Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
16. Gugup


 


***********


 


Pintu kamar kembali di ketuk dari luar. Mau tidak


mau Kiran beranjak dan membukanya. Ke dalam


kamar muncul Bara dan Badar. Mereka membawa


dua nampan berisi makan malam. Kiran hanya


bisa terdiam mematung melihat kedua orang itu.


"Kenapa kalian harus repot-repot membawanya


kesini, kami bisa turun untuk makan malam di


bawah Om."


Badar dan Bara tampak saling lirik.


"Tuan Agra yang memintanya Nona."


"Apa ? iisshh orang itu, sebenarnya apa yang dia


inginkan, selalu saja seenaknya.!"


"Aku hanya ingin kita makan berdua, tanpa ada


gangguan dari orang lain.!"


Mereka semua melirik ke asal suara. Agra muncul


dari arah kamar mandi. Saat ini dia sudah berganti


pakaian, namun tampaknya bukan pakaian santai


yang biasanya di kenakkan oleh orang yang akan


beristirahat, melainkan pakaian resmi biasa.


Kiran menatap laki-laki itu dengan sorot mata


sedikit kesal mengingat sikap seenaknya yang memutuskan sesuatu tanpa bicara dulu padanya.


"Kami permisi Tuan, Nona.. silahkan nikmati


makan malamnya."


Badar berkata sambil kemudian membungkuk


sedikit setelah itu dia keluar bersama Bara.


Agra beranjak duduk di sofa yang ada di kamar


itu menghadap makanan yang sudah tersaji.


Perlahan Kiran juga ikut duduk di samping nya.


Untuk sesaat mereka saling pandang.


"Apa kau tidak ada keinginan untuk melayani


suamimu ini.?"


Suara Agra membuat Kiran tersadar, wajahnya


langsung saja bersemu merah. Dengan sedikit


canggung dia mulai menuang makanan ke atas


piring yang ada di hadapan Agra. Ada kegugupan


yang kini di rasakan nya saat menyadari laki-laki


itu sedang memperhatikan dirinya.


"Silahkan..!"


Kiran mendekatkan piring berisi makanan ke


hadapan Agra. Pria itu tampak memulai santap


malamnya. Kiran juga memaksakan diri mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Maaf kalau selama ini aku belum mampu


menempatkan diri dengan baik, aku.."


"Aku tahu kau belum bisa menerima semua ini.!"


"Ini sesuatu yang cukup sulit untuk di terima.


semua ini rasanya seperti mimpi bagiku.."


"Tapi yang harus kamu ingat, semuanya akan


tetap seperti ini, tidak akan ada yang berubah."


Potong Agra sambil kembali menyuapkan


makanan ke mulutnya, tampaknya makanan


itu cukup cocok di lidahnya. Dia tidak tahu saja


bahwa makanan itu adalah hasil buatan Kiran.


Kiran melirik, menatap wajah Agra penuh


tanda tanya.


"Apa maksudmu sebenarnya.? bukankah kamu


tahu sendiri semuanya terjadi di luar dugaan."


"Tentu saja aku tahu, dan aku menerima semua


ini sebagai takdir Tuhan.. sebuah ketentuan


yang sudah seharusnya terjadi.!"


"Tidak.! aku tidak bisa menerima nya begitu saja."


"Kau hanya belum bisa menerima nya.!"


"Ini sesuatu yang sulit bagiku, kita orang asing


yang tidak saling mengenal, jadi rasanya sangat


tidak mungkin bagiku.!"


"Mulai sekarang kau harus belajar menerima nya


Nona Kiran..kau adalah istri Agra Bintang.!"


Kedua mata mereka bertemu panas. Ada sedikit


pertanyaan yang menggelitik di benak Kiran.


Agra Bintang.? rasa-rasanya dia cukup mengenal


nama itu, tapi rasanya itu tidak mungkin. Nama


seperti itu pasti banyak.!


"Makanlah..kau harus menjaga kesehatan mu


sebelum kita kembali ke tempat seharusnya.!"


Agra kembali melanjutkan makan malamnya.


Ada kehangatan di hati Kiran saat melihat Agra


tampaknya sangat menikmati makanan buatan


nya itu. Dia terlihat begitu lahap.


Kiran kembali menyuapkan makanan ke mulut


nya. Tapi ini rasanya sulit sekali untuk masuk


ke perutnya. Perasaan nya yang tidak menentu


seakan menyumbat makanan itu dan hanya


tertahan di mulutnya saja.


