Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
37. Godaan Pagi


 


**********


 


Sehabis membersihkan diri dan menjalankan


kewajibannya, Kiran langsung turun ke lantai


bawah meninggalkan Agra yang kembali tidur


setelah sebelumnya dia juga sholat subuh dulu.


Kiran sempat tertegun tidak percaya, laki-laki


seperti Agra ternyata tidak lupa pada hal yang


menyangkut urusan akhirat nya.


Kiran mengucap syukur tiada henti dalam hati


atas semua kenyataan ini. Tidak ada lagi yang


dia ragukan dalam hatinya untuk menanamkan


nama Agra sedalam mungkin di akar sanubari


nya. Dunia bisa di cari tapi kenyamanan dan ketenangan hati tidak akan bisa di beli atau


di manipulasi oleh apapun.


Semua pelayan yang berpapasan dengan Kiran


selama dia melangkah menuju dapur tampak


menyapa dan mengucapkan selamat padanya.


Kiran sempat heran, namun kemudian dia ingat


perkataan Agra di saat bangun tidur.


"Selamat Nona atas pernikahan nya.. mbak


ikut bahagia mendengarnya."


Mbak Siti langsung mengucapkan selamat


begitu Kiran muncul di dapur. Wajah Kiran


tampak bersemu merah, dia menatap pelayan


setianya itu dengan perasaan bersalah karena


belum sempat memberitahu semuanya.


"Terimakasih.. maaf kalau saya belum sempat


memberitahu soal ini pada kalian. Waktunya


sangat tidak memungkinkan. Lagipula semua


nya terjadi secara mendadak saat saya pergi.!"


Ucap Kiran di hadapan Mbak Siti dan dua orang


pelayan lainnya di bagian dapur.


"Tidak apa-apa Nona..kami mengerti kok. Yang


penting pernikahan Nona sudah sah di mata


Agama juga Negara..lagian suami Nona itu.."


Mbak Siti dan para pelayan lain saling pandang


dan mengedipkan mata dengan wajah yang


terlihat malu-malu kucing. Kiran mengernyitkan


alisnya, bingung dengan reaksi para pelayan.


"Suami saya kenapa mbak.? apa ada yang


salah ? "


"Tentu saja tidak Nona.! mana boleh begitu !


Yang kami maksud..suami Nona itu..."


Mereka kembali malu-malu tapi sorot matanya


berbinar senang. Kiran merasa gemas sendiri.


"Apa ? kalian benar-benar aneh ya."


"Suami Nona itu..sangaaatt tampaann..!"


"Mbak Sitiii...ya Allah..!"


Kiran membulatkan matanya tidak percaya


akan sikap impulsif para pelayan nya termasuk


juga mbak Siti yang usianya sudah tidak muda


lagi malah ikut-ikutan bersikap ganjen. Mbak


Siti dan para pelayan menundukkan kepala


sambil menahan senyum.


"Saya ingatkan pada kalian ya.! jangan berani-


berani bersikap konyol di depan suami saya.!"


Gertak Kiran sambil menghentakkan kakinya


melangkah kearah kitchen sink.


"Dan..satu lagi.! "


Kiran menolehkan kepalanya, membagi


tatapan tajam pada ketiga pelayan yang


berdiri di belakangnya, menunduk dalam.


"Jangan berani mencuri pandang padanya.!


atau saya akan memecat kalian.! beritahu


juga yang lain.!"


Ketus Kiran dengan galaknya seraya berjalan


ke dekat lemari pendingin. Membuka pintunya


dengan sedikit kasar dan wajah yang di tekuk


kesal, mengeluarkan beberapa sayuran, telor


dan juga daging giling serta bahan lainnya.


Mbak Siti dan para pelayan saling pandang


seraya menutup mulut menahan senyum dan


tawa yang hendak meledak keluar saat melihat


aroma kecemburuan yang sangat besar kini


terpampang jelas dari sikap Nona nya itu.


Mbak Siti mendekat kearah Kiran, berdiri di


sebelahnya.


"Apa Nona sangat mencintai suami Nona.?"


Mbak Siti bertanya masih mengulum senyum


nya yang tidak tertahankan. Kiran melirik jutek.


