Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
49. Setengah Malam


 


**********


 


Tata membimbing Kiran menuju kamar pribadi


Eyang putri. Setelah melewati ruang keluarga


yang sangat luas berasitektur asli daerah yang


sangat kental dengan kesan budaya leluhur


akhir nya Kiran dan Tata tiba di depan pintu


kamar yang terbuat dari kayu jati dengan


ukiran yang sangat khas dan unik.


"Nyonya Besar..Nona Muda sudah tiba.."


Tata berbicara lewat mikrofon kecil yang ada


di sebelah pintu. Kiran terdiam sedikit tegang.


"Masuklah.."


"Baik Nyonya.."


Tata mengulurkan tangan kearah Kiran begitu


pintu terbuka dengan otomatis. Dengan ragu


Kiran mulai melangkah masuk ke dalam kamar


sang ratu tradisi. Dan dia hanya bisa bengong


di tempat menyaksikan pemandangan yang


tersaji di depan matanya. Ruangan kamar Eyang


putri tampak seolah kita sedang berada di luar


ruangan tepatnya di sebuah taman. Di kanan kiri


ruangan ada water wall yang sangat indah hingga


menambah kesan sejuk dan damai. Kamar ini


di buat dengan desain arsitektur kuno yang


sangat memukau. Ada ruang baca di sudut


kamar yang menghadap langsung ke taman


belakang dimana di sana terdapat kolam ikan


besar dengan air mancur di dalamnya.


"Kemarilah..pijat aku sekarang. Tubuhku sangat


lelah sekali saat ini..!"


Titah Eyang putri yang baru keluar dari ruang


baca di dampingi oleh dua pelayan pribadinya.


Kiran mengangguk seraya mengikuti sang Eyang menuju tempat tidur yakni ranjang besar yang di


tutupi oleh kelambu putih. Di setiap sudut ruang


kamar terdapat lilin aromatherapy yang sangat


wangi dan menenangkan.


Kiran membantu Eyang putri naik ke atas tempat


tidur dengan sangat lembut dan hati-hati. Wanita


tua itu membaringkan tubuhnya, Kiran mencoba


mengganjal punggungnya memakai bantal agar


nenek mertuanya itu merasa nyaman.


Tata mendekat kemudian menyimpan minyak


khusus yang biasa di gunakan oleh Eyang putri


jika ia di pijat.


"Apa Eyang mau di buatkan minuman hangat


terlebih dahulu..?"


Kiran yang mulai duduk di ujung kaki Eyang putri


menatap wanita sepuh itu dengan lembut.


"Itu akan memakan waktu..aku sudah mengantuk.


Kau mulai saja ritual ini..jangan mengecewakan.!"


Kiran mengangguk mulai menuang minyak urut


tadi ke telapak tangannya. Eyang putri tampak


merebahkan kepalanya seraya memejamkan


mata. Dengan hati-hati Kiran mulai memberikan


sentuhan pijatan lembut di kaki sang Eyang yang


kini sudah mengendur, dia harus sangat hati-hati


dalam memperlakukan tubuh renta ini.


Eyang putri menyunggingkan senyum tipis saat


Kiran dengan telaten mulai memijat kakinya


seraya menundukan kepala takzim.


"Apa kau masih ingin mengambil kalung jelek


itu kembali ? atau sudah tidak berminat lagi.?"


Suara Eyang putri membuat Kiran mengangkat


wajahnya, menatap wajah Eyang putri yang


nampak memejamkan matanya.


"Tentu mau Eyang..itu adalah barang yang


sangat penting bagi saya."


"Bukankah sekarang kalian sudah bertemu.?"


Kiran terkejut sesaat, ya.. tentu saja ! tidak ada


yang tidak di ketahui oleh nenek suaminya ini.


"Walaupun begitu..tapi kalung itu sangat penting


untuk saya Eyang..itu adalah kenangan kami."


Lirih Kiran. Eyang putri terdiam, tampaknya dia


sangat menikmati pijatan tangan Kiran yang


lembut namun dengan tekanan pas hingga


meresap ke dalam tulangnya membuat nenek


tua itu merasa rileks.


"Kau bisa mengambilnya setelah ujian berakhir.


Masih banyak yang harus kamu lewati.!"


Kiran melongo, lagi.? ujian apalagi nanti.?


Tuhan sesulit inikah masuk ke dalam keluarga


ini.! Apa dia akan sanggup melewatinya.


"Jadi masih ada hal lain yang harus saya


lewati Eyang..?"


" Tentu saja..! kau pikir mudah masuk ke dalam


keluarga ini.? kau harus memantaskan diri dulu.


Kau harus benar-benar layak menyandang gelar


sebagai bagian dari keluarga Hadiningrat..!"


Tegas Eyang putri yang membuat wajah Kiran


langsung saja pias. Dia menundukkan kepala.


"Baiklah Eyang..kalau begitu saya harus siap


menjalani semuanya..! saya akan berusaha


sebaik mungkin agar bisa menjadi pantas."


Lirih Kiran dengan suara penuh tekad dan


keyakinan. Eyang putri menatap wajah Kiran


yang kini menunduk dalam. Ada senyum yang


terkulum di bibir keriput itu tapi dia berusaha


untuk tetap memasang wajah datarnya.


"Kau bertekad untuk melalui semua ini.? apa


yang membawamu pada keyakinan itu.? apa


karena gelar yang nanti akan kau dapatkan?


Sebagai Nona Muda Hadiningrat..!"


Kiran langsung menghentikan pijatannya. Dia


mengangkat wajahnya, sorot matanya tampak


tidak suka mendengar ucapan Nyonya Ambar


barusan. Dia kembali menundukan kepala.


"Eyang..bagi saya setinggi apapun derajat


manusia di mata dunia, semuanya tidak ada


artinya di mata Tuhan, jadi itupun tidak ada


dalam prioritas hidup saya. Semuanya saya


lakukan hanya karena satu hal.."


Kiran menjeda ucapannya, wajahnya memerah


sendiri saat bayangan wajah tampan Agra kini


menggoda di pelupuk matanya. Eyang putri


menatap wajah kemerahan menantunya itu


dengan raut wajah penasaran .


"Apa itu.? apa karena suami urakanmu itu.?"


Wajah Kiran semakin memerah dengan raut


wajah di penuhi rasa malu.


"Perasaan kami tumbuh seiring perjalanan waktu


dan kesulitan hidup yang hampir membawa kami


pada akhir kisah. Banyak hal yang telah kami lalui bersama, jadi bagi saya Hoshi adalah nyawa


kedua saya eyang..jadi bagaimana saya akan


bisa menjalani hidup tanpa kehadirannya.."


Nyonya Ambar melongo, Tata dan dua pelayan


pribadi yang dari tadi ada di sana bengong. Itu


adalah sebuah ungkapan perasaan yang sangat


indah dan mendalam.


"Kemarilah.. hentikan semua nya..!"


Nyonya Ambar merentangkan tangannya. Kiran


terdiam sebentar, bingung dengan reaksi Eyang


putri yang terlihat emosional. Namun tidak lama


Kiran berhambur ke dalam pelukan hangat sang


nenek mertua. Keduanya saling berpelukan erat.


Eyang putri mencium puncak kepala cucu mantu


nya itu kemudian turun ke keningnya.


"Kalian memang sudah di takdirkan untuk hidup


bersama. Saling melengkapi satu sama lain.


Aura kalian sudah seimbang sekarang..tidak


ada pasangan yang lebih cocok dari kalian.!"


Bisik Nyonya Ambar sambil mengusap lembut


rambut indah Kiran yang terlena dalam rasa


damai dan tentram di pelukan sang nenek.


Setelah lama mereka saling melepaskan diri.


Kiran ngotot melanjutkan pijatannya di tangan


neneknya tersebut yang hanya bisa menurut.


"Pasang tempat tidurnya sekarang..!"


Titah Eyang putri pada Tata yang langsung saja


mengangguk kemudian memberi isyarat pada


dua pelayan pribadi untuk menyiapkan tempat


tidur Kiran.


Suasana di dalam kamar kini sudah berubah


temaram saat Kiran mengakhiri pijatan nya.


Nyonya Ambar tampak sudah tertidur lelap.


Sementara Tata dan para pelayan sejak tadi


sudah keluar dari kamar. Kiran beranjak dari


duduknya, menaikkan selimut ke tubuh sang


nenek sampai sebatas dada. Perlahan dia


mengecup kening nenek mertuanya itu.


Kemudian dia melirik kearah tikar tipis yang


kini sudah tergelar di bawah ranjang besar


tempat tidur Eyang putri. Hanya ada sebuah


bantal dan sehelai kain samping di sana.


Kiran tersenyum getir namun ada keyakinan


dalam dirinya untuk melalui ini semua. Kiran


mulai membaringkan tubuh lelahnya di atas


tikar tersebut. Matanya menatap langit-langit


kamar yang berhias lampu unik khas jaman


dulu. Pikirannya kini melayang pada sosok


kekasih hatinya yang hanya terpisah ruang


saja tapi rasa rindunya seakan menyesakan


dadanya membuat air matanya jatuh.


"Agra..aku merindukan mu.."


Lirihnya berat seraya mengusap pelan air mata


yang terus saja menetes. Kiran menarik napas


dalam-dalam mencoba untuk menenangkan


hatinya. Dia harus segera memejamkan mata


agar bisa melupakan rasa rindunya..


------- -------


Sementara itu saat ini Agra sedang berada di


ruang kerja nya bersama dengan Bara dan Zack.


Mereka bertiga tampak serius membahas satu


hal yang sangat penting.


"Jadi apa yang kalian temukan ? ini bukan


masalah sepele, keselamatan Kiran mulai


terancam sekarang..!"


Agra tampak tidak sabar melihat Bara dan Zack


masih saja memindai satu barang yang bisa


di jadikan petunjuk pada saat kejadian tadi pagi.


Bara dan Zack nampak sibuk menganalisa


sesuatu. Para penyerang kemarin tampaknya


adalah orang-orang ahli menghilangkan jejak.


"Tu..Tuan...coba anda lihat ini. !"


Bara tampak ragu, wajahnya mulai di liputi


oleh ketegangan. Agra mengambil tablet kecil


dari tangan Bara. Dia melihat simbol khusus


yang bisa di pindai dari barang tersebut yang


hanya berupa kancing jas saja .


Wajah Agra terlihat dingin, rahangnya mengeras.


Dia mengepalkan tangannya kuat. Matanya


menatap tajam layar tablet tersebut.


"Odesi Hanzo..! seperti dugaanku..ayahku pasti


sudah tahu keberadaan Kiran selama ini..jauh


sebelum aku mengumumkan nya..!"


Desis Agra dengan suara yang sangat berat.


Wajahnya terlihat semakin dingin. Hal ini


memang sudah dia prediksi sebelumnya.


Ayahnya itu tidak akan pernah membiarkan


dirinya lepas begitu saja. Apalagi sekarang


apa yang menjadi pusat pertentangan mereka.


Saat ini dia sudah menemukan wanita yang menyebabkan dirinya keluar dari istana ayah


nya itu dan memutuskan menentang nya.


"Sepertinya ayah anda sedang memberikan


salam perkenalan pada Nona Muda Tuan..!"


Zack ikut berdesis sambil kemudian dia


kembali mencoba melacak dan memindai


data sebanyak mungkin.


"Dia sudah mengirimkan sinyal merah padaku.


Keselamatan Kiran sudah mulai terancam.


Zack kau harus meningkatkan sistem


penjagaan bawahan mu pada nya..!"


"Baik Tuan..saya akan segera meminta informasi


akurat pada Takeda tentang pergerakan anggota


Klan Odesi..! kita tidak boleh lengah..!"


Ucap Zack yang di angguki antusias oleh Agra.


Dia berdiri kemudian berjalan ke sisi ruangan


dimana di sana terdapat gambar besar kedua


orang tuanya. Ayahnya tampak begitu gagah


dengan pakaian kebesaran sebagai ketua klan samurai terkuat di negri sakura saat ini. Sedang


ibunya terlihat begitu cantik dan memukau


dengan busana tradisional negri sakura.


Ibunya..yang terpenjara dan tidak pernah di ijin


kan pulang ke tanah kelahiran nya setelah dia memutuskan menikahi seorang pria berkuasa


dari negri matahari terbit tersebut hingga dia


harus rela di depak dari keanggotaan keluarga


nya sendiri karena kekecewaan sang ayah


padanya. Padahal ibunya itu merupakan putri


tunggal keluarga Hadiningrat.


"Bara..kau siapkan tiket penerbangan ke sana


untuk 2 hari ke depan. Aku yakin besok pria tua


itu akan mengeluarkan dekrit nya..!"


Titah Agra pada Bara yang tampak sedikit ragu.


Apakah Tuannya akan membawa Nona Muda


untuk bertemu orang tuanya.?


"Tuan.. apakah anda..?"


"Iya..mau tidak mau aku harus mengenalkan


Kiran pada mereka, agar mereka tahu seperti


apa wanita yang aku kejar selama ini..!"


"Tapi Tuan..itu akan sangat beresiko.."


"Aku tahu..kau siapkan saja semuanya. !"


"Ba-baik.. Tuan.."


Sahut Bara pasrah. Agra kembali melangkah


kearah dua orang kepercayaan nya itu.


"Ini sudah sangat malam..kalian pulanglah.!"


Ucapnya sambil kemudian dia berjalan kaluar


dari ruang kerja. Sampai di luar Pak Hans masih


tampak terjaga, tengah berdiri di dekat pintu.


"Apa Eyang sudah tidur..?"


Agra bertanya seraya melangkah cepat di ikuti


oleh Pak Hans .


"Sudah Tuan Muda..Nona juga sudah melalui


ritualnya dengan sangat baik.."


Agra tersenyum puas, dia memang yakin istrinya


itu akan bisa melewati semua ujian dengan baik.


Pak Hans menautkan alis saat menyadari Tuan


Mudanya itu tidak berjalan kearah lift melainkan


melangkah kearah paviliun belakang.


Agra membuka pintu kamar Eyang putri yang


terkunci otomatis dari dalam. Namun karena


dia sendiri yang mendesain pintu itu maka hal


itu sangat lah mudah baginya untuk di retas.


Kemudian dengan santai masuk ke dalam kamar.


Dia kini membeku di tempat nya berdiri saat


melihat sang kekasih hati tengah tidur tenang


dengan posisi terlentang di atas tikar. Tubuh


nya tertutup kain tipis sebatas perut. Hatinya


terasa bagai teriris pisau tajam. Bagaimana


dirinya akan tega membiarkan belahan jiwa


nya itu tidur melantai seperti ini.


Agra melihat jam dinding di kamar sang nenek,


saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini


hari, berarti Kiran sudah lulus uji. Dia mendekat


kearah Eyang putri, kemudian membungkuk


dan mengecup keningnya.


"Maafkan aku Eyang..aku tidak bisa tidur tanpa


nya. Jadi aku terpaksa menculiknya..!"


.


Gumam Agra sambil kemudian berjongkok lalu


meraih tubuh istrinya itu ke dalam pangkuannya.


Setelah itu kembali berdiri tegak, melirik kearah


sang nenek, tidak lama kemudian melangkah.


"Apa kau benar-benar tidak bisa merelakan nya


walau hanya semalam saja..?"


Agra menghentikan langkahnya saat mendengar


suara sang nenek, tapi dia tidak menoleh nya.


"Maaf Eyang.. aku tidak bisa membiarkan dia


tidur dengan keadaan seperti itu..!"


"Alasan saja ! yasudah sana, bawa dia !"


Agra tersenyum tipis. Dia segera melangkah


pergi keluar dari kamar Eyang putri. Pak Hans


hanya bisa menggeleng kecil melihat Tuan


mudanya itu nekad membawa istrinya lari


dari ritual Anjang nya..


Agra kini keluar dari dalam lift khusus tepat


di depan kamar pribadinya. Karena merasakan


ada sesuatu yang berbeda Kiran terjaga dari


tidurnya, dia membuka mata tepat pada saat


Agra tiba di dalam kamar megahnya. Kiran


terperanjat saat menyadari kini dirinya sudah


ada dalam pangkuan dan dekapan hangat


sang suami.


"Sayang.. kenapa kau membawaku keluar


dari kamar Eyang.? aku harus lulus ujian ini.!"


Agra membaringkan tubuh Kiran di atas tempat


tidur mewahnya. Keduanya saling pandang lekat.


Tangan Agra merapihkan rambut yang menutupi


wajah cantik istrinya itu.


"Kau sudah lulus sayang..eyang putri sudah


mengijinkan aku membawamu..!"


"Ta-tapi bagaimana bisa..? ini masih malam."


Kiran melihat kearah jam dinding. Agra naik


keatas tempat tidur , mengurung tubuh Kiran


dengan meletakkan kedua tangannya di kedua


sisi tubuh istrinya itu .


"Kau hanya perlu melewati tengah malam saja


bersama Eyang sayang.. sekarang ini waktumu


adalah milikku.! aku juga membutuhkan mu.."


Bisik Agra parau di telinga Kiran membuat Kiran


berjingkat dengan wajah memerah. Bulu-bulu


halus di tubuhnya langsung meremang. Bibir


Agra kini sudah mulai menjelajahi tengkuk lalu


pindah ke leher jenjangnya .


"Emhh..Agra..aku lelah..aku ingin tidur.."


Desis Kiran dengan tubuh bergetar hebat saat


tangan Agra mulai bergerak membuka kancing


baju nya. Agra menatap teduh wajah cantik Kiran dengan sorot mata sudah di penuhi kabut gairah.


"Tapi aku tidak akan bisa tidur sayang sebelum


mendapatkan semua keinginanku..."


Wajah Kiran kini sudah memerah seluruhnya.


Dia menatap dalam wajah Agra. Hasrat nya


mulai naik di saat tangan lihai Agra mulai


masuk ke daerah sensitif di bagian bawah


tubuhnya, bermain di sana dengan sangat


intens membuat dia mendesah lembut.


"Akhhh..Agraa... hentikan..kamu sangat nakal.!"


Rengek Kiran dengan desahan panjang karena


tidak tahan dengan rasa nikmat yang kini sudah


menjalari seluruh tubuhnya. Dia segera menarik


tengkuk leher Agra kemudian menyergap bibir


seksinya yang sudah sangat menggodanya dari


tadi. ********** rakus kemudian menekan dan


semakin masuk hingga lidah mereka bertautan,


bertukar saliva dengan suara decakan erotis


yang semakin membangkitkan gairah bercinta.


Dalam waktu sekejap tubuh Kiran kini sudah


dalam keadaan polos membuat hasrat Agra


semakin membara. Dengan gerakan cepat


dia melucuti pakaian nya sendiri hingga kini


keduanya sudah sama-sama polos.


Agra mulai melancarkan aksi liarnya memuja


seluruh lekuk tubuh indah istrinya itu dengan


sentuhan lembut yang memabukkan. Kiran


hanya bisa memejamkan mata menikmati


semua sensasi kenikmatan yang di berikan


oleh suaminya itu. Desahan dan erangan


keluar dari mulutnya membuat Agra semakin


gila. Napas mereka kini semakin memburu


terdorong oleh hasrat yang ingin segera di


salurkan dan di keluarkan.


Jeritan tertahan keluar dari mulut Kiran saat


Agra mulai memasukinya dengan hentakkan


yang cukup keras membuat Kiran meneteskan


air mata karena masih saja terasa sakit. Rupa


nya hasrat Agra benar-benar tidak terbendung.


Dia tidak bisa lagi mengendalikan gerakan nya.


"Aakhh.. pelan-pelan sayang..ini masih terasa


sangat sakit.."


Rengek Kiran sambil memukul pelan bahu


Agra yang langsung menghentikan gerakan


nya, terdiam sejenak, dia menatap lembut


wajah merah istrinya itu yang berlinang


air mata.


"Maaf sayang...aku benar-benar tidak tahan.."


Lirihnya dengan sorot mata bersalah. Perlahan


dia mengusap air mata yang meleleh di pipi


istrinya itu, mengecup lembut. Kiran mengelus


mesra wajah sempurna suaminya itu yang


sudah di penuhi oleh keringat.


"Jangan terburu-buru sayang...aku adalah


milikmu.. kapanpun kau bisa menikmati


tubuhku ini..!"


Wajah Agra memerah dengan binar bahagia.


"Baiklah..aku akan melakukannya dengan


lembut sekarang.."


Bisiknya sambil kemudian ******* lembut


bibir ranum istrinya itu. Dia mulai bergerak


kembali, kali ini lebih lembut dan intens.


Dan pergulatan panas itu kini berlanjut dengan


lebih buas lagi karena gelora napsu keduanya


semakin lama semakin menanjak. Agra seakan menggila saat Kiran berinisiatif naik memimpin permainan hingga mampu memberikan sensasi kenikmatan yang lebih membuai. Keduanya


seolah tidak ada yang ingin mengalah, saling


memberi dan saling menerima.


Kamar mewah yang sengaja di bangun oleh Agra khusus untuk mereka itu kini menjadi saksi bisu pergumulan seru mereka yang seakan tiada akhir. Suasana kamar berubah sangat membara di warnai oleh desahan dan erangan penuh kenikmatan yang tercipta sampai menjelang subuh..


Akhirnya kegiatan panas yang menguras


seluruh tenaga itu berakhir sebelum adzan


subuh berkumandang. Dengan telaten Agra


membersihkan seluruh tubuh istrinya itu yang


sudah di eksplor nya habis-habisan. Dan..


setelah menjalankan sholat subuh berjamaah


keduanya baru bisa mengistirahatkan tubuh


lelahnya dengan saling memeluk erat. Tubuh


Kiran tenggelam dalam kurungan tubuh tegap


suaminya seolah sebagai simbol ingin selalu


memberikan perlindungan setiap saat..


 


**********


 


TBC.....