
**********
Tata membimbing Kiran menuju kamar pribadi
Eyang putri. Setelah melewati ruang keluarga
yang sangat luas berasitektur asli daerah yang
sangat kental dengan kesan budaya leluhur
akhir nya Kiran dan Tata tiba di depan pintu
kamar yang terbuat dari kayu jati dengan
ukiran yang sangat khas dan unik.
"Nyonya Besar..Nona Muda sudah tiba.."
Tata berbicara lewat mikrofon kecil yang ada
di sebelah pintu. Kiran terdiam sedikit tegang.
"Masuklah.."
"Baik Nyonya.."
Tata mengulurkan tangan kearah Kiran begitu
pintu terbuka dengan otomatis. Dengan ragu
Kiran mulai melangkah masuk ke dalam kamar
sang ratu tradisi. Dan dia hanya bisa bengong
di tempat menyaksikan pemandangan yang
tersaji di depan matanya. Ruangan kamar Eyang
putri tampak seolah kita sedang berada di luar
ruangan tepatnya di sebuah taman. Di kanan kiri
ruangan ada water wall yang sangat indah hingga
menambah kesan sejuk dan damai. Kamar ini
di buat dengan desain arsitektur kuno yang
sangat memukau. Ada ruang baca di sudut
kamar yang menghadap langsung ke taman
belakang dimana di sana terdapat kolam ikan
besar dengan air mancur di dalamnya.
"Kemarilah..pijat aku sekarang. Tubuhku sangat
lelah sekali saat ini..!"
Titah Eyang putri yang baru keluar dari ruang
baca di dampingi oleh dua pelayan pribadinya.
Kiran mengangguk seraya mengikuti sang Eyang menuju tempat tidur yakni ranjang besar yang di
tutupi oleh kelambu putih. Di setiap sudut ruang
kamar terdapat lilin aromatherapy yang sangat
wangi dan menenangkan.
Kiran membantu Eyang putri naik ke atas tempat
tidur dengan sangat lembut dan hati-hati. Wanita
tua itu membaringkan tubuhnya, Kiran mencoba
mengganjal punggungnya memakai bantal agar
nenek mertuanya itu merasa nyaman.
Tata mendekat kemudian menyimpan minyak
khusus yang biasa di gunakan oleh Eyang putri
jika ia di pijat.
"Apa Eyang mau di buatkan minuman hangat
terlebih dahulu..?"
Kiran yang mulai duduk di ujung kaki Eyang putri
menatap wanita sepuh itu dengan lembut.
"Itu akan memakan waktu..aku sudah mengantuk.
Kau mulai saja ritual ini..jangan mengecewakan.!"
Kiran mengangguk mulai menuang minyak urut
tadi ke telapak tangannya. Eyang putri tampak
merebahkan kepalanya seraya memejamkan
mata. Dengan hati-hati Kiran mulai memberikan
sentuhan pijatan lembut di kaki sang Eyang yang
kini sudah mengendur, dia harus sangat hati-hati
dalam memperlakukan tubuh renta ini.
Eyang putri menyunggingkan senyum tipis saat
Kiran dengan telaten mulai memijat kakinya
seraya menundukan kepala takzim.
"Apa kau masih ingin mengambil kalung jelek
itu kembali ? atau sudah tidak berminat lagi.?"
Suara Eyang putri membuat Kiran mengangkat
wajahnya, menatap wajah Eyang putri yang
nampak memejamkan matanya.
"Tentu mau Eyang..itu adalah barang yang
sangat penting bagi saya."
"Bukankah sekarang kalian sudah bertemu.?"
Kiran terkejut sesaat, ya.. tentu saja ! tidak ada
yang tidak di ketahui oleh nenek suaminya ini.
"Walaupun begitu..tapi kalung itu sangat penting
untuk saya Eyang..itu adalah kenangan kami."
Lirih Kiran. Eyang putri terdiam, tampaknya dia
sangat menikmati pijatan tangan Kiran yang
lembut namun dengan tekanan pas hingga
meresap ke dalam tulangnya membuat nenek
tua itu merasa rileks.
"Kau bisa mengambilnya setelah ujian berakhir.
Masih banyak yang harus kamu lewati.!"
Kiran melongo, lagi.? ujian apalagi nanti.?
Tuhan sesulit inikah masuk ke dalam keluarga
ini.! Apa dia akan sanggup melewatinya.
"Jadi masih ada hal lain yang harus saya
lewati Eyang..?"
