
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Agra tersenyum puas saat dia baru saja selesai
membuatkan hidangan sarapan pagi istimewa
untuk sang istri tercinta, yes semuanya ready.
Roti panggang spesial, di tambah salad sayur
di lengkapi jus mangga yang segar. Pak Hans
dan Tata ikut senang melihatnya.
"Semuanya sudah siap sayang..."
Agra tertegun saat melihat kearah Kiran, raut
wajahnya langsung berubah kecut, ternyata
istrinya itu tengah tertidur di meja pantry.
"Sepertinya kau sangat kelelahan sayang.."
Bisik Agra di telinga Kiran sambil duduk di
sebelahnya, kemudian mengelus pipi putih
mulus nya, dan memandangi wajah elok
itu penuh cinta.
"Tata..bawakan sarapannya ke ruang makan..!"
"Baik Tuan.."
Tata melirik pada dua pelayan yang langsung
mengangguk, dengan sigap dan cekatan para
pelayan itu bergerak tanpa suara.
Agra mendaratkan ciuman mesra di bibir Kiran
membuat istrinya itu membuka mata terbangun
kemudian menatap lembut wajah Agra yang di
hiasi butiran keringat di dahinya.
"Apa sudah selesai sayang..?"
Dia tampak bersemangat, kembali duduk tegak
sambil meregangkan otot lehernya yang terasa
sedikit kaku. Agra tersenyum tipis seraya mengangguk.
"Semuanya sudah siap sesuai dengan pesanan
mu Nona. Ayo sekarang kau harus mencicipinya..!"
Dengan enteng Agra mengangkat tubuh Kiran
di bawa masuk ke ruang makan yang ada di
sebelah dapur. Ruangan ini memiliki ukuran
cukup luas menyambung dengan taman indah
di sebelahnya. Namun hanya ada meja makan
ukuran sedang dengan dua kursi saja di sini.
Mata Kiran tampak berbinar melihat hidangan
istimewa buatan suaminya itu. Dia kembali
menatap lekat wajah Agra, lalu mengusap
lembut keringat yang ada di dahinya.
"Makasih ya sayang..kau sudah mengabulkan
keinginanku..Kau juga sudah susah payah
membuatkannya.."
"Apapun yang kau inginkan..aku akan berusaha
untuk memenuhinya..!"
Kiran tersenyum lembut penuh rasa haru.
Perutnya saat ini sudah keroncongan.
"Ayo sekarang makanlah..!"
Agra segera menyuapkan potongan roti ke
mulut Kiran yang menerimanya dengan senang.
"Mmhh..ini enak sekali sayang. Ternyata kau
benar-benar pandai di segala bidang ya."
Puji Kiran sambil menikmati makanan nya
penuh perasaan. Agra tersenyum puas, hati
nya di penuhi oleh kehangatan saat melihat
Kiran begitu menikmati makanan buatannya.
"Kalau begitu kau harus menghabiskan nya.
Tubuhmu perlu asupan makanan lebih saat
ini agar calon bayi kita tumbuh dengan baik.."
Ujar Agra di sambut anggukan kepala Kiran.
"Tapi kau juga harus makan sayang.. bukan
hanya aku yang perlu energi, kau juga lebih
membutuhkan nya.."
Kiran balas menyuapi Agra yang langsung
menerimanya. Akhirnya mereka berdua
menikmati sarapan nya penuh ketenangan
di warnai kemesraan dan kehangatan.
"Sayang.. apa kita bisa pergi ke desa Girilaya.
Aku kangen masakan nya mbak Rasmi.."
Agra langsung menghentikan makannya,
menatap tajam wajah Kiran yang terlihat
acuh namun serius.
"Kau sedang mengandung sayang.. Tidak
bisa bepergian jauh apalagi naik pesawat.!"
Kiran cemberut, dia memang menyadari hal
itu, tapi keinginannya untuk datang ke desa
yang cukup memberinya kesan mendalam
itu sangatlah kuat.
"Aku tidak sempat berpamitan pada Om Badar
dan yang lainnya. Aku juga ingin menikmati
keindahan desa itu..!"
Agra merenung, bagaimana cara nya agar
keinginan kesayangan nya ini terwujud tanpa
menimbulkan masalah pada kandungannya.
"Bagaimana kalau kita pergi kesana setelah
kandungan mu lebih kuat..?"
Mata Kiran berbinar senang, dia mengangguk
antusias.
"Baiklah..aku yakin kandunganku ini kuat..!
jadi kita bisa pergi secepatnya..!"
"Apa kau tidak ingin pergi berbulan madu.?"
Uhukk..!
Kiran tersedak membuat Agra panik, pak Hans
juga ikutan terkejut. Agra cepat-cepat menepuk
halus pundak Kiran, sementara pak Hans maju
mengulurkan segelas air putih.
Setelah cukup tenang Kiran menatap kesal
kearah Agra yang menggaruk tengkuknya asal
dengan wajah merasa sedikit bersalah.
"Setiap hari adalah bulan madu bagi kita..! tidak
perlu pergi kemanapun.! Semua sudah tersedia
di istana mu ini, apa yang ingin aku lihat lagi.?"
Ujar Kiran sambil menikmati salad sayur
istimewa buatan sang suami.
"Aku hanya merasa kau belum menikmati
kebahagiaan yang sesungguhnya..!"
Kiran kembali menatap lembut wajah Agra,
kemudian mengusap punggung tangan nya.
"Aku sudah sangat bahagia sayang.. asalkan
kau selalu ada di sisiku maka tidak ada yang
aku inginkan lagi.. Sekarang lebih baik kita
fokus saja pada calon bayi kita.."
Agra tersenyum tenang, sungguh dia sangat
bersyukur memiliki seorang Kiran, dia sosok
yang sangat sederhana dan tidak neko-neko.
"Nona..ada tamu spesial yang datang khusus
untuk anda..!"
Tata muncul ke dalam ruangan kemudian
membungkuk hormat di hadapan mereka.
"Ibuu..."
Kiran berseru dengan mata melebar tidak
percaya pada apa yang di lihatnya. Sosok
bersahaja dengan wajah ceria kini sedang
berdiri di ambang pintu. Kiran berhambur
ke dalam pelukan Sang bunda, Nyonya Amelia.
"Kiran sayang...selamat atas kehamilanmu.
Ibu sangat bahagia saat mendengar nya. "
Keduanya saling berpelukan erat, Agra berdiri
memperhatikan kedua anak dan ibu yang
sedang melepas rindu itu.
"Kiran kangen sama ibu..apa ibu akan tinggal
di sini sampai acara resepsi nanti..?"
Kiran melepaskan pelukannya, Nyonya Amelia
dan Agra tampak saling menundukkan kepala.
"Seperti nya begitu..Ibu di jemput langsung
oleh supir pribadi Eyang Putri..!"
"Benarkah..? Alhamdulillah kalau begitu jadi
Kiran bisa bersama-sama dengan ibu dan
yang lainnya sepuasnya..!"
"Iya sayang..ibu juga ingin ikut merawatmu.
Ibu akan membuatkan makanan apapun
yang kamu inginkan..!"
"Tentu saja..Itu yang aku inginkan..! Ayo aku
akan mengantar ibu menemui Eyang..!"
Seolah lupa dengan keberadaan sang suami
Kiran kini menggelayuti lengan ibunya di ajak
berjalan menuju ke luar ruangan. Sementara
Agra hanya bisa mematung di tempat dengan
wajah yang sudah berubah membeku.
------- -------
Kiran lagi-lagi mendaratkan ciuman mesra
di bibir Agra sebagai tanda permintaan maaf
atas keteledorannya tadi yang tanpa sengaja
telah mengacuhkan suaminya itu karena dia
terlalu senang bisa bertemu dan berkumpul
dengan sang ibu. Namun tampaknya Agra
masih setia dengan tampang dingin dan
raut kekesalan nya.
Saat ini Kiran sedang memasangkan dasi
dileher Agra setelah suaminya itu selesai
memakai setelan resminya yang selalu saja
menampakkan sosok gagah paripurna nya.
"Maafkan aku sayang..aku excited banget
dengan kedatangan ibu.. Bukan maksudku
untuk mengabaikan mu. Sungguh..."
"Tapi kenyataannya memang begitu..!"
Ketus Agra memalingkan wajahnya acuh.
Kiran tersenyum lembut , meraup wajah
sempurna Agra agar dia menatap dirinya.
"Sekali lagi maaf..aku tidak akan mengulangi
nya, aku kangen banget sama ibu soalnya."
Keduanya saling menatap kuat, perlahan
Agra mengangkat dagu Kiran di dekatkan
ke wajahnya sampai bibir mereka kini
bersentuhan lembut.
"Aku tidak suka kau mengabaikan ku Kiran.
Perhatian mu hanya boleh tertuju pada ku.!"
"Dia ibuku sayang, tolong jangan egois. Tapi
kau adalah segalanya bagiku..Jadi sekarang
jangan marah lagi ya..!"
Rayu Kiran sambil mengalungkan tangannya
di leher kokoh Agra yang balas menarik kuat
pinggangnya hingga tubuh mereka merapat.
"Kau harus memberiku kompensasi nanti
malam untuk semua kecerobohan mu ini..!"
Kiran memundurkan wajahnya dengan tatapan
tidak suka. Tapi Agra malah menyambar bibir
nya, ********** rakus. Tidak terelakkan lagi
keduanya larut dalam buaian kelembutan dan
kehangatan bibir mereka yang selalu saja manis.
Tidak lama keduanya turun ke lantai bawah
dengan bergandengan tangan mesra. Kiran
akan mengantar Agra ke pintu utama.
"Sayang..mulai besok akan ada ritual pingitan..!"
Agra menghentikan langkahnya seketika.
Wajahnya langsung berubah panik. Mereka
berdiri mematung di ruang depan.
"Apa yang akan terjadi..?"
"Kita tidak boleh saling bertemu untuk 2 hari
ke depan, dalam rangka penyucian hati dan
pikiran.. jadi kau tidak..."
"Tidak bisa..! aku tidak akan bisa..!"
Agra memotong cepat, keduanya kini saling
pandang kuat. Jelas sekali sorot mata Agra
menyiratkan keberatannya.
"Tapi ini terpaksa harus di lakukan sayang.."
"Kiran.. bukankah kamu tahu kalau aku tidak
bisa jauh-jauh darimu..!"
"Hanya dua hari saja sayang..Aku mohon
mengertilah. Ini untuk kebaikan kita juga.."
"Apanya yang baik.? itu adalah penyiksaan
bagiku Kiran..!"
"Kita akan bertemu dua hari setelahnya. Atau
kau lebih memilih aku di asing kan di rumah
ayah..?"
Wajah Agra tampak semakin dingin. Dengan
cepat dia mendekap erat tubuh Kiran.
"Ini sesuatu yang sangat berat bagiku..! Dua
hari aku tidak akan bisa bernapas lega..!"
"Jangan berlebihan sayang..Aku masih ada
di tempat ini, bersamamu.."
"Tapi aku tidak akan bisa melihatmu.. tidak
bisa menyentuh mu..!"
"Kau benar-benar berlebihan..! dia tidak akan
kemana-mana..! dia di bawah pengawasan ku.!"
Agra dan Kiran melirik asal suara, Eyang Putri
kini sudah berdiri tidak jauh dari mereka di
temani oleh Nyonya Yuri dan para pelayan
"Eyang..apa tidak bisa di batalkan semua
ritual yang tidak masuk akal ini..?"
"Apanya yang tidak masuk akal.?"
Tatapan Eyang Putri tampak tidak suka. Agra
menghembuskan napas kasar membuang
kekesalan yang kini memenuhi dadanya.
"Kami sudah menikah Eyang.. jadi untuk apa
melakukan ritual pingitan ini.?"
Keluh Agra sambil merengkuh bahu Kiran
kemudian merangkulnya erat.
"Ini harus di lakukan, walaupun kalian sudah
menikah. Kalian harus sama-sama merenung
dan menenangkan diri. Kehidupan kalian ke
depan masih sangatlah panjang..!"
"Aku tahu Eyang..tapi untuk semua ini rasanya
itu diperlukan lagi saat ini..!"
"Jangan membantahku..! Ikuti saja apa yang
aku perintahkan..! mulai hari ini juga dia akan
menjalankan berbagai ritual suci..!"
"Tapi Eyang..aku..!"
"Pergilah ke kantor mu..Kau benar-benar sudah
gila hanya karena cinta.! Sudah sana..Aku kesini
untuk menjemputnya..!"
Geram Eyang Putri sambil kemudian menarik
tangan Kiran yang di tahan oleh Agra. Kiran
menatap bergantian kedua Eyang dan cucu
itu yang kini sedang memperebutkan dirinya.
Sedang Nyonya Yuri hanya bisa menggeleng
bingung sekaligus merasa geli.
"Pergilah sayang.. Masih ada nanti malam
untuk kita bersama..!"
Ujar Kiran dengan suara yang sangat lembut
hingga mampu mendinginkan hati Agra yang
tengah di landa kekesalan.
"Baiklah..aku akan cepat kembali.!"
Sahut Agra sambil kemudian melepaskan
tangan Kiran lalu mencium keningnya lama.
Akhirnya dia berangkat ke kantor dengan hati
dan perasaan dongkol terhadap segala aturan
aneh yang di terapkan sang Eyang..
****** ******
Hari ini Kiran mulai menjalankan berbagai ritual
dan tradisi sebelum resepsi. Di mulai dengan
perawatan seluruh tubuh yang di lakukan oleh
para ahli yang sengaja di datangkan dari salon
kecantikan ternama. Kemudian pemijatan dan
terapi perawatan kehamilan khusus oleh para
terapis profesional.
Sungguh..hari ini Kiran begitu di manjakan. Dia
juga merasa sangat bahagia karena di kelilingi
oleh orang-orang terdekat yang sangat sayang
dan mencintainya. Nyonya Amelia sudah terlihat
akrab dan dan dekat dengan Nyonya Yuri, kedua
nya selalu kompak dalam melakukan berbagai
hal yang berhubungan dengan Kiran.
Ini benar.. Kiran merasa Tuhan begitu baik dan
sayang pada dirinya hingga dia memperoleh
limpahan cinta dan kasih sayang yang begitu
membludak dan tak ternilai harganya.
"Besok..seharusnya kau mulai berpuasa..Tapi
karena kondisimu sedang berbadan dua , maka
akan di ganti dengan pengaturan makanan..!"
Ujar Eyang Putri seusai mereka melaksanakan
sholat isya berjamaah di mushola paviliun
belakang. Saat ini mereka baru saja selesai
melakukan doa bersama.
"Kalau harus puasa pun Kiran sepertinya bisa
Eyang.. Insya Allah kuat.."
"Tidak perlu, kalau kau melakukan nya akan
sedikit beresiko karena usia kandungan mu
masih di tahap awal."
"Itu benar sayang.. lebih baik kamu lakukan
pembatasan makanan saja. Kau hanya boleh
mengkonsumsi makanan yang sudah Eyang
tetapkan dan pilihkan."
Nyonya Yuri ikut berbicara. Kiran tampak
melirik kearah ibu sambung nya yang juga
mengganguk meyakinkan.
"Jangan khawatir..ibu sendiri yang akan
membuatkan makanan nya sayang.."
"Makasih ya Bu..aku sangat bahagia karena
ibu ada di sini.."
Lirih Kiran seraya memeluk erat tubuh sang
ibu penuh rasa tentram. Eyang Putri menatap
tenang kedua anak dan ibu itu, walaupun tidak sedarah namun ikatan bathin diantara kedua
nya sangat lah kuat. Sedangkan Nyonya Yuri
hanya bisa menatap haru kearah mereka.
"Nona Muda.. mohon maaf Tuan Muda sudah
menuggu anda di luar.."
Tata muncul ke dalam ruang mushola. Kiran
menatap Eyang Putri yang tampak mengedip
sambil mengibaskan tangannya. Wajah Kiran
langsung berbinar, sudah sejak tadi hatinya
tidak tenang karena Agra belum juga kembali
dari kantor padahal dia bilang akan kembali
sore hari.
"Eyang..ibu.. kalau begitu saya permisi.."
Dia membungkuk santun pada ketiga anggota
keluarganya tersebut kemudian melangkah
keluar ruangan bersama dengan Tata .
Kedua mata mereka bertemu dalam tatapan
penuh kerinduan, baru beberapa jam berpisah
tapi rasa rindu itu sudah meluap, bagaimana
kalau dua hari nanti. Agra menyandarkan tubuh
nya ke dinding ruangan di samping pintu dengan
posisi miring, kedua tangan di lipat di dada, kaki
nya menyilang. Itu adalah posisi manis sekaligus
dingin yang sangat di sukai oleh Kiran. Dadanya
langsung saja bergemuruh menahan gejolak
kerinduan yang sudah membuat jiwanya gelisah
dari tadi.
"Kenapa malam sekali pulangnya..?"
Yang keluar dari mulut Kiran malah nada suara
ketus campur kesal. Agra tampak acuh saja,
dia bergerak lalu meraih tubuh Kiran ke dalam
pelukannya. Untuk beberapa lama keduanya
terdiam saling memeluk.
"Aku sangat merindukanmu sayang.."
Bisik Agra dengan suara serak sensual yang
membuat bulu-bulu halus di tubuh Kiran
meremang seketika. Tangan Agra bergerak
menutupkan kain hitam ke mata Kiran yang
langsung terkejut dan berontak.
"Sayang..apa-apaan ini..? Kenapa mataku
di tutup..? "
Agra menahan gerakan Kiran yang ingin
membuka penutup matanya.
"Jangan di buka sebelum aku membukanya
sendiri..!"
Bisik Agra sambil kemudian mengangkat tubuh
Kiran di bawa berjalan meninggalkan tempat itu.
"Tapi sayang..ada apa ini, kenapa mataku
harus di tutup segala..?"
"Kau akan tahu nanti.. sabar sebentar.."
Kiran akhirnya terdiam melingkarkan tangan
nya di leher Agra yang mengecup lembut bibir
merah cherry nya.
Tidak lama mereka masuk ke dalam kamar.
Kiran hanya bisa terdiam kaku saat suaminya
itu melucuti pakaian santainya kemudian
menggantinya dengan entah pakaian seperti
apa karena dirinya di larang mengintip. Agra
juga menggulung asal rambut nya. Setelah
itu dia kembali mengangkat tubuh Kiran di
bawa berjalan ke area yang lebih tinggi.
Setelah beberapa saat akhirnya dengan hati-
hati Agra menurunkan Kiran dari pangkuannya.
Kiran berdiri dengan perasaan bingung campur penasaran serta rasa tidak tahan.
"Sayang..apa aku sudah boleh membuka
penutup matanya sekarang..?"
Agra mendekat, kemudian dia membuka kain
penutup mata Kiran.
"Selamat datang bidadari ku..!"
Agra langsung membungkuk di hadapan Kiran
dengan pose seorang bangsawan terhormat
yang sedang memberikan salam penghormatan.
Tangan kiri mendekap dada sedang tangan
kanan di rentangkan lurus mengarah pada
satu titik yang saat ini mampu membuat mata
Kiran membulat sempurna. Di depan matanya
saat ini tersuguh pemandangan indah dan
memukau khas candle light dinner..!!
Kiran menutup mulutnya seraya melangkah
pelan dengan perasaan mengawang. Mereka
ada di rooftop yang telah di sulap menjadi
sebuah tempat makan malam yang begitu
indah dan romantis.
"Sa-sayaang..apa ini.? apa kau menyiapkan
semua ini..?"
Kiran terlihat begitu terpesona dengan apa
yang ada di hadapannya, matanya sampai
berkaca-kaca. Agra mendekat dari belakang
kemudian dengan gerakan halus dan lembut
dia melingkarkan sebuah kalung berlian indah
berharga fantastis ke leher jenjang Kiran yang
lagi-lagi hanya bisa bengong tak bisa berkata-
kata, hanya air matanya yang kini berbicara.
"Aku sengaja menyiapkan semua ini untuk
kita. Maafkan aku karena tidak bisa bersikap
romantis seperti laki-laki lain..!"
Agra berjongkok seraya mengulurkan sebuket
bunga cantik ke hadapan Kiran yang semakin
deras mengucurkan air matanya.
"Kenapa kau harus repot-repot menyiapkan
semua ini..? apa kau tahu.. cinta ku tidak
bisa di ukur dengan apapun..? Aku tidak
menginginkan semua ini sayang.."
Lirih Kiran sambil meraih bunga dan mendekap
nya di dada lalu menatap lekat wajah tampan
Agra yang masih lengkap dengan setelah resmi
nya. Dan dirinya saat ini sudah mengenakkan
sebuah gaun yang sangat indah warna maroon dengan model yang sedikit seksi karena bagian
bahunya terbuka hanya ada lilitan tali kecil
yang menghiasinya menambah kesan manis
dan menggoda. Bagian bawahnya juga terbuka
sampai setengah paha.
"Aku tahu kamu tidak menginginkan semua
ini, tapi hanya ini yang bisa mengekspresikan
rasa cintaku padamu..!"
Bisik Agra sambil kemudian membimbing
Kiran untuk duduk di kursi. Keduanya untuk
sejenak saling pandang lekat dengan sorot
mata yang sama-sama penuh cinta. Tidak
tahan dengan tatapan lembut Kiran, Agra
beranjak dari duduknya lalu meraih tubuh
Kiran di bawanya ke sudut tempat dimana
di sana ada satu ayunan besar yang sudah
beralaskan busa empuk.
"Maaf sayang..aku tidak akan bisa bertahan
sampai makan malam kita berakhir..."
Agra menggeram sambil kemudian mulai
mencumbu seluruh tubuh Kiran.
"Aakhh.. sayang.. hentikan..Kita sedang ada
di luar ruangan..oohhh.. Agraaa..."
Kiran berusaha meronta namun gairah yang
menguasai tubuh Agra sudah tidak bisa lagi
di kendalikan. Dengan gerakan cepat tangan
Agra menurunkan gaun Kiran.
"Agraa...kamu sangat nakal..!"
Kiran memekik tertahan, dia di buat tidak
berdaya ketika Agra sudah memasukinya
dan kenikmatan itu kini hadir menghanyutkan
keduanya hingga mampu menerbangkan
mereka ke atas awan di saksikan barisan
lilin indah dan kerlip bintang di langit...
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....