Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
67. Kejutan Di Pagi Hari


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pagi hari yang cerah seperti biasanya...


Kiran baru saja keluar dari ruang ganti pakaian.


Tubuhnya masih terasa sedikit lelah, tapi wajah


nya terlihat segar berseri. Dia berdiri di depan


cermin besar melihat pantulan dirinya yang


saat ini mengenakkan dress cantik di bawah


lutut dengan model yang cukup simpel namun


tetap terlihat elegan, sangat cocok melekat di


tubuh indahnya.


Dia menghampiri Agra yang masih terbaring


di tempat tidur dengan bertelanjang dada.


Untuk sesaat Kiran menatap lekat sosok


gagah suaminya itu. Tubuh nya tiba-tiba saja


terasa panas dingin saat melihat bagaimana


sempurna nya bentuk tubuh Agra. Semalam


dia benar-benar selamat dari gangguan jahil


suaminya, tapi kini dia merasa ada sesuatu


yang kurang, ya..dia menginginkan sentuhan


memabukkan laki-laki perkasa itu.


Kiran menggeleng kuat sambil menepuk jidat


nya sendiri saat menyadari kekonyolan nya.


Dirinya sudah ketularan mesum sekarang.!


Dia merangkak naik ke atas tempat tidur, lalu


mendaratkan ciuman lembut di bibir Agra


setelah itu cepat-cepat turun. Pagi ini dia


akan membuat sarapan spesial untuk Agra.


Kiran melangkah keluar kamar meninggalkan


Agra yang masih terlelap dalam tidur nya.


"Selamat pagi Nona Muda..!"


Kiran tertegun, menatap Tata yang sudah


bersiaga di depan pintu kamar, membungkuk


rendah dengan raut wajah penuh semangat.


"Selamat pagi Tata..hari ini aku akan membuat


sarapan sendiri, tolong bantu siapkan bahan-


bahannya ya..!"


Sambut Kiran dengan senyum seribu watt nya


sambil berjalan ringan penuh keceriaan. Tata


terdiam sebentar, menatap kearah Kiran yang


sudah masuk ke dalam lift. Hari ini ada yang


begitu berbeda dari aura wajah Nona Muda


nya itu, tampak sangat segar dan bercahaya.


"Hei.. Tata.. apa yang kau tunggu.?"


Tegur Kiran saat dia sudah berdiri di dalam lift.


Tata tersipu malu, menundukkan kepala sembari


berjalan mengikuti Nona nya masuk ke dalam lift.


"Nona mau memasak dimana..?"


Tanya Tata mencoba mencuri pandang kearah


Kiran yang sedang membuka ponselnya karena


ada banyak pesan masuk di sana.


"Di dapur besar saja..Aku akan membuat


sarapan untuk Eyang juga.."


"Baik Nona sesuai keinginan anda..!"


Kiran tersenyum lembut. Tidak lama keduanya


sudah keluar dari lift langsung menuju ke ruang


belakang dimana dapur besar berada. Semua


pelayan yang berada di setiap sudut ruangan


langsung menyapanya dengan senang penuh


hormat seraya membungkukan badan. Dengan


ramah dan lembut Kiran membalas sapaan


mereka semua membuat para pelayan semakin


bertambah semangat menjalani pekerjaannya.


Tiba di dapur besar barisan pelayan dan koki


yang bertugas di sana langsung menyambut


nya dengan senang setengah terkejut melihat


kemunculan nya di sana.


"Apa Nona mau saya buatkan sesuatu..?"


Tanya koki kepala sambil maju mendekat.


"Tidak, untuk sekarang biarkan saya menguasai


tempat ini.! kalian hanya boleh membantu saja.


Tidak boleh menginterupsi..!"


Jelas Kiran membuat semua orang tergugu,


terdiam di tempat dengan wajah bengong.


"Lakukan apa yang Nona Muda katakan.!"


Perintah Tata dengan wajah sedikit kesal pada


barisan bawahnya itu.


"Siap laksanakan wakil kepala..!"


Serempak mereka sambil membungkuk. Kiran


hanya bisa tersenyum geli. Dan mulailah satu


kegiatan heboh di dapur itu. Karena ternyata


Kiran juga membuatkan sesuatu yang spesial


untuk di santap oleh semua pelayan yang ada


di istana itu. Jadinya acara masak memasak


itu menjadi sebuah kegiatan besar dan heboh.


Di tengah kehebohan Eyang Putri muncul di


dapur membuat suasana bertambah gaduh.


"Eyang duduk manis saja di sini ya..! Kiran


akan segera menyelesaikan semua nya.."


Ujar Kiran sambil membimbing Eyang putri


untuk duduk di kursi meja makan besar yang


ada di tengah ruangan dapur yang teramat


luas itu. Eyang Putri tampak tersenyum.


"Baiklah..aku hanya akan melihat mu saja.


Tapi buatkan dulu aku susu jahe.!"


"Tentu saja, sesuai permintaan mu Eyang.."


Sambut Kiran dengan tersenyum lembut. Dia


segera membuatkan apa yang di inginkan


oleh nenek mertua nya itu. Kegiatan pagi itu


kembali berlanjut di saksikan oleh Eyang putri


sambil menikmati susu jahe nya yang terasa


begitu nikmat. Bibir wanita sepuh yang sudah


keriput itu tiada henti mengulas senyum.


Sampai satu jam kemudian..


"Tuan Muda.. selamat pagi..!"


Sapa beberapa pelayan yang berjaga di depan


pintu membuat semua orang terkejut melihat kemunculan Agra di tempat itu yang selama ini


hampir tidak pernah di datangi nya. Agra terlihat


masih mengenakkan jubah tidurnya, tampak


nya dia baru saja terbangun dari tidurnya. Para


pelayan dan koki termasuk juga Tata langsung membungkukan badan.


Mata Agra menatap lurus mengunci sosok


bidadari cantik yang sedang berkutat dengan


segala kesenangan nya. Sedang Eyang Putri


terlihat acuh dan santai di tempat duduknya,


seolah tidak peduli dengan aura kekesalan


yang kini keluar dari raut wajah cucu nya itu.


"Sayang..kau sudah bangun..? apa mau aku


buatkan kopi sekarang.?"


Kiran mendekat sambil mengelap tangannya


dengan senyum secerah mentari. Wajah Agra


tampak datar dengan tatapan yang terlihat


begitu kesal membuat Kiran menautkan alis


nya bingung. Begitu Kiran ada di hadapannya


tanpa kata Agra langsung mengangkat tubuh


Kiran ala bridal style sambil kemudian berbalik


melangkah acuh keluar dari ruangan itu tidak


peduli seruan Kiran yang terkejut campur malu.


Eyang Putri menghela napas panjang dengan


bibir tersenyum geli. Sedang para pelayan hanya


bisa melongo di tempat, merasa tidak percaya


dengan apa yang di lakukan oleh Tuan Muda.


"Sayang..apa yang kau lakukan.? apa kau tidak


lihat di sana ada Eyang dan para pelayan..!"


Kesal Kiran sambil melilitkan tangannya


di leher Agra setelah upaya nya untuk


turun dari pangkuan suaminya itu tidak


membuahkan hasil.


"Kenapa kamu keluar kamar begitu saja.?"


Geram Agra dengan tatapan lurus ke depan.


Para pelayan yang mereka lewati langsung


minggir dan berdiri menunduk di sisi ruangan.


"Aku ingin membuat sarapan pagi untuk


kita sayang..!"


"Kamu bisa membuat nya di dapur rumah


utama, tidak di dapur besar.!"


"Aku ingin sekalian membuatkan makanan


untuk semua orang.!"


"Kau tidak perlu terlalu baik.! kamu di sini


adalah ratu, bukan pembantu.!"


Kiran menatap jengah wajah dingin Agra


yang tidak sekalipun melihat kearah nya.


"Kau terlalu berlebihan sayang.! aku hanya


ingin menyenangkan semua orang saja.!"


"Aku tidak suka kamu menghabiskan waktu


yang tidak jelas sampai mengabaikan ku.!"


"Baiklah..lain kali aku akan meminta izin


terlebih dahulu padamu.."


Lirih Kiran sambil menatap lekat wajah kesal


Agra kemudian merebahkan kepalanya di


dada bidang suaminya itu. Agra mempererat


dekapan nya seraya mencium pelipis Kiran.