" Tentu saja..! kau pikir mudah masuk ke dalam
keluarga ini.? kau harus memantaskan diri dulu.
Kau harus benar-benar layak menyandang gelar
sebagai bagian dari keluarga Hadiningrat..!"
Tegas Eyang putri yang membuat wajah Kiran
langsung saja pias. Dia menundukkan kepala.
"Baiklah Eyang..kalau begitu saya harus siap
menjalani semuanya..! saya akan berusaha
sebaik mungkin agar bisa menjadi pantas."
Lirih Kiran dengan suara penuh tekad dan
keyakinan. Eyang putri menatap wajah Kiran
yang kini menunduk dalam. Ada senyum yang
terkulum di bibir keriput itu tapi dia berusaha
untuk tetap memasang wajah datarnya.
"Kau bertekad untuk melalui semua ini.? apa
yang membawamu pada keyakinan itu.? apa
karena gelar yang nanti akan kau dapatkan?
Sebagai Nona Muda Hadiningrat..!"
Kiran langsung menghentikan pijatannya. Dia
mengangkat wajahnya, sorot matanya tampak
tidak suka mendengar ucapan Nyonya Ambar
barusan. Dia kembali menundukan kepala.
"Eyang..bagi saya setinggi apapun derajat
manusia di mata dunia, semuanya tidak ada
artinya di mata Tuhan, jadi itupun tidak ada
dalam prioritas hidup saya. Semuanya saya
lakukan hanya karena satu hal.."
Kiran menjeda ucapannya, wajahnya memerah
sendiri saat bayangan wajah tampan Agra kini
menggoda di pelupuk matanya. Eyang putri
menatap wajah kemerahan menantunya itu
dengan raut wajah penasaran .
"Apa itu.? apa karena suami urakanmu itu.?"
Wajah Kiran semakin memerah dengan raut
wajah di penuhi rasa malu.
"Perasaan kami tumbuh seiring perjalanan waktu
dan kesulitan hidup yang hampir membawa kami
pada akhir kisah. Banyak hal yang telah kami lalui bersama, jadi bagi saya Hoshi adalah nyawa
kedua saya eyang..jadi bagaimana saya akan
bisa menjalani hidup tanpa kehadirannya.."
Nyonya Ambar melongo, Tata dan dua pelayan
pribadi yang dari tadi ada di sana bengong. Itu
adalah sebuah ungkapan perasaan yang sangat
indah dan mendalam.
"Kemarilah.. hentikan semua nya..!"
Nyonya Ambar merentangkan tangannya. Kiran
terdiam sebentar, bingung dengan reaksi Eyang
putri yang terlihat emosional. Namun tidak lama
Kiran berhambur ke dalam pelukan hangat sang
nenek mertua. Keduanya saling berpelukan erat.
Eyang putri mencium puncak kepala cucu mantu
nya itu kemudian turun ke keningnya.
"Kalian memang sudah di takdirkan untuk hidup
bersama. Saling melengkapi satu sama lain.
Aura kalian sudah seimbang sekarang..tidak
ada pasangan yang lebih cocok dari kalian.!"
Bisik Nyonya Ambar sambil mengusap lembut
rambut indah Kiran yang terlena dalam rasa
damai dan tentram di pelukan sang nenek.
Setelah lama mereka saling melepaskan diri.
Kiran ngotot melanjutkan pijatannya di tangan
neneknya tersebut yang hanya bisa menurut.
"Pasang tempat tidurnya sekarang..!"
Titah Eyang putri pada Tata yang langsung saja
mengangguk kemudian memberi isyarat pada
dua pelayan pribadi untuk menyiapkan tempat
tidur Kiran.
Suasana di dalam kamar kini sudah berubah
temaram saat Kiran mengakhiri pijatan nya.
Nyonya Ambar tampak sudah tertidur lelap.
Sementara Tata dan para pelayan sejak tadi
sudah keluar dari kamar. Kiran beranjak dari
duduknya, menaikkan selimut ke tubuh sang
nenek sampai sebatas dada. Perlahan dia
mengecup kening nenek mertuanya itu.
Kemudian dia melirik kearah tikar tipis yang
kini sudah tergelar di bawah ranjang besar
tempat tidur Eyang putri. Hanya ada sebuah
bantal dan sehelai kain samping di sana.
