
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi hari yang cerah di lingkungan istana Hadiningrat...
Suara kicau burung terdengar bersahutan di
dalam kandang burung raksasa yang ada di
taman belakang istana. Semilir angin sejuk
membawa semangat dan harapan baru bagi
semua penghuni istana megah itu. Semua
pelayan hari ini tampak begitu bersemangat
karena sang Tuan rumah sudah kembali.
Tadi malam sekitar jam 9 Agra dan Kiran
sudah kembali ke istana ini.
Selepas sholat subuh Kiran dan Agra kembali
terlelap dalam tidur lelahnya. Seolah tidak rela melewatkannya, menjelang subuh tadi mereka
berdua kembali bergumul panas sampai puas.
Kiran memang harus memiliki fisik yang kuat,
karena suaminya itu sosok yang terlalu perkasa.
Dia seakan tidak pernah ada bosannya untuk
selalu menyentuh dan mengeksplor tubuhnya,
setiap kali bersentuhan hasrat suaminya itu
selalu saja naik. Daya tarik seksual yang di
miliki oleh Kiran memang terlalu kuat hingga
membuat Agra selalu tidak tahannsetiap kali
berada di dekat istrinya itu.
Matahari sudah menyemburkan sinarnya dari
atap kamar yang membiaskan cahaya kemilau
bercampur kehangatan. Kedua insan yang
saling mencinta itu masih tampak saling
memeluk erat, memberikan kenyamanan
dan rasa damai bagi jiwa pasangannya.
Seperti biasa Agra tidak pernah membiarkan
Kiran jauh ataupun keluar dari kungkungan
nya. Keduanya tampak nya begitu kelelahan,
setelah.perjalanan pulang semalam di tambah
dengan aktifitas percintaan mereka yang
menguras tenaga menjelang subuh tadi.
Sekitar jam 8 Kiran membuka mata karena
bias cahaya matahari yang jatuh di wajah nya.
Dia mencoba menggeliat, seluruh tulang nya
saat ini terasa rontok semua, tapi wajahnya
terlihat cerah berseri penuh kepuasan.
Kiran menatap tenang wajah tampan Agra
yang masih nampak terlelap. Tangannya
bergerak membelai mesra wajah paripurna
itu dengan sentuhan lembut penuh cinta.
Bibirnya tampak mengulas senyum manis,
lalu dia mendaratkan ciuman lembut di bibir
seksi Agra, namun sedetik kemudian Kiran membulatkan matanya saat Agra menyergap
bibirnya dengan kuat dan ********** lembut,
dia tidak begitu saja melepaskannya. Mau
tidak mau akhir nya Kiran membalas dan
melayani aksi liar suaminya tersebut untuk
beberapa saat hingga akhirnya ciuman
selamat pagi itu terlepas saat mereka
hampir kehabisan pasokan udara.
Kiran mendorong pelan dada Agra dengan
napas tersengal dan wajah yang memerah.
Dia segera bergerak turun dari tempat tidur
untuk menghindari aksi liar lain suaminya
yang pasti akan di lakukannya kalau dia
tidak cepat-cepat menghindar darinya.
"Hei..mau kemana sayang..ini masih pagi..!"
Agra menatap Kiran yang membenahi gaun
tidur nya yang terbuka di bagian atasnya.
"Ini sudah siang sayang..kau juga harus segera bersiap, bukankah ada meeting penting hari ini.?"
"Tapi masih banyak waktu untuk kita sayang..!"
"Tidak ! aku ingin segera menemui Eyang.."
"Kita akan menemuinya nanti sekalian sarapan
pagi, sekarang ayo kembali ke tempat tidur..!"
Agra menepuk kasur seraya menatap Kiran
dengan sorot mata penuh perintah. Kiran yang
sedang menggulung rambut nya melirik sekilas
lalu menggelengkan kepala .
"Tidak mau ! kau pasti tidak akan melepaskan
aku begitu saja. Aku akan membuatkan kopi
untukmu. Sekarang sebaiknya kau bersiap..!"
"Aku janji tidak akan macam-macam sayang.
Hanya tiduran saja sebentar lagi..!"
