
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Mata Kiran tampak terpaku pada sebuah fhoto
pasangan pengantin yang memakai pakaian
adat negeri sakura..
Sang pengantin wanita tampak begitu cantik..
bukan..dia terlihat sangat cantik dan anggun.
Sedang sang pengantin pria terlihat sangat
gagah dan berkharisma dengan garis wajah
yang sangat tegas dan tatapan mata tajam..
mirip sekali dengan seseorang..ya mata ini
sangat mirip sekali dengan Agra..tajam dan
menusuk. Jantung Kiran berdegup kencang.
Dia melirik kearah Nyonya Ambar yang
sedang tersenyum seraya mengangguk.
"Ya..mereka adalah orang tuannya suamimu..
Ibunya adalah putri tunggal keluarga ini. Dia
bernama Putri Arinda Natakusuma.. sekarang
dia punya nama baru..Yuriko Hasimoto..sedang
Ayahnya bernama Takayama Hasimoto Hiroki."
Eyang putri menjeda uraiannya. Kiran menatap
dalam diam fhoto-fhoto pernikahan itu.
"Pernikahan mereka tidak pernah di restui oleh
suamiku.. karena banyaknya perbedaan..juga
karena suami putriku itu bukan orang biasa.."
Kiran mendongakan kepala, menatap penuh
rasa penasaran.
"Maksud Eyang karena dia berada di garis
berbeda dengan keluarga ini.?"
"Iya..dia memiliki darah bangsawan klan besar
di negara itu yang memiliki usaha gelap di bidang
senjata dan obat-obatan serta segala sesuatu
yang berhubungan dengan dunia hitam..!"
Kiran melongo, tidak bisa berkata apa-apa. Dia
sungguh syok mendengar semua ini. Jadi Agra
memilki dua darah bangsawan besar.?
"Karena hal itulah kenapa Kakek nya Agra tidak
pernah merestui pernikahan mereka. Hidup putri
ku berada dalam lingkaran gelap. Tapi cinta putri
ku telah membawa dirinya ke dalam sangkar
emas laki-laki berkuasa itu. Dia rela melepaskan
semua ketenangan yang ada di tempat ini.."
Kiran semakin terdiam. Dia membuka kembali
lembar album tersebut. Dan matanya tampak
terpaku pada sebuah fhoto 2 anak kecil berusia
7 tahunan, kelihatannya mereka kembar Siam.
Tunggu dulu..! wajah mereka seperti nya ..
"Eyang apakah ini Hoshi.?"
Dengan ragu dan sedikit tegang Kiran bertanya
seraya menunjuk pada fhoto tersebut. Eyang
putri melihat nya, matanya langsung saja berair.
"Ya..itu adalah Hoshi dan saudari kembarnya
Rumi..!"
"Kembar..? jadi Agra punya saudari kembar.?"
Kiran menutup mulutnya, matanya melebar.
"Sayangnya dia sudah tiada lagi.. waktu umur
7 tahun.!"
Mata Kiran membulat sempurna. Meninggal ?
Ya Tuhan..apa ini, kenapa bisa begini.
Agra bernama lain Hiroshi Hasimoto..dia lahir
kembar bersama saudari nya Harumi Hasimoto.
Namun pada saat usia 7 tahun.. Rumi harus
menjadi korban kebrutalan serangan musuh
ayahnya, dia tertembak pada saat menghadiri
festival tahunan di dekat istana nya. Sejak itu
Hasimoto memenjarakan Hoshi dan ibunya
di istananya karena tidak ingin ada lagi korban.
Tapi sikapnya jadi overprotektif, Hoshi tidak
pernah di ijinkan keluar rumah. Segala sesuatu
harus di lakukan dari dalam rumah. Dia juga
tidak di perkenalkan pada dunia luar, semua
yang di pelajari nya hanyalah hal yang berbau
dunia komputer dan teknologi, dia juga tidak
di ijinkan mempelajari ilmu pedang atau segala
sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan.
Sejak itulah Hoshi jadi seorang anak yang sangat
tertutup dan pendiam, tidak pernah bereaksi dan
merespon orang secara berlebihan. Setiap hari
dia hanya memandangi fhoto saudari kembar
nya yang memilki mata indah nan bercahaya.
Pada saat usia Agra 15 tahun Tuan Besar
Raksapati Hadiningrat tutup usia karena sakit
jantung yang memang sudah lama di deritanya.
Agra datang ke negeri ini untuk menghadiri
acara pemakaman sang kakek, setelah itu dia langsung memutuskan untuk tinggal di tempat
ini bersama eyang putri, meneruskan kerajaan
bisnis yang sudah di rintis kakeknya yang waktu
itu belumlah sebesar seperti sekarang ini. Dia
juga mengubah nama dan berpindah keyakinan.
Dan hal itu menimbulkan konflik yang cukup
pelik antara Agra dengan sang ayah. Keduanya
sama-sama keras dan tidak ada yang mau
mengalah. Namun Agra ternyata ibarat karang
di lautan yang tidak tergoyahkan. Satu alasan
nya untuk tetap menemani sang nenek di sini
adalah karena ada yang dia cari di negara ini.
"Yang dia cari sekarang sudah dia temukan..
Kau adalah alasan Agra memutuskan untuk
tetap tinggal di tempat ini, menemani Eyang
di sini. Jadi bagaimana Eyang tidak akan
menerima mu.."
Eyang putri mengakhiri penuturan nya seraya
merentangkan tangannya, Kiran yang sudah
berurai air mata langsung masuk ke dalam
rangkulan hangat sang nenek.
"Kalau Kiran menjadi alasan Agra menentang
Ayah nya..lalu bagaimana nanti penerimaan
mereka padaku Eyang.."
Isak Kiran semakin mempererat pelukannya.
Sungguh semua latar belakang kehidupan
Agra malah membuat Kiran berada di dalam
kebimbangan dan ketakutan. Bagaimanakah
nanti penerimaan orang tua suaminya itu.?
"Cukup pandanglah suamimu.. karena dunia
akhirat mu ada bersamanya. Restu orang tua
tentu di perlukan, tapi kehendak Tuhan adalah
sesuatu yang Pasti terjadi..!"
Kiran semakin terisak, ada rasa tidak nyaman
yang kini di rasakannya saat mengingat Agra
tenyata berkonflik dengan ayah mertuanya,
dan semua itu karena dirinya, tapi kenapa.?
Eyang putri mengeluarkan kalung cantik yang
kemarin sempat di ambilnya dari Kiran.
"Ambilah..ini adalah kalung milik mendiang
Rumi, Agra sendiri yang mendesain benda
ini untuk merayakan ulang tahun mereka
yang Ke 7..!"
Bergetar tangan Kiran menerima kalung itu.
Air matanya semakin deras membasahi wajah
nya, dia menatap nanar benda yang sangat
memorial itu .
"Eyang..sepertinya Kiran tidak perlu lagi untuk
menyimpan benda ini. Rasanya tidak pantas
benda sepenting ini berada di tanganku.."
"Agra sudah memberikan kalung itu padamu.
Berarti kau layak untuk menyimpannya..!"
"Tapi Eyang ini terlalu berharga.."
"Kau lebih berharga dari benda itu sayang.."
Kiran tersentak saat mendengar suara berat
dari arah pintu masuk gazebo. Dia melirik cepat
kearah suara di sana sudah berdiri sosok Agra
dengan tatapan tenang kearahnya. Air mata
Kiran kini semakin membanjiri wajahnya. Dia
bangkit dari duduknya kemudian berhambur
ke dalam pelukan erat Agra, menangis tersedu
di dada suaminya itu.
"Nikmatilah waktu kalian...Eyang mau istirahat
sebentar sebelum magrib. Dan ingat Kiran kau
harus memasak untuk makan malam kita.."
Ujar Eyang putri seraya melangkah keluar dari
bangunan kecil tersebut di bimbing oleh Tata
bersama dua orang pelayan pribadinya.
Agra duduk di lesehan seraya berselonjor
kaki kemudian membawa tubuh Kiran untuk
duduk di atas pangkuan nya. Tanpa jeda dia
langsung menyergap bibir ranum Kiran yang
mencoba meronta mengingat mereka sedang
berada di tempat terbuka. Namun akhirnya dia
juga ikut larut dalam panasnya ciuman yang
di lancarkan Agra. Dan akhirnya ciuman itu
terlepas saat napas mereka mulai habis.
Agra meraih kalung cantik tadi kemudian
melingkarkan di leher Kiran yang menatap
lembut wajah tampan suaminya itu.
"Kenapa kau tidak pernah memakai kalung
ini Kiran.? hanya menyimpan nya saja.!"
Kiran menunduk dengan wajah sedikit malu.
"Maaf..bukan apa-apa..Aku hanya tidak begitu
suka memakai perhiasan.."
"Kau bahkan tidak sadar kalau kalung ini sangat
ajaib dan istimewa..kau mau tahu.?"
Kiran menggeleng pelan dengan tatapan penuh
penasaran. Agra hanya tersenyum miring.
"Kau pikir aku hanya akan memberikan kalung
biasa saja. Karena kamu tidak pernah memakai
kalung ini, aku harus mengalami kesulitan
mencari keberadaanmu..!"
Kiran semakin mengernyit tidak mengerti.
"Apa maksudmu..? memangnya kalung ini
bisa memetakan keberadaan ku..?"
"Tentu saja sayang.. kalung ini sudah aku
desain khusus dengan teknologi canggih.!"
Kiran semakin menggeleng bingung. Agra
mengecup lembut bibir merah jambu Kiran
yang ada di depannya, sangat menggoda nya.
"Aku akan menunjukkan nya padamu..!"
Bisiknya dengan suara berat di daun telinga
Kiran yang sontak menjauh. Agra mengeluarkan
kalung yang dia pakai dari balik kemejanya.
Kiran melebarkan matanya melihat kalung
kembar itu. Agra meraih kalung yang di pakai
Kiran, lalu dalam satu usapan lembut dengan
gerakan melingkar dia menyentuh bandul
kalung tersebut dan tiba-tiba saja satu hal
ajaib terjadi. Rantai cantik kalung tadi yang
awalnya hanya berwarna perak saja kini
berubah warna menjadi emas berkilauan.
Dan bandulnya memancarkan cahaya biru
elektrik yang sangat indah.
Kiran menganga, terkejut luar biasa. Kedua
bandul kalung tersebut kini sama-sama
memancarkan cahaya biru seperti gelombang
radiasi khusus.
"Dengan benda ini aku bisa melacak lokasi
keberadaan mu, tapi sayang nya kamu hanya
sekali saja memakainya, itupun setelah sekian
lama aku mencarimu..!"
Ucap Agra sambil kembali mengusap bandul
tadi hingga cahaya biru yang tadi keluar padam
kembali, tapi cahaya berkilauan dari rantai nya
tetap permanen. Kiran menarik napas panjang.
di lehernya, terlihat sangat indah menghiasi leher
putih jenjangnya.
"Aku memang hanya sekali memakainya waktu
acara perpisahan di sekolahku.."
Lirih Kiran seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Agra meraih kepala Kiran di sandarkan di dada
nya, mengelus lembut rambut indahnya.
"Kalung ini hanya bisa mengirimkan signal jika
orang yang aku set memakainya..!"
"Bagaimana kalau orang lain yang memakai
nya.? itu bisa saja kan ?"
"Aku sudah memasukan sampel DNA mu di
kalung ini, jadi hanya aliran darahmu yang
bisa mengirimkan signal padaku..!"
Kiran semakin di buat tidak mengerti dengan
otak aneh suaminya ini. Sangat sulit di fahami.
"Sekarang beritahu aku kenapa kamu harus
bertentangan dengan ayahmu karena aku..! "
Agra terhenyak dalam diam, menatap lekat wajah
cantik Kiran yang menuntut jawaban pasti. Pikiran
nya kini melayang pada kejadian masa lampau..
*******Flashback On...
Seperti biasa jalanan di salah kota tersibuk di
negara matahari terbit senantiasa di penuhi oleh
lalu lalang para pejalan kaki, apalagi sore begini orang-orang baru saja pulang kerja.
Di salah satu sudut jalan ada seorang anak
laki-laki sekitar umur 13 tahunan sedang berlari menghindari kejaran para pengawalnya. Remaja
bertubuh tinggi tegap dengan perawakan yang
cukup menonjol itu berlari cepat di antara padat
nya jalanan yang di warnai berbagai macam
aktifitas manusia-manusia super sibuk.
Dia benar-benar muak dengan kehidupannya
selama ini yang terpaksa harus terkurung di
dalam istana Hiroki dengan berbagai macam
aturan yang sangat tidak masuk akal, sehingga
membuat dirinya seolah terpenjara. Kebetulan
hari ini istana di buka karena sedang ada acara
besar , yakni festival samurai tahunan yang di selenggarakan di dalam istana Hiroki dan tentu
nya di hadiri banyak tamu penting baik itu dari
dalam maupun luar negeri.
Akhirnya Hiroshi..atau biasa di panggil Hoshi
berhasil mengelabui para pengawalnya dengan teknologi canggih nya hingga dia bisa lolos di
pintu belakang. Dia ingin keluar, ingin melihat
dunia yang penuh dengan kebebasan, menghirup
udara berbeda dengan yang selama ini dia hirup.
Waktu semakin merayap sore saat Hoshi sudah
benar-benar bisa terlepas dari kejaran penjaga
nya, namun kini dia merasakan gelagat lain, ada bayangan lain yang kini sedang mengincarnya.
Dan dia tahu pasti itu adalah para anggota klan samurai lain yang selama ini selalu bertentangan
dengan sang ayah.
Hoshi mulai merasa lelah berlari.. perutnya pun
terasa haus dan lapar. Dia kini berlari masuk ke
kawasan taman bunga sakura yang sangat luas
dan indah apalagi di sore hari menjelang malam
begini.
"Hiroshi sama.. ikutlah bersama kami secara
baik-baik..!"
Para bayangan tadi yang berjumlah sekitar 5
orang itu kini mengurung Hoshi yang mulai
terlihat ketakutan karena tubuh nya sudah
mulai kehilangan tenaga.
"Tidak..! pergi kalian.. jangan coba-coba untuk
menggangguku.. pergi kalian..!"
Teriak Hoshi seraya mundur, tidak ada yang
bisa dia lakukan sekarang, melawan pun akan
percuma karena mereka adalah pasukan ninja
yang cukup hebat. Dia mencoba mundur kearah
jembatan merah dengan tatapan yang mengarah
pada pergerakan ke 5 ninja tadi yang kini ikut
maju secara perlahan. Hoshi terus mundur hingga
tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang
anak perempuan yang sedang berlari-lari kecil
seraya tertawa riang mengejar kupu-kupu.
Anak perempuan yang mengenakan mantel
bulu warna putih dengan rambut terikat manis tersebut meringis kesakitan saat tubuhnya jatuh terlentang karena terdorong tubuh besar Hoshi.
"Hei..kenapa tidak lihat-lihat kalau jalan.!"
Teriak anak kecil itu dengan suara lantang nya.
Mata lebarnya yang indah bercahaya melotot
kesal kearah Hoshi yang saat ini sedang berdiri
kaku di tempat nya, terkesima.. menatap lekat
wajah cantik nan imut gadis kecil itu yang tiada
henti mengumpat seraya menepuk pakaian nya.
"Hei..kau dengar aku tidak.? apa kau tuli.?"
Gadis imut itu kembali berteriak kesal kearah
Hoshi yang masih saja terpaku menatap mata
indah gadis kecil tersebut.
Para ninja tadi kini saling pandang, lalu dua orang
di antaranya maju menyergap tubuh Hoshi dari belakang. Gadis kecil tadi membelalakan mata
nya melihat Hoshi berontak, mencoba melawan
ingin melepaskan diri dari cekalan dua ninja tadi,
dia langsung bereaksi meraih semprotan air dari dalam tas yang di bawanya.
"Hei..lepaskan dia..kalian orang jahat kan...
rasakan ini..ayo pergi dari sini.."
Teriaknya sambil menyemprotkan benda itu
kearah dua orang yang tadi mencekal Hoshi
hingga pegangan mereka terlepas.
"Tolong.. tolooong kami...ada penjahat...!"
Teriak gadis kecil itu dengan suara cempreng
bin melengking yang langsung membuat para
ninja tadi menutup telinga, kemudian mundur
saling lirik dengan kawan nya. Dan jeritan gadis
kecil itu membuat orang-orang yang kebetulan
ada di tempat itu langsung berlarian kearahnya
membuat para ninja semakin mundur, bingung.
Dengan gerakan lincah gadis kecil tadi menarik
tangan Hoshi di ajak berlari menjauh dari tempat
itu, mereka berdua kini berlari bersama sambil berpegangan tangan erat. Dan setelah di rasa
cukup aman, keduanya berhenti sambil mengatur
napas yang tersengal. Mereka berjongkok, saling
menatap dengan tawa geli yang langsung keluar
dari mulut keduanya.
Hoshi duduk di bangku taman masih berusaha
mengatur napasnya yang tersengal. Dia memang
tidak biasa beraktifitas yang menguras fisik.
"Mau minum..? kakak pasti haus.."
Hoshi menatap sebotol air mineral yang kini
di sodorkan gadis kecil tadi ke hadapannya.
"Terimakasih..kau baik sekali..! siapa namamu.?"
Dia meraih botol tersebut kemudian meminum
airnya. Gadis kecil tadi ikut duduk di sebelahnya.
"Sachi..kalau kakak siapa.?"
Gadis kecil itu menatap polos wajah Hoshi yang
terlihat sangat berbeda dari orang kebanyakan.
Dia terlihat sangat tampan dan bercahaya untuk
ukuran anak remaja seusianya.
"Kau bisa memanggilku Hoshi..!"
"Hoshi.. baiklah.. kakak tinggal dimana.?"
Hoshi nampak terdiam, sedikit bingung.
"Lumayan jauh dari sini..kau tinggal dimana.?"
"Aku tidak tahu..tapi aku kesini bersama dengan
ayahku..!"
"Ohhh.. begitu ya.."
Hoshi menekan perut nya ketika tanpa tahu
malu, perutnya itu berbunyi. Sachi langsung
saja menutup mulutnya dengan ekspresi geli,
sedang wajah Hoshi kini memerah karena malu.
"Apa kakak lapar..?"
Hoshi menatap malu wajah cantik nan imut
Sachi yang masih menahan senyumnya. Mata
nya nampak berbinar indah bagai kerlip bintang
kejora di malam hari, dia mengangguk pelan.
"Tunggu di sini..aku akan belikan sesuatu.."
Usai berbicara gadis kecil itu langsung berlari
kecil di iringi tatapan terpesona Hoshi. Tidak
lama Sachi sudah kembali ke tempat itu, tapi
tidak sendiri, dia datang bersama dengan
seorang pria tinggi, sepertinya ayahnya.
"Ini kak..makanlah..aku dan ayah akan pulang.
Apa kakak..mau kami antar.?"
Sachi memberikan dua bungkus roti yang
langsung di terima Hoshi. Mata mereka saling
menatap kuat. Pria tinggi tadi hanya terdiam
memperhatikan interaksi putrinya dan anak
lelaki yang terlihat sangat istimewa itu.
"Tidak perlu..tapi Sachi.. bisakah kita bertemu
lagi di sini, besok..? aku ingin berterima kasih
padamu..!"
Sachi nampak berpikir dengan gaya yang lucu
membuat Hoshi gemas melihat nya.
"Ayah.. bolehkan besok kita kesini lagi..?"
Pria tadi mengangguk perlahan sedikit ragu.
"Oke.. sampai jumpa besok..! dadah kakak..!"
"Sachi.. tunggu..!"
Sachi yang sudah mulai berjalan bersama sang
ayah langsung menghentikan langkah nya. Dia
menoleh, menatap Hoshi yang mendekat, sedikit
menautkan alisnya, Hoshi mengusap lembut
rambut indah gadis kecil itu .
"Terimakasih..rotinya..!".
Ucap Hoshi dengan senyum manisnya.
"Sama-sama.. dah kak Hoshi.."
Sachi melambaikan tangan seraya melempar
senyum cantiknya kemudian berlari kecil
mengejar sang ayah yang sudah terlebih dulu
berjalan meninggalkan tempat itu. Hoshi masih mematung di tempat nya berdiri, matanya tiada
henti memperhatikan sosok mungil gadis itu
yang semakin lama semakin menjauh.
Dia duduk kembali di bangku tadi, membuka
bungkus roti dan mulai memakannya dengan
senyum yang tiada pudar terlukis di bibirnya.
"Sachi... manis sekali.."
Bisiknya sambil menatap roti yang sedang di
makan nya, kepalanya menggeleng pelan.
"Tuan Muda..mari kita pulang..!"
Hoshi mengangkat kepala, melihat ke sekitar
nya, dia mendengus sebal saat menyadari kini
para pengawalnya sudah ada di tempat itu
mengurung nya dengan napas tersengal.
Dia berdiri, menegakkan badannya, menatap
kesal seluruh pengawalnya itu.
"Kapan kalian bersikap sedikit manusiawi
dalam memperlakukan ku..?"
Dengus Hoshi sambil kemudian melangkah
cepat meninggalkan tempat itu di kawal oleh
kurang lebih 10 orang bodyguard.
Tiba di parkiran, sudah ada sekitar 10 orang
pengawal lagi yang sudah menunggunya di
sana. Hoshi menghembuskan napas kasar
seraya masuk ke dalam mobilnya. Dan kini
iring-iringan mobil mewah itupun mulai
meninggalkan taman tersebut menyapu
jalan hingga para pengendara lain harus
rela minggir agar iring-iringan tersebut bisa
lewat dengan mudah. Bahkan mobil yang
di kemudikan ayah Sachi pun turut terkena
imbasnya...
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC....