Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
44. Kecewa


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Mata mereka bertemu dalam jarak pandang


yang cukup jauh. Saling mengunci satu sama


lain dengan sorot mata yang berbeda. Kiran


dengan keyakinan akan halusinasinya sedang


Sang Presdir dengan tatapan penuh cinta nya..


Tatapan mata Sang Presdir tampak begitu


terpesona melihat penampilan Kiran saat ini.


Namun wajahnya berubah dingin, menyadari


betapa cantik dan menggiurkannya Kiran, hal


itu tentu akan mengundang mata jahil dari


para tamu pria yang ada di tempat ini.


Agra memutus pandangan nya berusaha untuk


bersikap setenang mungkin walaupun gejolak


dalam hatinya seakan membawa pikirannya


pada fantasi liar akan keindahan tubuh istrinya


itu ketika berada dibawah kekuasaan nya.


Moment semalam masih terasa begitu nyata


kehangatan dan kenikmatan nya.


Semua tamu tampak serempak berdiri memberi


salam penghormatan kearah kedatangan sang


Presdir super tampan itu dengan membungkuk


dalam di tempat nya masing-masing. Agra pun


mencoba membalas sapaan hormat mereka


dengan membungkuk sedikit, kemudian


kembali berjalan tenang.


Para tamu pria terlihat begitu segan dan hormat


pada sosok pengusaha muda tersebut. Sedang


para tamu tamu wanita tampak terkesima melihat bagaimana gagah dan bersinarnya sang pemilik Bintang Group tersebut yang kini sedang berjalan tenang penuh wibawa dan kharisma bersama


jajaran para pengusaha lain yang dari tadi


mengiringi langkahnya.


Tubuh Kiran lemas seketika saat dia melihat


keberadaan Bara di samping sang Presdir.


Matanya mengerjap beberapa kali mencoba meyakinkan segalanya bahwa ini bukanlah


halusinasi nya semata. Dan Bara pun hanya


bisa menunduk pasrah.


"Tidak, tidak.! ini tidak mungkin..! aku pasti


salah mengenali orang..! mana bisa orang


yang sama berada di dua karakter berbeda.!"


Gumam Kiran sambil menggeleng kuat, dada


nya tiba-tiba terasa sesak. Tubuhnya semakin


goyah kehilangan tenaga. Zack mulai cemas


dia segera maju mendekat. Kiran berusaha


sekuat tenaga untuk menopang tubuhnya


yang kini seakan kehilangan keseimbangan.


"Nona..anda baik-baik saja..?"


"Berhenti Zack..jangan pedulikan aku lagi.!"


Kiran mengangkat tangannya membuat Zack


membeku di tempat tidak bisa bergerak.


"Kalian semua telah bersekongkol di belakang


ku..! kalian telah menipuku.! menyembunyikan


semua kebenaran ini.!"


Desis Kiran dengan suara bergetar menahan


tekanan kuat yang kini menyesakkan dadanya.


Matanya mulai memerah menahan desakan


air mata yang mulai menyeruak.


"Maafkan saya Nona.."


"Aku tidak bisa menerima semua ini. Sebuah


kebohongan besar yang sangat fatal..!"


"Tapi Nona..Tuan melakukan semua ini.."


"Cukup Zack, tidak perlu bicara lagi..!"


Kiran menegakkan kembali badannya. Menarik


napas dalam-dalam, mencoba untuk menguasai


diri dan perasannya. Baiklah..! jadi inikah jati diri sebenarnya dari suaminya.! Sang Presdir Bintang


Group yang sangat terkenal itu.! Tapi kenapa.?


Kenapa dia harus menyembunyikan semua ini


sekian lama dari dirinya. Sebenarnya apa maksud


dia melakukan semua ini.? Oke.! kita lihat alasan


apa yang akan dia lontarkan nanti.!


Kiran mengatur ritme pernapasan nya seraya


mencoba menguatkan hati dan jiwanya untuk


menghadapi semua kenyataan yang sangat mengguncang ini.


Tatapan nya saat ini masih terfokus pada sosok


Agra yang sedang berbicara dengan beberapa


orang penting di sepanjang jalan yang di lalui


nya. Sesungguhnya hatinya sangat bergejolak,


melihat bagaimana rupa dan penampakan asli


dari suaminya itu, jiwanya seakan meronta.


Ada ketakutan tersendiri yang kini di rasakan


nya, Bimantara Agra Bintang..dia bukanlah


sosok sederhana, dia sangat tinggi, tidak lah


sebanding dengan dirinya yang hanya wanita


biasa tanpa kelebihan atau prestasi apapun.


Dan.. Mikhayla Alexandria.. dengan jelas tadi


dia mengatakan bahwa dirinya adalah calon


tunangan laki-laki yang berstatus suaminya itu.


Saat ini Agra baru saja selesai berbicara dengan


beberapa pengusaha besar yang ada di jajaran


meja satu barisan dengan Nathan. Satu sosok


cantik lainnya yang duduk di samping Nathan


saat ini tidak kalah syok nya dari Kiran. Aryella


menatap tidak percaya kearah berdirinya sang


Presdir tampan yang sangat menyilaukan itu.


"Tidak mungkin.! jadi benar dugaan ku kalau


dia itu Tuan Bimantara Agra Bintang..? sial..


kenapa keberuntungan selalu saja berpihak


pada Kiran, bagaimana bisa dia mendapatkan


laki-laki berpengaruh itu.."


Bathin Aryella masih dalam keadaan bengong.


Dia memegang dadanya yang berdetak kencang


tak terkendali saat mata elang Agra menatapnya


tajam dengan sinyal ancaman nyata, juga sebagai


pernyataan tidak resmi akan jati dirinya untuk di ketahui gadis itu.


"Ohh..Nona Aryella..anda datang juga rupanya.!"


"Se-selamat malam Tuan Bimantara..saya


datang menemani Tuan Nathan.."


Aryella tergagap dengan wajah sedikit pias.


Agra tersenyum miring seraya melirik kearah


Nathan yang terlihat menunduk sedikit setengah enggan melakukan nya.


"Ohh.. begitu rupanya, kalian cukup cocok.!"


"Selamat malam Tuan Hadiningrat..!"


Sapa Nathan dengan nada sedikit malas. Kedua


nya berjabat tangan dengan tatapan yang sama


sama ngotot, namun sesaat kemudian Nathan


berpaling, kembali fokus pada sosok cantik yang


ada di meja paling depan. Tangan Agra terkepal


kuat saat menyadari tatapan Nathan tidak pernah lepas dari sosok istrinya itu . Dan Nathan pun


cukup kaget mengetahui fakta bahwa Kiran di


tempatkan di meja utama tersebut.


"Baiklah.. nikmati pesta nya Tuan Wiranata..


Nona Aryella..!"


Agra kembali melangkah meninggalkan meja


Nathan. Aryella menarik napas panjang, mata


nya tidak lepas dari sosok gagah tersebut.


Akhirnya setelah perbincangan ringan sepanjang


karpet merah kini Agra semakin mendekat kearah


meja tempat Kiran berada. Mata mereka kembali


saling terpaut dalam, tidak bisa melepaskan satu


sama lain. Namun kini sorot mata Kiran berbeda.


Terlihat penuh penghakiman dan rasa tidak


terima. Tapi Agra mencoba meluluhkan nya


dengan sorot mata memohon pengampunan.


"Selamat malam Presdir Bimantara.."


Sambut Kiran seraya menunduk sopan dengan


gestur tubuh yang sangat halus dan anggun.


Agra tertegun dan terkesima dengan sikap


tenangnya Kiran. Namun sesaat kemudian dia


menyadari bahwa sikap tenang Kiran hanyalah


manipulasi belaka dan sebagai ungkapan protes


terhadap dirinya. Agra merasa gugup sendiri


tapi berusaha untuk tetap tenang dan terkendali.


"Selamat malam Nona Mahesa.."


Sahut Agra sambil mengulurkan tangan nya.


Dengan tatapan tenang Kiran menerima uluran


tangan Agra, keduanya saling menggenggam


kuat mencoba menyalurkan segala gejolak rasa


yang ada di hati dan pikiran masing-masing.


Mata mereka beradu kuat. Tidak lama Kiran


menarik tangan nya dengan hentakkan yang


cukup kuat membuat hati Agra mencelos.


Beberapa pengusaha yang tadi mengiringi


dirinya tampak terpesona pada sosok Kiran.


Agra tidak melepaskan pandangannya dari


wajah Kiran yang kini terlihat begitu dingin.


"Silahkan Tuan."


Erik segera menarik kursi untuk di duduki


Agra yang berada tepat di sebelah kiri Kiran.


"Ayo duduklah..!"


Dengan gerakan cepat, Agra menarik tangan


Kiran untuk duduk yang langsung di tepisnya


dengan kuat. Mata mereka kembali beradu


sedikit panas.


"Silahkan Tuan yang terhormat duduk duluan.!"


Kiran menundukkan kepalanya. Rahang Agra


mengeras, dia mendekat, kembali menarik


tangan Kiran yang mencoba menepisnya lagi


namun kali ini genggaman tangan Agra lebih


kuat hingga Kiran kesulitan melepasnya.


"Tuan Bimantara.. tolong jangan menjatuhkan


harga diri anda di depan bawahan anda..!"


Desis Kiran masih mencoba melepaskan


genggaman tangan Agra. Tatapan Agra kali


ini berubah tajam, tidak suka mendengar


bahasa yang keluar dari mulut Kiran.


"Aku akan menjelaskan semuanya padamu


nanti, setelah semua ini selesai..!"


"Aku tidak butuh penjelasan mu.! sudah cukup


bagiku melihat dan memahami semuanya.!"


"Kau perlu tahu alasanku melakukan semua


ini Kiran..!"


"Jelas sekali kau hanya bermaksud menipuku


dan mempermainkan ku saja..!"


"Itu tidak benar, tidak sama sekali..!"


Tatapan Agra semakin menusuk membuat


jantung Kiran serasa berdarah. Agra kembali


memaksa Kiran untuk duduk. Dan interaksi tak


biasa yang terjadi diantara mereka berdua itu langsung mengundang reaksi terkejut dari


semua tamu yang ada di meja tersebut.


"Tuan Bimantara.. selamat malam..!"


Tiba-tiba saja ke meja mereka datang Mikhayla


dengan senyum menawan nya. Dia menunduk


sedikit di hadapan Agra yang masih memegang


kuat tangan Kiran. Agra dan Kiran melirik


kearah Mikhayla.


"Malam Nona Alexandria.."


Sahut Agra dengan wajah datar dan suara yang


sangat dingin. Tatapan Mikhayla jatuh di kedua


tangan yang saling bertautan. Sorot matanya


berubah tidak suka.


"Apakah aku bisa bergabung duduk di sini.?"


Wajah Agra semakin terlihat dingin.


"Semua sudah di atur dengan sangat baik oleh


team ku Nona..jadi sebaiknya ikuti saja setiap


ketentuan yang berlaku..!"


"Mohon maaf Tuan Presdir..kalau mau Nona


Mikhayla bisa menggantikan posisi saya di


tempat ini, dengan senang hati saya akan


duduk di tempat lain yang sekiranya lebih


cocok untuk saya..!"


Sela Kiran dengan wajah serius membuat


Mikhayla terlihat sumringah.


baru menyadari kesalahan penempatan ini."


Sambut Mikhayla dengan wajah berbinar


senang, namun lain hal nya dengan sang


Presdir saat ini wajah nya sudah terlihat


membeku. Tatapan nya jatuh menghujam


wajah Kiran yang memalingkan muka nya.


"Nona Mikhayla.. sebaiknya anda kembali


ke tempat yang sudah di sediakan. Tolong


jangan menyia-nyiakan waktu ku..!"


Tegas Agra , tatapannya kini berpaling pada


ratu kecantikan itu yang terlihat kecewa.


"Tapi Tuan Agra aku rasa..."


"Kembalilah ke tempatmu Mikhayla.."


Tegas Agra dengan aura wajah yang membuat


nyali Mikhayla ciut seketika, dia segera berbalik


kemudian melangkah ke tempat nya semula.


Agra kembali berpaling pada Kiran.


"Duduklah..! atau aku akan memaksamu


untuk duduk di pangkuan ku..!"


Ancam nya dengan tatapan intimidasi yang


sangat mendominasi. Kiran melengos sebal.


Dengan wajah yang sedikit tertekuk dia


terpaksa mendudukkan bokong nya tanpa


melirik sedikitpun kearah suaminya itu.


Agra kembali bersikap setenang mungkin,


dia duduk tegak dan mantap dengan gaya


yang sangat elegan dan berkelas.


"Tuan-tuan.. perkenalkan.. beliau adalah putri


dari Tuan Zein Mahesa, perusahaan rekanan


kita yang baru saja bergabung.."


Erik memperkenalkan Kiran kepada para


pengusaha lainnya yang rata-rata berasal


dari luar negeri. Mereka semua tampak


tersenyum dan menunduk sedikit kearah


Kiran yang langsung membalasnya dengan


senyum lembut nan menawan membuat


hati Agra panas terbakar api cemburu. Dia


mengepalkan tangannya kuat.


Tidak lama acara pokok pun bergulir yakni


sambutan langsung dari sang pemilik dan


penguasa acara besar ini. Agra berdiri tegak


merapihkan jas nya sebentar kemudian melirik


kearah Kiran yang memalingkan wajahnya.


Dengan langkah tenang dan mantap dia naik


ke atas podium utama untuk memberikan


sambutan nya. Suasana tiba-tiba saja berubah


hening, semua mata saat ini terfokus pada satu


sosok gagah dan bercahaya yang kini ada di


atas podium. Tidak ada yang tidak terpesona


padanya. Mau tidak mau Kiran pun kini melihat


dan menatap sosok suaminya itu yang saat ini


mulai membuka sambutannya dengan suara


yang sangat tegas, lugas penuh wibawa.


"Selamat malam semuanya..selamat datang


pada acara tahunan ini. Saya selaku tuan rumah


ingin mengucapkan terimakasih banyak atas kehadiran saudara semua di tempat ini.."


Agra menjeda ucapannya, membagi pandangan


ke seluruh tamu undangan dan berakhir pada


satu sosok paling bersinar terang yang ada


di meja paling depan. Mata mereka kembali


bertemu, bertaut dalam hingga akhirnya Agra


kembali melanjutkan sambutannya.


Kiran menundukkan kepala tidak kuat lagi bila


harus terus memandang sosok gagah tersebut.


Tidak di pungkiri, suaminya itu terlihat sangat


tampan dan mempesona saat ini membuat hati


nya bergetar hebat hampir tidak terkendali. Rasa


percaya dirinya semakin ciut, dia merasa sangat rendah bila harus di sandingkan dengan seorang Bimantara yang sangat terhormat itu. Selain itu kekesalan dan kekecewaan yang kini di rasakan


nya membuat dia mencoba memungkiri segala kekaguman nya terhadap suaminya tersebut.


Agra mengakhiri sambutannya di sambut tepuk


tangan meriah dan respon yang sangat positif


dari segenap tamu undangan yang hadir. Dan


kini pesta yang sesungguhnya pun di mulai.


Para tamu menyebar ke ruangan sebelah kanan


untuk menikmati seluruh hidangan yang tersedia,


baik itu makanan maupun minuman. Di ruangan


terbuka ini para tamu melakukan standing party.


Berbincang dan bercengkrama dengan sesama


rekan pengusaha sambil mencicipi makanan dan


minuman mahal yang telah di sediakan.


Setelah turun dari podium Agra menghilang ke


balik ruangan pribadi yang ada di ballroom itu.


"Nona..Tuan.. menunggu anda di ruang pribadi


nya, mari ikut dengan saya.."


Bara berdiri membungkuk di samping Kiran


yang sedang berbincang dengan seorang


pengusaha setengah baya dari negeri paman


Sam. Kiran melirik tajam kearah Bara .


Wajahnya terlihat sangat kesal.


"Saya tidak punya urusan apapun dengan beliau.


Jadi rasanya tidak ada gunanya juga kalau saya menemuinya Tuan Bara..!"


Kilahnya sambil berpaling jutek. Bara menarik


napas perlahan mencoba bersabar menghadapi


Nona nya yang sedang marah tersebut.


"Saya mohon Nona jangan mempersulit saya.."


"Apa maksudmu mempersulit mu.? kalian


sendiri yang sudah membuat semua ini sulit.!"


Debat Kiran seraya berbalik menghadap Bara


yang sontak saja membeku di tempat.


"Tuan..akan menghukum saya seandainya


Nona tidak ikut saya sekarang juga.."


"Hooh..jadi begitu sipat asli Tuan mu itu rupa


nya, seorang pemaksa.! baiklah..ayo bawa aku padanya..!"


Bara menatap sekilas kearah Kiran yang terlihat


malah semakin cantik serta menggemaskan


pada saat sedang marah seperti ini.


"Mari Nona.. ikuti saya.."


Bara mulai berjalan membimbing Kiran seraya


merutuki diri sendiri karena telah mengagumi


Nona Muda nya itu tanpa sadar.


------ -----


Bara menutup pintu ruangan meninggalkan


sepasang suami istri itu yang kini berdiri di


dua sisi dengan tatapan yang sama-sama


kuat dan keras. Kiran berdiri di dekat pintu


menatap tajam wajah Agra yang terlihat


maju mendekat.


"Jadi.. inilah kamu yang sebenarnya? Tuan


Bimantara Agra Bintang yang terhormat..!"


Agra menghentikan langkahnya saat mendengar


ucapan Kiran yang penuh dengan penekanan


serta nada kecewa yang dalam. Hati Agra terasa


perih, dia menatap Kiran penuh rasa bersalah.


"Kiran sayang..aku tidak bermaksud menyimpan


semua ini sejauh ini. Hanya saja keadaan.."


"Kenapa Tuan Agra.? kenapa kamu harus


menyembunyikan semua ini dariku.? apa


karena aku hanya wanita rendahan..!"


"Tidak Kiran..! itu tidak benar sama sekali.!


Aku tidak pernah membedakan status sosial


seseorang.!"


"Lalu apa..? apa yang kau inginkan dariku.?"


Mata mereka kembali saling menatap kuat.


Ada cairan bening yang kini mulai menyusuri


pipi mulus Kiran. Agra tidak tahan dia maju


mendekat ingin meraih Kiran kedalam pelukan


nya namun Kiran segera mundur.


"Jangan menyentuhku Tuan..! kau membuatku


seperti orang yang sangat bodoh ! aku tidak


mengenali jati diri suamiku sendiri yang sangat


terhormat, aku manusia naif..!"


"Kiran.. semua ini salahku.! aku terlalu pengecut.


Aku takut kehilanganmu.. makanya aku tidak


berani berterus terang selama ini..!"


"Kenapa Agra..? kenapa kamu melakukan


semua ini padaku..?"


Pekik Kiran tidak tahan lagi sambil menangis


terisak, Agra segera meraih tubuh Kiran ke


dalam rengkuhan nya, memeluknya erat.


"Maafkan aku Kiran..aku tidak bermaksud


membohongi mu..aku takut di tinggalkan.Aku


sudah mencari mu sekian lama. Dan setelah menemukanmu..rasa takut kehilangan lagi


membuatku tidak berani membuka semua ini."


"Kamu sudah mengecewakan ku Agra..kamu


tidak percaya pada perasaanku..!"


Isak Kiran seraya mendorong tubuh Agra


melepaskan pelukannya. Agra kembali


meraih tubuh Kiran tapi Kiran mendorong


nya, menjauhi Agra.


"Aku percaya padamu sayang..aku hanya


tidak siap dengan reaksi mu..yang seperti


ini, aku takut mengecewakan mu..!"


"Kenyataan nya kamu memang mengecewakan


ku..! aku sangat kecewa padamu.! Kamu tidak


jujur padaku.! mungkin lebih baik untuk saat ini


kita tidak saling bertemu dulu..!"


Deg !


Jantung Agra rasanya seperti terhantam


benda keras. Dia terkesiap dalam keterkejutan.


"Apa maksudmu Kiran..?"


Keduanya saling pandang kuat dengan sorot


mata yang sama-sama keras dan saling


bertentangan. Air mata yang menetes di


wajah Kiran semakin deras membuat Agra


tidak kuat lagi melihatnya.


"Aku minta..jangan temui aku dulu. Aku butuh


waktu untuk menerima semua ini. Dan kalau


pun aku tidak bisa menerima semua ini.. kita


akan mencari solusi yang terbaik..!"


Rahang Agra mengeras seketika, dia tidak


terima dengan keputusan dan keinginan Kiran.


"Tidak..! aku tidak bisa terima itu.! aku tidak


bisa kalau harus jauh darimu, aku suamimu


Kiran..!"


"Aku butuh menenangkan diri dulu Agra. Ini


semua sangat mengejutkan bagiku. Kau tahu


yang aku kenal selama ini, suamiku hanyalah


seorang pengawal biasa, dan sekarang tiba-


tiba saja menjadi sosok yang berbeda..!"


Agra terhenyak dalam diam. Dia tidak menduga


reaksi Kiran akan sekeras ini. Kiran membuka


handel pintu, menoleh kearah Agra yang masih


mematung dengan wajah yang sangat dingin.


"Kau terlalu tinggi untuk aku gapai Tuan


Agra Bintang Hadiningrat..Aku bukanlah


tandingan mu..!"


Desis Kiran, dia menghapus air matanya kasar,


setelah itu keluar dari ruangan. Sampai di luar


Zack dan Bara langsung bergerak.


"Kalian berdua..! "


Kiran mengacungkan telunjuk nya membuat


kedua pria tangan kanan suaminya itu sontak


membeku di tempat.


"Jangan berani mengikuti ku..!"


Tegas Kiran sambil kemudian melangkah cepat


keluar dari ruangan itu, mengambil jalan lain


lalu kemudian keluar dari Ballroom hotel megah


tersebut. Kiran butuh waktu sendiri sekarang..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....