Agra kembali melirik kearah Kiran, dia terlihat


tidak suka melihat istrinya itu malah terdiam


dalam renungan.


"Ayo makan..!"


Pria itu menyodorkan sendok berisi makanan


ke mulut Kiran yang langsung membulatkan


matanya terkejut. Dia menggeleng kuat sambil


menutup rapat mulutnya.


"Makan, atau kau yang akan aku makan malam


ini juga.!"


"Uhukk uhukk..!"


Kiran tampak langsung tersedak. Agra segera


memberikan gelas air putih padanya yang


langsung di teguk oleh Kiran.


Saat ini wajah Kiran terlihat memerah seluruh


nya. Sedang Agra hanya mengulas senyum tipis.


Sungguh rasanya dia gemas sendiri melihat Kiran


kalangkabut mendengar ancamannya tadi.


"Ayo aku akan menyuapimu."


Kembali Agra menyodorkan sendok berisi


makanan ke mulut Kiran.


"Aku tidak mau makan, aku mau tidur saja.!"


Tolak Kiran sambil menjauhkan wajahnya.


"Apa aku perlu membuktikan ancaman ku.?"


"Agraaa.. bukankah sudah aku peringatkan.!


jangan melewati batas.!"


"Aku ini suamimu Nona Sashikirana..! aku punya


hak penuh atas dirimu.!"


Deg !


Jantung Kiran kembali terguncang. Debaran


di dadanya kini semakin tidak karuan.Tubuh


nya tiba-tiba saja lemas. Keduanya saling


menatap kuat seolah ingin menyalurkan apa


yang ada dalam hati dan pikiran mereka yang


tidak mampu tersampaikan lewat lisan.


"Aku ingatkan sekali lagi, jangan pernah keluar


dari batasan mu.! aku belum bisa menerima


semua ini. "


Dengus Kiran sambil meneguk air putih. Agra


menjatuhkan sendok nya cukup kencang,


membuat Kiran sedikit terkejut. Pria itu juga mengakhiri makan malam nya. Dia mengelap


mulutnya menggunakan tisu.


"Aku bisa membatasi diriku, tapi kau juga


harus tahu posisimu Nona.!"


Kiran melirik tajam kearah Agra yang terlihat


duduk santai, menatapnya dengan tenang.


"Kalau sudah selesai, kau bisa keluar dari


kamar sekarang juga, aku ingin segera tidur.!"


Ketus Kiran sambil bangkit berdiri namun


sesaat kemudian dia memekik kuat saat Agra


mengangkat tubuh nya ke dalam pangkuannya.


"Hei.. turunkan aku, apa yang kau lakukan.!"


"Bukankah kau mengatakan ingin segera tidur,


jadi ayo kita tidur sekarang.!"


"Apa ? tidak.! tentu saja tidak tidur dengan mu.!"


"Ini seharusnya sudah terjadi dari kemarin.!"


Kiran meronta tapi Agra sudah merebahkan


tubuhnya di atas tempat tidur. Dengan cepat


Kiran bangkit beringsut menjauh, menatap


tegang ke arah Agra yang mulai naik ke atas


tempat tidur.


"Mau apa kamu, pergilah ! kamarmu kan ada


di bawah.!"


"Aku ingin tidur di sini malam ini.!"


"Agraa.. jangan keterlaluan.!"


Kiran tidak tahan lagi dia memukulkan bantal


kearah Agra yang hanya menepisnya santai.


"Hei.. kenapa kau ketakutan begitu.! "


Kiran menatap tegang wajah Agra yang kini


sudah mengurung tubuh nya, menguncinya


di kedua sisi.


"Agra..aku mohon jangan melewati batas.!


Aku belum bisa menerima mu .!"


Suara Kiran terdengar gemetar karena gugup


dan tegang sudah menguasai dirinya saat ini.


Tangan Agra bergerak perlahan mengelus pipi


bening Kiran, tatapannya begitu dalam.Sekuat


tenaga dia menyembunyikan semua rasa yang terpendam terhadap gadis ini. Tapi rasanya itu


sulit untuk saat ini.


Di tengah rasa tegang nya Kiran melihat ada


tatapan lembut penuh perasaan yang kini


terpancar dari kedua bola mata berwarna


cokelat gelap suaminya itu. Sorot mata yang


dia hanya bisa terdiam membalas tatapan itu.


"Kau pikir aku mau apa.? apa kau pikir aku


laki-laki yang suka memaksakan kehendak


pada seseorang.?"


Bisik Agra, napasnya yang hangat dan berat kini menerpa wajah Kiran. Kiran terhenyak menatap


kuat wajah tampan Agra. Mata mereka bertemu


saling menerobos jauh kedalaman hati keduanya.


"A-aku.. perlu waktu untuk menerima semua ini.


Aku mohon.. biarkan aku memahami semua ini


secara pelan-pelan."


Lirih Kiran dengan suara yang sangat pelan dan


sedikit bergetar membuat Agra tidak bisa lagi


mengendalikan perasaannya. Tatapan nya kini


mengunci bibir ranum Kiran yang merah alami


sangat menggiurkan. Ingin sekali dia *******


dan menikmati keranuman bibir itu. Tapi tidak


sebelum Kiran bisa menerima dirinya.


"Tentu saja, aku akan memberimu waktu yang


cukup untuk memahami semua ini.."


Suara Agra semakin berat, jarinya turun mengelus


bibir ranum Kiran yang semakin tegang dan


mencoba untuk menjauhkan wajahnya.


"To-tolong.. biarkan aku sendiri sekarang."


Agra kembali menatap lekat wajah cantik Kiran.


Dia berusaha mati-matian untuk meredam gejolak hasratnya yang saat ini menggedor jiwanya saat melihat keindahan tubuh Kiran yang kini tampak


nyata di depan matanya karena gaun malamnya memang sedikit transparan.


"A-aku mohon Agra..biarkan aku sendiri.."


Kembali Kiran berucap dengan gemetar saat


wajah Agra semakin mendekat. Mata Agra


terpejam kuat seraya menghembuskan napas


nya berat. Dia mencoba untuk mengontrol


hasratnya yang masih saja menguasai dirinya.


Agra segera menjauhkan tubuh nya membuat


Kiran menarik napas lega. Pria itu turun dari atas


tempat tidur kemudian menegakkan badannya


di sisi ranjang, menatap Kiran sebentar.


"Tidurlah, aku akan pergi melakukan patroli.!"


Kiran langsung terkejut, dengan cepat dia


meraih tangan Agra dan memegang nya kuat.


"Kenapa kamu harus kesana juga ? bukankah


sudah ada penjaga yang bertugas.?"


Agra menatap pegangan tangan Kiran, kemudian


menatap wajah Kiran dengan seringai senyum


tipis tak terlihat.


"Apa kau sedang mencemaskan ku.?"


"Tidak, bukan begitu, lagipula untuk apa aku


mencemaskan mu, kau kan jagoan.!"


Bantah Kiran dengan wajah merahnya, merasa


malu sendiri. Dia melepas pegangan tangan nya kemudian melempar pandangan ke arah jendela.


"Baiklah kalau begitu ! aku berangkat sekarang.!"


"Kau benar-benar harus pergi ?"


Suara Kiran terdengar tidak suka, dia menatap


tajam pergerakan laki-laki itu.


"Bukankah kau tidak suka aku di sini.?"


Agra berjalan acuh kearah sofa, meraih mantel kemudian kembali memakainya. Kiran semakin


merasa tidak nyaman, dia turun dari atas kasur.


Dan tiba-tiba saja hujan kembali turun dengan


sangat derasnya membuat keduanya terdiam


menatap ke arah luar.


"Kenapa hujan harus kembali turun.!"


Gerutu Agra sambil melangkah ke dekat jendela


dan membuka gorden melihat keadaan di luar.


"Itu artinya kamu tidak boleh pergi aaaww..!"


Kiran langsung berteriak dan menutup telinganya begitu terdengar suara petir menyambar. Agra


membalikan badannya menatap Kiran yang


terlihat memucat dengan raut wajah di penuhi


ketakutan.


"Agra..aku mohon.. jangan pergi, di luar sana


tidak aman saat ini, aku takut terjadi apa-apa


padamu."


Kiran memohon dengan wajah di penuhi oleh


kecemasan sekaligus ketakutan. Agra mendekat


tanpa di duga dia meraih tubuh Kiran ke dalam


pelukan nya. Kiran tidak sanggup untuk menolak


ataupun melepaskan pelukan itu. Perlahan dia


balik memeluk erat tubuh Agra. Rasa aman dan


nyaman kini melingkupi diri nya.


"Jangan pergi..aku tidak akan bisa tidur kalau


keadaan hujan begini, aku takut.."


Lirih Kiran sambil menyusupkan wajahnya di


belahan dada bidang Agra.


"Kau ini sebenarnya penakut, tapi kenapa berani- beraninya datang ke tempat ini.!"