Kiran tersenyum getir namun ada keyakinan
dalam dirinya untuk melalui ini semua. Kiran
mulai membaringkan tubuh lelahnya di atas
tikar tersebut. Matanya menatap langit-langit
kamar yang berhias lampu unik khas jaman
dulu. Pikirannya kini melayang pada sosok
kekasih hatinya yang hanya terpisah ruang
saja tapi rasa rindunya seakan menyesakan
dadanya membuat air matanya jatuh.
"Agra..aku merindukan mu.."
Lirihnya berat seraya mengusap pelan air mata
yang terus saja menetes. Kiran menarik napas
dalam-dalam mencoba untuk menenangkan
hatinya. Dia harus segera memejamkan mata
agar bisa melupakan rasa rindunya..
------- -------
Sementara itu saat ini Agra sedang berada di
ruang kerja nya bersama dengan Bara dan Zack.
Mereka bertiga tampak serius membahas satu
hal yang sangat penting.
"Jadi apa yang kalian temukan ? ini bukan
masalah sepele, keselamatan Kiran mulai
terancam sekarang..!"
Agra tampak tidak sabar melihat Bara dan Zack
masih saja memindai satu barang yang bisa
di jadikan petunjuk pada saat kejadian tadi pagi.
Bara dan Zack nampak sibuk menganalisa
sesuatu. Para penyerang kemarin tampaknya
adalah orang-orang ahli menghilangkan jejak.
"Tu..Tuan...coba anda lihat ini. !"
Bara tampak ragu, wajahnya mulai di liputi
oleh ketegangan. Agra mengambil tablet kecil
dari tangan Bara. Dia melihat simbol khusus
yang bisa di pindai dari barang tersebut yang
hanya berupa kancing jas saja .
Wajah Agra terlihat dingin, rahangnya mengeras.
Dia mengepalkan tangannya kuat. Matanya
menatap tajam layar tablet tersebut.
"Odesi Hanzo..! seperti dugaanku..ayahku pasti
sudah tahu keberadaan Kiran selama ini..jauh
sebelum aku mengumumkan nya..!"
Desis Agra dengan suara yang sangat berat.
Wajahnya terlihat semakin dingin. Hal ini
memang sudah dia prediksi sebelumnya.
Ayahnya itu tidak akan pernah membiarkan
dirinya lepas begitu saja. Apalagi sekarang
apa yang menjadi pusat pertentangan mereka.
Saat ini dia sudah menemukan wanita yang menyebabkan dirinya keluar dari istana ayah
nya itu dan memutuskan menentang nya.
"Sepertinya ayah anda sedang memberikan
salam perkenalan pada Nona Muda Tuan..!"
Zack ikut berdesis sambil kemudian dia
kembali mencoba melacak dan memindai
data sebanyak mungkin.
"Dia sudah mengirimkan sinyal merah padaku.
Keselamatan Kiran sudah mulai terancam.
Zack kau harus meningkatkan sistem
penjagaan bawahan mu pada nya..!"
"Baik Tuan..saya akan segera meminta informasi
akurat pada Takeda tentang pergerakan anggota
Klan Odesi..! kita tidak boleh lengah..!"
Ucap Zack yang di angguki antusias oleh Agra.
Dia berdiri kemudian berjalan ke sisi ruangan
dimana di sana terdapat gambar besar kedua
orang tuanya. Ayahnya tampak begitu gagah
dengan pakaian kebesaran sebagai ketua klan samurai terkuat di negri sakura saat ini. Sedang
ibunya terlihat begitu cantik dan memukau
dengan busana tradisional negri sakura.
Ibunya..yang terpenjara dan tidak pernah di ijin
kan pulang ke tanah kelahiran nya setelah dia memutuskan menikahi seorang pria berkuasa
dari negri matahari terbit tersebut hingga dia
harus rela di depak dari keanggotaan keluarga
nya sendiri karena kekecewaan sang ayah
padanya. Padahal ibunya itu merupakan putri
tunggal keluarga Hadiningrat.
"Bara..kau siapkan tiket penerbangan ke sana
untuk 2 hari ke depan. Aku yakin besok pria tua
itu akan mengeluarkan dekrit nya..!"
Titah Agra pada Bara yang tampak sedikit ragu.
Apakah Tuannya akan membawa Nona Muda
untuk bertemu orang tuanya.?
"Tuan.. apakah anda..?"
"Iya..mau tidak mau aku harus mengenalkan
Kiran pada mereka, agar mereka tahu seperti
apa wanita yang aku kejar selama ini..!"
"Tapi Tuan..itu akan sangat beresiko.."
"Aku tahu..kau siapkan saja semuanya. !"
"Ba-baik.. Tuan.."
Sahut Bara pasrah. Agra kembali melangkah
kearah dua orang kepercayaan nya itu.
"Ini sudah sangat malam..kalian pulanglah.!"
Ucapnya sambil kemudian dia berjalan kaluar
dari ruang kerja. Sampai di luar Pak Hans masih
tampak terjaga, tengah berdiri di dekat pintu.
"Apa Eyang sudah tidur..?"
Agra bertanya seraya melangkah cepat di ikuti
oleh Pak Hans .
"Sudah Tuan Muda..Nona juga sudah melalui
ritualnya dengan sangat baik.."
Agra tersenyum puas, dia memang yakin istrinya
itu akan bisa melewati semua ujian dengan baik.
Pak Hans menautkan alis saat menyadari Tuan
Mudanya itu tidak berjalan kearah lift melainkan
melangkah kearah paviliun belakang.
Agra membuka pintu kamar Eyang putri yang
terkunci otomatis dari dalam. Namun karena
dia sendiri yang mendesain pintu itu maka hal
itu sangat lah mudah baginya untuk di retas.
Kemudian dengan santai masuk ke dalam kamar.
Dia kini membeku di tempat nya berdiri saat
melihat sang kekasih hati tengah tidur tenang
dengan posisi terlentang di atas tikar. Tubuh
nya tertutup kain tipis sebatas perut. Hatinya
terasa bagai teriris pisau tajam. Bagaimana
dirinya akan tega membiarkan belahan jiwa
nya itu tidur melantai seperti ini.
Agra melihat jam dinding di kamar sang nenek,
saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini
hari, berarti Kiran sudah lulus uji. Dia mendekat
kearah Eyang putri, kemudian membungkuk
dan mengecup keningnya.
"Maafkan aku Eyang..aku tidak bisa tidur tanpa
nya. Jadi aku terpaksa menculiknya..!"
.
Gumam Agra sambil kemudian berjongkok lalu
meraih tubuh istrinya itu ke dalam pangkuannya.
Setelah itu kembali berdiri tegak, melirik kearah
sang nenek, tidak lama kemudian melangkah.
"Apa kau benar-benar tidak bisa merelakan nya
walau hanya semalam saja..?"
Agra menghentikan langkahnya saat mendengar
suara sang nenek, tapi dia tidak menoleh nya.
"Maaf Eyang.. aku tidak bisa membiarkan dia
tidur dengan keadaan seperti itu..!"
"Alasan saja ! yasudah sana, bawa dia !"
Agra tersenyum tipis. Dia segera melangkah
pergi keluar dari kamar Eyang putri. Pak Hans
hanya bisa menggeleng kecil melihat Tuan
mudanya itu nekad membawa istrinya lari
dari ritual Anjang nya..
Agra kini keluar dari dalam lift khusus tepat
di depan kamar pribadinya. Karena merasakan
ada sesuatu yang berbeda Kiran terjaga dari
tidurnya, dia membuka mata tepat pada saat
Agra tiba di dalam kamar megahnya. Kiran
terperanjat saat menyadari kini dirinya sudah
ada dalam pangkuan dan dekapan hangat
sang suami.
"Sayang.. kenapa kau membawaku keluar
dari kamar Eyang.? aku harus lulus ujian ini.!"
Agra membaringkan tubuh Kiran di atas tempat
tidur mewahnya. Keduanya saling pandang lekat.
Tangan Agra merapihkan rambut yang menutupi
wajah cantik istrinya itu.
"Kau sudah lulus sayang..eyang putri sudah
mengijinkan aku membawamu..!"
"Ta-tapi bagaimana bisa..? ini masih malam."
Kiran melihat kearah jam dinding. Agra naik
keatas tempat tidur , mengurung tubuh Kiran
dengan meletakkan kedua tangannya di kedua
sisi tubuh istrinya itu .
"Kau hanya perlu melewati tengah malam saja
bersama Eyang sayang.. sekarang ini waktumu
adalah milikku.! aku juga membutuhkan mu.."
Bisik Agra parau di telinga Kiran membuat Kiran
berjingkat dengan wajah memerah. Bulu-bulu
halus di tubuhnya langsung meremang. Bibir
Agra kini sudah mulai menjelajahi tengkuk lalu
pindah ke leher jenjangnya .
"Emhh..Agra..aku lelah..aku ingin tidur.."
Desis Kiran dengan tubuh bergetar hebat saat
tangan Agra mulai bergerak membuka kancing
baju nya. Agra menatap teduh wajah cantik Kiran dengan sorot mata sudah di penuhi kabut gairah.
