Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
61. Jamuan Khusus


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Malam ini cuaca cukup bersahabat. Hanya


turun turun salju ringan saja. Seperti biasanya


suasana di dalam istana sepi dan tenang, tidak


ada lagi kegaduhan ataupun kesibukan seperti


tadi pagi. Saat ini istana sedang dalam masa persiapan. Karena sebentar lagi akan di adakan jamuan makan malam cukup besar dengan


hadirnya beberapa tamu penting yang sengaja


di undang untuk datang pada acara ini.


Saat ini Agra dan Kiran sedang bersiap untuk


datang ke acara jamuan tersebut. Beberapa


saat yang lalu kepala pelayan datang ke kamar


mereka membawakan boks besar berisi pakaian tradisional yang harus mereka kenakkan dan


sengaja disiapkan oleh Nyonya Yuri untuk


mereka berdua.


"Nyonya Besar sudah menyiapkan pakaian


ini sejak jauh-jauh hari.."


Terang kepala pelayan membuat Kiran terdiam


dalam rasa haru dan bahagia.


"Terimakasih.. dengan senang hati kami akan


memakainya.!


"Baik Nona..kalau begitu saya akan menunggu


di luar ruangan..!"


Kiran mengangguk, kepala pelayan kembali membungkuk lalu mundur keluar dari ruangan.


Agra menatap terkesima kearah Kiran yang


baru saja muncul dari ruang ganti dengan


pakaian barunya yang tampak begitu memukau, sangat cocok membalut tubuh indah istrinya itu.


Dia melangkah kearah Kiran yang masih terlihat


sibuk merapihkan pakaiannya, model bajunya


memang sedikit ribet, tapi Kiran benar-benar


menyukainya, apalagi warnanya, tampak begitu


indah dengan paduan etnik klasik golden soft.


Agra mendekat lalu menarik tubuh Kiran ke


dalam dekapannya, memeluknya erat-erat.


"Aku sangat merindukanmu sayang..! kau


terlihat sangat cantik dengan pakaian ini.."


Bisik Agra sambil menciumi puncak kepala


Kiran dan menghirup aroma wangi segar dari


rambutnya yang masih terurai bebas.


"Aku juga merindukan mu..sudah dulu sayang


lepasin aku. Kita harus segera bersiap. Aku


juga belum menata rambutku..!"


"Terlambat sedikit juga tidak apa-apa sayang..


Biarkan saja mereka menunggu kita..!"


"Ini tidak seperti di rumah kita sayang..kita


tidak bisa seenaknya saja di sini. Sekarang


ini kita sedang bertamu."


"Kita bukan tamu Kiran..kita hanya orang baru.


Biarkan orang tua itu jengkel pada kita..!"


"Aku baru saja merasa bahagia..apa kamu tega menghancurkan semuanya begitu saja.?"


"Baiklah..aku hanya bercanda sayang...!"


Agra terkekeh pelan, dia melepaskan pelukan


nya, keduanya saling pandang kuat, sekilas dia mengecup bibir Kiran.


"Ayo..sekarang aku akan membantumu bersiap.!"


"Memangnya kamu bisa..?"


"Apa yang tidak bisa aku lakukan.?"


"Kamu bisa memasak juga..?"


"Tentu saja..! apapun bisa aku lakukan. Kau


hanya belum mengetahuinya saja..!"


"Oya..kau harus membuktikan nya nanti..!"


"Apapun yang kau inginkan aku akan berusaha


untuk mengabulkan nya..!"


Agra mengikatkan tali cantik di pinggang kecil


Kiran dan merapihkan kembali pakaiannya.


Kiran hanya bisa terdiam membiarkan suami


nya itu membenahi penampilan nya.


"Ini sedikit ribet sayang..tapi aku sangat suka.


Warnanya juga sangat indah..!"


Kiran memutar tubuhnya, menilik penampilan


nya yang tampak begitu mempesona. Matanya


terlihat berbinar penuh kebahagiaan. Agra


hanya bisa tersenyum sambil memperhatikan


apa yang dilakukan istrinya itu. Hatinya begitu


hangat melihat senyum lebar tercipta di bibir


indah istrinya. Dan akan dia pastikan senyum


itu tidak akan pernah memudar lagi.


"Kau akan selalu cantik memakai apapun..


Kamu wanita teristimewa di dunia, aku sangat


beruntung bisa mendapatkan mu..!"


"Dasar gombal..kau selalu berlebihan..!"


Kiran berdecak seraya mendorong halus dada


Agra kemudian duduk di atas bangku meja rias


antik. Dia mulai menggulung rambutnya membuat sanggul manis dan menatanya sedemikian rupa.


Pakaian yang di kirim oleh Ibu mertuanya ini


sudah lengkap dengan tusuk konde cantik model klasik etnik yang sangat indah. Warnanya juga


satu sentuhan dengan pakaiannya. Agra hanya tersenyum tipis, kemudian mengecup lembut


pelipis Kiran setelah itu dia juga segera bersiap,


mengenakkan pakaian adat nya yang membuat


dirinya semakin terlihat gagah dan berbeda.


"Tuan Muda..Nona Muda..mohon maaf kalian


sudah di tunggu di ruang perjamuan..!"


Suara kepala pelayan mengingatkan dari luar


pintu geser. Kiran berdiri di depan cermin besar


menatap pantulan dirinya di sana. Bibirnya kini


tersenyum manis, dia terlihat begitu cantik dan


berbeda, sangat memukau dengan riasan wajah


natural yang melengkapi seluruh tampilannya.


Agra kembali memeluknya dari belakang, wajah


nya terlihat memerah menahan hasrat yang


dari tadi sudah naik karena tidak tahan melihat kecantikan istrinya itu. Pesonanya kali ini telah membangkitkan gairah bercinta nya hingga


dia tidak mampu menahan hasratnya.


"Kita tidak usah datang saja sayang..aku tidak


tahan melihatmu seperti ini..!"


Bisik Agra serak seraya melancarkan aksinya


menciumi leher jenjang Kiran yang kini hanya


bisa memejamkan matanya.


"Ini adalah acara resmi sayang..dan sengaja


diadakan untuk menyambut kedatangan kita."


"Tapi aku tidak tahan sayang.. lebih baik aku memakanmu saja..!"


Bibir Agra langsung menyergap bibir Kiran.


********** rakus dan liar terdorong oleh


desakan gairah yang kini semakin menguasai


tubuhnya. Kiran membalas dengan sama panas


nya, keduanya terhanyut dalam buaian ciuman


penuh hasrat dan keinginan saling memiliki.


Keduanya seakan kehausan karena memendam


kerinduan yang semalam tertahan dan tidak tersalurkan. Aksi Agra semakin menggila dia


hendak membuka tali pengikat di pinggang


Kiran, namun Kiran mencoba menahannya.


"Tuan Muda.. Nona..apa anda sudah siap..?"


Kembali terdengar suara kepala pelayan. Kiran


mendorong Agra, wajahnya tampak memerah.


"Sebentar lagi kami keluar..!"


Sahut Kiran sambil kemudian kembali melihat


dan merapihkan riasan wajah nya di depan


cermin. Agra hanya bisa menggeram kesal.


Dia menarik napas panjang mencoba untuk


mengontrol hasratnya.


"Ayo sayang..kita pergi sekarang..!"


Kiran menarik tangan Agra yang masih terlihat


kesal menahan gejolak hasratnya.


"Baiklah..kau tunggu saja nanti malam.!"


Desis Agra sambil mengecup bibir Kiran sekilas.


Kiran menepis tangan Agra dengan semburat


merah yang sudah memenuhi seluruh wajahnya.


Setelah dirasa semuanya siap, pintu geser kini


terbuka hawa dingin dari luar langsung saja


menyambut keduanya. Kepala pelayan maju,


kemudian membungkuk hormat di hadapan


mereka, setelah itu memakaikan mantel tebal


ke tubuh Kiran. Sedang Bara mengenakkannya


ke tubuh Agra. Akhirnya rombongan itu pergi


menuju ke tempat perjamuan berlangsung.


Tidak lama mereka tiba di depan pintu sebuah


ruangan etnik yang sangat unik. Pelayan yang


bertugas disana terlihat membuka mantel yang


di pakai oleh pasangan itu. Pintu di geser pelan,


dengan menggengam erat tangan Kiran Agra


masuk ke dalam ruangan yang memiliki bentuk


memanjang layaknya aula khusus itu.


Di sana sudah hadir puluhan orang terdiri dari


pria dan wanita berpakaian adat dengan riasan


dan aksesoris lengkap. Mereka duduk teratur


memanjang menghadap meja antik yang kini


sudah di penuhi oleh hidangan beranekaragam


yang sangat menggugah selera. Dan tersedia


juga minuman khas negara ini di setiap meja


para pria. Agra dan Kiran berdiri tegak di ujung


meja menghadap semua tamu yang saat ini


tengah menatap terpesona kearah mereka.


"Perkenalkan..dia adalah putra tunggal ku..


Hiroshi Hasimoto atau Bimantara Agra Bintang..


Dan menantu ku.. Evanindhia Sashikirana..!"


Tuan Hasimoto merentangkan tangan kearah


Agra dan Kiran, dengan bangga memperkenalkan


keduanya kepada semua tamu yang hadir. Agra


dan Kiran membungkuk bersamaan di balas oleh


semua tamu dengan membungkuk rendah pada


posisi duduk tegaknya.


Akhirnya Agra dan Kiran duduk di dekat posisi


Tuan Hasimoto yang terlihat begitu tenang dan


cerah. Baru kali inilah semua orang melihat


wajah sumringah Tuan Besar. Senyum Nyonya


Yuriko terkembang dengan sempurna. Hatinya


begitu bahagia, akhirnya kemelut yang terjadi


bertahun-tahun lamanya kini berakhir sudah.


"Aku sengaja mengundang kalian semua dalam


rangka penyambutan kedatangan putra dan juga


menantuku. Mungkin ini sedikit mendadak tapi


sesungguhnya semua ini sudah di persiapkan


jauh-jauh hari sebelumnya..!"


penuh wibawa dan kharisma. Para tamu tampak


tersenyum seraya mengangguk. Kiran menatap


ayah mertuanya dengan perasaan haru, semua


nya bagaikan dalam mimpi, ayah mertuanya


yang diawal pertemuan begitu angkuh bahkan


terkesan kejam kini menjelma menjadi sosok


yang bersahaja dan bijaksana.


"Kita tidak perlu basa-basi lagi..mari nikmati


makan malam ini penuh dengan suka cita..!"


Tuan Hasimoto mengangkat gelas kecil di


tangannya di ikuti oleh para tamu pria. Agra


pun mau tidak mau mengikuti nya.


"Bersulang...!"


Mereka semua berseru bersamaan sambil


kemudian meneguk minumannya. Dan makan


malam pun kini berlangsung penuh dengan


kekeluargaan dan kebersamaan.


****** ******


Kiran keluar dari ruang perjamuan saat kepala


pelayan menjemputnya. Agra hanya mengedip


meyakinkan, begitupun dengan kedua mertua


nya. Kiran menggengam erat tangan Agra.


"Pergilah duluan..aku akan menyusulmu..!"


"Tapi sayang..aku takut sendirian di kamar.."


"Aku tidak akan lama sayang.. pergilah.."


Akhirnya dengan sedikit ragu Kiran pun nurut


dia keluar bersama kepala pelayan dan juga


beberapa pelayan serta pengawal pribadi.


Kiran mengernyitkan alisnya ketika kepala


pelayan membawanya kearah lain bukan


menuju ke kamarnya.


"Kita mau kemana.? kenapa arahnya berbeda?"


"Malam ini Nona dan Tuan akan menginap


di kamar penyucian. Nona baru saja terkena


racun, jadi harus di sterilkan..!"


"Tapi.. apakah Agra tahu semua ini..?"


"Tentu saja Nona..Tuan nanti akan menyusul


Nona ke tempat ini..!"


Kiran menghentikan langkah nya saat mereka


tiba di sebuah bangunan yang lebih luas dari


kamar pertama nya.


"Mari Nona.. ikuti saya..!"


Kiran mengikuti kepala pelayan dan 4 orang


pelayan lainnya masuk ke dalam ruangan,


membuka alas kaki di ruangan depan, lalu


masuk lagi ke ruangan lain. Matanya tampak


tertegun saat melihat sebuah ruangan yang


cukup luas dengan hiasan lilin cantik di setiap


sudutnya menguarkan aroma wangi semerbak


yang sangat menenangkan. Dan di bagian yang


lebih dalam lagi sudah tergelar sebuah tempat


tidur besar yang sudah di penuhi taburan


bunga mawar cantik di atasnya.


"Nona..anda harus di bersihkan terlebih dahulu


dari sisa-sisa efek racun kemarin..mari ikuti


saya ke ruangan lain..!"


Kiran hanya bisa mengikuti kepala pelayan


ke sudut ruangan, dua pelayan membukakan


pintu dan mata Kiran melebar saat dia melihat


ada sebuah kolam rendam berisi air hangat


yang mengeluarkan uap segar. Dia masuk ke


dalamnya dengan tak henti berdecak kagum.


Dua orang pelayan maju membungkuk, lalu


tanpa kata mereka melucuti pakaian yang kini


di kenakkan oleh Kiran. Dia hanya bisa terdiam


mematung di tempat, membiarkan para pelayan


itu melakukan tugasnya di bawah pengawasan


kepala pelayan. Ini seperti Dejavu bagi Kiran,


ingatannya kembali berputar pada kejadian


ritual mandi bulan di istana Hadiningrat.


Tuhan... ritual lagi.. hidupnya kini di penuhi


oleh hal-hal di luar pengetahuan nya. Semoga


saja ini akan membawa kebaikan untuknya.


Para pelayan hanya bisa menunduk di penuhi


rasa kagum saat melihat bagaimana sempurna


nya bentuk tubuh dan kulit Nona Muda mereka.


"Masuklah Nona..anda harus berendam selama


setengah jam lamanya..!"


Ucap kepala pelayan sambil membungkuk.


Perlahan Kiran masuk ke dalam kolam rendam


yang di penuhi oleh uap air tersebut. Matanya


langsung terpejam saat dia merasakan hangat


dan segarnya air yang ada di kolam tersebut.


Aroma wangi membuai kini memenuhi indra


penciumannya. Kiran terhanyut dan terbuai


oleh semua kenyamanan ini.!


Kepala pelayan bergerak memasukkan cairan


khusus ke dalam kolam rendam.


"Saya akan menunggu Nona di luar..!"


"Hemm.. baiklah..!"


Sahut Kiran tanpa membuka matanya. Dia


sedang terlena dengan rasa nyaman yang


kini menyentuh seluruh tubuhnya.


Satu jam kemudian Kiran sudah keluar dari


ruang ganti dengan gaun malam cantik yang


sedikit transparan. Kepala pelayan baru selesai


menyisir rambut Kiran dan mengoleskan minyak khusus ke seluruh bagian luar tubuh Kiran.


"Kami permisi Nona.. selamat beristirahat.."


"Terimakasih... selamat malam.."


Sahut Kiran sambil berdiri melihat kearah mereka


yang kini mundur secara teratur. Kiran melangkah kearah tempat tidur. Dia mulai merasakan tubuh


nya kini begitu rileks, ringan dan..sedikit gerah.!


