Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
57. Istana Hiroki


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Zack membuka lebar kaca mobilnya dengan


tatapan tetap lurus ke depan, sontak saja para


penjaga berseragam khusus tersebut langsung


membungkuk kearah jok belakang. Dan penjaga


lain yang ada di sekitar gerbang pun serempak


membungkuk dalam di semua jalur. Gerbang


otomatis terbuka, Zack melajukan kembali


mobil nya masuk ke dalam lingkungan istana.


Kiran terpaku melihat bagaimana indah dan unik


nya bangunan istana Hiroki ini. Istana ini terdiri


dari beberapa bangunan yang tersebar dengan


susunan yang teratur mengusung konsep etnik


modern. Sebagian besar adalah murni bangunan


tradisional yang sangat indah dan memukau


terbuat dari kayu berkualitas tinggi.


Di semua sudut bangunan terdapat taman kecil


yang selalu mengutamakan unsur semesta


berupa air, tanaman dan bebatuan. Dan ada


banyak pohon bunga sakura, hampir di setiap


taman.Saat ini pohon bunga itu sedang sangat


mekar hingga menambah keindahan istana ini.


Kiran berdecak kagum melihat indahnya istana


milik mertuanya ini. Di setiap sudut tempat ada


penjagaan yang sangat ketat. Mobil yang dibawa


Zack masuk ke halaman utama di bagian depan


istana ini yang berupa bangunan modern yang


merupakan ruang penerimaan tamu. Di istana


ini setiap bangunan memiliki fungsi dan ruang


tersendiri yang terpisah, dari mulai ruang tamu,


bilik tidur, ruang keluarga, ruang makan, dapur,


sampai dengan ruang pertemuan, laboratorium,


sasana latihan, perpustakaan serta bilik para


pelayan dan pekerja. Semuanya terpisah dan


tersusun dengan sangat sempurna.


Kiran menarik napas panjang, jantungnya tiba-


tiba saja berdegub kencang, hatinya tidak enak.


Ada perasaan tidak nyaman yang sangat nyata.


Agra menggengam tangan Kiran, keduanya kini


saling menatap kuat, mata indah Kiran dengan


tatapan sendunya membuat hati Agra meleleh.


"Ayo turun.. semuanya akan baik-baik saja..!"


Ucap Agra sambil kemudian mengecup lembut


bibir Kiran. Akhirnya mereka berdua keluar dari


mobil, menegakkan badan di depan mobil. Ada


beberapa mobil mewah yang sudah terparkir


tapi di halaman depan tersebut. Agra tampak


menautkan alisnya, wajahnya tiba-tiba berubah


menjadi sedingin salju. Tapi Kiran tidak begitu


memperhatikan, mengingat dirinyapun saat ini


sedang dalam keadaan resah bin gelisah.


"Hoshi sama.. selamat datang..!"


Sambut beberapa pelayan dengan seragam


khusus pakaian tradisional negara ini. Mereka


semua membungkuk rendah di hadapan Agra


dan Kiran. Untuk sesaat tadi mereka terlihat


terkesima melihat kemunculan pasangan itu.


Ada seorang laki-laki muda dengan postur


tubuh tinggi tegap dengan wajah yang sangat


tegas mendatangi mereka, dan tanpa basa-


basi langsung berangkulan dengan Agra.


"Hoshi..apa kabar..?"


"Hemm.. seperti yang kau lihat..!"


Pria muda tadi kini berpaling pada Kiran, lalu


membungkuk hormat dengan tersenyum manis


kearah Kiran yang membalasnya dengan cara


sama. Agra tampak tidak suka melihat nya.


"Kakak ipar.. selamat datang..!"


Sambutnya membuat Kiran melirik kearah Agra


yang terlihat datar saja, pandangan nya lurus ke


depan kearah pintu masuk.


"Dia Ryuzen..adik sepupu ku..!"


Jelas Agra menjawab lirikan Kiran yang kini


kembali berpaling kearah pria tadi atau Ryuzen.


"Terimakasih Ryu.. sambutannya..!"


"Tidak perlu basa-basi dengannya..!"


Debat Agra sambil menggengam tangan Kiran kemudian menariknya untuk mulai berjalan. Ryu


hanya bisa menggeleng mengangkat bahunya


lalu melangkah bersama dengan Bara dan Zack


mengikuti langkah Agra.


Tidak lama mereka sudah masuk di pintu utama


dimana di wajibkan untuk melepas sepatu di sana


kemudian menggantinya dengan sandal khusus


yang sudah tersedia. Semua hal di lakukan oleh


para pelayan yang ada di setiap ruangan dengan


tugasnya masing-masing. Para pelayan itu


melepas dan memakaikan kembali sandal


pengganti pada Agra dan Kiran yang hanya bisa tertegun saja melihat semua pelayanan ini.


Dengan langkah pasti Agra kembali menggandeng Kiran di bawa berjalan masuk ke dalam ruangan, walaupun bangunan nya modern, namun konsep


nya tetap lah etnik. Beberapa pelayan yang berjaga


di depan ruang tamu langsung membungkuk


rendah kearah kedatangan Agra dan Kiran.


"Paman menunggu kalian di ruang utama.."


Ryu berkata dengan sedikit bergetar, Agra hanya


bisa mengetatkan rahangnya, pegangan tangan


nya terhadap Kiran semakin kuat.


"Tuan Besar.. Hiroshi sudah tiba.."


Lapor Ryu di depan pintu geser atau yang biasa


di sebut fusuma. Tidak ada sahutan dari dalam


ruangan menandakan tamu di persilahkan untuk


masuk ke dalam. Dua pelayan menggeser pintu


dan kembali ke posisi. Jantung Kiran saat ini


serasa berhenti berdetak ketika melihat di


ruang pertemuan tersebut sudah ada 5 orang


sosok yang tengah duduk seiza di atas tatami


menghadap sebuah meja panjang.


Ada seorang pria paruh baya dengan pakaian


khas negara itu. Garis wajah nya terlihat sangat


tegas cenderung keras, tatapannya sangat tajam


mengarah langsung kearah Kiran hingga rasa


nya langsung melukai jantungnya, dialah Tuan


Takayama Hasimoto.


Lalu di samping kanannya ada seorang wanita


paruh baya dengan mata yang bercahaya dan


tatapan sendu penuh kerinduan terhadap mereka.


Wanita ini walaupun sudah berumur tapi masih


terlihat sangat cantik dan memukau. Dialah ibu


kandung Agra, Nyonya Arinda Natakusuma atau


sekarang di kenal sebagai Nyonya Yuriko..


Dan yang membuat perasaan Kiran tidak nyaman


adalah keberadaan 3 orang lainnya. Seorang pria


paruh baya dengan tampang bule yang kental,


lalu seorang wanita paruh baya dengan tampilan elegan dan berkelas, terlihat masih cantik terawat. Terakhir adalah keberadaan seorang wanita super cantik dengan gaya pakaian dan hiasan yang


serba glamor dan waahh.. Mikhayla Alexandria..


Ya..wanita itu saat ini ada di ruangan tersebut bersama dengan kedua orang tuanya.


Agra menarik Kiran untuk masuk lalu berdiri di


hadapan Tuan Hasimoto, membungkuk rendah


berbarengan. Kemudian beralih kepada Nyonya


Yuriko yang sedang menatap lekat wajah Kiran,


keduanya kembali membungkuk dalam. Lalu


mereka berpaling kepada tiga orang di depan


nya yang sedang menatap tajam ke arah mereka,


keduanya kembali membungkuk sedikit.


"Hoshi.. bagaimana kabarmu sayang..!"


Nyonya Yuriko berdiri, merangkul Agra, memeluk


nya erat. Air matanya jatuh tidak tertahan. Cukup


lama dia dalam posisi seperti itu. Tidak ada kata


yang terucap dari bibir Agra. Kiran hanya bisa


melihat interaksi intim antara ibu dan anak itu.


"Ehemm..Yuri.. hormati tamu kita..!"


Tegur Tuan Hasimoto dengan suara bariton nya


sambil melirik kearah Mikhayla dan orang tua


nya yang saat ini terlihat masih memperhatikan


Kiran yang menunduk. Nyonya Yuri melepaskan


pelukannya, menatap tenang ke arah Kiran.


Mereka pun duduk bersama. Tuan Hasimoto


ada di posisi tunggal. Sementara Agra sejajar


dengan ibunya dan Kiran berhadapan langsung


dengan Mikhayla dan keluarganya.


"Apa kabar Tuan Agra..?"


Tuan Wilson, ayahnya Mikhayla membuka


suara dengan ekspresi datar dan tenang.


"Seperti yang anda lihat Tuan Wilson..semua


nya masih dalam kendali.!"


Sahut Agra dengan suara tegas. Tangan kirinya


tiada lepas menggengam tangan Kiran yang


menunduk diam. Tuan Wilson tersenyum tipis.


Mikhayla menatap wajah Kiran dengan sorot


mata yang sangat rumit, namun jelas sekali


ada kobaran api kecemburuan yang besar.


"Apa anda bahagia dengan posisimu sebagai


Nona muda Hadiningrat Nona Sashikirana..?"


Tanya Mikhayla dengan tatapan tajam nya.


Kiran mengangkat wajahnya, menatap tenang


wajah Mikhayla yang memerah. Dia tersenyum


lembut kearah wanita itu.


"Semua hal baik patut di syukuri, Alhamdulillah


saat ini saya sangat bahagia Nona Mikhayla.."


Jawabnya dengan suara yang sangat lembut


dan mantap. Nyonya Wilson tampak menatap


tidak suka kearah Kiran.


"Apa anda tidak tahu kalau sebelum pernikahan


kalian terjadi, Tuan Agra dan Mikhayla sudah


berencana bertunangan Nona Kiran..?"


Kiran berpaling pada Nyonya Wilson, kembali


tersenyum lembut seraya menunduk sedikit.


pertunangan, sebelumnya bahkan saya tidak


menduga pernikahan kami akan terjadi..!"


"Apa..? aneh..bagaimana pernikahan kalian bisa


terjadi kalau tidak saling mengenal sama sekali.!"


"Aku yang sudah mengenalnya. Dia adalah


wanita yang selama ini aku cari..!"


Potong Agra sambil meminum teh hijau yang


sudah tersuguh di hadapannya dengan gaya


yang sangat elegan dan berkelas. Tuan Besar


langsung menghentak meja dengan tinjunya


dengan tatapan tajam kearah Agra dan Kiran.


"Kau boleh meneruskan pernikahan mu dengan


wanita taman itu. ! tapi pernikahanmu dengan


Mikhayla akan tetap di langsungkan..!"


Deg !


Jantung Kiran seakan tertumbuk benda keras.


Dadanya terasa sesak, tubuhnya lemas seketika.


Pegangan tangan Agra kini semakin kuat. Dia berusaha untuk tetap tenang, menatap balik


sang Ayah yang terlihat sangat dingin.


"Maaf..! tapi aku tidak bisa menerimanya.


Aku tidak bisa menduakan istriku.!"


"Hoshi..! ini menyangkut kehormatan keluarga


besar kita, aku tidak bisa mengingkari janjiku..!"


Sentak Tuan Hasimoto dengan tatapan mata


yang menyala penuh amarah. Agra masih tetap


tenang, tidak terprovokasi oleh kemarahan


ayah nya. Dia menggengam kuat kedua tangan


Kiran di bawa ke dadanya.


"Dari awal aku sudah menegaskan bahwa aku


tidak bisa menerima perjodohan ini..!"


"Hiroshi Hasimoto..! hanya karena wanita itu


kamu berani menentang semua peraturan yang


telah dibuat oleh keluarga dan leluhurmu..! "


Tuan Hasimoto menunjuk Kiran dengan gema


suara yang menggetarkan lutut semua orang


kecuali Agra sendiri. Air mata Kiran kini tidak


tertahan lagi, mulai berjatuhan membasahi


wajahnya yang memerah, sekuat tenaga dia


menahan tangisnya supaya tidak pecah.


"Aku tidak menentangnya.! aku hanya tidak


bisa menerimanya.!"


Tatapan mata Tuan Hasimoto tampak semakin


berkilat murka menghujam kearah Kiran yang


tertunduk memejamkan mata.


"Turuti perintahku.! maka kau masih bisa


bersama dengan wanita itu.! tapi kalau tidak,


jangan harap semuanya berjalan sesuai dengan


harapanmu..!"


Ancam Tuan Hasimoto dengan arogansinya.


Rahang Agra mengeras, wajahnya terlihat sudah


sangat dingin. Dia menarik tubuh Kiran kedalam dekapannya. Semua orang terdiam tegang


melihat perseteruan ayah dan anak tersebut.


"Aku membawanya kesini untuk bertemu secara baik-baik dengan kalian. Jadi jangan coba-coba mengancam keselamatan nya, karena aku tidak


akan membiarkan hal buruk apapun terjadi


padanya..!"


"Hoshi..! kau sudah melewati batas !!"


"Kau tidak bisa memaksakan kehendak mu


padaku..! aku sudah bukan Hoshi yang dulu


lagi.! aku mencintai nya melebihi nyawaku


sendiri !"


"Dari dulu wanita itu sudah membuatmu gila


dan menentang diriku.!"


"Dia tidak ada hubungannya dengan semua


sikapku.! aku hanya muak dengan segala


peraturan mu yang tidak masuk akal..!"


"Aku tegaskan sekali lagi, patuhi perintahku.!"


"Dan aku tetap di jalanku..!"


"Agra..! Sudah cukup..!"


Kiran tidak tahan lagi, dia menarik tubuh nya


dari rengkuhan Agra yang terkejut, semua orang


juga terkejut. Mata Kiran yang kini di penuhi


air mata bertemu dengan mata panas Agra.


"Agra..aku mohon..patuhilah perintah Ayahmu !


Aku akan menerima semuanya dengan ikhlas.


Kau tidak bisa terus menerus bersebrangan


dengan nya..!"


Lirih Kiran dengan isak tangis yang sudah tidak


bisa lagi di bendungnya. Tuan Hasimoto dan


Nyonya Yuri yang juga sudah menangis dari


tadi tampak menatap tajam kearah Kiran.


Sedang Mikhayla dan keluarganya terlihat


saling pandang dalam diam.


"Aku tidak bisa Kiran..! aku tidak bisa berkhianat


pada cintaku.! itu tidak akan pernah terjadi.!"


"Dia adalah ayahmu..! restunya akan menjadi


kekuatan untuk hubungan kita !"


"Tidak Kiran..! Dan kalian semua....!"


Agra menjeda ucapannya, menatap tajam


kearah Mikhayla dan keluarga nya yang


menunduk tegang.


"Berhenti mengharapkan ku..! karena aku


tidak akan pernah berubah pikiran..!"


Tegas Agra sambil kemudian berdiri, menarik


kasar tangan Kiran di bawa pergi dari ruangan


itu yang kini menyisakan hening yang mencekam.


------ ------


Kiran mendekat kearah Agra yang sedang berdiri


melipat kedua tangan di dadanya, matanya lurus


ke depan menembus taman yang berada di bagian


belakang bilik tempat tidur nya yang berukuran


luas dan sejuk karena di kelilingi oleh taman dan


kolam air mancur.


Perlahan Kiran memeluk tubuh tegap suaminya


itu dari belakang. Merebahkan kepalanya di


punggung kokohnya. Agra saat ini masih dalam


mode emosi jiwa.


"Sayang.. maafkan aku karena sudah membuat


suasana tambah rumit. Aku hanya ingin yang


terbaik untuk keluarga ini. Kalau keihklasan ku


bisa membuat semuanya menjadi lebih baik


maka aku akan merelakan semuanya..!"


Lirih Kiran dengan suara pelan menekan segala


gejolak perasaan yang campur aduk.


"Tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hati


dan pikiranku untuk menduakan mu Kiran..!"


Agra terdengar menyahut dengan suara yang


sangat dingin. Kiran semakin mempererat


pelukannya, memejamkan mata.


"Aku tahu..tapi tidak semua hal bisa berjalan


sesuai dengan harapan dan keinginan kita.."


Kiran tersentak ketika Agra membalikan badan


dan menarik pinggang ramping nya ke dalam


belitan tangannya yang kuat hingga membuat


dia meringis kesakitan.


"Kenapa kau malah mengumpankan dirimu


pada rencana jahat pria itu Kiran.! dia akan


melakukan apapun untuk menyakitimu..!"


Geram Agra dengan tatapan mata menyala


di penuhi kemarahan yang masih saja ada.


Kiran menggeleng kuat, membalas tatapan


Agra dengan sorot mata yang entah kenapa


ada suatu keyakinan dalam hatinya bahwa


semua hal yang terlihat dari luar belum


tentu sama persis dengan isinya.


"Demi Tuhan..aku tidak pernah menginginkan


semua ini. Aku ingin memiliki dirimu seutuh


nya hanya untukku saja Agra..!"


"Lalu kenapa kamu melakukan semua ini..?"


"Kalau pengorbananku bisa membuat ayahmu


bisa menerimaku sebagai menantunya, maka


walaupun berat..itu akan aku lakukan..!"


Prang !


Keduanya tersentak ketika terdengar suara


benda jatuh ke lantai. Mereka melirik cepat


kearah suara, mata mereka bersirobos tatap


dengan sepasang mata sendu yang sudah


berurai air mata.


"Okaa-san..."


Desis Agra melepaskan belitan tangannya di


pinggang Kiran. Wanita paruh baya itu berdiri


di tengah ruangan kamarnya. Nampan yang


tadi di bawanya kini jatuh di lantai dalam


keadaan hancur berkeping-keping. Beberapa


pelayan masuk ke dalam kamar dengan wajah


cemas melihat Nyonya mereka takut terluka.


Kiran segera menghampiri Nyonya Yuriko.


"Ibu tidak apa-apa..? tidak terluka kan..?"


Tanya Kiran sambil kemudian membimbing


ibu mertuanya itu di dudukkan di kursi yang


ada di sudut kamar dekat jendela besar. Dia


segera memeriksa keadaan Nyonya Yuriko


yang semakin tidak bisa menahan tangisnya,


dengan cepat dia merengkuh tubuh Kiran ke


dalam dekapannya, memeluknya erat.


Kiran membeku di tempat di mana saat ini


dia sedang berlutut di depan ibu mertuanya


itu. Air matanya kembali luruh, dengan sedikit


gemetar dia membalas pelukan Nyonya Yuri.


Keduanya saling berpelukan erat di tengah


tangis haru campur pilu.


Agra hanya bisa mematung melihat interaksi


tak terduga dari kedua wanita yang memiliki


peran penting dalam hidupnya itu..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....