
**********
Sehabis membersihkan diri dan menjalankan
kewajibannya, Kiran langsung turun ke lantai
bawah meninggalkan Agra yang kembali tidur
setelah sebelumnya dia juga sholat subuh dulu.
Kiran sempat tertegun tidak percaya, laki-laki
seperti Agra ternyata tidak lupa pada hal yang
menyangkut urusan akhirat nya.
Kiran mengucap syukur tiada henti dalam hati
atas semua kenyataan ini. Tidak ada lagi yang
dia ragukan dalam hatinya untuk menanamkan
nama Agra sedalam mungkin di akar sanubari
nya. Dunia bisa di cari tapi kenyamanan dan ketenangan hati tidak akan bisa di beli atau
di manipulasi oleh apapun.
Semua pelayan yang berpapasan dengan Kiran
selama dia melangkah menuju dapur tampak
menyapa dan mengucapkan selamat padanya.
Kiran sempat heran, namun kemudian dia ingat
perkataan Agra di saat bangun tidur.
"Selamat Nona atas pernikahan nya.. mbak
ikut bahagia mendengarnya."
Mbak Siti langsung mengucapkan selamat
begitu Kiran muncul di dapur. Wajah Kiran
tampak bersemu merah, dia menatap pelayan
setianya itu dengan perasaan bersalah karena
belum sempat memberitahu semuanya.
"Terimakasih.. maaf kalau saya belum sempat
memberitahu soal ini pada kalian. Waktunya
sangat tidak memungkinkan. Lagipula semua
nya terjadi secara mendadak saat saya pergi.!"
Ucap Kiran di hadapan Mbak Siti dan dua orang
pelayan lainnya di bagian dapur.
"Tidak apa-apa Nona..kami mengerti kok. Yang
penting pernikahan Nona sudah sah di mata
Agama juga Negara..lagian suami Nona itu.."
Mbak Siti dan para pelayan lain saling pandang
dan mengedipkan mata dengan wajah yang
terlihat malu-malu kucing. Kiran mengernyitkan
alisnya, bingung dengan reaksi para pelayan.
"Suami saya kenapa mbak.? apa ada yang
salah ? "
"Tentu saja tidak Nona.! mana boleh begitu !
Yang kami maksud..suami Nona itu..."
Mereka kembali malu-malu tapi sorot matanya
berbinar senang. Kiran merasa gemas sendiri.
"Apa ? kalian benar-benar aneh ya."
"Suami Nona itu..sangaaatt tampaann..!"
"Mbak Sitiii...ya Allah..!"
Kiran membulatkan matanya tidak percaya
akan sikap impulsif para pelayan nya termasuk
juga mbak Siti yang usianya sudah tidak muda
lagi malah ikut-ikutan bersikap ganjen. Mbak
Siti dan para pelayan menundukkan kepala
sambil menahan senyum.
"Saya ingatkan pada kalian ya.! jangan berani-
berani bersikap konyol di depan suami saya.!"
Gertak Kiran sambil menghentakkan kakinya
melangkah kearah kitchen sink.
"Dan..satu lagi.! "
Kiran menolehkan kepalanya, membagi
tatapan tajam pada ketiga pelayan yang
berdiri di belakangnya, menunduk dalam.
"Jangan berani mencuri pandang padanya.!
atau saya akan memecat kalian.! beritahu
juga yang lain.!"
Ketus Kiran dengan galaknya seraya berjalan
ke dekat lemari pendingin. Membuka pintunya
dengan sedikit kasar dan wajah yang di tekuk
kesal, mengeluarkan beberapa sayuran, telor
dan juga daging giling serta bahan lainnya.
Mbak Siti dan para pelayan saling pandang
seraya menutup mulut menahan senyum dan
tawa yang hendak meledak keluar saat melihat
aroma kecemburuan yang sangat besar kini
terpampang jelas dari sikap Nona nya itu.
Mbak Siti mendekat kearah Kiran, berdiri di
sebelahnya.
"Apa Nona sangat mencintai suami Nona.?"
Mbak Siti bertanya masih mengulum senyum
nya yang tidak tertahankan. Kiran melirik jutek.
Tapi tetap saja kelihatan kalau sikap galaknya
itu hanya di buat-buat saja.
"Itu urusan saya.. bukan urusan kalian.!"
"Tapi sikap Nona barusan sudah membuktikan
kalau Nona sangat mencintai Tuan suami.!"
Kiran tertegun dalam diam. Dia menarik badan
nya menghadap Mbak Siti. Kini terlihat jelas
kalau pengasuhnya itu hanya sedang berusaha
menggodanya saja.
"Iihh..mbak Siti jahat deh sama Kiran..!"
Senyum dan tawa mereka berempat akhirnya
meledak mewarnai suasana dapur yang hangat
di pagi hari yang cerah.
"Mana mungkin kami berani menggangu apa
yang menjadi milik Nona. Kami semua sangat
menyayangi Nona dan ikut berbahagia atas
pernikahan ini.!"
Ucap Mbak Siti panjang lebar. Kiran merangkul
mereka bertiga yang terlihat begitu terharu.
"Terimakasih ya.. doakan saja semoga kami
berdua bisa selalu bersama, sampai menua
bersama.."
"Aamiin..pasti Nona, kami selalu berdoa untuk
kebahagiaan Nona dan Tuan..."
"Agra.. panggil dia Tuan Agra.."
Potong Kiran dengan mata berbinar indah.
Mbak Siti dan pelayan lain saling pandang.
"Baik Nona..Tuan Agra.! kalian adalah pasangan
yang sangat cocok dan serasi."
Puji Mbak Siti dengan ketulusan hati. Kiran
tersenyum lembut dan tersipu malu.
"Tapi sungguh Nona.. suami Nona itu bikin
ngiler..mbak aja yang udah tua ngiler lihatnya."
"Mbak Sitiii...udah deh..!"
"Hahaa...baiklah Nona..mari mbak bantu apa
yang ingin Nona hidangkan untuk Tuan Agra..!"
"Pokoknya sesuatu yang spesial mbak.."
"Baiklah..ayo kita mulai sekarang.."
Itulah sebagian percakapan seru yang sempat tertangkap oleh pendengaran Aryella. Dia baru
saja kembali ke rumah itu setelah semalaman
bekerja karena di kejar deadline launching iklan
produk yang di bintangi nya. Sepulang syuting
dia langsung menghabiskan waktu di sebuah
club malam sampai dini hari. Dia ingin mencoba
menepis bayangan wajah Agra yang tidak bisa
lepas dari ingatannya dengan minum-minum.
Entah kenapa setelah dirinya keluar dari kantor
Kiran kemarin siang bayangan wajah tampan
Agra yang dingin terus saja menganggunya dan membuat jiwanya resah. Aryella sedikit merasa
aneh, dalam sekali pertemuan saja pria yang nyata-nyata suami kakak nya itu telah mampu
membuatnya gila. Dia terus saja berfantasi liar
membayangkan sosok Agra berada di atas
ranjangnya, menghangatkan tubuhnya.
"Kiran dan suaminya ada di rumah ini.."
Gumam Aryella dengan senyum yang langsung
merekah, ini seperti mimpi yang jadi kenyataan.
Ingatannya tidak pernah lepas dari sosok super
cool itu, eehh sekarang dia ada di rumah ini.
Dirinya bagai mendapat durian runtuh.
"Baiklah..kita lihat Kiran.. apakah suamimu itu
berbeda atau sama saja seperti pria murahan
lainnya.!"
Desis Aryella sambil melangkah penuh semangat
menuju ke lantai atas.
Aryella tersenyum sinis saat mendorong pintu
kamar Kiran ternyata tidak terkunci, hanya
tertutup rapat saja .
"Dasar gadis bodoh..! apa dia tidak sadar kalau
dirinya memiliki sesuatu yang sangat berharga
yang harusnya di jaga baik-baik..!"
Decak Aryella sambil kemudian mengendap
masuk kedalam kamar Kiran dengan pandangan
yang langsung menyapu ke sekeliling kamar.
