Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
76. Candle Light Dinner


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Agra tersenyum puas saat dia baru saja selesai


membuatkan hidangan sarapan pagi istimewa


untuk sang istri tercinta, yes semuanya ready.


Roti panggang spesial, di tambah salad sayur


di lengkapi jus mangga yang segar. Pak Hans


dan Tata ikut senang melihatnya.


"Semuanya sudah siap sayang..."


Agra tertegun saat melihat kearah Kiran, raut


wajahnya langsung berubah kecut, ternyata


istrinya itu tengah tertidur di meja pantry.


"Sepertinya kau sangat kelelahan sayang.."


Bisik Agra di telinga Kiran sambil duduk di


sebelahnya, kemudian mengelus pipi putih


mulus nya, dan memandangi wajah elok


itu penuh cinta.


"Tata..bawakan sarapannya ke ruang makan..!"


"Baik Tuan.."


Tata melirik pada dua pelayan yang langsung


mengangguk, dengan sigap dan cekatan para


pelayan itu bergerak tanpa suara.


Agra mendaratkan ciuman mesra di bibir Kiran


membuat istrinya itu membuka mata terbangun


kemudian menatap lembut wajah Agra yang di


hiasi butiran keringat di dahinya.


"Apa sudah selesai sayang..?"


Dia tampak bersemangat, kembali duduk tegak


sambil meregangkan otot lehernya yang terasa


sedikit kaku. Agra tersenyum tipis seraya mengangguk.


"Semuanya sudah siap sesuai dengan pesanan


mu Nona. Ayo sekarang kau harus mencicipinya..!"


Dengan enteng Agra mengangkat tubuh Kiran


di bawa masuk ke ruang makan yang ada di


sebelah dapur. Ruangan ini memiliki ukuran


cukup luas menyambung dengan taman indah


di sebelahnya. Namun hanya ada meja makan


ukuran sedang dengan dua kursi saja di sini.


Mata Kiran tampak berbinar melihat hidangan


istimewa buatan suaminya itu. Dia kembali


menatap lekat wajah Agra, lalu mengusap


lembut keringat yang ada di dahinya.


"Makasih ya sayang..kau sudah mengabulkan


keinginanku..Kau juga sudah susah payah


membuatkannya.."


"Apapun yang kau inginkan..aku akan berusaha


untuk memenuhinya..!"


Kiran tersenyum lembut penuh rasa haru.


Perutnya saat ini sudah keroncongan.


"Ayo sekarang makanlah..!"


Agra segera menyuapkan potongan roti ke


mulut Kiran yang menerimanya dengan senang.


"Mmhh..ini enak sekali sayang. Ternyata kau


benar-benar pandai di segala bidang ya."


Puji Kiran sambil menikmati makanan nya


penuh perasaan. Agra tersenyum puas, hati


nya di penuhi oleh kehangatan saat melihat


Kiran begitu menikmati makanan buatannya.


"Kalau begitu kau harus menghabiskan nya.


Tubuhmu perlu asupan makanan lebih saat


ini agar calon bayi kita tumbuh dengan baik.."


Ujar Agra di sambut anggukan kepala Kiran.


"Tapi kau juga harus makan sayang.. bukan


hanya aku yang perlu energi, kau juga lebih


membutuhkan nya.."


Kiran balas menyuapi Agra yang langsung


menerimanya. Akhirnya mereka berdua


menikmati sarapan nya penuh ketenangan


di warnai kemesraan dan kehangatan.


"Sayang.. apa kita bisa pergi ke desa Girilaya.


Aku kangen masakan nya mbak Rasmi.."


Agra langsung menghentikan makannya,


menatap tajam wajah Kiran yang terlihat


acuh namun serius.


"Kau sedang mengandung sayang.. Tidak


bisa bepergian jauh apalagi naik pesawat.!"


Kiran cemberut, dia memang menyadari hal


itu, tapi keinginannya untuk datang ke desa


yang cukup memberinya kesan mendalam


itu sangatlah kuat.


"Aku tidak sempat berpamitan pada Om Badar


dan yang lainnya. Aku juga ingin menikmati


keindahan desa itu..!"


Agra merenung, bagaimana cara nya agar


keinginan kesayangan nya ini terwujud tanpa


menimbulkan masalah pada kandungannya.


"Bagaimana kalau kita pergi kesana setelah


kandungan mu lebih kuat..?"


Mata Kiran berbinar senang, dia mengangguk


antusias.


"Baiklah..aku yakin kandunganku ini kuat..!


jadi kita bisa pergi secepatnya..!"


"Apa kau tidak ingin pergi berbulan madu.?"


Uhukk..!


Kiran tersedak membuat Agra panik, pak Hans


juga ikutan terkejut. Agra cepat-cepat menepuk


halus pundak Kiran, sementara pak Hans maju


mengulurkan segelas air putih.


Setelah cukup tenang Kiran menatap kesal


kearah Agra yang menggaruk tengkuknya asal


dengan wajah merasa sedikit bersalah.


"Setiap hari adalah bulan madu bagi kita..! tidak


perlu pergi kemanapun.! Semua sudah tersedia


di istana mu ini, apa yang ingin aku lihat lagi.?"


Ujar Kiran sambil menikmati salad sayur


istimewa buatan sang suami.


"Aku hanya merasa kau belum menikmati


kebahagiaan yang sesungguhnya..!"


Kiran kembali menatap lembut wajah Agra,


kemudian mengusap punggung tangan nya.


"Aku sudah sangat bahagia sayang.. asalkan


kau selalu ada di sisiku maka tidak ada yang


aku inginkan lagi.. Sekarang lebih baik kita


fokus saja pada calon bayi kita.."


Agra tersenyum tenang, sungguh dia sangat


bersyukur memiliki seorang Kiran, dia sosok


yang sangat sederhana dan tidak neko-neko.


"Nona..ada tamu spesial yang datang khusus


untuk anda..!"


Tata muncul ke dalam ruangan kemudian


membungkuk hormat di hadapan mereka.


"Ibuu..."


Kiran berseru dengan mata melebar tidak


percaya pada apa yang di lihatnya. Sosok


bersahaja dengan wajah ceria kini sedang


berdiri di ambang pintu. Kiran berhambur


ke dalam pelukan Sang bunda, Nyonya Amelia.


"Kiran sayang...selamat atas kehamilanmu.


Ibu sangat bahagia saat mendengar nya. "


Keduanya saling berpelukan erat, Agra berdiri


memperhatikan kedua anak dan ibu yang


sedang melepas rindu itu.


"Kiran kangen sama ibu..apa ibu akan tinggal


di sini sampai acara resepsi nanti..?"


Kiran melepaskan pelukannya, Nyonya Amelia


dan Agra tampak saling menundukkan kepala.


"Seperti nya begitu..Ibu di jemput langsung


oleh supir pribadi Eyang Putri..!"


"Benarkah..? Alhamdulillah kalau begitu jadi


Kiran bisa bersama-sama dengan ibu dan


yang lainnya sepuasnya..!"


"Iya sayang..ibu juga ingin ikut merawatmu.


Ibu akan membuatkan makanan apapun


yang kamu inginkan..!"


"Tentu saja..Itu yang aku inginkan..! Ayo aku


akan mengantar ibu menemui Eyang..!"


Seolah lupa dengan keberadaan sang suami


Kiran kini menggelayuti lengan ibunya di ajak


berjalan menuju ke luar ruangan. Sementara


Agra hanya bisa mematung di tempat dengan


wajah yang sudah berubah membeku.


------- -------


Kiran lagi-lagi mendaratkan ciuman mesra


di bibir Agra sebagai tanda permintaan maaf


atas keteledorannya tadi yang tanpa sengaja


telah mengacuhkan suaminya itu karena dia


terlalu senang bisa bertemu dan berkumpul


dengan sang ibu. Namun tampaknya Agra


masih setia dengan tampang dingin dan


raut kekesalan nya.


Saat ini Kiran sedang memasangkan dasi


dileher Agra setelah suaminya itu selesai


memakai setelan resminya yang selalu saja


menampakkan sosok gagah paripurna nya.


"Maafkan aku sayang..aku excited banget


dengan kedatangan ibu.. Bukan maksudku


untuk mengabaikan mu. Sungguh..."


"Tapi kenyataannya memang begitu..!"


Ketus Agra memalingkan wajahnya acuh.


Kiran tersenyum lembut , meraup wajah


sempurna Agra agar dia menatap dirinya.


"Sekali lagi maaf..aku tidak akan mengulangi


nya, aku kangen banget sama ibu soalnya."


Keduanya saling menatap kuat, perlahan


Agra mengangkat dagu Kiran di dekatkan


ke wajahnya sampai bibir mereka kini


bersentuhan lembut.


"Aku tidak suka kau mengabaikan ku Kiran.


Perhatian mu hanya boleh tertuju pada ku.!"


"Dia ibuku sayang, tolong jangan egois. Tapi


kau adalah segalanya bagiku..Jadi sekarang


jangan marah lagi ya..!"


Rayu Kiran sambil mengalungkan tangannya


di leher kokoh Agra yang balas menarik kuat


pinggangnya hingga tubuh mereka merapat.


