
************
Saat ini Agra tampak sudah bertelanjang dada
hingga tubuh gagahnya yang bisa melelehkan
mata dan hati wanita kini tersuguh nyata di
hadapan dua wanita yang haus belaian itu.
"A-Agraa...kau..?"
Mikhayla melepaskan cengkraman tangannya
pada Tanisha. Keduanya berdiri mematung
di tempat menatap lekat sosok Agra dengan
sorot mata penuh damba.
"Bukankah kalian sangat menginginkan ku..?"
Agra mendekat dengan tatapan yang kini
sudah berubah jernih dan tenang, namun
suaranya terdengar sangat dingin.
"A-agra..aku akan membuatmu bahagia
malam ini..! jadikan aku milikmu seutuhnya.!"
Agra menyeringai tipis, dia menatap tajam
kedua wanita yang sudah sama-sama panas
terbakar gairah yang meluap-luap itu.
"Kau yakin bisa membuatku bahagia malam
ini Mikhayla..? apa kau pikir dirimu cukup
pantas untuk ku.?"
"Agra..apa yang kau katakan..? tidak ada
laki-laki yang tidak menginginkan ku..!
tapi yang aku inginkan hanyalah dirimu..!"
Mikhayla mendekat ingin memeluk Agra,
namun urung karena Agra dengan cepat
mengangkat tangannya di sertai tatapan
tajam yang menghunus jantung serta aura
wajah yang kini mulai menyemburkan salju.
"Stop Mikhayla.. jangan mendekat.!"
Mikhayla langsung membeku di tempat
menatap penuh kecewa dan tanda tanya.
Agra menegakkan badannya, dia menepuk
tangan satu kali. Dan tiba-tiba saja pintu
kamar terbuka secara otomatis.
Mata Mikhayla dan Tanisha terbelalak tidak
percaya saat melihat kedatangan Kiran, Bara
dan Zack ke dalam kamar tersebut. Keduanya menatap tajam penuh emosi kearah Kiran yang sedang menghampiri Agra lalu memakaikan
mantel yang di bawanya. Untuk sesaat suami
istri itu saling pandang lekat kemudian Agra
merengkuh tubuh Kiran ke dalam dekapannya.
Keduanya saling berpelukan erat membuat
Mikhayla mengetatkan rahang nya kuat.
"Kenapa kamu harus menjatuhkan harga diri
mu hanya untuk mereka berdua.?"
Lirih Kiran sambil menyembunyikan wajahnya
di dada bidang Agra yang semakin mempererat pelukannya seraya menciumi puncak kepala
Kiran sambil memejamkan mata.
"Aku hanya berniat membereskan semua
masalah yang bisa mengganggu ketenangan
hidup kita sayang..!"
"Tapi tidak harus dengan cara-cara seperti
ini sayang..kau sudah membuatku cemas..!"
"Aku hanya mengikuti langkah yang mereka
ambil.! cara yang sangat rendah.!"
"Aku takut kamu malah terbawa arus..!"
Agra melonggarkan pelukannya, tatapannya
kini mengunci bibir indah Kiran yang sedang
cemberut kesal.
"Kau takut aku jatuh pada perangkap mereka?
Kalau begitu kau belum mengenal suamimu
ini dengan baik Nona Muda..!"
Kiran menatap teduh wajah Agra dengan
sesungging senyum lembut di bibirnya.
"Aku percaya padamu..! tapi ketakutanku
lebih besar lagi, mengalahkan segalanya."
"Justru mereka lah yang telah masuk dalam perangkap kita sayang..!"
"Baiklah..kalau begitu kita bereskan mereka
malam ini juga..!"
Desis Kiran sambil kembali mempererat
peluknya. Mikhayla menggertakan giginya
saat menyadari apa yang terjadi sekarang.
"Agra.. apa-apaan ini.? kalian menjebak ku ?"
Mikhayla tampak berang, wajahnya kini merah
padam menahan ledakan amarah. Sementara
Tanisha mundur, kondisinya terlihat semakin
kacau. Dia berusaha untuk melucuti pakaian
nya namun Bara dengan cepat menahan
gerakan tangan Tanisha lalu menguncinya.
"Bukankah kalian yang merencanakan untuk
menjebakku Nona Alexandria..?"
Agra melirik, menatap tajam wajah Mikhayla
yang semakin memerah karena emosinya kini
mulai tak terbendung. Dia benar-benar tidak
menduga semua nya akan berakhir seperti ini.
"A-apa yang terjadi..? bukankah kau sudah
dalam reaksi obat itu.?"
Agra menyeringai tipis, Kiran melepaskan diri
dari dekapan Agra, kini dia menatap tajam
wajah Mikhayla dan Tanisha bergantian.
"Aku memang meminum nya dan sekarang
pun masih dalam pengaruhnya. Apa kau pikir
tubuhku ini mampu di kalahkan oleh obat
sialan seperti itu ? kau belum mengenalku
dengan baik Mikhayla..!"
"Tidak.! Ini tidak mungkin..! tidak ada yang
bisa lolos dari obat itu, seharusnya kau jadi
milikku malam ini..!"
Plak.!
Satu tamparan keras di layangkan Kiran
mendarat mulus di wajah cantik Mikhayla
yang langsung merunduk sesaat, namun
kemudian dia balik melayangkan tangan
nya kearah Kiran ingin membalasnya.
"Itu adalah hal yang sangat pantas kamu
dapatkan Mikhayla..! kau sudah menjebak
dan merendahkan harga diri suamiku.! kau
menyamakan dia dengan laki-laki lain yang
mudah kamu dapatkan..!"
Geram Kiran sambil menahan lengan Mikhayla
di udara kemudian mengunci nya dengan kuat
menggunakan kekuatan ajaib yang di milikinya
hingga mampu membuat wanita itu meringis kesakitan dengan wajah penuh kemarahan.
"Lepaskan tanganku wanita rendah..! kau
hanyalah wanita tidak tahu diri yang telah
merebut Agra dariku..!"
"Ohh..ya..aku mungkin rendah..! tapi aku
tidak murahan seperti mu Nona Alexandria.
Kau..sangat menjijikkan..!"
Desis Kiran sambil mendorong keras tubuh
Mikhayla hingga dia jatuh terduduk di lantai.
Mikhayla semakin kalap dia berusaha bangkit
ingin menyerang Kiran namun Zack bergerak
cepat mengunci pergerakan nya. Tanisha pun
kini di paksa duduk berlutut di hadapan Kiran
bersebelahan dengan Mikhayla.
Agra berdiri santai di belakang Kiran dengan
mengulum senyum seraya memasukan kedua
telapak tangan ke dalam saku celananya. Dia
suka sekali melihat Kiran saat mengeluarkan
taringnya, sangat menggemaskan.
Kiran maju ke hadapan kedua wanita yang
menatap nya dengan sorot mata bak harimau
betina yang sedang mengamuk itu.
"Kalian berdua sungguh sangat memalukan.
Kalian telah merendahkan harga diri seorang
wanita hanya demi hasrat dan napsu sesaat.!"
Kiran memandangi Mikhayla dan Tanisha yang
sedang berusaha melepaskan diri dari cekalan
kedua pria perkasa di belakangnya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup
tenang..! kalian telah menginjak harga diriku
sebagai wanita terhormat di mata dunia..!"
Geram Mikhayla dengan tatapan menyala
melahap sosok Kiran yang sontak tertawa
kecil hingga membuat Agra menatap tidak
percaya melihat Kiran bisa se impulsif itu.
"Ohh ya..Nona Mikhayla yang terhormat..
Apa kau sadar dengan ucapanmu barusan.?
Apa yang bisa mencerminkan kehormatan
mu dengan kelakuan mu yang hina seperti
tadi.? kau begitu gila menginginkan suamiku.!"
Mikhayla semakin kalap dia seakan ingin
menerkam Kiran saking murkanya. Agra
memberi isyarat agar Zack melepaskannya.
Kini Mikhayla berdiri dan langsung maju ke
hadapan Kiran ingin menyerangnya, namun
dengan gerakan cepat tidak terduga Kiran
langsung membalikan posisi, dia mengunci
kedua tangan Mikhayla di punggungnya
membuat wanita itu berteriak kesakitan.
"Lepaskan aku..! kau wanita kasar dan tidak
punya etika sama sekali..!"
"Apa kau bilang.? etika..? coba berkaca dulu
sebelum berbicara.! Apa harus aku pertegas
kalau kau adalah wanita yang sangat rendah.
Kau menghalalkan segala cara hanya agar
bisa memiliki raga seorang pria yang jelas-jelas
tidak pernah memandang mu sama sekali.!"
Kiran kembali mendorong tubuh Mikhayla
hingga dia terjatuh dengan keras. Mikhayla
meringis memegangi lutut dan sikut nya.
"Dan aku tidak perlu bersikap lembut pada
wanita yang sudah berusaha untuk menjebak
suami ku.! Aku sarankan.. segeralah kalian
bertaubat dan memperbaiki diri, karena janji
Tuhan itu pasti akan hukum sebab akibat..!"
Kiran meraih tablet dari tangan Bara lalu maju
ke hadapan Tanisha yang kini hanya bisa duduk
lemas setelah melihat apa yang di lakukan Kiran
pada Mikhayla barusan. Sepertinya dia sudah
salah mengambil job. Istri Presdir ini ternyata
perempuan tangguh sekaligus sadis.
"Aku memiliki bukti kuat yang bisa membuat
kalian tidak akan bisa menampakkan diri lagi
di hadapan dunia. Kalian berdua benar-benar
menjijikkan..! kehormatan dan nama besar
hanyalah sebagai kedok belaka..!"
Kiran memperlihatkan rekaman video syur
yang di perankan oleh kedua wanita itu dengan
beberapa pria berbeda. Bahkan yang paling
membuat Mikhayla syok adalah rekaman
perbuatan hina nya bersama seorang juri
kontes ajang kecantikan yang di ikuti nya.
"Aku benar-benar menyayangkan..Anugrah
kecantikan yang telah Tuhan berikan pada
kalian hanya di jadikan sebagai modal untuk
memuluskan segala ambisi dan hasrat
seksual semata, sangat menyedihkan..!"
Wajah mereka kini sudah berubah seputih
kapas dengan tubuh lemas kehilangan tenaga.
Kepala mereka tertunduk dalam. Agra maju,
melingkarkan tangan nya di pinggang ramping
istri pintar nya itu seraya mencium pelipisnya.
"Sekarang sudah jelas bukan.? Aku pastikan
dalam hitungan detik semua bukti itu akan
segera tersebar di dunia maya kalau kalian
masih berani menggangu ketenangan ku..!"
Tegas Agra dengan tatapan tajam penuh
ancaman. Kedua wanita itu langsung
menggeleng kuat sambil terisak.
"Agra..aku mohon jangan..! cukup sudah aku
di permalukan di sini, jangan di tambah lagi.
Aku berjanji tidak akan pernah menganggu
Mikhayla berucap dengan isak tangis penuh
kehancuran dan kekalahan.
"Saya mohon jangan hancurkan masa depan
saya Tuan.. akan bagaimana hidup saya nanti.
Nona Kiran..tolong maafkan saya..!"
Tanisha tampak memohon dengan berlutut
di hadapan Kiran dan Agra.
"Aku sudah pernah mengatakan bahwa kau
layak menjadi wanita spesial bos mu Tanisha.
Maka itu akan aku kabulkan sekarang..!"
Tanisha tampak terkejut saat melihat ada
satu sosok pria tinggi kekar masuk ke
dalam ruangan.
"Mr. Albert..! kau di sini..?"
Wajah Tanisha tampak sedikit bingung
menatap kearah sosok pria bule yang sedang tersenyum padanya.
"Bukankah dia bos mu Tanisha..? kau masih
terikat kontrak kerja dengan nya.!"
Ujar Agra, Tanisha menunduk. Tanpa kata
pria bule tadi langsung meraih tubuh Tanisha
ke dalam pangkuannya.
"Kau sudah cuti terlalu lama baby..malam ini
kau harus membayar semua utang mu..!"
Desis pria itu dengan tatapan yang sangat
dalam. Sudah tidak ada lagi yang bisa di
lakukan Tanisha saat ini selain merebahkan
kepalanya di dada bidang pria itu untuk bisa
meredam hasrat yang sudah menyiksanya
dari tadi.
"Terimakasih Tuan Bimantara..anda sudah
mengembalikan wanita saya..!"
Ucap pria itu sambil menundukkan kepala
sedikit setelah itu berlalu pergi dari hadapan
Agra yang tersenyum tipis.
"Pergilah Mikhayla..dan jangan pernah lagi
menampakkan diri mu di hadapan ku..!"
Titah Agra pada Mikhayla yang kini berusaha
berdiri dengan tubuh sedikit goyah. Ke dalam
kamar tiba-tiba berdatangan asisten dan para
bodyguard Mikhayla.
Untuk sejenak Mikhayla menatap berat kearah
Agra, kemudian berlalu pergi bersama para bawahannya dengan perasaan hancur.
Agra menatap lekat wajah cantik Kiran yang
terlihat menarik napas berat kemudiam dia
menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukan
nya, mencium keningnya lama.
"Apakah semuanya sudah selesai sayang..
aku rasanya cape sekali..!"
"Aku pastikan tidak akan ada lagi masalah
yang akan mengganggu ketentraman mu..
Semuanya akan lebih baik setelah ini."
Bisik Agra sambil kemudian mengangkat
tubuh Kiran yang terlihat sudah sangat lelah.
Mereka semua melangkah pergi dari tempat
itu yang telah menjadi saksi berakhirnya
sebuah keangkuhan dan kesombongan
dari seorang Mikhayla..
****** ******
Matahari masih setia menampakan dirinya
dari arah timur di pagi ini yang terlihat begitu
cerah dan ceria...
Di dalam kamar megah lantai 4 istana utama
saat ini terdengar suara desahan dan erangan
penuh kenikmatan yang keluar dari mulut dua
insan yang sedang memadu kasih. Sudah satu
jam lamanya mereka bergumul panas dengan
bermandikan peluh dan keringat.
Pagi ini entah ada angin apa tiba-tiba saja
Kiran bertindak agresif dengan melucuti
pakaian Agra. Dia memberikan sentuhan
dahsyat nya di seluruh tubuh gagah suami
nya dengan penuh gairah dan gelora hasrat
hingga membuat Agra seakan menggila.
Kenikmatan yang di rasakannya benar-benar
tiada batas hingga Agra mengerang nikmat
membisikkan dan memuja nama istrinya
itu di tengah-tengah desahannya.
Ada dorongan hasrat dan keinginan aneh
yang membuat Kiran seakan tidak ada lelah
nya menciptakan sensasi kenikmatan baru
untuk aktifitas bercinta mereka.
"Kau mulai nakal ya sayang...!"
Tidak tahan dengan serbuan gairahnya Agra
segera membalikan posisi, menindih dan
menguasai tubuh istrinya itu. Dia berusaha
menikmati tubuh indah istrinya itu dengan
selembut dan sehalus mungkin mengingat
kondisinya saat ini yang masih sangat rawan.
Namun lama kelamaan keliarannya tidak bisa
di kendalikan lagi. Dia kembali mengeksplor
tubuh istrinya itu dengan cara yang buas
membuat Kiran menjerit dan merintih tidak
tahan dengan segala kenikmatan yang kini
di rasakannya.
"Aakkhh... sayaang...kau bisa membuat
tubuhku remuk kalau begini aakhh.."
Kiran merengek sambil memukuli lengan
kokoh Agra saat pria perkasa itu membawa
tubuh lelahnya ke atas pangkuan. Aksinya
kembali berlanjut dengan lebih ganas lagi.
Satu jam kemudian kegiatan panas mereka
akhirnya selesai, keduanya terkulai lemas
saling memeluk dan mencoba menetralkan
pernapasan yang masih berkejaran. Kiran
menatap lembut wajah tampan Agra yang
terlihat masih di penuhi oleh keringat.
Namun hal itu justru membuat dia tambah
seksi dan menggoda.
"Kamu benar-benar ganas sayang.. Kalau
nanti aku tidak bisa berjalan bagaimana.?"
Keluh Kiran sambil mengusap lembut
keringat yang membanjiri dahi tegas Agra.
"Aku akan menggendong mu sayang..!"
"Kau memang menyebalkan..! sudah tahu
kondisi ku seperti ini masih saja bermain liar..!"
"Kau sendiri yang sudah memancing ku..!
Siapa yang tahan dengan sentuhan dahsyat
mu itu, kau membuatku menggila sayang..!"
Kiran mengerucutkan bibir kesal membuat
Agra menyambar dan ******* nya kuat.
Kiran langsung mendorong dada Agra kesal
dan beberapa saat kemudian dia menutup
mulutnya, wajahnya terlihat tidak nyaman.
"Ada apa sayang.. apa kau mual lagi.?"
Agra bangkit dengan cepat lalu mengangkat
tubuh Kiran yang kelihatannya sudah tidak
bisa menahan gejolak di dalam perutnya.
Begitu sampai di wastafel dia langsung
mengeluarkan semua isi perutnya bahkan
sebagian menyembur dan menyiram tubuh
polos Agra. Dengan sabar dan telaten Agra
membantu Kiran menyelesaikan semua
rasa rasa tidak nyaman yang menyiksanya
hingga membuat wajah Kiran memucat.
Setelah merasa lebih baik Agra membawa
tubuh Kiran untuk berendam di bak whirpool
agar bisa mengembalikan kebugarannya.
Tubuh Kiran di letakkan di atas pangkuannya
berusaha memberikan kenyamanan dan
ketenangan bathin. Keduanya memejamkan
mata mencoba menikmati sensasi hangat
dan nyaman yang keluar dari bak rendam
modern full teknologi canggih itu.
Satu jam kemudian...
Kondisi Kiran kini mulai stabil, namun dia
masih berbaring di atas tempat tidur karena
seluruh tulang dan persendian nya terasa
sedikit linu dan lemas akibat aktifitas intim
mereka tadi yang berlebihan.
"Kau mau sarapan apa sayang..? Aku akan
menyuruh Tata membawakan nya..!"
Kiran membuka mata, menatap tenang wajah
Agra yang kini duduk di pinggir tempat tidur
seraya merapikan anak rambut yang menutupi
sebagian wajah cantik nya.
"Aku ingin sarapan roti panggang buatanmu.!"
Wajah Agra langsung tergugu, bengong tak
percaya. Kiran menatap penuh permohonan.
"Apa kau bisa membuatkan nya untukku.?"
Rajuk Kiran dengan mata berkaca-kaca
penuh pengharapan. Agra masih terdiam,
menatap kuat wajah Kiran yang kini sudah
mulai terlihat sedih dan kecewa.
"Apa yang tidak bisa aku lakukan untuk mu
sayang.. apalagi ini urusan perut..!"
Kiran memekik pelan saat Agra mengangkat
tubuhnya kemudian melangkah keluar dari
dalam kamar.
"Kita mau kemana sayang..?"
"Aku akan membuatkan sarapan spesial
untuk mu..! kau akan tahu sendiri nanti. !"
"Baiklah..rasanya aku tidak sabar ingin
segera mencicipi makanan buatanmu..!"
Agra masuk ke dalam lift. Begitu sampai di
ruang bawah suasana langsung berubah
horor saat Agra tiba-tiba membagi perintah
pada semua pelayan untuk segera menyiapkan
segala keperluan. Untuk sesaat pak Hans
dan para pelayan tampak bengong saat
melihat Agra memakai apron di tubuh
tinggi tegap nya.
"Tu-Tuan..apa yang anda lakukan..? biarkan
kami yang akan menyiapkan semua nya..!"
Pak Hans dan Tata tampak gugup sekaligus
bingung melihat apa yang di lakukan oleh
Tuan nya itu.
"Hans..Tata.. siapkan saja semua bahan roti
panggang dan jus mangga muda..!"
Pak Hans dan Tata saling pandang bengong.
"Tapi Tuan.. apakah anda sendiri yang akan..."
"Pak Hans, Tata.. turuti saja perintah nya. Saya
yang menginginkan nya.!"
Kiran menyela sambil duduk santai di pantry
menatap tenang kearah sang suami yang
saat ini sedang sibuk memilih bahan di dalam
lemari pendingin.
"Baik Nona kalau begitu.."
Pak Hans segera memberikan instruksi pada
para pelayan yang kini mulai bergerak dengan
gugup dan tegang namun juga di liputi rasa
tidak percaya karena Tuan Muda berharga
mereka mau turun langsung ke dapur untuk
membuatkan sarapan pagi bagi sang bidadari.
Kiran tersenyum manis memperhatikan sang
pujaan hati yang kini sedang berkutat dengan
kegiatan luar biasanya. Kiran merebahkan
kepalanya di atas meja dengan senyum
yang tiada henti terbit di bibir indahnya.
"Sayaang.. cepat sedikit..aku sudah sangat
laparr...!"
Rengek Kiran sambil perlahan memejamkan
matanya karena rasa kantuk kembali datang
menderanya. Dia benar-benar lelah saat ini..
**********
TBC.....