"Tapi aku tidak akan bisa tidur sayang sebelum
mendapatkan semua keinginanku..."
Wajah Kiran kini sudah memerah seluruhnya.
Dia menatap dalam wajah Agra. Hasrat nya
mulai naik di saat tangan lihai Agra mulai
masuk ke daerah sensitif di bagian bawah
tubuhnya, bermain di sana dengan sangat
intens membuat dia mendesah lembut.
"Akhhh..Agraa... hentikan..kamu sangat nakal.!"
Rengek Kiran dengan desahan panjang karena
tidak tahan dengan rasa nikmat yang kini sudah
menjalari seluruh tubuhnya. Dia segera menarik
tengkuk leher Agra kemudian menyergap bibir
seksinya yang sudah sangat menggodanya dari
tadi. ********** rakus kemudian menekan dan
semakin masuk hingga lidah mereka bertautan,
bertukar saliva dengan suara decakan erotis
yang semakin membangkitkan gairah bercinta.
Dalam waktu sekejap tubuh Kiran kini sudah
dalam keadaan polos membuat hasrat Agra
semakin membara. Dengan gerakan cepat
dia melucuti pakaian nya sendiri hingga kini
keduanya sudah sama-sama polos.
Agra mulai melancarkan aksi liarnya memuja
seluruh lekuk tubuh indah istrinya itu dengan
sentuhan lembut yang memabukkan. Kiran
hanya bisa memejamkan mata menikmati
semua sensasi kenikmatan yang di berikan
oleh suaminya itu. Desahan dan erangan
keluar dari mulutnya membuat Agra semakin
gila. Napas mereka kini semakin memburu
terdorong oleh hasrat yang ingin segera di
salurkan dan di keluarkan.
Jeritan tertahan keluar dari mulut Kiran saat
Agra mulai memasukinya dengan hentakkan
yang cukup keras membuat Kiran meneteskan
air mata karena masih saja terasa sakit. Rupa
nya hasrat Agra benar-benar tidak terbendung.
Dia tidak bisa lagi mengendalikan gerakan nya.
"Aakhh.. pelan-pelan sayang..ini masih terasa
sangat sakit.."
Rengek Kiran sambil memukul pelan bahu
Agra yang langsung menghentikan gerakan
nya, terdiam sejenak, dia menatap lembut
wajah merah istrinya itu yang berlinang
air mata.
"Maaf sayang...aku benar-benar tidak tahan.."
Lirihnya dengan sorot mata bersalah. Perlahan
dia mengusap air mata yang meleleh di pipi
istrinya itu, mengecup lembut. Kiran mengelus
mesra wajah sempurna suaminya itu yang
sudah di penuhi oleh keringat.
"Jangan terburu-buru sayang...aku adalah
milikmu.. kapanpun kau bisa menikmati
tubuhku ini..!"
Wajah Agra memerah dengan binar bahagia.
"Baiklah..aku akan melakukannya dengan
lembut sekarang.."
Bisiknya sambil kemudian ******* lembut
bibir ranum istrinya itu. Dia mulai bergerak
kembali, kali ini lebih lembut dan intens.
Dan pergulatan panas itu kini berlanjut dengan
lebih buas lagi karena gelora napsu keduanya
semakin lama semakin menanjak. Agra seakan menggila saat Kiran berinisiatif naik memimpin permainan hingga mampu memberikan sensasi kenikmatan yang lebih membuai. Keduanya
seolah tidak ada yang ingin mengalah, saling
memberi dan saling menerima.
Kamar mewah yang sengaja di bangun oleh Agra khusus untuk mereka itu kini menjadi saksi bisu pergumulan seru mereka yang seakan tiada akhir. Suasana kamar berubah sangat membara di warnai oleh desahan dan erangan penuh kenikmatan yang tercipta sampai menjelang subuh..
Akhirnya kegiatan panas yang menguras
seluruh tenaga itu berakhir sebelum adzan
subuh berkumandang. Dengan telaten Agra
membersihkan seluruh tubuh istrinya itu yang
sudah di eksplor nya habis-habisan. Dan..
setelah menjalankan sholat subuh berjamaah
keduanya baru bisa mengistirahatkan tubuh
lelahnya dengan saling memeluk erat. Tubuh
Kiran tenggelam dalam kurungan tubuh tegap
suaminya seolah sebagai simbol ingin selalu
memberikan perlindungan setiap saat..
**********
TBC.....