
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi hari yang cerah seperti biasanya...
Kiran baru saja keluar dari ruang ganti pakaian.
Tubuhnya masih terasa sedikit lelah, tapi wajah
nya terlihat segar berseri. Dia berdiri di depan
cermin besar melihat pantulan dirinya yang
saat ini mengenakkan dress cantik di bawah
lutut dengan model yang cukup simpel namun
tetap terlihat elegan, sangat cocok melekat di
tubuh indahnya.
Dia menghampiri Agra yang masih terbaring
di tempat tidur dengan bertelanjang dada.
Untuk sesaat Kiran menatap lekat sosok
gagah suaminya itu. Tubuh nya tiba-tiba saja
terasa panas dingin saat melihat bagaimana
sempurna nya bentuk tubuh Agra. Semalam
dia benar-benar selamat dari gangguan jahil
suaminya, tapi kini dia merasa ada sesuatu
yang kurang, ya..dia menginginkan sentuhan
memabukkan laki-laki perkasa itu.
Kiran menggeleng kuat sambil menepuk jidat
nya sendiri saat menyadari kekonyolan nya.
Dirinya sudah ketularan mesum sekarang.!
Dia merangkak naik ke atas tempat tidur, lalu
mendaratkan ciuman lembut di bibir Agra
setelah itu cepat-cepat turun. Pagi ini dia
akan membuat sarapan spesial untuk Agra.
Kiran melangkah keluar kamar meninggalkan
Agra yang masih terlelap dalam tidur nya.
"Selamat pagi Nona Muda..!"
Kiran tertegun, menatap Tata yang sudah
bersiaga di depan pintu kamar, membungkuk
rendah dengan raut wajah penuh semangat.
"Selamat pagi Tata..hari ini aku akan membuat
sarapan sendiri, tolong bantu siapkan bahan-
bahannya ya..!"
Sambut Kiran dengan senyum seribu watt nya
sambil berjalan ringan penuh keceriaan. Tata
terdiam sebentar, menatap kearah Kiran yang
sudah masuk ke dalam lift. Hari ini ada yang
begitu berbeda dari aura wajah Nona Muda
nya itu, tampak sangat segar dan bercahaya.
"Hei.. Tata.. apa yang kau tunggu.?"
Tegur Kiran saat dia sudah berdiri di dalam lift.
Tata tersipu malu, menundukkan kepala sembari
berjalan mengikuti Nona nya masuk ke dalam lift.
"Nona mau memasak dimana..?"
Tanya Tata mencoba mencuri pandang kearah
Kiran yang sedang membuka ponselnya karena
ada banyak pesan masuk di sana.
"Di dapur besar saja..Aku akan membuat
sarapan untuk Eyang juga.."
"Baik Nona sesuai keinginan anda..!"
Kiran tersenyum lembut. Tidak lama keduanya
sudah keluar dari lift langsung menuju ke ruang
belakang dimana dapur besar berada. Semua
pelayan yang berada di setiap sudut ruangan
langsung menyapanya dengan senang penuh
hormat seraya membungkukan badan. Dengan
ramah dan lembut Kiran membalas sapaan
mereka semua membuat para pelayan semakin
bertambah semangat menjalani pekerjaannya.
Tiba di dapur besar barisan pelayan dan koki
yang bertugas di sana langsung menyambut
nya dengan senang setengah terkejut melihat
kemunculan nya di sana.
"Apa Nona mau saya buatkan sesuatu..?"
Tanya koki kepala sambil maju mendekat.
"Tidak, untuk sekarang biarkan saya menguasai
tempat ini.! kalian hanya boleh membantu saja.
Tidak boleh menginterupsi..!"
Jelas Kiran membuat semua orang tergugu,
terdiam di tempat dengan wajah bengong.
"Lakukan apa yang Nona Muda katakan.!"
Perintah Tata dengan wajah sedikit kesal pada
barisan bawahnya itu.
"Siap laksanakan wakil kepala..!"
Serempak mereka sambil membungkuk. Kiran
hanya bisa tersenyum geli. Dan mulailah satu
kegiatan heboh di dapur itu. Karena ternyata
Kiran juga membuatkan sesuatu yang spesial
untuk di santap oleh semua pelayan yang ada
di istana itu. Jadinya acara masak memasak
itu menjadi sebuah kegiatan besar dan heboh.
Di tengah kehebohan Eyang Putri muncul di
dapur membuat suasana bertambah gaduh.
"Eyang duduk manis saja di sini ya..! Kiran
akan segera menyelesaikan semua nya.."
Ujar Kiran sambil membimbing Eyang putri
untuk duduk di kursi meja makan besar yang
ada di tengah ruangan dapur yang teramat
luas itu. Eyang Putri tampak tersenyum.
"Baiklah..aku hanya akan melihat mu saja.
Tapi buatkan dulu aku susu jahe.!"
"Tentu saja, sesuai permintaan mu Eyang.."
Sambut Kiran dengan tersenyum lembut. Dia
segera membuatkan apa yang di inginkan
oleh nenek mertua nya itu. Kegiatan pagi itu
kembali berlanjut di saksikan oleh Eyang putri
sambil menikmati susu jahe nya yang terasa
begitu nikmat. Bibir wanita sepuh yang sudah
keriput itu tiada henti mengulas senyum.
Sampai satu jam kemudian..
"Tuan Muda.. selamat pagi..!"
Sapa beberapa pelayan yang berjaga di depan
pintu membuat semua orang terkejut melihat kemunculan Agra di tempat itu yang selama ini
hampir tidak pernah di datangi nya. Agra terlihat
masih mengenakkan jubah tidurnya, tampak
nya dia baru saja terbangun dari tidurnya. Para
pelayan dan koki termasuk juga Tata langsung membungkukan badan.
Mata Agra menatap lurus mengunci sosok
bidadari cantik yang sedang berkutat dengan
segala kesenangan nya. Sedang Eyang Putri
terlihat acuh dan santai di tempat duduknya,
seolah tidak peduli dengan aura kekesalan
yang kini keluar dari raut wajah cucu nya itu.
"Sayang..kau sudah bangun..? apa mau aku
buatkan kopi sekarang.?"
Kiran mendekat sambil mengelap tangannya
dengan senyum secerah mentari. Wajah Agra
tampak datar dengan tatapan yang terlihat
begitu kesal membuat Kiran menautkan alis
nya bingung. Begitu Kiran ada di hadapannya
tanpa kata Agra langsung mengangkat tubuh
Kiran ala bridal style sambil kemudian berbalik
melangkah acuh keluar dari ruangan itu tidak
peduli seruan Kiran yang terkejut campur malu.
Eyang Putri menghela napas panjang dengan
bibir tersenyum geli. Sedang para pelayan hanya
bisa melongo di tempat, merasa tidak percaya
dengan apa yang di lakukan oleh Tuan Muda.
"Sayang..apa yang kau lakukan.? apa kau tidak
lihat di sana ada Eyang dan para pelayan..!"
Kesal Kiran sambil melilitkan tangannya
di leher Agra setelah upaya nya untuk
turun dari pangkuan suaminya itu tidak
membuahkan hasil.
"Kenapa kamu keluar kamar begitu saja.?"
Geram Agra dengan tatapan lurus ke depan.
Para pelayan yang mereka lewati langsung
minggir dan berdiri menunduk di sisi ruangan.
"Aku ingin membuat sarapan pagi untuk
kita sayang..!"
"Kamu bisa membuat nya di dapur rumah
utama, tidak di dapur besar.!"
"Aku ingin sekalian membuatkan makanan
untuk semua orang.!"
"Kau tidak perlu terlalu baik.! kamu di sini
adalah ratu, bukan pembantu.!"
Kiran menatap jengah wajah dingin Agra
yang tidak sekalipun melihat kearah nya.
"Kau terlalu berlebihan sayang.! aku hanya
ingin menyenangkan semua orang saja.!"
"Aku tidak suka kamu menghabiskan waktu
yang tidak jelas sampai mengabaikan ku.!"
"Baiklah..lain kali aku akan meminta izin
terlebih dahulu padamu.."
Lirih Kiran sambil menatap lekat wajah kesal
Agra kemudian merebahkan kepalanya di
dada bidang suaminya itu. Agra mempererat
dekapan nya seraya mencium pelipis Kiran.
Keduanya kini sampai di dalam kamar. Agra
langsung membaringkan tubuh Kiran di atas
tempat tidur. Kemudian tanpa menunggu lagi
dia segera melempar jubah nya ke sembarang
arah. Kiran melebarkan matanya saat melihat
Agra melucuti celana putih yang di pakainya.
"Sa-sayaang.. kamu mau apa..?"
Kiran mundur beringsut ke ujung tempat tidur
dengan tatapan tegang kearah Agra yang kini
merangkak naik ke atas tempat tidur langsung
mengurung dan menindih tubuh nya.
"Kenapa harus bertanya sayang.? semalam
aku sudah membiarkan dirimu bebas. Tapi
tidak dengan pagi ini..!"
Desis Agra dengan suara berat dan tatapan
yang kini sudah terlihat mendamba.
"Tapi..aku sudah mandi sayang..aku juga..!"
"Aku tidak menerima alasan sayangku.."
Agra langsung menyergap bibir ranum Kiran,
******* nya lembut memberikan sensasi
hangat dan membuai yang membuat semua
saraf dalam tubuh Kiran melemah, akhirnya
dia ikut terhanyut dalam semua kenikmatan
sentuhan memabukkan suaminya itu.
Dalam waktu sekejap tubuh mereka berdua
sudah dalam keadaan polos. Dan yang bisa
di lakukan Kiran saat ini hanyalah mendesah
serta mengerang nikmat saat Agra memberikan
sentuhan bibir nya di semua bagian tubuh
nya tanpa terlewat.
"Ohhh.. Agra..kau benar-benar membuatku
tidak berdaya..Kau menyiksaku.!"
"Ini adalah resiko yang harus kamu tanggung
karena memiliki suami seperti ku..!"
Bisik Agra sambil kemudian memposisikan
dirinya untuk bersiap melakukan penyatuan.
"Emmhh.. sayang...apa kau bisa lebih pelan
sedikit.. tubuh ku masih lelah.. aakhh..!"
Racau Kiran saat Agra mulai memasuki tubuh
nya dengan hentakkan yang cukup keras karena
desakan gairah yang sudah mencapai ubun-ubun.
Agra malah bertambah buas dan liar membuat
Kiran menjerit kecil dan menggelinjang hebat.
Keduanya kini larut dalam pergumulan panas di
pagi hari. Suasana di dalam kamar berubah
membara di warnai oleh suara-suara erotis
penuh dengan kenikmatan dan kepuasan.
------- -------
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 lebih..
Agra menatap tenang wajah cantik Kiran yang
kini sedang berada di hadapannya, memasang
dasi dengan sabar dan telaten. Wajah Kiran
terlihat sedikit pucat namun tidak mengurangi
pesona kecantikan nya yang selalu membuat
Agra tergila-gila. Bahkan semakin kesini rasa
cintanya semakin menenggelamkan dirinya
ke dasar, nyaris membuat dia terobsesi dan
terlalu posesif.
Tapi bagi Agra, Kiran tetaplah butuh sedikit
kebebasan dan waktu untuk dirinya sendiri.
Dia tidak bisa terlalu mengekang ataupun
menekan nya. Yang dia inginkan adalah Kiran
selalu merasa nyaman dan bahagia hidup
bersamanya, tanpa merasa terkurung atau
pun terpenjara..dia tidak ingin apa yang
terjadi pada ibunya terjadi juga pada Kiran.
"Sayang.. apa kau benar-benar memerlukan
kepala sekretaris baru.? bukankah sudah ada
Erik dan Bara ?"
Agra menatap tajam wajah Kiran dengan
sorot mata penuh selidik. Seringai kecil kini
terukir di sudut bibirnya.
"Ada apa sayang..? kau tidak suka dengan
sekretaris baru itu.?"
Wajah Kiran langsung saja memerah. Dia
mengangkat wajah nya, kini mereka saling
menatap kuat.
"Dia menginginkan mu.! aku tidak suka dengan
orang yang terlalu terobsesi.!"
Bibir Agra semakin terangkat, raut wajah nya
terlihat bersemangat.
"Semua wanita yang melihat ku akan langsung
menginginkan ku Kiran..!"
Kiran mengerucutkan bibirnya gerah dengan
rasa percaya diri suaminya itu.
"Perasaan aku tidak begitu.! biasa saja tuh.!"
"Karena itulah kamu mampu membuat ku
tergila-gila padamu.!"
Desis Agra sambil menarik pinggang ramping
Kiran hingga tubuh mereka kini merapat.
Wajah mereka mendekat, hanya menyisakan
beberapa inci saja. Tatapan keduanya semakin
terpaut dan terkunci di bibir masing-masing.
"Sekretaris baru itu akan melakukan apapun
untuk bisa memiliki mu..Daya tarik mu terlalu berbahaya bagi wanita di sekitar mu sayang..!"
Lirih Kiran dengan suara sedikit bergetar
karena kini mereka sudah satu napas, aroma
wangi mint segar yang keluar dari mulut
mereka membuat tubuh keduanya memanas.
"Apa kau meragukan kesetiaan ku sayang.?
Kau tidak percaya padaku..?"
"Aku percaya padamu..Aku juga percaya pada
perasaan mu padaku.! tapi wanita adalah racun.
Apalagi wanita itu memiliki fisik yang sempurna.!"
"Tapi tidak ada yang mampu mengalahkan
pesona kecantikanmu Kiran..! kau adalah
racun yang sesungguhnya..!"
Kiran terhenyak, dia memundurkan wajahnya.
Mata mereka semakin terpaut dalam. Seringai
senyum tipis terukir di bibir Agra.
"Aku tidak ingin ada lagi lalat pengganggu
di sekitar mu..! "
Desis Kiran sambil mengelus lembut wajah
Agra yang semakin menatap nya kuat.
"Terus..apa yang kau inginkan..? kau mau
aku memecat mereka semua..?"
"Ya..aku menginginkan itu.!"
Tegas Kiran dengan wajah dibuat seserius
mungkin di sertai tatapan meyakinkan.
"Oke, lakukan lah..! kau perintahkan Bara
untuk segera memecat mereka semua..!"
Kiran melebarkan matanya, dia hanya bercanda
saja barusan, tapi reaksi Agra tampaknya tidak
main-main. Kiran menggeleng cepat.
"Tidak.! aku hanya bercanda.! Aku sangat tahu
perusahaan mu memerlukan tenaga sekretaris
yang cukup banyak dan profesional di bidangnya."
"Keinginan mu adalah sesuatu yang mutlak
untukku Kiran. Lakukan apapun yang kau
inginkan, asal kau senang.!"
"Aku tidak serius.! Kalau aku melakukan nya,
berarti aku meragukan kesetiaan mu padaku.!
Tapi aku akan mengawasi sektretaris baru itu."
Agra kini tidak bisa lagi menahan senyumnya.
Dia benar-benar puas dengan analisa Kiran.
Tangannya kembali menarik pinggang Kiran
hingga kini wajah mereka benar-benar saling
bersentuhan.
"Jangan meragukan ku sayang..Wanita lain
hanyalah prajurit lebah yang tidak berguna,
sedang kau adalah ratu yang sangat berharga."
Bisik Agra sambil kemudian memagut bibir
Kiran dengan lembut dan memuja. Keduanya
memejamkan mata seiring terhanyut dalam
lembut dan manisnya sentuhan bibir mereka
yang semakin kesini semakin mengeluarkan
madu yang membuat mereka kecanduan..
------- ------
Sarapan pagi kali ini entah kenapa terasa
begitu istimewa. Menu yang di buat oleh Kiran
sungguh menggugah selera membuat wajah
Eyang Putri dan Agra berbinar penuh semangat.
Selain itu para pelayan dan pekerja juga ikut
kebagian menikmati sarapan pagi yang sangat
istimewa karena di buat oleh tangan Nona
Muda, sang penguasa istana Hadiningrat.
Dengan cekatan dan telaten Kiran melayani
kedua anggota keluarga nya itu membuat
para pelayan seakan menjadi orang-orang
yang tidak berguna.
"Mmm.. masakan mu benar-benar lezat..
Kau punya tangan ajaib Kiran.."
Puji Eyang Putri tulus. Dia sampai melanggar
aturannya sendiri yang tidak pernah berbicara
selama acara makan berlangsung. Kiran dan
Agra saling pandang, kembali menatap Eyang
putri yang terlihat acuh. Namun ada yang aneh
dengan tubuh Kiran, sepertinya dia sekarang
ini kurang berminat dengan yang namanya
nasi. Dia sedikit tersendat dan lebih banyak
menjeda makan nya.
Menjelang akhir sarapan Pak Hans tiba-tiba
muncul ke dalam ruangan dengan wajah yang
terlihat sangat pucat dan tubuh yang gemetar.
Dia langsung membungkuk dalam di hadapan
Eyang Putri yang mengernyitkan alisnya.
"Ada apa Hans..? apa terjadi sesuatu..?"
"Ampun Nyonya Besar...di depan ada..ada..
tamu..!"
Agra menatap tajam wajah Pak Hans yang
terlihat sangat tegang dan gugup.
"Bicara yang jelas Hans..!"
Sentak Agra sambil mengepalkan tangannya
dengan tatapan yang menghunus.
"Ampuni saya Tuan Muda... ada tamu penting
yang datang.. mereka.. mereka adalah.."
"Ayah...ibu...!"
Kiran berseru dengan wajah yang terkejut
setengah mati. Semua orang kini menganga
dan membeku di tempat.
Di ambang pintu ruangan samping kini telah
berdiri dua sosok yang tidak di sangka-sangka
akan datang secepat ini. Semua orang terdiam,
masih mencoba meyakinkan penglihatannya. Dan..beberapa saat kemudian Kiran berlari
menyerbu kearah keduanya.
"Ibu.. apakah aku sedang bermimpi..?"
Lirih Kiran di tengah isak tangisnya yang tidak
tertahan. Sosok wanita setengah baya yang
masih terlihat sangat cantik itu memeluk dan
membelai rambut indah Kiran penuh kasih
sayang dengan deraian air mata.
"Ini semua nyata sayang..kami sengaja
datang lebih cepat karena tidak sabar ingin
segera berkumpul dengan kalian..!"
Ucap sosok lembut bersahaja itu yang tiada
lain adalah Nyonya Arindha dan Tuan Hasimoto.
"Aku bahagia sekali Bu..sungguh ini adalah
sebuah kejutan besar untuk kami.."
Kiran semakin mempererat pelukannya. Tuan
Hasimoto menatap tenang menantunya itu
seraya mengusap lembut rambutnya.
Agra beranjak dari duduknya menghampiri
mereka kemudian berangkulan dengan sang
ayah. Keduanya saling menepuk punggung
penuh rasa haru dan suka cita.
"Selamat datang di istanaku..!"
Agra berucap pelan masih merangkul ayah nya.
Sementara...reaksi Eyang Putri saat ini tampak
datar. Matanya menatap tajam ke arah dua
orang yang sudah bertahun-tahun lamanya
berusaha di lupakan, namun sampai detik ini
ikatan itu tidak pernah lepas dari bathin nya.
Tidak lama dia bangkit, meraih tongkat nya
kemudian beranjak dari duduknya.
"Mami...!"
Wanita tua itu menghentikan langkahnya,
diam mematung di tempat dengan posisi
tubuh membelakangi. Nyonya Yuri mendekat
dengan tubuh bergetar menahan tangis yang
sudah memenuhi dadanya.
Dia segera duduk bersimpuh di hadapan
Eyang Putri yang tetap datar tanpa ekspresi.
"Ampuni saya.. Mami.. ampuni Arindha..!"
Lirih Nyonya Yuri sembari menunduk dalam
di hadapan Eyang Putri. Tuan Hasimoto tampak
sedikit bereaksi tidak suka dengan apa yang
di perbuat oleh istri nya itu tapi Agra menahan
tangan nya sambil menggeleng kuat.
Eyang Putri menarik napas dalam-dalam,
kemudian dia mengusap lembut rambut
Nyonya Yuri setelah itu kembali melangkah
meninggalkan ruangan itu di iringi tatapan
semua orang yang hanya bisa menghela
napas panjang dan berat....
\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....