Tapi tetap saja kelihatan kalau sikap galaknya


itu hanya di buat-buat saja.


"Itu urusan saya.. bukan urusan kalian.!"


"Tapi sikap Nona barusan sudah membuktikan


kalau Nona sangat mencintai Tuan suami.!"


Kiran tertegun dalam diam. Dia menarik badan


nya menghadap Mbak Siti. Kini terlihat jelas


kalau pengasuhnya itu hanya sedang berusaha


menggodanya saja.


"Iihh..mbak Siti jahat deh sama Kiran..!"


Senyum dan tawa mereka berempat akhirnya


meledak mewarnai suasana dapur yang hangat


di pagi hari yang cerah.


"Mana mungkin kami berani menggangu apa


yang menjadi milik Nona. Kami semua sangat


menyayangi Nona dan ikut berbahagia atas


pernikahan ini.!"


Ucap Mbak Siti panjang lebar. Kiran merangkul


mereka bertiga yang terlihat begitu terharu.


"Terimakasih ya.. doakan saja semoga kami


berdua bisa selalu bersama, sampai menua


bersama.."


"Aamiin..pasti Nona, kami selalu berdoa untuk


kebahagiaan Nona dan Tuan..."


"Agra.. panggil dia Tuan Agra.."


Potong Kiran dengan mata berbinar indah.


Mbak Siti dan pelayan lain saling pandang.


"Baik Nona..Tuan Agra.! kalian adalah pasangan


yang sangat cocok dan serasi."


Puji Mbak Siti dengan ketulusan hati. Kiran


tersenyum lembut dan tersipu malu.


"Tapi sungguh Nona.. suami Nona itu bikin


ngiler..mbak aja yang udah tua ngiler lihatnya."


"Mbak Sitiii...udah deh..!"


"Hahaa...baiklah Nona..mari mbak bantu apa


yang ingin Nona hidangkan untuk Tuan Agra..!"


"Pokoknya sesuatu yang spesial mbak.."


"Baiklah..ayo kita mulai sekarang.."


Itulah sebagian percakapan seru yang sempat tertangkap oleh pendengaran Aryella. Dia baru


saja kembali ke rumah itu setelah semalaman


bekerja karena di kejar deadline launching iklan


produk yang di bintangi nya. Sepulang syuting


dia langsung menghabiskan waktu di sebuah


club malam sampai dini hari. Dia ingin mencoba


menepis bayangan wajah Agra yang tidak bisa


lepas dari ingatannya dengan minum-minum.


Entah kenapa setelah dirinya keluar dari kantor


Kiran kemarin siang bayangan wajah tampan


Agra yang dingin terus saja menganggunya dan membuat jiwanya resah. Aryella sedikit merasa


aneh, dalam sekali pertemuan saja pria yang nyata-nyata suami kakak nya itu telah mampu


membuatnya gila. Dia terus saja berfantasi liar


membayangkan sosok Agra berada di atas


ranjangnya, menghangatkan tubuhnya.


"Kiran dan suaminya ada di rumah ini.."


Gumam Aryella dengan senyum yang langsung


merekah, ini seperti mimpi yang jadi kenyataan.


Ingatannya tidak pernah lepas dari sosok super


cool itu, eehh sekarang dia ada di rumah ini.


Dirinya bagai mendapat durian runtuh.


"Baiklah..kita lihat Kiran.. apakah suamimu itu


berbeda atau sama saja seperti pria murahan


lainnya.!"


Desis Aryella sambil melangkah penuh semangat


menuju ke lantai atas.


Aryella tersenyum sinis saat mendorong pintu


kamar Kiran ternyata tidak terkunci, hanya


tertutup rapat saja .


"Dasar gadis bodoh..! apa dia tidak sadar kalau


dirinya memiliki sesuatu yang sangat berharga


yang harusnya di jaga baik-baik..!"


Decak Aryella sambil kemudian mengendap


masuk kedalam kamar Kiran dengan pandangan


yang langsung menyapu ke sekeliling kamar.


Tidak ada sosok Agra di atas tempat tidur. Pria


itu pasti sudah bangun dan sedang berada di


kamar mandi. Tubuh Aryella seketika memanas


saat membayangkan bagaimana gagah dan


seksinya tubuh Agra yang saat ini tentunya


sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Aryella berjalan perlahan ke dekat tempat tidur


kemudian menjatuhkan tubuhnya yang lelah


di atas kasur. Rok mini nya tersingkap sampai


sebatas paha, tampak begitu menggoda. Dan


gunung kembarnya yang besar serta padat


tampak menyembul keluar sebagian.


Pintu kamar mandi bergerak dan terbuka dari


dalam. Aryella masih asik merebahkan tubuh


nya dengan posisi sama, terlentang pasrah.


Matanya terpejam rapat mencoba melawan


kantuk yang menyerangnya.


Sosok Agra keluar dari kamar mandi dengan


keadaan yang benar-benar bisa membuat


tubuh wanita panas dingin. Saat ini dia hanya


mengenakkan handuk putih yang menutupi


bagian sensitifnya saja hingga tubuh bagian


atasnya yang gagah dan sempurna terpampang


nyata di depan mata.


Agra tertegun sesaat melihat ada sosok cantik


tengah merebahkan tubuhnya pasrah dengan


keadaan yang bisa saja membuat sahwat laki-


laki langsung melonjak seketika. Namun lain


bagi Agra, pria itu malah mengetatkan rahang


nya dengan wajah yang berubah sangat dingin.


"Ehemm.."


Aryella tersentak dari rasa kantuk yang tadi


sempat menyerangnya. Dia melirik kearah


berdirinya Agra. Matanya langsung terkesima.


Darahnya langsung terbakar hebat melihat


keadaan Agra saat ini. Pria itu sedang berdiri


dengan tubuh setengah telanjang, rambutnya


masih terlihat basah dengan kulit tubuh yang


di hiasi rintik air tampak seperti gelombang


air yang tembus pandang, begitu menggoda


dan mempesona.


"Sedang apa kamu di kamar ini ? bukannya


kamar mu ada di sebelah.?"


Tanya Agra dengan tatapan tajam yang seakan


menguliti tubuh Aryella. Gadis itu bangkit, posisi


pakaian nya yang berantakan dia abaikan begitu


bagian dada yang turun setengah. Dia maju


mendekat kearah Agra yang sedang menggosok


rambut nya dengan handuk kecil, acuh saja.


"Hai.. kakak ipar.. sepertinya aku salah masuk


kamar. Atau mungkin kau yang telah salah


masuk.."


Bisik Aryella dengan nada sensual di telinga


Agra lalu mengelilingi tubuh laki-laki itu dengan


tatapan panas melahap seluruh tubuh gagah


Agra yang masih berusaha bersikap tenang.


"Aku rasa otakmu sedang terganggu Aryella.!


Kau perlu mendinginkan kepalamu.!"


"Iya.. mungkin kakak ipar benar, tapi aku butuh bantuanmu untuk mendinginkan suhu tubuh ku


saat ini. Dan aku rasa kau bisa membantu ku.!"


Kembali bisik Aryella dengan nada yang lebih


sensual lagi, mendesah menggoda. Dia meraih


handuk kecil dari tangan Agra kemudian pelan


dan bergetar dia mulai mengusap dada bidang


Agra yang basah terkena percikan air dari


rambut basah nya.


"Aku ingatkan padamu..aku adalah kakak ipar


mu Aryella.! kau jangan melewati batas.!"


Geram Agra saat melihat Aryella semakin


mendekatkan tubuhnya, hingga dada sintal


nya kini berada di hadapannya, tersuguh


nyata di depan matanya.


"Kenapa Kakak ipar.. apa aku kurang menarik ?


aku bahkan bisa lebih baik dari istrimu itu. Aku


yakin dia tidak akan bisa memuaskan mu.!"


Ucap Aryella dengan suara yang sudah berat,


wajahnya kini ada di hadapan Agra, kedua mata mereka saling menatap kuat membuat hasrat


Aryella semakin melonjak tak terkendali. Bibir


Agra yang memiliki bentuk sangat menarik itu


sukses melumpuhkan saraf urat malu Aryella,


dia tampak berjinjit ingin meraih bibir seksi itu


dan segera ********** sepuasnya.


Kini Agra tidak bisa lagi mentolerir kelancangan


Aryella dengan gerakan cepat dia memutar tubuh gadis itu kemudian mengunci kedua tangannya


di belakang membuat Aryella membelalakkan matanya lalu meringis kesakitan.


"Aku tidak terbiasa melakukan kekerasan pada


seorang wanita. Tapi melihat sikap amoral mu


aku bisa saja melakukan nya sekarang juga.!"


"Aa..apa yang kau lakukan, lepaskan aku.!"


"Bukankah kau mau menggodaku.? kau pikir


dirimu cukup menarik bagiku ? bahkan wanita


sekelas Mikhayla Alexandria saja tidak mampu


menarik perhatianku apalagi wanita semacam


dirimu Aryella..!! "


Desis Agra sambil memperkuat tekanan tangan


nya di kedua pergelangan tangan Aryella yang


mengerjap saat mendengar Agra menyebut nama Mikhayla Alexandria, wanita yang menjadi sosok


central bagi karirnya juga idola dirinya.


"Aaa.. siapa kau sebenarnya..? tolong lepaskan


tanganku.!"


"Kau mau tahu siapa aku.? maka tidak lama


lagi kau akan mengetahuinya.!"


Aryella semakin meringis merasakan sakit di


kedua pergelangan tangannya.


"Keluar dari kamar ini dan jangan bertindak


bodoh lagi dengan menyodorkan tubuh kotor


mu itu di hadapanku.!"


"Agra..apa yang kau lakukan pada Aryella ?"


Agra dan Aryella tersentak saat melihat sosok


Kiran saat ini sedang melangkah kearah mereka


dengan wajah memerah seluruhnya. Agra segera


melepaskan Aryella dengan mendorong tubuh


nya hingga hampir saja tersungkur ke atas lantai


kalau Kiran tidak sigap menangkap nya.


"Agra..apa yang terjadi dengan mu.?"


Mata Kiran tampak menyala, menatap geram


kearah Agra yang mendengus kesal dengan


wajah yang sudah sedingin salju.


"Tanyakan saja pada adikmu itu, pantaskah


seorang wanita mengobral tubuhnya di hadapan


pria yang nyata-nyata adalah kakak iparnya.!"


Desis Agra sambil kemudian melangkah kearah


lemari pakaian Kiran lalu meraih setelah casual


yang semalam telah di siapkan oleh Bara. Kiran


hanya bisa bengong saja melihat apa yang di


lakukan oleh suaminya itu.


Agra masuk kembali kedalam kamar mandi.


Kini Kiran berpaling pada Aryella yang masih


meringis mengusap lengannya.


"Jadi.. Aryella..apa kau sudah puas sekarang.?


kau yakin bisa mendapatkan nya.?"


"Cihh..! dia bolehlah masih tahan harga sekarang.


Tapi aku yakin lain kali dia tidak akan menolakku


lagi, dia pasti akan bertekuk lutut padaku.!"


Kiran berdecak kesal melihat sikap Aryella yang


tidak ada sedikit pun penyesalan atas apa yang


di lakukan nya, justru malah berbalik menyerang.


"Terserah kau saja..! tapi aku ingatkan padamu.


Sekeras apapun usahamu, itu percuma saja !


Karena semuanya hanya akan membuahkan


rasa malu dan kehancuran bagimu Aryella.!"


"Kita lihat saja nanti.! keangkuhan akan harga


dirimu yang tinggi akan membuat dia bosan


padamu dan meninggalkanmu..!"


"Oya..kau salah adikku.! Agra bukanlah tipe


laki-laki yang selama ini kamu kenal.!"


"Agraa..."


"Ya.. kakak iparmu bernama Agra..!"


Raut wajah Aryella tampak sedikit memucat.


Dia mundur beberapa langkah dengan kepala


menggeleng mencoba menepis keyakinan nya.


Dia segera berbalik kemudian berlari keluar


dari dalam kamar. Kiran hanya bisa menatap


datar kepergian adiknya itu sedikit heran.


Agra duduk santai di kursi balkon, menyeruput


kopi hitam racikan Kiran yang benar-benar


terasa begitu nikmat. Dia sedang menunggu


istrinya itu mempersiapkan diri dan berganti


pakaian kerja.


"Apa kita bisa berangkat sekarang.?"


Kiran berdiri di ambang pintu, Agra menolehkan


kepala dan terdiam terpana melihat tampilan


Kiran saat ini yang tampak begitu memukau.


Dia beranjak dari duduknya, mendekat kearah


Kiran yang juga sedang menatapnya. Kedua


nya berdiri berhadapan.


"Apa kau harus secantik ini ? kita hanya akan


bekerja Nona, bukan pergi ke pesta !"


Protes Agra saat melihat Kiran memoles tipis


wajahnya dan menyanggul tinggi rambutnya


hingga leher jenjangnya terekspos dengan jelas.


Wajah Kiran langsung memerah, dia menunduk


tidak berani lagi menatap mata Agra.


"Aku hanya berusaha tampil lebih rapi saja.!"


"Apa karena akan bertemu pria brengsek itu.?"


Kiran mendongakkan kepalanya dengan raut


wajah tidak suka.


"Tentu saja tidak, dia sudah tidak ada lagi di


mataku.! A-aku melakukan nya untukmu.!"


Ujar Kiran langsung to the point. Wajah Agra


tampak berbinar bahagia, dia segera menarik


pinggang ramping Kiran untuk lebih merapat.


"Pastikan hal itu berlaku selamanya..hati..


jiwa dan ragamu hanyalah milikku seorang."


Hati Kiran luluh seketika, tubuhnya lemas,


jiwanya jatuh terperosok semakin dalam


pada satu kenyataan bahwa laki-laki ini


telah berhasil menaklukan segala keteguhan


hatinya. Dia telah jatuh cinta padanya.


Tanpa di duga Kiran menyergap bibir Agra


yang terkejut sesaat mendapat perlakukan


agresif Kiran yang tak terduga itu. Namun


akhirnya dia tersenyum samar membalas


serangan Kiran dengan lebih ganas dan intens.


Keduanya terhanyut dalam buaian ciuman


pagi hari yang hangat, lembut, manis dan


begitu memabukkan.


Keduanya turun bergandengan tangan ke


lantai bawah langsung menuju ruang makan.


Para pelayan yang sudah mendapat ultimatum


dari Kiran tidak ada yang berani mengangkat


wajahnya saat bertemu dengan mereka.


Penampilan Agra saat ini emang tidak seperti


semalam yang begitu menyilaukan, namun


tetap saja sangat mempesona.


Mbak Siti dan seorang pelayan dengan sigap


langsung menyiapkan kursi untuk mereka.


Tanpa ragu Agra menempati kursi yang biasa


di duduki oleh sang kepala rumah ini dengan


gaya yang sangat elegan dan berkelas.


Dengan tenang dan cekatan Kiran segera


menuang makanan ke piring Agra lalu


menuangkan air putih. Dia tahu Agra tidak


pernah minum yang lain selain air putih


selama makan ataupun sarapan.


"Apa kau yang membuatnya.?"


Tanya Agra saat keduanya sudah memulai


sarapan nya. Kiran menatap wajah Agra


penuh keheranan.


"Memangnya kenapa.?"


"Rasanya sama seperti yang biasa aku makan


selama di perkebunan."


Wajah Kiran langsung saja memerah, kepala


nya langsung menunduk malu.


"Tanpa bicara pun aku tahu makanan itu di


buat olehmu.! Kau cemburu pada gadis desa


itu kan.?"


"Agra..sudah jangan ingatkan aku soal itu !"


"Apapun yang kau buat akan terasa nikmat


di lidahku, karena kau membuat nya dengan


cinta."


"Agra.. sudah..! lanjutkan sarapan mu..!"


Kiran tidak tahan lagi. Agra menarik dagu


Kiran lalu mengecup lembut bibir nya, setelah


itu kembali melanjutkan sarapannya sambil


mengulum senyumnya. Sedang Kiran saat ini


sudah benar-benar tidak bisa mengangkat


wajahnya, malu bukan kepalang pada mbak


Siti dan dua pelayan lainnya yang ada di sana.


Sementara mereka hanya bisa merasakan


terbawa perasaan saat melihat perlakuan


mesra Agra pada Nona nya..


 


*********


 


TBC....