Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
23. Serangan Fajar


 


*********


 


Keadaan di luar pondok saat ini sangat genting.


Tepatnya di kawasan utama tempat semua alat


berat di simpan. Tanpa di duga tiba-tiba saja


terjadi serangan brutal dari sekelompok orang


yang bersenjata lengkap. Semua penjaga dan


pekerja yang saat ini sedang beristirahat di


dalam tenda yang di dirikan berhamburan


keluar penuh kepanikan.


Beberapa di antaranya langsung ambruk terkena


tembakan yang di berondongkan oleh kelompok


penyusup tadi. Para penjaga dan pasukan Zack


segera mengambil posisi dengan senjata yang


kini sudah di tangan. Pertempuran sengit pun


kini berlangsung menimbulkan bunyi gemuruh


yang sangat mencekam.


Bunyi tembakan dan ledakan kini mewarnai


suasana di perkebunan yang berubah sangat


mengerikan di penuhi oleh darah dan teriakan.


"Mundur.. selamatkan diri kalian.. cepat..!"


Badar berteriak-teriak memberi arahan pada


para pekerja yang bersembunyi di balik pohon


dengan keadaan panik penuh ketakutan.


Dia tidak henti membalas serangan lawan


sambil mengamankan para pekerja satu per


satu agar bisa berlari menyelamatkan diri.


Agra dan dan Bara yang baru saja kembali dari


patroli wilayahnya terlihat langsung mengambil


posisi di dekat gerbang masuk. Pikiran Agra kini


melayang pada Kiran yang ada di dalam pondok.


Bagaimana sekarang keadaan istrinya itu, dia


pasti sangat ketakutan.


"Shit..! Bara lindungi aku, Kiran ada di dalam aku


akan masuk untuk mengamankan nya.!"


Geram Agra sambil mulai bergerak pelan dengan


tetap waspada dan mengamati situasi.


"Baik Tuan..saya akan menghubungi Zack agar


segera membawa pasukan sapu bersih nya.!"


Sahut Bara sambil mengeluarkan alat komunikasi


khusus dari balik saku kemejanya dengan tetap waspada.


"Suruh Zack untuk memancing mereka agar


berkumpul semua di tempat ini, terutama ikan


besarnya.!"


"Baik Tuan..!"


Bara segera mengirimkan kode khusus ke alat


yang ada di tangannya. Namun tiba-tiba saja


datang serangan kearah mereka dari jalan masuk menuju perkebunan dengan pasukan penyerang


yang baru. Agra mengetatkan rahangnya saat


melihat siapa yang datang untuk memimpin


penyerangan ini.


Edgar tampak berdiri gagah di atas mobil tempur


nya dengan memberondongkan tembakan kearah


area para pekerja perkebunan yang berlarian


panik saat satu tembakan berkaliber besar jatuh menghantam alat berat hingga terbakar seketika


dan menimbulkan bunyi ledakan yang cukup besar.


Agra semakin terbakar amarah saat melihat


banyak para pekerja yang kini sudah tergeletak


tak berdaya dengan luka yang cukup parah.


"Hei..Tuan pengawal.. bagaimana sekarang ?


kau lihat kan akibatnya kalau berani melawan


seorang Edgar ?"


Teriak Edgar dengan suara nya yang membahana.


Agra mengepalkan tinjunya mencoba meredam


amarah yang kini sudah menguasai dirinya.


Rupanya pria licik itu menerapkan taktik serangan


fajar. Baiklah..tidak ada jalan lain, mau tidak mau


mereka harus melawannya walau dengan


pasukan seadanya.


"Apa yang kau inginkan Edgar.?"


Agra keluar dari persembunyiannya membuat


Bara dan semua pasukan nya terkejut. Pasukan


Edgar juga terlihat terkejut. Edgar menyeringai


licik melihat Agra berani keluar dari tempat persembunyian nya.


"Hahaa.. ternyata nyalimu cukup besar juga ya.


Kau berani menantang maut tanpa rasa takut.!"


Ejek Edgar sambil mengokang senjatanya. Agra


menatap tajam kearah Edgar.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan.?"


"Haa.. tentu saja hasil perkebunan ini. Kalian


serahkan padaku sekarang juga maka nyawa


kalian akan aku ampuni, tapi kalau tidak..!"


"Kalau tidak, apa yang akan terjadi.?"


"Aku akan merampas paksa dari kalian..! aku


tidak pernah menerima kekalahan !"


Agra hanya tersenyum miring, dia kembali maju


perlahan membuat semua pasukan, baik itu dari


pihak dirinya maupun pasukan Edgar sontak


bersiaga dengan mengokang senjatanya masing


masing di arahkan pada lawan. Bara kini sudah


mulai panas dingin melihat pergerakan Tuan nya.


"Kalau kau merasa jadi laki-laki sejati turunlah,


lawan aku sekarang juga.!"


Tantang Agra sambil melempar senjatanya ke


pinggir. Edgar mengetatkan rahangnya, wajah


nya kini berubah kelam. Dia meloncat turun


dari atas mobil kemudian mulai maju mendekat


ke arah Agra yang berdiri santai menyingsingkan


lengan bajunya.


Penerangan di tempat itu hanya sebatas dari


lampu mobil dan mesin genset yang terpasang


di dekat gerbang. Namun nyala api dari alat-alat


yang terbakar terlihat masih berkobar. Semua


pasukan saat ini menghentikan pertarungan


karena pimpinan mereka memberi isyarat.


Keadaan ini di manfaatkan oleh Badar dan para


penjaga untuk segera mengevakuasi korban dan


sesegera mungkin memberikan pertolongan


hingga kini suasana di dalam pondok menjadi


sibuk luar biasa. Sementara Kiran saat ini masih


tertahan di dalam kamar karena Badar sengaja


mengunci pintu kamar dari luar. Dia tidak ingin


Nona nya itu menyaksikan semua kengerian


ini, dan Kiran hanya bisa berteriak histeris minta


di bukakan pintu sambil tiada henti menggedor


pintu sekuat tenaga.


Edgar segera melompat menyerang Agra dengan


tenaga penuh dan emosi yang sudah mencapai


ubun-ubun nya. Keduanya kini bertarung seru


dengan kekuatan yang cukup seimbang. Tubuh


mereka terlihat meliuk, melompat dan saling


menyerang serta menghindar. Edgar mundur


beberapa langkah saat pukulan dan tendangan


Agra masuk ke dada dan perutnya. Mata Edgar


menyala menatap buas kearah Agra sambil


meludahkan darah dari mulutnya.


"Ayo maju.. keluarkan semua kemampuan mu


Tuan Edgar yang perkasa.! "


Ejek Agra dengan suara beratnya serta senyum


meremehkan kearah Edgar.


"Brengsek..! akan aku habisi kau sekarang juga.!"


Edgar menggeram sambil kemudian kembali


maju menyerang Agra. Keduanya kembali


berduel seru.


Dari arah jalan datang rombongan baru yang


membawa pasukan lebih lengkap. Ada satu


sosok yang kini berdiam di dalam mobil melihat


pertarungan seru antara Edgar dan Agra dengan


seringai senyum liciknya.


Bara kembali mengirimkan kode rahasia pada


Zack dan pasukan nya agar segera mengambil


posisi. Dia juga melihat titik khusus di alat


pelacaknya yang menunjukkan kedatangan


beberapa pesawat kecil menuju landasan baru.


Tidak butuh waktu lama akhirnya Edgar jatuh


tersungkur di atas tanah dengan memuntahkan


darah, dia menatap tajam sedikit was-was ke


arah Agra yang maju mendekat mengepalkan


tinjunya.


"Kau..akan menyesali semua ini. Kalian semua


akan aku kubur di tempat ini , tanpa sisa..!"


Geram Edgar dengan seringai iblis nya sambil


berusaha berdiri dengan sempoyongan. Agra


balik tersenyum miring.


"Aku pastikan..ini adalah akhir karirmu Tuan


Edgar yang terhormat..!"


Seru Agra sambil kemudian menyerang Edgar.


"Seraang..habisi semuanya..!"


Edgar berseru memberi perintah. Sontak saja


kini tembakan kembali terdengar. Agra terpaksa


berguling menghindari berondongan peluru


yang di arahkan padanya. Sementara Edgar


berlari cepat kearah pondok.


"Bara..apa semua sudah ada di posisi.?"


Agra berteriak sambil mengokang senjata yang


baru saja di lemparkan oleh Bara. Mereka berdua


bersembunyi di balik tumpukan pohon yang sudah tersusun rapi hasil penebangan percobaan hari kemarin.


"Sudah Tuan.. sesaat lagi mereka datang.!"


Teriak Bara sambil membalas tembakan lawannya.


Pertempuran seru pun kini kembali terjadi. Sosok


yang ada di dalam mobil terlihat tersenyum


mengejek saat melihat bagaimana tidak imbang


nya kekuatan pertempuran ini. Ibaratnya 10


banding 1, sungguh jomplang.!


Keadaan di dalam pondok saat ini tidak kalah


genting dengan di luar saat beberapa pasukan


Edgar masuk melumpuhkan semua orang yang


ada di rumah itu. Para wanita langsung di ikat


Edgar sedang bertarung seru.


"Mundur Badar..atau kau mati sekarang juga.!


Aku hanya ingin bersenang-senang sebentar


dengan wanita yang ada di dalam..!"


Geram Edgar dengan tatapan yang menyala


bagai harimau lapar.


"Tidak.! langkahi dulu mayatku kalau kamu


ingin masuk kedalam kamar ini.!"


"Hahaa.. keras kepala artinya memilih lenyap.


Baiklah itu adalah pilihanmu Badar..!"


Bentak Edgar sambil kemudian maju menyerang


Badar. Keduanya kembali terlibat pertarungan


yang cukup seru. Rasmi dan Bani hanya bisa


meronta dan berontak mencoba melepaskan


ikatan di kedua kaki dan tangannya.


Mata Rasmi tampak membulat saat tubuh besar


Badar terjungkal ke lantai kemudian Edgar maju


kembali menghajar nya habis-habisan sampai


mulut Badar memuntahkan darah kental.


"Matilah kau..!"


Edgar menendang dada Badar hingga laki-laki


itu terkapar tidak berdaya. Rasmi dan Bani hanya


bisa menjerit tertahan sambil menangis pilu


melihat keadaan Badar yang mengenaskan.


Edgar menendang keras pintu kamar hingga kini terbuka. Kiran langsung terlonjak kaget saat


melihat kemunculan Edgar ke dalam kamar.


Wajahnya terlihat memucat di penuhi rasa


panik sekaligus ketakutan. Laki-laki itu menutup kembali pintu kamar memakai kakinya dengan seringai aneh yang membuat bulu kuduk Kiran langsung berdiri.


Kiran mundur perlahan, menatap tajam pria itu


yang terus merangsek maju.


"Hallo Nona Kiran..kita bertemu lagi. Aku sudah


pernah bilang bahwa kau akan menjadi milik ku.!"


"Ma-mau apa kamu...pergi..! kenapa kamu ada


di tempat ini.? pergilah..jangan ganggu aku.!"


"Hahaa..apa kau tidak tahu apa yang sedang


terjadi saat ini Nona Kiran..? kau yang sudah menyebabkan semua ini terjadi.!"


"Apa maksudmu ?"


"Kau memutuskan untuk menentang ku.! jadi


beginilah akibatnya.!"


"Tidak.! itu tidak mungkin, apa yang telah kau


lakukan ?"


"Yang aku lakukan.? hahaa..tentu saja menyingkir


kan semua yang menghalangi jalanku.! termasuk


pengawalmu itu .!"


"Agraa... tidak ! apa yang kau lakukan padanya.?"


Kiran terlihat histeris, apa yang terjadi sebenar


nya, bagaimana bisa semuanya jadi kacau


seperti ini. Dan Agra..apa yang terjadi pada nya?


"Kau ingin tahu bagaimana keadaan pengawal


sialanmu itu hahh..? dia sudah mati..!"


"Tidak..! itu tidak mungkin.!"


Teriak Kiran histeris seraya membulatkan mata


nya, tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Edgar hanya tersenyum miring dengan tatapan


liarnya seakan ingin melahap seluruh tubuh Kiran


yang hanya berbalut baju tidur panjang pas body .


Tubuh Kiran membentur sisi ranjang membuat


dia jatuh telentang di atas tempat tidur. Mata


Edgar tampak semakin berkilat penuh napsu.


"Sekarang biarkan aku bersenang-senang


sedikit dengan tubuh indahmu ini, setelah


itu kau akan ku jadikan ratu di rumahku.!"


"Tidak. ! jangan menggangguku..Agra pasti


akan datang kesini.!"


"Hahaa..dia sudah jadi mayat sekarang, mana


mungkin bisa datang untuk menolong mu !"


"Tidak ! Agra pasti baik-baik saja..tidak akan


terjadi apapun padanya..!"


Kiran menggeleng kuat, air matanya berjatuhan


bagai air terjun. Dia bangkit, beringsut mundur


ke ujung tempat tidur hingga tubuhnya


membentur kepala ranjang.


Edgar menyeringai iblis. Dengan gerakan cepat


dia melucuti bajunya sendiri hingga kini tubuh


nya yang di penuhi otot-otot besar sudah dalam


keadaan polos. Kiran semakin bergetar ketakutan,


air mata sudah membanjiri wajahnya.


"Pergi kamu..! jangan ganggu aku..!"


Jerit Kiran saat melihat Edgar merangkak naik


naik keatas tempat tidur, berusaha merenggut


pakaian yang menutupi tubuh Kiran.


"Tolong... lepaskan aku... jangan..!"


Sekuat tenaga Kiran mencoba melawan dengan memukul dan menendang Edgar membabi buta menahan lengan besar laki-laki itu yang


sedang mencoba menarik pakaiannya.


"Jangan membuatku kehilangan kesabaran


manis.. pasrahkan lah dirimu padaku..!"


Geram Edgar murka terdorong napsu birahi


yang sudah menguasai seluruh tubuhnya.


Dengan gerakan kasar dia menyobek atasan


Kiran hingga kini tubuh nya terbuka sebagian.


Mata Edgar semakin berkilat hebat saat melihat


dengan jelas bagaimana putih beningnya tubuh


bagian atas Kiran yang menampilkan sebagian


dada sintalnya yang indah menggoda. Edgar


menelan salivanya berat, tubuh bagian bawah


nya kini sudah meronta ingin segera di bebas


kan dan mendapatkan keinginan nya.


"Kau benar-benar menggiurkan..kau harus jadi


istriku Kiran..akan aku berikan apapun yang kau


inginkan.!"


Kiran semakin bergetar, memepetkan tubuhnya


ke ujung ranjang, tangannya di pakai untuk


melindungi kedua aset berharga nya yang kini


sudah terbuka sebagian.


"Edgar...aku mohon lepaskan aku.."


Rintih Kiran dengan suara gemetar hebat. Mata


Edgar yang sudah di penuhi kabut nampak


menatap dalam, dia segera mengurung tubuh


Kiran, kemudian berusaha untuk menindih tubuh


gadis itu yang menjerit histeris.


Kiran memejamkan matanya sambil menjerit


perih saat laki-laki brengsek itu kini berusaha


untuk melecehkan dirinya. Bibirnya bergerak


liar ingin menyergap bibir Kiran.


Namun tiba-tiba saja pintu kamar di tendang


dari luar dan sosok Agra langsung melesat


masuk menyeret tubuh Edgar kemudian


menghajar nya habis-habisan. Keduanya


kembali bertarung seru di ruangan sempit itu.


Wajah Agra terlihat kelam,matanya berkilat


murka di penuhi amarah yang sudah mencapai


puncaknya.


"Kau sudah berani menyentuh milikku..maka


aku tidak akan mengampuni mu ******** !"


Agra kembali menyerang Edgar dengan sadis


hingga dalam beberapa menit kemudian laki-


laki itu terdesak dan jatuh tersungkur. Bagai


kesetanan Agra mengangkat tubuh besar itu


kemudian melemparnya keluar kamar hingga


kepalanya membentur dinding bangunan, dia tergeletak tidak berdaya.


Laki-laki itu tampak terbatuk parah kemudian


memuntahkan darah kental dari mulutnya. Keadaannya sangat mengenaskan. Sekujur


tubuhnya babak belur dengan luka dalam


yang cukup parah. Dia berusaha bangkit


namun akhirnya kembali terkulai lemah tak


sadarkah diri.


Agra segera menghampiri Kiran, membuka


jaket yang di pakainya kemudian di pakaikan


ke tubuh Kiran yang terlihat masih sangat syok.


Duduk terdiam dengan tubuh gemetaran dan


tatapan kosong penuh ketakutan.


"Tenanglah sayang...aku di sini sekarang.."


Agra segera meraih tubuh Kiran yang menegang


seketika dan mengkerut berusaha menarik diri


nya dari dekapan Agra.


"Ini aku Kiran.. lihatlah aku..kamu jangan takut


lagi, aku bersamamu.."


Agra mendongakkan wajah Kiran agar mereka


saling melihat. Mata Kiran menatap kuat mata


elang Agra yang masih di liputi oleh amarah.


Cairan bening kembali berjatuhan membasahi


pipi mulus Kiran. Tangan Agra menghapus air


mata di wajah Kiran. Keduanya saling pandang


lekat, kesadaran Kiran perlahan kembali .


"Ini aku sayang..kau bersamaku.."


"Agraa....kau masih hidup..."


Lirih Kiran meraup wajah Agra berusaha untuk


meyakinkan diri bahwa sosok yang ada di depan


nya itu adalah suaminya.


"Iya Kiran..aku masih hidup..aku tidak mungkin


meninggalkan mu sendirian.!"


Kiran langsung memeluk erat tubuh Agra setelah


kesadaran nya kembali sepenuhnya. Agra balik


memeluk erat tubuh rapuh itu berusaha untuk


memberinya ketenangan. Kiran menangis tersedu


di dada Agra, melepaskan semua beban yang


tadi membelenggunya.


Sementara itu di luar masih terjadi pertempuran.


Namun beberapa saat kemudian pasukan Edgar tampak gelagapan ketika tiba-tiba datang pasukan bayangan hitam yang bergerak cepat seperti ninja melumpuhkan lawan tanpa terlihat. Senjata di


tangan mereka kini telah berpindah tangan.


Mereka hanya bisa melongo di tengah kepanikan


dan kekagetan akan semua yang terjadi karena


begitu cepat di luar bayangan..


 


**********


 


TBC....