Tidak ada sosok Agra di atas tempat tidur. Pria
itu pasti sudah bangun dan sedang berada di
kamar mandi. Tubuh Aryella seketika memanas
saat membayangkan bagaimana gagah dan
seksinya tubuh Agra yang saat ini tentunya
sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Aryella berjalan perlahan ke dekat tempat tidur
kemudian menjatuhkan tubuhnya yang lelah
di atas kasur. Rok mini nya tersingkap sampai
sebatas paha, tampak begitu menggoda. Dan
gunung kembarnya yang besar serta padat
tampak menyembul keluar sebagian.
Pintu kamar mandi bergerak dan terbuka dari
dalam. Aryella masih asik merebahkan tubuh
nya dengan posisi sama, terlentang pasrah.
Matanya terpejam rapat mencoba melawan
kantuk yang menyerangnya.
Sosok Agra keluar dari kamar mandi dengan
keadaan yang benar-benar bisa membuat
tubuh wanita panas dingin. Saat ini dia hanya
mengenakkan handuk putih yang menutupi
bagian sensitifnya saja hingga tubuh bagian
atasnya yang gagah dan sempurna terpampang
nyata di depan mata.
Agra tertegun sesaat melihat ada sosok cantik
tengah merebahkan tubuhnya pasrah dengan
keadaan yang bisa saja membuat sahwat laki-
laki langsung melonjak seketika. Namun lain
bagi Agra, pria itu malah mengetatkan rahang
nya dengan wajah yang berubah sangat dingin.
"Ehemm.."
Aryella tersentak dari rasa kantuk yang tadi
sempat menyerangnya. Dia melirik kearah
berdirinya Agra. Matanya langsung terkesima.
Darahnya langsung terbakar hebat melihat
keadaan Agra saat ini. Pria itu sedang berdiri
dengan tubuh setengah telanjang, rambutnya
masih terlihat basah dengan kulit tubuh yang
di hiasi rintik air tampak seperti gelombang
air yang tembus pandang, begitu menggoda
dan mempesona.
"Sedang apa kamu di kamar ini ? bukannya
kamar mu ada di sebelah.?"
Tanya Agra dengan tatapan tajam yang seakan
menguliti tubuh Aryella. Gadis itu bangkit, posisi
pakaian nya yang berantakan dia abaikan begitu
bagian dada yang turun setengah. Dia maju
mendekat kearah Agra yang sedang menggosok
rambut nya dengan handuk kecil, acuh saja.
"Hai.. kakak ipar.. sepertinya aku salah masuk
kamar. Atau mungkin kau yang telah salah
masuk.."
Bisik Aryella dengan nada sensual di telinga
Agra lalu mengelilingi tubuh laki-laki itu dengan
tatapan panas melahap seluruh tubuh gagah
Agra yang masih berusaha bersikap tenang.
"Aku rasa otakmu sedang terganggu Aryella.!
Kau perlu mendinginkan kepalamu.!"
"Iya.. mungkin kakak ipar benar, tapi aku butuh bantuanmu untuk mendinginkan suhu tubuh ku
saat ini. Dan aku rasa kau bisa membantu ku.!"
Kembali bisik Aryella dengan nada yang lebih
sensual lagi, mendesah menggoda. Dia meraih
handuk kecil dari tangan Agra kemudian pelan
dan bergetar dia mulai mengusap dada bidang
Agra yang basah terkena percikan air dari
rambut basah nya.
"Aku ingatkan padamu..aku adalah kakak ipar
mu Aryella.! kau jangan melewati batas.!"
Geram Agra saat melihat Aryella semakin
mendekatkan tubuhnya, hingga dada sintal
nya kini berada di hadapannya, tersuguh
nyata di depan matanya.
"Kenapa Kakak ipar.. apa aku kurang menarik ?
aku bahkan bisa lebih baik dari istrimu itu. Aku
yakin dia tidak akan bisa memuaskan mu.!"
Ucap Aryella dengan suara yang sudah berat,
wajahnya kini ada di hadapan Agra, kedua mata mereka saling menatap kuat membuat hasrat
Aryella semakin melonjak tak terkendali. Bibir
Agra yang memiliki bentuk sangat menarik itu
sukses melumpuhkan saraf urat malu Aryella,
dia tampak berjinjit ingin meraih bibir seksi itu
dan segera ********** sepuasnya.
Kini Agra tidak bisa lagi mentolerir kelancangan
Aryella dengan gerakan cepat dia memutar tubuh gadis itu kemudian mengunci kedua tangannya
di belakang membuat Aryella membelalakkan matanya lalu meringis kesakitan.
"Aku tidak terbiasa melakukan kekerasan pada
seorang wanita. Tapi melihat sikap amoral mu
aku bisa saja melakukan nya sekarang juga.!"
"Aa..apa yang kau lakukan, lepaskan aku.!"
"Bukankah kau mau menggodaku.? kau pikir
dirimu cukup menarik bagiku ? bahkan wanita
sekelas Mikhayla Alexandria saja tidak mampu
menarik perhatianku apalagi wanita semacam
dirimu Aryella..!! "
Desis Agra sambil memperkuat tekanan tangan
nya di kedua pergelangan tangan Aryella yang
mengerjap saat mendengar Agra menyebut nama Mikhayla Alexandria, wanita yang menjadi sosok
central bagi karirnya juga idola dirinya.
"Aaa.. siapa kau sebenarnya..? tolong lepaskan
tanganku.!"
"Kau mau tahu siapa aku.? maka tidak lama
lagi kau akan mengetahuinya.!"
Aryella semakin meringis merasakan sakit di
kedua pergelangan tangannya.
"Keluar dari kamar ini dan jangan bertindak
bodoh lagi dengan menyodorkan tubuh kotor
mu itu di hadapanku.!"
"Agra..apa yang kau lakukan pada Aryella ?"
Agra dan Aryella tersentak saat melihat sosok
Kiran saat ini sedang melangkah kearah mereka
dengan wajah memerah seluruhnya. Agra segera
melepaskan Aryella dengan mendorong tubuh
nya hingga hampir saja tersungkur ke atas lantai
kalau Kiran tidak sigap menangkap nya.
"Agra..apa yang terjadi dengan mu.?"
Mata Kiran tampak menyala, menatap geram
kearah Agra yang mendengus kesal dengan
wajah yang sudah sedingin salju.
"Tanyakan saja pada adikmu itu, pantaskah
seorang wanita mengobral tubuhnya di hadapan
pria yang nyata-nyata adalah kakak iparnya.!"
Desis Agra sambil kemudian melangkah kearah
lemari pakaian Kiran lalu meraih setelah casual
yang semalam telah di siapkan oleh Bara. Kiran
hanya bisa bengong saja melihat apa yang di
lakukan oleh suaminya itu.
Agra masuk kembali kedalam kamar mandi.
Kini Kiran berpaling pada Aryella yang masih
meringis mengusap lengannya.
"Jadi.. Aryella..apa kau sudah puas sekarang.?
kau yakin bisa mendapatkan nya.?"
"Cihh..! dia bolehlah masih tahan harga sekarang.
Tapi aku yakin lain kali dia tidak akan menolakku
lagi, dia pasti akan bertekuk lutut padaku.!"
Kiran berdecak kesal melihat sikap Aryella yang
tidak ada sedikit pun penyesalan atas apa yang
di lakukan nya, justru malah berbalik menyerang.
"Terserah kau saja..! tapi aku ingatkan padamu.
Sekeras apapun usahamu, itu percuma saja !
Karena semuanya hanya akan membuahkan
rasa malu dan kehancuran bagimu Aryella.!"
"Kita lihat saja nanti.! keangkuhan akan harga
dirimu yang tinggi akan membuat dia bosan
padamu dan meninggalkanmu..!"
"Oya..kau salah adikku.! Agra bukanlah tipe
laki-laki yang selama ini kamu kenal.!"
"Agraa..."
"Ya.. kakak iparmu bernama Agra..!"
Raut wajah Aryella tampak sedikit memucat.
Dia mundur beberapa langkah dengan kepala
menggeleng mencoba menepis keyakinan nya.
Dia segera berbalik kemudian berlari keluar
dari dalam kamar. Kiran hanya bisa menatap
datar kepergian adiknya itu sedikit heran.
Agra duduk santai di kursi balkon, menyeruput
kopi hitam racikan Kiran yang benar-benar
terasa begitu nikmat. Dia sedang menunggu
istrinya itu mempersiapkan diri dan berganti
pakaian kerja.
