Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
51. Hoshi & Sachi


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Mata Kiran tampak terpaku pada sebuah fhoto


pasangan pengantin yang memakai pakaian


adat negeri sakura..


Sang pengantin wanita tampak begitu cantik..


bukan..dia terlihat sangat cantik dan anggun.


Sedang sang pengantin pria terlihat sangat


gagah dan berkharisma dengan garis wajah


yang sangat tegas dan tatapan mata tajam..


mirip sekali dengan seseorang..ya mata ini


sangat mirip sekali dengan Agra..tajam dan


menusuk. Jantung Kiran berdegup kencang.


Dia melirik kearah Nyonya Ambar yang


sedang tersenyum seraya mengangguk.


"Ya..mereka adalah orang tuannya suamimu..


Ibunya adalah putri tunggal keluarga ini. Dia


bernama Putri Arinda Natakusuma.. sekarang


dia punya nama baru..Yuriko Hasimoto..sedang


Ayahnya bernama Takayama Hasimoto Hiroki."


Eyang putri menjeda uraiannya. Kiran menatap


dalam diam fhoto-fhoto pernikahan itu.


"Pernikahan mereka tidak pernah di restui oleh


suamiku.. karena banyaknya perbedaan..juga


karena suami putriku itu bukan orang biasa.."


Kiran mendongakan kepala, menatap penuh


rasa penasaran.


"Maksud Eyang karena dia berada di garis


berbeda dengan keluarga ini.?"


"Iya..dia memiliki darah bangsawan klan besar


di negara itu yang memiliki usaha gelap di bidang


senjata dan obat-obatan serta segala sesuatu


yang berhubungan dengan dunia hitam..!"


Kiran melongo, tidak bisa berkata apa-apa. Dia


sungguh syok mendengar semua ini. Jadi Agra


memilki dua darah bangsawan besar.?


"Karena hal itulah kenapa Kakek nya Agra tidak


pernah merestui pernikahan mereka. Hidup putri


ku berada dalam lingkaran gelap. Tapi cinta putri


ku telah membawa dirinya ke dalam sangkar


emas laki-laki berkuasa itu. Dia rela melepaskan


semua ketenangan yang ada di tempat ini.."


Kiran semakin terdiam. Dia membuka kembali


lembar album tersebut. Dan matanya tampak


terpaku pada sebuah fhoto 2 anak kecil berusia


7 tahunan, kelihatannya mereka kembar Siam.


Tunggu dulu..! wajah mereka seperti nya ..


"Eyang apakah ini Hoshi.?"


Dengan ragu dan sedikit tegang Kiran bertanya


seraya menunjuk pada fhoto tersebut. Eyang


putri melihat nya, matanya langsung saja berair.


"Ya..itu adalah Hoshi dan saudari kembarnya


Rumi..!"


"Kembar..? jadi Agra punya saudari kembar.?"


Kiran menutup mulutnya, matanya melebar.


"Sayangnya dia sudah tiada lagi.. waktu umur


7 tahun.!"


Mata Kiran membulat sempurna. Meninggal ?


Ya Tuhan..apa ini, kenapa bisa begini.


Agra bernama lain Hiroshi Hasimoto..dia lahir


kembar bersama saudari nya Harumi Hasimoto.


Namun pada saat usia 7 tahun.. Rumi harus


menjadi korban kebrutalan serangan musuh


ayahnya, dia tertembak pada saat menghadiri


festival tahunan di dekat istana nya. Sejak itu


Hasimoto memenjarakan Hoshi dan ibunya


di istananya karena tidak ingin ada lagi korban.


Tapi sikapnya jadi overprotektif, Hoshi tidak


pernah di ijinkan keluar rumah. Segala sesuatu


harus di lakukan dari dalam rumah. Dia juga


tidak di perkenalkan pada dunia luar, semua


yang di pelajari nya hanyalah hal yang berbau


dunia komputer dan teknologi, dia juga tidak


di ijinkan mempelajari ilmu pedang atau segala


sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan.


Sejak itulah Hoshi jadi seorang anak yang sangat


tertutup dan pendiam, tidak pernah bereaksi dan


merespon orang secara berlebihan. Setiap hari


dia hanya memandangi fhoto saudari kembar


nya yang memilki mata indah nan bercahaya.


Pada saat usia Agra 15 tahun Tuan Besar


Raksapati Hadiningrat tutup usia karena sakit


jantung yang memang sudah lama di deritanya.


Agra datang ke negeri ini untuk menghadiri


acara pemakaman sang kakek, setelah itu dia langsung memutuskan untuk tinggal di tempat


ini bersama eyang putri, meneruskan kerajaan


bisnis yang sudah di rintis kakeknya yang waktu


itu belumlah sebesar seperti sekarang ini. Dia


juga mengubah nama dan berpindah keyakinan.


Dan hal itu menimbulkan konflik yang cukup


pelik antara Agra dengan sang ayah. Keduanya


sama-sama keras dan tidak ada yang mau


mengalah. Namun Agra ternyata ibarat karang


di lautan yang tidak tergoyahkan. Satu alasan


nya untuk tetap menemani sang nenek di sini


adalah karena ada yang dia cari di negara ini.


"Yang dia cari sekarang sudah dia temukan..


Kau adalah alasan Agra memutuskan untuk


tetap tinggal di tempat ini, menemani Eyang


di sini. Jadi bagaimana Eyang tidak akan


menerima mu.."


Eyang putri mengakhiri penuturan nya seraya


merentangkan tangannya, Kiran yang sudah


berurai air mata langsung masuk ke dalam


rangkulan hangat sang nenek.


"Kalau Kiran menjadi alasan Agra menentang


Ayah nya..lalu bagaimana nanti penerimaan


mereka padaku Eyang.."


Isak Kiran semakin mempererat pelukannya.


Sungguh semua latar belakang kehidupan


Agra malah membuat Kiran berada di dalam


kebimbangan dan ketakutan. Bagaimanakah


nanti penerimaan orang tua suaminya itu.?


"Cukup pandanglah suamimu.. karena dunia


akhirat mu ada bersamanya. Restu orang tua


tentu di perlukan, tapi kehendak Tuhan adalah


sesuatu yang Pasti terjadi..!"


Kiran semakin terisak, ada rasa tidak nyaman


yang kini di rasakannya saat mengingat Agra


tenyata berkonflik dengan ayah mertuanya,


dan semua itu karena dirinya, tapi kenapa.?


Eyang putri mengeluarkan kalung cantik yang


kemarin sempat di ambilnya dari Kiran.


"Ambilah..ini adalah kalung milik mendiang


Rumi, Agra sendiri yang mendesain benda


ini untuk merayakan ulang tahun mereka


yang Ke 7..!"


Bergetar tangan Kiran menerima kalung itu.


Air matanya semakin deras membasahi wajah


nya, dia menatap nanar benda yang sangat


memorial itu .


"Eyang..sepertinya Kiran tidak perlu lagi untuk


menyimpan benda ini. Rasanya tidak pantas


benda sepenting ini berada di tanganku.."


"Agra sudah memberikan kalung itu padamu.


Berarti kau layak untuk menyimpannya..!"


"Tapi Eyang ini terlalu berharga.."


"Kau lebih berharga dari benda itu sayang.."


Kiran tersentak saat mendengar suara berat


dari arah pintu masuk gazebo. Dia melirik cepat


kearah suara di sana sudah berdiri sosok Agra


dengan tatapan tenang kearahnya. Air mata


Kiran kini semakin membanjiri wajahnya. Dia


bangkit dari duduknya kemudian berhambur


ke dalam pelukan erat Agra, menangis tersedu


di dada suaminya itu.


"Nikmatilah waktu kalian...Eyang mau istirahat


sebentar sebelum magrib. Dan ingat Kiran kau


harus memasak untuk makan malam kita.."


Ujar Eyang putri seraya melangkah keluar dari


bangunan kecil tersebut di bimbing oleh Tata


bersama dua orang pelayan pribadinya.


Agra duduk di lesehan seraya berselonjor


kaki kemudian membawa tubuh Kiran untuk


duduk di atas pangkuan nya. Tanpa jeda dia


langsung menyergap bibir ranum Kiran yang


mencoba meronta mengingat mereka sedang


berada di tempat terbuka. Namun akhirnya dia


juga ikut larut dalam panasnya ciuman yang


di lancarkan Agra. Dan akhirnya ciuman itu


terlepas saat napas mereka mulai habis.


Agra meraih kalung cantik tadi kemudian


melingkarkan di leher Kiran yang menatap


lembut wajah tampan suaminya itu.


"Kenapa kau tidak pernah memakai kalung


ini Kiran.? hanya menyimpan nya saja.!"


Kiran menunduk dengan wajah sedikit malu.


"Maaf..bukan apa-apa..Aku hanya tidak begitu


suka memakai perhiasan.."


"Kau bahkan tidak sadar kalau kalung ini sangat


ajaib dan istimewa..kau mau tahu.?"


Kiran menggeleng pelan dengan tatapan penuh


penasaran. Agra hanya tersenyum miring.


"Kau pikir aku hanya akan memberikan kalung


biasa saja. Karena kamu tidak pernah memakai


kalung ini, aku harus mengalami kesulitan


mencari keberadaanmu..!"


Kiran semakin mengernyit tidak mengerti.


"Apa maksudmu..? memangnya kalung ini


bisa memetakan keberadaan ku..?"


"Tentu saja sayang.. kalung ini sudah aku


desain khusus dengan teknologi canggih.!"


Kiran semakin menggeleng bingung. Agra


mengecup lembut bibir merah jambu Kiran


yang ada di depannya, sangat menggoda nya.


"Aku akan menunjukkan nya padamu..!"


Bisiknya dengan suara berat di daun telinga


Kiran yang sontak menjauh. Agra mengeluarkan


kalung yang dia pakai dari balik kemejanya.


Kiran melebarkan matanya melihat kalung


kembar itu. Agra meraih kalung yang di pakai


Kiran, lalu dalam satu usapan lembut dengan


gerakan melingkar dia menyentuh bandul


kalung tersebut dan tiba-tiba saja satu hal


ajaib terjadi. Rantai cantik kalung tadi yang


awalnya hanya berwarna perak saja kini


berubah warna menjadi emas berkilauan.


Dan bandulnya memancarkan cahaya biru


elektrik yang sangat indah.


Kiran menganga, terkejut luar biasa. Kedua


bandul kalung tersebut kini sama-sama


memancarkan cahaya biru seperti gelombang


radiasi khusus.


"Dengan benda ini aku bisa melacak lokasi


keberadaan mu, tapi sayang nya kamu hanya


sekali saja memakainya, itupun setelah sekian


lama aku mencarimu..!"


Ucap Agra sambil kembali mengusap bandul


tadi hingga cahaya biru yang tadi keluar padam


kembali, tapi cahaya berkilauan dari rantai nya


tetap permanen. Kiran menarik napas panjang.


di lehernya, terlihat sangat indah menghiasi leher


putih jenjangnya.


"Aku memang hanya sekali memakainya waktu


acara perpisahan di sekolahku.."


Lirih Kiran seolah berbicara pada dirinya sendiri.


Agra meraih kepala Kiran di sandarkan di dada


nya, mengelus lembut rambut indahnya.


"Kalung ini hanya bisa mengirimkan signal jika


orang yang aku set memakainya..!"


"Bagaimana kalau orang lain yang memakai


nya.? itu bisa saja kan ?"


"Aku sudah memasukan sampel DNA mu di


kalung ini, jadi hanya aliran darahmu yang


bisa mengirimkan signal padaku..!"


Kiran semakin di buat tidak mengerti dengan


otak aneh suaminya ini. Sangat sulit di fahami.


"Sekarang beritahu aku kenapa kamu harus


bertentangan dengan ayahmu karena aku..! "


Agra terhenyak dalam diam, menatap lekat wajah


cantik Kiran yang menuntut jawaban pasti. Pikiran


nya kini melayang pada kejadian masa lampau..


*******Flashback On...


Seperti biasa jalanan di salah kota tersibuk di


negara matahari terbit senantiasa di penuhi oleh


lalu lalang para pejalan kaki, apalagi sore begini orang-orang baru saja pulang kerja.


Di salah satu sudut jalan ada seorang anak


laki-laki sekitar umur 13 tahunan sedang berlari menghindari kejaran para pengawalnya. Remaja


bertubuh tinggi tegap dengan perawakan yang


cukup menonjol itu berlari cepat di antara padat


nya jalanan yang di warnai berbagai macam


aktifitas manusia-manusia super sibuk.


Dia benar-benar muak dengan kehidupannya


selama ini yang terpaksa harus terkurung di


dalam istana Hiroki dengan berbagai macam


aturan yang sangat tidak masuk akal, sehingga


membuat dirinya seolah terpenjara. Kebetulan


hari ini istana di buka karena sedang ada acara


besar , yakni festival samurai tahunan yang di selenggarakan di dalam istana Hiroki dan tentu


nya di hadiri banyak tamu penting baik itu dari


dalam maupun luar negeri.


Akhirnya Hiroshi..atau biasa di panggil Hoshi


berhasil mengelabui para pengawalnya dengan teknologi canggih nya hingga dia bisa lolos di


pintu belakang. Dia ingin keluar, ingin melihat


dunia yang penuh dengan kebebasan, menghirup


udara berbeda dengan yang selama ini dia hirup.


Waktu semakin merayap sore saat Hoshi sudah


benar-benar bisa terlepas dari kejaran penjaga


nya, namun kini dia merasakan gelagat lain, ada bayangan lain yang kini sedang mengincarnya.


Dan dia tahu pasti itu adalah para anggota klan samurai lain yang selama ini selalu bertentangan


dengan sang ayah.


Hoshi mulai merasa lelah berlari.. perutnya pun


terasa haus dan lapar. Dia kini berlari masuk ke


kawasan taman bunga sakura yang sangat luas


dan indah apalagi di sore hari menjelang malam


begini.


"Hiroshi sama.. ikutlah bersama kami secara


baik-baik..!"


Para bayangan tadi yang berjumlah sekitar 5


orang itu kini mengurung Hoshi yang mulai


terlihat ketakutan karena tubuh nya sudah


mulai kehilangan tenaga.


"Tidak..! pergi kalian.. jangan coba-coba untuk


menggangguku.. pergi kalian..!"


Teriak Hoshi seraya mundur, tidak ada yang


bisa dia lakukan sekarang, melawan pun akan


percuma karena mereka adalah pasukan ninja


yang cukup hebat. Dia mencoba mundur kearah


jembatan merah dengan tatapan yang mengarah


pada pergerakan ke 5 ninja tadi yang kini ikut


maju secara perlahan. Hoshi terus mundur hingga


tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang


anak perempuan yang sedang berlari-lari kecil


seraya tertawa riang mengejar kupu-kupu.


Anak perempuan yang mengenakan mantel


bulu warna putih dengan rambut terikat manis tersebut meringis kesakitan saat tubuhnya jatuh terlentang karena terdorong tubuh besar Hoshi.


"Hei..kenapa tidak lihat-lihat kalau jalan.!"


Teriak anak kecil itu dengan suara lantang nya.


Mata lebarnya yang indah bercahaya melotot


kesal kearah Hoshi yang saat ini sedang berdiri


kaku di tempat nya, terkesima.. menatap lekat


wajah cantik nan imut gadis kecil itu yang tiada


henti mengumpat seraya menepuk pakaian nya.


"Hei..kau dengar aku tidak.? apa kau tuli.?"


Gadis imut itu kembali berteriak kesal kearah


Hoshi yang masih saja terpaku menatap mata


indah gadis kecil tersebut.


Para ninja tadi kini saling pandang, lalu dua orang


di antaranya maju menyergap tubuh Hoshi dari belakang. Gadis kecil tadi membelalakan mata


nya melihat Hoshi berontak, mencoba melawan


ingin melepaskan diri dari cekalan dua ninja tadi,


dia langsung bereaksi meraih semprotan air dari dalam tas yang di bawanya.


"Hei..lepaskan dia..kalian orang jahat kan...


rasakan ini..ayo pergi dari sini.."


Teriaknya sambil menyemprotkan benda itu


kearah dua orang yang tadi mencekal Hoshi


hingga pegangan mereka terlepas.


"Tolong.. tolooong kami...ada penjahat...!"


Teriak gadis kecil itu dengan suara cempreng


bin melengking yang langsung membuat para


ninja tadi menutup telinga, kemudian mundur


saling lirik dengan kawan nya. Dan jeritan gadis


kecil itu membuat orang-orang yang kebetulan


ada di tempat itu langsung berlarian kearahnya


membuat para ninja semakin mundur, bingung.


Dengan gerakan lincah gadis kecil tadi menarik


tangan Hoshi di ajak berlari menjauh dari tempat


itu, mereka berdua kini berlari bersama sambil berpegangan tangan erat. Dan setelah di rasa


cukup aman, keduanya berhenti sambil mengatur


napas yang tersengal. Mereka berjongkok, saling


menatap dengan tawa geli yang langsung keluar


dari mulut keduanya.


Hoshi duduk di bangku taman masih berusaha


mengatur napasnya yang tersengal. Dia memang


tidak biasa beraktifitas yang menguras fisik.


"Mau minum..? kakak pasti haus.."


Hoshi menatap sebotol air mineral yang kini


di sodorkan gadis kecil tadi ke hadapannya.


"Terimakasih..kau baik sekali..! siapa namamu.?"


Dia meraih botol tersebut kemudian meminum


airnya. Gadis kecil tadi ikut duduk di sebelahnya.


"Sachi..kalau kakak siapa.?"


Gadis kecil itu menatap polos wajah Hoshi yang


terlihat sangat berbeda dari orang kebanyakan.


Dia terlihat sangat tampan dan bercahaya untuk


ukuran anak remaja seusianya.


"Kau bisa memanggilku Hoshi..!"


"Hoshi.. baiklah.. kakak tinggal dimana.?"


Hoshi nampak terdiam, sedikit bingung.


"Lumayan jauh dari sini..kau tinggal dimana.?"


"Aku tidak tahu..tapi aku kesini bersama dengan


ayahku..!"


"Ohhh.. begitu ya.."


Hoshi menekan perut nya ketika tanpa tahu


malu, perutnya itu berbunyi. Sachi langsung


saja menutup mulutnya dengan ekspresi geli,


sedang wajah Hoshi kini memerah karena malu.


"Apa kakak lapar..?"


Hoshi menatap malu wajah cantik nan imut


Sachi yang masih menahan senyumnya. Mata


nya nampak berbinar indah bagai kerlip bintang


kejora di malam hari, dia mengangguk pelan.


"Tunggu di sini..aku akan belikan sesuatu.."


Usai berbicara gadis kecil itu langsung berlari


kecil di iringi tatapan terpesona Hoshi. Tidak


lama Sachi sudah kembali ke tempat itu, tapi


tidak sendiri, dia datang bersama dengan


seorang pria tinggi, sepertinya ayahnya.


"Ini kak..makanlah..aku dan ayah akan pulang.


Apa kakak..mau kami antar.?"


Sachi memberikan dua bungkus roti yang


langsung di terima Hoshi. Mata mereka saling


menatap kuat. Pria tinggi tadi hanya terdiam


memperhatikan interaksi putrinya dan anak


lelaki yang terlihat sangat istimewa itu.


"Tidak perlu..tapi Sachi.. bisakah kita bertemu


lagi di sini, besok..? aku ingin berterima kasih


padamu..!"


Sachi nampak berpikir dengan gaya yang lucu


membuat Hoshi gemas melihat nya.


"Ayah.. bolehkan besok kita kesini lagi..?"


Pria tadi mengangguk perlahan sedikit ragu.


"Oke.. sampai jumpa besok..! dadah kakak..!"


"Sachi.. tunggu..!"


Sachi yang sudah mulai berjalan bersama sang


ayah langsung menghentikan langkah nya. Dia


menoleh, menatap Hoshi yang mendekat, sedikit


menautkan alisnya, Hoshi mengusap lembut


rambut indah gadis kecil itu .


"Terimakasih..rotinya..!".


Ucap Hoshi dengan senyum manisnya.


"Sama-sama.. dah kak Hoshi.."


Sachi melambaikan tangan seraya melempar


senyum cantiknya kemudian berlari kecil


mengejar sang ayah yang sudah terlebih dulu


berjalan meninggalkan tempat itu. Hoshi masih mematung di tempat nya berdiri, matanya tiada


henti memperhatikan sosok mungil gadis itu


yang semakin lama semakin menjauh.


Dia duduk kembali di bangku tadi, membuka


bungkus roti dan mulai memakannya dengan


senyum yang tiada pudar terlukis di bibirnya.


"Sachi... manis sekali.."


Bisiknya sambil menatap roti yang sedang di


makan nya, kepalanya menggeleng pelan.


"Tuan Muda..mari kita pulang..!"


Hoshi mengangkat kepala, melihat ke sekitar


nya, dia mendengus sebal saat menyadari kini


para pengawalnya sudah ada di tempat itu


mengurung nya dengan napas tersengal.


Dia berdiri, menegakkan badannya, menatap


kesal seluruh pengawalnya itu.


"Kapan kalian bersikap sedikit manusiawi


dalam memperlakukan ku..?"


Dengus Hoshi sambil kemudian melangkah


cepat meninggalkan tempat itu di kawal oleh


kurang lebih 10 orang bodyguard.


Tiba di parkiran, sudah ada sekitar 10 orang


pengawal lagi yang sudah menunggunya di


sana. Hoshi menghembuskan napas kasar


seraya masuk ke dalam mobilnya. Dan kini


iring-iringan mobil mewah itupun mulai


meninggalkan taman tersebut menyapu


jalan hingga para pengendara lain harus


rela minggir agar iring-iringan tersebut bisa


lewat dengan mudah. Bahkan mobil yang


di kemudikan ayah Sachi pun turut terkena


imbasnya...


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC....