Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
75. Sapu Bersih


 


************


 


Saat ini Agra tampak sudah bertelanjang dada


hingga tubuh gagahnya yang bisa melelehkan


mata dan hati wanita kini tersuguh nyata di


hadapan dua wanita yang haus belaian itu.


"A-Agraa...kau..?"


Mikhayla melepaskan cengkraman tangannya


pada Tanisha. Keduanya berdiri mematung


di tempat menatap lekat sosok Agra dengan


sorot mata penuh damba.


"Bukankah kalian sangat menginginkan ku..?"


Agra mendekat dengan tatapan yang kini


sudah berubah jernih dan tenang, namun


suaranya terdengar sangat dingin.


"A-agra..aku akan membuatmu bahagia


malam ini..! jadikan aku milikmu seutuhnya.!"


Agra menyeringai tipis, dia menatap tajam


kedua wanita yang sudah sama-sama panas


terbakar gairah yang meluap-luap itu.


"Kau yakin bisa membuatku bahagia malam


ini Mikhayla..? apa kau pikir dirimu cukup


pantas untuk ku.?"


"Agra..apa yang kau katakan..? tidak ada


laki-laki yang tidak menginginkan ku..!


tapi yang aku inginkan hanyalah dirimu..!"


Mikhayla mendekat ingin memeluk Agra,


namun urung karena Agra dengan cepat


mengangkat tangannya di sertai tatapan


tajam yang menghunus jantung serta aura


wajah yang kini mulai menyemburkan salju.


"Stop Mikhayla.. jangan mendekat.!"


Mikhayla langsung membeku di tempat


menatap penuh kecewa dan tanda tanya.


Agra menegakkan badannya, dia menepuk


tangan satu kali. Dan tiba-tiba saja pintu


kamar terbuka secara otomatis.


Mata Mikhayla dan Tanisha terbelalak tidak


percaya saat melihat kedatangan Kiran, Bara


dan Zack ke dalam kamar tersebut. Keduanya menatap tajam penuh emosi kearah Kiran yang sedang menghampiri Agra lalu memakaikan


mantel yang di bawanya. Untuk sesaat suami


istri itu saling pandang lekat kemudian Agra


merengkuh tubuh Kiran ke dalam dekapannya.


Keduanya saling berpelukan erat membuat


Mikhayla mengetatkan rahang nya kuat.


"Kenapa kamu harus menjatuhkan harga diri


mu hanya untuk mereka berdua.?"


Lirih Kiran sambil menyembunyikan wajahnya


di dada bidang Agra yang semakin mempererat pelukannya seraya menciumi puncak kepala


Kiran sambil memejamkan mata.


"Aku hanya berniat membereskan semua


masalah yang bisa mengganggu ketenangan


hidup kita sayang..!"


"Tapi tidak harus dengan cara-cara seperti


ini sayang..kau sudah membuatku cemas..!"


"Aku hanya mengikuti langkah yang mereka


ambil.! cara yang sangat rendah.!"


"Aku takut kamu malah terbawa arus..!"


Agra melonggarkan pelukannya, tatapannya


kini mengunci bibir indah Kiran yang sedang


cemberut kesal.


"Kau takut aku jatuh pada perangkap mereka?


Kalau begitu kau belum mengenal suamimu


ini dengan baik Nona Muda..!"


Kiran menatap teduh wajah Agra dengan


sesungging senyum lembut di bibirnya.


"Aku percaya padamu..! tapi ketakutanku


lebih besar lagi, mengalahkan segalanya."


"Justru mereka lah yang telah masuk dalam perangkap kita sayang..!"


"Baiklah..kalau begitu kita bereskan mereka


malam ini juga..!"


Desis Kiran sambil kembali mempererat


peluknya. Mikhayla menggertakan giginya


saat menyadari apa yang terjadi sekarang.


"Agra.. apa-apaan ini.? kalian menjebak ku ?"


Mikhayla tampak berang, wajahnya kini merah


padam menahan ledakan amarah. Sementara


Tanisha mundur, kondisinya terlihat semakin


kacau. Dia berusaha untuk melucuti pakaian


nya namun Bara dengan cepat menahan


gerakan tangan Tanisha lalu menguncinya.


"Bukankah kalian yang merencanakan untuk


menjebakku Nona Alexandria..?"


Agra melirik, menatap tajam wajah Mikhayla


yang semakin memerah karena emosinya kini


mulai tak terbendung. Dia benar-benar tidak


menduga semua nya akan berakhir seperti ini.


"A-apa yang terjadi..? bukankah kau sudah


dalam reaksi obat itu.?"


Agra menyeringai tipis, Kiran melepaskan diri


dari dekapan Agra, kini dia menatap tajam


wajah Mikhayla dan Tanisha bergantian.


"Aku memang meminum nya dan sekarang


pun masih dalam pengaruhnya. Apa kau pikir


tubuhku ini mampu di kalahkan oleh obat


sialan seperti itu ? kau belum mengenalku


dengan baik Mikhayla..!"


"Tidak.! Ini tidak mungkin..! tidak ada yang


bisa lolos dari obat itu, seharusnya kau jadi


milikku malam ini..!"


Plak.!


Satu tamparan keras di layangkan Kiran


mendarat mulus di wajah cantik Mikhayla


yang langsung merunduk sesaat, namun


kemudian dia balik melayangkan tangan


nya kearah Kiran ingin membalasnya.


"Itu adalah hal yang sangat pantas kamu


dapatkan Mikhayla..! kau sudah menjebak


dan merendahkan harga diri suamiku.! kau


menyamakan dia dengan laki-laki lain yang


mudah kamu dapatkan..!"


Geram Kiran sambil menahan lengan Mikhayla


di udara kemudian mengunci nya dengan kuat


menggunakan kekuatan ajaib yang di milikinya


hingga mampu membuat wanita itu meringis kesakitan dengan wajah penuh kemarahan.


"Lepaskan tanganku wanita rendah..! kau


hanyalah wanita tidak tahu diri yang telah


merebut Agra dariku..!"


"Ohh..ya..aku mungkin rendah..! tapi aku


tidak murahan seperti mu Nona Alexandria.


Kau..sangat menjijikkan..!"


Desis Kiran sambil mendorong keras tubuh


Mikhayla hingga dia jatuh terduduk di lantai.


Mikhayla semakin kalap dia berusaha bangkit


ingin menyerang Kiran namun Zack bergerak


cepat mengunci pergerakan nya. Tanisha pun


kini di paksa duduk berlutut di hadapan Kiran


bersebelahan dengan Mikhayla.


Agra berdiri santai di belakang Kiran dengan


mengulum senyum seraya memasukan kedua


telapak tangan ke dalam saku celananya. Dia


suka sekali melihat Kiran saat mengeluarkan


taringnya, sangat menggemaskan.


Kiran maju ke hadapan kedua wanita yang


menatap nya dengan sorot mata bak harimau


betina yang sedang mengamuk itu.


"Kalian berdua sungguh sangat memalukan.


Kalian telah merendahkan harga diri seorang


wanita hanya demi hasrat dan napsu sesaat.!"


Kiran memandangi Mikhayla dan Tanisha yang


sedang berusaha melepaskan diri dari cekalan


kedua pria perkasa di belakangnya.


"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup


tenang..! kalian telah menginjak harga diriku


sebagai wanita terhormat di mata dunia..!"


Geram Mikhayla dengan tatapan menyala


melahap sosok Kiran yang sontak tertawa


kecil hingga membuat Agra menatap tidak


percaya melihat Kiran bisa se impulsif itu.


"Ohh ya..Nona Mikhayla yang terhormat..


Apa kau sadar dengan ucapanmu barusan.?


Apa yang bisa mencerminkan kehormatan


mu dengan kelakuan mu yang hina seperti


tadi.? kau begitu gila menginginkan suamiku.!"


Mikhayla semakin kalap dia seakan ingin


menerkam Kiran saking murkanya. Agra


memberi isyarat agar Zack melepaskannya.


Kini Mikhayla berdiri dan langsung maju ke


hadapan Kiran ingin menyerangnya, namun


dengan gerakan cepat tidak terduga Kiran


langsung membalikan posisi, dia mengunci


kedua tangan Mikhayla di punggungnya


membuat wanita itu berteriak kesakitan.


"Lepaskan aku..! kau wanita kasar dan tidak


punya etika sama sekali..!"


"Apa kau bilang.? etika..? coba berkaca dulu


sebelum berbicara.! Apa harus aku pertegas


kalau kau adalah wanita yang sangat rendah.


