Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
42. Tersirap


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Setelah sekitar satu jam mereka berendam


bersama akhirnya Agra kembali mengangkat


tubuh Kiran yang berbalut kimono keluar dari


kamar mandi super mewah itu. Dengan hati-


hati dia merebahkan tubuh ringkih istrinya itu


di atas tempat tidur. Agra mengambil sesuatu


dari dalam laci nakas.


"Buka kakimu sayang..aku akan mengoleskan


salep ini pada lukamu."


Kiran melebarkan matanya sambil menggeleng.


Dia malah merapatkan pahanya sambil menatap


tajam wajah Agra yang tersenyum tipis.


"Tidak perlu..sudah tidak terlalu sakit juga kok.!"


"Jangan ngeyel sayang..nanti kamu tidak bisa


jalan bagaimana.."


"Tapi yang benar saja, masa di salepin sih.?"


"Sudah ayo.. lihat saja nanti, sebentar juga


enakan lagi.. Kalau tidak segera di obati kamu


akan kesakitan terus, lalu bagaimana dengan


nanti malam..!"


Agra duduk di ujung kaki Kiran, tangannya


mulai bergerak memegang kaki indah Kiran.


"Apa maksudmu nanti malam..?"


Kiran menatap tajam penuh ketegangan. Bibir


Agra kembali tersenyum penuh arti. Dia maju


mencondongkan tubuhnya.


"Kita akan kembali terbang bersama, bukankah


sekarang kau sangat menyukainya..?"


"Agra.. hentikan.! dasar mesum..! tidak mau.


Biarkan saja, nanti juga sembuh sendiri.!"


Debat Kiran dengan wajah yang di penuhi


semburat merah. Agra semakin menekan


kaki Kiran agar lebih leluasa melihat nya.


"Kalau tidak mau pakai salep, bagaimana kalau


aku mengobatinya dengan cara yang lain.?"


Wajah Kiran tampak semakin tegang, tatapan


nya kini menghujam wajah tampan Agra yang


hanya menyeringai penuh arti membuat Kiran


sedikit ketakutan.


"Jangan macam-macam sayang..ini masih


sakit, kau telah menyiksaku semalaman.!"


"Hanya dua macam saja sayang..dan kau


akan menyukainya.."


"Tidak mau ! Agra..hei.. mundur, jangan iihh.!"


Agra terkekeh pelan seraya melebarkan paha


Kiran yang meringis kuat mencoba bertahan


tidak mau membukanya. Agra gemas sendiri,


dia menatap tajam mulai mengirimkan sinyal ancaman. Wajah Kiran mulai menciut.


"Bukalah sayang..atau aku akan memasuki


nya lagi saat ini juga.."


"Jangan..! kamu jahat banget sih.! ini semua


gara-gara kamu tahu..!"


Ketus Kiran mengerucutkan bibirnya membuat


darah Agra kembali mendidih. Kalau tidak


melihat keadaan Kiran saat ini ingin rasanya


dia kembali menindih tubuh istrinya itu .


"Makanya itu aku akan mengobatinya..sudah


ayo bukalah sayang.. jangan keras kepala lagi."


Titah Agra sambil menekan kaki Kiran yang


terpaksa menurut juga. Dia membuka pahanya


pelan-pelan sambil meringis menahan perih.


Tubuh Agra menegang saat melihat bagaimana


keadaan bagian bawah tubuh istrinya itu yang


sangat bengkak dan ada luka lecet disekitar


nya. Kiran memejamkan matanya dengan


wajah yang sudah memerah menahan malu


saat mata Agra tidak berkedip menatap milik


nya itu. Agra menelan salivanya berat, junior


nya kini kembali menegang sempurna.


Kiran membulatkan matanya saat melihat


Agra melongokkan kepalanya lalu tanpa di


duga bibirnya melakukan sesuatu ke daerah


miliknya itu. Mata Kiran kian melebar saat


Agra tidak jua menarik kepalanya dari bawah


sana dan kini tubuhnya kembali memanas.


"Aakhh..Agra..apa yang kau lakukan..emhh.."


Suara Kiran bergetar tidak kuat menahan


sebuah kenikmatan berbeda yang kini tiba-


tiba saja di lancarkan Agra. Tidak kuasa


menolak dia membiarkan saja Agra larut


dalam kesenangan nya. Tubuh Kiran tampak


menggelinjang hebat dengan lenguhan panjang


dan desahan yang tiada henti keluar dari mulut


nya saat tubuhnya semakin di kuasai oleh rasa


nikmat yang menerbangkan dirinya ke awan.


Tangan Kiran kini mencengkram kuat rambut


Agra yang malah semakin menggila dengan


aksinya. Darah mereka kembali mendidih, tubuh mereka terbakar. Akhirnya hasrat membara itu


kini kembali membawa mereka pada pergulatan


panas. Agra melempar handuk yang menempel


di tubuh mereka. Dia langsung menindih tubuh


Kiran yang telah lupa pada semua rasa sakit


yang tadi di deritanya karena sentuhan membuai


suaminya kini sudah mengganti semua rasa


sakit itu menjadi kenikmatan yang lagi-lagi


membawa mereka terbang ke langit ke tujuh


mengarungi indahnya nirwana.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang


saat Agra keluar dari kamar ganti sudah siap


dengan setelan resminya. Bibirnya tersenyum


bahagia saat melihat Kiran kini tertidur lelap


dalam kelelahan. Wajah istrinya itu terlihat


sedikit pucat namun ada rona kepuasan yang


tampak di sana. Setelah dia sendiri yang tadi memandikan dan memakaikan pakaian ke


tubuh Kiran, Agra membaringkan istrinya itu


yang sudah kehilangan tenaga karena ulah


dirinya yang menyiksanya habis-habisan pagi


ini. Dan setelah memastikan Kiran tertidur


barulah dia masuk ke kamar mandi.


"Hallo..kau tunggu di bawah, sebentar lagi


aku turun..!"


Agra mengangkat telepon dari Bara sambil


memasang dasi di lehernya, dia berdiri di sisi


tempat tidur dengan mata tidak pernah lepas


memperhatikan Kiran yang sedang terlelap


dengan tenang dan damai.


"Baiklah.. siapkan saja semuanya.!"


Agra mengakhiri pembicaraan teleponnya.


Dia mendekat ke arah cermin besar di kamar


nya, melihat pantulan dirinya di sana. Perpect !


Dirinya kini sudah siap dengan setelah resmi


nya. Gagah dan mempesona dengan raut wajah


penuh kebahagian dan kepuasan bathin hingga menambah nilai plus pada penampilannya kini.


Dia beranjak menghampiri Kiran, kemudian


duduk di pinggir tempat tidur. Menatap lekat


wajah cantik jelita istrinya itu. Di belainya


mesra wajah itu dengan bibir yang tak henti


tersenyum puas.


"Terimakasih sayang..kau sudah memberiku


kepuasan yang tiada banding. Kau sudah


merelakan mahkota mu aku ambil..Aku laki-


laki paling beruntung di dunia karena memiliki


dirimu, aku sangat mencintaimu Kiran.."


Agra mencium kening Kiran yang bergerak


pelan seraya mendesah lembut. Tangan Agra


mengusap lembut bibir ranum istrinya itu


yang masih tampak sedikit membengkak.


"Hari ini akan aku katakan semuanya padamu


siapa aku sebenarnya. Kau hanya mengenalku


sebagai Hoshi..tapi bukan sebagai Bimantara


Agra Bintang.. maafkan aku karena terlalu


lama menyimpan semua ini..!"


Bisiknya sambil kemudian mengecup lembut


bibir Kiran setelah itu membelai rambutnya.


"Aku pergi ke kantor dulu sayang.. istirahatlah


disini..nanti malam kita akan bertemu lagi..!"


Agra beranjak dari duduknya, kembali menatap


wajah Kiran sedikit berat meninggalkan nya.


Tapi ada schedule yang tidak bisa di abaikan


nya begitu saja. Meeting penting untuk acara


nanti malam..


Agra keluar dari kamar. Di depan pintu Tata


sudah menunggu dengan dua orang pelayan


yang membawakan troli makanan.


"Pastikan dia memakan semua itu..!"


Titah Agra sambil melirik menu makanan


yang ada di troli. Semuanya berisi makanan


bernutrisi tinggi.


"Baik Tuan..!"


Sahut Tata manut. Agra segera melangkah


gagah masuk ke dalam lift, Bara sudah ada


di halaman depan istana nya saat ini.


Tata dan pelayan tadi masuk ke dalam kamar


dengan sangat hati-hati. Aroma wangi yang


sangat membuai masih memenuhi seluruh


isi kamar Tuan nya itu membuat mereka


seolah sedang berada di taman bunga.


Tata dan pelayan tadi beranjak ke dekat tempat


tidur utama untuk melihat keadaan Kiran.Mereka


nampak menatap bengong sosok cantik itu yang


masih tertidur dalam kelelahan. Dia Tampak


begitu cantik dan mempesona dalam balutan


gaun tidur panjang warna peach. Wajahnya


terlihat lebih bercahaya dengan aura berbeda


yang keluar dari tubuh Kiran. Tata dan pelayan


tadi faham betul kalau Tuan dan Nona muda


nya itu baru saja melewati malam yang sangat


panjang dan melelahkan.


"Rapihkan semua nya..ganti bunga-bunga nya


dengan yang baru sebelum dia terbangun.!"


Titah Tata pada dua pelayan yang baru saja


datang dengan membawa beberapa ikat bunga


mawar dan tulip yang baru. Semua pelayan


bergerak cepat dan senyap sehingga tidak


menganggu ketenangan sang Nona muda.


Setelah selesai mereka semua keluar tanpa


suara sama sekali.


"Tata..kau ada di sini..?"


Tata yang sedang menata bunga di dekat nakas


tampak terkejut, dia segera berdiri di samping


tempat tidur lalu membungkuk kearah Kiran


yang mulai bergerak menyibak selimut.


"Nona..anda terbangun.? maaf kalau kehadiran


saya menganggu kenyamanan anda.!"


"Tidak apa-apa Tata, lagipula ini sudah siang.


Apa kamu melihat suamiku. ?"


Kiran memperhatikan sekitar ruangan. Alisnya


kini bertaut saat dia tidak melihat keberadaan


Agra di kamar tersebut.


"Tuan..sudah keluar dari kamar setengah jam


yang lalu Nona.."


"Apa ?? ya Tuhan..kenapa dia pergi begitu


saja tanpa membangunkan ku dulu ."


"Sepertinya Tuan sedang sangat buru-buru .


Beliau berpesan agar Nona jangan lupa makan


siang. Nyonya Besar sudah menyiapkan satu


hidangan khusus untuk Nona.."


"Eyang putri menyiapkan makanan untuk ku?"


"Benar Nona, beliau sendiri yang membuatnya."


"Apa ? kenapa beliau harus repot-repot begitu.


Saya jadi merasa tidak enak hati."


"Nona hanya harus mencicipinya saja."


semua ini, sebenarnya apa yang dia inginkan?


Kiran bergerak turun dari atas tempat tidur.


Dia mulai menapakkan kakinya di lantai. Tapi


sesaat kemudian memekik pelan sambil


menjatuhkan dirinya kembali di atas tempat


tidur saat tubuhnya tidak memiliki tenaga sama


sekali. Dia benar-benar kehilangan tenaganya.


"Nona..anda tidak apa-apa..?"


Tata tampak khawatir, dia memegang erat tangan Kiran yang menatapnya dengan wajah memucat.


"Tubuhku lemas sekali Tata, kenapa bisa begini."


Gumam Kiran sambil kembali mencoba berdiri


di bantu oleh Tata.


"Nona.. bagaimana kalau makanan nya saya


bawakan saja kesini.?"


"Jangan Tata..itu sangat tidak layak. Saya akan


ke balkon sekarang.."


"Tapi Nona.. kondisi anda sepertinya sangat


tidak memungkinkan untuk berjalan.."


Wajah Kiran langsung saja memerah, dia melirik


sekilas kearah Tata yang berekspresi datar saja.


Apakah pelayan ini tahu yang terjadi padanya.?


Kiran benar-benar merasa malu kini.


"Nona tidak perlu merasa malu pada saya.."


Tata berucap membuat wajah Kiran kini sudah


semerah tomat. Dia menunduk seraya mencoba


berjalan di bantu oleh Tata dengan perlahan


dan hati-hati menuju ke balkon.


"Maaf..kalau kami sudah mengotori tempat ini."


Lirih Kiran seraya menghembuskan napas nya


pelan setelah dia berhasil mencapai balkon


kemudian duduk di atas kursi yang telah di


tarik terlebih dahulu oleh Tata.


"Tidak apa-apa Nona, Nyonya Besar sendiri


yang sudah memberi izin pada kalian berdua."


Tata mulai menuang makanan ke piring di


depan Kiran yang tampak bersemangat melihat


semua makanan yang tersaji. Dia memang


sudah sangat lapar dan tubuhnya yang lemah


perlu asupan makanan untuk memulihkan


kondisi nya.


"Nona harus memulainya dengan memakan


hidangan yang ini.! "


Tata menyodorkan sebuah mangkuk kecil


berisi makanan yang sedikit mirip bubur


namun lebih banyak sayurannya dan warna


nya tampak uuhh..tidak menarik !!


"Sebenarnya itu apa Tata..?"


Kiran meringis seraya memundurkan wajahnya


saat mencium aroma aneh dari makanan tadi.


"Jangan terlalu banyak bertanya dan berpikir.


Makan saja yang sudah di siapkan.!"


Ada suara tegas dan sedikit menekan dari arah


pintu balkon. Kiran dan Tata langsung menoleh


ke asal suara, keduanya tampak terkejut saat


melihat sosok Nyonya Ambar kini tengah


berdiri di ambang pintu.


"Eyang Putri.. selamat siang.."


Sambut Kiran sambil mencoba berdiri lalu


menunduk sopan di hadapan nenek tua itu.


Nyonya Ambar berjalan lalu berdiri di depan


Kiran yang belum berani mengangkat wajah.


Nenek tua yang masih tampak bugar itu kini


menatap lekat wajah Kiran, mengamatinya


dengan seksama , ada sesungging senyum


puas yang terulas di bibirnya.


"Makanlah..itu baik untuk kesehatan organ


reproduksi mu..!"


"Ahh.. organ reproduksi.?"


Kiran tergagap bingung sedikit merasa aneh.


Nyonya Ambar tersenyum tipis.


"Kau memerlukan nya.. sebagai pasangan baru


kalian harus selalu segar dan bugar, tidak boleh


loyo..biar cepat mendapat keturunan.!"


"Eyang.. kenapa anda jadi membicarakan soal


itu, kami bahkan baru saja memulainya..!"


Kiran menutup mulutnya sambil melebarkan


matanya, keceplosan. ! Ya Tuhan..mau di taruh


dimana mukanya sekarang.! Nyonya Ambar


kembali mengulum senyumnya. Dia duduk di


hadapan Kiran yang kini kembali menduduki


kursinya semula.


"Ayku tahu itu. Ayo makan lah..aku kesini untuk memastikan bahwa kau memakan nya.!"


Titah Nyonya Ambar. Dengan ragu dan sedikit


enggan Kiran meraih mangkuk itu, namun dia


sedikit bereaksi menutup mulutnya manakala


aroma aneh dari makanan itu membuatnya


tidak nyaman. Namun saat dia melihat reaksi


keras wajah Eyang putri terpaksa Kiran mulai


menyuapkan makanan aneh itu ke mulutnya.


Dia mengerjapkan mata, ajaibb.! ternyata rasa


nya berkebalikan dengan aromanya. Kiran


langsung saja melahap bubur aneh itu dalam


sekejap. Nyonya Ambar tampak tersenyum


puas. Dia menyodorkan minuman yang sama


anehnya ke hadapan Kiran.


"Jangan pernah menilai sesuatu hanya dari


tampilan luar dan aromanya saja.!"


Ucapnya sambil kemudian berdiri, menatap


Kiran yang menunduk takzim mencerna


semua ucapan nenek terhormat itu.


"Habiskan minumannya..baru kamu akan tahu


arti sebuah kebersamaan..!"


Tegasnya saat melihat Kiran masih memegang


cangkir unik berisi minuman aneh tadi. Kiran


kembali mengangguk patuh.


"Baik Eyang.. terimakasih karena anda telah


repot-repot menyiapkan semua ini untuk saya."


Nyonya Ambar kembali menatap tenang wajah


Kiran yang mulai meminum air di cangkir tadi.


Ajib.! makanan dan minuman aneh ini adalah


suatu perpaduan yang sangat unik.


Nyonya Ambar melangkah masuk ke dalam


kamar kembali ke ruang utama tempat tidur.


Dia melihat saat ini Tata tengah mengganti


seprai di tempat tidur.


"Nyonya..ini seprai bekasnya harus saya bawa


kemana ?"


Nyonya Ambar mengamati seprai bekas tadi


dimana begitu banyak bercak darah yang


mengotorinya. Bibir keriputnya tampak


tersenyum lebar setengah menahan tawa.


"Cucuku ternyata sangat perkasa..dia melukai


menantu ku sampai segitunya. Untung saja


dia memiliki nenek hebat seperti ku, kalau


tidak.. gadis itu sampai besok pagi pun tidak


akan bisa keluar dari kamar ini.!"


Kekeh nya merasa geli dan gemas sendiri. Tata


hanya bisa terdiam mengulas senyum.


"Bawa itu ke kamarku..tidak perlu di cuci.!


Biarkan Kiran istirahat..dia harus pulih kembali


sebelum menghadiri acara malam nanti .!"


Titahnya kemudian sambil melangkah pergi


dari kamar itu masih dengan senyum geli nya.


------ ------


Kiran merutuki diri sendiri karena seharian ini


dia benar-benar hanya menghabiskan waktu


nya untuk tidur dan berada di tempat tidur.Ada


sesuatu yang aneh terjadi. Setelah dia selesai


makan siang kemudian menjalankan kewajiban


nya, Kiran tiba-tiba di serang rasa kantuk yang


sangat dahsyat hingga tanpa ampun dia kembali


tertidur pulas. Padahal awalnya dia bermaksud


untuk pergi ke kantor karena Lia sudah memberi


jawdal untuk nya hari ini.


Dia baru terbangun saat lewat adzan Ashar. Dan


kembali sesuatu yang aneh terjadi, kini tubuhnya terasa sangat segar, bugar dan ringan penuh


semangat. Tidak ada lagi rasa sakit di sekujur


tubuhnya, semua rasa tidak nyaman yang tadi


pagi sempat di rasakannya kini seakan lenyap


begitu saja. Kiran benar-benar tidak percaya


makanan dan minuman yang di siapkan oleh


Eyang putri bisa berefek dahsyat seperti ini.


Kini dia sudah siap untuk menjalankan tugas


nya malam ini, menghadiri undangan acara


ulang tahun Bintang Group.


Kiran saat ini sedang bersiap di bantu oleh


Tata dan seorang pelayan pribadi Eyang putri


yang merupakan seorang ahli make up. Kiran


duduk di kursi meja rias yang ada di sudut kiri


ruang kamar mewah itu. Wajahnya sedang di


poles sedikit oleh pelayan pribadi tadi, sedang


Tata memperhatikan dari samping.


Sebenarnya hati Kiran sedang gelisah karena


dari tadi menghubungi Agra tapi tidak juga


di angkat. Dia menyesal karena tadi siang


sewaktu dirinya tertidur Agra menghubungi


nya sampai berpuluh-puluh kali.


Mata Kiran berbinar bahagia saat ponselnya


bergetar dan nama 'Suami Dadakan' tertera


di layar. Dia segera mengangkat nya.


"Assalamualaikum sayang.."


"Waalaikumsalam.. bidadari ku..!"


Hati Kiran bergetar hebat di penuhi bunga-


bunga dan kupu-kupu yang berterbangan.


"Kamu ada dimana sekarang..? kenapa tadi


tidak membangunkan aku.?"


"Aku ada urusan yang tidak bisa di tunda. Aku


juga tidak tega membangunkan mu sayang..


kau terlihat sangat kelelahan.!"


"Tentu saja, gara-gara kamu sih..!"


"Maaf.. habisnya kamu membuatku tidak


tahan.! mulai sekarang kau harus kuat.!"


"Apa maksudmu..?"


"Aku akan memakanmu setiap saat..!"


"Agra...kamu jahat..!"


Wajah Kiran di penuhi semburat merah, dia


melirik ke arah dua orang pelayan yang ada


di dekatnya itu. Agra terkekeh pelan membuat


Kiran sedikit kesal.


"Sebentar lagi akun akan pergi ke pesta


ulang tahun Bintang Group, apa kamu bisa menemaniku.?"


Lirih Kiran penuh harap Agra akan pergi


bersamanya, menemaninya.


"Aku masih ada urusan sayang.. pergilah


dengan Zack, kita akan bertemu di sana..!"


"Kau..akan kesana juga.?"


Kiran menautkan alisnya, bagaimana bisa?


"Iya sayang..aku akan ada di sana. Aku ingatkan


padamu, apapun yang terjadi.. jangan pernah


pergi meninggalkanku. Karena semua yang aku lakukan semata-mata hanya untuk mu. Aku


sangat takut kehilanganmu.."


"Apa maksudmu sayang..?"


"Aku mencintaimu..ingat jangan dandan terlalu


cantik, karena dirimu hanya milikku seorang.."


"Sayang..Agra..hallo.."


Sambungan itu sudah terputus, Kiran menatap


nanar layar ponselnya yang masih menyisakan


sedikit cahaya serta gambar Agra. Hatinya tiba-


tiba saja menjadi gelisah dan tidak nyaman.Ada


nada aneh yang tertangkap dari suara Agra..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC....