Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
12. Tamu Penting


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Menjelang siang Kiran baru bisa berangkat ke perkebunan. Dan bukan Agra yang datang untuk


menjemput nya melainkan Badar.


"Memangnya Agra ada di mana Om.? kenapa


bukan dia yang datang menjemput saya.?"


Kiran tampak sedikit kesal terhadap pengawal


nya itu karena sudah membuatnya menunggu


setengah hari. Sialnya di tempat ini jaringan


telepon memang sangat sulit di temui, harus


mencari ke arah tertentu untuk menemukannya


sehingga dia tidak bisa menghubungi suaminya


itu ataupun memantau keberadaan nya.


"Tuan Agra semalam pergi Nona, dan baru saja


kembali setengah jam yang lalu."


"Apa yang dia lakukan, kenapa selalu saja


pergi tanpa alasan, dasar orang aneh.!"


"Kejadian kemarin menyisakan masalah dengan


pihak yang berwajib Nona. Tadinya saya sendiri


yang akan mengurusnya, tapi Tuan Agra ingin


menanganinya sendiri.!"


"Dia itu memang aneh ya, kenapa Kiran tidak


diberitahu coba, apa sih maunya sebenarnya.!"


"Tuan hanya tidak ingin mempersulit keadaan


anda selama ada di sini Nona."


"Tetap saja, apapun masalah yang menyangkut


perkebunan saya juga harus bertanggung jawab."


Gerutu Kiran kesal bukan main. Badar hanya


meliriknya sekilas dengan tersenyum tipis.


Tiba di pondok Kiran segera masuk ke ruang


kerjanya. Saat membuka pintu tubuhnya tiba-


tiba membeku di tempat saat melihat keberadaan Agra di sana. Pria itu tampak sedang menikmati makan siangnya dengan lahap. Dan yang membuat Kiran terdiam adalah karena Lintang juga ada di


sana, gadis itu sedang duduk menemani Agra


bahkan melayaninya dengan begitu telaten.


"Nona Kiran.. selamat siang."


Sapa Lintang seraya menunduk sedikit.


"Siang juga Lintang.."


Sahut Kiran masih berdiri di depan pintu.


Agra hanya melihatnya sekilas dan kembali


menikmati makan siang nya.


Kiran berjalan menuju meja kerjanya kemudian membuka jaket yang di pakainya lalu duduk di


kursi kerjanya. Matanya melihat sekilas kearah


Agra yang sedang menerima gelas air putih dari tangan Lintang. Gadis manis itu tampak menatap malu-malu kearah wajah tampan Agra.


Ada perasaan tidak nyaman yang kini di rasakan


oleh Kiran melihat perlakuan Lintang pada Agra.


"Apa Tuan..mau saya buatkan makanan penutup?


Salad atau mungkin yang lain.?"


Tawar Lintang dengan wajah yang terlihat begitu semangat. Bagaimana tidak, gadis itu sudah sangat terjerat oleh pesona pria dingin itu, baginya bisa melihat apalagi berdekatan dengan Agra bagaikan berada di dalam mimpi.


"Tidak perlu, aku sudah kenyang. Kau boleh


keluar sekarang."


Tolak Agra setelah mengakhiri makan siangnya. Lintang tampak menatap sedikit kecewa kearah


Agra karena dirinya masih ingin berlama-lama


ada di dekat pria nyentrik itu.


"Baiklah Tuan..kalau begitu saya permisi."


Lintang membereskan semua sisa makanan ke


atas nampan setelah itu dia berlalu keluar. Kiran beranjak dari kursi nya, berdiri di hadapan Agra, menatap nya tajam.


"Apa anda sadar Tuan Agra..sudah melalaikan


tugas anda terhadap saya.?"


Tegur Kiran sambil menatap kesal kearah Agra


yang mendongakkan kepala. Keduanya saling


pandang kuat .


"Bukankah ada Badar yang bisa menggantikan


posisiku.?"


Sahut Agra acuh sambil duduk tumpang kaki.


Tatapan Kiran semakin terlihat kesal.


"Memang nya ada hal yang lebih penting dari


tugas utama anda.?"


"Tidak ada , anda adalah prioritas saya.!"


Kilah Agra masih terlihat acuh dan melempar


pandangan kearah luar jendela. Kiran semakin


kesal dengan sikap cueknya Agra yang sudah


kelewat batas itu.


"Lalu kemana saja kamu, kenapa selalu pergi


tanpa memberitahu ku terlebih dahulu.!"


Ketus Kiran sambil memalingkan wajahnya.


Ada seringai senyum tipis di bibir Agra, dia


bangkit dari duduknya, berdiri di hadapan


Kiran yang terlihat mundur beberapa langkah.


"Ohh..jadi itu cukup penting bagimu rupanya.!"


Ucap Agra mulai maju mendesak hingga kini


tubuh Kiran mentok membentur meja kerja.


"Tentu saja, bukankah seharusnya kamu


selalu ada kapanpun aku butuhkan, bukan


nya main pergi tanpa kabar yang jelas.!"


Ketus Kiran dengan tatapan mulai tegang


karena kini posisi tubuh Agra sudah merapat


dan memepet dirinya.


"Jadi menurutmu aku perlu mengatakan kemana


saja aku pergi di belakang mu Nona.?"


Desis Agra mulai mengurung tubuh Kiran


dengan meletakkan kedua tangannya di atas


bangku di sisi kanan kiri tubuh Kiran.


Tangan Kiran menahan dada Agra yang kini


mencondongkan badannya menekan tubuh


bagian depan nya. Dia semakin menegang


saat tubuh mereka bersentuhan.


"Bu-bukan begitu..aku hanya tidak suka kalau


harus menunggu.! "


"Aku ada urusan yang tidak bisa di tunda, ini


menyangkut perkebunan.!"


"Bukankah aku berhak tahu semuanya, aku


yang paling berhak tahu di sini..!"


"Anda urus saja soal penjualan dan pembeli,


bukan urusan di luar semua itu.!"


"Tuan Agra.. apapun itu kalau menyangkut


soal perkebunan aku berhak mengetahuinya."


"Aku tidak akan mempertaruhkan keselamatan


mu Nona Sashikirana..!"


Desis Agra di telinga Kiran yang langsung


memejamkan matanya saat napas hangat


Agra menerpa wajah nya. Kiran terhenyak


dalam diam saat Agra menyebutkan nama


lengkapnya.


Dia membuka matanya, keduanya saling pandang kuat. Tubuh mereka masih di posisi sama, rapat


dan menempel dengan tubuh Agra di atas tubuh


Kiran yang semakin tegang saat wajah tampan


Agra semakin mendekat.


"Se-sebenarnya..siapa kamu.? "


Suara Kiran sedikit bergetar karena rasa tegang,


dia juga mendorong kuat dada Agra agar dirinya


bisa keluar dari kurungannya.


"Apa itu penting bagimu.?"


Tanya Agra dengan suara beratnya, tangannya


yang satu kini meraih wajah Kiran kemudian


mengangkatnya.


"Tentu saja, kau..kau adalah suamiku ! aku


punya hak untuk mengetahui siapa dirimu.!"


Senyum smirk terukir di sudut bibir Agra,


tatapannya kini semakin mengunci wajah


cantik Kiran yang memiliki bentuk sangat


sempurna di semua bagian, mungil dan


sangat menggemaskan.


"Akan ada saatnya untuk itu, sekarang kita


harus segera menyelesaikan urusan di tempat


ini, setelah itu baru kita kembali pada dunia


nyata. !"


Kiran menganga mendengar ucapan Agra yang


penuh dengan teka-teki itu. Dalam sekali gerakan


Agra mendaratkan ciuman lembut di kening


Kiran yang langsung memejamkan matanya.


Bersamaan pintu di buka dari luar.


"Tuan..Nona..maaf..!"


Keduanya menoleh kearah suara masih dengan


posisi yang sama. Bara berdiri di ambang pintu


dengan tatapan canggung. Wajah Kiran langsung


pucat pasi saat melihat keberadaan Bara. Apa


yang akan dipikirkan oleh asisten Agra nanti?


"Ada apa Bara.?"


Suara Agra terdengar berat dia menegakkan


badannya menatap kesal kearah Bara yang


langsung menundukkan kepala dalam. Kiran


segera membenahi dirinya yang masih berada


di awang-awang. Kaget dengan apa yang di


lakukan Agra barusan.


"Ada tamu yang ingin bertemu Tuan dan Nona.."


"Suruh tunggu di ruang tamu, kami akan segera


kesana.!"


"Baik Tuan, permisi."


Bara kembali menutup pintu. Agra dan Kiran


saling pandang sesaat.


"Pakai jaketnya, bersikap biasa, jangan terlalu


ramah pada orang asing. Orang bisa saja salah


faham dengan sikapmu yang terlalu baik.!"


Agra memberikan rentetan perintah dan


peringatan yang membuat Kiran menatap


melongo kearah laki-laki itu yang sedang meraih


jaketnya kemudian keluar dari ruangan tanpa


menoleh lagi kearahnya.


"Huuhh..dasar laki-laki aneh.!"


Keluh Kiran sambil mengurut dadanya mencoba


untuk menstabilkan debaran jantungnya yang


tadi sempat bermarathon. Namun akhirnya dia


pun mengambil jaket langsung memakainya. Kemudian meraih berkas penting lalu keluar


dari ruang kantor nya menuju ruang tamu.


------ ------


beberapa mobil Jeep mewah yang sudah mandi


lumpur di bagian bawahnya seperti habis offroad.


Agra masuk ke dalam ruang tamu, di sana sudah


menunggu beberapa tamu penting, bahkan bisa


di sebut tamu paling waahh di daerah ini.


Tamu itu adalah kepala daerah ini bersama


dengan tamu penting lainnya, asisten pribadi


dan beberapa orang pengawalnya. Dan yang


menarik perhatian adalah keberadaan seorang


gadis cantik berambut ikal berwarna coklat


gelap dengan mata bulat yang indah.


Agra membagikan pandangan ke arah semua


tamu yang ada di ruangan itu. Mata indah gadis


tadi tampak begitu terpesona saat melihat


kemunculan Agra di ruangan itu.


Kiran datang kemudian, dia juga tampak sedikit


terkejut melihat tamu-tamu itu. Dan para tamu


itupun kini balik terpesona melihat kemunculan


Kiran di ruangan itu. Bagai melihat bidadari dalam


hutan rasanya..kenapa bisa ada mahluk sebening


itu di tempat seperti ini.?


"Tuan Abbas, mereka berdua adalah pengelola


perkebunan ini.!"


Badar memperkenalkan Agra dan Kiran. Tamu


penting itu tersenyum mengerti. Tatapan nya


tampak memperhatikan dengan teliti gestur


tubuh kedua orang di hadapannya itu.


"Selamat siang Tuan Agra Bintang..Nona..."


"Sashikirana.. panggil saja Kiran..!"


Sambut Kiran sambil tersenyum tipis kearah


tamu penting tadi.


Agra berjabat tangan dengan tamu penting itu


dengan tatapan tajam dan sorot mata berbeda.


Sementara Kiran hanya mengatupkan tangannya.


Mereka semua duduk saling berhadapan.


"Perkenalkan..ini adalah putri saya.!"


Sambung tamu itu melirik kearah gadis cantik


tadi yang terlihat langsung memasang senyum


semanis madu kearah Agra seraya mengulurkan


tangannya.


"Moza.. senang bertemu anda Tuan Agra.."


Ucapnya dengan suara dibuat semanja mungkin.


Agra menyambut tangan gadis itu dengan wajah


datar tanpa ekspresi apapun. Gadis itu tampak


nya enggan sekali untuk melepas jabatannya.


Matanya juga terpaut di kedalaman mata elang


Agra yang seakan telah menyihirnya.


"Ehemm..!"


Kiran berdehem untuk menyadarkan kedua


mahluk itu bahwa masih ada manusia lain


di tempat ini. Gadis itu melepaskan jabatan


tangannya dengan wajah sedikit memerah.


Dia menatap sekilas kearah Kiran dengan


sorot mata tidak suka.


"Jadi Tuan Abbas..maksud anda datang kesini


ada keperluan apa kalau boleh saya tahu.?"


Tanya Kiran langsung pada pokok karena dia


sedang tidak ingin basa-basi. Tamu penting


itu atau Tuan Abbas nampak menatap wajah


Kiran dengan ketertarikan yang sangat kentara.


"Jadi Nona ini putrinya Tuan Zein.?"


"Benar Tuan..!"


"Begini Nona, sebenarnya saya hanya sedang


keliling saja sekalian cari hiburan di sebelah.


Kami biasa menjelajah alam setiap minggunya


di daerah ini.!"


Ujar Tuan Abbas membuka pembicaraan.


"Saya juga datang dengan dua rekan saya yang


berminat untuk membeli hasil perkebunan anda


jadi biar sekalian begitu lah..!"


Kembali ucap Tuan Abbas sambil menunjuk


dua rekan yang ada di sebelahnya. Keduanya


tampak menunduk sedikit dan tersenyum


kearah Kiran. Agra duduk santai mengamati


interaksi antara Kiran dan para tamunya.


"Boleh saja Tuan..kami terbuka dan menerima


pihak manapun yang berminat terhadap hasil


perkebunan kami."


Sambut Kiran dengan suara tegas dan tenang.


Agra masih terdiam memperhatikan, raut wajah


nya terlihat puas dengan sikap dan pembawaan


Kiran yang tegas serta profesional. Namun ada


tatapan lain yang kini tersirat dari kedua matanya


melihat semua pergerakan dari para tamunya.


"Kalau begitu kita bisa memulai pembicaraan


nya Nona Kiran ?"


Salah seorang pengusaha tadi terlihat sangat


bersemangat.


"Tentu saja, kita bisa membicarakan nya sambil


melihat ke lapangan, mari silahkan..!"


Para tamu tampak mengangguk antusias sambil


berdiri kemudian mereka semua melangkah keluar dari ruangan menuju ke perkebunan.


Mereka menyusuri sebagian area perkebunan


yang berada di wilayah pusat itu sambil melihat


dan mengamati seluruh pohon yang menjadi


objek pembicaraan.


Gadis tadi atau Moza tampak berjalan bersama


Agra mencoba untuk lebih dekat pada laki-laki


itu dan berbincang kecil. Namun tampaknya


pria itu tidak terlalu menanggapi, dia hanya


berbicara seperlunya saja. Kiran yang melihat


hal itu mencoba untuk tidak peduli walau sebenar


nya ada rasa jengkel yang kini menenuhi dada


nya. Dia terus melayani pertanyaan para tamu.


"Tuan Agra.. saya dengar sudah sering terjadi


pencurian di perkebunan ini.! kalau anda butuh


bantuan, Papah siap mengirimkan bantuan


yang anda inginkan, iya kan Pah.?"


Moza melirik kearah Tuan Abbas yang terlihat


mengangguk antusias.


"Betul, saya siap mengirimkan team untuk


berjaga di sekitar wilayah perkebunan ini.!"


Sahut Tuan Abbas dengan percaya diri. Agra


hanya tersenyum tipis.


"Saya rasa itu tidak di perlukan Tuan, sejauh ini


kami masih bisa menangani nya sendiri.! kemarin


kebetulan kami hanya sedang sial saja.!"


Ujar Agra. Mereka kembali berjalan, tiba-tiba


Moza memekik saat dia terpeleset di dalam


lumpur dan dengan reflek Agra menangkap


pinggang gadis itu hingga kini keduanya


berada pada posisi yang sangat intim. Mata


keduanya saling pandang kuat.


Semua orang melihat kearahnya, wajah Kiran


tampak memerah, menatap keduanya dengan


sorot mata yang sangat kompleks.


"Hati-hati Nona Moza.. jalanan di sini licin.!"


Ucap Agra sambil membantu gadis itu untuk


kembali menegakkan badannya. Matanya


sekilas melihat kearah Kiran yang terlihat


memalingkan wajahnya dengan raut wajah


berubah masam.


"Terimakasih Tuan.."


Lirih Moza dengan wajah yang sedikit memerah


sekaligus berbinar senang.


Dalam keadaan itu tiba-tiba saja terdengar


keributan dari kejauhan, teriakan para penjaga


yang menggema memecah suasana menjadi


sangat mencekam.Semua orang terlihat waspada sedikit tegang saat mendengar sayup-sayup ada


suara lolongan serigala yang semakin lama


suaranya semakin mendekat.


Belum sadar dengan keadaan dari arah hutan


lebat tiba-tiba saja bermunculan beberapa ekor


serigala hutan yang berlari dengan keadaan


yang sepertinya sedang mengamuk.


"Berlindung...ada serigala hutan..!"


Teriak kepala pengawal sambil bersiap dengan


senjata di tangan nya bergerak melindungi Tuan


Abbas dan putrinya. Kiran bengong belum sadar


akan semua bahaya yang datang dan tiba-tiba


saja seekor serigala lapar berlari kencang kearah


nya. Tubuh Kiran mematung di tempat dengan


mata membulat sempurna, syok luar biasa.


Sebelum serigala itu berhasil menjangkau dirinya


dengan gerakan cepat Agra datang menghadang


langsung menendang bagian kepala hewan buas


itu yang tadi hampir saja menerkam Kiran.


Tubuh Kiran terjatuh ke belakang karena lemas.


Dia hanya bisa melongo melihat Agra sedang


berusaha melumpuhkan hewan liar itu dengan


membabatnya habis memakai balok..


"Larii.. selamatkan diri kalian..!"


Teriak kepala pengawal sambil meletuskan


tembakan kearah kejauhan di mana binatang


buas itu semakin banyak yang datang.


Sialnya gerombolan hewan lainnya semakin


banyak saja yang datang. Sedang para tamu tadi


sudah ngacir, berlari menjauhi lokasi. Kini Agra


dan Kiran di kepung oleh sekitar 6 ekor hewan liar


itu yang terlihat sangat kelaparan dan bersiap mencabik apapun yang ada di hadapan mereka.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....