Kau menghalalkan segala cara hanya agar


bisa memiliki raga seorang pria yang jelas-jelas


tidak pernah memandang mu sama sekali.!"


Kiran kembali mendorong tubuh Mikhayla


hingga dia terjatuh dengan keras. Mikhayla


meringis memegangi lutut dan sikut nya.


"Dan aku tidak perlu bersikap lembut pada


wanita yang sudah berusaha untuk menjebak


suami ku.! Aku sarankan.. segeralah kalian


bertaubat dan memperbaiki diri, karena janji


Tuhan itu pasti akan hukum sebab akibat..!"


Kiran meraih tablet dari tangan Bara lalu maju


ke hadapan Tanisha yang kini hanya bisa duduk


lemas setelah melihat apa yang di lakukan Kiran


pada Mikhayla barusan. Sepertinya dia sudah


salah mengambil job. Istri Presdir ini ternyata


perempuan tangguh sekaligus sadis.


"Aku memiliki bukti kuat yang bisa membuat


kalian tidak akan bisa menampakkan diri lagi


di hadapan dunia. Kalian berdua benar-benar


menjijikkan..! kehormatan dan nama besar


hanyalah sebagai kedok belaka..!"


Kiran memperlihatkan rekaman video syur


yang di perankan oleh kedua wanita itu dengan


beberapa pria berbeda. Bahkan yang paling


membuat Mikhayla syok adalah rekaman


perbuatan hina nya bersama seorang juri


kontes ajang kecantikan yang di ikuti nya.


"Aku benar-benar menyayangkan..Anugrah


kecantikan yang telah Tuhan berikan pada


kalian hanya di jadikan sebagai modal untuk


memuluskan segala ambisi dan hasrat


seksual semata, sangat menyedihkan..!"


Wajah mereka kini sudah berubah seputih


kapas dengan tubuh lemas kehilangan tenaga.


Kepala mereka tertunduk dalam. Agra maju,


melingkarkan tangan nya di pinggang ramping


istri pintar nya itu seraya mencium pelipisnya.


"Sekarang sudah jelas bukan.? Aku pastikan


dalam hitungan detik semua bukti itu akan


segera tersebar di dunia maya kalau kalian


masih berani menggangu ketenangan ku..!"


Tegas Agra dengan tatapan tajam penuh


ancaman. Kedua wanita itu langsung


menggeleng kuat sambil terisak.


"Agra..aku mohon jangan..! cukup sudah aku


di permalukan di sini, jangan di tambah lagi.


Aku berjanji tidak akan pernah menganggu


Mikhayla berucap dengan isak tangis penuh


kehancuran dan kekalahan.


"Saya mohon jangan hancurkan masa depan


saya Tuan.. akan bagaimana hidup saya nanti.


Nona Kiran..tolong maafkan saya..!"


Tanisha tampak memohon dengan berlutut


di hadapan Kiran dan Agra.


"Aku sudah pernah mengatakan bahwa kau


layak menjadi wanita spesial bos mu Tanisha.


Maka itu akan aku kabulkan sekarang..!"


Tanisha tampak terkejut saat melihat ada


satu sosok pria tinggi kekar masuk ke


dalam ruangan.


"Mr. Albert..! kau di sini..?"


Wajah Tanisha tampak sedikit bingung


menatap kearah sosok pria bule yang sedang tersenyum padanya.


"Bukankah dia bos mu Tanisha..? kau masih


terikat kontrak kerja dengan nya.!"


Ujar Agra, Tanisha menunduk. Tanpa kata


pria bule tadi langsung meraih tubuh Tanisha


ke dalam pangkuannya.


"Kau sudah cuti terlalu lama baby..malam ini


kau harus membayar semua utang mu..!"


Desis pria itu dengan tatapan yang sangat


dalam. Sudah tidak ada lagi yang bisa di


lakukan Tanisha saat ini selain merebahkan


kepalanya di dada bidang pria itu untuk bisa


meredam hasrat yang sudah menyiksanya


dari tadi.


"Terimakasih Tuan Bimantara..anda sudah


mengembalikan wanita saya..!"


Ucap pria itu sambil menundukkan kepala


sedikit setelah itu berlalu pergi dari hadapan


Agra yang tersenyum tipis.


"Pergilah Mikhayla..dan jangan pernah lagi


menampakkan diri mu di hadapan ku..!"


Titah Agra pada Mikhayla yang kini berusaha


berdiri dengan tubuh sedikit goyah. Ke dalam


kamar tiba-tiba berdatangan asisten dan para


bodyguard Mikhayla.


Untuk sejenak Mikhayla menatap berat kearah


Agra, kemudian berlalu pergi bersama para bawahannya dengan perasaan hancur.


Agra menatap lekat wajah cantik Kiran yang


terlihat menarik napas berat kemudiam dia


menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukan


nya, mencium keningnya lama.


"Apakah semuanya sudah selesai sayang..


aku rasanya cape sekali..!"


"Aku pastikan tidak akan ada lagi masalah


yang akan mengganggu ketentraman mu..


Semuanya akan lebih baik setelah ini."


Bisik Agra sambil kemudian mengangkat


tubuh Kiran yang terlihat sudah sangat lelah.


Mereka semua melangkah pergi dari tempat


itu yang telah menjadi saksi berakhirnya


sebuah keangkuhan dan kesombongan


dari seorang Mikhayla..


****** ******


Matahari masih setia menampakan dirinya


dari arah timur di pagi ini yang terlihat begitu


cerah dan ceria...


Di dalam kamar megah lantai 4 istana utama


saat ini terdengar suara desahan dan erangan


penuh kenikmatan yang keluar dari mulut dua


insan yang sedang memadu kasih. Sudah satu


jam lamanya mereka bergumul panas dengan


bermandikan peluh dan keringat.


Pagi ini entah ada angin apa tiba-tiba saja


Kiran bertindak agresif dengan melucuti


pakaian Agra. Dia memberikan sentuhan


dahsyat nya di seluruh tubuh gagah suami


nya dengan penuh gairah dan gelora hasrat


hingga membuat Agra seakan menggila.


Kenikmatan yang di rasakannya benar-benar


tiada batas hingga Agra mengerang nikmat


membisikkan dan memuja nama istrinya


itu di tengah-tengah desahannya.


Ada dorongan hasrat dan keinginan aneh


yang membuat Kiran seakan tidak ada lelah


nya menciptakan sensasi kenikmatan baru


untuk aktifitas bercinta mereka.


"Kau mulai nakal ya sayang...!"


Tidak tahan dengan serbuan gairahnya Agra


segera membalikan posisi, menindih dan


menguasai tubuh istrinya itu. Dia berusaha


menikmati tubuh indah istrinya itu dengan


selembut dan sehalus mungkin mengingat


kondisinya saat ini yang masih sangat rawan.


Namun lama kelamaan keliarannya tidak bisa


di kendalikan lagi. Dia kembali mengeksplor


tubuh istrinya itu dengan cara yang buas


membuat Kiran menjerit dan merintih tidak


tahan dengan segala kenikmatan yang kini


di rasakannya.


"Aakkhh... sayaang...kau bisa membuat


tubuhku remuk kalau begini aakhh.."


Kiran merengek sambil memukuli lengan


kokoh Agra saat pria perkasa itu membawa


tubuh lelahnya ke atas pangkuan. Aksinya


kembali berlanjut dengan lebih ganas lagi.


Satu jam kemudian kegiatan panas mereka


akhirnya selesai, keduanya terkulai lemas


saling memeluk dan mencoba menetralkan


pernapasan yang masih berkejaran. Kiran


menatap lembut wajah tampan Agra yang


terlihat masih di penuhi oleh keringat.


Namun hal itu justru membuat dia tambah


seksi dan menggoda.


"Kamu benar-benar ganas sayang.. Kalau


nanti aku tidak bisa berjalan bagaimana.?"


Keluh Kiran sambil mengusap lembut


keringat yang membanjiri dahi tegas Agra.


"Aku akan menggendong mu sayang..!"


"Kau memang menyebalkan..! sudah tahu


kondisi ku seperti ini masih saja bermain liar..!"


"Kau sendiri yang sudah memancing ku..!


Siapa yang tahan dengan sentuhan dahsyat


mu itu, kau membuatku menggila sayang..!"


Kiran mengerucutkan bibir kesal membuat


Agra menyambar dan ******* nya kuat.


Kiran langsung mendorong dada Agra kesal


dan beberapa saat kemudian dia menutup


mulutnya, wajahnya terlihat tidak nyaman.


"Ada apa sayang.. apa kau mual lagi.?"


Agra bangkit dengan cepat lalu mengangkat


tubuh Kiran yang kelihatannya sudah tidak


bisa menahan gejolak di dalam perutnya.


Begitu sampai di wastafel dia langsung


mengeluarkan semua isi perutnya bahkan


sebagian menyembur dan menyiram tubuh


polos Agra. Dengan sabar dan telaten Agra


membantu Kiran menyelesaikan semua


rasa rasa tidak nyaman yang menyiksanya


hingga membuat wajah Kiran memucat.


Setelah merasa lebih baik Agra membawa


tubuh Kiran untuk berendam di bak whirpool


agar bisa mengembalikan kebugarannya.


Tubuh Kiran di letakkan di atas pangkuannya


berusaha memberikan kenyamanan dan


ketenangan bathin. Keduanya memejamkan


mata mencoba menikmati sensasi hangat


dan nyaman yang keluar dari bak rendam


modern full teknologi canggih itu.


Satu jam kemudian...


Kondisi Kiran kini mulai stabil, namun dia


masih berbaring di atas tempat tidur karena


seluruh tulang dan persendian nya terasa


sedikit linu dan lemas akibat aktifitas intim


mereka tadi yang berlebihan.


"Kau mau sarapan apa sayang..? Aku akan


menyuruh Tata membawakan nya..!"


Kiran membuka mata, menatap tenang wajah


Agra yang kini duduk di pinggir tempat tidur


seraya merapikan anak rambut yang menutupi


sebagian wajah cantik nya.


"Aku ingin sarapan roti panggang buatanmu.!"


Wajah Agra langsung tergugu, bengong tak


percaya. Kiran menatap penuh permohonan.


"Apa kau bisa membuatkan nya untukku.?"


Rajuk Kiran dengan mata berkaca-kaca


penuh pengharapan. Agra masih terdiam,


menatap kuat wajah Kiran yang kini sudah


mulai terlihat sedih dan kecewa.


"Apa yang tidak bisa aku lakukan untuk mu


sayang.. apalagi ini urusan perut..!"


Kiran memekik pelan saat Agra mengangkat


tubuhnya kemudian melangkah keluar dari


dalam kamar.


"Kita mau kemana sayang..?"


"Aku akan membuatkan sarapan spesial


untuk mu..! kau akan tahu sendiri nanti. !"


"Baiklah..rasanya aku tidak sabar ingin


segera mencicipi makanan buatanmu..!"


Agra masuk ke dalam lift. Begitu sampai di


ruang bawah suasana langsung berubah


horor saat Agra tiba-tiba membagi perintah


pada semua pelayan untuk segera menyiapkan


segala keperluan. Untuk sesaat pak Hans


dan para pelayan tampak bengong saat


melihat Agra memakai apron di tubuh


tinggi tegap nya.


"Tu-Tuan..apa yang anda lakukan..? biarkan


kami yang akan menyiapkan semua nya..!"


Pak Hans dan Tata tampak gugup sekaligus


bingung melihat apa yang di lakukan oleh


Tuan nya itu.


"Hans..Tata.. siapkan saja semua bahan roti


panggang dan jus mangga muda..!"


Pak Hans dan Tata saling pandang bengong.


"Tapi Tuan.. apakah anda sendiri yang akan..."


"Pak Hans, Tata.. turuti saja perintah nya. Saya


yang menginginkan nya.!"


Kiran menyela sambil duduk santai di pantry


menatap tenang kearah sang suami yang


saat ini sedang sibuk memilih bahan di dalam


lemari pendingin.


"Baik Nona kalau begitu.."


Pak Hans segera memberikan instruksi pada


para pelayan yang kini mulai bergerak dengan


gugup dan tegang namun juga di liputi rasa


tidak percaya karena Tuan Muda berharga


mereka mau turun langsung ke dapur untuk


membuatkan sarapan pagi bagi sang bidadari.


Kiran tersenyum manis memperhatikan sang


pujaan hati yang kini sedang berkutat dengan


kegiatan luar biasanya. Kiran merebahkan


kepalanya di atas meja dengan senyum


yang tiada henti terbit di bibir indahnya.


"Sayaang.. cepat sedikit..aku sudah sangat


laparr...!"


Rengek Kiran sambil perlahan memejamkan


matanya karena rasa kantuk kembali datang


menderanya. Dia benar-benar lelah saat ini..


**********


 


TBC.....