Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
63. Sekretaris Baru


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pagi hari yang cerah di lingkungan istana Hadiningrat...


Suara kicau burung terdengar bersahutan di


dalam kandang burung raksasa yang ada di


taman belakang istana. Semilir angin sejuk


membawa semangat dan harapan baru bagi


semua penghuni istana megah itu. Semua


pelayan hari ini tampak begitu bersemangat


karena sang Tuan rumah sudah kembali.


Tadi malam sekitar jam 9 Agra dan Kiran


sudah kembali ke istana ini.


Selepas sholat subuh Kiran dan Agra kembali


terlelap dalam tidur lelahnya. Seolah tidak rela melewatkannya, menjelang subuh tadi mereka


berdua kembali bergumul panas sampai puas.


Kiran memang harus memiliki fisik yang kuat,


karena suaminya itu sosok yang terlalu perkasa.


Dia seakan tidak pernah ada bosannya untuk


selalu menyentuh dan mengeksplor tubuhnya,


setiap kali bersentuhan hasrat suaminya itu


selalu saja naik. Daya tarik seksual yang di


miliki oleh Kiran memang terlalu kuat hingga


membuat Agra selalu tidak tahannsetiap kali


berada di dekat istrinya itu.


Matahari sudah menyemburkan sinarnya dari


atap kamar yang membiaskan cahaya kemilau


bercampur kehangatan. Kedua insan yang


saling mencinta itu masih tampak saling


memeluk erat, memberikan kenyamanan


dan rasa damai bagi jiwa pasangannya.


Seperti biasa Agra tidak pernah membiarkan


Kiran jauh ataupun keluar dari kungkungan


nya. Keduanya tampak nya begitu kelelahan,


setelah.perjalanan pulang semalam di tambah


dengan aktifitas percintaan mereka yang


menguras tenaga menjelang subuh tadi.


Sekitar jam 8 Kiran membuka mata karena


bias cahaya matahari yang jatuh di wajah nya.


Dia mencoba menggeliat, seluruh tulang nya


saat ini terasa rontok semua, tapi wajahnya


terlihat cerah berseri penuh kepuasan.


Kiran menatap tenang wajah tampan Agra


yang masih nampak terlelap. Tangannya


bergerak membelai mesra wajah paripurna


itu dengan sentuhan lembut penuh cinta.


Bibirnya tampak mengulas senyum manis,


lalu dia mendaratkan ciuman lembut di bibir


seksi Agra, namun sedetik kemudian Kiran membulatkan matanya saat Agra menyergap


bibirnya dengan kuat dan ********** lembut,


dia tidak begitu saja melepaskannya. Mau


tidak mau akhir nya Kiran membalas dan


melayani aksi liar suaminya tersebut untuk


beberapa saat hingga akhirnya ciuman


selamat pagi itu terlepas saat mereka


hampir kehabisan pasokan udara.


Kiran mendorong pelan dada Agra dengan


napas tersengal dan wajah yang memerah.


Dia segera bergerak turun dari tempat tidur


untuk menghindari aksi liar lain suaminya


yang pasti akan di lakukannya kalau dia


tidak cepat-cepat menghindar darinya.


"Hei..mau kemana sayang..ini masih pagi..!"


Agra menatap Kiran yang membenahi gaun


tidur nya yang terbuka di bagian atasnya.


"Ini sudah siang sayang..kau juga harus segera bersiap, bukankah ada meeting penting hari ini.?"


"Tapi masih banyak waktu untuk kita sayang..!"


"Tidak ! aku ingin segera menemui Eyang.."


"Kita akan menemuinya nanti sekalian sarapan


pagi, sekarang ayo kembali ke tempat tidur..!"


Agra menepuk kasur seraya menatap Kiran


dengan sorot mata penuh perintah. Kiran yang


sedang menggulung rambut nya melirik sekilas


lalu menggelengkan kepala .


"Tidak mau ! kau pasti tidak akan melepaskan


aku begitu saja. Aku akan membuatkan kopi


untukmu. Sekarang sebaiknya kau bersiap..!"


"Aku janji tidak akan macam-macam sayang.


Hanya tiduran saja sebentar lagi..!"


"Aku tidak percaya rayuan gombal mu.!"


"Hei..aku bukan tipe laki-laki perayu..!"


"Oyaa..? tapi akut tetap tidak percaya padamu.!


Aku tahu pasti apa yang ada dalam benakmu.!"


Ketus Kiran sambil kemudian mulai beranjak.


"Baiklah..! aku tidak akan turun dari tempat


tidur kalau kamu tidak menuruti keinginanku sekarang.!"


"Terserah..itu urusanmu Tuan Muda..!"


Elak Kiran dengan senyum usilnya kemudian


berlalu keluar kamar membuat Agra merasa


gemas sendiri, dia mengulum senyum sambil


menatap kepergian istrinya itu. Dirinya tahu


pasti kalau Kiran sengaja menghindari nya.


Setengah jam kemudian...


Saat ini Kiran sudah berkutat dengan kegiatan


rutinnya, memakaikan setelan kerja ke tubuh


gagah suaminya. Memang masih ada sedikit


rasa canggung saat dirinya harus menyentuh


langsung tubuh suaminya itu, tapi dengan ini membuat dia merasa lebih memiliki peran.


Selama kegiatan itu berlangsung, Agra tidak


pernah melepaskan pandangan nya dari wajah


cantik Kiran. Saat ini Kiran mengenakkan dress


cantik lengan pendek dengan warna yang


sangat cerah sehingga kontras dengan warna


kulit nya yang putih berkilau bak porselen.


Mata Agra mengunci bibir merah jambu Kiran


yang memiliki bentuk sangat menggoda hingga mampu membuat dia merindukan nya setiap


saat dan tiada bosan untuk mencicipinya.


Kiran mengusap lembut jas mahal Agra saat semuanya sudah tampak rapi dan siap pergi.


Dia selalu saja terpesona saat melihat Agra


dalam tampilan resmi seperti ini. Suami nya


itu tampak lebih gagah dan penuh kharisma.


"Nona Sashikirana..!"


"Hemm..?"


Kiran mengangkat wajahnya, menatap Agra


sekilas, kembali merapihkan tampilan suami


nya itu dengan menilik seluruhnya.


"Apa kau bahagia hidup bersamaku.?"


Kiran mengernyitkan alis nya, dia mematung,


menatap lekat wajah tampan Agra penuh tanda


tanya. Wajahnya kini di penuhi semburat merah.


"Ada apa sayang.? kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu.?"


"Aku belum memberikan apapun padamu Kiran.


Hanya kepahitan dan kesakitan lah yang telah


aku berikan padamu sampai sejauh ini.!"


Wajah Kiran berubah terhenyak. Perlahan dia


merapat, mengalungkan tangannya di leher


kokoh Agra yang semakin menatapnya dalam.


"Apa aku pernah meminta sesuatu padamu.?


Atau aku pernah melihat siapa dirimu.?"


Agra menatap tenang wajah Kiran yang kini


semakin mendekat. Dia menggeleng pelan.


"Lalu kenapa kau harus bertanya seperti itu.?"


"Aku hanya merasa belum bisa membuat mu


bahagia, aku terlalu sibuk dengan duniaku..!"


"Aku tidak peduli dengan yang namanya harta,


kekuasaan ataupun kedudukan. Dari awal aku


sudah menerima dirimu apa adanya.!"


Agra tersenyum tipis, menarik pinggang kecil


Kiran hingga tubuh mereka semakin rapat.


"Aku tahu, tapi aku memulai hubungan ini


dengan sebuah kebohongan. Aku memaksa


mu untuk masuk ke dalam kehidupan ku.!"


"Itu semua adalah proses, kalau Tuhan sudah


menentukan, lalu kita bisa apa.!"


Tangan Agra meraih dagu lancip Kiran yang


memilki bentuk sangat menarik dan menggoda.


"Akan aku lakukan apapun untuk membuatmu


bahagia hidup bersamaku Kiran.."


Bisik Agra dengan tatapan yang semakin lekat.


Kiran meraup wajah Agra, menatap nya kuat.


"Aku bahagia hidup bersamamu..Kau adalah


segalanya bagiku. Aku tidak menginginkan


apapun lagi, saat ini dunia sudah ada dalam


genggaman ku, kau adalah dunia akhirat ku


Tuan Bimantara Agra Bintang..!"


Desis Kiran sambil kemudian memagut bibir


Agra yang langsung memejamkan matanya.


Keduanya larut dalam sentuhan lembut dan


manisnya bibir mereka yang senantiasa di


sertai percikan gairah hingga memanaskan


tubuh keduanya setiap kali mereka berciuman.


Sungguh dunia kini sudah benar-benar ada


dalam genggaman Agra sepenuhnya. Dan


kebahagiaan itu kini sudah menjadi miliknya.


Memiliki seorang Kiran bagi Agra adalah


kebahagiaan sejatinya..


----- ------


Eyang Putri tampak tersenyum sumringah


menyambut kedatangan dua orang yang


sangat berharga dalam hidup nya saat ini.


Wanita sepuh itu kini sudah duduk santai di


ruangan samping yang langsung terhubung


ke taman bunga dan kolam ikan yang luas.


Tempat ini biasa di gunakan oleh Eyang putri


jika dia sedang ingin sarapan di luar ruangan.


"Assalamualaikum Eyang.. bagaimana kabar


Eyang hari ini..?"


Kiran mencium punggung tangan Eyang putri


lalu memeluknya erat. Eyang Putri mengusap


lembut punggung cucu menantunya itu dengan


mata berkaca-kaca. Tiga hari di tinggalkan dia


merasa sangat kehilangan.


"Eyang baik-baik saja..bagaimana bulan madu


kalian, berjalan baik kah.?"


Kiran melepaskan rangkulan nya dengan wajah


yang kini bersemu merah. Dia melirik kearah


Agra yang terlihat tenang, bergantian memeluk


neneknya itu.


"Semua nya berjalan baik dan lancar Eyang."


"Apa kalian mendapat sambutan istimewa dari


pria arogan itu .?"


Tanya Eyang putri saat Agra dan Kiran sudah


duduk di kursinya masing-masing yang sudah


di siapkan oleh para pelayan. Kiran tersenyum


bereaksi berlebihan.


"Alhamdulillah..kami mendapat sambutan


yang layak Eyang. Ibu dan Ayah mertua


menerimaku dengan sangat baik."


Eyang Putri menatap Kiran sambil membuka


sedikit kacamatanya membuat Kiran menunduk.


"Apa dia sudah menyulitkan mu..?"


Kiran mendongak lalu menggeleng cepat


seraya tersenyum lembut.


"Tidak sama sekali Eyang.. sejauh ini semua


nya berjalan sesuai dengan harapan."


Eyang Putri masih mengamati ekspresi kedua


cucunya itu. Para pelayan mulai bergerak untuk melayani majikan mereka dengan penuh


kehati-hatian.


"Aku tahu pria itu tidak akan menerima kalian


begitu saja. ! dia itu sangat angkuh.!"


"Tidak begitu Eyang.. Wajar kalau ayah mertua


berhati-hati, tentunya dia menginginkan yang


terbaik untuk putra nya."


"Hemm..tapi tetap saja dia adalah pria yang


sulit di kendalikan dan tidak bisa di tebak.!"


"Sama persis seperti putranya Eyang..!"


Agra langsung melirik cepat, menatap tidak


suka terhadap Kiran.


"Hei.. jangan pernah menyamakan aku dengan


pria licik itu ! aku tidak pernah berlaku curang."


Kiran tersenyum lembut, kemudian meminta


pelayan untuk tidak melayani Agra. Dia segera


menuangkan makanan ke piring Agra.


"Baiklah..tentu saja kau jauh lebih baik dari


ayah mertua. Sekarang mulai sarapannya ya."


Lirih Kiran sambil menyodorkan air putih.


Eyang putri terlihat mengulas senyum melihat


perdebatan pasangan muda itu.


"Aku yakin kedua mertua mu itu pasti langsung


luluh melihat sikap mu ini..!"


Kiran tersipu malu, dia menuangkan makanan


khusus yang biasa di santap oleh Eyang putri.


"Dalam hidup ternyata semua nya butuh proses


Eyang. Dan kalau kita menjalani nya dengan


ikhlas, insya Allah akhirnya berbuah manis."


Lirih Kiran seraya mendekatkan makanan


tadi ke hadapan Eyang putri yang tampak


mengangguk dan tersenyum puas.


"Kau benar.. ayo sekarang kita mulai sarapan


nya. Masih banyak hal yang harus kau lakukan


untuk persiapan resepsi nanti..!"


Ujar Eyang putri. Dan mereka pun menikmati


sarapan paginya dengan tenang tanpa ada


lagi pembicaraan ataupun perbincangan.


------ -------


Kantor megah Bintang Group...


Hari ini Agra kembali ke kantor megah miliknya


itu karena siang nya akan ada rapat penting.


Seperti biasa dia memilih turun di lobyy utama sekalian memantau aktivitas para karyawannya. Suasana tampak sibuk, semua orang langsung berbaris rapi dan siaga di sekitar lobby begitu


melihat kedatangan mobil sport super mewah


Agra yang di ikuti oleh beberapa mobil mewah


lainnya. Hati para karyawan wanita langsung


bergetar seketika saat melihat Agra keluar dari


mobil. Pesonanya yang luar biasa menyilaukan


mampu membuat jiwa para wanita meronta di


tengah rasa kagum dan terpesona.


"Selamat datang Presdir.."


Erik langsung membungkuk dalam di hadapan


Agra yang sedang merapihkan jas dan dasi nya.


Hari ini wajahnya terlihat lebih segar dan bersinar


dengan aura positif yang melingkupinya.


"Hemm.. bagaimana, semuanya terkendali.?"


Agra mulai melangkah di ikuti oleh Erik, Bara


dan para pengawalnya.


"Semuanya aman Tuan.. tidak ada kendala


yang berarti.!"


"Kau sudah mencari sekretaris kepala sebagai


pengganti Elsa.?"


"Sudah Tuan.. Dia lulusan terbaik di akademi


nya. Semuanya sudah tertangani dengan baik.!"


"Bagus, kau boleh kembali ke lapangan mulai


sekarang..Tapi aku akan memanggilmu lagi


kalau kau sudah selesai dengan tugas ini.!"


"Baik Tuan..!"


Agra tiba di ruangan utama lobby di sambut


oleh sapaan hangat para karyawannya. Dia


tampak menghentikan langkah nya, mencoba


mengangkat tangan sebagai balasan sapaan


untuk para bawahannya itu. Kemudian kembali


melangkah dengan gagah penuh wibawa. Para


karyawati mencuri pandang kearahnya. Walau


mereka tahu kini Presdir sudah beristri, namun


bagi mereka harapan dan impian itu akan tetap


ada, seorang laki-laki apalagi sekelas Agra bisa


saja memiliki lebih dari satu wanita di dalam


kehidupan pribadinya.


Kini Agra sudah sampai di lantai teratas tempat


ruangan kerjanya yang super mewah dan canggih


berada. Barisan sekertaris yang semuanya ada


6 orang langsung berdiri menyambut di ruangan utama sebelum ruangan Presdir. Para sekretaris


itu bukanlah orang-orang biasa, mereka semua


wanita-wanita pilihan yang memilki kemampuan


di atas rata-rata dan sudah mengantongi surat


rekomendasi khusus dari setiap agen nya.


Selain soal kemampuan, yang tak kalah penting


adalah para sekretaris ini juga memiliki wajah


dan penampilan yang sangat memukau serta mempesona hingga mampu menjadi sebuah pemandangan indah dan mengagumkan setiap


kali ada tamu yang berkunjung ke ruangan Presdir.


"Tuan.. perkenalkan dia adalah kepala sekretaris


baru, Nona Tanisha Danureza..!"


Erik memperkenalkan seorang sekretaris baru


pada Agra yang berdiri mematung di tempat


nya, melihat kearah seorang wanita yang ada


di hadapan nya. Wanita yang.. sungguh cantik


luar biasa dengan daya tarik khusus hingga bisa membius mata setiap orang yang melihat nya.


Postur tubuhnya tinggi ramping dengan bentuk


yang sangat menggiurkan. Apalagi sekarang ini


dia berbalut setelan pas body dengan model


baju yang sangat cocok dan serasi di tubuhnya.


Rambutnya di gulung manis hingga leher nya


yang indah tampak berkilau dan menggoda.


"Selamat datang Presdir.. saya Tanisha..!"


Wanita itu mengulurkan tangannya seraya


membungkuk sedikit dengan gestur tubuh


yang sangat luwes dan anggun, sekilas mata


nya yang indah bertemu dengan mata Agra


yang masih berdiri di tempatnya. Agra tampak


menerima uluran tangan nya, mereka berjabat


tangan, terasa begitu halus dan lembut.


"Masuk ke ruangan ku..bawa berkas yang


harus di siapkan untuk meeting nanti.!"


Ujar Agra kemudian sambil melangkah. Wanita


tadi atau Tanisha hanya bisa mengangguk dan


terdiam membeku di tempat. Para sekretaris


lain langsung memegang dada mereka setelah


Agra berlalu dari hadapan mereka. Selalu saja


begini, jantung mereka akan bermarathon setiap


kali sang Presdir super dingin itu ada di dekat


mereka dan berinteraksi dengan mereka. Sikap


cuek dan dingin sang Bos lah yang membuat


mereka semakin tergila-gila padanya.


Agra mulai duduk di kursi kebesarannya yang


di desain sangat mewah dan elegan dengan


konsep futuristik hingga dia tidak akan merasa


lelah ataupun pegal selama menduduki nya.


"Tuan..ini berkas yang anda minta. Semua nya


sudah ada di dalam nya. Akurat dan detail..!"


Bara menyerahkan satu dokumen penting ke


tangan Agra yang langsung mengambil dan


mengeceknya .


"Hemm.. baiklah.! sekarang kau cek kembali


kesiapan meeting. Aku tidak ingin ada yang


absen, acara nanti cukup penting.!"


"Baik Tuan..saya permisi.!"


Bara membungkuk lalu memutar tubuh nya


bersamaan dengan kemunculan Tanisha ke


dalam ruangan. Untuk sesaat keduanya saling


melihat, Bara tampak menatap tajam wajah


cantik nan menggoda Tanisha. Benar-benar


cantik tanpa cela. Bathin Bara sambil kemudian


dia berlalu keluar dari ruangan .


"Selamat siang Presdir..!"


Sapa Tanisha dengan suara lembut nya sambil


berdiri di depan meja. Tatapan nya langsung


jatuh di wajah super tampan bosnya yang kini


masih sibuk melihat dan membuka berkas yang


ada di tangannya. Jantung Tanisha rasanya


tidak terkendali saat ini, bagaimana dirinya


bisa mengontrol diri kalau harus menghadapi


pria sekeren dan sedingin ini.


"Kau sudah siapkan semuanya.?"


"Su-sudah Presdir..semua bahan pembahasan


sudah terkonsep seluruhnya dengan baik.!"


"Bagus..kita turun sekarang.!"


Agra berdiri, menegakkan badannya kemudian


melangkah keluar dari kursinya. Dia berdiri di


samping Tanisha yang menundukkan kepala.


"Apalagi yang kamu tunggu.?"


Tanisha mengangkat wajahnya, mata mereka


bertemu membuat lutut Tanisha sedikit goyah


saat mendapat tatapan tajam mata elang Agra.


"Ma-maaf Presdir..!"


Gugup Tanisha berucap sambil bergerak maju


saat Agra mulai melangkah, namun tiba-tiba


saja Agra menoleh membuat pergerakan kaki


Tanisha menjadi kaku, terhenti seketika hingga


dia kembali mundur mendadak, tapi posisi kaki


nya tidak sinkron hingga tubuhnya terhuyung ke belakang, namun sebelum dia terjatuh dengan gerakan cepat Agra menangkap pinggang nya.


Kini keduanya saling pandang kuat dalam posisi


yang sangat intim. Jantung Tanisha seakan mau


meloncat keluar saat mendapati wajah paripurna


Agra kini ada di hadapannya, begitu dekat..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....