
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Setelah sekitar satu jam mereka berendam
bersama akhirnya Agra kembali mengangkat
tubuh Kiran yang berbalut kimono keluar dari
kamar mandi super mewah itu. Dengan hati-
hati dia merebahkan tubuh ringkih istrinya itu
di atas tempat tidur. Agra mengambil sesuatu
dari dalam laci nakas.
"Buka kakimu sayang..aku akan mengoleskan
salep ini pada lukamu."
Kiran melebarkan matanya sambil menggeleng.
Dia malah merapatkan pahanya sambil menatap
tajam wajah Agra yang tersenyum tipis.
"Tidak perlu..sudah tidak terlalu sakit juga kok.!"
"Jangan ngeyel sayang..nanti kamu tidak bisa
jalan bagaimana.."
"Tapi yang benar saja, masa di salepin sih.?"
"Sudah ayo.. lihat saja nanti, sebentar juga
enakan lagi.. Kalau tidak segera di obati kamu
akan kesakitan terus, lalu bagaimana dengan
nanti malam..!"
Agra duduk di ujung kaki Kiran, tangannya
mulai bergerak memegang kaki indah Kiran.
"Apa maksudmu nanti malam..?"
Kiran menatap tajam penuh ketegangan. Bibir
Agra kembali tersenyum penuh arti. Dia maju
mencondongkan tubuhnya.
"Kita akan kembali terbang bersama, bukankah
sekarang kau sangat menyukainya..?"
"Agra.. hentikan.! dasar mesum..! tidak mau.
Biarkan saja, nanti juga sembuh sendiri.!"
Debat Kiran dengan wajah yang di penuhi
semburat merah. Agra semakin menekan
kaki Kiran agar lebih leluasa melihat nya.
"Kalau tidak mau pakai salep, bagaimana kalau
aku mengobatinya dengan cara yang lain.?"
Wajah Kiran tampak semakin tegang, tatapan
nya kini menghujam wajah tampan Agra yang
hanya menyeringai penuh arti membuat Kiran
sedikit ketakutan.
"Jangan macam-macam sayang..ini masih
sakit, kau telah menyiksaku semalaman.!"
"Hanya dua macam saja sayang..dan kau
akan menyukainya.."
"Tidak mau ! Agra..hei.. mundur, jangan iihh.!"
Agra terkekeh pelan seraya melebarkan paha
Kiran yang meringis kuat mencoba bertahan
tidak mau membukanya. Agra gemas sendiri,
dia menatap tajam mulai mengirimkan sinyal ancaman. Wajah Kiran mulai menciut.
"Bukalah sayang..atau aku akan memasuki
nya lagi saat ini juga.."
"Jangan..! kamu jahat banget sih.! ini semua
gara-gara kamu tahu..!"
Ketus Kiran mengerucutkan bibirnya membuat
darah Agra kembali mendidih. Kalau tidak
melihat keadaan Kiran saat ini ingin rasanya
dia kembali menindih tubuh istrinya itu .
"Makanya itu aku akan mengobatinya..sudah
ayo bukalah sayang.. jangan keras kepala lagi."
Titah Agra sambil menekan kaki Kiran yang
terpaksa menurut juga. Dia membuka pahanya
pelan-pelan sambil meringis menahan perih.
Tubuh Agra menegang saat melihat bagaimana
keadaan bagian bawah tubuh istrinya itu yang
sangat bengkak dan ada luka lecet disekitar
nya. Kiran memejamkan matanya dengan
wajah yang sudah memerah menahan malu
saat mata Agra tidak berkedip menatap milik
nya itu. Agra menelan salivanya berat, junior
nya kini kembali menegang sempurna.
Kiran membulatkan matanya saat melihat
Agra melongokkan kepalanya lalu tanpa di
duga bibirnya melakukan sesuatu ke daerah
miliknya itu. Mata Kiran kian melebar saat
Agra tidak jua menarik kepalanya dari bawah
sana dan kini tubuhnya kembali memanas.
"Aakhh..Agra..apa yang kau lakukan..emhh.."
Suara Kiran bergetar tidak kuat menahan
sebuah kenikmatan berbeda yang kini tiba-
tiba saja di lancarkan Agra. Tidak kuasa
menolak dia membiarkan saja Agra larut
dalam kesenangan nya. Tubuh Kiran tampak
menggelinjang hebat dengan lenguhan panjang
dan desahan yang tiada henti keluar dari mulut
nya saat tubuhnya semakin di kuasai oleh rasa
nikmat yang menerbangkan dirinya ke awan.
Tangan Kiran kini mencengkram kuat rambut
Agra yang malah semakin menggila dengan
aksinya. Darah mereka kembali mendidih, tubuh mereka terbakar. Akhirnya hasrat membara itu
kini kembali membawa mereka pada pergulatan
panas. Agra melempar handuk yang menempel
di tubuh mereka. Dia langsung menindih tubuh
Kiran yang telah lupa pada semua rasa sakit
yang tadi di deritanya karena sentuhan membuai
suaminya kini sudah mengganti semua rasa
sakit itu menjadi kenikmatan yang lagi-lagi
membawa mereka terbang ke langit ke tujuh
mengarungi indahnya nirwana.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang
saat Agra keluar dari kamar ganti sudah siap
dengan setelan resminya. Bibirnya tersenyum
bahagia saat melihat Kiran kini tertidur lelap
dalam kelelahan. Wajah istrinya itu terlihat
sedikit pucat namun ada rona kepuasan yang
tampak di sana. Setelah dia sendiri yang tadi memandikan dan memakaikan pakaian ke
tubuh Kiran, Agra membaringkan istrinya itu
yang sudah kehilangan tenaga karena ulah
dirinya yang menyiksanya habis-habisan pagi
ini. Dan setelah memastikan Kiran tertidur
barulah dia masuk ke kamar mandi.
"Hallo..kau tunggu di bawah, sebentar lagi
aku turun..!"
Agra mengangkat telepon dari Bara sambil
memasang dasi di lehernya, dia berdiri di sisi
tempat tidur dengan mata tidak pernah lepas
memperhatikan Kiran yang sedang terlelap
dengan tenang dan damai.
"Baiklah.. siapkan saja semuanya.!"
Agra mengakhiri pembicaraan teleponnya.
Dia mendekat ke arah cermin besar di kamar
nya, melihat pantulan dirinya di sana. Perpect !
Dirinya kini sudah siap dengan setelah resmi
nya. Gagah dan mempesona dengan raut wajah
penuh kebahagian dan kepuasan bathin hingga menambah nilai plus pada penampilannya kini.
Dia beranjak menghampiri Kiran, kemudian
duduk di pinggir tempat tidur. Menatap lekat
wajah cantik jelita istrinya itu. Di belainya
mesra wajah itu dengan bibir yang tak henti
tersenyum puas.
"Terimakasih sayang..kau sudah memberiku
kepuasan yang tiada banding. Kau sudah
merelakan mahkota mu aku ambil..Aku laki-
laki paling beruntung di dunia karena memiliki
dirimu, aku sangat mencintaimu Kiran.."
Agra mencium kening Kiran yang bergerak
pelan seraya mendesah lembut. Tangan Agra
mengusap lembut bibir ranum istrinya itu
yang masih tampak sedikit membengkak.
"Hari ini akan aku katakan semuanya padamu
siapa aku sebenarnya. Kau hanya mengenalku
sebagai Hoshi..tapi bukan sebagai Bimantara
Agra Bintang.. maafkan aku karena terlalu
lama menyimpan semua ini..!"
Bisiknya sambil kemudian mengecup lembut
bibir Kiran setelah itu membelai rambutnya.
"Aku pergi ke kantor dulu sayang.. istirahatlah
disini..nanti malam kita akan bertemu lagi..!"
Agra beranjak dari duduknya, kembali menatap
wajah Kiran sedikit berat meninggalkan nya.
Tapi ada schedule yang tidak bisa di abaikan
nya begitu saja. Meeting penting untuk acara
nanti malam..
Agra keluar dari kamar. Di depan pintu Tata
sudah menunggu dengan dua orang pelayan
yang membawakan troli makanan.
"Pastikan dia memakan semua itu..!"
Titah Agra sambil melirik menu makanan
yang ada di troli. Semuanya berisi makanan
bernutrisi tinggi.
"Baik Tuan..!"
Sahut Tata manut. Agra segera melangkah
gagah masuk ke dalam lift, Bara sudah ada
di halaman depan istana nya saat ini.
Tata dan pelayan tadi masuk ke dalam kamar
dengan sangat hati-hati. Aroma wangi yang
sangat membuai masih memenuhi seluruh
isi kamar Tuan nya itu membuat mereka
seolah sedang berada di taman bunga.
Tata dan pelayan tadi beranjak ke dekat tempat
tidur utama untuk melihat keadaan Kiran.Mereka
nampak menatap bengong sosok cantik itu yang
masih tertidur dalam kelelahan. Dia Tampak
begitu cantik dan mempesona dalam balutan
gaun tidur panjang warna peach. Wajahnya
terlihat lebih bercahaya dengan aura berbeda
yang keluar dari tubuh Kiran. Tata dan pelayan
tadi faham betul kalau Tuan dan Nona muda
nya itu baru saja melewati malam yang sangat
panjang dan melelahkan.
"Rapihkan semua nya..ganti bunga-bunga nya
dengan yang baru sebelum dia terbangun.!"
Titah Tata pada dua pelayan yang baru saja
datang dengan membawa beberapa ikat bunga
mawar dan tulip yang baru. Semua pelayan
bergerak cepat dan senyap sehingga tidak
menganggu ketenangan sang Nona muda.
Setelah selesai mereka semua keluar tanpa
suara sama sekali.
"Tata..kau ada di sini..?"
Tata yang sedang menata bunga di dekat nakas
tampak terkejut, dia segera berdiri di samping
tempat tidur lalu membungkuk kearah Kiran
yang mulai bergerak menyibak selimut.
"Nona..anda terbangun.? maaf kalau kehadiran
saya menganggu kenyamanan anda.!"
"Tidak apa-apa Tata, lagipula ini sudah siang.
Apa kamu melihat suamiku. ?"
Kiran memperhatikan sekitar ruangan. Alisnya
kini bertaut saat dia tidak melihat keberadaan
Agra di kamar tersebut.
"Tuan..sudah keluar dari kamar setengah jam
yang lalu Nona.."
"Apa ?? ya Tuhan..kenapa dia pergi begitu
saja tanpa membangunkan ku dulu ."
"Sepertinya Tuan sedang sangat buru-buru .
Beliau berpesan agar Nona jangan lupa makan
siang. Nyonya Besar sudah menyiapkan satu
hidangan khusus untuk Nona.."
"Eyang putri menyiapkan makanan untuk ku?"
"Benar Nona, beliau sendiri yang membuatnya."
"Apa ? kenapa beliau harus repot-repot begitu.
Saya jadi merasa tidak enak hati."
"Nona hanya harus mencicipinya saja."
semua ini, sebenarnya apa yang dia inginkan?
Kiran bergerak turun dari atas tempat tidur.
Dia mulai menapakkan kakinya di lantai. Tapi
sesaat kemudian memekik pelan sambil
menjatuhkan dirinya kembali di atas tempat
tidur saat tubuhnya tidak memiliki tenaga sama
sekali. Dia benar-benar kehilangan tenaganya.
"Nona..anda tidak apa-apa..?"
Tata tampak khawatir, dia memegang erat tangan Kiran yang menatapnya dengan wajah memucat.
"Tubuhku lemas sekali Tata, kenapa bisa begini."
Gumam Kiran sambil kembali mencoba berdiri
di bantu oleh Tata.
"Nona.. bagaimana kalau makanan nya saya
bawakan saja kesini.?"
"Jangan Tata..itu sangat tidak layak. Saya akan
ke balkon sekarang.."
"Tapi Nona.. kondisi anda sepertinya sangat
tidak memungkinkan untuk berjalan.."
Wajah Kiran langsung saja memerah, dia melirik
sekilas kearah Tata yang berekspresi datar saja.
Apakah pelayan ini tahu yang terjadi padanya.?
Kiran benar-benar merasa malu kini.
"Nona tidak perlu merasa malu pada saya.."
Tata berucap membuat wajah Kiran kini sudah
semerah tomat. Dia menunduk seraya mencoba
berjalan di bantu oleh Tata dengan perlahan
dan hati-hati menuju ke balkon.
"Maaf..kalau kami sudah mengotori tempat ini."
Lirih Kiran seraya menghembuskan napas nya
pelan setelah dia berhasil mencapai balkon
kemudian duduk di atas kursi yang telah di
tarik terlebih dahulu oleh Tata.
"Tidak apa-apa Nona, Nyonya Besar sendiri
yang sudah memberi izin pada kalian berdua."
Tata mulai menuang makanan ke piring di
depan Kiran yang tampak bersemangat melihat
semua makanan yang tersaji. Dia memang
sudah sangat lapar dan tubuhnya yang lemah
perlu asupan makanan untuk memulihkan
kondisi nya.
"Nona harus memulainya dengan memakan
hidangan yang ini.! "
Tata menyodorkan sebuah mangkuk kecil
berisi makanan yang sedikit mirip bubur
namun lebih banyak sayurannya dan warna
nya tampak uuhh..tidak menarik !!
"Sebenarnya itu apa Tata..?"
Kiran meringis seraya memundurkan wajahnya
saat mencium aroma aneh dari makanan tadi.
"Jangan terlalu banyak bertanya dan berpikir.
Makan saja yang sudah di siapkan.!"
Ada suara tegas dan sedikit menekan dari arah
pintu balkon. Kiran dan Tata langsung menoleh
ke asal suara, keduanya tampak terkejut saat
melihat sosok Nyonya Ambar kini tengah
berdiri di ambang pintu.
"Eyang Putri.. selamat siang.."
Sambut Kiran sambil mencoba berdiri lalu
menunduk sopan di hadapan nenek tua itu.
Nyonya Ambar berjalan lalu berdiri di depan
Kiran yang belum berani mengangkat wajah.
Nenek tua yang masih tampak bugar itu kini
menatap lekat wajah Kiran, mengamatinya
dengan seksama , ada sesungging senyum
puas yang terulas di bibirnya.
"Makanlah..itu baik untuk kesehatan organ
reproduksi mu..!"
"Ahh.. organ reproduksi.?"
Kiran tergagap bingung sedikit merasa aneh.
Nyonya Ambar tersenyum tipis.
"Kau memerlukan nya.. sebagai pasangan baru
kalian harus selalu segar dan bugar, tidak boleh
loyo..biar cepat mendapat keturunan.!"
"Eyang.. kenapa anda jadi membicarakan soal
itu, kami bahkan baru saja memulainya..!"
Kiran menutup mulutnya sambil melebarkan
matanya, keceplosan. ! Ya Tuhan..mau di taruh
dimana mukanya sekarang.! Nyonya Ambar
kembali mengulum senyumnya. Dia duduk di
hadapan Kiran yang kini kembali menduduki
kursinya semula.
"Ayku tahu itu. Ayo makan lah..aku kesini untuk memastikan bahwa kau memakan nya.!"
Titah Nyonya Ambar. Dengan ragu dan sedikit
enggan Kiran meraih mangkuk itu, namun dia
sedikit bereaksi menutup mulutnya manakala
aroma aneh dari makanan itu membuatnya
tidak nyaman. Namun saat dia melihat reaksi
keras wajah Eyang putri terpaksa Kiran mulai
menyuapkan makanan aneh itu ke mulutnya.
Dia mengerjapkan mata, ajaibb.! ternyata rasa
nya berkebalikan dengan aromanya. Kiran
langsung saja melahap bubur aneh itu dalam
sekejap. Nyonya Ambar tampak tersenyum
puas. Dia menyodorkan minuman yang sama
anehnya ke hadapan Kiran.
"Jangan pernah menilai sesuatu hanya dari
tampilan luar dan aromanya saja.!"
Ucapnya sambil kemudian berdiri, menatap
Kiran yang menunduk takzim mencerna
semua ucapan nenek terhormat itu.
"Habiskan minumannya..baru kamu akan tahu
arti sebuah kebersamaan..!"
Tegasnya saat melihat Kiran masih memegang
cangkir unik berisi minuman aneh tadi. Kiran
kembali mengangguk patuh.
"Baik Eyang.. terimakasih karena anda telah
repot-repot menyiapkan semua ini untuk saya."
Nyonya Ambar kembali menatap tenang wajah
Kiran yang mulai meminum air di cangkir tadi.
Ajib.! makanan dan minuman aneh ini adalah
suatu perpaduan yang sangat unik.
Nyonya Ambar melangkah masuk ke dalam
kamar kembali ke ruang utama tempat tidur.
Dia melihat saat ini Tata tengah mengganti
seprai di tempat tidur.
"Nyonya..ini seprai bekasnya harus saya bawa
kemana ?"
Nyonya Ambar mengamati seprai bekas tadi
dimana begitu banyak bercak darah yang
mengotorinya. Bibir keriputnya tampak
tersenyum lebar setengah menahan tawa.
"Cucuku ternyata sangat perkasa..dia melukai
menantu ku sampai segitunya. Untung saja
dia memiliki nenek hebat seperti ku, kalau
tidak.. gadis itu sampai besok pagi pun tidak
akan bisa keluar dari kamar ini.!"
Kekeh nya merasa geli dan gemas sendiri. Tata
hanya bisa terdiam mengulas senyum.
"Bawa itu ke kamarku..tidak perlu di cuci.!
Biarkan Kiran istirahat..dia harus pulih kembali
sebelum menghadiri acara malam nanti .!"
Titahnya kemudian sambil melangkah pergi
dari kamar itu masih dengan senyum geli nya.
------ ------
Kiran merutuki diri sendiri karena seharian ini
dia benar-benar hanya menghabiskan waktu
nya untuk tidur dan berada di tempat tidur.Ada
sesuatu yang aneh terjadi. Setelah dia selesai
makan siang kemudian menjalankan kewajiban
nya, Kiran tiba-tiba di serang rasa kantuk yang
sangat dahsyat hingga tanpa ampun dia kembali
tertidur pulas. Padahal awalnya dia bermaksud
untuk pergi ke kantor karena Lia sudah memberi
jawdal untuk nya hari ini.
Dia baru terbangun saat lewat adzan Ashar. Dan
kembali sesuatu yang aneh terjadi, kini tubuhnya terasa sangat segar, bugar dan ringan penuh
semangat. Tidak ada lagi rasa sakit di sekujur
tubuhnya, semua rasa tidak nyaman yang tadi
pagi sempat di rasakannya kini seakan lenyap
begitu saja. Kiran benar-benar tidak percaya
makanan dan minuman yang di siapkan oleh
Eyang putri bisa berefek dahsyat seperti ini.
Kini dia sudah siap untuk menjalankan tugas
nya malam ini, menghadiri undangan acara
ulang tahun Bintang Group.
Kiran saat ini sedang bersiap di bantu oleh
Tata dan seorang pelayan pribadi Eyang putri
yang merupakan seorang ahli make up. Kiran
duduk di kursi meja rias yang ada di sudut kiri
ruang kamar mewah itu. Wajahnya sedang di
poles sedikit oleh pelayan pribadi tadi, sedang
Tata memperhatikan dari samping.
Sebenarnya hati Kiran sedang gelisah karena
dari tadi menghubungi Agra tapi tidak juga
di angkat. Dia menyesal karena tadi siang
sewaktu dirinya tertidur Agra menghubungi
nya sampai berpuluh-puluh kali.
Mata Kiran berbinar bahagia saat ponselnya
bergetar dan nama 'Suami Dadakan' tertera
di layar. Dia segera mengangkat nya.
"Assalamualaikum sayang.."
"Waalaikumsalam.. bidadari ku..!"
Hati Kiran bergetar hebat di penuhi bunga-
bunga dan kupu-kupu yang berterbangan.
"Kamu ada dimana sekarang..? kenapa tadi
tidak membangunkan aku.?"
"Aku ada urusan yang tidak bisa di tunda. Aku
juga tidak tega membangunkan mu sayang..
kau terlihat sangat kelelahan.!"
"Tentu saja, gara-gara kamu sih..!"
"Maaf.. habisnya kamu membuatku tidak
tahan.! mulai sekarang kau harus kuat.!"
"Apa maksudmu..?"
"Aku akan memakanmu setiap saat..!"
"Agra...kamu jahat..!"
Wajah Kiran di penuhi semburat merah, dia
melirik ke arah dua orang pelayan yang ada
di dekatnya itu. Agra terkekeh pelan membuat
Kiran sedikit kesal.
"Sebentar lagi akun akan pergi ke pesta
ulang tahun Bintang Group, apa kamu bisa menemaniku.?"
Lirih Kiran penuh harap Agra akan pergi
bersamanya, menemaninya.
"Aku masih ada urusan sayang.. pergilah
dengan Zack, kita akan bertemu di sana..!"
"Kau..akan kesana juga.?"
Kiran menautkan alisnya, bagaimana bisa?
"Iya sayang..aku akan ada di sana. Aku ingatkan
padamu, apapun yang terjadi.. jangan pernah
pergi meninggalkanku. Karena semua yang aku lakukan semata-mata hanya untuk mu. Aku
sangat takut kehilanganmu.."
"Apa maksudmu sayang..?"
"Aku mencintaimu..ingat jangan dandan terlalu
cantik, karena dirimu hanya milikku seorang.."
"Sayang..Agra..hallo.."
Sambungan itu sudah terputus, Kiran menatap
nanar layar ponselnya yang masih menyisakan
sedikit cahaya serta gambar Agra. Hatinya tiba-
tiba saja menjadi gelisah dan tidak nyaman.Ada
nada aneh yang tertangkap dari suara Agra..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC....