Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
71. Kabar Gembira


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Semua orang kini berdiri tegang di luar ruang


pemeriksaan. Namun lain halnya dengan Eyang


Putri. Wajahnya tampak tenang dengan senyum


yang tiada lepas terulas di bibir keriput nya. Dia


duduk santai di sofa ruang kesehatan dengan menopang tongkat emas nya.


"Tata..kau harus menyiapkan ramuan khusus


untuk cucu menantu ku sekarang.!"


Tata tampak menautkan alisnya, menatap


bingung kearah Nyonya Besar nya. Nyonya


Yuri ikutan menatap penasaran.


"Ramuan apa yang harus segera saya siapkan


Nyonya Besar.?"


Tanya Tata meyakinkan diri. Eyang Putri


kembali tersenyum tenang.


"Harapan kita akan segera terkabul. Rumah


ini akan di anugerahi kebahagiaan melimpah."


Nyonya Yuri dan Tuan Hasimoto langsung


terkejut, mengalihkan perhatian pada Eyang


putri yang bangkit dari duduknya.


"Apakah maksud Mami..Kiran mengandung..?"


Nyonya Yuri bertanya dengan suara terbata.


Semua orang menatap penuh harap kearah


Eyang Putri yang kini melangkah tenang


membuka pintu ruangan pemeriksaan.


Mereka melihat saat ini Agra tengah berdiri


di hadapan Dokter Rey dan kawan-kawan nya.


"Tuan Muda.. kami ucapkan selamat pada


anda ! "


Dokter Rey dan dua dokter lain nya serta


barisan para perawat tampak membungkuk


di hadapan Agra yang mematung di tempat


sedang menatap lekat sosok Kiran yang


masih tergolek lemah di atas ranjang pasien.


"Bicara yang jelas Rey..!"


Geram Agra dengan tatapan setajam silet.


Wajahnya di liputi kebingungan.


"Nona Muda pingsan karena tekanan darah


nya menurun, beliau sedang mengandung


Tuan, Nona Muda positif hamil..!"


"Apa..?? Kiran ku... hamil...??"


Agra berseru keras membuat semua staf


medis itu terlonjak kaget dan memucat.


Mata Agra kini menatap tidak percaya.


"Be-benar Tuan.. Nona Muda positif hamil.


Saat ini sudah memasuki minggu ke 3..!"


"Ya Tuhan..Menantu ku hamil..?"


Pekik Nyonya Yuri sambil menerobos masuk


dan berlari kearah Kiran yang masih terbaring


di ranjang pemeriksaan, masih terlelap tenang


karena efek obat penenang. Yang lain pun ikut


menyusul langsung menghampiri Kiran.


Agra tampak membeku di tempat. Dia benar-


benar syok, kelewat bahagia. Matanya kini


bergulir menatap Kiran yang saat ini sedang


di kerubungi oleh ketiga mertuanya, mereka


terlihat memeluk dan menciumi keningnya


penuh kebahagiaan.


"Selamat Tuan Muda..!"


Bara dan Zack membungkuk di hadapan Agra


dengan wajah cerah ceria, tidak biasa nya.


"Selamat Tuan Muda..kami ikut berbahagia."


Kini giliran Pak Hans dan Tata yang berada


di hadapan nya mengucapkan selamat.


Mata Agra tampak sedikit basah. Perlahan


dia melangkah mendekat kearah ranjang


pasien dengan tatapan yang masih setengah


percaya. Tuan Hasimoto langsung merangkul


nya dan menepuk pundak nya kuat sebagai


ungkapan rasa haru dan bahagia.


"Selamat Nak..! kau sudah memberi kami


kabar gembira ini.!"


Ujar nya pelan. Agra terdiam tanpa komentar.


Giliran Nyonya Yuri yang kini memeluk nya


kuat sambil mengusap air matanya.


"Kau harus menjaga nya baik-baik sayang.."


Lirih Nyonya Yuri sambil kemudian mengelus


wajah Agra setelah itu dia keluar bersama


dengan Tuan Hasimoto. Mereka tahu, Agra


perlu ruang dan waktu berdua saja dengan


istrinya itu.


"Tanggungjawab mu bertambah sekarang.


Jadilah suami siaga untuk istrimu..!"


Eyang Putri menepuk bahu Agra yang tiba-


tiba saja merangkul erat tubuh renta itu.


"Eyang..ini semua berkat doa mu."


Bisik Agra sambil memejamkan mata. Eyang


Putri kembali menepuk bahu cucunya itu.


"Ini semua karena kau terlalu perkasa..!"


Kekeh Eyang Putri sambil kemudian berlalu


keluar ruangan masih dengan kekehan nya.


Wajah Agra memerah, ada seulas senyum


yang terukir dari bibir nya.


Dia mendekat kearah Kiran. Duduk di samping


nya. Tatapan nya tidak lepas dari wajah cantik


istrinya itu yang sedikit memucat. Agra meraih


jemari tangan Kiran lalu mengecup nya lembut.


Kemudian mencium kening nya lama. Dan akhir


nya dia menghujani ciuman mesra di seluruh


wajah putih mulus istrinya itu yang langsung


terbangun karena merasa terganggu.


"Emmhh...sayang.. apa yang terjadi padaku.?"


Agra menghentikan ciumannya, mendongakan


kepala. Mata mereka bertemu, terpaut dalam.


"Apa yang terjadi dengan ku..?"


Kembali Kiran bertanya karena Agra hanya


terdiam dengan tatapan yang begitu dalam.


Tiba-tiba Agra memeluk erat tubuh Kiran


yang melebarkan matanya saat pelukan


Agra semakin terasa kuat hingga napasnya


kini sedikit tersendat.


"Terimakasih sayang..kau sudah memberi


kebahagiaan yang tak terhingga ini..!"


Bisik Agra sambil membenamkan kepalanya


di ceruk leher Kiran yang menautkan alisnya.


"Aaa..aku tidak bisa bernapas sayang.."


Agra tersentak, dia melonggarkan pelukannya.


Namun malah berlanjut dengan menciumi


leher Kiran. Hasratnya benar-benar sadis.!


"Ada apa sebenarnya sayang..? katakan


padaku apa yang terjadi.?"


Agra menarik napas berat mencoba untuk


mengendalikan hasratnya yang benar-benar


tidak mengenal situasi ini. Dia melepaskan


pelukan nya, kemudian menatap lekat wajah


cantik Kiran sambil membelai mesra pipi


putih kemerahan nya.


"Saat ini kau harus menjaga dirimu baik-baik


sayang.. karena..di dalam rahim mu ada calon


anak kita sekarang.."


Ucap Agra lembut seraya beralih mengelus


perut datar Kiran yang terlihat membulatkan


matanya tidak percaya. Dia menutup mulut


nya seraya menggeleng kuat.


"A-aku.. hamil sayang..?"


Agra mengangguk meyakinkan. Mata Kiran


tampak berbinar indah, namun tidak lama


ada cairan bening yang mulai berjatuhan.


"Subhanallah.. apakah ini benar sayang.?"


Kiran kembali meyakinkan dengan suara


yang bergetar penuh keharuan. Tangannya


bergerak mengelus lembut perut datarnya


yang kini sudah berbalut gaun santai.


"Ini benar sayang..kau sedang mengandung


sekarang. Baru masuk minggu ke 3..!"


Agra meyakinkan sambil menempelkan


kepalanya di perut Kiran yang semakin


menjatuhkan air matanya.


"Alhamdulillah..terimakasih ya Allah..atas


AnugerahMu yang tidak terhingga ini..!"


Kiran melantunkan doa penuh rasa syukur


atas semua kabar bahagia ini. Agra menatap


lembut wajah Kiran yang kini memejamkan


mata masih melantunkan doa.


"Kita harus menjaga hadiah dari Tuhan ini


dengan baik sayang..ini adalah buah cinta


kita, buah ketulusan hati kita.."


Kiran membuka matanya, membalas tatapan


Agra yang terlihat begitu teduh.


"Kita akan sama-sama menjaga nya sayang.."


Lirih Kiran sambil memeluk erat tubuh Agra.


Menangis bahagia di dada bidang suaminya


itu. Keduanya saling memeluk erat meresapi


segala kebahagiaan yang kini benar-benar


memenuhi dan membuncah di dada mereka.


"Aku sangat bahagia sayang..Apakah Eyang


dan yang lainnya sudah tahu.?"


Kiran melepaskan pelukannya masih tersisa


isak tangis kebahagiaan nya. Agra mengusap


lembut air mata yang membasahi wajah


istrinya itu penuh kasih.


"Seisi istana sudah mengetahui nya sayang.


Kau hanya tinggal memberitahu keluarga mu."


Wajah Kiran langsung terlihat sumringah.


Dia seolah baru sadar dan teringat pada


keluarga nya.


"Baiklah..aku akan menelepon Ayah nanti.


Sekarang aku ingin menikmati rasa bahagia


ini dengan mu, hanya berdua saja dengan


mu sayang.."


Kiran beranjak dari tempat tidur nya, lalu


turun ke pangkuan Agra yang tertegun


sesaat, terkejut dengan sikap agresif Kiran.


"Apa kau bahagia dengan kehamilanku ini


sayang..?"


Kiran melingkarkan tangannya di leher


kokoh Agra dengan menempelkan hidung


bangir nya di hidung mancung Agra yang


sontak tersengat arus listrik tidak tahan


dengan sikap agresif Kiran. Wajah tampan


nya kini langsung memerah.


"Ini adalah hal yang sangat aku harapkan


sayang.. memperoleh keturunan berharga


dari wanita yang sangat aku cintai..!"


Bisik Agra dengan suara yang mulai berat.


Kiran menarik wajah nya, keduanya saling


menatap kuat, mencoba untuk memahami


isi hati masing-masing yang saat ini sama-


sama di penuhi oleh kebahagiaan.


"Aku juga mencintaimu sayang..kau adalah


segalanya bagiku..Tuan Agra Bintang..!"


Bisik Kiran sambil menyambar bibir Agra


yang langsung menyambut nya dengan


rakus dan panas. Keduanya kini terhanyut


dalam kehangatan ciuman yang penuh


dengan kebahagiaan dan kedamaian.


****** ******


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Kiran kini di bimbing untuk masuk ke dalam


ruangan khusus di salah satu sudut rumah


paviliun belakang. Nyonya Yuri sendiri yang


langsung menjemput Kiran dari ruangan


kesehatan dan membimbing nya ke tempat


para pelayan yang kini sudah berganti


kostum dengan pakaian serba putih.


Bahkan Agra sendiri di larang mengikuti Kiran


ke tempat ini. Dia hanya bisa menatap hampa


saat Kiran di bawa paksa oleh ibunya dari sisi


nya. Mata mereka masih terus saling menatap


sampai sosok Kiran menghilang di balik pintu.


"Sebenarnya kita mau kemana Bu.?"


Kiran mencoba bertanya karena penasaran


dan sedikit merasa ngeri saat mengingat


Eyang Putri selalu melakukan sesuatu yang


cukup aneh dan ekstrim.


"Ini semua untuk kebaikan mu dan juga janin


yang kamu kandung sayang.."


"Ritual lagi ibu..? apakah itu harus ?"


Kiran tampak tegang dan menciut nyalinya.


Nyonya Yuri tersenyum lembut menatap


wajah ketakutan menantu nya itu.


"Tidak ada yang perlu di takutkan sayang..


Ibu akan selalu mendampingi mu sekarang."


Kiran menatap ibu mertuanya lalu mengangguk


dengan memaksakan diri tersenyum. Mereka


semua masuk kedalam ruangan yang di penuhi


oleh lilin-lilin aromatherapy. Di sana sudah ada


Eyang Putri dan para pelayan pribadi nya.


"Ganti pakaian nya..!"


Titah Eyang Putri kepada para pelayan pribadi


nya yang langsung membungkuk kemudian


maju ke hadapan Kiran yang sontak mundur


dengan wajah mulai diliputi ketegangan.


"Eyang..apalagi ini.? apa ini harus di lakukan.?"


Kiran mendekat kearah Eyang Putri menatap


nya memohon untuk mengurungkan niatnya


menjalankan semua ritual ini. Eyang Putri


balas menatap cucu menantunya itu dengan


wajah dan ekspresi yang sangat datar.


"Memang nya kau pikir apa yang akan aku


lakukan padamu.! pikiran mu harus bersih.!"


Ujar Eyang Putri sambil kemudian berdiri


dan memberi isyarat pada para pelayan.


"Eyang.. Kiran mohon.."


"Lakukan perintah ku.! tidak ada bantahan.!"


Eyang Putri acuh saja, melirik pada kedua


pelayan pribadi yang kembali maju.


"Mohon maaf Nona Muda.. mari ikut kami


untuk mengganti pakaian anda.."


Ucap salah seorang nya. Kiran melirik kearah


Nyonya Yuri yang juga mengangguk mencoba


meyakinkan. Akhirnya mau tidak mau Kiran


nurut juga masuk kedalam ruang kecil yang


ada di sudut ruangan.


Tidak lama dia sudah keluar, tubuhnya kini


hanya tertutup kain kemben tipis yang hanya


menutupi bagian sensitif nya saja hingga lekuk tubuhnya yang indah kini tercetak jelas. Untung


saja yang ada di ruangan itu wanita semuanya


terlebih mereka adalah keluarga nya sendiri.


Sebab sesungguhnya keindahan tubuh Kiran


ini mampu menarik syahwat bukan hanya laki-


laki saja, bahkan wanita pun kalau tidak kuat


iman bisa saja tertarik saat melihat nya.


"Ayo baringkan tubuh mu di sini..!"


Titah Eyang putri sambil berdiri di dekat


sebuah tempat tidur berukuran one person


di tengah ruangan yang di kelilingi oleh


Para pelayan yang memegang mangkuk


kecil di tangan nya. Kiran menautkan alis


masih bertahan di tempat nya.


"Tubuh mu ini perlu mendapatkan perawatan


khusus sayang.. karena selama 9 bulan ini kau


akan membawa nyawa lain di dalamnya.Jadi


harus kuat dan siap untuk menjalani nya. "


Nyonya Yuri membimbing Kiran menuju tempat


tidur tersebut. Dengan ragu Kiran menuruti


semua perintah Eyang Putri, membaringkan


tubuh nya di atas tempat tidur kecil itu, mirip


sekali dengan ranjang perawatan yang biasa


di temui di salon-salon kecantikan.


Eyang Putri duduk di samping tubuh Kiran


yang menatapnya tegang.


"Rileks.. pejamkan saja matamu agar kamu


bisa menikmati nya..!"


Titah Eyang Putri, Kiran menggeleng lemah.


"Eyang..sebenarnya Kiran mau di apakan.?"


"Jangan banyak bertanya, nikmati saja semua


proses nya !"


Kiran mengatupkan bibirnya. Tidak ada lagi


yang bisa di lakukannya sekarang ini selain memejamkan mata dan mencoba untuk tidak


peduli pada apa yang akan di lakukan oleh


Eyang Putri.


Tangan Eyang Putri mulai bergerak mengoles


minyak aroma khusus yang sangat harum ke


seluruh bagian tubuh Kiran terutama di bagian


perut datarnya. Setelah minyak kini beralih


ke ramuan rempah khusus yang wanginya


menyatu dengan minyak oles tadi. Perlahan


jiwa Kiran serasa tenang.. damai..dan rileks.


Untuk beberapa saat Eyang Putri tampak


terdiam dalam lantunan doa yang terpanjat


khusyuk di amini oleh Nyonya Yuri, Tata dan


para pelayan ada di ruangan itu.


Setelah selesai berdoa Eyang Putri mulai


melakukan pemijatan di tubuh Kiran yang


kini sudah mulai merasakan kenyamanan.


Matanya terpejam setengah sadar hingga


dia tidak mengetahui apa yang di lakukan


wanita sepuh itu. Setelah cukup lama akhir


nya Eyang putri beranjak dari duduknya.


"Lanjutkan..aku akan pergi ke kamar.. malam


ini dia harus tidur di kamar belakang.!"


Titah Eyang Putri sambil kemudian melangkah,


Nyonya Yuri mengangguk. Eyang Putri berlalu


keluar ruangan bersama dengan para pelayan


pribadinya. Dua orang pelayan pilihan lain


melanjutkan pijatan lengkap hingga membuat


Kiran benar-benar larut dalam kenyamanan.


Tidak lama Nyonya Yuri dan para pelayan lain


beranjak ke dalam kamar mandi untuk segera


melakukan persiapan selanjutnya.


Satu jam kemudian Kiran di bangunkan dari


tidur nyaman nya kemudian di bimbing masuk


ke dalam kamar mandi.


"Ayo..ibu akan membersihkan tubuh mu..!"


Kiran menatap Nyonya Yuri sedikit ragu. Dia


duduk di atas batu bulat. Di sana sudah ada


bak berisi air hangat bertaburkan bunga dan


minyak aromatherapy khusus.


"Ibu..apalagi ini.? saya rasa ini agak sedikit


berlebihan. Kenapa harus selalu berhubungan


dengan air bunga.?"


Lirih Kiran menatap air yang sudah di ambil


menggunakan gayung batok kelapa unik di


tangan ibu mertuanya.


"Apa kau tidak menyukainya ..?"


Nyonya Yuri menatap Kiran sambil mengulum


senyum lembut. Kiran menggeleng lemah.


"Saya hanya merasa sedikit aneh saja Bu.."


"Kau harus mulai membiasakan diri. Eyang


Putri adalah orang tua yang memegang teguh


adat dan tradisi. Selama itu tidak keluar dari


koridor hukum dan ajaran agama, tidak ada


salahnya untuk kita lakukan.."


"Baiklah Bu.. saya akan ikuti semua nya.."


"Ini semua untuk kebaikanmu sayang.."


Nyonya Yuri mulai berdoa sebelum akhirnya


dia mulai menyiramkan air tersebut ke tubuh


Kiran di mulai dari usapan lembut di ubun-ubun


nya kemudian menyiram ke seluruh tubuh nya.


Kiran benar-benar merasa rileks sekarang.


Tubuh nya kini terasa seringan kapas.


"Ayo.. malam ini kau akan tidur bersama


dengan Eyang dan ibu..!"


Ujar Nyonya Yuri setelah Kiran keluar dari


kamar mandi dan berpakaian kembali dengan


gaun malam warna putih yang terlihat anggun.


Kiran melongo, tidur bersama dengan mereka?


"Benarkah Bu.? kita akan tidur bersama.?"


"Iya..tentu saja..! malam ini Eyang Putri akan


memberimu nasihat dan wejangan penting


untuk bekal hidupmu ke depan.."


Kiran mengangguk antusias kemudian mereka


keluar dari kamar tersebut. Dan akhirnya kini


Kiran sudah berada di dalam kamar yang


berbeda di paviliun belakang.


"Kau adalah calon ibu baru.. mulai sekarang


harus belajar melakukan segala sesuatu


dengan niat yang baik, cara-cara yang baik


dan hati yang selalu bersih..!"


Tutur Eyang Putri seraya mengusap lembut


kepala belakang Kiran yang duduk bersimpuh


di hadapan nya sedang Eyang Putri membuka


sebuah buku tua di tangannya.


Kiran mendengarkan dengan seksama dan


takzim setiap kata yang keluar dari wanita


tua yang sarat dengan pengalaman itu.


"Usahakan setiap hari membaca Alquran


agar janin mu tumbuh dengan sempurna..!"


Eyang Putri mengakhiri wejangan nya.


"Baik Eyang.. Insya Allah akan saya lakukan.


Terimakasih banyak atas semua nasihat dan


wejangan Eyang. Ini adalah sesuatu yang


sangat penting dan berharga untuk bekal


hidup saya ke depannya."


"Hemm..ini sudah menjadi kewajibanku.


Kau adalah cucu menantu ku.. Wanita yang


akan memberikan keturunan berharga untuk


keluarga Hadiningrat..!"


Keduanya saling berangkulan. Nyonya Yuri


menatap keduanya dengan mata berair.


Akhirnya mereka bertiga kini tidur di satu


tempat tidur super besar. Kiran berada di


tengah, di apit oleh kedua orang tuanya itu.


Malam semakin larut....


Sekitar jam 2 dini hari ada satu sosok tinggi


tegap yang masuk ke dalam kamar tersebut.


Sepertinya Agra memang tidak rela jauh-jauh


dari istrinya itu. Dia tidak bisa memejamkan


mata karena separuh jiwa nya jauh dari mata


dan jangkauan nya. Apalagi saat ini kekasih


hatinya itu sudah mengandung benih cinta


buah kasih sayang nya..


Dengan hati-hati Agra meraih tubuh Kiran dari


kungkungan Ibu dan Eyang Putri nya. Sesaat


dia menatapi kedua orang yang sangat penting


dalam hidupnya itu dengan tersenyum tipis.


"Maaf Eyang..ibu.. tapi aku tidak bisa jauh


darinya..Aku adalah pelindung nya..!"


Lirih Agra sambil mendekap erat tubuh Kiran


seraya mencium lembut keningnya kemudian


berjalan keluar dari kamar khusus tersebut..


\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....