Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
29. Calon Tunangan


 


***********


 


Agra menatap tenang wajah Kiran, mengelus pipi


putih mulusnya sebentar.


"Lanjutkan makan siang mu. Aku akan menemui


orang dulu di luar.!"


"Siapa Mikhayla.? apa dia kekasihmu.?"


"Kau mengenal Mikhayla Alexandria.?"


Kiran tampak terkejut sesaat, tatapan nya kini


semakin menghujam wajah tampan Agra. Sorot


matanya terlihat tidak nyaman, ada hawa panas


yang kini mulai merayap memenuhi dadanya.


"Apa wanita itu punya hubungan dengan mu.?"


Tanya Kiran setengah ragu. Rasanya itu tidak


mungkin.! tapi bisa juga sih melihat keadaan


fisik Agra yang sangat berbeda dari orang


kebanyakan.


"Kau cemburu padanya.?"


Senyum tipis tertahan di bibir Agra melihat raut


wajah cantik Kiran yang terlihat sedikit gusar.


"Tidak ! buat apa aku cemburu padanya, kau


juga tidak mungkin punya hubungan dengan


nya kan.?


"Tentu saja tidak ! tapi aku punya urusan dengan


nya yang harus segera di selesaikan !"


Desis Agra sambil kemudian berdiri, menatap


sekilas kearah Kiran yang juga sedang menatap


nya berat.


"Tunggu di sini..! Aku hanya akan sebentar.!"


Agra meyakinkan sambil kemudian melangkah


pergi di iringi tatapan tidak nyaman Kiran. Ada


rasa penasaran yang kini memenuhi dadanya.


Ada urusan apa Agra dengan pemilik salah satu


brand kosmetik internasional yang sangat


terkenal itu, apa Agra pernah bekerja padanya,


atau pernah jadi pengawal pribadinya.?


Sementara Agra saat ini masuk ke dalam ruang


VVIP sebelah. Kedatangan nya di sambut oleh


seorang wanita yang memilki rupa teramat cantik.


Tidak ada yang bisa di komentari dari seluruh


penampilan nya. Sangat elegan dan berkelas


dengan kesempurnaan wajah dan tubuh yang


tiada banding. Senyumnya begitu memikat, bisa


melumpuhkan saraf urat malu setiap laki-laki


yang melihatnya.


Namun semua daya tarik maha daya itu rupanya


tidak mampu menarik perhatian seorang Agra.


Laki-laki itu tampak menatapnya datar tanpa


minat. Dan hal itulah yang membuat wanita ini


begitu memuja sosok Bimantara Agra Bintang.


Mikhayla Alexandria..dia adalah seorang model


kelas dunia, pemenang ajang kecantikan yang


mengutamakan kesempurnaan bentuk wajah


serta keindahan kulit tubuh. Dia adalah ratu


kecantikan sekaligus pengusaha muda sukses


pemilik brand kecantikan ternama berkelas internasional.


Mikhayla tampak menatap senang kearah Agra


yang hari ini berpenampilan santai, di matanya


apapun yang menempel di tubuh gagah laki-laki


itu selalu menarik hatinya hingga terkadang


membuat dia melupakan harga diri serta nama besarnya sebagai seorang ratu kecantikan serta pengusaha muda terkenal berkelas dunia.


"Tuan Bimantara..senang sekali bisa berjumpa


denganmu di tempat ini."


Sambut nya sambil menundukkan kepala sedikit


dengan gestur tubuh yang sangat luwes serta


anggun. Agra menatap datar wajah Mikhayla


sambil kemudian duduk tenang dengan gaya


khas nya yang terlihat begitu elegan. Tampilan


nya sebagai seorang keturunan bangsawan


yang paripurna keluar saat ini.


"Ada perlu apa Nona Mikhayla.. kebetulan saya


sedang tidak punya banyak waktu saat ini.!"


Tanya Agra acuh dengan wajah tanpa ekspresi.


Mikhayla tersenyum lembut, tatapannya tercurah


seluruhnya pada wajah datar Agra yang semakin


terlihat menggemaskan di mata wanita itu.


"Kebetulan saya baru saja selesai mengadakan


pertemuan dengan klien penting di sini, apa


anda mau menemani saya makan siang.?"


Jawab Mikhayla dengan suara lembutnya yang


begitu menggoda. Agra menatap acuh wajah


super cantik gadis itu yang terlihat penuh harap.


Mereka masih berbicara dengan bahasa formal


untuk menjaga attitude dan kesopanan sebagai


sesama pengusaha ternama.


"Maaf sekali..tapi saya sudah makan.!"


"Baiklah.. asal anda mau menemaniku duduk


juga tidak apa-apa, bagiku itu sudah cukup."


"Sepertinya itu pun tidak bisa saya lakukan


Nona Mikhayla..saya masih banyak urusan..!"


"Please..Hanya sebentar saja Tuan Agra..!"


"Tapi urusanku lebih penting daripada sekedar


menemani mu makan siang Nona Mikhayla..!"


Wajah Mikhayla tampak mulai memerah tidak


terima dengan sikap dingin Agra yang di nilai


nya sudah sangat keterlaluan. Setiap bertemu


laki-laki itu tidak pernah memberinya respon


positif sekali pun.


"Aku mohon Agra.. jangan bersikap dingin seperti


ini padaku.! sebentar lagi kita akan bertunangan,


apa sikapmu akan seperti ini terus? sebenarnya


apa kurangnya diriku di matamu.?"


Lirih Mikhayla dengan suara yang terdengar


berat dan sedikit tertekan karena rasa kecewa


kini mulai menguasai dirinya. Agra menatap


tajam wajah Mikayla tanpa simpati sedikit pun.


"Aku sedang tidak ada waktu ! kalau sudah


tidak ada yang akan kita bahas aku akan pergi sekarang.!"


"Aku mohon temani aku makan siang, hanya


sebentar saja !"


"Aku benar-benar sedang tidak ada waktu.!"


Agra berdiri merapihkan jaket nya, memakai


kembali topinya. Mikhayla buru-buru ikut berdiri


kemudian mendekat kearah Agra, memegang


tangan laki-laki itu dengan kuat.


"Agra..apa kamu tega membiarkan aku makan


siang sendiri di sini..!"


Rajuk nya dengan tatapan mata redup memelas


menggoda. Tapi Agra tampaknya tidak peduli


sama sekali, dia segera melepas pegangan


tangan gadis itu yang langsung kecewa.


Raut wajahnya berubah mendung.


"Kau bersama dengan semua orang mu,


kurasa itu sudah cukup !"


Ujar Agra sambil melihat sekilas kearah barisan


sekretaris serta asisten pribadi gadis itu. Setelah


itu dia melangkah tenang. Mikhayla hanya bisa


menatapnya geram menahan kekecewaan yang


kini seakan menelan dirinya bulat-bulat.


Agra segera kembali ke ruangan tempat Kiran


berada. Gadis itu tampak sedang bersiap diri


untuk pergi. Agra menautkan alisnya heran.


"Kenapa buru-buru ? kau sudah menyelesaikan


makan siang mu.?"


Kiran menatap sebentar kearah Agra dengan


sedikit rasa kesal.


"Apa kau tahu sudah membuat ku menunggu?


kapan kita akan bicara kalau begini caranya.!"


Ketus Kiran sambil merapikan alat sholat nya


karena saat Agra keluar tadi dia langsung pergi


ke mushola untuk menjalankan ibadah sholat


dhuhur.


"Kita akan bicara sekarang..!"


"Ini jam berapa Tuan.. pertemuan ku akan


berlangsung 20 menit lagi dan pertemuan ini


sangat penting bagi kelangsungan perusahaan ku.!"


"Baiklah.. kalau begitu ayo kita berangkat


sekarang ke tempat pertemuan mu.!"


"Aku akan berangkat sendiri.!"


"Tidak.! sekarang aku adalah supir pribadimu, sekaligus pengawalmu.!"


Kiran menatap jengah wajah Agra yang terlihat


tersenyum tipis penuh arti.


"Tentunya sebagai suami mu juga Nona Kiran.."


Bisik Agra sambil mendekatkan wajahnya.


Pipi Kiran bersemu merah, dia melengoskan


wajahnya yang tersipu malu.


"Memang nya kamu tidak ada pekerjaan lain


selain mengikuti ku.?"


"Menjadi pengawalmu adalah pekerjaanku


Nona..Dimana pertemuan nya.?"


"Di hotel Star Light.."


Agra tampak merenung sebentar seperti berpikir


sesuatu, Kiran berdiri kemudian menatap Agra.


"Apa ada sesuatu yang tidak beres.?"


"Tidak ada, ayo kita berangkat..!"


Sahut Agra sambil menarik tangan Kiran di bawa melangkah keluar dari ruangan itu yang masih menyisakan banyak makanan di meja.


"Berikan semua makanan di dalam pada orang


orang yang ada di pinggiran.!"


Titah Agra pada manager restauran saat dia baru


saja keluar dari ruangan.


"Baik Tuan..akan kami laksanakan secepatnya."


Sambut sang manager. Kiran menatap diam


kearah Agra. Keduanya kembali melangkah


menuju lift khusus, Agra menggengam kuat


tangan Kiran seakan takut terlepas. Keduanya


tidak sadar ada sepasang mata yang saat ini


sedang menatap mereka dengan pandangan


panas terbakar api cemburu yang sangat besar.


------ ------


Agra sengaja menghentikan mobil mewahnya


di depan lobby hotel. Dua orang security dengan


sigap langsung mendekat menyambut mereka.


Pintu mobil terbuka otomatis, Agra merapihkan


kembali topinya hingga lebih menutup wajah


nya, namun rupanya para security itu tetap bisa


mengenali dirinya. Mereka terlihat terkejut saat


melihat siapa yang keluar dari dalam mobil.


"Selamat siang Tuan.."


Sambut mereka membungkuk dalam, tidak


bisa terdiam melihat perlakuan para security


dan penjaga di sana. Apa hanya karena sebuah


mobil mewah mereka bersikap berlebihan


seperti ini.? Sungguh..dunia memang ajaib.!


"Pindahkan ke private parking.!"


Titah Agra sambil melempar kunci mobil pada


seorang petugas vallet parking yang langsung membungkuk hormat padanya.


"Baik Tuan.."


Agra segera menggenggam tangan Kiran di


bawa masuk ke dalam lobby hotel.


"Kenapa kamu harus menyembunyikan wajahmu


segala.? ini kan di dalam ruangan Agra.."


Protes Kiran saat mereka berjalan masuk. Agra


langsung menghentikan langkahnya, keduanya


saling pandang sesaat.


"Ohh..jadi kamu mau kalau suamimu ini jadi


pusat perhatian semua orang.?"


Kiran berdecak gerah mendengar ucapan Agra


yang terkesan terlalu percaya diri.


"Kau pikir dirimu selebritis Tuan.."


"Apa kau mau bukti Nona Kiran..?"


"Coba saja..aku ingin melihat sampai dimana


rasa percaya dirimu akan kau buktikan.!"


Tantang Kiran dengan senyum meremehkan.


Agra menggeleng pelan seraya mengulum


senyum nya. Dia merapihkan letak topinya


hingga kini wajahnya bisa terlihat lebih jelas.


Namun kacamata tetap di pakainya.


Mereka kembali berjalan menuju ke dalam


ruang utama lobby hotel super mewah milik


keluarga Hadiningrat itu. Saat tiba di ruang


utama barisan resepsionis juga para penjaga


dan security yang ada di sana tampak terkejut


dan gelagapan melihat kedatangan Agra yang


mendadak. Mereka langsung berbaris rapih di


depan meja resepsionis.


"Selamat siang Tuan.. Selamat datang..!"


Sambut mereka serempak sambil membungkuk


dalam, tidak ada lagi yang berani mengangkat


mukanya. Dari ruangan sebelah muncul seorang


pria berpakaian sangat rapi, dia tampak terkejut


bukan main saat melihat kemunculan Agra. Pria


itu segera berlari kemudian berdiri di hadapan


Agra sambil membungkuk.


"Selamat siang Tuan..maaf saya tidak tahu


kalau anda akan berkunjung kesini.!"


Sambut pria itu yang sepertinya manager hotel


ini, suaranya terdengar begitu gugup. Kiran


hanya bisa melongo tidak percaya dengan apa


yang kini di lihatnya. Kenapa mereka semua


harus bersikap berlebihan seperti ini.? benar-


benar aneh.!


"Hemm..bawa kami ke ruang pertemuan


golden room..!"


Sahut Agra acuh, manager hotel itu tampak


tertegun sesaat. Apa Tuan nya ada pertemuan


di hotel ini.? tapi setahu dia tidak ada klien


yang cukup istimewa hari ini .


"Apalagi yang kau tunggu.?"


"Ohh..maaf Tuan, mari saya antarkan.!"


Sang manager tambah gugup, dia mengulurkan


tangannya sambil berjalan membimbing mereka.


Agra kembali menggenggam tangan Kiran yang


masih di liputi oleh keheranan. Para resepsionis


dan penjaga memberanikan diri mencuri pandang kearah kepergian Agra, siapa wanita cantik yang bersama dengan Tuan muda mereka itu.?


Sepanjang ruangan dan koridor yang di lalui,


semua pegawai hotel yang kebetulan berpapasan dengan mereka tampak langsung membungkuk hormat kearah Agra dan Kiran. Berdiri mematung


di sisi ruangan, tidak berani beranjak sampai


sosok Agra benar-benar tidak terlihat lagi.


"Kau lihat hasilnya Nona Kiran..?"


Bisik Agra di telinga Kiran yang menghentikan


langkah nya, keduanya saling pandang. Tangan


Kiran bergerak meraih topi Agra, menarik nya


kembali lebih dalam menyembunyikan wajah


tampan suaminya itu.


"Baiklah.. sepertinya sekarang kau yang harus


menyembunyikan wajahmu.."


Lirihnya dengan senyum tertahan. Agra juga


tersenyum tipis, manager hotel hanya bisa


terdiam menunduk dengan seribu tanda tanya


yang bersarang di kepalanya melihat kedekatan


Tuan Muda Hadiningrat dengan wanita cantik


yang saat ini bersamanya.


"Mungkin aku terlalu menarik di mata mereka.!"


Desis Agra sambil sekilas mengecup bibir Kiran


yang melebarkan matanya kaget seraya memukul


pelan lengan Agra yang terlihat acuh, menarik


kembali tangan Kiran melanjutkan langkahnya.


Wajah Kiran saat ini sudah semerah tomat.


Dasar suami mesum.!!


Sampai di ruang pertemuan Lia tampak sudah


ada di sana, dia segera menyambut Kiran, tidak


lupa menyempatkan diri menatap senang kearah


Agra yang berjalan tenang di samping Kiran.


"Mari Bu.. klien kita sudah menunggu di dalam."


Lia membimbing langkah Kiran menuju sofa


yang ada di pojok ruangan. Di tempat itu ada 3


buah ruang private yang terhalang dinding kaca


antara satu ruangan dengan ruangan lainnya.


Klien Kiran langsung berdiri menyambut nya.


Namun wajahnya berubah pias saat melihat


kemunculan Agra bersama dengan Kiran.


Matanya tampak menatap ragu kearah Agra


yang terlihat acuh dan hanya mengibaskan


tangannya sedikit memberi isyarat. Pria 40


tahun itu mengangguk pelan sambil berusaha


untuk menenangkan dirinya padahal lututnya


saat ini terasa gemetar.


"Nona Kiran.. senang bertemu dengan anda !"


Kiran tersenyum tenang seraya mengatupkan


kedua tangan nya di dada.


"Maaf saya datang terlambat Tuan Ardan."


"Tidak apa-apa Nona.. silahkan..!"


Keduanya langsung duduk berhadapan. Agra


duduk tumpang kaki dengan gaya elegan nya


di samping Kiran yang merasa agak risih


dengan cara duduk Agra yang terkesan sedikit


arogan di hadapan kliennya itu.


"Apa kau bisa duduk lebih normal sedikit.?"


Bisik Kiran sambil melirik sekilas kearah Agra


dengan suara sedikit di tekan. Agra mengulum


senyumnya, namun pura-pura tidak mengerti.


"Apa maksudmu.? apa cara dudukku kurang


sopan ?"


Sanggah Agra dengan tampang cueknya. Kiran


mengetatkan rahang nya, Duuh..suamiku..jiwa


mu boleh lah preman tapi setidaknya janganlah


bersikap angkuh dan arogan begini di depan


klien nya, Kiran merutuki Agra dalam hatinya.


Bagaimana kalau klien nya ini tersinggung.?


"Aku mohon.. turunkan kakimu Tuan Agra..!"


Desis Kiran seraya menekan lutut Agra yang


semakin menahan senyumnya. Wajah kesal


dan jutek Kiran membuat Agra gemas sendiri.


Dia menghembuskan napas nya kasar.


Ponselnya tiba-tiba berdering, dengan santai


nya Agra mengangkat telepon tanpa berbicara


sedikitpun, dia hanya mendengarkan suara


di sebrang sana. Tidak lama kemudian dia


mengakhirinya lalu berpaling pada Kiran seraya


mengelus lembut rambut nya yang terikat manis.


"Baiklah..kalau begitu sebaiknya aku pergi saja


dari sini. Kau lanjutkan pembicaraan nya.!"


Agra menurunkan kakinya, lalu merapihkan


jaketnya. Kiran menatap bingung kearah Agra.


Sedang klien nya dari tadi hanya bisa terdiam,


tidak berani mengangkat mukanya sedikit pun,


begitu juga dengan asisten nya. Mereka berdua tampak menunduk dalam, menyaksikan interaksi antara kedua orang yang ada di hadapan mereka dengan keterkejutan luar biasa melihat sikap


berani Kiran terhadap Tuan Agra nya mereka.


"Kau mau kemana.? ada urusan apa.?"


Kiran malah lebih fokus pada suaminya itu


hingga melupakan kehadiran kliennya. Agra


menatap tenang wajah Kiran.


"Aku ada urusan sedikit, setelah urusanmu


selesai kita bertemu di privat parking.! Tuan


Ardan pastikan semua nya berjalan lancar.!"


Agra menatap tajam wajah klien Kiran yang


sontak mengangguk mengerti.


"Saya akan pastikan semuanya sesuai dengan


yang di inginkan Nona Kiran Tuan..!"


"Agra..apa-apaan ini, mereka adalah klienku.


Jangan bersikap tidak sopan begini.!"


Kiran tampak semakin kesal sekaligus tidak enak


pada kliennya. Agra hanya tersenyum tipis, tanpa


di duga dia mengecup lembut kening Kiran, lalu


dengan acuhnya bangkit berdiri kemudian


melangkah tenang keluar ruangan.


Lia hanya bisa bengong melihat apa yang terjadi


di hadapannya itu. Sementara bagi Kiran rasanya


saat ini sudah tidak bermuka lagi. Agraa...!!


"Baiklah Nona Kiran.. sebaiknya kita mulai saja


pembicaraan nya. !"


Ardan memecah kecanggungan membuat Kiran


kembali pada kesadarannya.


"Anda benar Tuan Ardan..maafkan saya atas


semua ketidaknyamanan ini..!"


"Tidak apa Nona.."


Sahut Ardan walaupun di hatinya masih tersisa


segudang rasa penasaran akan hubungan Kiran


dengan Bos Besar Bintang Group tempat


perusahaan nya bernaung itu.


Akhirnya pembicaraan pun di mulai, dan Ardan


langsung menandatangi kontrak kerjasama nya


dengan pihak perusahaan ZM Company tanpa


banyak basa-basi..


 


***********