Keduanya kini sampai di dalam kamar. Agra


langsung membaringkan tubuh Kiran di atas


tempat tidur. Kemudian tanpa menunggu lagi


dia segera melempar jubah nya ke sembarang


arah. Kiran melebarkan matanya saat melihat


Agra melucuti celana putih yang di pakainya.


"Sa-sayaang.. kamu mau apa..?"


Kiran mundur beringsut ke ujung tempat tidur


dengan tatapan tegang kearah Agra yang kini


merangkak naik ke atas tempat tidur langsung


mengurung dan menindih tubuh nya.


"Kenapa harus bertanya sayang.? semalam


aku sudah membiarkan dirimu bebas. Tapi


tidak dengan pagi ini..!"


Desis Agra dengan suara berat dan tatapan


yang kini sudah terlihat mendamba.


"Tapi..aku sudah mandi sayang..aku juga..!"


"Aku tidak menerima alasan sayangku.."


Agra langsung menyergap bibir ranum Kiran,


******* nya lembut memberikan sensasi


hangat dan membuai yang membuat semua


saraf dalam tubuh Kiran melemah, akhirnya


dia ikut terhanyut dalam semua kenikmatan


sentuhan memabukkan suaminya itu.


Dalam waktu sekejap tubuh mereka berdua


sudah dalam keadaan polos. Dan yang bisa


di lakukan Kiran saat ini hanyalah mendesah


serta mengerang nikmat saat Agra memberikan


sentuhan bibir nya di semua bagian tubuh


nya tanpa terlewat.


"Ohhh.. Agra..kau benar-benar membuatku


tidak berdaya..Kau menyiksaku.!"


"Ini adalah resiko yang harus kamu tanggung


karena memiliki suami seperti ku..!"


Bisik Agra sambil kemudian memposisikan


dirinya untuk bersiap melakukan penyatuan.


"Emmhh.. sayang...apa kau bisa lebih pelan


sedikit.. tubuh ku masih lelah.. aakhh..!"


Racau Kiran saat Agra mulai memasuki tubuh


nya dengan hentakkan yang cukup keras karena


desakan gairah yang sudah mencapai ubun-ubun.


Agra malah bertambah buas dan liar membuat


Kiran menjerit kecil dan menggelinjang hebat.


Keduanya kini larut dalam pergumulan panas di


pagi hari. Suasana di dalam kamar berubah


membara di warnai oleh suara-suara erotis


penuh dengan kenikmatan dan kepuasan.


------- -------


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 lebih..


Agra menatap tenang wajah cantik Kiran yang


kini sedang berada di hadapannya, memasang


dasi dengan sabar dan telaten. Wajah Kiran


terlihat sedikit pucat namun tidak mengurangi


pesona kecantikan nya yang selalu membuat


Agra tergila-gila. Bahkan semakin kesini rasa


cintanya semakin menenggelamkan dirinya


ke dasar, nyaris membuat dia terobsesi dan


terlalu posesif.


Tapi bagi Agra, Kiran tetaplah butuh sedikit


kebebasan dan waktu untuk dirinya sendiri.


Dia tidak bisa terlalu mengekang ataupun


menekan nya. Yang dia inginkan adalah Kiran


selalu merasa nyaman dan bahagia hidup


bersamanya, tanpa merasa terkurung atau


pun terpenjara..dia tidak ingin apa yang


terjadi pada ibunya terjadi juga pada Kiran.


"Sayang.. apa kau benar-benar memerlukan


kepala sekretaris baru.? bukankah sudah ada


Erik dan Bara ?"


Agra menatap tajam wajah Kiran dengan


sorot mata penuh selidik. Seringai kecil kini


terukir di sudut bibirnya.


"Ada apa sayang..? kau tidak suka dengan


sekretaris baru itu.?"


Wajah Kiran langsung saja memerah. Dia


mengangkat wajah nya, kini mereka saling


menatap kuat.


"Dia menginginkan mu.! aku tidak suka dengan


orang yang terlalu terobsesi.!"


Bibir Agra semakin terangkat, raut wajah nya


terlihat bersemangat.


