendekat ..."
Plak ...!!
"Aaaaaa ...!!
Dasha melolong panik, tak menyangka sebuah tamparan keras telah singgah kewajahnya, membuat Dasha pusing hingga terhuyung kesamping, membentur dinding.
Disaat yang sama Dasha mulai merasakan pandangannya mulai mengabur, dan ribuan kunang-kunang mulai berterbangan kesana-kemari.
Dasha pun tak berdaya, manakala pria jahat buruk rupa itu mendekatinya dengan senyum menyeramkan, kemudian menyurukkan wajahnya yang kotor ke beberapa bagian tubuh Dasha sekaligus ... dengan gerakan yang brutal ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
'Tuan Luiz ... tolong aku ... tolong aku ... aku takut ... Tuaaann ... tolong datanglah ... selamatkanlah aku Tuaaaan ...'
Bathin Dasha berteriak tanpa henti.
Wajah Dasha kini telah memucat seperti mayat, gadis cilik itu kini bahkan tidak berani membuka matanya, namun bathinnya menangis pilu saat merasakan dua tangan yang kasar sedang bahu-membahu menanggalkan segala sesuatu yang melekat ditubuhnya.
Air mata Dasha tak henti berlinang dikedua kelopak matanya, saat otaknya menyadari niat buruk apa yang sesungguhnya hendak dilakukan pria tak dikenal itu atas dirinya yang kini tak berdaya ... nyaris telan jang.
Dengusan nafas kasar yang membuat mual mulai terasa menghantam sekujur tubuh Dasha yang tergolek lemah diatas lantai yang dingin.
Dasha benar-benar merasa dunia nyaris kiamat, seiring dengan tubuhnya yang semakin tidak berdaya ... serta jiwanya yang juga kehilangan harapan ...
Hingga dititik akhir dimana ia merasa sebuah mimpi buruk akan menjadi kenyataan.
Kedua kakinya telah direntangkan, dan tatapan matanya yang mengabur masih bisa mengawasi bagaimana pria itu telah menempatkan tubuhnya diantara kedua kakinya, menurunkan celananya yang kumuh, sehingga nampaklah sesuatu yang mengerikan.
'Oh tidaaakkk ... Tuaaann Luiizzzz ... tolong akuuuu ...'
Bathin Dasha berteriak panik, diantara harapan terakhir yang nyaris mustahil, manakala lewat tatapan matanya yang nanar, Dasha telah menyaksikan tubuh pria kumuh itu telah terjungkal keras.
"BAJI NGAN BUSUKKKK ...! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN DASHA-KU ...?!!!!!"
Teriakan itu ibarat harimau lapar yang sedang mengaum penuh amarah.
Bunyi bogem mentah, kerasnya suara tendangan, jerit kesakitan, terlebih umpatan yang dipenuhi gelegar amarah, silih berganti memenuhi gendang telinga Dasha.
Kali ini pandangan Dasha telah mengabur sempurna ... mungkin tinggal selangkah menuju kehilangan kesadaran yang seutuhnya manakala sebuah suara lirih menyentuh relung sanubari Dasha yang terdalam ....
"Dasha ... Dasha sayangku ... "
"T-Tuan Luiz ... aku tau Tuan pasti akan datang ... Tuan pasti datang ..."
Ucap Dasha terbata, sebelum kepala gadis itu tekulai begitu saja, dalam pelukan Luiz.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Baji ngan itu telah melarikan diri. Dia sangat beruntung ... untuk saat ini.
Yah, hanya untuk saat ini, karena Luiz telah bersumpah akan tetap mencarinya dan memberikan pembalasan yang setimpal, meskipun pria brengsek itu akan melarikan diri sampai ke neraka.
Jika ingin menuruti emosi, sudah pasti Luiz tidak akan membiarkan si brengsek itu lolos begitu saja, namun menyadari kondisi Dasha yang sangat-sangat memprihatinkan, telah menghentikan segenap amarah Luiz begitu saja.
"Dasha ... Dasha sayangku ... "
Panggilan Luiz tak berarti, karena kepala Dasha telah lebih dahulu terkulai dalam pelukannya.
'Oh Tuhan, semua ini salahku ... salahku ...!'
Penyesalan Luiz seolah tak henti menumbuk dinding hatinya, manakala ia menyadari, bahwa semua yang terjadi tak lepas dari keteledorannya yang membiarkan Dasha seorang diri.
Dengan susah payah Luiz melepaskan jasnya guna menutupi sekujur tubuh Dasha yang polos tanpa sehelai benangpun yang tersisa.
Luiz tidak tau, apa saja yang telah terjadi.
Luiz pun merasa ngeri saat harus memikirkan segala sesuatu dari segala kemungkinan.
Saat ini yang ada didalam pikiran Luiz hanya satu, membawa Dasha dari toilet terkutuk yang telah membuat Dasha mengalami kejadian yang teramat sangat buruk!
Luiz memapah tubuh mungil Dasha keluar dari sana, mendekap erat tubuh yang seringan kapas itu ... kedalam dadanya ...
...
Bersambung ...
Support thx ... π