"Kau harus memberiku kompensasi nanti


malam untuk semua kecerobohan mu ini..!"


Kiran memundurkan wajahnya dengan tatapan


tidak suka. Tapi Agra malah menyambar bibir


nya, ********** rakus. Tidak terelakkan lagi


keduanya larut dalam buaian kelembutan dan


kehangatan bibir mereka yang selalu saja manis.


Tidak lama keduanya turun ke lantai bawah


dengan bergandengan tangan mesra. Kiran


akan mengantar Agra ke pintu utama.


"Sayang..mulai besok akan ada ritual pingitan..!"


Agra menghentikan langkahnya seketika.


Wajahnya langsung berubah panik. Mereka


berdiri mematung di ruang depan.


"Apa yang akan terjadi..?"


"Kita tidak boleh saling bertemu untuk 2 hari


ke depan, dalam rangka penyucian hati dan


pikiran.. jadi kau tidak..."


"Tidak bisa..! aku tidak akan bisa..!"


Agra memotong cepat, keduanya kini saling


pandang kuat. Jelas sekali sorot mata Agra


menyiratkan keberatannya.


"Tapi ini terpaksa harus di lakukan sayang.."


"Kiran.. bukankah kamu tahu kalau aku tidak


bisa jauh-jauh darimu..!"


"Hanya dua hari saja sayang..Aku mohon


mengertilah. Ini untuk kebaikan kita juga.."


"Apanya yang baik.? itu adalah penyiksaan


bagiku Kiran..!"


"Kita akan bertemu dua hari setelahnya. Atau


kau lebih memilih aku di asing kan di rumah


ayah..?"


Wajah Agra tampak semakin dingin. Dengan


cepat dia mendekap erat tubuh Kiran.


"Ini sesuatu yang sangat berat bagiku..! Dua


hari aku tidak akan bisa bernapas lega..!"


"Jangan berlebihan sayang..Aku masih ada


di tempat ini, bersamamu.."


"Tapi aku tidak akan bisa melihatmu.. tidak


bisa menyentuh mu..!"


"Kau benar-benar berlebihan..! dia tidak akan


kemana-mana..! dia di bawah pengawasan ku.!"


Agra dan Kiran melirik asal suara, Eyang Putri


kini sudah berdiri tidak jauh dari mereka di


temani oleh Nyonya Yuri dan para pelayan


"Eyang..apa tidak bisa di batalkan semua


ritual yang tidak masuk akal ini..?"


"Apanya yang tidak masuk akal.?"


Tatapan Eyang Putri tampak tidak suka. Agra


menghembuskan napas kasar membuang


kekesalan yang kini memenuhi dadanya.


"Kami sudah menikah Eyang.. jadi untuk apa


melakukan ritual pingitan ini.?"


Keluh Agra sambil merengkuh bahu Kiran


kemudian merangkulnya erat.


"Ini harus di lakukan, walaupun kalian sudah


menikah. Kalian harus sama-sama merenung


dan menenangkan diri. Kehidupan kalian ke


depan masih sangatlah panjang..!"


"Aku tahu Eyang..tapi untuk semua ini rasanya


itu diperlukan lagi saat ini..!"


"Jangan membantahku..! Ikuti saja apa yang


aku perintahkan..! mulai hari ini juga dia akan


menjalankan berbagai ritual suci..!"


"Tapi Eyang..aku..!"


"Pergilah ke kantor mu..Kau benar-benar sudah


gila hanya karena cinta.! Sudah sana..Aku kesini


untuk menjemputnya..!"


Geram Eyang Putri sambil kemudian menarik


tangan Kiran yang di tahan oleh Agra. Kiran


menatap bergantian kedua Eyang dan cucu


itu yang kini sedang memperebutkan dirinya.


Sedang Nyonya Yuri hanya bisa menggeleng


bingung sekaligus merasa geli.


"Pergilah sayang.. Masih ada nanti malam


untuk kita bersama..!"


Ujar Kiran dengan suara yang sangat lembut


hingga mampu mendinginkan hati Agra yang


tengah di landa kekesalan.


"Baiklah..aku akan cepat kembali.!"


Sahut Agra sambil kemudian melepaskan


tangan Kiran lalu mencium keningnya lama.


Akhirnya dia berangkat ke kantor dengan hati


dan perasaan dongkol terhadap segala aturan


aneh yang di terapkan sang Eyang..


****** ******


Hari ini Kiran mulai menjalankan berbagai ritual


dan tradisi sebelum resepsi. Di mulai dengan


perawatan seluruh tubuh yang di lakukan oleh


para ahli yang sengaja di datangkan dari salon


kecantikan ternama. Kemudian pemijatan dan


terapi perawatan kehamilan khusus oleh para


terapis profesional.


Sungguh..hari ini Kiran begitu di manjakan. Dia


juga merasa sangat bahagia karena di kelilingi


oleh orang-orang terdekat yang sangat sayang


dan mencintainya. Nyonya Amelia sudah terlihat


akrab dan dan dekat dengan Nyonya Yuri, kedua


nya selalu kompak dalam melakukan berbagai


hal yang berhubungan dengan Kiran.


Ini benar.. Kiran merasa Tuhan begitu baik dan


sayang pada dirinya hingga dia memperoleh


limpahan cinta dan kasih sayang yang begitu


membludak dan tak ternilai harganya.


"Besok..seharusnya kau mulai berpuasa..Tapi


karena kondisimu sedang berbadan dua , maka


akan di ganti dengan pengaturan makanan..!"


Ujar Eyang Putri seusai mereka melaksanakan


sholat isya berjamaah di mushola paviliun


belakang. Saat ini mereka baru saja selesai


melakukan doa bersama.


"Kalau harus puasa pun Kiran sepertinya bisa


Eyang.. Insya Allah kuat.."


"Tidak perlu, kalau kau melakukan nya akan


sedikit beresiko karena usia kandungan mu


masih di tahap awal."


"Itu benar sayang.. lebih baik kamu lakukan


pembatasan makanan saja. Kau hanya boleh


mengkonsumsi makanan yang sudah Eyang


tetapkan dan pilihkan."


Nyonya Yuri ikut berbicara. Kiran tampak


melirik kearah ibu sambung nya yang juga


mengganguk meyakinkan.


"Jangan khawatir..ibu sendiri yang akan


membuatkan makanan nya sayang.."


"Makasih ya Bu..aku sangat bahagia karena


ibu ada di sini.."


Lirih Kiran seraya memeluk erat tubuh sang


ibu penuh rasa tentram. Eyang Putri menatap


tenang kedua anak dan ibu itu, walaupun tidak sedarah namun ikatan bathin diantara kedua


nya sangat lah kuat. Sedangkan Nyonya Yuri


hanya bisa menatap haru kearah mereka.


"Nona Muda.. mohon maaf Tuan Muda sudah


menuggu anda di luar.."


Tata muncul ke dalam ruang mushola. Kiran


menatap Eyang Putri yang tampak mengedip


sambil mengibaskan tangannya. Wajah Kiran


langsung berbinar, sudah sejak tadi hatinya


tidak tenang karena Agra belum juga kembali


dari kantor padahal dia bilang akan kembali


sore hari.


"Eyang..ibu.. kalau begitu saya permisi.."


Dia membungkuk santun pada ketiga anggota


keluarganya tersebut kemudian melangkah


keluar ruangan bersama dengan Tata .


Kedua mata mereka bertemu dalam tatapan


penuh kerinduan, baru beberapa jam berpisah


tapi rasa rindu itu sudah meluap, bagaimana


kalau dua hari nanti. Agra menyandarkan tubuh


nya ke dinding ruangan di samping pintu dengan


posisi miring, kedua tangan di lipat di dada, kaki


nya menyilang. Itu adalah posisi manis sekaligus


dingin yang sangat di sukai oleh Kiran. Dadanya


langsung saja bergemuruh menahan gejolak


kerinduan yang sudah membuat jiwanya gelisah


dari tadi.


"Kenapa malam sekali pulangnya..?"


Yang keluar dari mulut Kiran malah nada suara


ketus campur kesal. Agra tampak acuh saja,


dia bergerak lalu meraih tubuh Kiran ke dalam


pelukannya. Untuk beberapa lama keduanya


terdiam saling memeluk.


"Aku sangat merindukanmu sayang.."


Bisik Agra dengan suara serak sensual yang


membuat bulu-bulu halus di tubuh Kiran


meremang seketika. Tangan Agra bergerak


menutupkan kain hitam ke mata Kiran yang


langsung terkejut dan berontak.


"Sayang..apa-apaan ini..? Kenapa mataku


di tutup..? "


Agra menahan gerakan Kiran yang ingin


membuka penutup matanya.


"Jangan di buka sebelum aku membukanya


sendiri..!"


Bisik Agra sambil kemudian mengangkat tubuh


Kiran di bawa berjalan meninggalkan tempat itu.


"Tapi sayang..ada apa ini, kenapa mataku


harus di tutup segala..?"


"Kau akan tahu nanti.. sabar sebentar.."


Kiran akhirnya terdiam melingkarkan tangan


nya di leher Agra yang mengecup lembut bibir


merah cherry nya.


Tidak lama mereka masuk ke dalam kamar.


Kiran hanya bisa terdiam kaku saat suaminya


itu melucuti pakaian santainya kemudian


menggantinya dengan entah pakaian seperti


apa karena dirinya di larang mengintip. Agra


juga menggulung asal rambut nya. Setelah


itu dia kembali mengangkat tubuh Kiran di


bawa berjalan ke area yang lebih tinggi.


Setelah beberapa saat akhirnya dengan hati-


hati Agra menurunkan Kiran dari pangkuannya.


Kiran berdiri dengan perasaan bingung campur penasaran serta rasa tidak tahan.


"Sayang..apa aku sudah boleh membuka


penutup matanya sekarang..?"


Agra mendekat, kemudian dia membuka kain


penutup mata Kiran.


"Selamat datang bidadari ku..!"


Agra langsung membungkuk di hadapan Kiran


dengan pose seorang bangsawan terhormat


yang sedang memberikan salam penghormatan.


Tangan kiri mendekap dada sedang tangan


kanan di rentangkan lurus mengarah pada


satu titik yang saat ini mampu membuat mata


Kiran membulat sempurna. Di depan matanya


saat ini tersuguh pemandangan indah dan


memukau khas candle light dinner..!!


Kiran menutup mulutnya seraya melangkah


pelan dengan perasaan mengawang. Mereka


ada di rooftop yang telah di sulap menjadi


sebuah tempat makan malam yang begitu


indah dan romantis.


"Sa-sayaang..apa ini.? apa kau menyiapkan


semua ini..?"


Kiran terlihat begitu terpesona dengan apa


yang ada di hadapannya, matanya sampai


berkaca-kaca. Agra mendekat dari belakang


kemudian dengan gerakan halus dan lembut


dia melingkarkan sebuah kalung berlian indah


berharga fantastis ke leher jenjang Kiran yang


lagi-lagi hanya bisa bengong tak bisa berkata-


kata, hanya air matanya yang kini berbicara.


"Aku sengaja menyiapkan semua ini untuk


kita. Maafkan aku karena tidak bisa bersikap


romantis seperti laki-laki lain..!"


Agra berjongkok seraya mengulurkan sebuket


bunga cantik ke hadapan Kiran yang semakin


deras mengucurkan air matanya.


"Kenapa kau harus repot-repot menyiapkan


semua ini..? apa kau tahu.. cinta ku tidak


bisa di ukur dengan apapun..? Aku tidak


menginginkan semua ini sayang.."


Lirih Kiran sambil meraih bunga dan mendekap


nya di dada lalu menatap lekat wajah tampan


Agra yang masih lengkap dengan setelah resmi


nya. Dan dirinya saat ini sudah mengenakkan


sebuah gaun yang sangat indah warna maroon dengan model yang sedikit seksi karena bagian


bahunya terbuka hanya ada lilitan tali kecil


yang menghiasinya menambah kesan manis


dan menggoda. Bagian bawahnya juga terbuka


sampai setengah paha.


"Aku tahu kamu tidak menginginkan semua


ini, tapi hanya ini yang bisa mengekspresikan


rasa cintaku padamu..!"


Bisik Agra sambil kemudian membimbing


Kiran untuk duduk di kursi. Keduanya untuk


sejenak saling pandang lekat dengan sorot


mata yang sama-sama penuh cinta. Tidak


tahan dengan tatapan lembut Kiran, Agra


beranjak dari duduknya lalu meraih tubuh


Kiran di bawanya ke sudut tempat dimana


di sana ada satu ayunan besar yang sudah


beralaskan busa empuk.


"Maaf sayang..aku tidak akan bisa bertahan


sampai makan malam kita berakhir..."


Agra menggeram sambil kemudian mulai


mencumbu seluruh tubuh Kiran.


"Aakhh.. sayang.. hentikan..Kita sedang ada


di luar ruangan..oohhh.. Agraaa..."


Kiran berusaha meronta namun gairah yang


menguasai tubuh Agra sudah tidak bisa lagi


di kendalikan. Dengan gerakan cepat tangan


Agra menurunkan gaun Kiran.


"Agraa...kamu sangat nakal..!"


Kiran memekik tertahan, dia di buat tidak


berdaya ketika Agra sudah memasukinya


dan kenikmatan itu kini hadir menghanyutkan


keduanya hingga mampu menerbangkan


mereka ke atas awan di saksikan barisan


lilin indah dan kerlip bintang di langit...


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....