
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi ini cuaca rasanya sedikit lebih dingin...
Kedua insan yang dua hari ini terpisah karena
tradisi leluhur yang harus di jalani, tampaknya
melakukan balas dendam untuk segala hasrat
mereka yang terpendam. Hampir semalaman
mereka bercinta dengan begitu panas dan liar.
Kiran bahkan sampai menjerit beberapa kali
saat Agra melakukan aksinya dengan ganas
karena dorongan hasrat yang tidak terkendali.
Pagi ini keduanya masih terbaring lelah di atas
tempat tidur saling berpelukan erat. Matahari
sudah bersinar terang menembus atap kamar
hingga kehangatan nya menyebar ke seluruh
ruangan. Namun keduanya masih betah berada
di balik selimut, menikmati kehangatan tubuh
masing-masing yang mampu memberikan rasa
nyaman dan tentram pada jiwa mereka.
Waktu semakin merayap siang. Kiran mencoba
membuka matanya saat dia merasakan sesuatu
yang tidak beres kini telah terjadi di bawah sana.
Perlahan dia melepaskan diri dari pelukan erat
sang suami yang tidak pernah membiarkan diri
nya bebas sejenak pun. Dia selalu mengurung
dan menguasai tubuh nya di sepanjang waktu.
Kiran meringis, mencoba menyibak selimut
yang menutupi tubuh mereka.
Sedetik kemudian matanya tampak membulat sempurna melihat sesuatu yang cukup membuat dirinya syok luar biasa..
"Aaa... sayang banguuunn...!"
Suara teriakan histeris Kiran menggegerkan
seisi istana utama sampai menembus langit
bahkan mampu menerbangkan burung yang
sedang bersantai ria di ranting pohon.
Beberapa saat kemudian Agra sudah berlari
menuju ruang kesehatan dengan memangku
tubuh Kiran. Wajah nya saat ini sudah tidak
tergambarkan, panik luar biasa.
"Panggil Rey sekarang juga..cepaatt..!"
Teriakkan Agra membuat seluruh istana gaduh.
Pak Hans dan Tata bergerak cepat membagi
tugas. Para pelayan tampak gugup dan tegang
menyaksikan sang Tuan Muda kalangkabut.
Agra membaringkan tubuh lemah Kiran di
atas ranjang pemeriksaan. Seorang Dokter
jaga dan dua orang perawat tampak langsung
sibuk menangani keadaan Kiran.
"Jangan pergi sayang...aku takut.."
Kiran berucap lirih memegang erat tangan
Agra, wajahnya terlihat pucat pasi dengan
derai air mata yang tiada henti menetes.
"Aku di sini sayang..aku tidak akan pergi
kemanapun. Jangan takut oke..!"
Agra duduk di kursi sambil menggengam
tanah Kiran mengusap pelan air mata yang
membasahi wajah istrinya itu dengan raut
muka di penuhi kecemasan.
"Kita harus segera menghentikan pendarahan
nya. Cepat lakukan prosedur pembersihan..!"
Titah sang Dokter. Agra menciumi kening
Kiran lalu menepuk pelan wajah nya saat
istrinya itu perlahan menutup mata nya.
"Kiran sayang..kau dengar suaraku..? Kiran..
Apa yang terjadi dengan nya..?"
Agra terlihat semakin panik melihat Kiran
tidak mampu lagi membuka matanya. Dokter
tadi segera mengecek nadi dan kelopak mata
Kiran yang rapat.
"Nona pingsan Tuan.. sepertinya dia cukup
syok dengan semua kejadian ini..!"
Agra terhenyak, dia menatap lekat wajah Kiran
yang terlihat semakin pucat. Di ambang pintu
muncul Dr Rey bersamaan dengan kedatangan
seluruh keluarga Hadiningrat. Wajah mereka
semua tampak panik dan cemas.
"Sebaiknya Tuan tunggu di luar, kami akan
melakukan penanganan terhadap Nona..!"
"Tidak. ! aku tidak akan kemana-mana..! kau
lakukan saja semuanya di hadapanku.!"
Gertak Agra sambil menatap tajam wajah Dr
Rey yang terlihat bingung.
"Tuan Muda..kami butuh konsentrasi dan
ketenangan dalam melakukan nya, jadi
saya mohon mengertilah.."
"Aku bilang tidak ya tidak..! cepat tangani
istriku Rey..!"
Bentak Agra membuat Dr Rey terlonjak kaget
dengan wajah yang semakin bingung.
"Agra.. ayo keluar Nak, biarkan mereka bekerja
dengan tenang..!"
Eyang Putri mengingatkan membuat Agra
akhir nya nurut juga walau dengan berat hati.
Semua orang kini menunggu di luar ruangan
dengan perasaan cemas dan khawatir.
"Kenapa kamu tidak bisa mengontrol dirimu?
Apa kau tidak sadar kalau istrimu itu sedang
hamil muda..?"
Nyonya Yuri menatap kesal kearah Agra yang
sedang mondar mandir di depan pintu.
"Aku tidak tahu kalau akibatnya bisa begini.!"
"Kau ini suami macam apa.? harusnya kamu
faham kondisi istrimu.!"
Nyonya Yuri mencecar Agra menumpahkan
segala kekesalannya. Agra terdiam sambil
meremas rambutnya.
"Maaf Bu..aku yang salah. Aku benar-benar
tidak bisa mengendalikan diri kalau sudah
ada di dekatnya.."
Jujur Agra membuat ketiga orang tuanya
tertegun, rasa kesal dan geli kini bercampur
membuat mereka tersenyum pahit dan getir.
"Mulai sekarang kau harus bisa mengendalikan
hasrat dan keinginan mu itu Hoshi..!"
Tuan Hasimoto ikut berbicara. Agra menarik
napas berat sambil mengacak rambutnya.
Sungguh dia tidak tahu kalau keganasannya
semalam akan membuat Kiran mengalami
pendarahan seperti ini.
"Ayahmu benar.. lihat dulu kondisi istri mu.!"
Sambung Nyonya Yuri. Agra berdiri mematung
di balik pintu ruang pemeriksaan, mengintip
suasana di dalam dengan serbuan perasaan
bersalah yang kini memenuhi dadanya. Dokter
Rey dan teamnya tampaknya masih sibuk.
Kiran.. maafkan aku sayang..aku mohon
pertahankan bayi kita..Aku sangat berharap
banyak pada calon bayi kita ini...
Agra berbisik sambil mengusap kasar wajah
nya yang mulai terlihat sedikit pucat saking
cemasnya. Eyang Putri berdiri, lalu mendekat
kearah Agra yang membentur-benturkan
kepalanya ke dinding ruangan.
"Tidak akan terjadi apa-apa pada bayi kalian.
Itu hanya reaksi spontan saja karena tekanan
yang berlebihan. Berdoalah untuk kebaikan
istri dan calon bayimu..!"
Agra melirik, menatap wajah tenang Eyang
Putri lalu mengangguk pelan. Kemudian
dia membimbing Eyang Putri untuk duduk
kembali, dia pun ikut duduk di samping nya.
Satu jam kemudian....
Semua orang kini bisa kembali bernapas lega
setelah Dokter Rey memberikan laporannya
bahwa kondisi Kiran saat ini sudah membaik
dan syukurlah tidak terjadi hal serius dengan
janin yang di kandung nya. Semuanya masih
baik-baik saja.
"Kau membuat kami khawatir sayang.."
Nyonya Yuri menciumi kening Kiran yang baru
saja tersadar.
"Maaf ibu.. semuanya terjadi di luar kendali."
Lirih Kiran sambil tersenyum getir merasa
sedikit bersalah karena telah membuat
keluarganya cemas.
"Jangan pernah mengulanginya. Untung saja
calon cucuku tidak apa-apa. Kami bisa pulang
dengan tenang sekarang.."
Kiran menatap Tuan Hasimoto dan Nyonya
Yuri bergantian dengan sorot mata berat
karena harus berpisah dengan kedua
mertua yang sangat menyayangi nya itu.
"Apa kalian tidak bisa tinggal lebih lama lagi ?
Kami masih ingin bersama dengan kalian."
"Jangan khawatir sayang..Kami akan pulang
tiap bulannya untuk melihat perkembangan
calon cucu kami."
Ujar Nyonya Yuri. Kiran akhirnya tersenyum mengangguk. Eyang.Putri mendekat, mencium
kening Kiran cukup lama.
"Istirahatlah.. mulai sekarang kau hanya harus
fokus pada kandungan mu.."
Ucapnya sambil mengelus lembut wajah
Kiran yang masih sedikit pucat.
"Baik Eyang.. maaf sudah membuat Eyang
cemas.."
Eyang Putri hanya tersenyum. Dia kembali
mengelus wajah Kiran kemudian berlalu
pergi di ikuti oleh yang lain.
"Istirahat ya sayang..Ibu dan ayah akan pergi
satu jam lagi..!"
Ucap Nyonya Yuri sebelum akhirnya dia keluar
dari ruangan bersamaan dengan kemunculan
Agra bersama Tata yang membawa nampan
berisi sarapan khusus buatan Agra sendiri.
"Sayang.. maafkan aku sudah membuatmu
cemas. Sungguh aku tidak bermaksud untuk
membuatmu khawatir, aku..."
"Ini semua salahku sayang.. harusnya aku
yang minta maaf padamu..!"
Agra merengkuh tubuh Kiran ke dalam pelukan
nya, mendekapnya erat sambil menciumi puncak
kepalanya penuh rasa sayang sekaligus rasa
syukur karena istri dan calon bayi mereka baik-
baik saja sejauh ini.
"Sekarang sebaik nya kamu sarapan dulu.
Tubuh mu perlu tenaga.."
Agra menerima mangkuk bubur yang di
ulurkan oleh Tata.
"Apa kau yang membuatnya..?"
"Tentu saja, mulai sekarang aku sendiri yang
akan membuatkan sarapan pagi untukmu..
Setiap hari.."
"Tidak usah sayang.. jangan merepotkan diri
seperti itu, aku tidak ingin kau berlebihan
dalam memperlakukan ku..!"
"Aku sendiri yang menginginkan nya..!"
Ujar Agra antusias. Kiran tersenyum lembut
menatap Agra yang mulai menyuapinya penuh
kasih sayang. Tapi wajah suaminya itu masih
saja terlihat merasa bersalah.
"Sudah sayang.. apa yang kau takutkan lagi.?"
Kiran berucap sambil mengelus wajah Agra
yang menatapnya teduh.
"Ini semua terjadi karena aku yang tidak bisa
mengontrol diriku..!"
"Tapi bukankah aku pun menginginkan nya.?
Aku juga selalu tidak bisa menahan diriku.."
Agra tersenyum kecut. Dia membantu Kiran
meneguk air putih, kemudian melanjutkan
menyuapinya sampai bubur yang ada dalam
mangkuk besar tadi tandas semuanya.
"Sayang..aku ingin jalan-jalan ke pantai..!"
Agra menganga, menatap tajam wajah Kiran
yang memandang nya penuh pemaksaan..
****** ******
Beberapa hari kemudian...
Rombongan mobil mewah yang membawa
Agra dan Kiran akhirnya tiba di sebuah villa
besar yang berada di sebuah pulau pribadi.
Tidak lama setelahnya datang mobil mewah
lain yang ternyata adalah Nathan dan Aryella.
Kiran sengaja meminta Aryella untuk pergi
bersama ke tempat ini, dia ingin mengenang
masa kecil mereka yang suka sekali pergi
ke pantai, bermain pasir bersama dan berlari
bersama menyusuri pinggiran pantai.
Tentu saja semuanya atas persetujuan Agra.
Mau tidak mau Agra harus mengikuti segala
keinginan istrinya itu walau dia terpaksa harus berinteraksi dengan mantan kekasih Kiran itu.
Namun Kiran yakin dengan kebersamaan ini
menetapkan hatinya terhadap Aryella dan
melupakan perasaan nya yang dulu.
Tidak menunggu waktu lama, kedua kakak
beradik itu langsung saja berganti pakaian
untuk segera pergi ke pantai.
"Sayang..aku pergi ke pantai sekarang ya.."
Agra dan Nathan yang ada di ruang tengah
tampak menatap tidak berkedip kearah Kiran
yang sudah berganti dengan pakaian yang
lebih santai. Setelan pakaian warna putih
tanpa lengan berpadu celana pendek selutut
dengan model yang sangat cantik dan sedikit menerawang. Agra langsung mengetatkan
rahangnya. Dia berdiri menghampiri Kiran
yang sedang memakai topi pelindungnya.
"Apa kau yakin akan berpakaian seperti ini
sayang..? di luar sangat panas..!"
Kiran menilik pakaiannya, lalu menatap Agra
dengan senyum seribu watt nya.
"Ini cukup nyaman untuk ku pakai sayang.."
"Tapi..kau bisa masuk angin nanti dengan
pakaian seperti ini..!"
Ketus Agra sambil melirik kearah Nathan
yang langsung memalingkan wajahnya.
"Tidak apa-apa sayang..Kondisiku sekarang
sudah jauh lebih baik..!"
Kiran keukeuh dengan keinginan nya untuk
memakai pakaian itu. Agra menarik napas
berat, kemudian meraih tubuh Kiran ke
dalam dekapannya.
"Ayo kita pergi sekarang kak..!"
Aryella muncul dari arah kamarnya, sudah
siap dengan pakaian pantai nya yang cukup
membuat Nathan panas dingin dan memanas.
"Ayo...sudah ya sayang..aku pergi duluan
sama Aryella. Nanti kalian bisa menyusul.!"
Kiran mendaratkan kecupan mesra di bibir
Agra yang hanya bisa berdiri kaku menatap
kepergian Kiran bersama Aryella.
Kedua kakak beradik itu tampak sangat
bahagia, bermain air sambil tertawa riang.
Kebetulan ombak nya saat ini sedang tenang.
Air laut yang membiru sedikit berwarna tosca
tampak indah membentang luas di depan mata.
Zack dan para pengawal terlihat berjaga di
sekitar pantai namun tidak berani terlalu dekat
karena takut mengganggu kenyamanan Nona
Muda mereka yang terlihat begitu bahagia.
"Jangan lari kak... ingat kandungan mu..!"
Teriak Aryella saat melihat Kiran ingin berlari
menyongsong ombak yang datang. Dan akhir
nya Kiran hanya bisa berjalan biasa saja. Baju
yang di pakainya kini sudah basah seluruhnya
terkena air laut membuat lekuk tubuhnya
yang indah dan istimewa tercetak dengan
jelas, tampak begitu menggiurkan.
Zack memberi isyarat agar semua pengawal
berbalik dan menjauhkan pandangan nya dari
sosok Nona Muda mereka. Namun hal itu kini
malah jadi bumerang. Tiba-tiba saja dari arah
kejauhan berdatangan beberapa mobil offroad,
melaju dengan kecepatan tinggi meluncur
deras kearah Kiran yang sedang berdiri di
tengah pantai, sementara Aryella saat ini
berada jauh di dalam gulungan ombak.
"Kak Kiran awaaass..."
Aryella berteriak histeris, membelalakkan
matanya syok. Sementara Zack terkesiap
melihat kemunculan mobil-mobil buas itu
yang langsung melesat kearah Nona muda
nya. Namun dari arah lain muncul dua sosok
bayangan yang berlari secepat kilat.
"Kiran awaas...!"
Dua sosok bayangan itu langsung menyerbu
kearah Kiran yang sedang membulatkan mata
nya kearah kedatangan mobil-mobil tersebut.
Satu bayangan langsung menangkap tubuh
Kiran mengangkatnya ke dalam pangkuan
sambil menghindari serangan brutal mobil-
mobil tadi yang kini melakukan aksi memutar
mengurung sosok bayangan tadi yang
ternyata adalah Agra. Nathan kalah cepat
darinya hingga dia kini hanya bisa berdiri
bersiaga di luar perputaran mobil-mobil itu.
"Mozaa...!"
Desis Agra saat mobil-mobil itu berhenti dan
para pengemudi nya keluar. Kiran kini turun
dari pangkuan Agra, namun tidak lepas dari
pelukannya. Dia juga terlihat menatap tidak
percaya kearah sosok wanita cantik tomboy
berkostum lengkap khas pembalap yang kini
sudah berdiri di hadapan mereka berdua.
Wanita pembalap yang ternyata adalah Moza
itu berdiri tegak dengan gaya yang sangat
tenang, membungkukkan badannya sedikit
kemudian kembali berdiri santai, memutar
kunci mobil di jarinya, menatap tajam
kearah Kiran dan Agra.
"Sorry kalau kedatangan ku membuat anda
ketakutan Nona Muda Hadiningrat..!"
Ucapnya dengan senyum smirk. Di belakang
nya berjajar para pembalap lain dengan gaya
yang sangat santai dan percaya diri.
"Moza... kenapa kamu ada di sini..?"
Tanya Kiran sambil menegakkan badan
keluar dari pelukan Agra yang kini sudah
terlihat tenang. Menatap tajam kearah
Moza dengan tampang datarnya.
"Tentu saja untuk menemuimu Nona Muda.
Kebetulan aku sedang berada di dekat pulau
ini, ada event kecil-kecilan. Aku juga ingin
mengucapkan selamat atas pernikahan kalian..!"
"Kau datang karena ayahmu..?"
Potong Agra dengan seringai tipisnya. Moza
kembali tersenyum tipis.
"Tentu. Tuan Agra..aku ingin menantang mu
balapan disini. Aku tahu ayahku penjahat, tapi
kau bisa membantu meringankan hukuman
nya. Aku menang ayahku tenang, tapi kalau
aku kalah maka aku siap menjadi asisten
pribadi istri tercintamu..!"
Tegas Moza. Agra tersenyum tenang. Dia
mengulurkan tangannya sepakat.
"Deal..! kita mulai sekarang juga..!"
Kiran melongo, semua orang ternganga tak
percaya dengan tantangan konyol Moza.
"Tapi sayang..aku takut kamu..."
"Tenanglah.. serahkan semuanya padaku."
Desis Agra sambil memakaikan mantel ke
tubuh Kiran yang baru saja di bawakan oleh
Bara. Setelah itu memeluknya erat, menciumi
puncak kepala nya.
Kini orang-orang berdiri di pinggir pantai
dengan tatapan fokus ke tengah arena.
Dua mobil balap dalam tipe yang sama sudah
bersedia di garis start. Zack bersiap dengan
mengangkat bendera aba-aba ke udara. Tidak
lama kedua mobil itu sudah meluncur deras
di atas pasir pantai yang cukup menantang.
Kiran terduduk lemas di atas pasir dengan
perasaan yang kembali di hantui trauma masa
lalu saat di desa. Saat ini tubuh nya sudah di
tutup mantel tebal, begitupun dengan Aryella.
Nathan mendekat , duduk di samping kirinya,
Aryella juga ikut duduk di sebelah kanannya.
"Dia akan baik-baik saja Kiran..!"
Ujar Nathan mencoba menenangkan. Kiran
masih menunduk sambil berdoa.
"Iya.. kakak jangan cemas, bukankah kau
tahu kalau dia bukan sembarang pria.?"
Aryella menambahkan. Kiran mengangkat
wajahnya mencoba untuk tenang. Kemudian
dia berdiri di bantu oleh Aryella. Nathan hanya
bisa menatap dan memandang dalam diam.
Setengah jam kemudian...
Kiran semakin tidak tenang, dia melihat
kearah kejauhan dimana tadi mobil Agra
menghilang, dia semakin gelisah.
"Zack..Bara.. kalian cek keadaannya..!"
Titah Kiran untuk menentramkan batinnya.
"Baik Nona..!"
Sahut mereka berdua sambil membungkuk
kemudian berlalu naik mobil salah seorang
pembalap yang ada di sana.
Namun baru saja mereka melajukan mobilnya
dari arah sebrang terlihat kemunculan mobil
yang di kendarai oleh Agra jauh meninggalkan
mobil Moza. Kiran segera berlari tanpa sadar
pada kondisinya membuat Agra melebarkan
matanya dengan mempercepat laju mobilnya.
Kiran segera berhambur ke dalam pelukan
Agra begitu pria pujaannya itu melompat
turun dari mobil nya.
"Kenapa kamu berlari sayang..!"
Tegur Agra sambil mengangkat tubuh Kiran
ke dalam pangkuannya. Kiran mendaratkan
ciuman hangat di bibir Agra yang langsung
membalasnya, untuk sesaat keduanya larut
dalam ciuman lembut dan manis tidak peduli
pada semua orang yang kini memalingkan
wajah bersikap seolah tidak melihat apapun.
"Kau membuatku cemas sayang.."
Ujar Kiran setelah ciuman mereka terlepas.
Agra mencium keningnya lembut kemudian
kembali mengecup mesra bibir merah Kiran.
"Dia datang kesini hanya untuk bunuh diri
sayang..Sekarang dia adalah asisten pribadi
mu..! kau bebas memerintah nya..!"
Kiran tetsenyum kecut, dia turun dari pangkuan
Agra. Saat ini Moza sudah ada di hadapan nya,
tampak membungkukan badan dengan kepala
tertunduk pasrah dan kalah.
"Saya siap menjadi apapun yang ada inginkan
Nona Muda..!"
Ucap Moza penuh keyakinan. Kiran tampak
tersenyum lembut.
"Bagaimana dengan ayahmu..?"
"Dia memang harus bertanggung jawab
atas semua kejahatan nya Nona..!"
"Baiklah..tapi aku tidak butuh asisten, karena keberadaan suamiku sudah lebih dari cukup
bagiku.! jadi Moza..kembalilah ke kehidupan
mu, dan lupakan dendam itu. Sebab hidupmu
tidak akan pernah tentram kalau kau masih
memelihara nya..!"
Tegas Kiran membuat Moza semakin tertunduk.
Semua teman-teman pembalapnya juga ikut
menundukkan kepala.
"Kau memahami perkataan istriku Nona Moza?
Sekarang pergilah..Dan jangan menghancurkan
karirmu demi ayahmu yang tidak berguna itu.!"
Agra ikut mempertegas perkataan sang istri.
"Baik Tuan..Nona.. terimakasih atas kebaikan
kalian. Maaf karena saya sudah mengganggu
waktu liburan kalian. Kalau begitu saya permisi.."
Moza dan kawan-kawan nya membungkuk
lalu berbalik menaiki mobil masing-masing
setelah itu melajukan mobilnya meninggalkan
tempat itu.
"Ayo sayang.. sekarang temani aku main
air ya...aku ingin menikmati suasana di sini
sampai puas..!"
Seru Kiran sambil kemudian melangkah
menarik tangan Agra di bawa ke dalam
deburan ombak. Dia membuka mantelnya
kembali melemparnya kearah Zack. Dengan
senang hati Agra menemani sang istri
menikmati keindahan pantai tersebut yang
merupakan wilayah pulau pribadi miliknya.
Sementara Aryella dan Nathan memilih untuk
kembali ke Villa karena Nathan sudah tidak
bisa mengendalikan keinginannya, dia tidak
tahan melihat keindahan tubuh Kiran yang
dari tadi terpampang nyata di depan mata..
Dan untungnya ada Aryella..istrinya yang
bisa menjadi media pelampiasan hasratnya..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....