
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Zack membuka lebar kaca mobilnya dengan
tatapan tetap lurus ke depan, sontak saja para
penjaga berseragam khusus tersebut langsung
membungkuk kearah jok belakang. Dan penjaga
lain yang ada di sekitar gerbang pun serempak
membungkuk dalam di semua jalur. Gerbang
otomatis terbuka, Zack melajukan kembali
mobil nya masuk ke dalam lingkungan istana.
Kiran terpaku melihat bagaimana indah dan unik
nya bangunan istana Hiroki ini. Istana ini terdiri
dari beberapa bangunan yang tersebar dengan
susunan yang teratur mengusung konsep etnik
modern. Sebagian besar adalah murni bangunan
tradisional yang sangat indah dan memukau
terbuat dari kayu berkualitas tinggi.
Di semua sudut bangunan terdapat taman kecil
yang selalu mengutamakan unsur semesta
berupa air, tanaman dan bebatuan. Dan ada
banyak pohon bunga sakura, hampir di setiap
taman.Saat ini pohon bunga itu sedang sangat
mekar hingga menambah keindahan istana ini.
Kiran berdecak kagum melihat indahnya istana
milik mertuanya ini. Di setiap sudut tempat ada
penjagaan yang sangat ketat. Mobil yang dibawa
Zack masuk ke halaman utama di bagian depan
istana ini yang berupa bangunan modern yang
merupakan ruang penerimaan tamu. Di istana
ini setiap bangunan memiliki fungsi dan ruang
tersendiri yang terpisah, dari mulai ruang tamu,
bilik tidur, ruang keluarga, ruang makan, dapur,
sampai dengan ruang pertemuan, laboratorium,
sasana latihan, perpustakaan serta bilik para
pelayan dan pekerja. Semuanya terpisah dan
tersusun dengan sangat sempurna.
Kiran menarik napas panjang, jantungnya tiba-
tiba saja berdegub kencang, hatinya tidak enak.
Ada perasaan tidak nyaman yang sangat nyata.
Agra menggengam tangan Kiran, keduanya kini
saling menatap kuat, mata indah Kiran dengan
tatapan sendunya membuat hati Agra meleleh.
"Ayo turun.. semuanya akan baik-baik saja..!"
Ucap Agra sambil kemudian mengecup lembut
bibir Kiran. Akhirnya mereka berdua keluar dari
mobil, menegakkan badan di depan mobil. Ada
beberapa mobil mewah yang sudah terparkir
tapi di halaman depan tersebut. Agra tampak
menautkan alisnya, wajahnya tiba-tiba berubah
menjadi sedingin salju. Tapi Kiran tidak begitu
memperhatikan, mengingat dirinyapun saat ini
sedang dalam keadaan resah bin gelisah.
"Hoshi sama.. selamat datang..!"
Sambut beberapa pelayan dengan seragam
khusus pakaian tradisional negara ini. Mereka
semua membungkuk rendah di hadapan Agra
dan Kiran. Untuk sesaat tadi mereka terlihat
terkesima melihat kemunculan pasangan itu.
Ada seorang laki-laki muda dengan postur
tubuh tinggi tegap dengan wajah yang sangat
tegas mendatangi mereka, dan tanpa basa-
basi langsung berangkulan dengan Agra.
"Hoshi..apa kabar..?"
"Hemm.. seperti yang kau lihat..!"
Pria muda tadi kini berpaling pada Kiran, lalu
membungkuk hormat dengan tersenyum manis
kearah Kiran yang membalasnya dengan cara
sama. Agra tampak tidak suka melihat nya.
"Kakak ipar.. selamat datang..!"
Sambutnya membuat Kiran melirik kearah Agra
yang terlihat datar saja, pandangan nya lurus ke
depan kearah pintu masuk.
"Dia Ryuzen..adik sepupu ku..!"
Jelas Agra menjawab lirikan Kiran yang kini
kembali berpaling kearah pria tadi atau Ryuzen.
"Terimakasih Ryu.. sambutannya..!"
"Tidak perlu basa-basi dengannya..!"
Debat Agra sambil menggengam tangan Kiran kemudian menariknya untuk mulai berjalan. Ryu
hanya bisa menggeleng mengangkat bahunya
lalu melangkah bersama dengan Bara dan Zack
mengikuti langkah Agra.
Tidak lama mereka sudah masuk di pintu utama
dimana di wajibkan untuk melepas sepatu di sana
kemudian menggantinya dengan sandal khusus
yang sudah tersedia. Semua hal di lakukan oleh
para pelayan yang ada di setiap ruangan dengan
tugasnya masing-masing. Para pelayan itu
melepas dan memakaikan kembali sandal
pengganti pada Agra dan Kiran yang hanya bisa tertegun saja melihat semua pelayanan ini.
Dengan langkah pasti Agra kembali menggandeng Kiran di bawa berjalan masuk ke dalam ruangan, walaupun bangunan nya modern, namun konsep
nya tetap lah etnik. Beberapa pelayan yang berjaga
di depan ruang tamu langsung membungkuk
rendah kearah kedatangan Agra dan Kiran.
"Paman menunggu kalian di ruang utama.."
Ryu berkata dengan sedikit bergetar, Agra hanya
bisa mengetatkan rahangnya, pegangan tangan
nya terhadap Kiran semakin kuat.
"Tuan Besar.. Hiroshi sudah tiba.."
Lapor Ryu di depan pintu geser atau yang biasa
di sebut fusuma. Tidak ada sahutan dari dalam
ruangan menandakan tamu di persilahkan untuk
masuk ke dalam. Dua pelayan menggeser pintu
dan kembali ke posisi. Jantung Kiran saat ini
serasa berhenti berdetak ketika melihat di
ruang pertemuan tersebut sudah ada 5 orang
sosok yang tengah duduk seiza di atas tatami
menghadap sebuah meja panjang.
Ada seorang pria paruh baya dengan pakaian
khas negara itu. Garis wajah nya terlihat sangat
tegas cenderung keras, tatapannya sangat tajam
mengarah langsung kearah Kiran hingga rasa
nya langsung melukai jantungnya, dialah Tuan
Takayama Hasimoto.
Lalu di samping kanannya ada seorang wanita
paruh baya dengan mata yang bercahaya dan
tatapan sendu penuh kerinduan terhadap mereka.
Wanita ini walaupun sudah berumur tapi masih
terlihat sangat cantik dan memukau. Dialah ibu
kandung Agra, Nyonya Arinda Natakusuma atau
sekarang di kenal sebagai Nyonya Yuriko..
Dan yang membuat perasaan Kiran tidak nyaman
adalah keberadaan 3 orang lainnya. Seorang pria
paruh baya dengan tampang bule yang kental,
lalu seorang wanita paruh baya dengan tampilan elegan dan berkelas, terlihat masih cantik terawat. Terakhir adalah keberadaan seorang wanita super cantik dengan gaya pakaian dan hiasan yang
serba glamor dan waahh.. Mikhayla Alexandria..
Ya..wanita itu saat ini ada di ruangan tersebut bersama dengan kedua orang tuanya.
Agra menarik Kiran untuk masuk lalu berdiri di
hadapan Tuan Hasimoto, membungkuk rendah
berbarengan. Kemudian beralih kepada Nyonya
Yuriko yang sedang menatap lekat wajah Kiran,
keduanya kembali membungkuk dalam. Lalu
mereka berpaling kepada tiga orang di depan
nya yang sedang menatap tajam ke arah mereka,
keduanya kembali membungkuk sedikit.
"Hoshi.. bagaimana kabarmu sayang..!"
Nyonya Yuriko berdiri, merangkul Agra, memeluk
nya erat. Air matanya jatuh tidak tertahan. Cukup
lama dia dalam posisi seperti itu. Tidak ada kata
yang terucap dari bibir Agra. Kiran hanya bisa
melihat interaksi intim antara ibu dan anak itu.
"Ehemm..Yuri.. hormati tamu kita..!"
Tegur Tuan Hasimoto dengan suara bariton nya
sambil melirik kearah Mikhayla dan orang tua
nya yang saat ini terlihat masih memperhatikan
Kiran yang menunduk. Nyonya Yuri melepaskan
pelukannya, menatap tenang ke arah Kiran.
Mereka pun duduk bersama. Tuan Hasimoto
ada di posisi tunggal. Sementara Agra sejajar
dengan ibunya dan Kiran berhadapan langsung
dengan Mikhayla dan keluarganya.
"Apa kabar Tuan Agra..?"
Tuan Wilson, ayahnya Mikhayla membuka
suara dengan ekspresi datar dan tenang.
"Seperti yang anda lihat Tuan Wilson..semua
nya masih dalam kendali.!"
Sahut Agra dengan suara tegas. Tangan kirinya
tiada lepas menggengam tangan Kiran yang
menunduk diam. Tuan Wilson tersenyum tipis.
Mikhayla menatap wajah Kiran dengan sorot
mata yang sangat rumit, namun jelas sekali
ada kobaran api kecemburuan yang besar.
"Apa anda bahagia dengan posisimu sebagai
Nona muda Hadiningrat Nona Sashikirana..?"
Tanya Mikhayla dengan tatapan tajam nya.
Kiran mengangkat wajahnya, menatap tenang
wajah Mikhayla yang memerah. Dia tersenyum
lembut kearah wanita itu.
"Semua hal baik patut di syukuri, Alhamdulillah
saat ini saya sangat bahagia Nona Mikhayla.."
Jawabnya dengan suara yang sangat lembut
dan mantap. Nyonya Wilson tampak menatap
tidak suka kearah Kiran.
"Apa anda tidak tahu kalau sebelum pernikahan
kalian terjadi, Tuan Agra dan Mikhayla sudah
berencana bertunangan Nona Kiran..?"
Kiran berpaling pada Nyonya Wilson, kembali
tersenyum lembut seraya menunduk sedikit.
pertunangan, sebelumnya bahkan saya tidak
menduga pernikahan kami akan terjadi..!"
"Apa..? aneh..bagaimana pernikahan kalian bisa
terjadi kalau tidak saling mengenal sama sekali.!"
"Aku yang sudah mengenalnya. Dia adalah
wanita yang selama ini aku cari..!"
Potong Agra sambil meminum teh hijau yang
sudah tersuguh di hadapannya dengan gaya
yang sangat elegan dan berkelas. Tuan Besar
langsung menghentak meja dengan tinjunya
dengan tatapan tajam kearah Agra dan Kiran.
"Kau boleh meneruskan pernikahan mu dengan
wanita taman itu. ! tapi pernikahanmu dengan
Mikhayla akan tetap di langsungkan..!"
Deg !
Jantung Kiran seakan tertumbuk benda keras.
Dadanya terasa sesak, tubuhnya lemas seketika.
Pegangan tangan Agra kini semakin kuat. Dia berusaha untuk tetap tenang, menatap balik
sang Ayah yang terlihat sangat dingin.
"Maaf..! tapi aku tidak bisa menerimanya.
Aku tidak bisa menduakan istriku.!"
"Hoshi..! ini menyangkut kehormatan keluarga
besar kita, aku tidak bisa mengingkari janjiku..!"
Sentak Tuan Hasimoto dengan tatapan mata
yang menyala penuh amarah. Agra masih tetap
tenang, tidak terprovokasi oleh kemarahan
ayah nya. Dia menggengam kuat kedua tangan
Kiran di bawa ke dadanya.
"Dari awal aku sudah menegaskan bahwa aku
tidak bisa menerima perjodohan ini..!"
"Hiroshi Hasimoto..! hanya karena wanita itu
kamu berani menentang semua peraturan yang
telah dibuat oleh keluarga dan leluhurmu..! "
Tuan Hasimoto menunjuk Kiran dengan gema
suara yang menggetarkan lutut semua orang
kecuali Agra sendiri. Air mata Kiran kini tidak
tertahan lagi, mulai berjatuhan membasahi
wajahnya yang memerah, sekuat tenaga dia
menahan tangisnya supaya tidak pecah.
"Aku tidak menentangnya.! aku hanya tidak
bisa menerimanya.!"
Tatapan mata Tuan Hasimoto tampak semakin
berkilat murka menghujam kearah Kiran yang
tertunduk memejamkan mata.
"Turuti perintahku.! maka kau masih bisa
bersama dengan wanita itu.! tapi kalau tidak,
jangan harap semuanya berjalan sesuai dengan
harapanmu..!"
Ancam Tuan Hasimoto dengan arogansinya.
Rahang Agra mengeras, wajahnya terlihat sudah
sangat dingin. Dia menarik tubuh Kiran kedalam dekapannya. Semua orang terdiam tegang
melihat perseteruan ayah dan anak tersebut.
"Aku membawanya kesini untuk bertemu secara baik-baik dengan kalian. Jadi jangan coba-coba mengancam keselamatan nya, karena aku tidak
akan membiarkan hal buruk apapun terjadi
padanya..!"
"Hoshi..! kau sudah melewati batas !!"
"Kau tidak bisa memaksakan kehendak mu
padaku..! aku sudah bukan Hoshi yang dulu
lagi.! aku mencintai nya melebihi nyawaku
sendiri !"
"Dari dulu wanita itu sudah membuatmu gila
dan menentang diriku.!"
"Dia tidak ada hubungannya dengan semua
sikapku.! aku hanya muak dengan segala
peraturan mu yang tidak masuk akal..!"
"Aku tegaskan sekali lagi, patuhi perintahku.!"
"Dan aku tetap di jalanku..!"
"Agra..! Sudah cukup..!"
Kiran tidak tahan lagi, dia menarik tubuh nya
dari rengkuhan Agra yang terkejut, semua orang
juga terkejut. Mata Kiran yang kini di penuhi
air mata bertemu dengan mata panas Agra.
"Agra..aku mohon..patuhilah perintah Ayahmu !
Aku akan menerima semuanya dengan ikhlas.
Kau tidak bisa terus menerus bersebrangan
dengan nya..!"
Lirih Kiran dengan isak tangis yang sudah tidak
bisa lagi di bendungnya. Tuan Hasimoto dan
Nyonya Yuri yang juga sudah menangis dari
tadi tampak menatap tajam kearah Kiran.
Sedang Mikhayla dan keluarganya terlihat
saling pandang dalam diam.
"Aku tidak bisa Kiran..! aku tidak bisa berkhianat
pada cintaku.! itu tidak akan pernah terjadi.!"
"Dia adalah ayahmu..! restunya akan menjadi
kekuatan untuk hubungan kita !"
"Tidak Kiran..! Dan kalian semua....!"
Agra menjeda ucapannya, menatap tajam
kearah Mikhayla dan keluarga nya yang
menunduk tegang.
"Berhenti mengharapkan ku..! karena aku
tidak akan pernah berubah pikiran..!"
Tegas Agra sambil kemudian berdiri, menarik
kasar tangan Kiran di bawa pergi dari ruangan
itu yang kini menyisakan hening yang mencekam.
------ ------
Kiran mendekat kearah Agra yang sedang berdiri
melipat kedua tangan di dadanya, matanya lurus
ke depan menembus taman yang berada di bagian
belakang bilik tempat tidur nya yang berukuran
luas dan sejuk karena di kelilingi oleh taman dan
kolam air mancur.
Perlahan Kiran memeluk tubuh tegap suaminya
itu dari belakang. Merebahkan kepalanya di
punggung kokohnya. Agra saat ini masih dalam
mode emosi jiwa.
"Sayang.. maafkan aku karena sudah membuat
suasana tambah rumit. Aku hanya ingin yang
terbaik untuk keluarga ini. Kalau keihklasan ku
bisa membuat semuanya menjadi lebih baik
maka aku akan merelakan semuanya..!"
Lirih Kiran dengan suara pelan menekan segala
gejolak perasaan yang campur aduk.
"Tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hati
dan pikiranku untuk menduakan mu Kiran..!"
Agra terdengar menyahut dengan suara yang
sangat dingin. Kiran semakin mempererat
pelukannya, memejamkan mata.
"Aku tahu..tapi tidak semua hal bisa berjalan
sesuai dengan harapan dan keinginan kita.."
Kiran tersentak ketika Agra membalikan badan
dan menarik pinggang ramping nya ke dalam
belitan tangannya yang kuat hingga membuat
dia meringis kesakitan.
"Kenapa kau malah mengumpankan dirimu
pada rencana jahat pria itu Kiran.! dia akan
melakukan apapun untuk menyakitimu..!"
Geram Agra dengan tatapan mata menyala
di penuhi kemarahan yang masih saja ada.
Kiran menggeleng kuat, membalas tatapan
Agra dengan sorot mata yang entah kenapa
ada suatu keyakinan dalam hatinya bahwa
semua hal yang terlihat dari luar belum
tentu sama persis dengan isinya.
"Demi Tuhan..aku tidak pernah menginginkan
semua ini. Aku ingin memiliki dirimu seutuh
nya hanya untukku saja Agra..!"
"Lalu kenapa kamu melakukan semua ini..?"
"Kalau pengorbananku bisa membuat ayahmu
bisa menerimaku sebagai menantunya, maka
walaupun berat..itu akan aku lakukan..!"
Prang !
Keduanya tersentak ketika terdengar suara
benda jatuh ke lantai. Mereka melirik cepat
kearah suara, mata mereka bersirobos tatap
dengan sepasang mata sendu yang sudah
berurai air mata.
"Okaa-san..."
Desis Agra melepaskan belitan tangannya di
pinggang Kiran. Wanita paruh baya itu berdiri
di tengah ruangan kamarnya. Nampan yang
tadi di bawanya kini jatuh di lantai dalam
keadaan hancur berkeping-keping. Beberapa
pelayan masuk ke dalam kamar dengan wajah
cemas melihat Nyonya mereka takut terluka.
Kiran segera menghampiri Nyonya Yuriko.
"Ibu tidak apa-apa..? tidak terluka kan..?"
Tanya Kiran sambil kemudian membimbing
ibu mertuanya itu di dudukkan di kursi yang
ada di sudut kamar dekat jendela besar. Dia
segera memeriksa keadaan Nyonya Yuriko
yang semakin tidak bisa menahan tangisnya,
dengan cepat dia merengkuh tubuh Kiran ke
dalam dekapannya, memeluknya erat.
Kiran membeku di tempat di mana saat ini
dia sedang berlutut di depan ibu mertuanya
itu. Air matanya kembali luruh, dengan sedikit
gemetar dia membalas pelukan Nyonya Yuri.
Keduanya saling berpelukan erat di tengah
tangis haru campur pilu.
Agra hanya bisa mematung melihat interaksi
tak terduga dari kedua wanita yang memiliki
peran penting dalam hidupnya itu..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....