Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
5. Di Paksa Menikah


 


**********


 


Dengan menatap ragu-ragu kearah pengawal


nya Kiran kembali merebahkan tubuhnya di


atas tempat tidur. Dia terpaksa meraih selimut


untuk menutupi tubuh bagian bawahnya yang


terbuka. Tubuhnya di miringkan ke arah dinding


kamar membelakangi pengawalnya itu yang


duduk setengah jongkok di dekat pintu.


Tatapan pria itu tampak terfokus pada gerakan


Kiran yang masih saja gelisah. Saat ini Kiran


memang masih merasakan resah walau rasa


takut karena suara burung hantu sudah hilang.


Tidak tahu kenapa hatinya tetap saja merasa


tidak nyaman.


"Kenapa belum tidur Nona.? saya di sini untuk menjaga anda.!"


Ucap pria itu membuat gerakan Kiran terhenti.


Aneh memang, kenapa dia jadi kepikiran pria pengawalnya itu terus yang terpaksa harus


berdiam diri untuk mengawasinya dengan cara


duduk seperti itu, tentunya sangat tidak nyaman.


Lah, tapi kenapa dia harus peduli pada pria itu.?


Bodo amat.! toh itu kan memang tugasnya.!


Tapi kok hatinya semakin bertambah gelisah.


Mata pria itu tampak tidak lepas dari sosok Nona


nya yang terus saja bergerak tidak beraturan. Dia


mengernyitkan alisnya. Kedua tangan bertumpu


di lututnya, rambutnya yang berantakan jatuh di


wajahnya yang kini sedikit memerah saat melihat


selimut yang di pakai Kiran jatuh melorot ke


bawah karena gerakannya hingga paha putih berkilaunya sedikit terekspos. Ingin sekali dia


bergerak untuk membenarkan letak selimut itu


tapi takut menimbulkan kesalahpahaman.


Tidak tahan dengan rasa gelisah nya, gadis itu


kini membalikan badan kearah sebaliknya,


matanya langsung bersirobos tatap dengan


mata pria pengawalnya. Keduanya saling pandang dalam diam, ada desiran halus yang kini mulai merambat menjalari aliran darah keduanya.


Dalam diamnya tanpa sadar Kiran mengamati


wajah pria itu. Kalau di lihat dengan seksama


pria itu memiliki bentuk wajah yang sangat


sempurna di semua bagian. Dia terlihat sangat


istimewa dan berbeda. Namun semua itu seolah lenyap dan tersembunyi di balik sikapnya yang


dingin, sedikit liar serta penampilan urakannya.


Apakah pria ini bisa di andalkan olehnya.? apa


dia bisa di percaya.? mengingat tampilan nya


yang sangat meragukan itu.!


"Tidurlah Nona..saya tidak akan macam-macam.


Anda harus istirahat sekarang.!"


Kembali ucap pria itu dengan suara beratnya


seolah mengerti apa yang sedang di pikirkan


oleh Kiran. Wajah gadis itu tampak langsung


bersemu merah. Dia kembali menarik selimut,


kali ini mencapai dadanya.


"Siapa namamu.? aku berhak tahu bukan.?"


Pria itu tampak mengernyitkan alisnya, Kiran


menatapnya menuntut jawaban.


"Panggil saja saya Agra Nona.."


"Agraa.., apa itu nama aslimu.?"


Pria itu yang mengenalkan diri bernama Agra


tampak tersenyum kecil.


"Tentu saja itu nama asli saya Nona..!"


Kiran tersenyum kecut, dia mencoba membenahi


posisi badannya supaya lebih nyaman.


"Kalau kau ngantuk.. tidur saja di sini.!"


Gumam Kiran dengan pelan sambil kemudian


memejamkan matanya karena rasa kantuk kini


mulai menyerangnya setelah dia merasa puas menatap wajah pengawalnya itu yang masih


setia memperhatikannya.


Tidak lama akhirnya Kiran benar-benar terlelap


dalam tidur lelahnya. Pria tadi beranjak dari


duduknya, melangkah ke arah tempat tidur.


Dia berdiri menatap lekat wajah cantik Kiran


yang kini ada di di hadapannya. Perlahan dia berjongkok, tangannya bergerak merapihkan


anak rambut yang jatuh di wajah mulus gadis


itu. Di pandangnya tiada henti wajah itu seolah


sedang mengukir nya di dasar hati. Hatinya


saat ini begitu bergejolak, berbagai perasaan


kini berkecamuk memenuhi dadanya.


Dia menarik napas panjang, kemudian membuka


jaket kulit yang di pakainya, lalu di selimutkan


ke tubuh bagian atas Kiran yang tampaknya


mulai merasakan kedinginan. Gadis itu terlihat


bergerak perlahan, tanpa sadar merapatkan jaket tersebut hingga dia terlihat nyaman dalam tidurnya.


Pengawal itu kembali ke posisinya semula,duduk berselonjor kaki, melipat kedua tangan di depan


dada bidang nya yang kini hanya terbungkus kaos hitam tipis rapat di kulit hingga tubuhnya yang


gagah terlihat jelas tanpa bisa di sembunyikan.


Pria itu mulai memejamkan matanya, tidak lama kemudian dia pun ikut terlelap.


------ ------


Pagi menjelang...


Suasana di luar kamar tiba-tiba saja terdengar


gaduh dan riuh. Ada suara perdebatan seru yang semakin lama semakin terdengar ramai.


Kiran dan Agra tersentak bangun dari tidurnya.


Mereka tampak saling pandang bingung.


"Cepat buka pintu kamar ini..!"


"Maaf Pak, tapi kami harus menjaga privasi


setiap tamu yang datang.!"


"Hei.. mereka itu bukan pasangan suami istri.!


ini sudah melanggar norma dan adat yang ada


di tempat kita !"


"Tapi mereka adalah tamu kami.!"


"Jangan banyak alasan, cepat kita dobrak saja


pintunya kalau tidak di buka baik-baik !"


Itulah sebagian perdebatan yang tertangkap


oleh pendengaran Agra. Dengan cepat dia


mengenali situasi kemudian segera beranjak


dari duduknya, menghampiri Kiran yang baru


saja turun dari tempat tidur dengan wajah di


penuhi rasa tidak nyaman.Tanpa basa basi Agra segera menarik tangan Kiran di suruh masuk


kedalam kamar mandi.


"Cepat ganti pakaianmu, pakai jaketnya, jangan


lupa pakai masker juga..!"


Titah Agra membuat Kiran gelagapan saat


pengawalnya itu menyodorkan semua barang


yang tadi di sebutkan nya.


"Tapi..apa yang terjadi.?"


"Jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang


tadi saya perintahkan.!"


Titah Agra membuat Kiran mendengus kesal,


dia segera menutup pintu kamar mandi.


Beberapa saat kemudian pintu kamar di buka


paksa dari luar. Agra melihat di luar kamar sudah banyak orang yang langsung menatap kearah nya dengan sorot mata penuh penghakiman.


Tapi kebanyakan dari mereka malah terkesima


saat melihat dirinya yang saat ini masih berpenampilan seksi tanpa jaket nya.


"Ohh..Gusti Allah..kok ada ya manusia cakepnya


kayak gini.!"


"Oalah..orang kota rupanya dia, pantas saja dia


tidak tahu aturan daerah sini..!"


Itulah sebagian percakapan yang terdengar di


antara orang-orang itu . Dua orang yang terlihat


sebagai aparat tampak menghampiri Agra yang


masih berdiri tenang, berjaga di depan pintu


kamar mandi.


"Maaf Tuan, kami harap anda ikut kami ke kantor.


Kita selesaikan semua ini di kantor.!"


"Ada apa ini sebenarnya.?"


Tanya Agra dengan suara bariton nya membuat


para petugas itu terdiam sesaat saling pandang.


"Sebaiknya kita bicarakan baik-baik di kantor


Tuan, kami akan menjelaskan semuanya."


Jawab salah seorang petugas itu seraya melirik


kearah pintu kamar mandi di mana Kiran baru


melihat keberadaan orang-orang asing itu.


Agra menarik tangan Kiran agar dia berdiri di


belakang nya, tapi Kiran tampaknya penasaran


dengan semua kejanggalan yang terjadi.


"Ada apa ini.? kenapa kalian masuk ke kamar


ini tanpa izin.?!"


Tanya Kiran dengan suara sedikit menekan


sambil menatap orang-orang itu satu persatu.


"Maaf Nona, kalian berdua harus ikut kami ke


kantor desa, kalian sudah melanggar adat dan


tradisi di tempat kami dengan menginap di satu


kamar tanpa ikatan pernikahan.!"


"Apa ?? ta-tapi..kami tidak melakukan apapun.!


kami sedang di perjalanan, kami hanya butuh


tempat untuk beristirahat, itu saja kok.!"


Sergah Kiran tidak terima. Beberapa orang


tampak memaksa maju ingin menyeret Kiran.


"Kalian bisa mengatakan semuanya di kantor,


ayo ikut kami.!"


"Jangan ada yang coba-coba menyentuh nya.!"


Suara berat Agra membuat semua orang terdiam


membeku di tempat. Tatapan pria itu tampak


sudah sedingin salju. Dia segera menggenggam


tangan Kiran, di tariknya ke belakang.


"Kami akan ikut kalian.! kita selesaikan semua


nya di kantor kalian.!"


Tegas Agra membuat Kiran membulatkan


matanya tidak setuju. Dia menatap geram


kearah Agra dengan sorot mata tidak terima.


"Apa kau sudah gila.?"


Desisnya dengan kekesalan yang memuncak.


"Kita lihat saja dulu, apa maunya mereka.!"


Kilah Agra santai, Kiran mendengus kesal


seraya menepis genggaman tangan Agra, tapi


pria itu kembali memegang nya dengan kuat.


"Baiklah..kalau begitu kalian berdua ikut kami.!"


Putus salah satu petugas sambil menatap tajam


kedua orang yang masih berdebat itu. Kemudian


melangkah keluar dari kamar di ikuti oleh yang


lainnya. Orang-orang yang ada di luar tampak


menatap penuh rasa penasaran kearah dua


orang yang kena gerebek itu. Mereka kembali


sibuk kasak kusuk mencoba berasumsi tentang


hubungan kedua sejoli itu.


Mau tidak mau akhirnya Kiran dan Agra ikut


pergi ke kantor wilayah daerah tersebut.


------ -----


"Kalian berdua terpaksa harus kami nikahkan


sekarang juga, di tempat ini..!"


"Apa..?? menikah..??"


Bagai tersambar petir di siang bolong, Kiran


langsung syok begitu mendengar ucapan


kepala desa. Sedangkan Agra tampak hanya


bisa terdiam dengan wajah yang semakin


dingin. Kenapa jadi begini ??


"Benar..karena kalian sudah melanggar batas


norma dan tradisi di tempat kami..!"


"Bukankah saya sudah menjelaskan semuanya


tadi, apa itu kurang jelas Pak kepala desa.?"


Debat Kiran masih tidak terima. Apa-apaan ini?


Dia yakin dirinya saat ini sedang bermimpi.!


Bagaimana bisa dia terpaksa harus menikah


dengan laki-laki pengawalnya itu.! Ohh Tuhan..


apa ini, ini tidak mungkin terjadi.!


"Maaf Nona, apapun alasan kalian kami tidak


akan bisa mentolerir kesalahan yang sudah


kalian lakukan, karena ini sama saja sebagai


penghinaan terhadap adat dan budaya kami.!"


"Ohh ya Tuhan.. harus bagaimana lagi kami


memberi penjelasan pada kalian.!"


Kiran kehabisan kata-kata, dia melirik kearah


Agra yang terlihat sedang berdiri melakukan


panggilan telepon. Kekesalan kini berpuncak


pada pria itu, semua ini gara-gara orang itu.!


Kenapa dia harus memaksanya untuk nginep


di tempat ini.! jadinya seperti ini kan.?


Uuhh..dasar pengawal sialan.!


Kiran mengomeli Agra tiada henti dalam hatinya


seraya meremas kuat jemari tangannya.


"Kami beri waktu dua jam pada kalian untuk mempersiapkan diri sembari menunggu Pak


penghulu menyiapkan segala sesuatunya.!"


Ujar Kepala desa memutuskan. Kiran menutup


wajahnya penuh rasa tidak percaya.


"Untuk Nona Kiran silahkan anda hubungi ayah


anda terlebih dahulu untuk meminta izin pada


beliau. Kalau beliau tidak bisa datang maka


kami akan menyediakan wali hakim di sini."


Kembali ucap Pak kepala desa. Kiran hanya


bisa mengangguk, kemudian dia meraih ponsel


nya untuk segera menghubungi Tuan Zein.


"Saya sudah menghubungi ayah anda Nona.


Beliau menyerahkan semuanya pada aturan


adat yang ada di tempat ini..!"


Ucap Agra tiba-tiba saat Kiran masih mencoba


menghubungi nomor ayahnya. Kiran kembali


mendudukkan dirinya dengan lemas.


Bagaimana ini ? Apakah semua mimpi buruk


ini benar-benar harus terjadi.? dia datang ke


kota ini bermaksud untuk menghindari masalah,


tapi kenapa malah tersandung masalah yang


lebih besar lagi. Menikah gitu loh ! ini bukanlah


hal sepele.!


Dan.. akhirnya tidak ada pilihan lain lagi buat


mereka berdua. Mereka ada di tempat asing


dan tidak bisa melawan aturan yang ada.!


Pak penghulu sudah siap, para saksi juga sudah


siap, di tambah para warga sekitar yang semakin


lama semakin banyak saja yang datang untuk menyaksikan pernikahan dadakan ini karena ini


merupakan suatu hal yang sangat sensitif bagi masyarakat di daerah ini.


Mereka semua sudah berkumpul dan berkerumun


di sekitar balai desa. Kiran terpaksa harus nurut


apa kata ibu-ibu di sana untuk berganti pakaian


yang sedikit lebih formal. Dia masuk ke sebuah


ruangan yang ada di dalam balai desa itu untuk


berganti pakaian di iringi tatapan tidak nyaman


yang terlihat dari sorot mata Agra.


Sementara Agra hanya merangkap kaos yang di


pakainya dengan kemeja pas body supaya sedikit


lebih resmi. Meski begitu tetap saja pesona nya


yang luar biasa dan istimewa dapat membius


semua mata wanita yang ada di tempat itu tanpa terkecuali. Tampaknya mereka memang belum


pernah melihat pria seperti Agra.


Namun kesan urakan dan serampangan tetap di perlihatkan oleh pria berekspresi datar itu. Tapi


justru karena hal itulah para gadis yang berada di


tempat itu semakin terjerat oleh pesona nya yang berbeda itu. Kesan bad boy yang sangat unik dan


menggemaskan.!


Di luar ruangan para wanita sedang heboh dengan


calon mempelai pria, lain hal nya di ruang khusus


tempat Kiran bersiap. Saat ini beberapa ibu-ibu


sedang ternganga melihat penampakkan asli dari


gadis yang kena hukum adat itu. Mereka semua


bengong melihat eloknya rupa gadis kota itu. !


Padahal gadis itu tidak tersentuh make up sedikit


pun, benar-benar natural. Tapi kecantikan nya


sudah begitu berkilau dan memukau, ibu-ibu itu


seakan baru melihat seorang bidadari.!


 


**********


 


TBC.....