Ledek Agra membuat Kiran memukul pelan


punggung laki-laki itu.


"Jangan meledekku terus.!"


Rengek Kiran sambil melonggarkan pelukan


nya dan mengerucutkan bibir mungilnya.


Agra kembali mengangkat tubuh ramping


Kiran di bawa ke atas tempat tidur kemudian


membaringkan nya dengan hati-hati.


"Tidurlah..aku akan menemanimu..hanya tidur !


aku janji tidak akan macam-macam kalau kamu


tidak menginginkan nya.!"


Ucap Agra yang membuat wajah Kiran kembali


bersemu merah. Mata mereka masih terpaut


dalam. Agra menarik selimut menutupi tubuh


Kiran sampai perutnya. Perlahan dia pun ikut


berbaring di sebelahnya. Kedua nya terdiam


menatap langit-langit kamar sambil mencoba


mengatur pernapasan.


Agra melirik kearah Kiran yang memiringkan


badan kearahnya, keduanya saling pandang.


"Kemarilah, mendekat padaku.!"


Agra merentangkan tangan kanannya. Kiran


tampak ragu, namun rasa takut akan hujan


mengalahkan ketegangan nya. Dia bergeser


ke dekat Agra, menatapnya malu sesaat sebelum akhirnya Agra menarik tubuh gadis itu kedalam rengkuhannya, memeluknya erat dan hangat,


melingkari pinggangnya dengan kuat. Kiran


hanya bisa terdiam menyembunyikan tubuhnya


dalam kurungan pria itu.


Perlahan tangan Kiran bergerak melingkari


punggung kokoh Agra, tubuh mereka kini


menempel satu sama lain menyisakan deru


napas yang sama-sama berat. Aroma wangi


maskulin yang menguar dari tubuh Agra kini


menyatu dengan wangi jasmine yang keluar


dari tubuh Kiran. Kedua mata mereka tampak


terpejam mencoba menguasai diri yang saat


ini seakan meronta tidak terkendali.


"Tidurlah..aku akan menjagamu..!"


Ucap Agra seraya mencium lembut puncak


kepala Kiran berkali-kali sambil menghirup


aroma segar dari rambut indahnya.


"Tapi kamu tidak akan pergi kan.?"


Suara Kiran terdengar di penuhi keraguan.


"Kalau kamu menginginkan nya, aku akan


menjagamu semalaman di sini. Tapi aku


tidak yakin tidak akan terjadi apa-apa.!"


"Agra...aku mohon.. jangan mulai lagi.."


Keluh Kiran sambil mengerucutkan bibirnya.


Agra menurunkan pandangannya. Dia melihat


saat ini Kiran sedang berusaha memejamkan


matanya. Dia tersenyum tipis, gadis ini memang


benar-benar polos. Dia semakin mempererat


pelukan nya.


"Bagaimana aku bisa bertahan berada di dekat


mu Kiran..kau wanita yang terlalu menarik.!"


Bisik Agra setengah bergumam, tubuh Kiran


kembali tegang di sertai semburan hawa panas


yang kini mulai membakar aliran darahnya saat


mendengar bisikan Agra. Dia menarik dirinya


dari rengkuhan Agra membuat pria itu menatap


nya tajam.


"Tapi aku tidak akan melakukan apapun tanpa


seizin darimu, aku menghormati dirimu.!"


Kembali bisik Agra meyakinkan membuat wajah


Kiran terlihat menatap tak percaya. Seteguh


itukah jiwa dan kepribadian laki-laki ini.?


"Ayo tidur, ini sudah malam..!"


Agra menarik kembali tubuh Kiran kedalam


dekapan hangatnya membuat gadis itu kini


memejamkan matanya. Setelah beberapa saat kenyamanan dan kedamaian semakin membawa


Kiran ke alam bawah sadarnya hingga akhirnya


dia tertidur pulas dalam pelukan laki-laki yang


sudah sah menjadi suaminya itu.


Saat tengah malam setelah memastikan Kiran


tertidur lelap Agra bangkit, melepas pelukannya dengan hati-hati, menyelimuti tubuh istrinya itu.


Untuk sesaat dia tampak tersenyum puas,menatap lembut wajah Kiran, kemudian mendaratkan


kecupan manis di kening dan bibirnya.


Setelah itu dia keluar dari dalam kamar karena


Badar dan Bara sudah menunggu nya di lantai


bawah. Mereka bertiga berangkat menuju


lokasi pembuatan landasan baru..


 


***********


 


TBC.....