Di pintu masuk muncul Agra, membuka mantel


yang di pakainya. Mata mereka bersirobos tatap


dalam jarak beberapa meter. Sorot mata mereka


sudah sama-sama berkabut. Perlahan keduanya


mendekat. Hasrat Kiran kini semakin menanjak,


tubuhnya benar-benar panas. Mereka kini sudah


saling berhadapan. Dengan sedikit gemetaran


tangan Kiran bergerak membuka pakaian Agra


yang hanya bisa terdiam dengan seringai tipis


penuh arti melihat reaksi Kiran yang sudah


tidak terkendali.


"Apa kau sudah tidak tahan sayang..?"


Bisik Agra seraya mengangkat dagu Kiran


yang langsung tersipu malu.


"Tubuhku panas sekali sayang.. entah apa


yang sudah mereka lakukan padaku.."


Ucap Kiran dengan suara yang sangat berat.


Agra kini sudah bertelanjang dada, Kiran


langsung merebahkan kepalanya di dada


bidang suaminya itu, merasakan irama detak


jantungnya yang kini sedang bermarathon.


Dia memejamkan mata, tangannya merayap


mengelus lembut dada kokoh suaminya itu.


"Aku akan mendinginkan nya sekarang..!"


"Bawalah aku terbang kemanapun kamu


mau sayang..aku menginginkan mu..!"


Lirih Kiran sambil menatap lekat wajah Agra.


Keduanya saling pandang kuat, tangan Agra melepaskan gaun yang menutupi tubuh indah


istrinya itu dalam gerakan cepat dan lihai. Kini


tubuh indah itu sudah dalam keadaan polos


tak tertutupi sehelai benang pun. Kemudian


dia mengangkat tubuh Kiran membawanya


ke alas tempat tidur yang sudah bertaburkan


bunga-bunga cantik, membaringkan tubuh


indah itu di atasnya. Pandangan nya sudah


semakin berkabut melihat sosok molek itu


kini sudah siap menanti sentuhannya.


Agra melucuti sisa pakaian nya. Wajah Kiran


memerah, tubuhnya semakin terasa panas


saat melihat tubuh bagian bawah Agra sudah


siap tempur, begitu tegang dan menggetarkan.


Agra segera merunduk, memulai aksinya dengan


memuja seluruh tubuh istrinya itu, memberikan


sentuhan dan kecupan lembut di setiap inchi nya.


Menggigit kecil meninggalkan jejak di semua


bagian. Tidak lama bibir mereka sudah saling


menyergap, saling ******* kuat, bertaut lidah bertukar saliva. Ciuman mereka semakin panas


di penuhi gejolak hasrat yang semakin membara.


"Aakhh sayang..aku tidak tahan lagi..."


Kiran bergumam pelan sambil menggelinjang


erotis saat bibir Agra bermain liar di bagian


bawah tubuhnya membuat seluruh tubuhnya


bergetar hebat tidak tahan dengan rasa nikmat


yang kini sudah menguasai seluruh aliran


darahnya, menerbangkan dirinya ke awan.


Gairah mereka sudah mencapai puncak, Agra


segera melakukan penyatuan tubuh mereka


dengan gerakan lembut namun kuat hingga


membuat Kiran mendesah panjang seraya


mencengkram kuat rambut Agra.


"Emmhh....Agra...aku mencintaimu..."


Kiran meracau di tengah desahan dan erangan


erotis nya. Gerakan Agra semakin lama semakin


buas dan liar. Dia mengeksplor tubuh indah istri


nya itu dengan berbagai posisi hingga membuat


Kiran menjerit dan melenguh panjang. kedua


nya kini benar-benar terbang ke langit ke tujuh.


Suasana di dalam kamar khusus itu kini seakan


panas membara di warnai oleh desahan dan


erangan kenikmatan yang berlangsung hingga


menjelang dini hari. Berbeda dengan cuaca di


luar yang di warnai hujan salju yang cukup


lebat hingga suhu udara kembali pada kondisi


yang sangat rendah, dingin dan beku...


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC......