Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
19. Hukum Adat


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Kiran semakin menyembunyikan wajahnya di


dalam rengkuhan Agra, harapannya sangat tipis


saat ini melihat situasi yang sangat kacau ini.


Mungkin ini adalah saat-saat terakhir bagi dia


dan Agra, dan Kiran hanya ingin berada di dekat


suaminya ini.


Agra menghembuskan napas kasar, dia tetap


waspada, membagi pandangan ke seluruh


ruangan. Orang-orang yang baru datang kini


sudah mulai maju dengan tatapan seakan siap


menghabisi Agra saat ini juga.


"Serang..!"


Teriak salah seorang sambil maju menyerang


kearah Agra yang bersiaga penuh.


Namun di saat bersamaan dari arah pintu masuk


berkelebatan bayangan hitam, dengan gerakan


cepat dan terlatih bayangan-bayangan hitam itu


langsung menyerang pasukan yang terakhir tadi.


Pertarungan seru pun terjadi, baku hantam kini


mewarnai seluruh ruangan. Orang-orang yang


ada di tempat itu tampak mundur mepet ke


tempat yang sekiranya aman.


Mereka semua hanya bisa menyaksikan para


bayangan hitam tadi melakukan gerakan yang


sangat lihai dan teratur. Dalam waktu sebentar


orang-orang Tuan Hasim sudah terkapar di lantai dalam keadaan tidak berdaya. Mereka semua


babak belur dengan luka yang cukup serius


karena terdapat di titik-titik vital.


Agra tampak berdiri tenang dengan sesungging


senyum tipis melihat apa yang di lakukan oleh


pasukan bayangan hitam tadi. Kiran masih tetap


di posisi sama, memeluk erat tubuh Agra dengan


wajah yang tersembunyi.


"Tenanglah, semuanya sudah aman..!"


Bisik Agra seraya mempererat pelukannya.


Perlahan Kiran mendongakkan kepalanya


mencoba meyakinkan ucapan Agra. Keduanya


saling pandang kuat, Agra meyakinkan Kiran


dengan mencium lembut kening gadis itu yang langsung memejamkan matanya.


"Apa kita selamat kali ini.?"


Lirih Kiran dengan suara yang masih terdengar


bergetar karena rasa takut masih menguasai


dirinya saat ini. Agra mengangguk yakin.Dengan


ragu Kiran melirik kearah ruangan, benar saja orang-orang yang tadi datang menyerangnya


kini sudah di ringkus oleh para pasukan


bayangan hitam.


"Siapa mereka semua..?"


"Pasukan yang aku siapkan.!"


Kiran kembali menatap Agra setengah tidak


percaya. Agra hanya tersenyum miring seraya


membimbing Kiran untuk duduk di kursi yang


ada di dekat mereka. Tubuh Kiran saat ini sudah


tidak bertenaga sama sekali, dia terlihat masih


syok dengan semua yang terjadi barusan.


Pemimpin pasukan bayangan hitam mendekat


kearah Agra lalu membungkuk hormat di hadapan


nya membuat Kiran semakin tidak percaya.


"Tuan muda..maaf saya sedikit terlambat..!"


"Hemm..tidak apa-apa.! bereskan mereka semua.


Urus orang tua itu dengan seharusnya. Bersihkan


juga tempat ini jangan sampai tersisa.!"


Titah Agra dengan suara yang sangat tegas.


"Baik Tuan Muda..!"


Sambut pria tinggi kekar itu, dia sekilas melirik


kearah Kiran lalu membungkuk hormat, setelah


itu pria tadi kembali ke tengah ruangan.


Orang-orang yang ada di ruangan itu kini terlihat ketakutan melihat apa yang terjadi. Lutut mereka gemetar saat pasukan hitam tadi kini berada di


tengah ruangan dengan menodongkan senjata


kearah mereka semua. Dengan gemetar menahan rasa takut orang-orang itu langsung saja serempak berlutut seraya mengangkat kedua tangan mereka


di kepalanya.


Tidak lama Badar dan Bara muncul ke dalam


ruangan langsung menghampiri Agra dan Kiran.


Wajah mereka terlihat sangat khawatir.


"Tuan..Nona kalian tidak apa-apa..?"


Badar bertanya sambil memperhatikan keadaan


Kiran yang terlihat sangat pucat.


"Tidak apa-apa Om, Kiran hanya lemas saja."


Jawab Kiran pelan. Agra memperhatikan keadaan.


Para pasukan tadi kini sudah membereskan semua


yang ada di dalam ruangan, mereka di giring ke


luar entah akan di apakan.


"Bara..kau atur pengalihan tempat ini, buatlah


menjadi tempat yang lebih layak.!"


"Baik Tuan, besok akan saya urus semuanya."


Sambut Bara. Kiran hanya bisa terdiam masih


mencoba mencerna apa yang di dengarnya.


"Agra..aku ingin pulang sekarang."


Lirih Kiran saat merasakan tubuhnya saat ini


sudah sangat butuh istirahat. Agra mendekat


lalu dia mengangkat tubuh Kiran ke dalam


pangkuannya. Kiran langsung melingkarkan


tangannya di leher kokoh suaminya itu. Saat


ini yang dia inginkan hanyalah berada di dekat


pria ini, dalam perlindungan nya. Agra mulai


berjalan keluar dari tempat yang membuat


Kiran mengalami trauma berat.


Tiba di parkiran telah terparkir sebuah mobil


Range Rover mewah keluaran terbaru yang di


bawa oleh pemimpin pasukan tadi, dia berada


di balik kemudi. Bara membuka pintu belakang


untuk Agra dan Kiran. Setelah itu dia masuk di


jok depan. Mobil pun mulai meluncur keluar


dari tempat mengerikan itu.


Kiran duduk lemas dalam pelukan hangat Agra,


dia menyandarkan kepalanya di dada bidang


pria itu, matanya langsung saja terpejam. Dia


masih berharap bahwa apa yang di alaminya


barusan hanyalah sebuah mimpi buruk. Dia


lelah, sungguh lelah dengan semua rentetan


kejadian mengerikan yang sudah di alaminya


selama berada di tempat ini.


****** ******


Suara kicau burung bersahutan di atas pohon.


Sinar mentari pagi sudah masuk melalui celah


jendela kamar hingga mampu menghangatkan


suasana. Di atas tempat tidur bernuansa putih


terlihat tubuh molek seorang gadis masih saja


meringkuk manja bergelung dengan selimut


menikmati ketenangan suasana pagi ini.


Setelah melaksanakan sholat subuh, Kiran


kembali merebahkan tubuhnya. Dia masih


butuh istirahat saat ini karena semalam dia


tiba di Villa hampir lewat tengah malam.


Agra sempat menemani dirinya sampai terlelap,


dan seperti biasa laki-laki itu menghilang saat


dia membuka matanya. Hati Kiran semakin


merasakan kehilangan saat ini. Sebenarnya


yang dia inginkan adalah berada di dekat pria


itu, merasakan kehangatan tubuhnya yang


mampu membuat dirinya tenang dan tentram.


Entah kenapa semakin hari dia semakin merasa


terikat dengan suaminya itu.


Kiran membuka matanya perlahan, saat ini dia


enggan sekali untuk bangun dari atas tempat


tidur. Tubuhnya masih terasa sakit di semua


bagian.Kiran merenung sendiri, sepertinya dia memang tidak cocok berada di tempat ini.Tidak


ada jalan lain dia harus segera menuntaskan misi


nya. Menjual hasil perkebunan pada orang yang


sudah di siapkan oleh Agra. Dia ingin segera


kembali ke habitat aslinya walau mungkin saja


hidupnya tidak akan setenang kemarin lagi.


Kiran terdiam saat sayup-sayup dia mendengar


suara gemuruh helikopter dari kejauhan. Di desa


ini memang ada sebuah landasan kecil yang


tidak begitu jauh dari Villa nya.


Kiran tersentak ketika tiba-tiba terdengar suara


teriakan dan kegaduhan di luar Villa. Dengan


perasaan yang tidak enak Kiran segera bangkit


dari tidurnya. Saat ini dia hanya mengenakkan


gaun tidur terusan diatas lutut berbalut outer


hingga membuat dirinya terlihat begitu seksi


dan menggiurkan.


Baru saja dia turun ke lantai bawah untuk melihat


apa yang terjadi tiba-tiba saja ke dalam ruangan


berdatangan ibu-ibu desa yang tanpa basa-basi


lagi langsung menyeret Kiran keluar dari Villa.


"Ada apa ini ibu-ibu.? saya mau di bawa kemana?"


Kiran mencoba untuk melepaskan tangannya


dari cengkraman ibu-ibu itu yang semakin


mengunci kedua tangannya. Tiba di halaman


Villa dia melihat Lintang berdiri di kejauhan,


menatapnya tajam, tidak bereaksi apapun.


ke desa kami telah membawa malapetaka bagi


kami para wanita.!"


"Apa maksud kalian, apa salah saya.?"


Kiran terkejut bukan main, dia terus meronta


mencoba melepaskan diri saat tubuhnya di


seret ke jalanan.


Dua penjaga yang di tempatkan di villa saat ini


tampak tidak berdaya, ternyata ibu-ibu yang


sedang terbakar amarah itu sudah terlebih dulu


melumpuhkan nya dan mengikat tubuh mereka


di pohon.


Tubuh Kiran kembali di seret rame-rame ke


jalan tanpa alas kaki hingga dia meringis saat


kaki mulusnya menginjak kerikil tajam.


"Ibu-ibu..tolong lepaskan Nona saya, dia tidak


tahu apa-apa..! semuanya bukan salah dia.!"


Teriak Rasmi saat Kiran sudah ada di jalanan.


Saat ini Rasmi sedang di cekal oleh beberapa


ibu-ibu, kedua tangannya terikat tali tambang sehingga dia tidak bisa bergerak bebas hanya


bisa meronta dan menjerit di sertai air mata


saat melihat tubuh Kiran di dorong keras hingga


terjatuh di jalanan yang berbatu.


"Ibu-ibu.. tolong jelaskan pada saya..apa salah


saya, apa yang membuat kalian begitu murka


pada saya hiks hiks..!"


Isak Kiran masih terduduk di jalanan. Kakinya


yang putih berkilau kini terlihat merah karena


luka lecet di beberapa bagian. Air matanya luruh


berjatuhan tidak tertahan. Apalagi ini Tuhan.?


"Ini adalah hukum adat Nona.. sebenarnya kami


tidak ingin melakukan semua ini. Tapi karena


Nona, suami-suami kami jadi kehilangan akal,


setiap hari yang mereka bahas hanyalah tentang


Nona Kiran..!"


Kiran terhenyak dalam tangisnya. Jadi ini


semua berhubungan dengan sikap aneh para


warga selama ini.


"Mohon maaf ibu-ibu sebelumya, tapi sungguh


tidak ada sedikitpun di hati saya untuk mengacau


ataupun menggangu kalian.!"


"Itu semua tidak penting lagi bagi kami Nona.


Yang jelas sekarang Nona harus di bersihkan


agar semua pengaruh buruk yang ada dalam


diri Nona sirna, ayo kita bawa dia..!"


Teriak seorang ibu yang merupakan pimpinan


dari para wanita tadi. Tubuh Kiran kembali di


tarik dan di seret paksa tidak peduli jerit tangis


gadis itu saat dirinya kesakitan karena kakinya


berdarah terkena goresan batu-batu tajam yang


ada di jalanan.


"Ibu-ibu.. tolong kasihanilah Nona saya..dia


sungguh tidak mengerti apa-apa. Bapak-bapak


saja yang tidak tahu malu, Nona saya tidak


pernah berlaku yang di luar kewajaran..!"


Jerit Rasmi saat mereka sudah menuruni jalan


setapak menuju ke air terjun. Di tengah tangis


nya Kiran terkesiap saat mendapati kenyataan


bahwa dirinya kini di bawa ke air terjun. Apa


yang akan di lakukan oleh ibu-ibu ini sebenar


nya? apakah mereka akan menenggelamkan


dirinya di sana ?


"Tuhan..aku serahkan semuanya padaMu..


apapun yang terjadi aku yakin semua atas


kehendak Mu..Agraa..dimana kamu.."


Bathin Kiran menjerit seraya memejamkan


mata, bayangan wajah tampan Agra kini


memenuhi pikirannya. Hatinya perih saat ini.


"Ayo cepat sebelum waktu baik lewat.!"


Teriak ibu-ibu sambil menarik paksa outer yang


di kenakkan oleh Kiran hingga gadis itu berteriak histeris. Karuan saja kemolekan tubuhnya kini


terpampang nyata di depan mata para ibu itu.


Mereka hanya bisa menggeleng resah, pantas


saja hampir semua lelaki di desanya seperti


orang gila.


Tubuh Kiran yang hanya berbalut gaun pendek


tanpa lengan di seret turun ke dalam kolam di


bawah air terjun. Kolam itu menenggelamkan


tubuh Kiran hingga sebatas dadanya.


Rasmi tiada henti menjerit memohon pada ibu-


ibu untuk menghentikan semua hukuman ini.


Dia terus berontak ingin melepaskan diri dari


cekalan ibu-ibu tapi tenaganya kalah jauh


karena dia harus melawan 4 orang wanita.


"Nona... maafkan mbak..mbak memang tidak


berguna..apa yang akan terjadi nanti kalau


Tuan Agra tahu..huu huu..!"


Rasmi merutuki dirinya sendiri di tengah isak


tangis dan penyesalannya karena tidak bisa


mencegah semua ini.


Kiran di suruh berdiri di bawah guyuran air terjun


yang sangat deras hingga membuat kulitnya


terasa sakit. Tangan Kiran di pegang kuat oleh


dua orang sementara yang satu orang saat ini


berdiri di hadapan Kiran melakukan ritual khusus.


Yang lain berdiri melingkar di sekitar kolam


menatap dan memperhatikan semua ritual ini.


Beberapa saat kemudian tubuh Kiran di baluri


oleh minyak khusus juga kembang 7 rupa.Setelah


itu di guyur kembali menggunakan air kelapa


muda. Kiran hanya bisa menangis pedih.Matanya terpejam kuat, dia menguatkan diri, mencoba


bertahan dan melewati semua ini.


Tidak ada yang berbicara saat ini. Semua orang


nampak terdiam melihat Kiran yang kini berdiri


lemah di bawah guyuran air terjun yang sangat


dingin. Kulitnya perlahan mulai terlihat beku.


"Sekarang.. semua pengaruh buruk yang ada


dalam tubuh gadis ini mulai hilang..!"


Teriak sang pemimpin ritual di sambut sorak


sorai penuh kegembiraan dari ibu-ibu. Tidak


mereka sadari saat ini ke lokasi itu sudah


berdatangan para warga lainnya terutama


para pria yang hanya bisa bengong melihat


sosok molek Kiran di bawah guyuran air terjun.


Saat ini sosok Kiran malah tampak seperti


seorang bidadari yang sedang mandi, begitu


cantik, indah dan mempesona.


Beberapa saat kemudian tubuh Kiran mulai


limbung, kehilangan keseimbangan.


"Nona...nona dengar mbak..yang kuat Nona..


Ibu-ibu sudah.. tolong keluarkan Nona Kiran


dari air sebelum terjadi apa-apa. Saya tidak


bisa membayangkan apa yang akan terjadi


pada kalian kalau suaminya tahu semua ini..!"


Teriak Rasmi tidak tahan lagi.


"Suami...??"


Ibu-ibu itu terlihat terkejut setengah mati,


suami.? jadi gadis yang sudah mereka hukum


ini telah menikah.?? kenapa bisa begini.??


Mereka semua mulai terlihat kalangkabut.


Kegaduhan semakin terjadi ketika dari arah


jalan setapak berloncatan bayangan hitam


juga satu sosok yang langsung melompat


ke dalam kolam.


"Kiran sayang...apa yang terjadi padamu..!"


Sosok tadi langsung merengkuh tubuh Kiran


dan mengangkat nya ke dalam pangkuan.


Kiran membuka matanya sesaat, tangannya


meraih rahang kokoh sosok itu yang saat ini


sudah tidak terbayang sekelam apa wajahnya.


"Agraa..kamu datang..."


Kepala Kiran terkulai lemas, dia tidak sadarkan


diri dalam pangkuan sosok itu yang tiada lain


adalah Agra.


Agra keluar dari kolam, tatapannya saat ini


bagai singa yang sedang terluka. Dia membagi


tatapan pada semua wanita yang ada di tempat


itu yang saat ini sudah ada dalam kekuasaan


para pasukan bayangan hitam. Mereka semua


terlihat menunduk di penuhi ketakutan.


"Kumpulkan mereka semua di balai desa..!"


Titah Agra dengan suara bariton nya yang


mampu menggetarkan lutut semua orang.


"Baik Tuan Muda..!"


Sambut mereka. Agra melangkah lebar setengah


berlari menuju ke Villa di ikuti oleh Badar, Bara


juga Rasmi.


"Cari Dokter terbaik di daerah ini, cepat.!!"


Teriaknya mulai panik saat merasakan tubuh


Kiran semakin membeku. Badar dan Bara


bergerak cepat..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....