Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
79. Pergi Ke Pantai


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pagi ini cuaca rasanya sedikit lebih dingin...


Kedua insan yang dua hari ini terpisah karena


tradisi leluhur yang harus di jalani, tampaknya


melakukan balas dendam untuk segala hasrat


mereka yang terpendam. Hampir semalaman


mereka bercinta dengan begitu panas dan liar.


Kiran bahkan sampai menjerit beberapa kali


saat Agra melakukan aksinya dengan ganas


karena dorongan hasrat yang tidak terkendali.


Pagi ini keduanya masih terbaring lelah di atas


tempat tidur saling berpelukan erat. Matahari


sudah bersinar terang menembus atap kamar


hingga kehangatan nya menyebar ke seluruh


ruangan. Namun keduanya masih betah berada


di balik selimut, menikmati kehangatan tubuh


masing-masing yang mampu memberikan rasa


nyaman dan tentram pada jiwa mereka.


Waktu semakin merayap siang. Kiran mencoba


membuka matanya saat dia merasakan sesuatu


yang tidak beres kini telah terjadi di bawah sana.


Perlahan dia melepaskan diri dari pelukan erat


sang suami yang tidak pernah membiarkan diri


nya bebas sejenak pun. Dia selalu mengurung


dan menguasai tubuh nya di sepanjang waktu.


Kiran meringis, mencoba menyibak selimut


yang menutupi tubuh mereka.


Sedetik kemudian matanya tampak membulat sempurna melihat sesuatu yang cukup membuat dirinya syok luar biasa..


"Aaa... sayang banguuunn...!"


Suara teriakan histeris Kiran menggegerkan


seisi istana utama sampai menembus langit


bahkan mampu menerbangkan burung yang


sedang bersantai ria di ranting pohon.


Beberapa saat kemudian Agra sudah berlari


menuju ruang kesehatan dengan memangku


tubuh Kiran. Wajah nya saat ini sudah tidak


tergambarkan, panik luar biasa.


"Panggil Rey sekarang juga..cepaatt..!"


Teriakkan Agra membuat seluruh istana gaduh.


Pak Hans dan Tata bergerak cepat membagi


tugas. Para pelayan tampak gugup dan tegang


menyaksikan sang Tuan Muda kalangkabut.


Agra membaringkan tubuh lemah Kiran di


atas ranjang pemeriksaan. Seorang Dokter


jaga dan dua orang perawat tampak langsung


sibuk menangani keadaan Kiran.


"Jangan pergi sayang...aku takut.."


Kiran berucap lirih memegang erat tangan


Agra, wajahnya terlihat pucat pasi dengan


derai air mata yang tiada henti menetes.


"Aku di sini sayang..aku tidak akan pergi


kemanapun. Jangan takut oke..!"


Agra duduk di kursi sambil menggengam


tanah Kiran mengusap pelan air mata yang


membasahi wajah istrinya itu dengan raut


muka di penuhi kecemasan.


"Kita harus segera menghentikan pendarahan


nya. Cepat lakukan prosedur pembersihan..!"


Titah sang Dokter. Agra menciumi kening


Kiran lalu menepuk pelan wajah nya saat


istrinya itu perlahan menutup mata nya.


"Kiran sayang..kau dengar suaraku..? Kiran..


Apa yang terjadi dengan nya..?"


Agra terlihat semakin panik melihat Kiran


tidak mampu lagi membuka matanya. Dokter


tadi segera mengecek nadi dan kelopak mata


Kiran yang rapat.


"Nona pingsan Tuan.. sepertinya dia cukup


syok dengan semua kejadian ini..!"


Agra terhenyak, dia menatap lekat wajah Kiran


yang terlihat semakin pucat. Di ambang pintu


muncul Dr Rey bersamaan dengan kedatangan


seluruh keluarga Hadiningrat. Wajah mereka


semua tampak panik dan cemas.


"Sebaiknya Tuan tunggu di luar, kami akan


melakukan penanganan terhadap Nona..!"


"Tidak. ! aku tidak akan kemana-mana..! kau


lakukan saja semuanya di hadapanku.!"


Gertak Agra sambil menatap tajam wajah Dr


Rey yang terlihat bingung.


"Tuan Muda..kami butuh konsentrasi dan


ketenangan dalam melakukan nya, jadi


saya mohon mengertilah.."


"Aku bilang tidak ya tidak..! cepat tangani


istriku Rey..!"


Bentak Agra membuat Dr Rey terlonjak kaget


dengan wajah yang semakin bingung.


"Agra.. ayo keluar Nak, biarkan mereka bekerja


dengan tenang..!"


Eyang Putri mengingatkan membuat Agra


akhir nya nurut juga walau dengan berat hati.


Semua orang kini menunggu di luar ruangan


dengan perasaan cemas dan khawatir.


"Kenapa kamu tidak bisa mengontrol dirimu?


Apa kau tidak sadar kalau istrimu itu sedang


hamil muda..?"


Nyonya Yuri menatap kesal kearah Agra yang


sedang mondar mandir di depan pintu.


"Aku tidak tahu kalau akibatnya bisa begini.!"


"Kau ini suami macam apa.? harusnya kamu


faham kondisi istrimu.!"


Nyonya Yuri mencecar Agra menumpahkan


segala kekesalannya. Agra terdiam sambil


meremas rambutnya.


"Maaf Bu..aku yang salah. Aku benar-benar


tidak bisa mengendalikan diri kalau sudah


ada di dekatnya.."


Jujur Agra membuat ketiga orang tuanya


tertegun, rasa kesal dan geli kini bercampur


membuat mereka tersenyum pahit dan getir.


"Mulai sekarang kau harus bisa mengendalikan


hasrat dan keinginan mu itu Hoshi..!"


Tuan Hasimoto ikut berbicara. Agra menarik


napas berat sambil mengacak rambutnya.


Sungguh dia tidak tahu kalau keganasannya


semalam akan membuat Kiran mengalami


pendarahan seperti ini.


"Ayahmu benar.. lihat dulu kondisi istri mu.!"


Sambung Nyonya Yuri. Agra berdiri mematung


di balik pintu ruang pemeriksaan, mengintip


suasana di dalam dengan serbuan perasaan


bersalah yang kini memenuhi dadanya. Dokter


Rey dan teamnya tampaknya masih sibuk.


Kiran.. maafkan aku sayang..aku mohon


pertahankan bayi kita..Aku sangat berharap


banyak pada calon bayi kita ini...


Agra berbisik sambil mengusap kasar wajah


nya yang mulai terlihat sedikit pucat saking


cemasnya. Eyang Putri berdiri, lalu mendekat


kearah Agra yang membentur-benturkan


kepalanya ke dinding ruangan.


"Tidak akan terjadi apa-apa pada bayi kalian.


Itu hanya reaksi spontan saja karena tekanan


yang berlebihan. Berdoalah untuk kebaikan


istri dan calon bayimu..!"


Agra melirik, menatap wajah tenang Eyang


Putri lalu mengangguk pelan. Kemudian


dia membimbing Eyang Putri untuk duduk


kembali, dia pun ikut duduk di samping nya.


Satu jam kemudian....


Semua orang kini bisa kembali bernapas lega


setelah Dokter Rey memberikan laporannya


bahwa kondisi Kiran saat ini sudah membaik


dan syukurlah tidak terjadi hal serius dengan


janin yang di kandung nya. Semuanya masih


baik-baik saja.


"Kau membuat kami khawatir sayang.."


Nyonya Yuri menciumi kening Kiran yang baru


saja tersadar.


"Maaf ibu.. semuanya terjadi di luar kendali."


Lirih Kiran sambil tersenyum getir merasa


sedikit bersalah karena telah membuat


keluarganya cemas.


"Jangan pernah mengulanginya. Untung saja


calon cucuku tidak apa-apa. Kami bisa pulang


dengan tenang sekarang.."


Kiran menatap Tuan Hasimoto dan Nyonya


Yuri bergantian dengan sorot mata berat


karena harus berpisah dengan kedua


mertua yang sangat menyayangi nya itu.


"Apa kalian tidak bisa tinggal lebih lama lagi ?


Kami masih ingin bersama dengan kalian."


"Jangan khawatir sayang..Kami akan pulang


tiap bulannya untuk melihat perkembangan


calon cucu kami."


Ujar Nyonya Yuri. Kiran akhirnya tersenyum mengangguk. Eyang.Putri mendekat, mencium


kening Kiran cukup lama.


"Istirahatlah.. mulai sekarang kau hanya harus


fokus pada kandungan mu.."


Ucapnya sambil mengelus lembut wajah


Kiran yang masih sedikit pucat.


"Baik Eyang.. maaf sudah membuat Eyang


cemas.."


Eyang Putri hanya tersenyum. Dia kembali


mengelus wajah Kiran kemudian berlalu


pergi di ikuti oleh yang lain.


"Istirahat ya sayang..Ibu dan ayah akan pergi


satu jam lagi..!"


Ucap Nyonya Yuri sebelum akhirnya dia keluar


dari ruangan bersamaan dengan kemunculan


Agra bersama Tata yang membawa nampan


berisi sarapan khusus buatan Agra sendiri.


"Sayang.. maafkan aku sudah membuatmu


cemas. Sungguh aku tidak bermaksud untuk


membuatmu khawatir, aku..."


"Ini semua salahku sayang.. harusnya aku


yang minta maaf padamu..!"


Agra merengkuh tubuh Kiran ke dalam pelukan


nya, mendekapnya erat sambil menciumi puncak


kepalanya penuh rasa sayang sekaligus rasa


syukur karena istri dan calon bayi mereka baik-


baik saja sejauh ini.


"Sekarang sebaik nya kamu sarapan dulu.


Tubuh mu perlu tenaga.."


Agra menerima mangkuk bubur yang di


ulurkan oleh Tata.


"Apa kau yang membuatnya..?"


"Tentu saja, mulai sekarang aku sendiri yang


akan membuatkan sarapan pagi untukmu..


Setiap hari.."


"Tidak usah sayang.. jangan merepotkan diri


seperti itu, aku tidak ingin kau berlebihan


dalam memperlakukan ku..!"


"Aku sendiri yang menginginkan nya..!"


Ujar Agra antusias. Kiran tersenyum lembut


menatap Agra yang mulai menyuapinya penuh


kasih sayang. Tapi wajah suaminya itu masih


saja terlihat merasa bersalah.


"Sudah sayang.. apa yang kau takutkan lagi.?"


Kiran berucap sambil mengelus wajah Agra


yang menatapnya teduh.


"Ini semua terjadi karena aku yang tidak bisa


mengontrol diriku..!"


"Tapi bukankah aku pun menginginkan nya.?


Aku juga selalu tidak bisa menahan diriku.."


Agra tersenyum kecut. Dia membantu Kiran


meneguk air putih, kemudian melanjutkan


menyuapinya sampai bubur yang ada dalam


mangkuk besar tadi tandas semuanya.


"Sayang..aku ingin jalan-jalan ke pantai..!"


Agra menganga, menatap tajam wajah Kiran


yang memandang nya penuh pemaksaan..


****** ******


Beberapa hari kemudian...


Rombongan mobil mewah yang membawa


Agra dan Kiran akhirnya tiba di sebuah villa


besar yang berada di sebuah pulau pribadi.


Tidak lama setelahnya datang mobil mewah


lain yang ternyata adalah Nathan dan Aryella.


Kiran sengaja meminta Aryella untuk pergi


bersama ke tempat ini, dia ingin mengenang


masa kecil mereka yang suka sekali pergi


ke pantai, bermain pasir bersama dan berlari


bersama menyusuri pinggiran pantai.


Tentu saja semuanya atas persetujuan Agra.


Mau tidak mau Agra harus mengikuti segala


keinginan istrinya itu walau dia terpaksa harus berinteraksi dengan mantan kekasih Kiran itu.


Namun Kiran yakin dengan kebersamaan ini


menetapkan hatinya terhadap Aryella dan


melupakan perasaan nya yang dulu.


Tidak menunggu waktu lama, kedua kakak


beradik itu langsung saja berganti pakaian


untuk segera pergi ke pantai.


"Sayang..aku pergi ke pantai sekarang ya.."


Agra dan Nathan yang ada di ruang tengah


tampak menatap tidak berkedip kearah Kiran


yang sudah berganti dengan pakaian yang


lebih santai. Setelan pakaian warna putih


tanpa lengan berpadu celana pendek selutut


dengan model yang sangat cantik dan sedikit menerawang. Agra langsung mengetatkan


rahangnya. Dia berdiri menghampiri Kiran


yang sedang memakai topi pelindungnya.


"Apa kau yakin akan berpakaian seperti ini


sayang..? di luar sangat panas..!"


Kiran menilik pakaiannya, lalu menatap Agra


dengan senyum seribu watt nya.


"Ini cukup nyaman untuk ku pakai sayang.."


"Tapi..kau bisa masuk angin nanti dengan


pakaian seperti ini..!"


Ketus Agra sambil melirik kearah Nathan


yang langsung memalingkan wajahnya.


"Tidak apa-apa sayang..Kondisiku sekarang


sudah jauh lebih baik..!"


Kiran keukeuh dengan keinginan nya untuk


memakai pakaian itu. Agra menarik napas


berat, kemudian meraih tubuh Kiran ke


dalam dekapannya.


"Ayo kita pergi sekarang kak..!"


Aryella muncul dari arah kamarnya, sudah


siap dengan pakaian pantai nya yang cukup


membuat Nathan panas dingin dan memanas.


"Ayo...sudah ya sayang..aku pergi duluan


sama Aryella. Nanti kalian bisa menyusul.!"


Kiran mendaratkan kecupan mesra di bibir


Agra yang hanya bisa berdiri kaku menatap


kepergian Kiran bersama Aryella.


Kedua kakak beradik itu tampak sangat


bahagia, bermain air sambil tertawa riang.


Kebetulan ombak nya saat ini sedang tenang.


Air laut yang membiru sedikit berwarna tosca


tampak indah membentang luas di depan mata.


Zack dan para pengawal terlihat berjaga di


sekitar pantai namun tidak berani terlalu dekat


karena takut mengganggu kenyamanan Nona


Muda mereka yang terlihat begitu bahagia.


"Jangan lari kak... ingat kandungan mu..!"


Teriak Aryella saat melihat Kiran ingin berlari


menyongsong ombak yang datang. Dan akhir


nya Kiran hanya bisa berjalan biasa saja. Baju


yang di pakainya kini sudah basah seluruhnya


terkena air laut membuat lekuk tubuhnya


yang indah dan istimewa tercetak dengan


jelas, tampak begitu menggiurkan.


Zack memberi isyarat agar semua pengawal


berbalik dan menjauhkan pandangan nya dari


sosok Nona Muda mereka. Namun hal itu kini


malah jadi bumerang. Tiba-tiba saja dari arah


kejauhan berdatangan beberapa mobil offroad,


melaju dengan kecepatan tinggi meluncur


deras kearah Kiran yang sedang berdiri di


tengah pantai, sementara Aryella saat ini


berada jauh di dalam gulungan ombak.


"Kak Kiran awaaass..."


Aryella berteriak histeris, membelalakkan


matanya syok. Sementara Zack terkesiap


melihat kemunculan mobil-mobil buas itu


yang langsung melesat kearah Nona muda


nya. Namun dari arah lain muncul dua sosok


bayangan yang berlari secepat kilat.


"Kiran awaas...!"


Dua sosok bayangan itu langsung menyerbu


kearah Kiran yang sedang membulatkan mata


nya kearah kedatangan mobil-mobil tersebut.


Satu bayangan langsung menangkap tubuh


Kiran mengangkatnya ke dalam pangkuan


sambil menghindari serangan brutal mobil-


mobil tadi yang kini melakukan aksi memutar


mengurung sosok bayangan tadi yang


ternyata adalah Agra. Nathan kalah cepat


darinya hingga dia kini hanya bisa berdiri


bersiaga di luar perputaran mobil-mobil itu.


"Mozaa...!"


Desis Agra saat mobil-mobil itu berhenti dan


para pengemudi nya keluar. Kiran kini turun


dari pangkuan Agra, namun tidak lepas dari


pelukannya. Dia juga terlihat menatap tidak


percaya kearah sosok wanita cantik tomboy


berkostum lengkap khas pembalap yang kini


sudah berdiri di hadapan mereka berdua.


Wanita pembalap yang ternyata adalah Moza


itu berdiri tegak dengan gaya yang sangat


tenang, membungkukkan badannya sedikit


kemudian kembali berdiri santai, memutar


kunci mobil di jarinya, menatap tajam


kearah Kiran dan Agra.


"Sorry kalau kedatangan ku membuat anda


ketakutan Nona Muda Hadiningrat..!"


Ucapnya dengan senyum smirk. Di belakang


nya berjajar para pembalap lain dengan gaya


yang sangat santai dan percaya diri.


"Moza... kenapa kamu ada di sini..?"


Tanya Kiran sambil menegakkan badan


keluar dari pelukan Agra yang kini sudah


terlihat tenang. Menatap tajam kearah


Moza dengan tampang datarnya.


"Tentu saja untuk menemuimu Nona Muda.


Kebetulan aku sedang berada di dekat pulau


ini, ada event kecil-kecilan. Aku juga ingin


mengucapkan selamat atas pernikahan kalian..!"


"Kau datang karena ayahmu..?"


Potong Agra dengan seringai tipisnya. Moza


kembali tersenyum tipis.


"Tentu. Tuan Agra..aku ingin menantang mu


balapan disini. Aku tahu ayahku penjahat, tapi


kau bisa membantu meringankan hukuman


nya. Aku menang ayahku tenang, tapi kalau


aku kalah maka aku siap menjadi asisten


pribadi istri tercintamu..!"


Tegas Moza. Agra tersenyum tenang. Dia


mengulurkan tangannya sepakat.


"Deal..! kita mulai sekarang juga..!"


Kiran melongo, semua orang ternganga tak


percaya dengan tantangan konyol Moza.


"Tapi sayang..aku takut kamu..."


"Tenanglah.. serahkan semuanya padaku."


Desis Agra sambil memakaikan mantel ke


tubuh Kiran yang baru saja di bawakan oleh


Bara. Setelah itu memeluknya erat, menciumi


puncak kepala nya.


Kini orang-orang berdiri di pinggir pantai


dengan tatapan fokus ke tengah arena.


Dua mobil balap dalam tipe yang sama sudah


bersedia di garis start. Zack bersiap dengan


mengangkat bendera aba-aba ke udara. Tidak


lama kedua mobil itu sudah meluncur deras


di atas pasir pantai yang cukup menantang.


Kiran terduduk lemas di atas pasir dengan


perasaan yang kembali di hantui trauma masa


lalu saat di desa. Saat ini tubuh nya sudah di


tutup mantel tebal, begitupun dengan Aryella.


Nathan mendekat , duduk di samping kirinya,


Aryella juga ikut duduk di sebelah kanannya.


"Dia akan baik-baik saja Kiran..!"


Ujar Nathan mencoba menenangkan. Kiran


masih menunduk sambil berdoa.


"Iya.. kakak jangan cemas, bukankah kau


tahu kalau dia bukan sembarang pria.?"


Aryella menambahkan. Kiran mengangkat


wajahnya mencoba untuk tenang. Kemudian


dia berdiri di bantu oleh Aryella. Nathan hanya


bisa menatap dan memandang dalam diam.


Setengah jam kemudian...


Kiran semakin tidak tenang, dia melihat


kearah kejauhan dimana tadi mobil Agra


menghilang, dia semakin gelisah.


"Zack..Bara.. kalian cek keadaannya..!"


Titah Kiran untuk menentramkan batinnya.


"Baik Nona..!"


Sahut mereka berdua sambil membungkuk


kemudian berlalu naik mobil salah seorang


pembalap yang ada di sana.


Namun baru saja mereka melajukan mobilnya


dari arah sebrang terlihat kemunculan mobil


yang di kendarai oleh Agra jauh meninggalkan


mobil Moza. Kiran segera berlari tanpa sadar


pada kondisinya membuat Agra melebarkan


matanya dengan mempercepat laju mobilnya.


Kiran segera berhambur ke dalam pelukan


Agra begitu pria pujaannya itu melompat


turun dari mobil nya.


"Kenapa kamu berlari sayang..!"


Tegur Agra sambil mengangkat tubuh Kiran


ke dalam pangkuannya. Kiran mendaratkan


ciuman hangat di bibir Agra yang langsung


membalasnya, untuk sesaat keduanya larut


dalam ciuman lembut dan manis tidak peduli


pada semua orang yang kini memalingkan


wajah bersikap seolah tidak melihat apapun.


"Kau membuatku cemas sayang.."


Ujar Kiran setelah ciuman mereka terlepas.


Agra mencium keningnya lembut kemudian


kembali mengecup mesra bibir merah Kiran.


"Dia datang kesini hanya untuk bunuh diri


sayang..Sekarang dia adalah asisten pribadi


mu..! kau bebas memerintah nya..!"


Kiran tetsenyum kecut, dia turun dari pangkuan


Agra. Saat ini Moza sudah ada di hadapan nya,


tampak membungkukan badan dengan kepala


tertunduk pasrah dan kalah.


"Saya siap menjadi apapun yang ada inginkan


Nona Muda..!"


Ucap Moza penuh keyakinan. Kiran tampak


tersenyum lembut.


"Bagaimana dengan ayahmu..?"


"Dia memang harus bertanggung jawab


atas semua kejahatan nya Nona..!"


"Baiklah..tapi aku tidak butuh asisten, karena keberadaan suamiku sudah lebih dari cukup


bagiku.! jadi Moza..kembalilah ke kehidupan


mu, dan lupakan dendam itu. Sebab hidupmu


tidak akan pernah tentram kalau kau masih


memelihara nya..!"


Tegas Kiran membuat Moza semakin tertunduk.


Semua teman-teman pembalapnya juga ikut


menundukkan kepala.


"Kau memahami perkataan istriku Nona Moza?


Sekarang pergilah..Dan jangan menghancurkan


karirmu demi ayahmu yang tidak berguna itu.!"


Agra ikut mempertegas perkataan sang istri.


"Baik Tuan..Nona.. terimakasih atas kebaikan


kalian. Maaf karena saya sudah mengganggu


waktu liburan kalian. Kalau begitu saya permisi.."


Moza dan kawan-kawan nya membungkuk


lalu berbalik menaiki mobil masing-masing


setelah itu melajukan mobilnya meninggalkan


tempat itu.


"Ayo sayang.. sekarang temani aku main


air ya...aku ingin menikmati suasana di sini


sampai puas..!"


Seru Kiran sambil kemudian melangkah


menarik tangan Agra di bawa ke dalam


deburan ombak. Dia membuka mantelnya


kembali melemparnya kearah Zack. Dengan


senang hati Agra menemani sang istri


menikmati keindahan pantai tersebut yang


merupakan wilayah pulau pribadi miliknya.


Sementara Aryella dan Nathan memilih untuk


kembali ke Villa karena Nathan sudah tidak


bisa mengendalikan keinginannya, dia tidak


tahan melihat keindahan tubuh Kiran yang


dari tadi terpampang nyata di depan mata..


Dan untungnya ada Aryella..istrinya yang


bisa menjadi media pelampiasan hasratnya..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....