
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Malam ini cuaca cukup bersahabat. Hanya
turun turun salju ringan saja. Seperti biasanya
suasana di dalam istana sepi dan tenang, tidak
ada lagi kegaduhan ataupun kesibukan seperti
tadi pagi. Saat ini istana sedang dalam masa persiapan. Karena sebentar lagi akan di adakan jamuan makan malam cukup besar dengan
hadirnya beberapa tamu penting yang sengaja
di undang untuk datang pada acara ini.
Saat ini Agra dan Kiran sedang bersiap untuk
datang ke acara jamuan tersebut. Beberapa
saat yang lalu kepala pelayan datang ke kamar
mereka membawakan boks besar berisi pakaian tradisional yang harus mereka kenakkan dan
sengaja disiapkan oleh Nyonya Yuri untuk
mereka berdua.
"Nyonya Besar sudah menyiapkan pakaian
ini sejak jauh-jauh hari.."
Terang kepala pelayan membuat Kiran terdiam
dalam rasa haru dan bahagia.
"Terimakasih.. dengan senang hati kami akan
memakainya.!
"Baik Nona..kalau begitu saya akan menunggu
di luar ruangan..!"
Kiran mengangguk, kepala pelayan kembali membungkuk lalu mundur keluar dari ruangan.
Agra menatap terkesima kearah Kiran yang
baru saja muncul dari ruang ganti dengan
pakaian barunya yang tampak begitu memukau, sangat cocok membalut tubuh indah istrinya itu.
Dia melangkah kearah Kiran yang masih terlihat
sibuk merapihkan pakaiannya, model bajunya
memang sedikit ribet, tapi Kiran benar-benar
menyukainya, apalagi warnanya, tampak begitu
indah dengan paduan etnik klasik golden soft.
Agra mendekat lalu menarik tubuh Kiran ke
dalam dekapannya, memeluknya erat-erat.
"Aku sangat merindukanmu sayang..! kau
terlihat sangat cantik dengan pakaian ini.."
Bisik Agra sambil menciumi puncak kepala
Kiran dan menghirup aroma wangi segar dari
rambutnya yang masih terurai bebas.
"Aku juga merindukan mu..sudah dulu sayang
lepasin aku. Kita harus segera bersiap. Aku
juga belum menata rambutku..!"
"Terlambat sedikit juga tidak apa-apa sayang..
Biarkan saja mereka menunggu kita..!"
"Ini tidak seperti di rumah kita sayang..kita
tidak bisa seenaknya saja di sini. Sekarang
ini kita sedang bertamu."
"Kita bukan tamu Kiran..kita hanya orang baru.
Biarkan orang tua itu jengkel pada kita..!"
"Aku baru saja merasa bahagia..apa kamu tega menghancurkan semuanya begitu saja.?"
"Baiklah..aku hanya bercanda sayang...!"
Agra terkekeh pelan, dia melepaskan pelukan
nya, keduanya saling pandang kuat, sekilas dia mengecup bibir Kiran.
"Ayo..sekarang aku akan membantumu bersiap.!"
"Memangnya kamu bisa..?"
"Apa yang tidak bisa aku lakukan.?"
"Kamu bisa memasak juga..?"
"Tentu saja..! apapun bisa aku lakukan. Kau
hanya belum mengetahuinya saja..!"
"Oya..kau harus membuktikan nya nanti..!"
"Apapun yang kau inginkan aku akan berusaha
untuk mengabulkan nya..!"
Agra mengikatkan tali cantik di pinggang kecil
Kiran dan merapihkan kembali pakaiannya.
Kiran hanya bisa terdiam membiarkan suami
nya itu membenahi penampilan nya.
"Ini sedikit ribet sayang..tapi aku sangat suka.
Warnanya juga sangat indah..!"
Kiran memutar tubuhnya, menilik penampilan
nya yang tampak begitu mempesona. Matanya
terlihat berbinar penuh kebahagiaan. Agra
hanya bisa tersenyum sambil memperhatikan
apa yang dilakukan istrinya itu. Hatinya begitu
hangat melihat senyum lebar tercipta di bibir
indah istrinya. Dan akan dia pastikan senyum
itu tidak akan pernah memudar lagi.
"Kau akan selalu cantik memakai apapun..
Kamu wanita teristimewa di dunia, aku sangat
beruntung bisa mendapatkan mu..!"
"Dasar gombal..kau selalu berlebihan..!"
Kiran berdecak seraya mendorong halus dada
Agra kemudian duduk di atas bangku meja rias
antik. Dia mulai menggulung rambutnya membuat sanggul manis dan menatanya sedemikian rupa.
Pakaian yang di kirim oleh Ibu mertuanya ini
sudah lengkap dengan tusuk konde cantik model klasik etnik yang sangat indah. Warnanya juga
satu sentuhan dengan pakaiannya. Agra hanya tersenyum tipis, kemudian mengecup lembut
pelipis Kiran setelah itu dia juga segera bersiap,
mengenakkan pakaian adat nya yang membuat
dirinya semakin terlihat gagah dan berbeda.
"Tuan Muda..Nona Muda..mohon maaf kalian
sudah di tunggu di ruang perjamuan..!"
Suara kepala pelayan mengingatkan dari luar
pintu geser. Kiran berdiri di depan cermin besar
menatap pantulan dirinya di sana. Bibirnya kini
tersenyum manis, dia terlihat begitu cantik dan
berbeda, sangat memukau dengan riasan wajah
natural yang melengkapi seluruh tampilannya.
Agra kembali memeluknya dari belakang, wajah
nya terlihat memerah menahan hasrat yang
dari tadi sudah naik karena tidak tahan melihat kecantikan istrinya itu. Pesonanya kali ini telah membangkitkan gairah bercinta nya hingga
dia tidak mampu menahan hasratnya.
"Kita tidak usah datang saja sayang..aku tidak
tahan melihatmu seperti ini..!"
Bisik Agra serak seraya melancarkan aksinya
menciumi leher jenjang Kiran yang kini hanya
bisa memejamkan matanya.
"Ini adalah acara resmi sayang..dan sengaja
diadakan untuk menyambut kedatangan kita."
"Tapi aku tidak tahan sayang.. lebih baik aku memakanmu saja..!"
Bibir Agra langsung menyergap bibir Kiran.
********** rakus dan liar terdorong oleh
desakan gairah yang kini semakin menguasai
tubuhnya. Kiran membalas dengan sama panas
nya, keduanya terhanyut dalam buaian ciuman
penuh hasrat dan keinginan saling memiliki.
Keduanya seakan kehausan karena memendam
kerinduan yang semalam tertahan dan tidak tersalurkan. Aksi Agra semakin menggila dia
hendak membuka tali pengikat di pinggang
Kiran, namun Kiran mencoba menahannya.
"Tuan Muda.. Nona..apa anda sudah siap..?"
Kembali terdengar suara kepala pelayan. Kiran
mendorong Agra, wajahnya tampak memerah.
"Sebentar lagi kami keluar..!"
Sahut Kiran sambil kemudian kembali melihat
dan merapihkan riasan wajah nya di depan
cermin. Agra hanya bisa menggeram kesal.
Dia menarik napas panjang mencoba untuk
mengontrol hasratnya.
"Ayo sayang..kita pergi sekarang..!"
Kiran menarik tangan Agra yang masih terlihat
kesal menahan gejolak hasratnya.
"Baiklah..kau tunggu saja nanti malam.!"
Desis Agra sambil mengecup bibir Kiran sekilas.
Kiran menepis tangan Agra dengan semburat
merah yang sudah memenuhi seluruh wajahnya.
Setelah dirasa semuanya siap, pintu geser kini
terbuka hawa dingin dari luar langsung saja
menyambut keduanya. Kepala pelayan maju,
kemudian membungkuk hormat di hadapan
mereka, setelah itu memakaikan mantel tebal
ke tubuh Kiran. Sedang Bara mengenakkannya
ke tubuh Agra. Akhirnya rombongan itu pergi
menuju ke tempat perjamuan berlangsung.
Tidak lama mereka tiba di depan pintu sebuah
ruangan etnik yang sangat unik. Pelayan yang
bertugas disana terlihat membuka mantel yang
di pakai oleh pasangan itu. Pintu di geser pelan,
dengan menggengam erat tangan Kiran Agra
masuk ke dalam ruangan yang memiliki bentuk
memanjang layaknya aula khusus itu.
Di sana sudah hadir puluhan orang terdiri dari
pria dan wanita berpakaian adat dengan riasan
dan aksesoris lengkap. Mereka duduk teratur
memanjang menghadap meja antik yang kini
sudah di penuhi oleh hidangan beranekaragam
yang sangat menggugah selera. Dan tersedia
juga minuman khas negara ini di setiap meja
para pria. Agra dan Kiran berdiri tegak di ujung
meja menghadap semua tamu yang saat ini
tengah menatap terpesona kearah mereka.
"Perkenalkan..dia adalah putra tunggal ku..
Hiroshi Hasimoto atau Bimantara Agra Bintang..
Dan menantu ku.. Evanindhia Sashikirana..!"
Tuan Hasimoto merentangkan tangan kearah
Agra dan Kiran, dengan bangga memperkenalkan
keduanya kepada semua tamu yang hadir. Agra
dan Kiran membungkuk bersamaan di balas oleh
semua tamu dengan membungkuk rendah pada
posisi duduk tegaknya.
Akhirnya Agra dan Kiran duduk di dekat posisi
Tuan Hasimoto yang terlihat begitu tenang dan
cerah. Baru kali inilah semua orang melihat
wajah sumringah Tuan Besar. Senyum Nyonya
Yuriko terkembang dengan sempurna. Hatinya
begitu bahagia, akhirnya kemelut yang terjadi
bertahun-tahun lamanya kini berakhir sudah.
"Aku sengaja mengundang kalian semua dalam
rangka penyambutan kedatangan putra dan juga
menantuku. Mungkin ini sedikit mendadak tapi
sesungguhnya semua ini sudah di persiapkan
jauh-jauh hari sebelumnya..!"
penuh wibawa dan kharisma. Para tamu tampak
tersenyum seraya mengangguk. Kiran menatap
ayah mertuanya dengan perasaan haru, semua
nya bagaikan dalam mimpi, ayah mertuanya
yang diawal pertemuan begitu angkuh bahkan
terkesan kejam kini menjelma menjadi sosok
yang bersahaja dan bijaksana.
"Kita tidak perlu basa-basi lagi..mari nikmati
makan malam ini penuh dengan suka cita..!"
Tuan Hasimoto mengangkat gelas kecil di
tangannya di ikuti oleh para tamu pria. Agra
pun mau tidak mau mengikuti nya.
"Bersulang...!"
Mereka semua berseru bersamaan sambil
kemudian meneguk minumannya. Dan makan
malam pun kini berlangsung penuh dengan
kekeluargaan dan kebersamaan.
****** ******
Kiran keluar dari ruang perjamuan saat kepala
pelayan menjemputnya. Agra hanya mengedip
meyakinkan, begitupun dengan kedua mertua
nya. Kiran menggengam erat tangan Agra.
"Pergilah duluan..aku akan menyusulmu..!"
"Tapi sayang..aku takut sendirian di kamar.."
"Aku tidak akan lama sayang.. pergilah.."
Akhirnya dengan sedikit ragu Kiran pun nurut
dia keluar bersama kepala pelayan dan juga
beberapa pelayan serta pengawal pribadi.
Kiran mengernyitkan alisnya ketika kepala
pelayan membawanya kearah lain bukan
menuju ke kamarnya.
"Kita mau kemana.? kenapa arahnya berbeda?"
"Malam ini Nona dan Tuan akan menginap
di kamar penyucian. Nona baru saja terkena
racun, jadi harus di sterilkan..!"
"Tapi.. apakah Agra tahu semua ini..?"
"Tentu saja Nona..Tuan nanti akan menyusul
Nona ke tempat ini..!"
Kiran menghentikan langkah nya saat mereka
tiba di sebuah bangunan yang lebih luas dari
kamar pertama nya.
"Mari Nona.. ikuti saya..!"
Kiran mengikuti kepala pelayan dan 4 orang
pelayan lainnya masuk ke dalam ruangan,
membuka alas kaki di ruangan depan, lalu
masuk lagi ke ruangan lain. Matanya tampak
tertegun saat melihat sebuah ruangan yang
cukup luas dengan hiasan lilin cantik di setiap
sudutnya menguarkan aroma wangi semerbak
yang sangat menenangkan. Dan di bagian yang
lebih dalam lagi sudah tergelar sebuah tempat
tidur besar yang sudah di penuhi taburan
bunga mawar cantik di atasnya.
"Nona..anda harus di bersihkan terlebih dahulu
dari sisa-sisa efek racun kemarin..mari ikuti
saya ke ruangan lain..!"
Kiran hanya bisa mengikuti kepala pelayan
ke sudut ruangan, dua pelayan membukakan
pintu dan mata Kiran melebar saat dia melihat
ada sebuah kolam rendam berisi air hangat
yang mengeluarkan uap segar. Dia masuk ke
dalamnya dengan tak henti berdecak kagum.
Dua orang pelayan maju membungkuk, lalu
tanpa kata mereka melucuti pakaian yang kini
di kenakkan oleh Kiran. Dia hanya bisa terdiam
mematung di tempat, membiarkan para pelayan
itu melakukan tugasnya di bawah pengawasan
kepala pelayan. Ini seperti Dejavu bagi Kiran,
ingatannya kembali berputar pada kejadian
ritual mandi bulan di istana Hadiningrat.
Tuhan... ritual lagi.. hidupnya kini di penuhi
oleh hal-hal di luar pengetahuan nya. Semoga
saja ini akan membawa kebaikan untuknya.
Para pelayan hanya bisa menunduk di penuhi
rasa kagum saat melihat bagaimana sempurna
nya bentuk tubuh dan kulit Nona Muda mereka.
"Masuklah Nona..anda harus berendam selama
setengah jam lamanya..!"
Ucap kepala pelayan sambil membungkuk.
Perlahan Kiran masuk ke dalam kolam rendam
yang di penuhi oleh uap air tersebut. Matanya
langsung terpejam saat dia merasakan hangat
dan segarnya air yang ada di kolam tersebut.
Aroma wangi membuai kini memenuhi indra
penciumannya. Kiran terhanyut dan terbuai
oleh semua kenyamanan ini.!
Kepala pelayan bergerak memasukkan cairan
khusus ke dalam kolam rendam.
"Saya akan menunggu Nona di luar..!"
"Hemm.. baiklah..!"
Sahut Kiran tanpa membuka matanya. Dia
sedang terlena dengan rasa nyaman yang
kini menyentuh seluruh tubuhnya.
Satu jam kemudian Kiran sudah keluar dari
ruang ganti dengan gaun malam cantik yang
sedikit transparan. Kepala pelayan baru selesai
menyisir rambut Kiran dan mengoleskan minyak khusus ke seluruh bagian luar tubuh Kiran.
"Kami permisi Nona.. selamat beristirahat.."
"Terimakasih... selamat malam.."
Sahut Kiran sambil berdiri melihat kearah mereka
yang kini mundur secara teratur. Kiran melangkah kearah tempat tidur. Dia mulai merasakan tubuh
nya kini begitu rileks, ringan dan..sedikit gerah.!