"Aku tidak percaya rayuan gombal mu.!"
"Hei..aku bukan tipe laki-laki perayu..!"
"Oyaa..? tapi akut tetap tidak percaya padamu.!
Aku tahu pasti apa yang ada dalam benakmu.!"
Ketus Kiran sambil kemudian mulai beranjak.
"Baiklah..! aku tidak akan turun dari tempat
tidur kalau kamu tidak menuruti keinginanku sekarang.!"
"Terserah..itu urusanmu Tuan Muda..!"
Elak Kiran dengan senyum usilnya kemudian
berlalu keluar kamar membuat Agra merasa
gemas sendiri, dia mengulum senyum sambil
menatap kepergian istrinya itu. Dirinya tahu
pasti kalau Kiran sengaja menghindari nya.
Setengah jam kemudian...
Saat ini Kiran sudah berkutat dengan kegiatan
rutinnya, memakaikan setelan kerja ke tubuh
gagah suaminya. Memang masih ada sedikit
rasa canggung saat dirinya harus menyentuh
langsung tubuh suaminya itu, tapi dengan ini membuat dia merasa lebih memiliki peran.
Selama kegiatan itu berlangsung, Agra tidak
pernah melepaskan pandangan nya dari wajah
cantik Kiran. Saat ini Kiran mengenakkan dress
cantik lengan pendek dengan warna yang
sangat cerah sehingga kontras dengan warna
kulit nya yang putih berkilau bak porselen.
Mata Agra mengunci bibir merah jambu Kiran
yang memiliki bentuk sangat menggoda hingga mampu membuat dia merindukan nya setiap
saat dan tiada bosan untuk mencicipinya.
Kiran mengusap lembut jas mahal Agra saat semuanya sudah tampak rapi dan siap pergi.
Dia selalu saja terpesona saat melihat Agra
dalam tampilan resmi seperti ini. Suami nya
itu tampak lebih gagah dan penuh kharisma.
"Nona Sashikirana..!"
"Hemm..?"
Kiran mengangkat wajahnya, menatap Agra
sekilas, kembali merapihkan tampilan suami
nya itu dengan menilik seluruhnya.
"Apa kau bahagia hidup bersamaku.?"
Kiran mengernyitkan alis nya, dia mematung,
menatap lekat wajah tampan Agra penuh tanda
tanya. Wajahnya kini di penuhi semburat merah.
"Ada apa sayang.? kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu.?"
"Aku belum memberikan apapun padamu Kiran.
Hanya kepahitan dan kesakitan lah yang telah
aku berikan padamu sampai sejauh ini.!"
Wajah Kiran berubah terhenyak. Perlahan dia
merapat, mengalungkan tangannya di leher
kokoh Agra yang semakin menatapnya dalam.
"Apa aku pernah meminta sesuatu padamu.?
Atau aku pernah melihat siapa dirimu.?"
Agra menatap tenang wajah Kiran yang kini
semakin mendekat. Dia menggeleng pelan.
"Lalu kenapa kau harus bertanya seperti itu.?"
"Aku hanya merasa belum bisa membuat mu
bahagia, aku terlalu sibuk dengan duniaku..!"
"Aku tidak peduli dengan yang namanya harta,
kekuasaan ataupun kedudukan. Dari awal aku
sudah menerima dirimu apa adanya.!"
Agra tersenyum tipis, menarik pinggang kecil
Kiran hingga tubuh mereka semakin rapat.
"Aku tahu, tapi aku memulai hubungan ini
dengan sebuah kebohongan. Aku memaksa
mu untuk masuk ke dalam kehidupan ku.!"
"Itu semua adalah proses, kalau Tuhan sudah
menentukan, lalu kita bisa apa.!"
Tangan Agra meraih dagu lancip Kiran yang
memilki bentuk sangat menarik dan menggoda.
"Akan aku lakukan apapun untuk membuatmu
bahagia hidup bersamaku Kiran.."
Bisik Agra dengan tatapan yang semakin lekat.
Kiran meraup wajah Agra, menatap nya kuat.
"Aku bahagia hidup bersamamu..Kau adalah
segalanya bagiku. Aku tidak menginginkan
apapun lagi, saat ini dunia sudah ada dalam
genggaman ku, kau adalah dunia akhirat ku
Tuan Bimantara Agra Bintang..!"
Desis Kiran sambil kemudian memagut bibir
Agra yang langsung memejamkan matanya.
Keduanya larut dalam sentuhan lembut dan
manisnya bibir mereka yang senantiasa di
sertai percikan gairah hingga memanaskan
tubuh keduanya setiap kali mereka berciuman.
Sungguh dunia kini sudah benar-benar ada
dalam genggaman Agra sepenuhnya. Dan
kebahagiaan itu kini sudah menjadi miliknya.
Memiliki seorang Kiran bagi Agra adalah
kebahagiaan sejatinya..
----- ------
Eyang Putri tampak tersenyum sumringah
menyambut kedatangan dua orang yang
sangat berharga dalam hidup nya saat ini.
Wanita sepuh itu kini sudah duduk santai di
ruangan samping yang langsung terhubung
ke taman bunga dan kolam ikan yang luas.
Tempat ini biasa di gunakan oleh Eyang putri
jika dia sedang ingin sarapan di luar ruangan.
"Assalamualaikum Eyang.. bagaimana kabar
Eyang hari ini..?"
Kiran mencium punggung tangan Eyang putri
lalu memeluknya erat. Eyang Putri mengusap
lembut punggung cucu menantunya itu dengan
mata berkaca-kaca. Tiga hari di tinggalkan dia
merasa sangat kehilangan.
"Eyang baik-baik saja..bagaimana bulan madu
kalian, berjalan baik kah.?"
Kiran melepaskan rangkulan nya dengan wajah
yang kini bersemu merah. Dia melirik kearah
Agra yang terlihat tenang, bergantian memeluk
neneknya itu.
"Semua nya berjalan baik dan lancar Eyang."
"Apa kalian mendapat sambutan istimewa dari
pria arogan itu .?"
Tanya Eyang putri saat Agra dan Kiran sudah
duduk di kursinya masing-masing yang sudah
di siapkan oleh para pelayan. Kiran tersenyum
bereaksi berlebihan.
"Alhamdulillah..kami mendapat sambutan
yang layak Eyang. Ibu dan Ayah mertua
menerimaku dengan sangat baik."
Eyang Putri menatap Kiran sambil membuka
sedikit kacamatanya membuat Kiran menunduk.
"Apa dia sudah menyulitkan mu..?"
Kiran mendongak lalu menggeleng cepat
seraya tersenyum lembut.
"Tidak sama sekali Eyang.. sejauh ini semua
nya berjalan sesuai dengan harapan."
Eyang Putri masih mengamati ekspresi kedua
cucunya itu. Para pelayan mulai bergerak untuk melayani majikan mereka dengan penuh
kehati-hatian.
"Aku tahu pria itu tidak akan menerima kalian
begitu saja. ! dia itu sangat angkuh.!"
"Tidak begitu Eyang.. Wajar kalau ayah mertua
berhati-hati, tentunya dia menginginkan yang
terbaik untuk putra nya."
"Hemm..tapi tetap saja dia adalah pria yang
sulit di kendalikan dan tidak bisa di tebak.!"
"Sama persis seperti putranya Eyang..!"
Agra langsung melirik cepat, menatap tidak
suka terhadap Kiran.
"Hei.. jangan pernah menyamakan aku dengan
pria licik itu ! aku tidak pernah berlaku curang."
Kiran tersenyum lembut, kemudian meminta
pelayan untuk tidak melayani Agra. Dia segera
menuangkan makanan ke piring Agra.
"Baiklah..tentu saja kau jauh lebih baik dari
ayah mertua. Sekarang mulai sarapannya ya."
Lirih Kiran sambil menyodorkan air putih.
Eyang putri terlihat mengulas senyum melihat
perdebatan pasangan muda itu.
"Aku yakin kedua mertua mu itu pasti langsung
luluh melihat sikap mu ini..!"
Kiran tersipu malu, dia menuangkan makanan
khusus yang biasa di santap oleh Eyang putri.
"Dalam hidup ternyata semua nya butuh proses
Eyang. Dan kalau kita menjalani nya dengan
ikhlas, insya Allah akhirnya berbuah manis."
Lirih Kiran seraya mendekatkan makanan
tadi ke hadapan Eyang putri yang tampak
mengangguk dan tersenyum puas.
"Kau benar.. ayo sekarang kita mulai sarapan
nya. Masih banyak hal yang harus kau lakukan
untuk persiapan resepsi nanti..!"
Ujar Eyang putri. Dan mereka pun menikmati
sarapan paginya dengan tenang tanpa ada
lagi pembicaraan ataupun perbincangan.
------ -------
Kantor megah Bintang Group...
Hari ini Agra kembali ke kantor megah miliknya
itu karena siang nya akan ada rapat penting.
Seperti biasa dia memilih turun di lobyy utama sekalian memantau aktivitas para karyawannya. Suasana tampak sibuk, semua orang langsung berbaris rapi dan siaga di sekitar lobby begitu
melihat kedatangan mobil sport super mewah
Agra yang di ikuti oleh beberapa mobil mewah
lainnya. Hati para karyawan wanita langsung
bergetar seketika saat melihat Agra keluar dari
mobil. Pesonanya yang luar biasa menyilaukan
mampu membuat jiwa para wanita meronta di
tengah rasa kagum dan terpesona.
"Selamat datang Presdir.."
Erik langsung membungkuk dalam di hadapan
Agra yang sedang merapihkan jas dan dasi nya.
Hari ini wajahnya terlihat lebih segar dan bersinar
dengan aura positif yang melingkupinya.
"Hemm.. bagaimana, semuanya terkendali.?"
Agra mulai melangkah di ikuti oleh Erik, Bara
dan para pengawalnya.
"Semuanya aman Tuan.. tidak ada kendala
yang berarti.!"
"Kau sudah mencari sekretaris kepala sebagai
pengganti Elsa.?"
"Sudah Tuan.. Dia lulusan terbaik di akademi
nya. Semuanya sudah tertangani dengan baik.!"
"Bagus, kau boleh kembali ke lapangan mulai
sekarang..Tapi aku akan memanggilmu lagi
kalau kau sudah selesai dengan tugas ini.!"
"Baik Tuan..!"
Agra tiba di ruangan utama lobby di sambut
oleh sapaan hangat para karyawannya. Dia
tampak menghentikan langkah nya, mencoba
mengangkat tangan sebagai balasan sapaan
untuk para bawahannya itu. Kemudian kembali
melangkah dengan gagah penuh wibawa. Para
karyawati mencuri pandang kearahnya. Walau
mereka tahu kini Presdir sudah beristri, namun
bagi mereka harapan dan impian itu akan tetap
ada, seorang laki-laki apalagi sekelas Agra bisa
saja memiliki lebih dari satu wanita di dalam
kehidupan pribadinya.
Kini Agra sudah sampai di lantai teratas tempat
ruangan kerjanya yang super mewah dan canggih
berada. Barisan sekertaris yang semuanya ada
6 orang langsung berdiri menyambut di ruangan utama sebelum ruangan Presdir. Para sekretaris
itu bukanlah orang-orang biasa, mereka semua
wanita-wanita pilihan yang memilki kemampuan
di atas rata-rata dan sudah mengantongi surat
rekomendasi khusus dari setiap agen nya.
Selain soal kemampuan, yang tak kalah penting
adalah para sekretaris ini juga memiliki wajah
dan penampilan yang sangat memukau serta mempesona hingga mampu menjadi sebuah pemandangan indah dan mengagumkan setiap
kali ada tamu yang berkunjung ke ruangan Presdir.
"Tuan.. perkenalkan dia adalah kepala sekretaris
baru, Nona Tanisha Danureza..!"
Erik memperkenalkan seorang sekretaris baru
pada Agra yang berdiri mematung di tempat
nya, melihat kearah seorang wanita yang ada
di hadapan nya. Wanita yang.. sungguh cantik
luar biasa dengan daya tarik khusus hingga bisa membius mata setiap orang yang melihat nya.
Postur tubuhnya tinggi ramping dengan bentuk
yang sangat menggiurkan. Apalagi sekarang ini
dia berbalut setelan pas body dengan model
baju yang sangat cocok dan serasi di tubuhnya.
Rambutnya di gulung manis hingga leher nya
yang indah tampak berkilau dan menggoda.
"Selamat datang Presdir.. saya Tanisha..!"
Wanita itu mengulurkan tangannya seraya
membungkuk sedikit dengan gestur tubuh
yang sangat luwes dan anggun, sekilas mata
nya yang indah bertemu dengan mata Agra
yang masih berdiri di tempatnya. Agra tampak
menerima uluran tangan nya, mereka berjabat
tangan, terasa begitu halus dan lembut.
"Masuk ke ruangan ku..bawa berkas yang
harus di siapkan untuk meeting nanti.!"
Ujar Agra kemudian sambil melangkah. Wanita
tadi atau Tanisha hanya bisa mengangguk dan
terdiam membeku di tempat. Para sekretaris
lain langsung memegang dada mereka setelah
Agra berlalu dari hadapan mereka. Selalu saja
begini, jantung mereka akan bermarathon setiap
kali sang Presdir super dingin itu ada di dekat
mereka dan berinteraksi dengan mereka. Sikap
cuek dan dingin sang Bos lah yang membuat
mereka semakin tergila-gila padanya.
Agra mulai duduk di kursi kebesarannya yang
di desain sangat mewah dan elegan dengan
konsep futuristik hingga dia tidak akan merasa
lelah ataupun pegal selama menduduki nya.
"Tuan..ini berkas yang anda minta. Semua nya
sudah ada di dalam nya. Akurat dan detail..!"
Bara menyerahkan satu dokumen penting ke
tangan Agra yang langsung mengambil dan
mengeceknya .
"Hemm.. baiklah.! sekarang kau cek kembali
kesiapan meeting. Aku tidak ingin ada yang
absen, acara nanti cukup penting.!"
"Baik Tuan..saya permisi.!"
Bara membungkuk lalu memutar tubuh nya
bersamaan dengan kemunculan Tanisha ke
dalam ruangan. Untuk sesaat keduanya saling
melihat, Bara tampak menatap tajam wajah
cantik nan menggoda Tanisha. Benar-benar
cantik tanpa cela. Bathin Bara sambil kemudian
dia berlalu keluar dari ruangan .
"Selamat siang Presdir..!"
Sapa Tanisha dengan suara lembut nya sambil
berdiri di depan meja. Tatapan nya langsung
jatuh di wajah super tampan bosnya yang kini
masih sibuk melihat dan membuka berkas yang
ada di tangannya. Jantung Tanisha rasanya
tidak terkendali saat ini, bagaimana dirinya
bisa mengontrol diri kalau harus menghadapi
pria sekeren dan sedingin ini.
"Kau sudah siapkan semuanya.?"
"Su-sudah Presdir..semua bahan pembahasan
sudah terkonsep seluruhnya dengan baik.!"
"Bagus..kita turun sekarang.!"
Agra berdiri, menegakkan badannya kemudian
melangkah keluar dari kursinya. Dia berdiri di
samping Tanisha yang menundukkan kepala.
"Apalagi yang kamu tunggu.?"
Tanisha mengangkat wajahnya, mata mereka
bertemu membuat lutut Tanisha sedikit goyah
saat mendapat tatapan tajam mata elang Agra.
"Ma-maaf Presdir..!"
Gugup Tanisha berucap sambil bergerak maju
saat Agra mulai melangkah, namun tiba-tiba
saja Agra menoleh membuat pergerakan kaki
Tanisha menjadi kaku, terhenti seketika hingga
dia kembali mundur mendadak, tapi posisi kaki
nya tidak sinkron hingga tubuhnya terhuyung ke belakang, namun sebelum dia terjatuh dengan gerakan cepat Agra menangkap pinggang nya.
Kini keduanya saling pandang kuat dalam posisi
yang sangat intim. Jantung Tanisha seakan mau
meloncat keluar saat mendapati wajah paripurna
Agra kini ada di hadapannya, begitu dekat..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....