
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Semua orang kini berdiri tegang di luar ruang
pemeriksaan. Namun lain halnya dengan Eyang
Putri. Wajahnya tampak tenang dengan senyum
yang tiada lepas terulas di bibir keriput nya. Dia
duduk santai di sofa ruang kesehatan dengan menopang tongkat emas nya.
"Tata..kau harus menyiapkan ramuan khusus
untuk cucu menantu ku sekarang.!"
Tata tampak menautkan alisnya, menatap
bingung kearah Nyonya Besar nya. Nyonya
Yuri ikutan menatap penasaran.
"Ramuan apa yang harus segera saya siapkan
Nyonya Besar.?"
Tanya Tata meyakinkan diri. Eyang Putri
kembali tersenyum tenang.
"Harapan kita akan segera terkabul. Rumah
ini akan di anugerahi kebahagiaan melimpah."
Nyonya Yuri dan Tuan Hasimoto langsung
terkejut, mengalihkan perhatian pada Eyang
putri yang bangkit dari duduknya.
"Apakah maksud Mami..Kiran mengandung..?"
Nyonya Yuri bertanya dengan suara terbata.
Semua orang menatap penuh harap kearah
Eyang Putri yang kini melangkah tenang
membuka pintu ruangan pemeriksaan.
Mereka melihat saat ini Agra tengah berdiri
di hadapan Dokter Rey dan kawan-kawan nya.
"Tuan Muda.. kami ucapkan selamat pada
anda ! "
Dokter Rey dan dua dokter lain nya serta
barisan para perawat tampak membungkuk
di hadapan Agra yang mematung di tempat
sedang menatap lekat sosok Kiran yang
masih tergolek lemah di atas ranjang pasien.
"Bicara yang jelas Rey..!"
Geram Agra dengan tatapan setajam silet.
Wajahnya di liputi kebingungan.
"Nona Muda pingsan karena tekanan darah
nya menurun, beliau sedang mengandung
Tuan, Nona Muda positif hamil..!"
"Apa..?? Kiran ku... hamil...??"
Agra berseru keras membuat semua staf
medis itu terlonjak kaget dan memucat.
Mata Agra kini menatap tidak percaya.
"Be-benar Tuan.. Nona Muda positif hamil.
Saat ini sudah memasuki minggu ke 3..!"
"Ya Tuhan..Menantu ku hamil..?"
Pekik Nyonya Yuri sambil menerobos masuk
dan berlari kearah Kiran yang masih terbaring
di ranjang pemeriksaan, masih terlelap tenang
karena efek obat penenang. Yang lain pun ikut
menyusul langsung menghampiri Kiran.
Agra tampak membeku di tempat. Dia benar-
benar syok, kelewat bahagia. Matanya kini
bergulir menatap Kiran yang saat ini sedang
di kerubungi oleh ketiga mertuanya, mereka
terlihat memeluk dan menciumi keningnya
penuh kebahagiaan.
"Selamat Tuan Muda..!"
Bara dan Zack membungkuk di hadapan Agra
dengan wajah cerah ceria, tidak biasa nya.
"Selamat Tuan Muda..kami ikut berbahagia."
Kini giliran Pak Hans dan Tata yang berada
di hadapan nya mengucapkan selamat.
Mata Agra tampak sedikit basah. Perlahan
dia melangkah mendekat kearah ranjang
pasien dengan tatapan yang masih setengah
percaya. Tuan Hasimoto langsung merangkul
nya dan menepuk pundak nya kuat sebagai
ungkapan rasa haru dan bahagia.
"Selamat Nak..! kau sudah memberi kami
kabar gembira ini.!"
Ujar nya pelan. Agra terdiam tanpa komentar.
Giliran Nyonya Yuri yang kini memeluk nya
kuat sambil mengusap air matanya.
"Kau harus menjaga nya baik-baik sayang.."
Lirih Nyonya Yuri sambil kemudian mengelus
wajah Agra setelah itu dia keluar bersama
dengan Tuan Hasimoto. Mereka tahu, Agra
perlu ruang dan waktu berdua saja dengan
istrinya itu.
"Tanggungjawab mu bertambah sekarang.
Jadilah suami siaga untuk istrimu..!"
Eyang Putri menepuk bahu Agra yang tiba-
tiba saja merangkul erat tubuh renta itu.
"Eyang..ini semua berkat doa mu."
Bisik Agra sambil memejamkan mata. Eyang
Putri kembali menepuk bahu cucunya itu.
"Ini semua karena kau terlalu perkasa..!"
Kekeh Eyang Putri sambil kemudian berlalu
keluar ruangan masih dengan kekehan nya.
Wajah Agra memerah, ada seulas senyum
yang terukir dari bibir nya.
Dia mendekat kearah Kiran. Duduk di samping
nya. Tatapan nya tidak lepas dari wajah cantik
istrinya itu yang sedikit memucat. Agra meraih
jemari tangan Kiran lalu mengecup nya lembut.
Kemudian mencium kening nya lama. Dan akhir
nya dia menghujani ciuman mesra di seluruh
wajah putih mulus istrinya itu yang langsung
terbangun karena merasa terganggu.
"Emmhh...sayang.. apa yang terjadi padaku.?"
Agra menghentikan ciumannya, mendongakan
kepala. Mata mereka bertemu, terpaut dalam.
"Apa yang terjadi dengan ku..?"
Kembali Kiran bertanya karena Agra hanya
terdiam dengan tatapan yang begitu dalam.
Tiba-tiba Agra memeluk erat tubuh Kiran
yang melebarkan matanya saat pelukan
Agra semakin terasa kuat hingga napasnya
kini sedikit tersendat.
"Terimakasih sayang..kau sudah memberi
kebahagiaan yang tak terhingga ini..!"
Bisik Agra sambil membenamkan kepalanya
di ceruk leher Kiran yang menautkan alisnya.
"Aaa..aku tidak bisa bernapas sayang.."
Agra tersentak, dia melonggarkan pelukannya.
Namun malah berlanjut dengan menciumi
leher Kiran. Hasratnya benar-benar sadis.!
"Ada apa sebenarnya sayang..? katakan
padaku apa yang terjadi.?"
Agra menarik napas berat mencoba untuk
mengendalikan hasratnya yang benar-benar
tidak mengenal situasi ini. Dia melepaskan
pelukan nya, kemudian menatap lekat wajah
cantik Kiran sambil membelai mesra pipi
putih kemerahan nya.
"Saat ini kau harus menjaga dirimu baik-baik
sayang.. karena..di dalam rahim mu ada calon
anak kita sekarang.."
Ucap Agra lembut seraya beralih mengelus
perut datar Kiran yang terlihat membulatkan
matanya tidak percaya. Dia menutup mulut
nya seraya menggeleng kuat.
"A-aku.. hamil sayang..?"
Agra mengangguk meyakinkan. Mata Kiran
tampak berbinar indah, namun tidak lama
ada cairan bening yang mulai berjatuhan.
"Subhanallah.. apakah ini benar sayang.?"
Kiran kembali meyakinkan dengan suara
yang bergetar penuh keharuan. Tangannya
bergerak mengelus lembut perut datarnya
yang kini sudah berbalut gaun santai.
"Ini benar sayang..kau sedang mengandung
sekarang. Baru masuk minggu ke 3..!"
Agra meyakinkan sambil menempelkan
kepalanya di perut Kiran yang semakin
menjatuhkan air matanya.
"Alhamdulillah..terimakasih ya Allah..atas
AnugerahMu yang tidak terhingga ini..!"
Kiran melantunkan doa penuh rasa syukur
atas semua kabar bahagia ini. Agra menatap
lembut wajah Kiran yang kini memejamkan
mata masih melantunkan doa.
"Kita harus menjaga hadiah dari Tuhan ini
dengan baik sayang..ini adalah buah cinta
kita, buah ketulusan hati kita.."
Kiran membuka matanya, membalas tatapan
Agra yang terlihat begitu teduh.
"Kita akan sama-sama menjaga nya sayang.."
Lirih Kiran sambil memeluk erat tubuh Agra.
Menangis bahagia di dada bidang suaminya
itu. Keduanya saling memeluk erat meresapi
segala kebahagiaan yang kini benar-benar
memenuhi dan membuncah di dada mereka.
"Aku sangat bahagia sayang..Apakah Eyang
dan yang lainnya sudah tahu.?"
Kiran melepaskan pelukannya masih tersisa
isak tangis kebahagiaan nya. Agra mengusap
lembut air mata yang membasahi wajah
istrinya itu penuh kasih.
"Seisi istana sudah mengetahui nya sayang.
Kau hanya tinggal memberitahu keluarga mu."
Wajah Kiran langsung terlihat sumringah.
Dia seolah baru sadar dan teringat pada
keluarga nya.
"Baiklah..aku akan menelepon Ayah nanti.
Sekarang aku ingin menikmati rasa bahagia
ini dengan mu, hanya berdua saja dengan
mu sayang.."
Kiran beranjak dari tempat tidur nya, lalu
turun ke pangkuan Agra yang tertegun
sesaat, terkejut dengan sikap agresif Kiran.
"Apa kau bahagia dengan kehamilanku ini
sayang..?"
Kiran melingkarkan tangannya di leher
kokoh Agra dengan menempelkan hidung
bangir nya di hidung mancung Agra yang
sontak tersengat arus listrik tidak tahan
dengan sikap agresif Kiran. Wajah tampan
nya kini langsung memerah.
"Ini adalah hal yang sangat aku harapkan
sayang.. memperoleh keturunan berharga
dari wanita yang sangat aku cintai..!"
Bisik Agra dengan suara yang mulai berat.
Kiran menarik wajah nya, keduanya saling
menatap kuat, mencoba untuk memahami
isi hati masing-masing yang saat ini sama-
sama di penuhi oleh kebahagiaan.
"Aku juga mencintaimu sayang..kau adalah
segalanya bagiku..Tuan Agra Bintang..!"
Bisik Kiran sambil menyambar bibir Agra
yang langsung menyambut nya dengan
rakus dan panas. Keduanya kini terhanyut
dalam kehangatan ciuman yang penuh
dengan kebahagiaan dan kedamaian.
****** ******
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Kiran kini di bimbing untuk masuk ke dalam
ruangan khusus di salah satu sudut rumah
paviliun belakang. Nyonya Yuri sendiri yang
langsung menjemput Kiran dari ruangan
kesehatan dan membimbing nya ke tempat
para pelayan yang kini sudah berganti
kostum dengan pakaian serba putih.
Bahkan Agra sendiri di larang mengikuti Kiran
ke tempat ini. Dia hanya bisa menatap hampa
saat Kiran di bawa paksa oleh ibunya dari sisi
nya. Mata mereka masih terus saling menatap
sampai sosok Kiran menghilang di balik pintu.
"Sebenarnya kita mau kemana Bu.?"
Kiran mencoba bertanya karena penasaran
dan sedikit merasa ngeri saat mengingat
Eyang Putri selalu melakukan sesuatu yang
cukup aneh dan ekstrim.
"Ini semua untuk kebaikan mu dan juga janin
yang kamu kandung sayang.."
"Ritual lagi ibu..? apakah itu harus ?"
Kiran tampak tegang dan menciut nyalinya.
Nyonya Yuri tersenyum lembut menatap
wajah ketakutan menantu nya itu.
"Tidak ada yang perlu di takutkan sayang..
Ibu akan selalu mendampingi mu sekarang."
Kiran menatap ibu mertuanya lalu mengangguk
dengan memaksakan diri tersenyum. Mereka
semua masuk kedalam ruangan yang di penuhi
oleh lilin-lilin aromatherapy. Di sana sudah ada
Eyang Putri dan para pelayan pribadi nya.
"Ganti pakaian nya..!"
Titah Eyang Putri kepada para pelayan pribadi
nya yang langsung membungkuk kemudian
maju ke hadapan Kiran yang sontak mundur
dengan wajah mulai diliputi ketegangan.
"Eyang..apalagi ini.? apa ini harus di lakukan.?"
Kiran mendekat kearah Eyang Putri menatap
nya memohon untuk mengurungkan niatnya
menjalankan semua ritual ini. Eyang Putri
balas menatap cucu menantunya itu dengan
wajah dan ekspresi yang sangat datar.
"Memang nya kau pikir apa yang akan aku
lakukan padamu.! pikiran mu harus bersih.!"
Ujar Eyang Putri sambil kemudian berdiri
dan memberi isyarat pada para pelayan.
"Eyang.. Kiran mohon.."
"Lakukan perintah ku.! tidak ada bantahan.!"
Eyang Putri acuh saja, melirik pada kedua
pelayan pribadi yang kembali maju.
"Mohon maaf Nona Muda.. mari ikut kami
untuk mengganti pakaian anda.."
Ucap salah seorang nya. Kiran melirik kearah
Nyonya Yuri yang juga mengangguk mencoba
meyakinkan. Akhirnya mau tidak mau Kiran
nurut juga masuk kedalam ruang kecil yang
ada di sudut ruangan.
Tidak lama dia sudah keluar, tubuhnya kini
hanya tertutup kain kemben tipis yang hanya
menutupi bagian sensitif nya saja hingga lekuk tubuhnya yang indah kini tercetak jelas. Untung
saja yang ada di ruangan itu wanita semuanya
terlebih mereka adalah keluarga nya sendiri.
Sebab sesungguhnya keindahan tubuh Kiran
ini mampu menarik syahwat bukan hanya laki-
laki saja, bahkan wanita pun kalau tidak kuat
iman bisa saja tertarik saat melihat nya.
"Ayo baringkan tubuh mu di sini..!"
Titah Eyang putri sambil berdiri di dekat
sebuah tempat tidur berukuran one person
di tengah ruangan yang di kelilingi oleh
Para pelayan yang memegang mangkuk
kecil di tangan nya. Kiran menautkan alis
masih bertahan di tempat nya.
"Tubuh mu ini perlu mendapatkan perawatan
khusus sayang.. karena selama 9 bulan ini kau
akan membawa nyawa lain di dalamnya.Jadi
harus kuat dan siap untuk menjalani nya. "
Nyonya Yuri membimbing Kiran menuju tempat
tidur tersebut. Dengan ragu Kiran menuruti
semua perintah Eyang Putri, membaringkan
tubuh nya di atas tempat tidur kecil itu, mirip
sekali dengan ranjang perawatan yang biasa
di temui di salon-salon kecantikan.
Eyang Putri duduk di samping tubuh Kiran
yang menatapnya tegang.
"Rileks.. pejamkan saja matamu agar kamu
bisa menikmati nya..!"
Titah Eyang Putri, Kiran menggeleng lemah.
"Eyang..sebenarnya Kiran mau di apakan.?"
"Jangan banyak bertanya, nikmati saja semua
proses nya !"
Kiran mengatupkan bibirnya. Tidak ada lagi
yang bisa di lakukannya sekarang ini selain memejamkan mata dan mencoba untuk tidak
peduli pada apa yang akan di lakukan oleh
Eyang Putri.
Tangan Eyang Putri mulai bergerak mengoles
minyak aroma khusus yang sangat harum ke
seluruh bagian tubuh Kiran terutama di bagian
perut datarnya. Setelah minyak kini beralih
ke ramuan rempah khusus yang wanginya
menyatu dengan minyak oles tadi. Perlahan
jiwa Kiran serasa tenang.. damai..dan rileks.
Untuk beberapa saat Eyang Putri tampak
terdiam dalam lantunan doa yang terpanjat
khusyuk di amini oleh Nyonya Yuri, Tata dan
para pelayan ada di ruangan itu.
Setelah selesai berdoa Eyang Putri mulai
melakukan pemijatan di tubuh Kiran yang
kini sudah mulai merasakan kenyamanan.
Matanya terpejam setengah sadar hingga
dia tidak mengetahui apa yang di lakukan
wanita sepuh itu. Setelah cukup lama akhir
nya Eyang putri beranjak dari duduknya.
"Lanjutkan..aku akan pergi ke kamar.. malam
ini dia harus tidur di kamar belakang.!"
Titah Eyang Putri sambil kemudian melangkah,
Nyonya Yuri mengangguk. Eyang Putri berlalu
keluar ruangan bersama dengan para pelayan
pribadinya. Dua orang pelayan pilihan lain
melanjutkan pijatan lengkap hingga membuat
Kiran benar-benar larut dalam kenyamanan.
Tidak lama Nyonya Yuri dan para pelayan lain
beranjak ke dalam kamar mandi untuk segera
melakukan persiapan selanjutnya.
Satu jam kemudian Kiran di bangunkan dari
tidur nyaman nya kemudian di bimbing masuk
ke dalam kamar mandi.
"Ayo..ibu akan membersihkan tubuh mu..!"
Kiran menatap Nyonya Yuri sedikit ragu. Dia
duduk di atas batu bulat. Di sana sudah ada
bak berisi air hangat bertaburkan bunga dan
minyak aromatherapy khusus.
"Ibu..apalagi ini.? saya rasa ini agak sedikit
berlebihan. Kenapa harus selalu berhubungan
dengan air bunga.?"
Lirih Kiran menatap air yang sudah di ambil
menggunakan gayung batok kelapa unik di
tangan ibu mertuanya.
"Apa kau tidak menyukainya ..?"
Nyonya Yuri menatap Kiran sambil mengulum
senyum lembut. Kiran menggeleng lemah.
"Saya hanya merasa sedikit aneh saja Bu.."
"Kau harus mulai membiasakan diri. Eyang
Putri adalah orang tua yang memegang teguh
adat dan tradisi. Selama itu tidak keluar dari
koridor hukum dan ajaran agama, tidak ada
salahnya untuk kita lakukan.."
"Baiklah Bu.. saya akan ikuti semua nya.."
"Ini semua untuk kebaikanmu sayang.."
Nyonya Yuri mulai berdoa sebelum akhirnya
dia mulai menyiramkan air tersebut ke tubuh
Kiran di mulai dari usapan lembut di ubun-ubun
nya kemudian menyiram ke seluruh tubuh nya.
Kiran benar-benar merasa rileks sekarang.
Tubuh nya kini terasa seringan kapas.
"Ayo.. malam ini kau akan tidur bersama
dengan Eyang dan ibu..!"
Ujar Nyonya Yuri setelah Kiran keluar dari
kamar mandi dan berpakaian kembali dengan
gaun malam warna putih yang terlihat anggun.
Kiran melongo, tidur bersama dengan mereka?
"Benarkah Bu.? kita akan tidur bersama.?"
"Iya..tentu saja..! malam ini Eyang Putri akan
memberimu nasihat dan wejangan penting
untuk bekal hidupmu ke depan.."
Kiran mengangguk antusias kemudian mereka
keluar dari kamar tersebut. Dan akhirnya kini
Kiran sudah berada di dalam kamar yang
berbeda di paviliun belakang.
"Kau adalah calon ibu baru.. mulai sekarang
harus belajar melakukan segala sesuatu
dengan niat yang baik, cara-cara yang baik
dan hati yang selalu bersih..!"
Tutur Eyang Putri seraya mengusap lembut
kepala belakang Kiran yang duduk bersimpuh
di hadapan nya sedang Eyang Putri membuka
sebuah buku tua di tangannya.
Kiran mendengarkan dengan seksama dan
takzim setiap kata yang keluar dari wanita
tua yang sarat dengan pengalaman itu.
"Usahakan setiap hari membaca Alquran
agar janin mu tumbuh dengan sempurna..!"
Eyang Putri mengakhiri wejangan nya.
"Baik Eyang.. Insya Allah akan saya lakukan.
Terimakasih banyak atas semua nasihat dan
wejangan Eyang. Ini adalah sesuatu yang
sangat penting dan berharga untuk bekal
hidup saya ke depannya."
"Hemm..ini sudah menjadi kewajibanku.
Kau adalah cucu menantu ku.. Wanita yang
akan memberikan keturunan berharga untuk
keluarga Hadiningrat..!"
Keduanya saling berangkulan. Nyonya Yuri
menatap keduanya dengan mata berair.
Akhirnya mereka bertiga kini tidur di satu
tempat tidur super besar. Kiran berada di
tengah, di apit oleh kedua orang tuanya itu.
Malam semakin larut....
Sekitar jam 2 dini hari ada satu sosok tinggi
tegap yang masuk ke dalam kamar tersebut.
Sepertinya Agra memang tidak rela jauh-jauh
dari istrinya itu. Dia tidak bisa memejamkan
mata karena separuh jiwa nya jauh dari mata
dan jangkauan nya. Apalagi saat ini kekasih
hatinya itu sudah mengandung benih cinta
buah kasih sayang nya..
Dengan hati-hati Agra meraih tubuh Kiran dari
kungkungan Ibu dan Eyang Putri nya. Sesaat
dia menatapi kedua orang yang sangat penting
dalam hidupnya itu dengan tersenyum tipis.
"Maaf Eyang..ibu.. tapi aku tidak bisa jauh
darinya..Aku adalah pelindung nya..!"
Lirih Agra sambil mendekap erat tubuh Kiran
seraya mencium lembut keningnya kemudian
berjalan keluar dari kamar khusus tersebut..
\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....