"Apa kita bisa berangkat sekarang.?"
Kiran berdiri di ambang pintu, Agra menolehkan
kepala dan terdiam terpana melihat tampilan
Kiran saat ini yang tampak begitu memukau.
Dia beranjak dari duduknya, mendekat kearah
Kiran yang juga sedang menatapnya. Kedua
nya berdiri berhadapan.
"Apa kau harus secantik ini ? kita hanya akan
bekerja Nona, bukan pergi ke pesta !"
Protes Agra saat melihat Kiran memoles tipis
wajahnya dan menyanggul tinggi rambutnya
hingga leher jenjangnya terekspos dengan jelas.
Wajah Kiran langsung memerah, dia menunduk
tidak berani lagi menatap mata Agra.
"Aku hanya berusaha tampil lebih rapi saja.!"
"Apa karena akan bertemu pria brengsek itu.?"
Kiran mendongakkan kepalanya dengan raut
wajah tidak suka.
"Tentu saja tidak, dia sudah tidak ada lagi di
mataku.! A-aku melakukan nya untukmu.!"
Ujar Kiran langsung to the point. Wajah Agra
tampak berbinar bahagia, dia segera menarik
pinggang ramping Kiran untuk lebih merapat.
"Pastikan hal itu berlaku selamanya..hati..
jiwa dan ragamu hanyalah milikku seorang."
Hati Kiran luluh seketika, tubuhnya lemas,
jiwanya jatuh terperosok semakin dalam
pada satu kenyataan bahwa laki-laki ini
telah berhasil menaklukan segala keteguhan
hatinya. Dia telah jatuh cinta padanya.
Tanpa di duga Kiran menyergap bibir Agra
yang terkejut sesaat mendapat perlakukan
agresif Kiran yang tak terduga itu. Namun
akhirnya dia tersenyum samar membalas
serangan Kiran dengan lebih ganas dan intens.
Keduanya terhanyut dalam buaian ciuman
pagi hari yang hangat, lembut, manis dan
begitu memabukkan.
Keduanya turun bergandengan tangan ke
lantai bawah langsung menuju ruang makan.
Para pelayan yang sudah mendapat ultimatum
dari Kiran tidak ada yang berani mengangkat
wajahnya saat bertemu dengan mereka.
Penampilan Agra saat ini emang tidak seperti
semalam yang begitu menyilaukan, namun
tetap saja sangat mempesona.
Mbak Siti dan seorang pelayan dengan sigap
langsung menyiapkan kursi untuk mereka.
Tanpa ragu Agra menempati kursi yang biasa
di duduki oleh sang kepala rumah ini dengan
gaya yang sangat elegan dan berkelas.
Dengan tenang dan cekatan Kiran segera
menuang makanan ke piring Agra lalu
menuangkan air putih. Dia tahu Agra tidak
pernah minum yang lain selain air putih
selama makan ataupun sarapan.
"Apa kau yang membuatnya.?"
Tanya Agra saat keduanya sudah memulai
sarapan nya. Kiran menatap wajah Agra
penuh keheranan.
"Memangnya kenapa.?"
"Rasanya sama seperti yang biasa aku makan
selama di perkebunan."
Wajah Kiran langsung saja memerah, kepala
nya langsung menunduk malu.
"Tanpa bicara pun aku tahu makanan itu di
buat olehmu.! Kau cemburu pada gadis desa
itu kan.?"
"Agra..sudah jangan ingatkan aku soal itu !"
"Apapun yang kau buat akan terasa nikmat
di lidahku, karena kau membuat nya dengan
cinta."
"Agra.. sudah..! lanjutkan sarapan mu..!"
Kiran tidak tahan lagi. Agra menarik dagu
Kiran lalu mengecup lembut bibir nya, setelah
itu kembali melanjutkan sarapannya sambil
mengulum senyumnya. Sedang Kiran saat ini
sudah benar-benar tidak bisa mengangkat
wajahnya, malu bukan kepalang pada mbak
Siti dan dua pelayan lainnya yang ada di sana.
Sementara mereka hanya bisa merasakan
terbawa perasaan saat melihat perlakuan
mesra Agra pada Nona nya..
*********
TBC....