
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Mata mereka bertemu dalam jarak pandang
yang cukup jauh. Saling mengunci satu sama
lain dengan sorot mata yang berbeda. Kiran
dengan keyakinan akan halusinasinya sedang
Sang Presdir dengan tatapan penuh cinta nya..
Tatapan mata Sang Presdir tampak begitu
terpesona melihat penampilan Kiran saat ini.
Namun wajahnya berubah dingin, menyadari
betapa cantik dan menggiurkannya Kiran, hal
itu tentu akan mengundang mata jahil dari
para tamu pria yang ada di tempat ini.
Agra memutus pandangan nya berusaha untuk
bersikap setenang mungkin walaupun gejolak
dalam hatinya seakan membawa pikirannya
pada fantasi liar akan keindahan tubuh istrinya
itu ketika berada dibawah kekuasaan nya.
Moment semalam masih terasa begitu nyata
kehangatan dan kenikmatan nya.
Semua tamu tampak serempak berdiri memberi
salam penghormatan kearah kedatangan sang
Presdir super tampan itu dengan membungkuk
dalam di tempat nya masing-masing. Agra pun
mencoba membalas sapaan hormat mereka
dengan membungkuk sedikit, kemudian
kembali berjalan tenang.
Para tamu pria terlihat begitu segan dan hormat
pada sosok pengusaha muda tersebut. Sedang
para tamu tamu wanita tampak terkesima melihat bagaimana gagah dan bersinarnya sang pemilik Bintang Group tersebut yang kini sedang berjalan tenang penuh wibawa dan kharisma bersama
jajaran para pengusaha lain yang dari tadi
mengiringi langkahnya.
Tubuh Kiran lemas seketika saat dia melihat
keberadaan Bara di samping sang Presdir.
Matanya mengerjap beberapa kali mencoba meyakinkan segalanya bahwa ini bukanlah
halusinasi nya semata. Dan Bara pun hanya
bisa menunduk pasrah.
"Tidak, tidak.! ini tidak mungkin..! aku pasti
salah mengenali orang..! mana bisa orang
yang sama berada di dua karakter berbeda.!"
Gumam Kiran sambil menggeleng kuat, dada
nya tiba-tiba terasa sesak. Tubuhnya semakin
goyah kehilangan tenaga. Zack mulai cemas
dia segera maju mendekat. Kiran berusaha
sekuat tenaga untuk menopang tubuhnya
yang kini seakan kehilangan keseimbangan.
"Nona..anda baik-baik saja..?"
"Berhenti Zack..jangan pedulikan aku lagi.!"
Kiran mengangkat tangannya membuat Zack
membeku di tempat tidak bisa bergerak.
"Kalian semua telah bersekongkol di belakang
ku..! kalian telah menipuku.! menyembunyikan
semua kebenaran ini.!"
Desis Kiran dengan suara bergetar menahan
tekanan kuat yang kini menyesakkan dadanya.
Matanya mulai memerah menahan desakan
air mata yang mulai menyeruak.
"Maafkan saya Nona.."
"Aku tidak bisa menerima semua ini. Sebuah
kebohongan besar yang sangat fatal..!"
"Tapi Nona..Tuan melakukan semua ini.."
"Cukup Zack, tidak perlu bicara lagi..!"
Kiran menegakkan kembali badannya. Menarik
napas dalam-dalam, mencoba untuk menguasai
diri dan perasannya. Baiklah..! jadi inikah jati diri sebenarnya dari suaminya.! Sang Presdir Bintang
Group yang sangat terkenal itu.! Tapi kenapa.?
Kenapa dia harus menyembunyikan semua ini
sekian lama dari dirinya. Sebenarnya apa maksud
dia melakukan semua ini.? Oke.! kita lihat alasan
apa yang akan dia lontarkan nanti.!
Kiran mengatur ritme pernapasan nya seraya
mencoba menguatkan hati dan jiwanya untuk
menghadapi semua kenyataan yang sangat mengguncang ini.
Tatapan nya saat ini masih terfokus pada sosok
Agra yang sedang berbicara dengan beberapa
orang penting di sepanjang jalan yang di lalui
nya. Sesungguhnya hatinya sangat bergejolak,
melihat bagaimana rupa dan penampakan asli
dari suaminya itu, jiwanya seakan meronta.
Ada ketakutan tersendiri yang kini di rasakan
nya, Bimantara Agra Bintang..dia bukanlah
sosok sederhana, dia sangat tinggi, tidak lah
sebanding dengan dirinya yang hanya wanita
biasa tanpa kelebihan atau prestasi apapun.
Dan.. Mikhayla Alexandria.. dengan jelas tadi
dia mengatakan bahwa dirinya adalah calon
tunangan laki-laki yang berstatus suaminya itu.
Saat ini Agra baru saja selesai berbicara dengan
beberapa pengusaha besar yang ada di jajaran
meja satu barisan dengan Nathan. Satu sosok
cantik lainnya yang duduk di samping Nathan
saat ini tidak kalah syok nya dari Kiran. Aryella
menatap tidak percaya kearah berdirinya sang
Presdir tampan yang sangat menyilaukan itu.
"Tidak mungkin.! jadi benar dugaan ku kalau
dia itu Tuan Bimantara Agra Bintang..? sial..
kenapa keberuntungan selalu saja berpihak
pada Kiran, bagaimana bisa dia mendapatkan
laki-laki berpengaruh itu.."
Bathin Aryella masih dalam keadaan bengong.
Dia memegang dadanya yang berdetak kencang
tak terkendali saat mata elang Agra menatapnya
tajam dengan sinyal ancaman nyata, juga sebagai
pernyataan tidak resmi akan jati dirinya untuk di ketahui gadis itu.
"Ohh..Nona Aryella..anda datang juga rupanya.!"
"Se-selamat malam Tuan Bimantara..saya
datang menemani Tuan Nathan.."
Aryella tergagap dengan wajah sedikit pias.
Agra tersenyum miring seraya melirik kearah
Nathan yang terlihat menunduk sedikit setengah enggan melakukan nya.
"Ohh.. begitu rupanya, kalian cukup cocok.!"
"Selamat malam Tuan Hadiningrat..!"
Sapa Nathan dengan nada sedikit malas. Kedua
nya berjabat tangan dengan tatapan yang sama
sama ngotot, namun sesaat kemudian Nathan
berpaling, kembali fokus pada sosok cantik yang
ada di meja paling depan. Tangan Agra terkepal
kuat saat menyadari tatapan Nathan tidak pernah lepas dari sosok istrinya itu . Dan Nathan pun
cukup kaget mengetahui fakta bahwa Kiran di
tempatkan di meja utama tersebut.
"Baiklah.. nikmati pesta nya Tuan Wiranata..
Nona Aryella..!"
Agra kembali melangkah meninggalkan meja
Nathan. Aryella menarik napas panjang, mata
nya tidak lepas dari sosok gagah tersebut.
Akhirnya setelah perbincangan ringan sepanjang
karpet merah kini Agra semakin mendekat kearah
meja tempat Kiran berada. Mata mereka kembali
saling terpaut dalam, tidak bisa melepaskan satu
sama lain. Namun kini sorot mata Kiran berbeda.
Terlihat penuh penghakiman dan rasa tidak
terima. Tapi Agra mencoba meluluhkan nya
dengan sorot mata memohon pengampunan.
"Selamat malam Presdir Bimantara.."
Sambut Kiran seraya menunduk sopan dengan
gestur tubuh yang sangat halus dan anggun.
Agra tertegun dan terkesima dengan sikap
tenangnya Kiran. Namun sesaat kemudian dia
menyadari bahwa sikap tenang Kiran hanyalah
manipulasi belaka dan sebagai ungkapan protes
terhadap dirinya. Agra merasa gugup sendiri
tapi berusaha untuk tetap tenang dan terkendali.
"Selamat malam Nona Mahesa.."
Sahut Agra sambil mengulurkan tangan nya.
Dengan tatapan tenang Kiran menerima uluran
tangan Agra, keduanya saling menggenggam
kuat mencoba menyalurkan segala gejolak rasa
yang ada di hati dan pikiran masing-masing.
Mata mereka beradu kuat. Tidak lama Kiran
menarik tangan nya dengan hentakkan yang
cukup kuat membuat hati Agra mencelos.
Beberapa pengusaha yang tadi mengiringi
dirinya tampak terpesona pada sosok Kiran.
Agra tidak melepaskan pandangannya dari
wajah Kiran yang kini terlihat begitu dingin.
"Silahkan Tuan."
Erik segera menarik kursi untuk di duduki
Agra yang berada tepat di sebelah kiri Kiran.
"Ayo duduklah..!"
Dengan gerakan cepat, Agra menarik tangan
Kiran untuk duduk yang langsung di tepisnya
dengan kuat. Mata mereka kembali beradu
sedikit panas.
"Silahkan Tuan yang terhormat duduk duluan.!"
Kiran menundukkan kepalanya. Rahang Agra
mengeras, dia mendekat, kembali menarik
tangan Kiran yang mencoba menepisnya lagi
namun kali ini genggaman tangan Agra lebih
kuat hingga Kiran kesulitan melepasnya.
"Tuan Bimantara.. tolong jangan menjatuhkan
harga diri anda di depan bawahan anda..!"
Desis Kiran masih mencoba melepaskan
genggaman tangan Agra. Tatapan Agra kali
ini berubah tajam, tidak suka mendengar
bahasa yang keluar dari mulut Kiran.
"Aku akan menjelaskan semuanya padamu
nanti, setelah semua ini selesai..!"
"Aku tidak butuh penjelasan mu.! sudah cukup
bagiku melihat dan memahami semuanya.!"
"Kau perlu tahu alasanku melakukan semua
ini Kiran..!"
"Jelas sekali kau hanya bermaksud menipuku
dan mempermainkan ku saja..!"
"Itu tidak benar, tidak sama sekali..!"
Tatapan Agra semakin menusuk membuat
jantung Kiran serasa berdarah. Agra kembali
memaksa Kiran untuk duduk. Dan interaksi tak
biasa yang terjadi diantara mereka berdua itu langsung mengundang reaksi terkejut dari
semua tamu yang ada di meja tersebut.
"Tuan Bimantara.. selamat malam..!"
Tiba-tiba saja ke meja mereka datang Mikhayla
dengan senyum menawan nya. Dia menunduk
sedikit di hadapan Agra yang masih memegang
kuat tangan Kiran. Agra dan Kiran melirik
kearah Mikhayla.
"Malam Nona Alexandria.."
Sahut Agra dengan wajah datar dan suara yang
sangat dingin. Tatapan Mikhayla jatuh di kedua
tangan yang saling bertautan. Sorot matanya
berubah tidak suka.
"Apakah aku bisa bergabung duduk di sini.?"
Wajah Agra semakin terlihat dingin.
"Semua sudah di atur dengan sangat baik oleh
team ku Nona..jadi sebaiknya ikuti saja setiap
ketentuan yang berlaku..!"
"Mohon maaf Tuan Presdir..kalau mau Nona
Mikhayla bisa menggantikan posisi saya di
tempat ini, dengan senang hati saya akan
duduk di tempat lain yang sekiranya lebih
cocok untuk saya..!"
Sela Kiran dengan wajah serius membuat
Mikhayla terlihat sumringah.
baru menyadari kesalahan penempatan ini."
Sambut Mikhayla dengan wajah berbinar
senang, namun lain hal nya dengan sang
Presdir saat ini wajah nya sudah terlihat
membeku. Tatapan nya jatuh menghujam
wajah Kiran yang memalingkan muka nya.
"Nona Mikhayla.. sebaiknya anda kembali
ke tempat yang sudah di sediakan. Tolong
jangan menyia-nyiakan waktu ku..!"
Tegas Agra , tatapannya kini berpaling pada
ratu kecantikan itu yang terlihat kecewa.
"Tapi Tuan Agra aku rasa..."
"Kembalilah ke tempatmu Mikhayla.."
Tegas Agra dengan aura wajah yang membuat
nyali Mikhayla ciut seketika, dia segera berbalik
kemudian melangkah ke tempat nya semula.
Agra kembali berpaling pada Kiran.
"Duduklah..! atau aku akan memaksamu
untuk duduk di pangkuan ku..!"
Ancam nya dengan tatapan intimidasi yang
sangat mendominasi. Kiran melengos sebal.
Dengan wajah yang sedikit tertekuk dia
terpaksa mendudukkan bokong nya tanpa
melirik sedikitpun kearah suaminya itu.
Agra kembali bersikap setenang mungkin,
dia duduk tegak dan mantap dengan gaya
yang sangat elegan dan berkelas.
"Tuan-tuan.. perkenalkan.. beliau adalah putri
dari Tuan Zein Mahesa, perusahaan rekanan
kita yang baru saja bergabung.."
Erik memperkenalkan Kiran kepada para
pengusaha lainnya yang rata-rata berasal
dari luar negeri. Mereka semua tampak
tersenyum dan menunduk sedikit kearah
Kiran yang langsung membalasnya dengan
senyum lembut nan menawan membuat
hati Agra panas terbakar api cemburu. Dia
mengepalkan tangannya kuat.
Tidak lama acara pokok pun bergulir yakni
sambutan langsung dari sang pemilik dan
penguasa acara besar ini. Agra berdiri tegak
merapihkan jas nya sebentar kemudian melirik
kearah Kiran yang memalingkan wajahnya.
Dengan langkah tenang dan mantap dia naik
ke atas podium utama untuk memberikan
sambutan nya. Suasana tiba-tiba saja berubah
hening, semua mata saat ini terfokus pada satu
sosok gagah dan bercahaya yang kini ada di
atas podium. Tidak ada yang tidak terpesona
padanya. Mau tidak mau Kiran pun kini melihat
dan menatap sosok suaminya itu yang saat ini
mulai membuka sambutannya dengan suara
yang sangat tegas, lugas penuh wibawa.
"Selamat malam semuanya..selamat datang
pada acara tahunan ini. Saya selaku tuan rumah
ingin mengucapkan terimakasih banyak atas kehadiran saudara semua di tempat ini.."
Agra menjeda ucapannya, membagi pandangan
ke seluruh tamu undangan dan berakhir pada
satu sosok paling bersinar terang yang ada
di meja paling depan. Mata mereka kembali
bertemu, bertaut dalam hingga akhirnya Agra
kembali melanjutkan sambutannya.
Kiran menundukkan kepala tidak kuat lagi bila
harus terus memandang sosok gagah tersebut.
Tidak di pungkiri, suaminya itu terlihat sangat
tampan dan mempesona saat ini membuat hati
nya bergetar hebat hampir tidak terkendali. Rasa
percaya dirinya semakin ciut, dia merasa sangat rendah bila harus di sandingkan dengan seorang Bimantara yang sangat terhormat itu. Selain itu kekesalan dan kekecewaan yang kini di rasakan
nya membuat dia mencoba memungkiri segala kekaguman nya terhadap suaminya tersebut.
Agra mengakhiri sambutannya di sambut tepuk
tangan meriah dan respon yang sangat positif
dari segenap tamu undangan yang hadir. Dan
kini pesta yang sesungguhnya pun di mulai.
Para tamu menyebar ke ruangan sebelah kanan
untuk menikmati seluruh hidangan yang tersedia,
baik itu makanan maupun minuman. Di ruangan
terbuka ini para tamu melakukan standing party.
Berbincang dan bercengkrama dengan sesama
rekan pengusaha sambil mencicipi makanan dan
minuman mahal yang telah di sediakan.
Setelah turun dari podium Agra menghilang ke
balik ruangan pribadi yang ada di ballroom itu.
"Nona..Tuan.. menunggu anda di ruang pribadi
nya, mari ikut dengan saya.."
Bara berdiri membungkuk di samping Kiran
yang sedang berbincang dengan seorang
pengusaha setengah baya dari negeri paman
Sam. Kiran melirik tajam kearah Bara .
Wajahnya terlihat sangat kesal.
"Saya tidak punya urusan apapun dengan beliau.
Jadi rasanya tidak ada gunanya juga kalau saya menemuinya Tuan Bara..!"
Kilahnya sambil berpaling jutek. Bara menarik
napas perlahan mencoba bersabar menghadapi
Nona nya yang sedang marah tersebut.
"Saya mohon Nona jangan mempersulit saya.."
"Apa maksudmu mempersulit mu.? kalian
sendiri yang sudah membuat semua ini sulit.!"
Debat Kiran seraya berbalik menghadap Bara
yang sontak saja membeku di tempat.
"Tuan..akan menghukum saya seandainya
Nona tidak ikut saya sekarang juga.."
"Hooh..jadi begitu sipat asli Tuan mu itu rupa
nya, seorang pemaksa.! baiklah..ayo bawa aku padanya..!"
Bara menatap sekilas kearah Kiran yang terlihat
malah semakin cantik serta menggemaskan
pada saat sedang marah seperti ini.
"Mari Nona.. ikuti saya.."
Bara mulai berjalan membimbing Kiran seraya
merutuki diri sendiri karena telah mengagumi
Nona Muda nya itu tanpa sadar.
------ -----
Bara menutup pintu ruangan meninggalkan
sepasang suami istri itu yang kini berdiri di
dua sisi dengan tatapan yang sama-sama
kuat dan keras. Kiran berdiri di dekat pintu
menatap tajam wajah Agra yang terlihat
maju mendekat.
"Jadi.. inilah kamu yang sebenarnya? Tuan
Bimantara Agra Bintang yang terhormat..!"
Agra menghentikan langkahnya saat mendengar
ucapan Kiran yang penuh dengan penekanan
serta nada kecewa yang dalam. Hati Agra terasa
perih, dia menatap Kiran penuh rasa bersalah.
"Kiran sayang..aku tidak bermaksud menyimpan
semua ini sejauh ini. Hanya saja keadaan.."
"Kenapa Tuan Agra.? kenapa kamu harus
menyembunyikan semua ini dariku.? apa
karena aku hanya wanita rendahan..!"
"Tidak Kiran..! itu tidak benar sama sekali.!
Aku tidak pernah membedakan status sosial
seseorang.!"
"Lalu apa..? apa yang kau inginkan dariku.?"
Mata mereka kembali saling menatap kuat.
Ada cairan bening yang kini mulai menyusuri
pipi mulus Kiran. Agra tidak tahan dia maju
mendekat ingin meraih Kiran kedalam pelukan
nya namun Kiran segera mundur.
"Jangan menyentuhku Tuan..! kau membuatku
seperti orang yang sangat bodoh ! aku tidak
mengenali jati diri suamiku sendiri yang sangat
terhormat, aku manusia naif..!"
"Kiran.. semua ini salahku.! aku terlalu pengecut.
Aku takut kehilanganmu.. makanya aku tidak
berani berterus terang selama ini..!"
"Kenapa Agra..? kenapa kamu melakukan
semua ini padaku..?"
Pekik Kiran tidak tahan lagi sambil menangis
terisak, Agra segera meraih tubuh Kiran ke
dalam rengkuhan nya, memeluknya erat.
"Maafkan aku Kiran..aku tidak bermaksud
membohongi mu..aku takut di tinggalkan.Aku
sudah mencari mu sekian lama. Dan setelah menemukanmu..rasa takut kehilangan lagi
membuatku tidak berani membuka semua ini."
"Kamu sudah mengecewakan ku Agra..kamu
tidak percaya pada perasaanku..!"
Isak Kiran seraya mendorong tubuh Agra
melepaskan pelukannya. Agra kembali
meraih tubuh Kiran tapi Kiran mendorong
nya, menjauhi Agra.
"Aku percaya padamu sayang..aku hanya
tidak siap dengan reaksi mu..yang seperti
ini, aku takut mengecewakan mu..!"
"Kenyataan nya kamu memang mengecewakan
ku..! aku sangat kecewa padamu.! Kamu tidak
jujur padaku.! mungkin lebih baik untuk saat ini
kita tidak saling bertemu dulu..!"
Deg !
Jantung Agra rasanya seperti terhantam
benda keras. Dia terkesiap dalam keterkejutan.
"Apa maksudmu Kiran..?"
Keduanya saling pandang kuat dengan sorot
mata yang sama-sama keras dan saling
bertentangan. Air mata yang menetes di
wajah Kiran semakin deras membuat Agra
tidak kuat lagi melihatnya.
"Aku minta..jangan temui aku dulu. Aku butuh
waktu untuk menerima semua ini. Dan kalau
pun aku tidak bisa menerima semua ini.. kita
akan mencari solusi yang terbaik..!"
Rahang Agra mengeras seketika, dia tidak
terima dengan keputusan dan keinginan Kiran.
"Tidak..! aku tidak bisa terima itu.! aku tidak
bisa kalau harus jauh darimu, aku suamimu
Kiran..!"
"Aku butuh menenangkan diri dulu Agra. Ini
semua sangat mengejutkan bagiku. Kau tahu
yang aku kenal selama ini, suamiku hanyalah
seorang pengawal biasa, dan sekarang tiba-
tiba saja menjadi sosok yang berbeda..!"
Agra terhenyak dalam diam. Dia tidak menduga
reaksi Kiran akan sekeras ini. Kiran membuka
handel pintu, menoleh kearah Agra yang masih
mematung dengan wajah yang sangat dingin.
"Kau terlalu tinggi untuk aku gapai Tuan
Agra Bintang Hadiningrat..Aku bukanlah
tandingan mu..!"
Desis Kiran, dia menghapus air matanya kasar,
setelah itu keluar dari ruangan. Sampai di luar
Zack dan Bara langsung bergerak.
"Kalian berdua..! "
Kiran mengacungkan telunjuk nya membuat
kedua pria tangan kanan suaminya itu sontak
membeku di tempat.
"Jangan berani mengikuti ku..!"
Tegas Kiran sambil kemudian melangkah cepat
keluar dari ruangan itu, mengambil jalan lain
lalu kemudian keluar dari Ballroom hotel megah
tersebut. Kiran butuh waktu sendiri sekarang..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....