Di pintu masuk muncul Agra, membuka mantel
yang di pakainya. Mata mereka bersirobos tatap
dalam jarak beberapa meter. Sorot mata mereka
sudah sama-sama berkabut. Perlahan keduanya
mendekat. Hasrat Kiran kini semakin menanjak,
tubuhnya benar-benar panas. Mereka kini sudah
saling berhadapan. Dengan sedikit gemetaran
tangan Kiran bergerak membuka pakaian Agra
yang hanya bisa terdiam dengan seringai tipis
penuh arti melihat reaksi Kiran yang sudah
tidak terkendali.
"Apa kau sudah tidak tahan sayang..?"
Bisik Agra seraya mengangkat dagu Kiran
yang langsung tersipu malu.
"Tubuhku panas sekali sayang.. entah apa
yang sudah mereka lakukan padaku.."
Ucap Kiran dengan suara yang sangat berat.
Agra kini sudah bertelanjang dada, Kiran
langsung merebahkan kepalanya di dada
bidang suaminya itu, merasakan irama detak
jantungnya yang kini sedang bermarathon.
Dia memejamkan mata, tangannya merayap
mengelus lembut dada kokoh suaminya itu.
"Aku akan mendinginkan nya sekarang..!"
"Bawalah aku terbang kemanapun kamu
mau sayang..aku menginginkan mu..!"
Lirih Kiran sambil menatap lekat wajah Agra.
Keduanya saling pandang kuat, tangan Agra melepaskan gaun yang menutupi tubuh indah
istrinya itu dalam gerakan cepat dan lihai. Kini
tubuh indah itu sudah dalam keadaan polos
tak tertutupi sehelai benang pun. Kemudian
dia mengangkat tubuh Kiran membawanya
ke alas tempat tidur yang sudah bertaburkan
bunga-bunga cantik, membaringkan tubuh
indah itu di atasnya. Pandangan nya sudah
semakin berkabut melihat sosok molek itu
kini sudah siap menanti sentuhannya.
Agra melucuti sisa pakaian nya. Wajah Kiran
memerah, tubuhnya semakin terasa panas
saat melihat tubuh bagian bawah Agra sudah
siap tempur, begitu tegang dan menggetarkan.
Agra segera merunduk, memulai aksinya dengan
memuja seluruh tubuh istrinya itu, memberikan
sentuhan dan kecupan lembut di setiap inchi nya.
Menggigit kecil meninggalkan jejak di semua
bagian. Tidak lama bibir mereka sudah saling
menyergap, saling ******* kuat, bertaut lidah bertukar saliva. Ciuman mereka semakin panas
di penuhi gejolak hasrat yang semakin membara.
"Aakhh sayang..aku tidak tahan lagi..."
Kiran bergumam pelan sambil menggelinjang
erotis saat bibir Agra bermain liar di bagian
bawah tubuhnya membuat seluruh tubuhnya
bergetar hebat tidak tahan dengan rasa nikmat
yang kini sudah menguasai seluruh aliran
darahnya, menerbangkan dirinya ke awan.
Gairah mereka sudah mencapai puncak, Agra
segera melakukan penyatuan tubuh mereka
dengan gerakan lembut namun kuat hingga
membuat Kiran mendesah panjang seraya
mencengkram kuat rambut Agra.
"Emmhh....Agra...aku mencintaimu..."
Kiran meracau di tengah desahan dan erangan
erotis nya. Gerakan Agra semakin lama semakin
buas dan liar. Dia mengeksplor tubuh indah istri
nya itu dengan berbagai posisi hingga membuat
Kiran menjerit dan melenguh panjang. kedua
nya kini benar-benar terbang ke langit ke tujuh.
Suasana di dalam kamar khusus itu kini seakan
panas membara di warnai oleh desahan dan
erangan kenikmatan yang berlangsung hingga
menjelang dini hari. Berbeda dengan cuaca di
luar yang di warnai hujan salju yang cukup
lebat hingga suhu udara kembali pada kondisi
yang sangat rendah, dingin dan beku...
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC......