Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
56. Sambutan Mengejutkan


 


************


 


Akhirnya sekitar jam 7 malam Kiran dan Agra


terbang menuju ke negara xxx..menggunakan


pesawat pribadi miliknya yang sangat mewah.


Bara dan Zacky serta 4 pengawal pribadi, setia


mendampingi kepergian Tuan nya ke tempat


yang entah akan seperti apa penerimaannya.


Agra memang cukup sering mengunjungi sang


ibu ke tempat kelahirannya ini, namun tidak


pernah bertahan lama, dia juga datang ke sini


hanya untuk menemui sensei nya .


Kiran menatap ke luar jendela pesawat mencoba


menembus kegelapan malam yang di selimuti


oleh awan tebal hingga menutup pandangan.


Hatinya saat ini sangat gelisah. Ingatannya kini mengalir pada masa kecilnya. Selama dua tahun ayahnya pernah merintis usaha di negara ini,


hingga akhirnya harus terusir paksa setelah


Tuan Hasimoto datang ke rumahnya.


"Apa yang kau pikirkan sayang..?"


Kiran melirik kearah Agra yang baru saja datang


setelah tadi mengadakan pembicaraan dengan


semua bawahannya. Agra langsung meraih


tubuh Kiran, mengangkat nya kemudian di bawa berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya.


Kiran hanya terdiam menatap wajah tenang


suaminya itu. Agra membaringkan tubuh


Kiran di atas tempat tidur yang cukup besar.


"Sekarang kamu harus istirahat. Jangan terlalu


banyak berpikir..!"


Ujar Agra sambil menarik tubuh Kiran kedalam


dekapan nya. Tapi Kiran menekan dadanya


hingga membuat Agra mengernyit, keduanya


kini saling menatap kuat.


"Sayang..aku masih saja merasa ragu untuk


pertemuan ini. Aku punya firasat buruk..!"


Tatapan Agra semakin tajam hingga rasanya


menembus jantung Kiran.


"Tidak ada hal buruk apapun yang akan terjadi


pada kita..aku tidak akan membiarkannya..!"


"Tapi sayang..sudah jelas sekali kalau ayahmu


tidak pernah menyukai keberadaan ku, bahkan


sejak aku kecil..!"


"Oleh karena itu kau harus membuktikan, bahwa dirimu adalah orang yang layak untukku, kau


orang yang pantas menjadi pendamping ku.!"


"Tapi aku tidak memiliki kelebihan apapun..


Aku hanya gadis biasa yang beruntung saja..!"


"Kau salah..! kau punya cinta yang besar dan


tulus untukku Kiran...!"


Keduanya terdiam, saling menatap kuat.


"Tentu saja..aku punya cinta..dan ketulusan..!"


Lirih Kiran seraya tersenyum lembut, tatapan


mereka semakin dalam dan tanpa komando


keduanya saling menyergap, hanyut dalam


ciuman manis yang lembut dan membuai.


Tangan Agra kini sudah bergerilya kebalik


pakaian yang di kenakkan Kiran, meraih dua


benda sintal kesukaannya. Namun Kiran


menghentikan aksinya dengan melepaskan


ciuman mereka, lalu menatap Agra sambil


menggeleng resah. Agra menarik napas


berat dengan wajah dipenuhi kekecewaan.


Beberapa jam kemudian...


Setelah menempuh perjalanan yang cukup


lama, akhirnya pesawat mendarat di landasan


khusus pesawat pribadi. Sudah ada 4 mobil


mewah yang kini menanti kedatangan mereka.


Agra keluar dari pesawat dengan membopong


tubuh Kiran yang masih terlelap dalam tidur


nya karena baru beberapa jam terakhir dia


bisa memejamkan mata.


Waktu saat ini menunjukan pukul 2 dini hari.


Iring-iringan mobil yang membawa Agra dan


Kiran kini sudah keluar dari area bandara dan


mulai menyusuri jalanan yang cukup lengang.


Jalan yang di lalui terlihat sangat rapi dengan


bentangan pemisah yang tampak seperti siluet


mengapung di udara, di hiasi lampu jalanan


yang berbaris teratur dengan pemandangan


yang cukup memanjakan mata.


Saat iringan tiba di sebuah jalan yang sangat


sepi tiba-tiba mereka semua menghentikan


mobilnya mendadak dengan suara decitan rem


yang cukup memekakkan telinga menghindari benturan satu sama lain saat di arah berlawanan sudah ada sekitar 6 mobil yang menghadang kedatangan mobil mereka.


Agra mendekap kuat tubuh Kiran agar terhindar


dari benturan jok depan, dan hal itu membuat


Kiran tersentak bangun dari tidurnya. Mata Agra


menatap kuat kearah depan dimana kini ada


sekitar 25 orang bertopeng tengah berjalan


bersamaan kearah mobil mereka dengan


senjata lengkap di tangan masing-masing..


Kiran mendongak, menatap wajah Agra yang


masih memusatkan perhatiannya kearah depan.


Ekspresi wajahnya terlihat datar namun aura


nya sangat dingin dan mencekam.


"Ada apa sayang..apa kita sudah sampai.?"


Tanya Kiran saat menyadari kini dirinya sudah


berada di dalam mobil, bukan di dalam kabin


pesawat lagi. Dia segera menarik dirinya dari


dekapan Agra, menegakkan badannya seraya


melihat ke sekelilingnya. Namun matanya


nampak melebar saat melihat di depan mobil


mereka kini sudah berbaris puluhan sosok


bertopeng dengan senjata lengkap di tangan.


"A-apa yang terjadi sayang..? si-siapa mereka.?"


Terbata Kiran bertanya sambil merapatkan


kembali tubuhnya ke tubuh Agra yang kini


merengkuh dirinya, menyembunyikan wajah


nya di dadanya.


"Tenanglah.. mereka hanya cacing jalanan.!"


"Tapi sayang.. mereka banyak sekali dan lihat


saja, mereka semua bersenjata..!"


Ucap Kiran dengan menatap sedikit takut ke


arah jalanan dimana kini para manusia topeng


itu sedang memainkan senjata nya masing-


masing hingga menimbulkan suara yang


cukup mengerikan.


"Itu bukan apa-apa, kau hanya perlu tenang..!


Zack.. kalian hadapi mereka dulu.!"


Titah Agra sambil mempererat pelukannya di


tubuh Kiran dengan tatapan terfokus ke depan.


"Baik Tuan.. kami keluar sekarang. ! kami akan


menghadapi mereka semua.."


Sahut Zack sambil kemudian keluar dari mobil


di ikuti oleh Bara. Para pengawal Agra dan orang-


orang pilihan yang tadi menjemput nya pun kini


sudah keluar dari mobil masing-masing. Mereka semua bergerak bersama kehadapan barisan


manusia topeng tadi.


Tidak lama pertarungan seru dan sengit pun


sudah berlangsung mewarnai jalanan tersebut.


Sebenarnya cukup jomplang karena pihak Agra


hanya berjumlah sekitar 13 orang saja itupun


bila di tambah Agra. Namun ternyata itu tidak


mengurangi keseruan pertarungan ini.


"Jangan turun sayang..aku takut..!"


Rengek Kiran saat melihat tangan Agra meraih


handel pintu dan bersiap keluar melihat


beberapa pengawalnya mulai terdesak.


"Ikutlah denganku keluar..!"


"Ahh..? tapi aku takut..."


Kiran tambah gemetar. Agra meraup wajah


Kiran, menatapnya meyakinkan.


"Kau lupa siapa suamimu ini.?"


Kiran menggeleng resah dengan wajah tetap


di liputi kekhawatiran. Akhirnya mau tidak mau


Kiran keluar dari mobil bersama dengan Agra.


Pertarungan sedikit terhenti saat mereka semua


melihat kearah kemunculan Agra yang datang


dengan menggengam kuat tangan Kiran.


"Kau berdiri di belakangku.. jangan bergerak


terlalu jauh dariku, oke..?"


Agra memegang bahu Kiran yang mengganguk


sedikit ragu, wajahnya terlihat semakin ketakutan


menyaksikan semua adegan perkelahian tersebut.


Pasalnya senjata para manusia topeng terlihat


berkelebatan di udara mengarah dan mencecar


semua bawahan Agra.


Agra membalikkan badan, menghadap dan


menatap tajam musuh-musuh nya.


"Hei.. kalian..! bukankah kalian datang untukku.


Sini maju, hadapi aku sekarang..!"


Tantang Agra seraya membuka mantelnya di


berikan kepada Kiran yang menatapnya tegang.


Para manusia topeng itu saling pandang, lalu


beberapa diantaranya maju menyerang kearah


Agra yang langsung menghindar dan membalas


serangan dengan gerakan lincah dan cepat.


Kiran menutup mulutnya di penuhi ketegangan.


Tuhan.. kenapa sekarang hidupnya rasanya


jadi bersinggungan terus dengan hal-hal seperti


ini, tidak jauh dari hal yang berbau kekerasan.


Pertarungan terus berlangsung semakin seru


dan sengit. Agra tampak tidak sabar lagi, dia


harus segera mengakhiri semua ini, kalau tidak


Kiran akan semakin ketakutan. Dengan gerakan kilatnya dia memutar tubuh membagi pukulan


dan tendangan kearah lawan-lawannya hingga


habis kesabaran.


Dia mundur beberapa langkah, kemudian berdiri


tegak, menatap lawan nya yang berjumlah sekitar


7 orang. Mereka kini sudah mengurung dirinya


dengan senjata yang siap menghabisinya. Agra


mencoba mengatur pernapasan, setelah itu dia


mulai memasang kuda-kuda dengan posisi siaga,


dan tiba-tiba dia meliukkan tubuhnya dengan


gerakan memutar cepat seperti tornado, hingga


sapuan gerakan memutarnya tersebut dapat mengeluarkan angin kencang yang membuat lawannya mundur ketakutan dengan wajah


pucat pasi di penuhi keterkejutan.


Kiran mundur perlahan kearah trotoar, matanya


tampak bengong melihat gerakan Agra yang


sangat menakjubkan tersebut. Dia belum pernah melihat gerakan Agra yang seperti ini sebelum


nya. Matanya kian membulat saat melihat Agra berhasil membabat habis lawan-lawannya


hingga mereka semua terlempar satu per satu


ke atas jalanan dengan memuntahkan darah.


Semua pertarungan terhenti. Para manusia


topeng yang masih sedikit bugar nampak mundur ketakutan dengan tatapan tidak percaya karena mereka baru saja menyaksikan seni bela diri


tingkat tinggi yang hanya di miliki oleh para


ksatria sejati dan itu perlihatkan langsung di


depan mata mereka.


"Pergi kalian dari sini.! atau aku akan menghabisi


kalian sekarang juga.! bilang pada Tuan kalian terimakasih atas sambutannya..!


Titah Agra dengan suara yang sangat berat dan


tatapan mata setajam ujung pedang. Mereka


tampak langsung membungkuk tanpa suara,


menyeret teman-teman nya yang terluka, lalu


pergi dengan susah payah meninggalkan lokasi pertarungan.


Agra menghembuskan napas kasar, menepis


debu yang menempel di pakaiannya. Semua


bawahannya masih di liputi oleh kekaguman


begitupun Kiran. Agra membalikkan badannya


berjalan kearah Kiran, tanpa kata dia langsung


mengangkat tubuh Kiran kedalam pangkuannya.


"Kita ke hotel dulu sekarang..besok pagi baru


ke istana Hiroki..!"


Titah Agra sambil melangkah tenang. Semua


tampak membungkuk sebagai jawaban. Kiran


masih saja terdiam sampai mereka berdua


berada di dalam mobil.


"Lanjutkan tidurmu.. semuanya sudah aman.!"


Lirih Agra sambil menyandarkan kepala Kiran


di dadanya. Kiran mendongak sebentar, lalu


mendaratkan kecupan lembut di bibir Agra


yang membuat darah Agra mendidih seketika.


Setelah itu dia menyandarkan tubuhnya dalam dekapan hangat sang suami, matanya terpejam, berusaha untuk melupakan semua kejadian mengerikan barusan. Untung saja dia punya


suami seorang ksatria sejati.


****** ******


Kamar hotel presidential suite...


Saat ini waktu menunjukan pukul 7 pagi waktu


setempat di pusat kota xxx..yang sudah terlihat


sibuk di setiap sudut nya .


Kiran baru saja keluar dari kamar mandi besar


yang ada dalam kamar hotel paling mewah dan


paling mahal yang mereka tinggali. Dia masih


mengenakan kimono putih sebatas lutut. Kulit


tubuhnya terlihat masih sedikit basah, begitupun dengan rambutnya yang masih di gulung handuk


kecil putih. Sedang Agra saat ini masih berada


di dalam kamar mandi.


Kiran menarik napas panjang, dia mencoba


memantapkan hatinya untuk menjalani hari


ini dengan tenang dan percaya diri. Dia segera


berpakaian sebelum Agra keluar dan melihat


dirinya masih dalam keadaan seperti ini, suami


nya itu pasti tidak akan membiarkan dirinya


lolos begitu saja. Setelah berpakaian dia duduk


di kursi meja rias, memoles sedikit wajahnya kemudian mengeringkan rambutnya.


Oke..perfect.! dirinya kini sudah sangat siap.


Kiran berdiri, merapihkan kembali penampilan


nya, menatap pantulan dirinya dicermin


bersamaan dengan kemunculan Agra dari


arah kamar mandi.


Agra berjalan kearah tempat tidur, seperti biasa


hanya mengenakkan handuk tipis yang menutup


bagian sensitifnya saja, sementara tangan nya


sibuk menggosok rambut nya yang masih basah.


Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika dia


melihat Kiran dari pantulan cermin, matanya


tampak terpukau melihat penampilan istrinya itu


saat ini. Kiran terlihat mengenakkan setelan slim sweet dengan atasan yang di hiasi renda cantik


di bagian kerah dan pinggang kecilnya. Kemudian


rok yang sedikit melebar di bagian bawahnya.


Dia terlihat begitu cantik dan segar karena


paduan warna pakainya yang soft sangat


menyatu dengan kulit tubuh nya yang indah


berkilau di tambah riasan natural wajahnya


yang membuat dia semakin mempesona.


Rambut indah nya di biarkan tergerai bebas.


Mata mereka saling menatap lewat cermin.


Kiran mendekat kearah Agra yang masih berdiri


di tempat. Tangan nya bergerak meraih handuk


kecil dari tangan Agra, kemudian perlahan mulai


menggosok rambut suaminya itu dengan lembut.


Agra masih terpaku, menatap wajah cantik Kiran


yang kini ada di hadapannya, harum aroma wangi


semerbak yang menguar dari tubuh istrinya


membuat jiwanya kembali meronta.


"Ayo kita temui orang tuamu..aku sudah siap


sepenuhnya sekarang.."


Ucap Kiran yakin, usapan lembut tangannya


kini beralih ke bagian dada Agra yang semakin


tidak tahan mendapat sentuhan tersebut. Dia


segera menarik pinggang ramping Kiran lalu


menyergap bibirnya, ********** rakus dan


liar di sertai napas yang kian memburu. Kiran


berusaha menolak namun Agra malah semakin


memperdalam ciumannya dengan menjelajah


masuk mengecap segala kenikmatan yang ada.


Untuk beberapa saat Kiran ikut terhanyut dalam


buaian kelembutan ciuman hangat tersebut,


hingga akhirnya..


"Emhh.. sudah sayang...hentikan..!"


Kiran akhirnya bisa melepaskan ciuman buas


Agra dengan napas yang tersengal karena dia


kehabisan pasokan udara. Agra masih terlihat


berhasrat, kembali menarik pinggang Kiran agar merapat, namun Kiran segera menekan dadanya.


"Agra sayang..sudah hentikan semua ini..!"


"Bagaimana kalau kita main sekali lagi.."


"Tidak mau.! Aku sudah tidak sanggup..!"


"Tapi sayang..milikmu ini bangun lagi sekarang.!"


"Agra...ya ampun.. aku mohon.."


"Salah kamu sendiri..kenapa kamu terlalu menarik..!"


"Kita sudah tidak punya waktu lagi.."


"Kata siapa..kita bisa pergi kapanpun..!"


"Tapi aku sudah lapar banget sekarang..!"


Agraa terhenyak dalam diam, menatap Kiran


dengan sorot mata bersalah. Dirinya memang


egois, tidak pernah memperhatikan hal penting


ini. Kiran tersenyum lembut seraya mengelus


wajah Agra yang semakin merasa bersalah.


"Waktu kita masih sangat banyak sayang..tapi


bukan berarti kita harus melupakan hal penting


lainnnya..! sekarang mari kita pergi..!"


"Maafkan aku sayang. Baiklah, kita akan sarapan


dulu, setelah itu baru pergi..!"


Ujar Agra, Kiran mengangguk kemudian meraih


pakaian Agra yang sudah di siapkan olehnya.


Dengan telaten penuh perhatian dia memakaikan


setelan resmi tersebut ke tubuh gagah suaminya


sampai dengan merapihkan rambut nya.


Setelah semua persiapan beres mereka berdua


turun menuju ke restauran hotel untuk sarapan


terlebih dahulu. Di sana semua bawahannya


sudah menunggu kedatangan mereka.


Dan sekitar jam 9 akhirnya rombongan Agra


dan Kiran mulai meluncur ke tempat tujuan


utama, yakni istana Hiroki untuk menjemput


takdir baru bagi kehidupan rumah tangga


mereka yang baru saja di mulai. Kiran tiada


henti berdoa dan berharap untuk kelancaran


segala urusannya ini.


Setengah jam kemudian mereka mulai masuk


kedalam kawasan milik pribadi. Kiran tampak


tertegun melihat luasnya area yang di telusuri


menuju ke gerbang utama.Agra menggengam


erat tangan Kiran yang terasa sedikit beku.


"Aku bersamamu sayang.. selalu di sisimu..!"


Bisik Agra di telinga Kiran yang melirik dan


menatap mata Agra yang penuh keyakinan.


Kiran mengedip pelan membuat Agra tidak


tahan, dia ******* lembut bibir ranum Kiran.


Akhirnya mobil mulai masuk ke gerbang utama.


Ada puluhan orang berseragam khusus yang


berjajar bertugas di pintu masuk utama tersebut.


Dan beberapa diantaranya langsung maju


menghadang kedatangan mereka dengan


samurai di tangan membuat nyali Kiran ciut..


 


***********


 


TBC.....