"Semua wanita yang melihat ku akan langsung


menginginkan ku Kiran..!"


Kiran mengerucutkan bibirnya gerah dengan


rasa percaya diri suaminya itu.


"Perasaan aku tidak begitu.! biasa saja tuh.!"


"Karena itulah kamu mampu membuat ku


tergila-gila padamu.!"


Desis Agra sambil menarik pinggang ramping


Kiran hingga tubuh mereka kini merapat.


Wajah mereka mendekat, hanya menyisakan


beberapa inci saja. Tatapan keduanya semakin


terpaut dan terkunci di bibir masing-masing.


"Sekretaris baru itu akan melakukan apapun


untuk bisa memiliki mu..Daya tarik mu terlalu berbahaya bagi wanita di sekitar mu sayang..!"


Lirih Kiran dengan suara sedikit bergetar


karena kini mereka sudah satu napas, aroma


wangi mint segar yang keluar dari mulut


mereka membuat tubuh keduanya memanas.


"Apa kau meragukan kesetiaan ku sayang.?


Kau tidak percaya padaku..?"


"Aku percaya padamu..Aku juga percaya pada


perasaan mu padaku.! tapi wanita adalah racun.


Apalagi wanita itu memiliki fisik yang sempurna.!"


"Tapi tidak ada yang mampu mengalahkan


pesona kecantikanmu Kiran..! kau adalah


racun yang sesungguhnya..!"


Kiran terhenyak, dia memundurkan wajahnya.


Mata mereka semakin terpaut dalam. Seringai


senyum tipis terukir di bibir Agra.


"Aku tidak ingin ada lagi lalat pengganggu


di sekitar mu..! "


Desis Kiran sambil mengelus lembut wajah


Agra yang semakin menatap nya kuat.


"Terus..apa yang kau inginkan..? kau mau


aku memecat mereka semua..?"


"Ya..aku menginginkan itu.!"


Tegas Kiran dengan wajah dibuat seserius


mungkin di sertai tatapan meyakinkan.


"Oke, lakukan lah..! kau perintahkan Bara


untuk segera memecat mereka semua..!"


Kiran melebarkan matanya, dia hanya bercanda


saja barusan, tapi reaksi Agra tampaknya tidak


main-main. Kiran menggeleng cepat.


"Tidak.! aku hanya bercanda.! Aku sangat tahu


perusahaan mu memerlukan tenaga sekretaris


yang cukup banyak dan profesional di bidangnya."


"Keinginan mu adalah sesuatu yang mutlak


untukku Kiran. Lakukan apapun yang kau


inginkan, asal kau senang.!"


"Aku tidak serius.! Kalau aku melakukan nya,


berarti aku meragukan kesetiaan mu padaku.!


Tapi aku akan mengawasi sektretaris baru itu."


Agra kini tidak bisa lagi menahan senyumnya.


Dia benar-benar puas dengan analisa Kiran.


Tangannya kembali menarik pinggang Kiran


hingga kini wajah mereka benar-benar saling


bersentuhan.


"Jangan meragukan ku sayang..Wanita lain


hanyalah prajurit lebah yang tidak berguna,


sedang kau adalah ratu yang sangat berharga."


Bisik Agra sambil kemudian memagut bibir


Kiran dengan lembut dan memuja. Keduanya


memejamkan mata seiring terhanyut dalam


lembut dan manisnya sentuhan bibir mereka


yang semakin kesini semakin mengeluarkan


madu yang membuat mereka kecanduan..


------- ------


Sarapan pagi kali ini entah kenapa terasa


begitu istimewa. Menu yang di buat oleh Kiran


sungguh menggugah selera membuat wajah


Eyang Putri dan Agra berbinar penuh semangat.


Selain itu para pelayan dan pekerja juga ikut


kebagian menikmati sarapan pagi yang sangat


istimewa karena di buat oleh tangan Nona


Muda, sang penguasa istana Hadiningrat.


Dengan cekatan dan telaten Kiran melayani


kedua anggota keluarga nya itu membuat


para pelayan seakan menjadi orang-orang


yang tidak berguna.


"Mmm.. masakan mu benar-benar lezat..


Kau punya tangan ajaib Kiran.."


Puji Eyang Putri tulus. Dia sampai melanggar


aturannya sendiri yang tidak pernah berbicara


selama acara makan berlangsung. Kiran dan


Agra saling pandang, kembali menatap Eyang


putri yang terlihat acuh. Namun ada yang aneh


dengan tubuh Kiran, sepertinya dia sekarang


ini kurang berminat dengan yang namanya


nasi. Dia sedikit tersendat dan lebih banyak


menjeda makan nya.


Menjelang akhir sarapan Pak Hans tiba-tiba


muncul ke dalam ruangan dengan wajah yang


terlihat sangat pucat dan tubuh yang gemetar.


Dia langsung membungkuk dalam di hadapan


Eyang Putri yang mengernyitkan alisnya.


"Ada apa Hans..? apa terjadi sesuatu..?"


"Ampun Nyonya Besar...di depan ada..ada..


tamu..!"


Agra menatap tajam wajah Pak Hans yang


terlihat sangat tegang dan gugup.


"Bicara yang jelas Hans..!"


Sentak Agra sambil mengepalkan tangannya


dengan tatapan yang menghunus.


"Ampuni saya Tuan Muda... ada tamu penting


yang datang.. mereka.. mereka adalah.."


"Ayah...ibu...!"


Kiran berseru dengan wajah yang terkejut


setengah mati. Semua orang kini menganga


dan membeku di tempat.


Di ambang pintu ruangan samping kini telah


berdiri dua sosok yang tidak di sangka-sangka


akan datang secepat ini. Semua orang terdiam,


masih mencoba meyakinkan penglihatannya. Dan..beberapa saat kemudian Kiran berlari


menyerbu kearah keduanya.


"Ibu.. apakah aku sedang bermimpi..?"


Lirih Kiran di tengah isak tangisnya yang tidak


tertahan. Sosok wanita setengah baya yang


masih terlihat sangat cantik itu memeluk dan


membelai rambut indah Kiran penuh kasih


sayang dengan deraian air mata.


"Ini semua nyata sayang..kami sengaja


datang lebih cepat karena tidak sabar ingin


segera berkumpul dengan kalian..!"


Ucap sosok lembut bersahaja itu yang tiada


lain adalah Nyonya Arindha dan Tuan Hasimoto.


"Aku bahagia sekali Bu..sungguh ini adalah


sebuah kejutan besar untuk kami.."


Kiran semakin mempererat pelukannya. Tuan


Hasimoto menatap tenang menantunya itu


seraya mengusap lembut rambutnya.


Agra beranjak dari duduknya menghampiri


mereka kemudian berangkulan dengan sang


ayah. Keduanya saling menepuk punggung


penuh rasa haru dan suka cita.


"Selamat datang di istanaku..!"


Agra berucap pelan masih merangkul ayah nya.


Sementara...reaksi Eyang Putri saat ini tampak


datar. Matanya menatap tajam ke arah dua


orang yang sudah bertahun-tahun lamanya


berusaha di lupakan, namun sampai detik ini


ikatan itu tidak pernah lepas dari bathin nya.


Tidak lama dia bangkit, meraih tongkat nya


kemudian beranjak dari duduknya.


"Mami...!"


Wanita tua itu menghentikan langkahnya,


diam mematung di tempat dengan posisi


tubuh membelakangi. Nyonya Yuri mendekat


dengan tubuh bergetar menahan tangis yang


sudah memenuhi dadanya.


Dia segera duduk bersimpuh di hadapan


Eyang Putri yang tetap datar tanpa ekspresi.


"Ampuni saya.. Mami.. ampuni Arindha..!"


Lirih Nyonya Yuri sembari menunduk dalam


di hadapan Eyang Putri. Tuan Hasimoto tampak


sedikit bereaksi tidak suka dengan apa yang


di perbuat oleh istri nya itu tapi Agra menahan


tangan nya sambil menggeleng kuat.


Eyang Putri menarik napas dalam-dalam,


kemudian dia mengusap lembut rambut


Nyonya Yuri setelah itu kembali melangkah


meninggalkan ruangan itu di iringi tatapan


semua orang yang hanya bisa menghela


napas panjang dan berat....


\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....