
************
Akhirnya sekitar jam 7 malam Kiran dan Agra
terbang menuju ke negara xxx..menggunakan
pesawat pribadi miliknya yang sangat mewah.
Bara dan Zacky serta 4 pengawal pribadi, setia
mendampingi kepergian Tuan nya ke tempat
yang entah akan seperti apa penerimaannya.
Agra memang cukup sering mengunjungi sang
ibu ke tempat kelahirannya ini, namun tidak
pernah bertahan lama, dia juga datang ke sini
hanya untuk menemui sensei nya .
Kiran menatap ke luar jendela pesawat mencoba
menembus kegelapan malam yang di selimuti
oleh awan tebal hingga menutup pandangan.
Hatinya saat ini sangat gelisah. Ingatannya kini mengalir pada masa kecilnya. Selama dua tahun ayahnya pernah merintis usaha di negara ini,
hingga akhirnya harus terusir paksa setelah
Tuan Hasimoto datang ke rumahnya.
"Apa yang kau pikirkan sayang..?"
Kiran melirik kearah Agra yang baru saja datang
setelah tadi mengadakan pembicaraan dengan
semua bawahannya. Agra langsung meraih
tubuh Kiran, mengangkat nya kemudian di bawa berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya.
Kiran hanya terdiam menatap wajah tenang
suaminya itu. Agra membaringkan tubuh
Kiran di atas tempat tidur yang cukup besar.
"Sekarang kamu harus istirahat. Jangan terlalu
banyak berpikir..!"
Ujar Agra sambil menarik tubuh Kiran kedalam
dekapan nya. Tapi Kiran menekan dadanya
hingga membuat Agra mengernyit, keduanya
kini saling menatap kuat.
"Sayang..aku masih saja merasa ragu untuk
pertemuan ini. Aku punya firasat buruk..!"
Tatapan Agra semakin tajam hingga rasanya
menembus jantung Kiran.
"Tidak ada hal buruk apapun yang akan terjadi
pada kita..aku tidak akan membiarkannya..!"
"Tapi sayang..sudah jelas sekali kalau ayahmu
tidak pernah menyukai keberadaan ku, bahkan
sejak aku kecil..!"
"Oleh karena itu kau harus membuktikan, bahwa dirimu adalah orang yang layak untukku, kau
orang yang pantas menjadi pendamping ku.!"
"Tapi aku tidak memiliki kelebihan apapun..
Aku hanya gadis biasa yang beruntung saja..!"
"Kau salah..! kau punya cinta yang besar dan
tulus untukku Kiran...!"
Keduanya terdiam, saling menatap kuat.
"Tentu saja..aku punya cinta..dan ketulusan..!"
Lirih Kiran seraya tersenyum lembut, tatapan
mereka semakin dalam dan tanpa komando
keduanya saling menyergap, hanyut dalam
ciuman manis yang lembut dan membuai.
Tangan Agra kini sudah bergerilya kebalik
pakaian yang di kenakkan Kiran, meraih dua
benda sintal kesukaannya. Namun Kiran
menghentikan aksinya dengan melepaskan
ciuman mereka, lalu menatap Agra sambil
menggeleng resah. Agra menarik napas
berat dengan wajah dipenuhi kekecewaan.
Beberapa jam kemudian...
Setelah menempuh perjalanan yang cukup
lama, akhirnya pesawat mendarat di landasan
khusus pesawat pribadi. Sudah ada 4 mobil
mewah yang kini menanti kedatangan mereka.
Agra keluar dari pesawat dengan membopong
tubuh Kiran yang masih terlelap dalam tidur
nya karena baru beberapa jam terakhir dia
bisa memejamkan mata.
Waktu saat ini menunjukan pukul 2 dini hari.
Iring-iringan mobil yang membawa Agra dan
Kiran kini sudah keluar dari area bandara dan
mulai menyusuri jalanan yang cukup lengang.
Jalan yang di lalui terlihat sangat rapi dengan
bentangan pemisah yang tampak seperti siluet
mengapung di udara, di hiasi lampu jalanan
yang berbaris teratur dengan pemandangan
yang cukup memanjakan mata.
Saat iringan tiba di sebuah jalan yang sangat
sepi tiba-tiba mereka semua menghentikan
mobilnya mendadak dengan suara decitan rem
yang cukup memekakkan telinga menghindari benturan satu sama lain saat di arah berlawanan sudah ada sekitar 6 mobil yang menghadang kedatangan mobil mereka.
Agra mendekap kuat tubuh Kiran agar terhindar
dari benturan jok depan, dan hal itu membuat
Kiran tersentak bangun dari tidurnya. Mata Agra
menatap kuat kearah depan dimana kini ada
sekitar 25 orang bertopeng tengah berjalan
bersamaan kearah mobil mereka dengan
senjata lengkap di tangan masing-masing..
Kiran mendongak, menatap wajah Agra yang
masih memusatkan perhatiannya kearah depan.
Ekspresi wajahnya terlihat datar namun aura
nya sangat dingin dan mencekam.
"Ada apa sayang..apa kita sudah sampai.?"
Tanya Kiran saat menyadari kini dirinya sudah
berada di dalam mobil, bukan di dalam kabin
pesawat lagi. Dia segera menarik dirinya dari
dekapan Agra, menegakkan badannya seraya
melihat ke sekelilingnya. Namun matanya
nampak melebar saat melihat di depan mobil
mereka kini sudah berbaris puluhan sosok
bertopeng dengan senjata lengkap di tangan.
"A-apa yang terjadi sayang..? si-siapa mereka.?"
Terbata Kiran bertanya sambil merapatkan
kembali tubuhnya ke tubuh Agra yang kini
merengkuh dirinya, menyembunyikan wajah
nya di dadanya.
"Tenanglah.. mereka hanya cacing jalanan.!"
"Tapi sayang.. mereka banyak sekali dan lihat
saja, mereka semua bersenjata..!"
Ucap Kiran dengan menatap sedikit takut ke
arah jalanan dimana kini para manusia topeng
itu sedang memainkan senjata nya masing-
masing hingga menimbulkan suara yang
cukup mengerikan.
"Itu bukan apa-apa, kau hanya perlu tenang..!
Zack.. kalian hadapi mereka dulu.!"
Titah Agra sambil mempererat pelukannya di
tubuh Kiran dengan tatapan terfokus ke depan.
"Baik Tuan.. kami keluar sekarang. ! kami akan
menghadapi mereka semua.."
Sahut Zack sambil kemudian keluar dari mobil
di ikuti oleh Bara. Para pengawal Agra dan orang-
orang pilihan yang tadi menjemput nya pun kini
sudah keluar dari mobil masing-masing. Mereka semua bergerak bersama kehadapan barisan
manusia topeng tadi.
Tidak lama pertarungan seru dan sengit pun
sudah berlangsung mewarnai jalanan tersebut.
Sebenarnya cukup jomplang karena pihak Agra
hanya berjumlah sekitar 13 orang saja itupun
bila di tambah Agra. Namun ternyata itu tidak
mengurangi keseruan pertarungan ini.
"Jangan turun sayang..aku takut..!"
Rengek Kiran saat melihat tangan Agra meraih
handel pintu dan bersiap keluar melihat
beberapa pengawalnya mulai terdesak.
"Ikutlah denganku keluar..!"
"Ahh..? tapi aku takut..."
Kiran tambah gemetar. Agra meraup wajah
Kiran, menatapnya meyakinkan.
"Kau lupa siapa suamimu ini.?"
Kiran menggeleng resah dengan wajah tetap
di liputi kekhawatiran. Akhirnya mau tidak mau
Kiran keluar dari mobil bersama dengan Agra.
Pertarungan sedikit terhenti saat mereka semua
melihat kearah kemunculan Agra yang datang
dengan menggengam kuat tangan Kiran.
"Kau berdiri di belakangku.. jangan bergerak
terlalu jauh dariku, oke..?"
Agra memegang bahu Kiran yang mengganguk
sedikit ragu, wajahnya terlihat semakin ketakutan
menyaksikan semua adegan perkelahian tersebut.
Pasalnya senjata para manusia topeng terlihat
berkelebatan di udara mengarah dan mencecar
semua bawahan Agra.
Agra membalikkan badan, menghadap dan
menatap tajam musuh-musuh nya.
"Hei.. kalian..! bukankah kalian datang untukku.
Sini maju, hadapi aku sekarang..!"
Tantang Agra seraya membuka mantelnya di
berikan kepada Kiran yang menatapnya tegang.
Para manusia topeng itu saling pandang, lalu
beberapa diantaranya maju menyerang kearah
Agra yang langsung menghindar dan membalas
serangan dengan gerakan lincah dan cepat.
Kiran menutup mulutnya di penuhi ketegangan.
Tuhan.. kenapa sekarang hidupnya rasanya
jadi bersinggungan terus dengan hal-hal seperti
ini, tidak jauh dari hal yang berbau kekerasan.
Pertarungan terus berlangsung semakin seru
dan sengit. Agra tampak tidak sabar lagi, dia
harus segera mengakhiri semua ini, kalau tidak
Kiran akan semakin ketakutan. Dengan gerakan kilatnya dia memutar tubuh membagi pukulan
dan tendangan kearah lawan-lawannya hingga
habis kesabaran.
Dia mundur beberapa langkah, kemudian berdiri
tegak, menatap lawan nya yang berjumlah sekitar
7 orang. Mereka kini sudah mengurung dirinya
dengan senjata yang siap menghabisinya. Agra
mencoba mengatur pernapasan, setelah itu dia
mulai memasang kuda-kuda dengan posisi siaga,
dan tiba-tiba dia meliukkan tubuhnya dengan
gerakan memutar cepat seperti tornado, hingga
sapuan gerakan memutarnya tersebut dapat mengeluarkan angin kencang yang membuat lawannya mundur ketakutan dengan wajah
pucat pasi di penuhi keterkejutan.
Kiran mundur perlahan kearah trotoar, matanya
tampak bengong melihat gerakan Agra yang
sangat menakjubkan tersebut. Dia belum pernah melihat gerakan Agra yang seperti ini sebelum
nya. Matanya kian membulat saat melihat Agra berhasil membabat habis lawan-lawannya
hingga mereka semua terlempar satu per satu
ke atas jalanan dengan memuntahkan darah.
Semua pertarungan terhenti. Para manusia
topeng yang masih sedikit bugar nampak mundur ketakutan dengan tatapan tidak percaya karena mereka baru saja menyaksikan seni bela diri
tingkat tinggi yang hanya di miliki oleh para
ksatria sejati dan itu perlihatkan langsung di
depan mata mereka.
"Pergi kalian dari sini.! atau aku akan menghabisi
kalian sekarang juga.! bilang pada Tuan kalian terimakasih atas sambutannya..!
Titah Agra dengan suara yang sangat berat dan
tatapan mata setajam ujung pedang. Mereka
tampak langsung membungkuk tanpa suara,
menyeret teman-teman nya yang terluka, lalu
pergi dengan susah payah meninggalkan lokasi pertarungan.
Agra menghembuskan napas kasar, menepis
debu yang menempel di pakaiannya. Semua
bawahannya masih di liputi oleh kekaguman
begitupun Kiran. Agra membalikkan badannya
berjalan kearah Kiran, tanpa kata dia langsung
mengangkat tubuh Kiran kedalam pangkuannya.
"Kita ke hotel dulu sekarang..besok pagi baru
ke istana Hiroki..!"
Titah Agra sambil melangkah tenang. Semua
tampak membungkuk sebagai jawaban. Kiran
masih saja terdiam sampai mereka berdua
berada di dalam mobil.
"Lanjutkan tidurmu.. semuanya sudah aman.!"
Lirih Agra sambil menyandarkan kepala Kiran
di dadanya. Kiran mendongak sebentar, lalu
mendaratkan kecupan lembut di bibir Agra
yang membuat darah Agra mendidih seketika.
Setelah itu dia menyandarkan tubuhnya dalam dekapan hangat sang suami, matanya terpejam, berusaha untuk melupakan semua kejadian mengerikan barusan. Untung saja dia punya
suami seorang ksatria sejati.
****** ******
Kamar hotel presidential suite...
Saat ini waktu menunjukan pukul 7 pagi waktu
setempat di pusat kota xxx..yang sudah terlihat
sibuk di setiap sudut nya .
Kiran baru saja keluar dari kamar mandi besar
yang ada dalam kamar hotel paling mewah dan
paling mahal yang mereka tinggali. Dia masih
mengenakan kimono putih sebatas lutut. Kulit
tubuhnya terlihat masih sedikit basah, begitupun dengan rambutnya yang masih di gulung handuk
kecil putih. Sedang Agra saat ini masih berada
di dalam kamar mandi.
Kiran menarik napas panjang, dia mencoba
memantapkan hatinya untuk menjalani hari
ini dengan tenang dan percaya diri. Dia segera
berpakaian sebelum Agra keluar dan melihat
dirinya masih dalam keadaan seperti ini, suami
nya itu pasti tidak akan membiarkan dirinya
lolos begitu saja. Setelah berpakaian dia duduk
di kursi meja rias, memoles sedikit wajahnya kemudian mengeringkan rambutnya.
Oke..perfect.! dirinya kini sudah sangat siap.
Kiran berdiri, merapihkan kembali penampilan
nya, menatap pantulan dirinya dicermin
bersamaan dengan kemunculan Agra dari
arah kamar mandi.
Agra berjalan kearah tempat tidur, seperti biasa
hanya mengenakkan handuk tipis yang menutup
bagian sensitifnya saja, sementara tangan nya
sibuk menggosok rambut nya yang masih basah.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika dia
melihat Kiran dari pantulan cermin, matanya
tampak terpukau melihat penampilan istrinya itu
saat ini. Kiran terlihat mengenakkan setelan slim sweet dengan atasan yang di hiasi renda cantik
di bagian kerah dan pinggang kecilnya. Kemudian
rok yang sedikit melebar di bagian bawahnya.
Dia terlihat begitu cantik dan segar karena
paduan warna pakainya yang soft sangat
menyatu dengan kulit tubuh nya yang indah
berkilau di tambah riasan natural wajahnya
yang membuat dia semakin mempesona.
Rambut indah nya di biarkan tergerai bebas.
Mata mereka saling menatap lewat cermin.
Kiran mendekat kearah Agra yang masih berdiri
di tempat. Tangan nya bergerak meraih handuk
kecil dari tangan Agra, kemudian perlahan mulai
menggosok rambut suaminya itu dengan lembut.
Agra masih terpaku, menatap wajah cantik Kiran
yang kini ada di hadapannya, harum aroma wangi
semerbak yang menguar dari tubuh istrinya
membuat jiwanya kembali meronta.
"Ayo kita temui orang tuamu..aku sudah siap
sepenuhnya sekarang.."
Ucap Kiran yakin, usapan lembut tangannya
kini beralih ke bagian dada Agra yang semakin
tidak tahan mendapat sentuhan tersebut. Dia
segera menarik pinggang ramping Kiran lalu
menyergap bibirnya, ********** rakus dan
liar di sertai napas yang kian memburu. Kiran
berusaha menolak namun Agra malah semakin
memperdalam ciumannya dengan menjelajah
masuk mengecap segala kenikmatan yang ada.
Untuk beberapa saat Kiran ikut terhanyut dalam
buaian kelembutan ciuman hangat tersebut,
hingga akhirnya..
"Emhh.. sudah sayang...hentikan..!"
Kiran akhirnya bisa melepaskan ciuman buas
Agra dengan napas yang tersengal karena dia
kehabisan pasokan udara. Agra masih terlihat
berhasrat, kembali menarik pinggang Kiran agar merapat, namun Kiran segera menekan dadanya.
"Agra sayang..sudah hentikan semua ini..!"
"Bagaimana kalau kita main sekali lagi.."
"Tidak mau.! Aku sudah tidak sanggup..!"
"Tapi sayang..milikmu ini bangun lagi sekarang.!"
"Agra...ya ampun.. aku mohon.."
"Salah kamu sendiri..kenapa kamu terlalu menarik..!"
"Kita sudah tidak punya waktu lagi.."
"Kata siapa..kita bisa pergi kapanpun..!"
"Tapi aku sudah lapar banget sekarang..!"
Agraa terhenyak dalam diam, menatap Kiran
dengan sorot mata bersalah. Dirinya memang
egois, tidak pernah memperhatikan hal penting
ini. Kiran tersenyum lembut seraya mengelus
wajah Agra yang semakin merasa bersalah.
"Waktu kita masih sangat banyak sayang..tapi
bukan berarti kita harus melupakan hal penting
lainnnya..! sekarang mari kita pergi..!"
"Maafkan aku sayang. Baiklah, kita akan sarapan
dulu, setelah itu baru pergi..!"
Ujar Agra, Kiran mengangguk kemudian meraih
pakaian Agra yang sudah di siapkan olehnya.
Dengan telaten penuh perhatian dia memakaikan
setelan resmi tersebut ke tubuh gagah suaminya
sampai dengan merapihkan rambut nya.
Setelah semua persiapan beres mereka berdua
turun menuju ke restauran hotel untuk sarapan
terlebih dahulu. Di sana semua bawahannya
sudah menunggu kedatangan mereka.
Dan sekitar jam 9 akhirnya rombongan Agra
dan Kiran mulai meluncur ke tempat tujuan
utama, yakni istana Hiroki untuk menjemput
takdir baru bagi kehidupan rumah tangga
mereka yang baru saja di mulai. Kiran tiada
henti berdoa dan berharap untuk kelancaran
segala urusannya ini.
Setengah jam kemudian mereka mulai masuk
kedalam kawasan milik pribadi. Kiran tampak
tertegun melihat luasnya area yang di telusuri
menuju ke gerbang utama.Agra menggengam
erat tangan Kiran yang terasa sedikit beku.
"Aku bersamamu sayang.. selalu di sisimu..!"
Bisik Agra di telinga Kiran yang melirik dan
menatap mata Agra yang penuh keyakinan.
Kiran mengedip pelan membuat Agra tidak
tahan, dia ******* lembut bibir ranum Kiran.
Akhirnya mobil mulai masuk ke gerbang utama.
Ada puluhan orang berseragam khusus yang
berjajar bertugas di pintu masuk utama tersebut.
Dan beberapa diantaranya langsung maju
menghadang kedatangan mereka dengan
samurai di tangan membuat nyali Kiran ciut..
***********
TBC.....